My Husband

 My Husband

my husband

 

Author      : Lu Na Park

Cast          : Kim Jong In Park Jun Hee

Genre       : romance, sad, marriage life

Length      : one shot

Note         : saya minta maaf jika didalam cerita saya kali ini banyak terdapat bahasa yang kurang baik, perkataan yang kotor dan sedikit menjurus ke NC. Tapi tenang, ff ini tidak mengandung NC sama sekali cuma menjurus saja. Sekali lagi saya minta maaf, apabila tidak suka langsung tinggalkan halaman ini, tidak perlu cekcok kayak orang gila.

I hope you enjoy it, don’t forget to coment

 

***

“ ssshhh…huh oppa ah…”

 

“ kya….pelankan suara kalian. Menjijikkan sekali” desisku

 

Yah…aku baru saja meneriaki 2 manusia biadab yang ada dikamar sebelah. Kamar sebelah? Oh ya kami memang satu apartemen. Mereka, 2 orang yang tengah melakukan hubungan yang seharusnya akulah yang melakukannya bukan wanita penghibur itu. Yah…sulit dipercaya sih dengan kenyataan sekarang jika laki-laki yang kini tengah mendesah bersama wanita lain itu adalah suamiku, SUAMI SAHKU. Bahkan aku tidak mau mengakui jika laki-laki itu adalah suamiku. Laki-laki yang hampir setiap malam selalu membawa wanita pulang dengan bau vodka yang menyeruak diindra penciuman dan berakhir diatas ranjang. Cih…menjijikkan sekali. Aku menyingkap selimut dan beranjak pergi kedapur. Entahlah rasa kantukku tiba-tiba menghilang setelah mendengar suara menjijikkan itu. Ternyata effek suara menjijikkan itu begitu terasa sekali,rasanya ingin muntah mengeluarkan apa yang hari ini aku makan. Aku duduk di ruang makan dengan segelas soju berkadar rendah didepanku. Hingga tidak beberapa lama laki-laki itu keluar dari kamar dengan wanita penghibur yang masih saja bergelanyut manja dilengannya. Cih….benar-benar menjijikkan.

 

“ ow…kau disini nona Park. Apa kau mendengar semua kegiatanku tadi?” ia tampak tersenyum nakal

 

“ huh…ada apa denganmu tuan Kim, tiba-tiba menanyakan hal ini padaku. Apa kau ingin membuatku meneriakimu lagi. Tapi sayang, jika kau menginginkan hal itu aku sedang tidak ingin mengeluarkan amukanku hari ini, aku sedang tidak mood saja”

 

“ baguslah…aku bisa istirahat dengan nyenyak hari ini. Emt..mungkin berendam sebentar membuatku lebih relax”

 

Laki-laki itu beranjak pergi mengabaikanku sendiri. Dasar Kim Jong In, tidak mengerti perasaan gadis. Laki-laki yang pintar menakhlukkan hati para wanita dan menyeretnya diatas ranjang dan berakhir dengan helaan nafas lega. Laki-laki yang tidak bertanggung jawab dan memperalat para gadis untuk mematuhi semua perkataannya. Dasar laki-laki bodoh!!! Suami macam apa dia, tersenyum didepan para orang tua dan menyetujui perjodohan ini namun nyatanya ia malah asyik dengan wanita penghibur sewaannya. Jika tahu seperti ini seharusnya sekarang ini aku berbaring manis diatas ranjang dengan Baekhyun kekasihku dengan memelukku erat, bukan malah duduk disini mendengar ocehan laki-laki bodoh itu.

 

***

 

“ bagaimana keadaan kekasihku Jong In” tanya Baekhyun santai

 

“ jangan sebut dia kekasihmu Byun Baekhyun, dia istriku bukan kekasihmu lagi”

 

“ tapi dia datang sendiri padaku dan mengatakan jika kau hanyalah orang lain dan hanya akan menjadi suaminya jika ada orang tuanya dan mertuanya”

 

“ persetan…kau apakan lagi Jun Hee, hyung. Apakah semua ini tidak cukup untuk membuatmu puas hah? Apa perjanjian itu kurang memuaskanmu?”

