Across The River

Across The River

[FF] Across The River

// Main Cast: Kim Jongin //

//Other Cast: Kim Jongdae, Do Kyungsoo, Byun Baekhyun, OC, etc //

// Genre: Tragedy, Mystery, AU //

// Rating: PG // Lenght: One-shot //

Back Sound:

Lana Del Rey –Blue Jeans–

Written by Luwinaa

.

.

.

Warning’s for this fanfic because any typo :p

Salah satu blok pikiran pada otak berbisik padaku untuk membuat fic ini daripada hilang dan menjadi sia-sia, sambil mengisi fic yg blm rampung ‘-‘

.

Summary:

Dan semua berubah ketika ia terbangun dalam sebuah kehidupan baru. Melupakan yang lalu, namun melupakan sesuatu yang telah terjadi bukanlah sebuah batu loncatan. Pedalaman Siheung menyimpan semua jawabannya.

.

.

 

April 1973, Seoul.

 

Beberapa saat tatapannya bergerak seinchi dari lantai stasiun. Lalu kembali tertunduk, menghela napas cepat, sarat akan kelelahan–gurat dari kegelisahannya. Dirinya terpaku pada bangku-bangku memanjang pada stasiun, menangis dalam hati akan kepergian kakeknya.

 

Semilir angin sore, menghempaskan beberapa lembar koran bekas dan membuat pergerakan tak berarti bagi dirinya. Sudah dua kereta yang melewatinya, dan dia hanya mendongak tanpa berniat untuk menaikinya.

 

Selain kakeknya yang pergi selamanya, ayahnya menambah kekacauan di dalam keluarganya. Dia, ayahnya, dengan lantang meminta jatah warisan, meninggalkan ibunya yang masih menangis meraung-raung. Matanya berkilat sepekat malam memikirkan kilasan lalunya itu.

 

Suara jerit panjang kereta sayup-sayup terdengar, dia bangkit dengan cepat sambil mengeratkan remasan tangannya. Alisnya bertautan menyeramkan. Napasnya memburu, dan ketika kereta–yang hanya melewati stasiun–sudah dekat, ia menghilang secepat lari angin yang dibawa oleh kereta itu.

 

 

September 1976, Seoul.

 

Kaos garis-garis hitamnya berkobar tertiup hempasan langkah kereta, dia bersandar di sebelah kaca penjualan tiket. Menengadahkan kepalanya, menatap awan kelabu jenuh serta pepohonan yang menjadi pagar hutan di hadapannya, nampak seperti monokrom yang berderet-deret lalu dalam sekejap, ia dapat melihat kembali masa kecilnya bersama keluarga bahagianya–itu dulu.

 

Ibu dan adiknya menghilang saat tengah malam, padahal ketika semburat jingga menyeruak ingin keluar, dia masih berbincang ringan dengan ibunya. Tapi beberapa menit setelah dia keluar dari pintu belakang rumahnya, tepat saat dia menancapkan kepala kapak pada batang pohon, ibunya berbisik kepada adiknya yang berbeda dua tahun darinya.

 

Potongan batang pohon itu jatuh, dan dia menghilang begitu saja. Dia lari, lari, dan lari, berlari dari kenyataan, bahwa ibunya sudah berencana akan meninggalkan mereka berdua di sini, dan ibunya pergi ke kota untuk bekerja–sebagai alasan.

 

Dia kembali menunduk dan menghela napasnya–lebih ringan dari tiga tahun lalu tepat saat dia juga merasakan kesedihan. Tapi ini bukan kesedihan, terlebih ibunya sendiri berbicara begitu. Ini lebih mengacu pada perasaan kekecewaannya.

 

Dan jantungnya berdentum lebih cepat. Lebih cepat, dan lebih merasakan kecewa mendalam, saat melihat ayahnya turun dari kereta yang tiga menit lalu masih berjarak enam ribu meter. Ayahnya berpakaian jas hitam yang rapi, rambutnya yang klimis karena minyak disisir ke belakang, tangan kirinya mengamit lengan seorang wanita bergelung tinggi, lalu sela-sela jemari kanannya, menggantungkan cerutu yang bergejolak.

