Silent Love (Part 1)

Silent Love 1

Silent Love

 

Judul: Silent Love 1

Author: Code One
Twitter: @aegyeon
Genre: High School AU, romance, fluff
Length: Series
Rating: PG-13
Main Cast: Kim Jongin, Jo Hanna (OC)
Support Cast: Yoon Eunji (OC), Infinite members, SM Family and other Kpop idols

Aku menghela nafas entah kesekian kalinya hari ini dan memandang kosong keluar melalui jendela di sebelah kiriku. Ocehan Mrs. Kim di depan kelas tidak kupedulikan sama sekali. Lagipula aku sudah mengerti apa yang dibicarakannya.

Bunyi bel yang menandakan tanda istirahat tiba berbunyi nyaring dan serentak teman sekelasku menutup buku mereka lalu berlomba untuk menghabisi makanan di cafeteria. Aku hanya duduk manis di kursiku dan mengeluarkan ponselku malas-malasan.

“Hanna!”

“Hi, Ji.”

Aku tersenyum kecil pada Yoon Eunji, temanku sejak SMP yang sayangnya tidak lagi sekelas denganku sekarang. Tangannya menengadah ke arahku dan aku hanya menatapnya dengan tanda tanya.

“Oh jangan bilang kau lupa, Jo Hanna. Kau bilang kau akan memberiku dan hasil masakanmu kemarin malam. Mana?? Aku lapar!”

Oh ya! Astaga aku benar-benar pikun sekarang. Tugas-tugas sekolah ternyata telah membuatku depresi.

Aku mengeluarkan kotak makanan kuning bening dan sebuah kantong kertas. Mata Eunji semakin membulat saat aku membuka tutup kotak makanan dan mengeluarkan segelas pudding coklat dari kantong kertas itu.

“Wow… This is pretty, babe. Aku berani bersumpah kau benar-benar prodigy dalam urusan memasak. Dan apa ini?”, tanyanya sambil menunjuk isi kotak makananku.

“Brigadeiro. Chocolate truffle ala Brazil. Aku tidak tau apakah kau akan menyukainya. Aku sepertinya membuatnya terlalu pahit. Kau tau aku tidak ingin eomma-mu mencabik-cabikku jika kau diabetes atau gigimu berlubang karena terlalu banyak makan-makanan yang manis.”

“Tentu saja tidak, sayang. Eomma bahkan tidak tau aku mendapat snack gratis di sekolah.”

Eunji mendesah dramatis saat lidahnya dimanjakan dengan Brigadeiro. Dua jempolnya teracung tanda bahwa dia menyukainya.

“Eunji! Astaga aku telah mencarimu ke mana-mana. Tadi pagi kau bilang kau akan mengajariku soal trigono waktu jam istirahat. Aku pikir kau tadi ke WC. Kau tidak tau aku terlihat seperti om-om mesum saat menunggu di depan WC cewek tadi.”

Lee Howon alias Hoya aka secret crush-nya Eunji tiba-tiba nongol di sebelah Eunji dan mengoceh panjang lebar. Eunji hanya nyengir dengan wajah yang memerah dan aku balas tersenyum.

“Hai Hanna. Oh! Apakah itu coklat? Apa ada bagian untukku?”

“Tentu saja. Kalian boleh menghabiskannya. Lagipula aku juga tidak makan. Jangan lupa kembalikan kotak makanannya saja ya.”

Aku menutup kotak makananku dan memberikannya ke Howon lalu memasukkan kembali pudding Eunji yang belum tersentuh ke kantong kertas. Eunji cepat-cepat mengambil kantong kertas tersebut karena tangannya sudah keburu ditarik Howon.

“See you later Hanna. Terima kasih ya coklatnya.”

Aku melambai ke arah Eunji yang mukanya kini semerah tomat dan dia menggumamkan ‘Gomawo’ sebelum menghilang di balik pintu. Sepeninggalan Eunji, aku kembali terduduk lemas hanya dengan ponsel yang menemaniku.

