The Red Tear Gun And The Doll’s Eye (Chapter 5)

The Red Tear Gun And The Doll’s Eye (Chapter 5)

 

Title: The Red Tear Gun And The Doll’s Eye (Chapter 5)

Author: tigeryongguk

Co-author: rapperdobi

Genre: Angst, Fantasy, Romance, School-life

Rating: PG-17

Length: Multichapter

Cast: Kai, Mina, EXO’s members etc.

A/N : Untuk readers yang merasa bingung kenapa Mina dan Kai tidak kenal satu sama lain author akan memberitahu kalian jika mereka terpisah selama 11 tahun. Kai memakai semacam kulit palsu untuk menutupi bekas lukanya dan Mina menyembunyikan mata bonekanya. Semenjak tragedi itu, mereka tidak pernah bertemu satu sama lain dan BEBERAPA kenangan mereka tentang satu sama lain hilang. OLEH KARENA ITU, mereka tidak bisa mengenali itu Kai atau itu Mina hanya melihat wajah dengan kulit palsu ataupun penutup mata. Author tidak terlalu berharap mendapat banyak comment lebih dari perkiraan author (author kira tidak ada yang tertarik dengan chapter 1 dan hanya dapat mungkin 5 comment) tapi, melihat comment kalian semua membuat author merasa senang untuk menulis lagi dan tolong berikan beberapa saran tentang author melakukan beberapa kesalahan atau apa yang kalian mau di cerita kelanjutannya nanti, jadi author bisa menulis lebih baik. Author sempat beberapa kali mengalami author block. Well that’s all, thanks for reading and commenting.

***

“Lay? Ada yang salah?” Baekhyun bertanya kepada laki-laki disebelahnya yang tetap melihat ke arah gadis di seberang nya.

“Tidak. Hanya melamun.” Lay menggelengkan kepalanya dan tersenyum kepada sahabatnya.

Well, okay.” Kai mengangkat bahunya dan mulai melahap makan siangnya lagi.

Lay melihat kepada gadis yang tadi dia lihat. Gadis itu melihat balik ke arahnya dari tempat dia duduk dan memberinya senyuman. Lay hanya diam menganggukan kepalanya dan kembali mengobrol dengan sahabat-sahabatnya.

 

Flashback On

 

“Sampai jumpa!” Lay melambai kepada sahabat-sahabatnya dari mobil sport merahnya. Dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas batas yang diperbolehkan. Sampai tiba-tiba mobilnya diberhentikan oleh seorang petugas. Dia mengumpat pelan.

“Maaf, Tuan. Tolong tiup ini.” Dia dibawa jauh dari mobilnya dan diberitahu untuk meniup breathalyzer.

“Aku akan dihukum mati.”

Dia dengan pasra meniup breathalyzer sialan itu.

“Maaf Tuan, tapi aku harus menghubungi keluargamu, karena kandungan alkohol dalam darahmu sudah lewat dari batas.” Petugas itu mengambil handphonenya dari sakunya dan melihat ke kontak handphonenya.

“Tuan, maaf menganggu tapi anakmu tadi mengemudikan mobil di tengah malam dengan kondisi mabuk.”

Lay tahu apa yang akan terjadi setelah Ayahnya mendapat telepon dari petugas itu. Dan dia tidak siap.

30 menit sudah berlalu dan Lay sedang duduk di dalam mobil polisi sendirian dengan mata pasrah.

“Tuan, Ayahmu sudah datang.”

“Terima kasih, Petugas.” Ayahnya membungkukan badannya kepada petugas dan membawa Lay ke mobilnya.

“Apa yang kau pikirkan, Zhang Yixing?!” Setelah mobil itu menjauh Ayahnya mulai berteriak pada Lay tanpa ampun.

“Apa kau mau mempermalukan Ayahmu?” Mr. Zhang memukul tangannya pada kemudi.

“Kau anak yang tidak tahu terima kasih! Apa yang akan dikatakan Ibumu soal ini?!” Ayahnya segera memutar dan berhenti di jalan kecil.