 

Jong In menatap lekat Baekhyun yang tengah duduk dengan tangan bersedekap menutupi dada bidangnya. Nafasnya tersenggal-senggal akibat teriakkannya belum lagi emosinya yang harus ia tahan dengan mengepalkan tangannya. Namun laki-laki berambut pirang itu hanya tersenyum, tersenyum sinis kearahnya membuatnya semakin geram dengan Baekhyun yang tidak lain adalah mantan kekasih Jun Hee sekaligus teman dekatnya. Itu dulu tidak untuk sekarang semenjak perjodohan itu terjadi.

 

“ aku tidak apa-apakan dia Jong In. Dia saja yang datang dan memelukku. Yah…sebagai orang yang disayangnya aku hanya perlu membalasnya dan memberikan ketenangan sebisa mungkin. Lagian dia tidak keberatan kok”

 

“ kau harus ingat hyung jika dia istriku bukan lagi kekasihmu yang kau bangga-banggakan itu. Dia istriku yang amat kucintai”

 

“ kau mencintainya? Benarkah?? Bukankah semua wanita dimatamu sama, wanita yang hanya untuk dipermainkan. Bukankah dia sama seperti yang lain hah___”

 

“ CUKUP. Dia berbeda, dia berbeda dengan semua wanita yang kukencani. Dia adalah gadis yang sebenarnya aku cari, gadis yang benar-benar aku cintai hyung. Jika saja kau tidak hadir maka ia akan menjadi milikku bukan milikmu yang hanya akan kau gunakan jika kau membutuhkannya. Aku masih berterimakasih padamu karena kau tidak mengambil keperawanannya dariku dan itu cukup membuatku bangga padamu, setidaknya otakmu itu benar-benar tidak bodoh”

 

Baekhyun tercengang mendengar penuturan Jong In. Rahangnya mengeras nafasnya juga tidak teratur. Ia berusaha merendam emosinya dan menjaga kewibawaannya, namun sebenarnya ia marah. Siapa yang tidak marah jika dikatai bodoh. Selama ia mengenal Jong In ia tidak pernah melihat laki-laki ini mengatainya bodoh dan terlebih lagi membentaknya. Jong In yang ia kenal adalah laki-laki yang sama dengan dirinya, mempermainkan wanita dan selalu menyetujui apa yang dikatakan olehnya. Namun kali ini ia melihat Jong In berbeda, berbeda bukan Jong In yang setiap kali bertemu akan mengajaknya ke bar dan bermain dengan wanita meskipun ia tahu sendiri jika laki-laki didepannya ini tidak pernah bermain dengan wanita seperti dirinya. Ia melihat Jong In telah berubah semenjak ia tahu jika dirinya menjalin hubungan dengan Jun Hee. Baekhyun terdiam, menatap dalam mata Jong In berusaha membuat laki-laki yang lebih muda darinya ini takut hanya dengan tatapannya. Hingga sebuah teriakan menyadarkan mereka.

 

“ kya….Jun Hee mengobrak-abrik ruang praktik. Hyung, Jong In cepatlah kesana, ia sedang bercekcok dengan para gadis disana” teriak Sehun

 

Jong In berlari diikuti Baekhyun dari belakang melewati Sehun. Mereka berhenti dibalik tembok, melihat Jun Hee tengah bercekcok. Sementara Jun Hee, gadis itu masih saja membela dirinya tentang kecelakaan kecil ini. Hingga ia menyadari jika ada Baekhyun dan suaminya. Ia berlari dan memeluk Baekhyun tanpa memperdulikan Jong In yang tengah menatapnya tajam. Baekhyun tersenyum sinis kepada Jong In dan membawa Jun Hee pergi darinya.

 

‘ sial….laki-laki itu benar-benar tidak waras sekarang’ umpat Jong In

 

“ sudahlah kawan, suatu saat Jun Hee akan tahu yang sebenarnya” tutur Sehun

 

“ kau benar, dan itu akan membuatnya marah padaku”

 

“ aku akan membantumu Jong In. Aku selalu berada dipihakmu”

 

“ terimakasih Sehun”

 

Mereka kembali kedalam kelas, berusaha mengabaikan masalah tadi. Sehun, laki-laki itu beranjak duduk disamping Jong In dan menyodorkan segelas cola untuk menenangkan perasaan temannya.