 

Dia berdiri dengan tegap secara cepat, tangannya mengepal, mata hitamnya menusuk dari kejauhan, ayahnya melangkah bak seorang raja menghampiri pintu keluar yang terbuat dari kayu. Tapi di tengah langkahnya, seorang tuna wisma meraih pergelangan kakinya, mengusap dan mencium sepatunya sambil memohon selembar uang untuk makan malamnya nanti.

 

Mungkin dia akan berpikir, ayahnya akan membanting badan tuna wisma itu, namun dia malah memberikan sebuah cerutu dan minuman alkohol. Dia tersenyum miris melihat kelakuan ayahnya, di dalam hatinya, apakah ibunya masih bisa mencintainya, mungkin jawabannya tidak. Itu memang fakta.

 

Ayahnya memutar badannya untuk melihat pemandangan hutan di balik kereta, matanya mencari, dia tersentak dan bersembunyi di samping seorang lelaki bertubuh tambun dengan koran lusuhnya.

 

Dia mengintip, dan masih menemukan ayahnya yang menatap tuna wisma itu dengan tatapan remeh, ayahnya menendang-nendang tangan yang telah menyentuh sepatu hitam mahalnya itu.

 

Lalu tiba-tiba, dia berani menyapa ayahnya, “Hai, ayah,” dia berbicara di belakang punggung ayahnya, seperti berbisik.

 

Ayahnya berbalik, sedikit mendongak, “Kau siapa?” mungkin tingginya sudah mengalahkan tinggi ayahnya. Dia mencengkeram leher ayahnya, membawa punggung renta itu menghantam dinding kayu stasiun. –Brak!. Semua orang yang sibuk, menoleh dan menatap kosong kelakuan mereka.

 

“Yakin kau tidak mengenalku?” suara beratnya mengembalikan ingatan ayahnya. “As–astaga!” Ayahnya melenguh ketika badannya dihempaskan ke lantai kayu. “Ingat dirimu, yah.” Dia berbalik, dan tersenyum ke arah wanita penjilat itu, senyuman yang tak dapat wanita itu artikan, tapi wanita itu hanya bisa membalas kedipan mata dan tarian jemarinya.

 

Dia tetap penjilat.

 

 

Dia berhenti berjalan pulang, saat mendengar bisikan para lelaki di sekitar pabrik.

 

“Iya! Itu mayat seorang pria! Tubuhnya tercabik-cabik menjijikkan!”

 

“Sudah adakah polisi di sana? aku jadi penasaran,”

 

“Aku bersungguh-sungguh, dia seorang pria yang baru datang hari ini,”

 

Dia menjatuhkan bekalnya dan berlari menuju ujung hutan, menembus ranting-ranting tajam di tengah hutan, dan dia hanya bisa terduduk lemah di atas tanah, ketika mendapati ayahnya tergeletak tak bernyawa dengan lalat-lalat sial itu menghampiri tubuhnya. Mayat ayahnya berada di tepi jurang.

 

Seperti saat kasus adiknya menghilang dan beberapa jam kemudian ditemukan di tepi jurang ini, tanpa ibunya, dengan pergelangan tangannya membiru meninggalkan bekas sayat melintang, waktu itu, wajahnya pucat tapi dia tersenyum cerah.

 

Dulu, ibunya yang juga dikabarkan menghilang, ditemukan mengambang di aliran sungai dekat rumahnya, banyak luka sayat di lehernya, dan leher ibunya membengkak. Tubuhnya juga membiru, dingin dan hambar.

 

Kini, dia terjatuh dengan cibiran orang-orang di sekelilingnya, jika dirinya yang telah membunuh seluruh keluarganya. Para tetangganya berbisik penuh penekanan ketika dirinya tidak sengaja melewati sekelompok masyarakat. Bahkan beberapa orang berteriak penuh amarah agar ia diusir dari pedesaan ini, bagi mereka ia membawa sial jika dibiarkan tinggal di sini terus menerus.