“Jangan pulang kerumah sampai polisi menghubungimu untuk mengembalikan mobilmu dan SIM mu kembali.” Ayahnya membuka pintu mobil dan mendorong Lay keluar ke trotoar dan melempar handphone dan kunci mobilnya. Lalu segera mengunci mobil dan pergi meninggalkan anaknya sendirian di trotoar.

“Ayah!” Lay berteriak ke arah mobil yang perlahan menghilang dari pandangannya. Dia melihat handphonenya dengan wajah putus asa. Handphone menyebalkan itu habis baterai. Dia menyimpannya di sakunya juga kunci mobilnya. Dia melihat ke sekitar jalan dimana dia berada, dan menyeringai. “Aku beruntung.”

Dia mulai berjalan menyusuri trotoar dengan banyak orang melihat ke arahnya dengan tatapan khawatir dan bingung. Setelah beberapa memutar akhirnya dia sampai di gerbang yang besar. Penjaga melihat dia dan segera membuka gerbang untuknya dan seorang penjaga lainnya mengantarnya ke pintu utama mansion. Petugas itu mengetuk beberapa kali, dan seorang maid tua membuka pintunya.

“Panggil nona muda.”

Petugas itu menyuruh maid tua itu setelah membantu Lay duduk di sofa. Maid itu menganggukan kepalanya dan berjalan ke lantai atas ke kamar nona muda. Seorang maid yang lebih muda membungkukan badan padanya dengan segelas teh di tangannya.

“Silahkan diminum, Tuan.”

“Lay!” Nona muda yang tadi dipanggil adalah Mina. Dia sedang memakai gaun tidur berwarna pinknya tanpa penutup matanya.

“Ada apa?” Mina duduk disebelahnya dan melihat ke arah wajahnya yang penuh dengan bekas pukulan.

“Masalah keluarga. Diusir sampai Tuhan yang tahu kapan.” katanya lalu menyeruput tehnya.

Maid yang lain membawa alat pertolongan pertama dan Mina berterima kasih padanya. Dia membersihkan wajah Lay yang penuh bekas pukulan, sebelum menghela nafas.

“Butler Jang, tolong siapkan mobil dan Ms. Cha tolong kemasi barang-barangku, aku akan tinggal di apartemenku.” kata Mina melihat ke 2 orang pelayan yang tadi berdiri di belakang mereka.

“Butler Kim, tolong belikan Mr. Zhang baju dan seragam, terima kasih.”

 

Flashback Off

 

***

 

“Hey, dimana Luhan?” Xiumin bertanya tiba-tiba, membuat Lay membuyarkan pikirannya.

“Sebenarnya dia tidak pergi ke sekolah.” kata Kris sambil tetap melahap makan siangnya.

“Apa dia sudah menyelesaikan masalah itu dengan Yunmi?” Chen bertanya padanya.

“Yeah, dia meneleponku pagi ini. Dia bilang dia akan mengantar dan menjemput Yunmi ke sekolah, dan mereka akan pergi berkencan.”

“Alasan apa yang kau buat untuknya kepada guru di piket?” Suho bertanya padanya dengan mata elang. Dia hanya tidak bisa membiarkan siapapun membolos sekolah hanya karena pacar mereka. Walaupun itu sahabatnya sendiri.

“Sakit.” kata Kris datar.

“Hey, Junmyeon! Tebak Luhan membolos sekolah lagi huh? Wow, sebuah keberuntungan bisa berteman denganmu.” Seorang laki-laki dengan bola basket di tangannya mencibir padanya. Suho hanya menghiraukan dia dan D.O mencoba menenangkan Suho.

“Jangan khawatir. Aku bilang padanya ini terakhir kalinya aku membiarkan dia bolos.” kata Kris lagi, melempar kotak susunya ke tempat sampah.

Fine.” kata Suho menyerah ke ketua dewan kedisiplinan siswa itu.

“Maafkan aku ketua. Tapi aku membutuhkanmu membantu dewan kesiswaan untuk hari pemilihan.” seorang gadis dengan kacamata besar dan rambut hitam dikuncir kuda berjalan ke arah Suho. Suho menganggukan kepalanya sopan dan mengikuti gadis itu.

“Terima kasih Sekretaris Kamika. Ayo pergi.”

