Ugly (Chapter 6)

Ugly (Chapter 6)

Title       : Ugly (Chapter 6)

Author  : Annabeth

Genre   : School life, Fluff, Romance, Trainee life

Length  : Chaptered

Rating   : PG-13

Cast       : Han Ahreum (OC), Kim Jongin (EXO), and others

 

***

 

(Author POV)

Ahreum menyusuri koridor lantai 3 SM Building yang sepi. Tentulah sepi, sekarang jam setengah lima pagi. Menjalani rutinitasnya setiap hari, Ahreum berlatih sendirian entah itu berlatih dance atau berlatih vokal.

Karena kemarin dia sudah berlatih dance, kali ini Ahreum memilih untuk berlatih vokal saja. Dia pun memasuki ruang musik 2. Dia pun menyalakan lampu lalu berjalan menuju ke lemari tempat penyimpanan alat-alat musik dan mengambil gitar.

Ahreum memetik satu-persatu senar gitar untuk mengetes apakah suara gitarnya sudah pas atau belum. Setelah dibenarkan sedikit, suara gitar sudah lebih bagus. Ahreum pun bernyanyi lagu kesukaannya.

“One two three neon nareul tteonatjiman… Eodingaeseo neoui sumsoriga deullyeowa

Tto dasi four five six ppalgan nunmuri naeryeowa… Nareul andeon neoui hyanggiga geuripda

 

Nareul wihan geora haetdeon neoui mal, geojitmalcheoreom chagapge doraseotdeon
Neoneun wae, neoneun wae, you’r
e gone away…”

 

 

***

 

Ding ding dong… Ding ding dong…

 

Jongin menggeliat sedikit. Dia pun membalikkan badannya untuk mencari posisi tidur yang nyaman. Kini tidurnya menghadap ke sebelah kanan.

 

Ding ding dong… Ding ding dong…

 

Jongin menyadari kalau ada yang berbunyi. Lantas dia membuka matanya dan mencari-cari sumber suara tersebut. Ternyata suaranya berasal dari ponselnya yang terletak di sebelah ranjangnya. Jongin pun mengambil benda yang membuat bising itu lalu menatap layar hpnya yang menunjukkan: ‘Alarm – 04.30’.

Rupaya hanya alarm yang berbunyi. Merasa terganggu tidurnya, Jongin pun mematikan alarm tersebut dan kembali tidur.

 

 

Baru sekitar 6 detik Jongin memejamkan matanya, Jongin tersadar. Dia mendudukkan dirinya dan dia baru ingat akan sesuatu.

Jongin bangkit dari tempat tidurnya lalu ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Sekarang dia merasa lebih segar.

Setelah sudah siap dengan membawa handphone dan juga botol minum untuk berlatih dance nanti, Jongin pun keluar dari kamarnya dan pergi menuju ke tempat tujuannya, SM Building.

 

***

 

Jongin pun menaiki tangga ke lantai tiga dan menuju ke ruang dance 2. Karena ruangan tersebut masih gelap, maka Jongin beralih ke ruang dance 1. Namun sama saja, keadaan di ruang dance 1 gelap gulita menandakan bahwa tak ada orang disana.

Dimana Ahreum? Bukankah dia setiap pagi selalu berlatih? Kenapa tidak ada?

Banyak pertanyaan yang kini menggantung di pikiran Jongin. Namun jawaban datang ketika Jongin tak sengaja melihat ruang musik 2 lampunya menyala.

Pasti Ahreum ada disana!

Benar saja, saat Jongin berada di depan pintu ruang musik 2, dia dapat melihat seorang yeoja tengah bernyanyi sambil bermain gitar. Siapa lagi yeoja itu kalau bukan Han Ahreum?

 

Come back home… Can you come back home?

Chagaun sesang kkeute nal beoriji malgo nae gyeoteuro…”

 

Mendengar suara Ahreum yang merdu itu, Jongin pun tersenyum. Suaranya Ahreum benar-benar menenangkan bagi Jongin.

 

Come back home… Can you come back home?

Modeun apeumeun dwiro hae, yeojeonhi neol gidaryeo ireoke
Now you gotta do what you gotta do”

 

Ketika Ahreum menyelesaikan reff dari lagu Come Back Home tersebut, Jongin membuka pintu ruangan tersebut dan masuk ke dalamnya.