 

Dan malam itu, dia akan menangis dalam balutan selimut, meraung ketakutan dan berteriak memohon–agar keluarganya bisa kembali seperti dulu, ketika tidak ada kemarahan dalam keluarganya. Tapi keluhannya tidak didengar oleh masyarakat sekitar karena mereka asik melempari rumahnya dengan batu, dan menggedor pintu rumahnya–yang sudah ia tahan dengan lemari, meja makan, dan sebuah sofa.

 

Itu tidak benar! Aku bukan seorang pembunuh yang tega membunuh keluargaku sendiri. Ini bukan salahku! Ini–ini tidak benar!.

 

 

December 2003, Seoul.

 

Jongin mendesah kasar di dalam lamunannya, sepanjang kereta melaju, ia hanya bisa menatap hamparan pohon yang melesak cepat karena gerak kereta. Sebuah siluet klise yang suram bagi Jongin.

 

Kepalanya pening secara tiba-tiba, akibat dari dahinya yang membentur tepian meja mahoni di ruang tengah mansionnya.

 

Jendela kaca kereta di samping kirinya berembun, karena pendingin serta hujan angin di luar sana. Jongin bukannya tidak suka dengan hujan, dan ia bukan seekor kucing yang takut terhadap hujan. Namun Jongin tidak suka karena itu pertanda jika ia harus keluar dari kereta dengan alas sepatu becek dan ujung mantelnya yang akan basah.

 

“Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan, tapi menurutku kau berpikir tentang bahaya hujan melanda fashionmu itu.”

 

Jongin semakin melorot di dalam dudukannya, “Ini bukan fashion terbaikku hyung, lagipula aku tidak berniat untuk pamer..dasar” gerutunya.

 

Jongdae, yang selaku sebagai kakaknya, terkekeh di dalam tumpuan tangannya.

 

Jongin dipungut–oh, kata ini begitu menyakitkan dan menyedihkan–dari panti asuhan oleh keluarga Kim dan mengangkatnya menjadi anak kedua. Jongdae memiliki selisih umur sekitar dua tahun dari Jongin, ia mengajaknya untuk tinggal menemaninya di pedalaman Bucheon. Jongdae bilang itu hanya sementara, dan Jongin duga itu sebuah alasan belaka.

 

Suara dalam itu mendesah dalam gumamannya, “Kapan kita tiba? Aku ingin tidur.” Jongdae menjilat ujung telunjuknya, membuka jendela di samping kanannya, dan mengeluarkannya, membiarkannya mengering. “Kukira, kita tiba sebentar lagi,”

 

Jongin menatap tidak percaya pada kakaknya selama tiga tahun, terbilang canggung tapi mereka cepat mengenal dan saling mengetahui rahasia masing-masing, tapi Jongin tidak pernah berpikir jika kakaknya akan sejorok ini. Astaga.

 

“Ya! Hyung! Ini menjijikkan! Menggelikan, enyahlah dari sini!” Jongin melemparinya buntalan tisu, Jongdae yang tertawa renyah kembali diam dan suara lengkingnya mengejutkan Jongin, “Mwo?! Kau mengusir kakakmu? Dasar adik kurang ajar,” Mereka tertawa tanpa memperdulikan petugas karcis di ambang pintu bilik mereka.

 

“Ghmm!”

 

 

Jongdae membawa sebuah koper dan berjalan di depan ketika mereka menyusuri jalanan setapak, Jongin yang berada di belakang, mendesah kedinginan dan sesekali menggerutu karena ia membawa sepasang koper milik kakaknya, sedangkan ia hanya membawa sebuah tas ransel.

 

Tak beberapa lama, sebuah pedati melewati mereka, Jongdae mengacuhkan Jongin yang ingin agar mereka menaikinya, Jongdae membiarkan Jongin mengoceh bahkan meracau.