 

“ kau butuh refreshing kawan. Hari ini kita pergi ke bar aku akan mentraktirmu nanti”

 

“ tidak Sehun, aku akan berdiam diri dirumah saja. Aku sedang tidak dalam mood yang baik. Aku harus memikirkan masalah ini”

 

“ kau harus memberitahu Jun Hee yang sebenarnya Jong In”

 

“ kau gila hah, itu akan membuatnya semakin benci padaku. Pernyataan dalam perjanjian itu cukup kuat membuat Baekhyun hyung kembali pada Jun Hee”

 

“ jika kau seperti ini terus, aku yakin rumah tanggamu tidak akan bertahan lama. Kau tahu sendirikan Baekhyun hyung sendiri seperti apa? Ia bisa saja curang Jong In”

 

“ kau benar”

 

“ oh ayolah kawan, kau laki-laki berparas mempesona tiada gadis yang tidak terpesona dengan senyum menggodamu itu. Apa kau ingin ditertawakan para laki-laki jika melihatmu kena makian salah satu gadis yang tidak terlalu terkenal itu”

 

“ jangan merayuku seperti itu Sehun”

 

Dan sedetik kemudian Jong In tertawa akan perkataan Sehun mengenai dirinya. Sementara Sehun, laki-laki itu terasa lega dihatinya melihat kawannya ini tertawa. Ia masih ingin melihat Jong In tertawa seperti ini, ia tidak tega jika harus melihat sahabatnya sedih apalagi mengenai orang lain yang disayanginya.

***

 

Udara malam terasa begitu dingin membuat semua orang enggan untuk keluar dari rumah. Jong In tampak meringkuk dibawah selimut tebalnya, tidak memperdulikan lampu rumahnya yang masih gelap. Perlahan pintu rumah terbuka, Jun Hee baru saja pulang dari kuliahnya. Hari ini tadi ia banyak menghabiskan waktunya bersama Baekhyun tanpa sedikitpun memikirkan Jong In yang sedaritadi berada dirumah. Ia menyadari jika keadaan apartemennya begitu tenang dan seperti saat ia tinggalkan tadi pagi. Ia juga tidak mendengarkan desahan wanita yang dibawa Jong In ke apartemen mereka.

 

‘ apa dia belum pulang?’

 

Jun Hee melesat menuju kamarnya dan meletakkan tas diatas ranjang. Ia teringat sejak siang tadi ia belum makan sekalipun dan langsung pergi ke apartemen milik mantan kekasihnya itu. Namun baru beberapa langkah ia teringat Jong In lagi. Pikirannya mengenai laki-laki tersebut masih saja tergiang dikepalanya. Ada sedikit rasa khawatir juga mengenai suaminya. Meskipun ia membenci suaminya itu setidaknya ia harus tetap memperhatikan pola makan suaminya dan kesehatan suaminya. Kini ia mendapati pintu kamar Jong In yang tertutup rapat, hening, tanpa ada suara desahan wanita sewaan suaminya. Perlahan ia meraih kenop pintu dan memutarnya. Matanya menangkap sosok laki-laki yang tengah berbaring dibalik selimut tebal tersebut. Sosok yang hampir 4 bulan ini tinggal bersamanya.

 

“ Jong In…”

 