Ya beginilah kehidupan seorang Jo Hanna. Seorang siswi yang hobi memasak dan dance dan duduk di pojokan yang terlupakan. Aku bukan termasuk siswi popular tapi aku juga bukan seorang nerd yang menjadi korban bully. Aku tidak suka sendirian tapi aku tidak punya begitu banyak teman untuk selalu menemaniku. Aku bukannya anti social tapi aku hanya capek dengan pengkhianatan dan ditinggal oleh orang yang sudah kupercaya dengan susah payah.

Aku sebenarnya iri dengan Eunji. Dia anak yang cantik, pintar dan menjadi pusat perhatian walaupun ia tidak meminta hal itu. Semua orang menyukainya walaupun ada beberapa yang iri dengannya (termasuk aku), tapi tidak pernah ada orang yang bisa membencinya.

Aku hanya seseorang yang seperti kabut tipis. Ada tapi tidak diperhatikan. Dan aku benci hidupku yang kelabu ini.

 

 

Aku meletakkan tasku sembarangan di sofa dan langsung membuka laptop. Tugas-tugas sekolah tidak pernah menunda deadlinenya walaupun muridnya berada di ambang ruang UGD.

Setelah jam menunjukkan pukul 8:45 PM, akhirnya aku menutup laptop dan meregangkan sendi-sendiku yang terasa kaku. Bahkan aku mendengar tulang panggulku berbunyi ‘krak’ ketika aku melenturkan tulang-tulang punggungku. Tapi setidaknya aku telah bebas dari tugas untuk minggu ini.

Dengan langkah yang tersaruk-saruk, aku berjalan menuju dapur. Terlalu malas untuk memasak, aku hanya menuang sereal ke mangkuk dan mulai makan pelan-pelan. Makan malamku terganggu ketika ponsel yang kuletakkan di sebelah laptop di ruang tamu berbunyi nyaring.

Tumben sekali ada yang menelfon. Ponselku kan jarang sekali berdering. Aku bahkan menganggap ponselku lebih berfungsi sebagai MP3 karena jarang sekali ada orang yang menghubungiku. Lebih tepatnya tidak ada urusan untuk menghubungiku. Mungkin Ji membutuhkan bantuanku.

Tapi sebelum aku bisa menjawab panggilan, tiba-tiba deringnya terputus. Aku mengangkat alisku saat aku melihat ‘1 Miscall from Unknown Number’.

Apa Ji mengganti nomornya? Atau ada orang lain yang menelfonku? Tapi aku tidak ingat pernah memberi nomor ponselku ke orang asing belakangan ini.

Aku terlonjak saat ponselku berbunyi lagi. Kali ini hanya dering singkat tanda ada pesan masuk.

 

From: <Unknown Number>

 

Hanya memastikan bahwa nomor ini aktif. Annyeong?

 

To: <Unknown Number>

 

Nuguseyo?

 

From: <Unknown Number>

 

Kim Jongin. Jo Hanna kan? Boleh aku berteman denganmu?

 

To: <Unknown Number>

 

Dari mana kau tau namaku dan nomorku?

 

From: <Unknown Number>

 

It’s a secret. Sudah malam. Tidur yang nyenyak ya. Have a nice dream J

 

Aku hanya menyipitkan mata ke layar ponselku lalu meletakkannya di sebelah mangkuk sereal dan melanjutkan makan.

“Orang aneh.”, gumamku.

 

 

“Jadi kau juga tidak kenal nomor ini?”

“No idea at all. Aku juga tidak kenal Kim Jongin ini. Kau yakin kau tidak memberikan nomormu padanya secara langsung?”

“100% yakin.”

“Mungkin secara tidak langsung? Mungkin kau ke bar lalu mabuk atau sebangsanya dan memberikan nomormu?”

“Kau yang mabuk, Ji. Aku tidak pernah pergi ke bar. Aku bahkan belum cukup umur untuk pergi ke sana!”