 

Dari kejauhan, Jongin melihat sebuah aliran sungai yang tenang dan–mungkin–tidak terlalu dalam. Tapi bayangan untuk memancing di sana meluruh ketika kakaknya berhenti tiba-tiba lalu berteriak girang, “Kita sampai.”

 

 

Jongin menaruh mantel cokelat mudanya di gantungan sebelah pintu, meletakkan koper-koper itu di atas lantai dekat tangga, membiarkan Jongdae mengoceh tidak jelas menerangkan seluk beluk isi rumah sementara mereka. Jongin ingin membalas dendamkan kepada kakaknya karena tadi dia mengacuhkannya.

 

Jongin berbelok ke kanan, menuju ruang tamu dengan perapian ada di depannya, ia melangkah ke sana dan menatap cerobong asapnya. Lalu ia menoleh ke arah kanan, ia bisa melihat pepohonan yang menjulang indah dari sini.

 

Kakaknya datang dengan ocehan menyambungnya, “Begini, di sini ada tiga kamar, dengan satu ruang lagi berada di loteng, berhubung ada temanku berasal dari sini akan menginap, jadi kau tidur di loteng, astaga dimana aku meletakkan sikat gigiku,” dan kembali pergi dengan serentetan ocehannya itu.

 

Jongin dapat menyimpulkan jika semua kamar berada di lantai dua, karena ketika ia membuka sebuah pintu di dekat ruang makan, itu hanyalah sebuah kamar mandi. Jadi, rumah ini dipisahkan dengan sebuah tangga.

 

Hh, sempurna. Jongin mendesah dalam hatinya. Menyesali pilihan rumah kakaknya.

 

 

Jongin terdiam di depan kamar barunya, di loteng, di sini cukup luas dan cukup berdebu. Dan mungkin Jongin akan suka pemandangan dari atas sini, semua bisa terlihat, hingga Jongdae yang tengah menyambut teman-temannya. Mungkin hari ini ia lebih memilih untuk berdiam diri di kamar.

 

Malamnya, ketika Jongin meminta lampu baru yang lebih terang. Jongin tidur telentang, memperhatikan sebuah celah kaca di atasnya, menampilkan langit malam. Lalu ia duduk di tepi ranjang, menatap sekelilingnya, dan tersenyum puas. Ia teringat bahwa tadi ia tidak makan malam dan sekarang pukul sebelas malam. Terlalu telat untuk melewatkan makan malam.

 

Ia bergegas turun dan menuju ruang makan, ia duduk di bangku kayu dan memakan makanan sisa tadi yang diletakkan Jongdae di kulkas, ia diam dalam kunyahannya sebelum ia terdiam.

 

Ia melihat siluet cahaya merah di sana, di seberang rumahnya, di seberang sungai itu.

 

 

Jongin terpental keluar dari dalam mimpinya dan terjatuh di ranjangnya, ia terbangun. Ia menatap jam kamarnya, pukul empat pagi, lantas ia mendesah dan segera turun dari ranjang, menuruni anak tangga dengan mengusap kedua matanya.

 

Ia mendekati perapian dan menjatuhkan dirinya di atas sofa dan jatuh tertidur kembali.

 

Mungkin Jongin mengira ia tertidur hanya beberapa menit dari tidurnya karena ia terbangun setelah mendengarkan suara benda tercebur, tepat saat pukul empat lewat. Jongin berjalan ke ruang makan dan menghampiri jendelanya, aliran sungai di sana tenang-tenang saja, lalu apa yang tercebur?.

 

Jongin berniat untuk berbalik dan melanjutkan tidurnya di sofa ruang tamu tapi ketika ia baru berbalik, suara itu kembali terdengar, ia segera berlari keluar, menyahut senter dan berjalan menuju tepi sungai. Menerangi tepian sungai tapi ia tidak menemukan apapun. Malah ketika ia menerangi sebuah batang pohon, ia menemukan seseorang berdiam diri di baliknya dan berajalan ke arahnya.

 

“Kenapa kau datang ke sini, Kai?”