Jun Hee memutuskan untuk duduk ditepi ranjang Jong In, menatap mata terpejam tersebut dan bibir yang sedikit terbuka menghembuskan nafas. Mata yang ia akui berhasil membuatnya jatuh kedalam pesona suaminya saat matanya menatap mata terpejam tersebut. Dan bibir itu, bibir yang sanggup membuatnya tidak bisa menahan segala emosinya terhadap laki-laki yang ada didepannya. Perlahan ia mengusap pucuk kepala Jong In, merasakan betapa halusnya rambut pria ini. Andai saja pria ini mengetahui perasaannya yang sedikit melunak mungkin perlakuannya selama ini akan ia rubah. Dan seandainya laki-laki ini tahu betapa sakitnya dirinya disaat hal tertentu yang dilakukan Jong In. Teruslah berandai Jun Hee maka semuanya tidak akan berubah jika kau tidak bisa mengubah semuanya dengan dirimu. Jong In akan terus seperti ini jika kau tidak bertindak. Jun Hee sempat berfikir mencoba untuk sedikit lebih mengungkap keperhatiannya terhadap Jong In, hanya saja yang terbesit didalam otaknya hanya ada sebuah tawa yang meremehkan dan kata-kata yang akan membuatnya sakit. Ia tidak mau itu terjadi namun ia juga tidak mau semuanya seperti ini seterusnya. Ia ingin melihat Jong In seperti ini, Jong In dengan keadaan damai tanpa membawa seorang perempuan dan menganggapnya hanyalah sebuah nama di apartemen ini. Tetapi perasaannya terlalu takut, terlalu takut untuk mengungkap semua ini. Ia hanyalah gadis lemah yang dengan mudahnya jatuh terperangkap didalam pesona seseorang namun perasaannya masih bimbang diantara dua orang, Baekhyun dan Jong In.

 

“ seharusnya kau seperti ini Jong In, tidak membawa wanita sewaanmu kemari dan tidur terlelap diruangan ini sendiri. Akan terlihat baik jika kau selalu mengatakan ‘selamat malam’ padaku dan melempar senyum padaku, maka aku mungkin akan jauh terperangkap olehmu dan tidak akan merelakan siapapun untuk memilikimu”

 

Jun Hee tersenyum getir dan meninggalkan kamar Jong In. Terlalu berlebihan mengenai pembicaraannya sendiri. Ia bahkan terlihat sangat mengharapkan itu terjadi padanya suatu hari nanti. Mungkin apa yang kau katakan akan terjadi padamu jika kau memutuskan semuanya secara cepat dengan perasaanmu yang paling tepat Jun Hee. Dan perlu kau ingat jika ada seseorang yang menunnggumu, menunggu pengakuan cinta dari bibirmu langsung.

 

***

 

Jun Hee kini terlihat begitu sangat menikmati cerahnya sinar matahari ditaman belakang kampus. Sesekali ia memejamkan matanya berusaha menghirup udara sebanyak mungkin dan merasakan betapa segarnya udara ini. Namun tiba-tiba pandangannya terlihat serius saat mendapati seseorang yang tidak asing baginya. Seseorang yang tengah berkutat dengan sebuah laptop dipangkuannya dan headset ditelinganya. Ia menajamkan penglihatannya berusaha lebih meyakinkan jika seseorang itu yaitu suaminya yang tidak lain Jong In. Jong In yang tengah berkutat dengan laptop dipangkuannya dan tidak lupa headset nya yang terpasang di telinganya. Tatapan matanya tidak berpindah sekalipun dari monitor tersebut, seseolah ia tengah memergoki sesuatu yang membuatnya shok. Namun bagi Jun Hee pemandangan ini sangat begitu langka. Ia baru menyadari jika suaminya ini memiliki wajah childish seperti Sehun meskipun laki-laki itu memiliki wajah yang tegas juga. Tiba-tiba ponselnya bordering, ia melihat nama yang tertera dilayar ponselnya yang menunjukkan nama mantan kekasihnya disana.

 

‘ kenapa Baekhyun oppa menelfonku jam segini? Tidak biasanya’

 

Jun Hee mendiamkan ponselnya bordering, ia masih enggan untuk mendengarkan suara baritone mantan kekasihnya dan ia pikir menikmati pemandangan suaminya akan lebih menyenangkan lagi. Hingga tidak beberpa lama ponselnya mati sendiri. Baguslah, ia tidak perlu repot-repot menekan tombol mati itu. Tatapannya kembali pada Jong In, laki-laki yang duduk sendiri tidak jauh darinya. Namun sekarang laki-laki itu tidak sendiri melainkan ada seorang gadis yang tengah duduk disamping suaminya dengan senyum yang diperlihatkan pada suaminya. Ia melihat betapa bahagianya Jong In saat ini dengan gadis itu. Sebenarnya sih ia masih sempat marah dengan Jong In, meskipun ia membencinya namanya seorang istri yang melihat suaminya bersama gadis lain dengan tawa yang lebar akan membuat siapapun terluka, sama halnya dengan dirinya saat ini. Namun disisi lain ia melihat kelembutan yang terdapat pada Jong In, perhatian laki-laki itu pada orang lain yang ingin ia rasanya jika perhatian itu hanya untuknya. Jun Hee menghembuskan nafasnya kasar, ingin sekali ia meneteskan air mata saat ini namun hatinya berkata tidak.