“Cie, yang terbaik sedang berlatih, nih!”

Ahreum kaget, tentu kaget. Saat berbalik ke belakang, Jongin sudah berjalan mendekat ke arahnya. “Apaan, sih?! Kau kan juga yang terbaik!”

Jongin menanggapi ucapan Ahreum dengan tersenyum kecil sambil menarik kursi ke sebelah Ahreum lalu menduduki kursi itu.

“Ya, kau fans berat artis agensi lain, eoh?” Ucap Jongin setelah duduk.

“Ne?”

“Ini sudah kedua kalinya aku melihat kau menyanyikan lagu 2NE1. Apakah kau juga termasuk dalam Blackjack (Fansnya 2NE1)?”

“Ah, tidak. Aku bukan fans berat mereka, tapi aku menyukai beberapa lagu dari 2NE1.” Jawab Ahreum. “Lalu, kenapa kau berada disini?”

“Aku mencoba mengikuti ajaranmu kemarin. Ini baru hari pertamaku, jadi saat bangun tadi agak berat juga rasanya. Tapi benar apa katamu, badanku jadi lebih segar saat bangun tadi!”Kata Jongin.

“Yah, lama-lama kau akan terbiasa, kok. Kau tidak berlatih dance?” Ahreum bertanya.

“Karena kau disini, aku memutuskan untuk kesini juga. Kalau aku berlatih sendirian rasanya agak tidak efisien kalau kita memakai 2 ruangan secara berbarengan padahal penghuninya hanya seorang saja. Jadi sekarang lebih baik aku di sini saja, bersamamu.” Ada perasaan senang yang kini Ahreum rasakan saat mendengar Jongin berkata ‘bersamamu’.

“Oh, baiklah.” Jawab Ahreum singkat. Kalau Ahreum terlihat sangat antusias, bisa-bisa Jongin tahu kalau Ahreum senang sekali karena Jongin mau berlatih bersamanya.

“Tapi sebelumnya aku ingin mendengarmu menyanyi dulu. Coba kau nyanyikan satu lagu sambil bermain gitar.” Pinta Jongin pada Ahreum.

“Eh? Tapi… aku malu.” Ahreum menunduk.

“Ya, kau ini hanya menyanyi di depan satu orang saja, bagaimana nanti kalau kau debut nanti? Pasti akan banyak orang yang melihatmu! Kau tidak bisa terus menerus malu seperti ini, kan?”

Bukan itu masalahnya. Ahreum malu bukan karena banyak atau sedikitnya orang yang akan mendengarnya menyanyi, tapi dia malu karena Jongin! Jonginlah yang membuatnya merasa malu sekarang.

“Baiklah…” Ahreum menyerah dan memilih untuk bernyanyi saja.

Ahreum mempersiapkan posisi tangannya pada jejeran senar gitar. Setelah itu dia pun menyanyi lagu yang dipilihnya.

 

 

Haji mothan mari neomu manhayo, hanbeondo dangshineun deutji mothaetjiman…
Nae ape boyeojin nugungal amuna, saranghal geureon sarameun anieyo.”

 

[There are so many things I can’t say, you never hear it even once.
I’m not the type of person who loves just anyone i see.]

 

Ahreum memulai bait pertama lagu yang berjudul ‘Closer’ yang dipopulerkan oleh Taeyeon. Closer, artinya lebih dekat. Ya, Ahreum ingin bisa menjadi lebih dekat dengan Jongin.

 

Sesange geumaneun saramdeul soge, naegen ojig geudaega boyeojyeotgie…”

 

[Inside all those people in this world, i was only able to see you.]

 

Meski baru bait pertama, tapi Jongin sudah terlarut dalam lantunan lagu yang dinyanyikan oleh Ahreum. Jongin mungkin tidak menyadarinya, tapi lagu ini benar-benar Ahreum persembahkan untuknya.

 

Geudaeman bomyeo seoitneun geolyo… I sarang hooen nan jal moreugesseoyo.
Aju eorin aiga hangsang geureohadeushi… Jigeum I sungan ddaseuhi anajullaeyo.”

 

[I’m standing only looking at you. I don’t know about the future after our love
At this moment I’ll embrace you like a young child]

 

Lagu memang belum selesai, tapi dalam hatinya, Jongin bertepuk tangan. Jongin tersenyum kecil ketika melihat Ahreum yang menyanyi dengan sangat baik.