 

Jongin terhenyak dan terpaku pada mata hitam kelam sosok itu.

 

“Apa yang telah kau lakukan pada keluargamu?!” Sosok itu berambut pirang berkilau di bawah cahaya bulan. “Kau telah membunuh keluargamu dan memasuki wilayah kami!” –Prang. Senter Jongin terjatuh dan ia terbalut dalam kegelapan malam.

 

 

Jongin!

 

Kim Jongin!

 

“–Jongin, bangun!” Jongdae menyiram segelas air dingin ke wajah Jongin, dan cukup membuatnya terjatuh dari sofa.

 

Hyung, apa yang kau lakukan?!”

 

Jongdae berbalik, “Aku membangunkanmu adikku.” Jongin bergidik ngeri. “Kenapa kau tidur di sini? Teman-temanku sudah pulang dari jam enam tadi.”

 

Jongin bangun dan menuju meja makan, duduk termenung, masih meresapi sisa jiwanya yang berkelana. Jongdae menaruh sebuah piring ke hadapannya, Jongin menoleh malas dan mendorong piring tersebut lalu menggeleng.

 

“Aku memang lapar, tapi tidak untuk telur.”

 

Jongdae mengambil telur di atas piring Jongin dengan sendok dan menaruhnya di atasnya piringnya. Dia meminum susunya dan duduk berhadapan dengan Jongin. Jongin menggaruk kepala belakangnya, menyiratkan kemalasan karena kantuk. Ia makan sesuap lalu kembali menaruh sendok. Ia melihat seorang lelaki berjalan menyusuri sungai.

 

Hyung, itu siapa?”

 

Jongdae menelan makanannya, menyeruput susunya sedikit lalu menoleh ke belakang, melihat sekilas lalu kembali menyantap makanannya, “Itu tetangga kita, rumahnya di dekat hutan.”

 

“Astaga hyung, rumah kita yang paling dekat dengan pinggiran hutan.”

 

Jongdae mengendikkan bahunya, “Mungkin, di dalam hutan, aku tidak tahu, aku kan bukan peta.” Jongin memutar bola matanya, sebal akan sikap dari kakaknya itu.

 

Jongin terus menatap lelaki itu sebelum mereka bertemu pandang dan kilasan sebuah kejadian membuat Jongin tersentak.

 

“Aku akan pergi sebentar.”

 

Ia pergi meninggalkan Jongdae di meja makan. Setelah derit pintu tertutup, Jongdae membuang kunyahan terakhirnya dan meminum air putihnya, lantas dia berdiri dan menuju kulkas, mencari sesuatu yang bisa ia cicipi lagi.

 

 

Jongin berlarian hanya untuk sekedar menghampiri lelaki asing itu.

 

“Hai!” ucap Jongin antusias.

 

Lelaki yang memakai kaos lengan panjang berwarna biru tua hanya menatap balik. Jongin mengulurkan tangannya dan memperkenalkan namanya. Tapi sepertinya hanya angin yang membalas sahutannya itu. Rambut hitam lelaki itu tertiup pelan, wajahnya diam dan tidak menyiratkan sedikitpun ekspresi.

 

Lama tidak menjawab, lelaki itu mengulurkan tangannnya, “Kyungsoo.” Dan lelaki itu segera berbalik, membawa sebuah keranjang daging rusa dan beberapa daging ikan.

 

Jongin menahan lengannya, “Jangan, nanti sepatumu basah,” ia melihat jika lelaki yang bernama Kyungsoo itu akan melewati aliran sungai.

 

“Lebih cepat daripada memutari sungai.”

 

Jongin awalnya ingin meninggalkannya dan kembali ke dalam rumah, karena ia sudah mendapatkan nama lelaki itu. Tapi kaki-kakinya berjalan mengikuti Kyungsoo.

 

“Berhenti mengikutiku, kau melewati batas.”

 

Jongin mengangkat bahunya tidak tahu, kedua tangannya terbenam di dalam saku celananya, bergumam dalam keraguan.