 

“Haruskah kita pergi ke kelas?”

 

***

 

Lay sedang berjalan kebawah di koridor sekolah bersama sahabat-sahabatnya. Saat mereka sampai di pintu utama sekolah sebuah tangan halus melempar kunci mobil ke dadanya.

“Apa kau benar-benar harus melakukan itu?” Lay mengambil kunci mobilnya dan mengelus dadanya yang terasa sakit.

Gadis yang melakukan itu, yaitu Mina hanya mengangkat bahunya sebelum kembali ke posisi semula dan bergumam.

“Kemudikan saja.” Sahabat-sahabat Lay melihat mereka berdua dengan tatapan bingung.

What the hell…..

“Aku pergi duluan, bye.” Lay pamit dan berjalan bersama Mina disebelahnya ke arah mobil Lamborghini baru. Sepuluh dari mereka hanya melihat Lay dan Mina masuk ke dalam mobil mahal Lamborghini dengan mulut menganga.

“Apa dia berkencan dengannya…?” Chen bergumam. Matanya tetap menatap mobil yang mulai menjauh.

“Tidak, tapi tetap saja….” Kris yang kembali ke semua diikuti kesembilan orang lainnya.

“Ayo pulang ke rumah.”

 

***

 

“Belum memberitahu teman-temanmu?” Mereka sedang diam di lampu merah. Mina melihat ke arah laki-laki tampan disebelahnya.

“Mereka akan tahu nanti.” Lay hanya menghela nafas, tangan kanannya memegang setir sedangkan tangan kirinya diistirahatkan di pangkuannya.

“Aku tidak mengingat apapun.” kata Mina lagi, mengambil coke dari icebox mobil.

“Maaf?” Lay melihat ke arahnya dengan wajah bingung.

“Aku tidak mengingat wajahnya, orang tuanya, rumahnya. Aku tidak bisa. Tapi aku tahu foto di bingkai yang aku curi dari ruang keluargaku itu dia. Aku tahu bahwa aku pernah mencintainya.” kata Mina lagi. Dia mengeluarkan sebuah bingkai tua dari dashboard mobil. Mina memberikan itu pada Lay. Lay memperhatikan laki-laki disebelah Mina kecil.

“Kacanya retak. Aku tidak bisa lihat dengan jelas.” kata Lay lagi, memberikan kembali bingkai itu pada Mina dan kembali menyetir ketika lampu kuning menyala.

“Jika saja… itu tidak retak… aku bisa mengenali dia.” kata Mina sedih, mengelus bagian yang retak yang menutupi foto itu.

“Keluarkan saja foto itu dari bingkainya.”

“Ini disegel dengan mantra.” Lay melihat kearahnya tidak percaya.

“Keluargamu memiliki hubungan dengan penyihir.” katanya lagi.

Tanpa bertanya, lebih seperti pernyataan. Dia tidak percaya di abad ke-21 ini masih ada orang yang mempelajari ilmu sihir.

“Tante ku adalah salah satunya.” kata Mina lagi, menaruh kembali bingkai itu ke dashboard.

“Apa yang kau ingat dari masa lalumu?” Lay sedikit melihat kearahnya sebelum fokus kembali ke jalan.

“Aku tertembak, saat aku berumur 7 tahun. Dan tiba-tiba, aku mendapatkan mata ini dan tidak ingat tentang dia. Lalu dikirim ke Kanada dengan 7 pengawal laki-laki yang menjadi tangan kanan Ayahku.”

Complicated.” Lay mengatakan satu kata yang mendeskripsikan hidup Mina.

Mina hanya menganggukan kepalanya. “Kurang lebih seperti itu.”

 

***

 

“Kai.” Ayahnya menyapa dia saat laki-laki itu sampai di rumah mereka.

“Kau pulang lebih cepat.” Kai membalas Ayahnya. Dia merasa tidak ingin berbicara dengan Ayahnya. “Aku akan ke kamarku.”

“Kai.. jika suatu hari kau bertemu dengan Mina lagi… Apa yang akan kau lakukan?” Ayahnya bertanya padanya berhati-hati tidak cukup kuat untuk melihat lurus ke mata anaknya.