“Hehe… Maaf. Aku soalnya tidak ada ide lain lagi bagaimana Jongin ini bisa mendapat nomormu. Hei, dia SMS apa saja?”

“Baca saja sendiri.”

Aku menyodorkan ponselku ke Eunji yang sibuk menyantap muffin blueberry yang baru kubuat tadi pagi. Mulut Eunji mengerucut dan tampak berpikir keras saat jarinya naik dan turun menggeser layar ponsel. Tiba-tiba tangannya menyodorkan kembali ponselku.

“Ada pesan baru dari Kim Jongin.”, katanya dan menggigit muffin lagi.

 

From: Kim Jongin

 

Apa kau selalu makan di kelas?Kau belum menjawab pertanyaanku kemarin. Apa aku boleh menjadi temanmu?

 

Aku cepat-cepat menoleh ke pintu tapi tidak ada seorangpun berdiri di dekat pintu ataupun yang mengintip dari jendela. Eunji mendongak dari muffin-nya dan tatapan matanya menyiratkan tanda tanya.

“Aku rasa dia seorang stalker.”, gumamku dan merinding sendiri.

“Aku rasa mungkin dia menyukaimu.”

Aku beruntung aku tidak sedang makan karena mungkin aku sudah tersedak mendengar perkataan Eunji. Apa dia sudah gila?

“Tidak pernah ada orang yang menyukaiku, Ji.”, kataku datar.

“Well, sekarang ada.”

“Kau benar-benar mabuk.”

Bel tanda istirahat telah selesai berbunyi nyaring dan Eunji berdiri dari kursi sebelahku yang memang kosong. Aku menyodorkan sebuah kantong kertas lain dan Eunji membukanya.

“Muffin coklat? Banyak sekali. Aku tidak mungkin habis sendirian.”

“Aku memang tidak memintamu menghabiskannya sendiri. Bagilah beberapa dengan Howon.”

Eunji menyipitkan matanya dan melipat tangan di depan dadanya.

“Kau tidak menyukai Howon kan?”

Aku tertawa pelan.

“Tentu saja tidak, bodoh. Sudahlah. Kembali sana ke kelas.”

“Gomawo, Hanna-ya. Saranghae.”, teriaknya dan bergegas keluar kelas.

Aku menoleh sekali lagi ke layar ponselku lalu mengangkat bahu sebelum memasukkannya ke laci meja.

“Stalker aneh.”

 

 

“Kau cantik.”

Aku mendongak dari bukuku dan memiringkan kepalaku sedikit.

“Maaf, apa aku salah dengar?”, tanyaku sopan.

Oh Sehun, teman sekelasku sejak SMP hingga sekarang, terlonjak kaget seakan-akan aku menamparnya. Tangannya segera menggaruk kepalanya kikuk dan nyengir lebar.

“Oh? Haha… Maaf aku tadi tiba-tiba teringat sebuah kalimat dari err… Dari komik yang aku baca. Ya! Aku hanya ingat kalimat itu dan tanpa sadar mengucapkannya. Umm… Aku tiba-tiba ingin ke WC. Kau bisa kan mengerjakan tugasnya tanpa aku sebentar saja?”

“Tidak masalah.”

Sehun cepat-cepat kabur dan aku meletakkan buku sejarah serta pensil yang kupegang di atas meja dan melipat kedua tanganku di depan dada.

“Siapapun yang berdiri di balik dinding ini, kau boleh keluar sekarang sebelum aku keluar dan menghajarmu karena mendengar pembicaraan orang sembarangan.”, kataku dingin.

Tidak sampai lima detik, seorang cowok (kemungkinan senior) muncul dari balik pintu kelas dengan senyum terpaksa.

“Duduk.”

Cowok itu mengikuti perintahku dan duduk di kursi Sehun di hadapanku. Aku menatapnya dari atas ke bawah sekilas. Alisku terangkat saat membaca nametag yang tersemat di blazer biru sebelah kanan.