 

“Kembalilah, sebelum kau menemukan faktanya.”

 

Jongin terdiam.

 

Lelaki itu kembali berjalan, meninggalkan Jongin beberapa meter di belakangnya, “Buka lemari pendinginmu. Dan hangatkan dirimu.” Jongin akhirnya hanya bisa tertawa dan berdecih ketika siluet badan Kyungsoo menjauh dan mengecil.

 

 

Jongin terdiam di kamarnya, di loteng rumahnya.

 

Meringkuk di dalam selimut, mematikan lampu kamarnya, dan mengunci pintu kamarnya. Sebuah gedoran pelan terdengar dari dalam, Jongdae mengajaknya makan malam. Tapi Jongin terdiam dan menatap lurus ke depan, menatap kenop pintunya yang bergerak-gerak. Jongdae semakin meneriakinya, suaranya berubah menjadi nada khawatir, tapi ia lebih memilih untuk diam.

 

Hujan musim dingin membasahi jendela kamar Jongin, ia menoleh dan menatap jendela kecil tersebut dalam satu tatapan.

 

 

Berlari. Ia berlari dari rumahnya. Jongin berlari menjauh dari rumahnya dan berlari menyusuri jalanan setapak. Badannya basah penuh dengan peluh awan mendung. Tapi tubuhnya baik-baik saja, tidak merasa akan hawa dingin tersebut. Ia berjalan menuju ke dalam hutan dan menemukan Kyungsoo bersandar pada salah satu pohon.

 

“Kau kembali rupanya.”

 

Jongin berhenti melangkah, telapak kakinya perih.

 

“Bagaimana bisa kau kembali ke desa yang memperlakukanmu dengan keji, Kai.”

 

Sebuah asap hitam menyerang penglihatannya dan ia terjatuh.

 

 

Dia berdiri bersebelahan dengan adiknya, memandang laut luas di hadapannya, sedangkan di bawahnya terdapat bebatuan tajam yang tergerus hempasan air laut.

 

“Kau menuruti keinginan ibumu?”

 

Adiknya terdiam. Memandang tepian jurang dengan sayu.

 

“Itu ibuku, ibu kita, apa salahnya. Ibu bilang jika aku menurut, aku akan dapat jatah warisan dari kematian ayah lebih banyak.”

 

“Itu hanya alasan picisan yang bodoh!” Dia mengepalkan jemarinya dan menatap adiknya sengit. “Kata ibu, kau hanya mahluk bodoh seperti anjing.”

 

Suara geraman mulai terdengar di antara hembusan angin sore pada musim gugur.

 

 

“Ayah,” Dia menatap manik mata ayahnya penuh harap. “Apa kau masih menyayangi ibu?”

 

Ayahnya memandang tepian jurang, ini seperti dulu, seperti adiknya dulu. Dia mengetahui jawabannya dan memukul perut dan pipi ayahnya hingga tersungkur. Ayahnya terbatuk-batuk. Dia mendesis tidak senang dengan kebohongan yang ayahnya berikan.

 

“Apa yang membuat keluarga kita berpisah seperti ini?!”

 

“Ini ulah ibumu, bodoh.” Ayahnya bangkit dan mengusap bibirnya yang berdarah. “Dia menginginkan harta yang lebih banyak ketika pekerjaan ayah tengah meningkat. Ibunya yang telah berubah, dari sesuatu yang lembut menjadi sesuatu yang keras.”

 

Dia mencengkeram kerah kemeja ayahnya, “Lalu kau kabur dan berselingkuh?” Dan kembali menghempaskan ke atas tanah.

 

“Kau tidak tahu apa-apa anak bodoh! Kau hanya sebatas pemikir singkat seperti anjing!”

 

“Arrgh!”

 

 

Jongin terbangun ketika punggungnya terlempar pada salah satu batang pohon.

 

Ia terbatuk dan beberapa saat kemudian, ia merasa sehat kembali.

 

“Jadi, kau sudah tahu bukan. Jika kakakmu itu bukan seorang normal. Dia seperti kami, yang telah membunuh ibumu.”