“Aku tidak akan membiarkan dia pergi. Dan aku akan bertemu dengannya.” Kai menjawab Ayahnya.

Ayahnya diam-diam menghela nafas dan berkata lagi. “Bagaimana jika.. aku tidak mengizinkanmu untuk mencintai dia?”

Hening mengisi udara. Tubuh Kai menegang dan matanya menjadi sedingin es.

“Maka kau adalah musuhku.” kata Kai, sebelum meninggalkan Ayahnya di belakangnya sebelum berjalan ke kamarnya.

Dia melempar tas nya ke sisi kamar sebelum menyenderkan punggungnya ke matras yang empuk. Dia memperhatikan langit-langit kamar yang penuh dengan dekorasi glow in the dark. Bintang, roket, bulan mengisi langit-langit kamarnya.

“Aku berharap dia ada disini.” dia mengangkat tangan kirinya untuk menutupi matanya. Mencegah dirinya meratap seperti bayi yang sedang mencari ibunya.

“Aggh!” sebuah rasa sakit yang besar di punggungnya tiba-tiba muncul dan dia mencengkram punggungnya erat mencoba meringankan rasa sakitnya. Kai mencoba untuk mengambil pil di mejanya. Dia membuka tutup botolnya dan menuangkan dua pil ke telapak tangannya sebelum menelannya. Dia sedikit menahannya, sampai rasa sakit itu mereda sedikit demi sedikit.

“Apa yang terjadi padaku?” dia bertanya.

Hurts like a bitch.” dia menurunkan sikunya dan melakukan beberapa peregangan. Handphonenya tiba-tiba berbunyi, telepon dari Park Chanyeol.

“Hey, waddup?” sebuah suara memanggil dia tepat setelah dia menekan tombol hijau.

“Seharusnya aku yang mengatakan itu, idiot. Kenapa kau meneleponku?” kata Kai lagi, mengelus bahunya yang sakit sebelum berjalan ke kamar mandinya.

“Sudah mendapat pasangan?” Kai dapat merasakan Chanyeol menyeringai di seberang telepon dan mencoba untuh menahan tawanya.

Nah, who cares. Gadis-gadis itu melemparkan diri mereka padaku.” Kai berhenti di depan cermin dan melihat ke pantulan dirinya.

Dia melepas dasinya dan perlahan membuka kancing kemejanya dengan satu tangan, dan tangan satunya memegang handphonenya di tangannya.

“Benar juga. Asal kau tahu, Kris berhasil mengajak Min Yoora pergi ke pesta. 50.000 ₩ untukku nanti.”

Oh shit, dia berhasil mengajak the badass princess di sekolah kita?” Kai bertanya padanya semangat, meskipun menjadi sedih karena kalah taruhan.

“Rumor mengatakan mereka menyukai satu sama lain meskipun menjadi kucing dan anjing di antara pemberontak sekolah dan ketua dewan kedisiplinan siswa.” Chanyeol menyeletuk.

“Baiklah, sampai jumpa nanti malam.” Kai memutus telepon tanpa ingin mendengan balasan Chanyeol. Dia melihat ke arah tubuh bagian atasnya. Tidak ada abs, tidak berotot, hanya biasa saja. Dia keluar dari kamar mandinya dan mengambil kemeja putih polos dari lemarinya. Dia duduk di sisi tempat tidurnya dan mengambil teleponnya di meja dan menekan intercom yang terhubung dengan koridor maid dan butler.

“Kepala maid Kim, bisakah kau meminta Aya untuk menyiapkan jas ku? Terima kasih.”

 

***

 

“Apa aku benar-benar harus mengenakan ini?” Mina melihat ke pantulan dirinya di kaca dengan Lay duduk di belakang dirinya.

“Hitam terlihat bagus untukmu.” kata Lay sambil mengunyah makanannya di mulutnya. Dia memegang topeng hitam Mina dengan dekorasi gemerlap.

Masquerade party, ingat?”

“Bagaimana aku bisa lupa.” Mina tertawa kecil dan mengambilnya dari tangan Lay. Lay berdiri dari tempat tidur Mina dan mengambil kunci mobil di mejanya.