 

“Eonjenga natseo ireumi dweeodo, nae gaseumi geu chueoki da gieokhaltenikka.
Hogshirado apeun ibyeori ondaedo, oneureun geureon saenggakeun haji mayo.”

 

[Even if your name becomes unfamiliar someday, my heart will keep it as memory.
Even though a sad farewell is to come, don’t think about that today.]

 

Lagu ini benar-benar menggambarkan perasaan Ahreum. Dia akan tetap mengingat Jongin sampai kapan pun karena Jongin adalah cinta pertamanya. Ahreum tidak tahu apakah Jongin akan membalas perasaannya atau tidak, tapi… dia tidak mau memikirkan hal itu sekarang. Berada didekat Jongin saja Ahreum juga merasa senang.

 

“I sesang geumaneun saramdeul soge, naegen ojig geudaega boyeojyeotgie…”

 

[Among the many people in this world, i was only able to see you.]

 

Lewat lagu ini, Ahreum ingin menyampaikan perasaannya pada Jongin. Dia ingin Jongin tahu tentang perasaannya. Ahreum memang bukan siapa-siapa di sekolah, tapi… Tak bolehkah dia menyukai seorang Kim Jongin?

 

“Geudaeman bomyeo seoitneun geolyo… I sarang hooen nan jal moreugesseoyo
Aju eorin aiga hangsang geureohadeushi, deo gakkai deo ddaseuhi anajullaeyo….”

 

[I am standing only looking at you. I don’t know about the future after our love.
I will hug you closer with warmth like a young child…]

 

Jongin terkesiap dengan nada tinggi yang dibawakan dengan sempurna oleh Ahreum. Ahreum melakukannya tanpa ada cacat sedikitpun.

 

“Ije nan honjaga anin geojyo… Geu jarieseo, oneul, naege on geudaemani …”

 

[Now, i’m not alone. Today, you are the one who came to me at this place.]

 

Lirik dalam lagu tersebut tepat sekali dengan keadaan Ahreum saat ini. Sekarang Ahreum tidak lagi sendirian. Semua itu karena Jongin. Jongin adalah satu-satunya orang yang mau datang ke Ahreum disaat semua orang menjauhi Ahreum.

 

“Geudaeman naui jeonbuingeolyo… I sarang hooen nan jal moreugesseoyo
Aju eorinaiga hangsang geurohadeusi, deo gakkai deo ddaseuhi anajullaeyo…”

 

[You are my everything. I don’t know about the future after our love.
I will hug you closer with warmth like a young child.]

 

Ada suatu emosi yang dapat Jongin rasakan dalam nada Ahreum. Tapi, Ahreum bisa mengontrol emosi tersebut. Kebanyakan penyanyi tidak dapat mengontrol emosinya kalau menyanyikan lagu yang sedih, tetapi Ahreum benar-benar hebat.

 

“Deo gakkai, deo ddaseuhi… Anajullaeyo….”

 

[With closer and warmer, i will hug you…]

 

 

Pada bagian itu, ada suatu dorongan dalam diri Ahreum untuk menatap Jongin. Ternyata, Jongin sendiri juga sedang menatap Ahreum. Mereka pun saling bertatapan.

 

Ada perasaan gugup yang Jongin rasakan ketika Ahreum menyanyikan bagian terakhir lagu. Kata-kata tersebut seakan-akan terasa lebih dalam saat Ahreum balas menatapnya.

 

 

Agar tidak terlihat gugup, Jongin pun berbicara.

 

“Whoa!!! Daebakiya! Lagu itu kau selesaikan dengan sangat baik! Kau tak ada bedanya dari Taeyeon seonbaenim!” Ucap Jongin kagum.

“Eh? Gomawo.” Ahreum tersipu karena ucapan Jongin.

 

“Nah! Karena aku sudah bernyanyi, sekarang giliranmu! Aku ingin mendengar suaramu saat bernyanyi.” Merasa tak adil kalau hanya dirinya yang bernyanyi, Ahreum pun menyuruh Jongin untuk menyanyi.

“Ani, ani! Aku tidak bisa bernyanyi!” Tolak Jongin segera.

“Tak apa, nanti aku bantu.”