 

‘kenapa kau harus meneteskan air mata untuk laki-laki biadab seperti dia, Jun Hee. Percuma kau menangis sekeras apapun laki-laki itu tidak akan mendengarmu bahkan menggubrismu. Baginya kau hanyalah sebuah nama yang terpapang di dalam rumah tangga kalian. Tidak ada arti lebih selain nama untuk dirinya. Ingat itu Jun Hee. Inikah rasanya mencoba untuk mencintaimu’

 

“ hei…kenapa kau tidak menjawab telfonku sayang”

 

“ oh…Baekhyun oppa. Maaf tadi ponselku mati”

 

Baekhyun tersenyum simpul dan menganggukkan kepalanya. Pandangannya beralih kearah Jong In yang kini tengah menatapnya tajam, berusaha mengatakan pada Baekhyun untuk tidak mendekati istrinya. Tapi bukan Baekhyun namanya jika tidak bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Baekhyun menyeringai dan perlahan merengkuh bahu gadis tersebut dan berhasil membuat Jong In kesal dan meninggalkan taman. Lebih baik ia segera menyelesaikan masalah sekripsinya daripada teman akrabnya yang kini menjadi musuhnya.

 

“ hari ini kau ada waktu? Bermainlah diapartemenku, hari ini aku memasak banyak untukmu”

 

“ benarkah? Oppa memasak untukku?”

 

“tentu saja. Bahkan masakanku lebih lezat daripada Jong In”

 

“ yah…mungkin. Baiklah hari ini aku akan pergi ke apartemenmu oppa”

 

“ kau tidak mau menginap langsung?”

 

“ tidak, apa kata orang nanti jika aku menginap di apartemenmu. Lagian si Jong In itu bagaimana nanti”

 

Baekhyun tercengang mendengarkan kalimat terakhir yang diucapkan mantan kekasihnya ini. Lagian si Jong In itu bagaimana nanti . Benar- benar diluar dugaannya jika gadis disampingnya ini juga mengkhawatirkan Jong In. Ia tidak menyangka waktu 4 bulan pernikahan mereka dapat membuat Jun Hee benar-benar jatuh dalam pesona Jong In. Yah…memang ia pernah mengakui jika dibanding dirinya Jong In lebih disukai banyak gadis. Tidak hanya tampan, tetapi sebenarnya perilakunya juga terlihat baik. Ia memang sering dikenal buruk oleh semua orang setelah dekat dengan dirinya, namun jika sudah kenal lama maka akan tahu seperti apa dirinya yang sebenarnya. Sejenak ia merasa bersalah pada Jong In atas semua yang telah ia lakukan. Ia sudah memberikan sebuah perjanjian yang amat mustahil untuk dilakukan oleh Jong In dalam posisinya sekarang ini. Namun harus bagaimana lagi, jika ia tidak melakukan ini semua ia tidak akan mendapatkan Jun Hee kembali. Dan betapa bodohnya saat ia mengatakan iya ketika Jong In memintanya untuk menyetujui pernikahan laki-laki tersebut. Ingin rasanya ia menghentikan semua ini dan mengembalikan dari awal. Ini sudah benar-benar kelewatan. Ia tidak pernah membuat orang seperti ini dengan ulahnya sendiri terlebih lagi kepada sahabat dekatnya. Lamunnya tersadar oleh tarikan tangan Jun Hee. Ia mengalihkan pandangannya pada Jun Hee dan tersenyum lembut.