“Ayo pergi.” Dia memegang tangan Mina dan berjalan melalui pintu apartemen.

Saat mereka sudah di dalam mobil, Lay mulai mengendari mobil dengan cepat sebelum keluar dari basement.

Calm down, big boy. Kau tidak memegang surat izinmu.” Mina memegang erat pada sabuk pengaman dan Lay hanya tertawa kecil.

“Relax, aku tidak akan membunuhmu….. mungkin.” Mina melihat ke arahnya dengan tajam dan Lay dengan tenang menaikan kecepatan membuat panah di speedometer berputar ke kanan dengan cepat.

“Apa kau gila?! Kau menyetir diatas 100km/jam!” Mina berteriak padanya dan Lay dengan tenang menekan gas lebih cepat.

“Kau mati, Lay.”

 

>>>Skip time

 

“Hi, Kai.” seorang gadis dengan gaun merah wine menyelimuti tubuhnya menyapa dia dengan senyuman menghiasi wajahnya saat dia melewatinya. Kai menyapanya dengan satu tangan memegang gelas wine.

“Kuberitahu, gadis-gadis memberikan diri mereka sendiri padaku.” Kai berbisik dan mengerling nakal pada Chanyeol yang baru saja mengejeknya dengan tangan Minsu berada di tangan kirinya.

Brat.” Minsu berbisik pada dirinya sendiri, namun sayangnya Kai bisa mendengarnya.

Shut up, Park ‘Short’ Minsu.” Kai mengejek dia. Minsu mengepalkan tangannya di udara sampai Chanyeol menurunkan tangannya.

“Itu Luhan.” kata Kris, melihat ke arah laki-laki dengan rambut berwarna hazel sedang tertawa kecil dengan gadis di sebelahnya.

“Yunmi!” Minsu melambaikan tangannya semangat kepada gadis di sebelah Luhan, gadis yang dipanggil Yunmi memalingkan kepalanya ke gadis lain yang memanggilnya.

My gosh, Minsu.” dia meninggalkan Luhan dibelakangnya dan berlari ke arah gadis yang lebih pendek darinya dan memberinya pelukan yang meremukan tulang.

“Sepertinya semua sudah disini.” kata Luhan saat dia sampai di dekat sahabat-sahabatnya.

“Tidak semuanya.” Suho berkata padanya, dia melihat Luhan dengan mata elangnya.

“Hey, maaf karena membolos sekolah.” Luhan yang melihat mata elang Suho hanya menyeletuk dan menepuk punggung Suho.

“Tapi.. pestanya sudah akan dimulai.” Tao bergumam pada mereka, dia menepuk tepi gelas anggur ke dagunya.

Kris hanya mengangkat bahunya dan berkata, “Dia akan sampai nanti.”

Sementara, di halaman parkir Lay dan Mina baru mendapat tempat untuk memarkirkan mobilnya. Lay menghela nafasnya dan melepas sabuknya.

“Apa yang kau lakukan?” Lay bertanya terkejut.

Mina hanya menggumam padanya sebelum membiarkan penutup matanya jatuh. Saat penutup matanya jatuh ke pangkuannya, Lay melihat gadis di belakangnya. Mata coklatnya terbuka s lebar dan kelopak matanya yang indah dengan eyeliner yang dia pakai tetapi, mata nya yang lain tetap tertutup. Mina dengan nyaman memakai eyeliner di mata satunya tanpa melihat sekilas ke arah Lay yang sedang terkejut. Mina mengedipkan matanya beberapa kali sebelum membuka mata satunya yang tertutup. Lay merasa terintimidasi oleh mata kristal biru dibelakangnya.

Doll’s eye.” Lay akhirnya berbicara setelah lama terkejut. Mina hanya melihat ke arahnya dan meletakan jari telunjuknya di mulutnya membuat gerakan ‘jangan katakan siapapun’, dan Lay hanya mengangguk. Mereka memakai topeng mereka dan berjalan beriringan di aula yang ramai.

(original painted by starfire143)

“Malam ini, aku bukan si eye-patch heiress sekolah, okay?” Mina berkata pelan ke Lay dan dia mengeratkan pegangannya saat mereka berjalan melalui kerumunan siswa.