“Tapi…”

“Kau mau menyanyi lagu apa? Biar aku yang mengiringi dengan gitar.” Tak mempedulikan ucapan Jongin, Ahreum sudah bersiap-siap dengan gitarnya.

“Baiklah…” Jongin pasrah. “Eum… Kau tahu lagu yang judulnya ‘U’ tidak?” Tanya Jongin.

“Tahu. Lagunya Taemin Seonbaenim, kan?” Jawab Ahreum. Jongin pun mengangguk.

“Iya. Tapi bisakah aku menanyikan bagian reffnya saja?” Jongin menawar.

“Ya sudah, tak masalah.”

 

Ahreum pun mengiringi dengan gitarnya dan Jongin menyanyi hanya bagian reff nya saja.

“Naega neol wonhago itdan mallya, naega neol bureugo itdan mallya.
Nae soneul jaba, nae soneul jab-”

“Tidak, bukan begitu.” Ahreum berkata disela-sela nyanyian Jongin.

“Ne?” Jongin menghentikan nyanyiannya karena bingung dengan maksud Ahreum.

“Kau harus bernyanyi dengan perasaanmu. Seperti ini: Nae soneul jaba, nae soneul jaba… (Hold my hand, hold my hand)” Ahreum mempraktekkan nada yang benar. “Kau harus menyanyikannya seakan-akan kau sedang berkata: peganglah tanganku.”

Nae soneul jaba, nae soneul jaba…. Seperti itu?” Tanya Jongin.

“Lebih halus lagi.” Seru Ahreum.

“Nae soneul jaba, nae soneul jaba…” Jongin mengulang.

“Nah, benar. Coba kita ulang dari awal reff.” Ahreum berucap lalu memposisikan kembali jari-jarinya pada senar gitar.

 

“Naega neol wonhago itdan mallya, naega neol bureugo itdan mallya…
Nae soneul jaba, nae soneul jaba… Irheobeorilkka duryeopjanha….”

 

Jongin bernyanyi dengan benar, Ahreum pun mengangguk-angguk.

“Bagus, terus lanjutkan sampai reff habis.” Kata Ahreum sambil tetap bermain gitar.

“Naega neol wonhago itdan mallya, naega neol saranghandaneun mallya…
Neol hyanghan nae mam deutgo inni… Baraman bwado apeujanha……”

 

“Salah, salah!” Lagi-lagi Ahreum menyela nyanyian Jongin. “Apeujanha…. Seperti itu.” Lanjut Ahreum setelah mencontohkan.

 

“Apeujanha…” Jongin mengulang.

 

“Lebih tinggi lagi!”

 

“Apeujanha…” Ahreum menggeleng pelan.

 

“Coba kau duduk lebih tegak.” Jongin pun melaksanakan instruksi Ahreum dan menegakkan badannya. “Saat bernyanyi kita memang seharusnya dalam posisi tegak. Lalu untuk nada tinggi, kau bisa sedikit mengerutkan dahimu dan membawa suara itu ke kepalamu. Nah sekarang coba ulang.”

“Apeujanha…” Jongin kembali mengulang.

“Nah, lebih baik, kan?”

“Kau benar! Biasanya aku agak susah untuk menyanyikan nada tinggi.” Jongin sendiri tak menyangka kalau dia bisa menyanyikan nada tinggi.

“Nah, ulang lagi dari awal hingga akhir reff.” Jongin pun mengangguk lalu bersiap menyayikan kembali reff lagu.

 

“Naega neol wonhago itdan mallya, naega neol bureugo itdan mallya…
Nae soneul jaba, nae soneul jaba… Irheobeorilkka duryeopjanha…

 

Naega neol wonhago itdan mallya, naega neol saranghandaneun mallya…
Neol hyanghan nae mam deutgo inni… Baraman bwado apeujanha….
Ireoke…”

 

Kali ini Jongin menyelesaikan reff dengan baik dan dia bisa menaklukan nada tinggi. Ahreum dan Jongin tersenyum puas.

 

“Whoa, aku tak menyangka kalau aku bisa!” Seru Jongin kagum pada suaranya sendiri.

 

“Yah, semua orang pasti bisa kalau banyak latihan. Kau tahu sendiri, kan, Taemin seonbae awalnya hanya jago dance, tapi sekarang dia juga jago dalam menyanyi. Itu semua karena latihan. Kalau kau mau bisa, banyak berlatih adalah jawabannya.” Jelas Ahreum panjang lebar.