 

“ ayo…”

 

Perpustakaan tampak begitu sepi hanya ada beberapa orang yang dapat dihitung tangan sekaligus petugas jaga. Jong In, laki-laki yang tengah duduk diujung ruangan didekat candela dengan setumpuk buku riset Alice in Wonderland itu tampak begitu serius meskipun sesekali ia menghembuskan nafas kasarnya. Pikirannya kacau mengenai proses skripsi sekarang ini belum lagi ditambah tingkah Baekhyun yang semakin melonjak. Ia tidak bisa terus menerus diam seperti ini, bisa-bisa Jun Hee akan kembali pada Baekhyun dan meninggalkannya untuk selamanya. Ia meletakkan buku yang kesekian kalinya dan menatap keluar. Menggigit bibir bawahnya dan memejamkan matanya sesaat,ia berusaha untuk tenang dan tidak melampiaskan kemarahannya untuk pergi ke bar. Ia harus mengurangi kebiasaannya pergi ke bar dan kembali menjadi dirinya seperti dulu, dirinya sebelum mengenal Baekhyun. Ia melakukan semua ini hanya untuk Jun Hee, Jun Hee istrinya. Tangannya mengepal, ingin sekali ia meneriaki nama Baekhyun dan menyeret laki-laki itu ketengah lapangan dan menghabisinya disana. Namun apa daya, jika ia melakukan hal itu sama saja ia menjauhkan dirinya dari Jun Hee dan membuat gadis itu berfikiran bahwa dirinya begitu kejam terhadap Baekhyun. Ia benci keadaan seperti ini, ia benci melihat orang yang disayanginya bersama orang lain.

 

“ apa yang harus aku lakukan sekarang tuhan”

 

Perlahan ia memejamkan matanya dan mencoba untuk terlelap. Ia akan menghabiskan waktu malam ini hanya berada didalam perpustakaan. Tanpa bantal dan guling hanya ada tumpukan buku yang tertata rapi diatas meja menutupi kepalanya yang telungkup. Ia berfikir jika Jun Hee sekarang ini juga tengah berada di apartemen Baekhyun dan melakukan hal konyol tidak bermutu, jadi ide untuk menginap dikampus jauh lebih baik dibanding tidur dirumah tanpa ada seseorang. Secepat mungkin ia harus menyelesaikan masalah ini dan secepat mungkin ia harus mengakhiri perjanjian ini.

 

Jun Hee tampak berjalan mondar-mandir diruang tamu, kedua telapak tangannya saling terkait dan bibirnya sedaritadi tidak berhenti berkomat-kamit mengenai kepulangan Jong In yang begitu telat tidak seperti sebelumnya. Dan tanpa ia sadari jika ia sangat mengkhawatirkan suami yang ia anggap bodoh itu.

 

“ dimana laki-laki bodoh itu? Kenapa jam segini belum pulang juga sih. Oo atau mungkin ia sedang bermain dengan dengan wanita diluar sana?”

 

 

Jun Hee semakin mendengus kesal atas pasangka buruknya. Ia terlihat begitu yakin akan prasangka buruk yang ditafsirnya sendiri. Apalagi dengan keanehan kepulangan Jong In yang begitu telat. Memang sih pukul 11 malam bagi mereka belumlah terlihat malam bahkan mereka sering menghabiskan malam mereka hanya untuk menikmati segelas vodka bermerek berkelas, itu sebelum mereka menikah, Jun Hee juga tidak pernah melihat Jong In pulang telat melebihi pukul 10 malam selama 4 bulan ini, namun sekarang jam dinding itu menunjukkan pukul 1 dini hari dan si Jong In itu belum juga menampakkkan batang hidungnya dibalik pintu masuk apartemen mereka. Gadis yang kini tengah duduk disofa dengan gaun tidurnya ini masih saja berceloteh, menafsirkan jika suaminya ini tengah bercinta dengan wanita lain. Tapi hei…kenapa ia harus marah-marah seperti ini sih? Kenapa sekarang jadi peduli dengan apa yang dialkukan suaminya? Apa dia mulai menyukai suaminya?