“Lay!” Chen berteriak semangat dari tempat berlabelkan meja VVIP, Lay bisa melihat jelas kalau tadi adalah Chen dari suaranya meskipun dia sedang memakai topeng merah wine, dan sama seperti Lay, Chen bisa mengenali Lay dengan segera dari dimples yang dia perlihatkan kepada semua orang.

“Kalian datang lebih cepat.” Lay berkata kepada semua orang yang ada di meja setelah keduanya duduk di samping satu sama lain.

“Dimana Heiress? Kenapa kau membawa orang lain?” kata Luhan dengan satu tangannya berada di bahu Yunmi. Lay hanya tertawa canggung sebelum menjawab,

“Oh.. Dia tiba-tiba sibuk jadi aku membawa seseorang dengan nama yang sama dengannya. Kita baru bertemu.”

“Hello, namaku Jeon Mina. Senang bertemu dengan kalian semua.” Mina membungkuk pada mereka.

Kai sangat terkejut padanya, dan menatap intens padanya. Dia memiliki satu mata yang tertutup rapat, tetapi mata satunya terbuka lebar.

“Senang bertemu denganmu! Kuharap kau memiliki malam yang indah di Seoul International Academy.” Suho menjawab dia sopan dengan senyuman manis di wajahnya.

Mina hanya menganggukan kepalanya, dan mulai berbicara dengan kelompok itu. MC pesta malam ini naik dan berteriak sehingga semua murid di melihat ke arahnya berdiri di atas panggung.

“Tanpa basa-basi lagi, silahkan naik keatas kepada ketua dewan murid siswa, Suho!” Dengan itu, Suho perlahan berdiri dari duduknya dan berjalan ke panggung dengan suara orang bersorak, bersiul, menjerit dan bertepuk tangan untuknya.

Pesta berjalan hingga tengah malam dan hingga kini, namun tidak seorang pun siswa merasa bosan dan sudah pulang. Mereka masih menikmati waktu malam mereka. Member EXO sudah hilang dari meja VVIP mereka dan berdansa dengan gadis yang berbeda-beda kecuali Chanyeol dan Luhan tentu saja, because they don’t wanna to get their ass burned down by they’re ‘innocent’ soon-to-be-wife.

“Sendirian, Ms. Jeon?” Kai berjalan ke arah Mina yang sedang bersandar ke tembok di sudut aula. Dia menggigit bibirnya dan terkekeh dengan sexy.

“Aku terkejut kau mengingat namaku Mister.” Mina menatap ke arahnya dengan mata mengintimidasi. Kai menjilat bibirnya dan satu tangannya terentang ke arahnya.

Care for a dance?” Kata Kai dengan nada sexy.

Gosh, Mina just wants to bring him to her bed right now. Bahkan sexy bukan kata yang tepat untuk mendeskripsikan dia. Dia lebih dari sexy.

It’ll be my pleasure.

Pesta berjalan lambat, karena ini adalah musik waltz dance yang diputar oleh DJ. Tangan kiri Kai bertautan dengan tangan kanan Mina, tangan kiri Mina berada di bahu Kai dan tangan kanan Kai melingkar di sekitar pinggang Mina. Tubuh bersentuhan di setiap gerakan yang mereka buat.. Tanpa disadari Mina menggigit bibirnya sendiri saat melihat ke arah wajah tampan Kai. Kai hanya menyeletuk melihat Mina dengan seduktif.

Stop biting that luscious lips.” Mina mengangkat satu alisnya dan melihat ke arah Kai sambil tetap menggigit bibirnya.

Why?” tanyanya, tidak lupa nada seduktif di suaranya. Kai mendekatkan dirinya hingga bibirnya menyentuh daun telinga Mina.

“Itu terlalu menggoda bagiku untuk menahannya.” kata Kai, terlalu seduktif bagi mereka untuk menahannya.

“Bagaimana jika kau membuka mata itu untukku?”

Mina membentuk bibirnya menjadi seringai, dia menaruh dagunya di bahu Kai sebelum bibirnya berjarak satu sentimeter dari telinganya.