“Hehehe…” Jongin tertawa kecil.

 

“Bagaimana kalau kau bernyanyi dari awal hingga akhir? Berani?” Tantang Ahreum.

Dengan mengangkat senyum ke sebelah kiri, Jongin menjawab, “Berani, dong!”.

“Ok, kita coba.” Ucap Ahreum lalu memainkan intro lagu.

 

“Neoreul johahandaneun geu mareul, chama hal su eobseosseo. Geunyang idaero ni yeope isseodo joha.

 

Geudae hanbeonman deo yonggireul naebolkka, nae mameul jeonhaebolkka?
Ireon nae mamdo moreugoseo manyang, hwanhage utneun neo.”

 

Sejauh ini suaranya Jongin tampak stabil, setidaknya tidak ada suara yang sumbang.

 

“Naega neol wonhago itdan mallya, naega neol bureugo itdan mallya…
Nae soneul jaba, nae soneul jaba… Irheobeorilkka duryeopjanha…

 

Naega neol wonhago itdan mallya, naega neol saranghandaneun mallya…
Neol hyanghan nae mam deutgo inni… Baraman bwado apeujanha….
Ireoke…”

 

Reff telah dinyanyikan dengan baik oleh Jongin, lalu dia menlanjutkan lagu. Tapi karena ada suatu kesalahan di bait kedua, Ahreum langsung menyuruh Jongin untuk mengulang lagu dari awal.

Begitulah, setiap ada kesalahan, lagu pasti akan selalu diulang dari awal. Berkali-kali sudah lagu diulang dan itu sangat melelahkan. Jongin sendiri juga merasa lelah, tapi rasa lelah itu tidak diperhitungkannya. Dia ingin bisa menyelesaikan lagu ‘U’ itu dengan baik. Ayolah! Taemin saja bisa, kenapa Jongin tidak?

 

 

“Naega neol chatgo isseotdan mallya, naega neol gatgosipdaneun mallya…
Nae soneul jaba, nae soneul jaba… Irheobeorilkka duryeopjanha…

 

Naega neol wonhago itdan mallya, naega neol saranghandaneun mallya…
Neol hyanghan nae mam deutgoinni… Baraman bwado apeujanha…
Ireoke…”

 

Setelah mengulang lagu entah untuk keberapa kalinya, Jongin akhirnya berhasil menyelesaikan reff terakhir dari lagu tersebut dan Jongin merasa senang. Dia dan Ahreum pun tersenyum. Jongin tersenyum karena dia bisa dan Ahreum tersenyum karena Jongin berhasil menyelesaikan lagu berkat arahan darinya.

Karena sudah berhasil, Ahreum memberikan waktu istirahat. Untung saja Jongin membawa botol minum, kalau tidak tenggorokannya pasti sangat kering.

“Hah… Tak kusangka kalau berlatih vokal semelelahkan ini!” Ujar Jongin setelah meneguk minuman yang dia bawa.

“Ya. Kebanyakan orang meremehkan kalau menyanyi itu hal yang mudah, padahal tidak.” Balas Ahreum.

“Tapi terima kasih! Aku jadi tahu tehnik menyanyi yang benar. Habisnya aku lebih sering berlatih dance daripada berlatih vokal.”

“Ah, tidak perlu berterima kasih. Lagi pula aku hanya mengulang apa yang pelatih Ahn pernah katakan padaku saat aku berlatih vokal.”

Jongin hanya tersenyum kecil membalas ucapan Ahreum.

 

Karena Jongin masih dalam masa istirahatnya, Ahreum pun iseng-iseng dengan gitarnya. Dia memetik pelan satu-persatu senar gitarnya sehingga membentuk rangkaian nada-nada yang enak di dengar. Nada yang dihasilkan oleh petikan gitar Ahreum itu terdengar familiar di telinga Jongin. Dia pernah mendengar nada ini sebelumnya.

 

Eoneusae haruga tto jinago jibeuro hyanghan naye balgeoreum… Bupun gaseume cheoeum shijakhaetteon geu mam geudaero…”

 

Jongin bergumam menyanyikan baris pertama lagu Seoul Song. Menurut Jongin nada yang dimainkan Ahreum sangat cocok dengan lagu yang dipopulerkan oleh SNSD featuring Super Junior tersebut.