“Jadi kau Kim Jongin.”

Senyumnya mengembang semakin lebar dan mengangguk.

“Apa yang masih kau lakukan di sekolah? Ini kan sudah jauh dari jam pulang sekolah. Mengapa kau menguping pembicaraan orang sembarangan?”

Dia tidak menjawab tapi justru mengeluarkan ponselnya dan bermain-main. Aku menunggu jawabannya tapi dia masih tidak berbicara sama sekali.

“Hei, jawab perta…”

Ponselku bergetar dan aku mengeluarkannya dari laci meja.

 

From: Kim Jongin

 

Aku tidak bermaksud menguping. Aku hanya tidak sengaja lewat.

 

Aku mengangkat sebelah alisku. Orang ini aneh sekali. Dia bahkan hanya berjarak setengah meter dariku, mengapa dia tidak berbicara langsung saja.

“Mengapa kau tidak menjawab pertanyaanku secara langsung?”

Kali ini keningnya berkerut dan memiringkan kepalanya. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja perlahan sebelum bermain lagi dengan ponselnya.

 

From: Kim Jongin

 

Bukankah cewek menganggap cara seperti ini cute?

 

Aku menatapnya yang kini tersenyum lebar dengan mulut terbuka. Aku menarik kesimpulan bahwa orang ini benar-benar aneh!

 

From: Kim Jongin.

 

Aku harus pergi sekarang. Have a nice day 😀

 

Lalu dia berdiri dan melambai sebelum berlari keluar. Tepat ketika dia keluar, Sehun masuk. Kepalanya mengikuti arah Jongin pergi lalu berbalik ke arahku.

“Temanmu?”

“Entahlah. Lebih baik cepat selesaikan project ini agar aku bisa bebas dari jeratan tugas.”

 

 

From: Kim Jongin

 

Hei, semangat! Jangan murung seperti itu.

 

Aku mengangkat kepalaku perlahan-lahan dari posisiku yang dari tadi merebahkan kepala di atas meja. Aku melihat Jongin tersenyum lebar dan melambai.

 

To: Kim Jongin

 

Apa maumu ke sini?

 

From: Kim Jongin

 

Hanya bertemu dengan teman. Mengapa kau murung seperti itu?Apa aku boleh menjadi temanmu?

 

To: Kim Jongin

 

Urusi saja urusanmu sendiri.

 

Aku mengerucutkan bibir dan kembali berbaring di meja. Semalaman insomniaku kumat dan aku baru bisa tertidur saat jam ponselku menunjukkan pukul 4:26 AM!

Aku baru mengangkat wajahku lagi saat aku tidak melihat sosok Jongin di jendela. Dasar orang aneh. Jari-jariku kembali bermain di atas ponsel dan mengirim pesan singkat.

 

To: Jiji

 

Ji, apa kau bisa membantuku mencari informasi tentang Kim Jongin?

 

From: Jiji

 

Hah? Mengapa aku?

 

To: Jiji

 

Karena kau punya banyak koneksi di sini.

 

From: Jiji

 

Mengapa kau ingin mencari informasi tentangnya?

 

To: Jiji

 

Jangan pikir yang macam-macam. Aku hanya penasaran tentang stalker aneh itu. Kau bisa membantuku kan?

 

From: Jiji

 

Tentu. Aku akan minta tolong Dongwoo oppa. Tidak apa-apa kan jika nanti Dongwoo oppa yang memberikan informasinya langsung padamu. Aku ada tugas kelompok tambahan dan akan sibuk sampai minggu depan. Aku yakin kau tidak mau menunggu hingga selama itu.

 

To: Jiji

 

Tidak apa-apa. Thanks for your help.

 

From: Jiji

 

No problem babe :*

 

 

Aku mengaduk-aduk Hot Green Tea Latte-ku dengan malas dan menghela nafas panjang. Aish, mengapa Dongwoo oppa telat datang sih? Ini sudah lewat 10 menit dari waktu yang dijanjikan.