“Kau yakin? Ini akan mengintimidasi.” kata Mina, perasaan telah mengambil alih akal nya.

Kai tersenyum dan berbisik ‘Ya.”. Mina sedikit mundur kebelakang, membuat Kai dapat melihat wajahnya. Dia membuka matanya perlahan-lahan, hingga itu terbuka sepenuhnya. Kai terkejut. Dia terdiam dan tubuhnya tidak bisa bergerak.

“Tidak. Ini tidak bisa. D-dia Mina. Mina ku.” pikirnya.

Jari indah Kai perlahan menuju ke arah wajahnya dan menarik sesuatu dari kulitnya yang tepat berada di bawah matanya. Sebuah bekas luka, bekas luka gores. Kain plastik tipis itu jatuh ke lantai membuat bekas luka itu terlihat semakin jelas. Mereka merasa seperti dunia berhenti berputar. Tubuh Mina terdiam untuk melihat bekas luka yang familiar di wajah Kai.

“Itu….. bekas luka Kai.. aku ingat..” pikirnya.

(original painted by starfire143)

“Mina?” Kai berbisik. Mina tetap terlihat terkejut hingga dia tiba-tiba memutar tubuhnya dan mencoba berlari dari tempatnya. Dia melihat Lay sedang meminum wine nya di dekat pintu masuk utama. Dia segera berlari saat dia mendengar sebuah langkah kaki segera mengikutinya.

“Lay! Aku ingin pulang! Cepat! Sekarang!” Mina mearik tangan Lay hingga Lay menjatuhkan gelas wine ke lantai membuatnya menjadi potongan-potongan kaca kecil.

“Apa yang terjadi?!” Lay segera mengikutinya ke mobil yang mereka parkirkan di halaman parkir.

Mina tidak menjawab, hanya panik mencoba untuk masuk ke mobil. Saat Lay akhirnya masuk ke mobil dia segera mengemudikan mobilnya, dia melihat ke arah kaca spion sampai sebuah pantulan laki-laki dengan topeng silver dan jas putih berlari dengan cepat menuju ke arah mereka. Lay tidak peduli tentang laki-laki itu, dia hanya peduli tentang Mina di sebelahnya dengan tubuh gemetar. Dia pergi dari halaman parkir sekolah dengan sekejap.

 

“MINA, JANGAN TINGGALKAN AKU LAGI!”

 

Flashback On

 

“Mina! Kai! Lari!” Hoseok berteriak ke arah anak-anak yang sedang saling memegang tangan satu sama lain dan terdiam ketakutan. Saat mereka mendengar perintah Ayah Mina, mereka segera berlari ke tempat yang aman. Suara tembakan peluru terdengar begitu jelas di telinga semua orang. Peluru Rusia mendekati mereka, itu menuju ke arah punggung Kai. Namun, tiba-tiba Kai jatuh pada lututnya karena tersandung batu. Peluru itu menggores kulit di bawah matanya. Sedikit dalam untuk luka normal. Karena tiba-tiba terjatuh, Mina memutar badannya untuk melihat Kai namun peluru itu mengenai matanya.

“IBU INI SAKIT!” gadis kecil itu jatuh kesakitan dan tetap mencengkram matanya yang terdapat peluru di dalamnya.

Dia menangis sangat keras karena tidak bisa menahan rasa sakit yang dia rasakan di umur yang masih muda. Kai terdiam di tempatnya. Dia melihat semuanya, bagaimana peluru itu tidak mengenainya dan bagaimana peluru itu mengenai mata Mina.

“Mina…. Tidak Mina…..”

Yoongi yang melihat kejadian itu dari dalam rumah, merasa marah dan mematahkan rahang orang yang ‘menodong pistol di pelipisnya’ dan menaruh jari telunjuknya di pelatuk pistol sebelum menarik orang itu keatas dan menembaknya lalu Hoseok menangkapnya. Yoongi dan Hoseok menembak dan membunuh orang-orang yang mengelilingi mereka dan Hoseok segera menelepon Kim Myungkook.