 

“bodoh, kenapa aku harus mengkhawatirkannya? Buat apa aku mengkhawatirkannya jika dia sendiri tidak mengkhawatirkan diriku sama sekali. Toh dia juga tidak melarangku untuk bermesraan dengan Baekhyun oppa. Bodoh…bodoh..bodoh mungkin otakku perlu refresing sejenak dan akan lebih baik jika aku tidur saja daripada menunggu laki-laki biadap itu”

 

Jun Hee beranjak meninggalkan ruang tengah dan melesat menuju kamarnya. Meraih ponsel yang berada diatas nakasnya dan mencari kontak nomor yang sering ia hubungi. BYUN BAEKHYUN, mantan kekasihnya…

 

Disisi lain Jong In laki-laki itu kini tengah meringkuk memeluk tubuhnya sendiri, berusaha menciptakan kehangatan untuk dirinya. Tidur tanpa selimut tanpa bantal tanpa guling itu benar-benar membuatnya kacau. Punggungnya terasa nyeri dan kepalanya akan terasa pening merasakan kerasnya bangku perpustakaan ini. Tapi harus bagaiman lagi, inilah kemauannya, tidak ingin melihat Jun Hee dan mendengarkan omelan dan cibiran dari mulut indah istrinya itu. Angin berhembus pelan membuat udara menjadi lebih begitu pula Jong In yang semakin erat mendekap tubuhnya. Hanya ada sweater yang ia bawa dan itupun sudah rumayan dijadikan selimut. Ia berharap dengan ini istrinya bisa merasakan kekhawatiran dan menunggunya dirumah jika perlu ia rela mendengarkan celotehan yang menyangkut ketidak pulangangannya malam ini.

 

***

 

Hujan deras mengguyur kota Seoul membuat hampir seluruh kegiatan berhenti. Keadaan kampus tampak begitu sepi hanya terdengar rintikan hujan yang beradu dengan suara setiap dosen yang tengah mengajar. Jong In laki-laki itu mempercepat jalannya menuju kelas. Pakaiannya terlihat sedikit basah begitu juga dengan keadaan rambutnya yang diyakini jika para gadis yang melihatnya akan meneteskan air liur mereka memandang Jong In kelaparan. Namun langkahnya terhenti didepan koridor seketika setelah melihat dua orang tengah bercumbu mesra tanpa memperdulikan keadaan sekitar. Rahang Jong In mengeras, tangannya mengepal tidak lupa tatapannya yang kian hampir tenggelam dengan genangan air yang berada dipelupuk matanya.

 

‘ Byun Bekhyun inikah permainanmu? Mencumbu Jun Hee dibelakangku. Lihat saja wanita yang tengah kau cumbu sebentar lagi akan menjadi milikku selamanya. Tunggu aku Park Jun He’

 

TBC

 

 

Hai..hai…I’m back. Masih ingatkah dengan author Park, itu yang selalu bawa ff luhan yang Baby and My Pretty Husband. Maaf jika ff itu tidak dilanjut lagi soalnya saya tidak bisa ngepost dengan jarak dekat. Mulai sekarang saya hanya akan ngepost ff oneshot disini. Tapi jika ingin membaca kelanjutan ff luhan langsung saja berkunjung keblog pribadi saya tiyanadwi98.wordpress.com. oh ya jika ada yang meminta kelanjutan dari ff ini langsung saja ke blog pribadi soalnya saya tidak akan ngepost disini dikarenakan konten didalam cerita ini yang bergenre dewasa dengan kata lain saya mem-password ff kelanjutan ini. Semoga menikmati ceritanya. Saya tunggu kedatangan kalian diblog pribadi saya. Pay…..

 

 

 

 

Iklan

67 pemikiran pada “My Husband

  1. wow….daebak…critanya mnrik thor…aku suka apa lgi castnya bias aku semua…kai sma baekhyun cman aku bingun sama krakter mreka…ga tau yg mna yg jahat…soalnya liat dri chap ini keduanya pda nyakitin junhue…blum pasti sma sibaekhyun…
    jdi pnsran sma next chapnya…lanjut thor.. 🙂

  2. Weih…. jonhin sama jun hae malu malu masihan . So sweet…
    Ini masih ama nextnya…?? Kirain oneshoot.. pengen tau kelanjutannya… daebak thor ffnya.. daebak bikin penasaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s