“Sorry aku terlambat, Hanna-ya. Tadi aku lupa membawa dompet di tengah jalan jadi aku harus kembali lagi mengambilnya.”

Dongwoo oppa tersenyum dan meletakkan Signature Chocolate-nya sebelum duduk di hadapanku. Aku hanya mengangguk dan menyeruput minumanku.

“Jadi, apa yang oppa dapat?”

“Tidak sabaran hm? Ini baru pertama kalinya kau meminta bantuan untuk mencari informasi tentang seseorang. Dan seorang cowok! Ya walaupun kau meminta bantuan lewat Eunji, tapi tetap saja sama-sama mencari informasi.”

“Aku hanya penasaran.”, gumamku.

“Penasaran? Kau yakin tidak tertarik padanya?”

“Tidak tidak. Tentu saja tidak. Aku bahkan baru bertemu dengannya. Nah, jadi apa yang oppa dapat, Holmes?”

“Tidak banyak. Kim Jongin ternyata orang yang tertutup. Dia satu kelas di atasmu walaupun ternyata dia lebih muda beberapa bulan.”

“Benarkah? Bagaimana bisa?”

“Kelas akselerasi mungkin? Ulang tahunnya tanggal 19 Mei. Tepat 3 bulan setelah ulang tahunmu.”

“Lalu?”

“Dia orang yang cerdas. Dia masuk Special class dan kau tau kan tidak semua orang bisa masuk Special class.”

Aku mengangguk. Hanya Top 5 setiap semester yang bisa masuk Special class.

“Dari informasi yang aku dapatkan, dia bukan orang yang anti-social tapi dia juga tidak punya teman dekat baik di kelas maupun di luar kelas. Tidak pernah ada orang yang terlihat pulang bersamanya. Persis seperti kau.”

“Terkadang Eunji menemaniku pulang.”, gumamku.

“Selain Eunji? Eunji bahkan hanya menemanimu sampai gerbang.”

“Karena aku tidak perlu diantar sampai ke depan pintu apartmentku.”

“Baiklah. Tidak perlu sampai ngambek seperti itu.”, candanya dan menekan-nekan pipiku yang menggembung kesal.

“Siapa yang ngambek, dasar dinosaurus oppa.”

“Hei, setidaknya tunjukkan rasa terima kasihmu.”

“Thank you?”

Dongwoo oppa memutar bola matanya kesal dan mengacak-acak rambutku. Aku balas tersenyum dan kembali minum.

“Hanna, bagaimana dancemu? Apa kau masih tidak tertarik bergabung dengan kami, Woolim Group?”

“Aku masih pikir-pikir dulu.”

“Oh ya, akan ada battle dance sebentar lagi. Aku akan kabarkan waktu dan tempat pelaksanaannya nanti. Kau tau kan kau akan punya kesempatan menang lebih besar jika kau masuk group daripada solo.”

“Aku akan memikirkannya, oppa. Berhentilah mengocehiku.”

“Aku kan hanya menawarkan.”

“Tapi…”

Perkataanku terputus saat ponselku bergetar di atas meja. Aku melirik layar sekilas untuk melihat pengirimnya dan langsung melengos.

“Dari siapa? Kok tidak dibaca?”

“Hanya Jongin. Dia orang yang sangat aneh.”

“Aneh? Sepertinya dia biasa saja. Bahkan kelihatannya dia anak yang baik.”

“Aku pernah bertemu dengannya sekali dan aku tidak habis pikir mengapa dia perlu mengirim pesan singkat padaku ketika jarak kami bahkan kurang dari satu meter.”

Dongwoo oppa menatapku dengan pandangan menyipit yang aneh. Aku hanya memiringkan kepalaku tanda aku tidak mengerti arti pandangannya itu.

“Apa aku belum memberitaumu hal yang paling penting?”

“Apa?”

“Kim Jongin itu bisu.”

 

15 pemikiran pada “Silent Love (Part 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s