“Myungkook, Mansion Keluarga Byun sekarang! Keadaan darurat! Anakku!” katanya, panik. Ibu Kai segera menggendong Kai. Dia membawa Kai di tangannya dan berlari menuju ruangan yang aman di mansion mereka.

“MINA!” Kai berteriak melihat ke arah gadis kecil yang dibawa pergi oleh beberapa orang tidak dikenal yang tentu saja merupakan Keluarga Jeon dan membawanya pergi darinya.

 

“MINA! JANGAN TINGGALKAN AKU!”

 

Flashback Off

 

Mina mencengkram mata birunya dan mencoba sangat keras membuang kesakitan dan air mata yang terus datang padanya. Sekarang, dia mempunyai Lay di sampingnya, menenangkan dan memeluknya di tempat tidurnya dengan ekspresi bingung.

“Hey.. Bisakah kau beritahu aku sekarang? Apa kau sudah tenang?” kata Lay, tangannya bergerak ke atas dan kebawah di lengan Mina untuk menenangkannya.

“K-Kupikir.. Aku bertemu dengan Kai ku.. Lay dia tadi ada disana..”

“Apa? Bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya, tidak mungkin Kai yang dia maksud adalah sahabatnya sendiri selama ini.

“D-Dia punya bekas luka yang sama.. Tapi aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena topeng yang dia pakai.” Oh, itu berarti bukan sahabat Lay, karena Kai tidak punya bekas luka sedikitpun.

“Dimana bekas lukanya?” tanya Lay melihat ke arah Mina, well dia bisa ke Suho dan mengecek foto profile siswa tahun ketiga dan boom, Mina bertemu dengan Kai nya lagi.

“Di bawah matanya.” jawab Mina. Dia berjalan ke pintu kamar mandinya dan berhenti tepat di depannya, mematikan lampu.

“Aku tidur duluan.” Mina berjalan kembali ke matras empuk dan segera tertidur menuju alam mimpi.

 

***

 

Kai berjalan ke lantai atas ke kamarnya, matanya bengkak dan merah. Dia menangin sepanjang malam dan pergi ke bar yang selalu dia kunjungi. Mabuk. Ini sudah tengah malam, dan besok dia akan sekolah. Meskipun mabuk, dia berhasil pulang tanpa polisi melihat seorang anak laki-laki berusia 18 tahun dan mengemudi di tengah malam dalam kondisi mabuk. Dia melempar jas nya dan melepas dasinya. Dia menjatuhkan diri ke tempat tidur sambil memegang bingkai foto tua yang berdebu, Di foto itu, dua orang anak kecil, laki-laki dan perempuan, berpegangan tangan sambil tersenyum senang. Kai marah setelah membiarkan Mina pergi dari genggamannya, lagi.

“Tidak lagi..” Dia menghela nafas dan mengacak rambutnya sebelum masuk ke dalam selimut yang hangat dan tertidur.

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

10 pemikiran pada “The Red Tear Gun And The Doll’s Eye (Chapter 5)

  1. apa aku yang pertama? yeyy
    maap ya thor aku baru coment disini tp aku emng baru baca chap ini jadi aku gk ngerti ‘-‘ hehehe tp yang penting hwaiting hawaiting hwaiting next and keep writing ♥♥♥

    p.s:aku seneng bngt sm ff ini

  2. maap coment lagi aku maunya kai dan mina bersatu lagi tp tetep ada konfliknya trs thor aku mau nanya kai kok bisa ada red tear gun di dlm tubuhnya bagaimana bisa? trs red tear gun itu apa? hehe

  3. kerenn… Teryata Mina udah inget waktu kejadian penembakan itu… Kai selama ini memakai kulit palsu di mukanya? Dan kai punya luka dibawah matanya??? Kegunaan red tear gun nya Kai apa?? Next thor…

  4. Jadi mereka udh ketemu atau apa? ._.
    Itu asli Kai atau ada org lain?
    Serius aku bingung thor ._.
    Tapi ceritanya seru kok
    Next thor

  5. Akhir nya mereka bertemu juga.. kasihan juga yya masalalu mereka.. terus kenapa mina malah pergi ninggalin kai.. bukan nya mina pengen ketemu kau.. KEPO!! >_< Next chapter thor 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s