 

Jongin ingat, rambut pirang berkilat itu.

 

“Hentikan baekhyun, dia harus kita pancing.”

 

Kyungsoo mendekat, meraih kerah kaos Jongin, “Kau tahu bukan jika seorang vampir menemukan seekor manusia serigala.”

 

“Bunuh aku atau apapun itu, tapi kenapa kau membunuh ibuku!”

 

Baekhyun–lelaki berambut pirang itu–melangkah maju, “Kami sudah hidup bersamamu sekian lama, tapi kenapa kau membunuh keluarga kami, koloni bodohmu itu tidak pernah berpikir!”

 

“Tapi sekarang aku sendirian dan kau membunuh seluruh keluarga secara kejam, dengan memancingku.”

 

Kyungsoo mendorong badan Jongin hingga mengenai sebuah batang pohon lagi, “Itu mudah. Memancing ibumu yang pecinta uang itu lalu mengelabui ayahnyamu dengan teman wanita kami dan –bung!, semua mudah bukan, Kai.”

 

“Kai, kau memang payah menjadi seorang serigala penyendiri setelah kejadian itu.”

 

Tapi mereka berdua, Baekhyun dan Kyungsoo melupakan sesuatu setelah Jongin berubah menjadi seekor serigala. Ia dapat menghilang dan muncul sesuka hatinya. Dan ia menghilang.

 

 

Maret 2016

 

Di pinggiran rel kereta api, dia berlarian dengan tawa. Ikut mengejar sebuah gerbong kereta. Tapi lama-kelamaan, dia berhenti dan berjalan, menyusuri rel kereta api. Dan ketika sampai di bukit, dia berjalan ke atas bukit dan melihat sebuah pedesaan kecil di sekitarnya.

 

Dia menghampiri sebuah pohon dan duduk di bawahnya, bergumam lirih, “Ibu, andai aku bisa mati, aku tidak akan menghilang terus menerus. Bukan aku pengecut ibu, tapi percuma saja, aku tidak bisa mati.”

 

Dia bangkit dan berdiri, menatap pemukiman itu dari kejauhan. Dan dia bisa melihat dua orang yang tersenyum, bermain di pinggiran sungai, dengan Jongdae yang membawa seekor lagi ke dalam masa lalunya.

 

Hingga sampai kapan pun, mereka seorang manusia mati yang hidup untuk mengejar seekor serigala pengelana yang terjebak dalam masa lalunya. Dia kembali berjalan menuju tengah rel kereta api, melangkah dengan kepala mendongak dan beberapa asap hitam menyeruak, menyebabkan partikel tubuhnya mengecil dan terpisah. Dia menghilang di tengah langkahnya.

 

THE END

 

 

Luwinaa’s note

Tahu sesuatu? -_- aku sendiri gak tahu, aku sempat berhenti nulis ini karena aku sedang unmood menjelang liburan. Okeh yang mau ngkritik tulisan aku yg gak nyambung ini, yuk mari silahkan, aku sendiri juga ngakuin kok kalo fic ini rada stuck gmn gitu –o– aku minta maaap ya~ bagi yang meninggalkan jejak aku terima kasih bgt, krn aku bth kritik ato tersrh deh yg penting suara kalian utk membangun kemajuan pembangunan kreatifitas fanfiction /apaini O_o/

 

 

 

 

 

 

Iklan

4 pemikiran pada “Across The River

  1. keren kok thor,butuh ending thor….masa kai kabur terus dari kyungsoo and baekhyun….btw thor,jongdae vampir ato serigala? jangan lupa ya thor epilognya 😀 aku suka gaya penulisan author,penuh penekan plus penuh arti,langsung mengena di hati thor 😀

  2. Sebenarnya masih agak bingung, sama jongdae nya dia itu vampire atau serigala. Tapi serius ini keren banget ._.v kaya kita bermain flashback terus kembali kemasa depan. Sangat menarik! Kalau bisa ada ff nya nih hihihi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s