Ahreum sebenarnya hanya iseng memetik senar gitar tanpa ada maksud apa pun. Tapi akhirnya Ahreum menyadari kalau nada yang sedang dimainkannya terdengar mirip dengan intro lagu Seoul Song, pantas saja tadi Jongin bergumam menyanyikan lagu itu.

Jongin sudah menyanyi duluan -meski volumenya pelan dan intonasinya tidak terlalu jelas-, Ahreum pun juga melanjutkan lagu itu sambil mengencangkan volume permainan gitarnya.

 

Gakkeumeun pigonhan ilsangsoge jichyeobeorin nae momeul ikkeulgo
Gireul ddaraseo sumshwigo ittneun naye jayu.”

Jongin menoleh ke Ahreum. Tapi setelah mengerti maksud Ahreum, Jongin mengangguk kecil dan kembali melanjutkan nyanyiannya.

 

[Jongin] “Yes! neukkyeobwa huimang gadeukhan sesang.”


[Ahreum] “Yes! Jeogi nopeun mirae hyanghaeseo…”

 

[Jongin & Ahreum] S.E.O.U.L hamkke bulleobwayo kkumi irweojil areumdaun sesang.”
[Jongin] “Eodiseona jeulgeoun iri neomchineun got saranghae…”
[Jongin & Ahreum] “S.E.O.U.L hamkke wechyeobwayo eodiseorado useul susu ittneun.”
[Ahreum] “Haengbok moduga hanadwoeneun sesang…”

 

Suara Jongin dan Ahreum berpadu dan menghasilkan harmoni yang sangat indah. Jongin dan Ahreum pun saling berpandangan dan tersenyum. Setelah itu mereka kembali melanjutkan lagu ke bait 2.

 

[Jongin] “Eodiseo kkeojyeobeorin naemoseub huhwe eobshi saljin anhaneunji
Bupun huimangeh cheom seole-eottdeon geu mam geudaero…”

[Ahreum] “Alsueobneun naeiri gunggeumhae eoryeobgo heomhan iri saenggyeodo 
Gyeondil su isseo negeh bukkeuryeobji antorok.”

 

[Jongin] “Yes! Neukkyeobwa huimang gadeukhan sesang.”
[Ahreum] “Yes! Jeogi nopeun mirae hyanghaeseo…”

 

 

[Jongin & Ahreum] “S.E.O.U.L hamkke bulleobwayo kkumi irweojil areumdaun sesang.”
[Jongin] “Eodiseona jeulgeoun iri neomchineun got saranghae…”
[Jongin & Ahreum] “S.E.O.U.L hamkke wechyeobwayo eodiseorado useul su ittneun.”
[Ahreum] “Haengbok moduga hanadweneun sesang mandeureoyo.”

 

 

[Jongin] “Duryeoun naldo ddaerun himideulddaedo.”
[Ahreum] “Moduga himeul moa kkumeh nalgaen pyeolchyeoyo ooh…..”

 

 

[Jongin & Ahreum] “S.E.O.U.L hamkke bullyeobwayo kkumi irweojil areumdaun sesang.”
[Jongin] “Eodiseona jeulgeoun neomchinneun got saranghae.”
[Jongin & Ahreum] “S.E.O.U.L hamkke wechyeobwayo eodiseonrado useul su ittneun.”
[Ahreum] “Haengbok moduga hanadweneun sesang mandeureoyo…”

 

Ahreum menutup lagu itu dengan perfect. Mereka pun tersenyum bersama-sama karena mereka bisa menyelesaikan lagu dengan sangat baik. Jongin mengangkat tangannya seraya berseru, “High five!”. Dengan seruan Jongin itu, Ahreum mengangkat tangannya juga dan mereka berdua ber-tos ria. Senyum bahagia tak lepas dari wajah mereka berdua karena aksi duet mereka berakhir dengan snagat mulus.

Melihat Ahreum yang tersenyum lepas seperti sekarang, entah kenapa ada sesuatu yang aneh yang Jongin rasakan. Hatinya bergetar hanya dengan melihat senyum Ahreum. Ahreum yang sekarang tampak jauh lebih bahagia dibandingkan dengan Ahreum yang disekolah, yang terlihat suram. Ada suatu perasaan dimana Jongin ingin selalu melihat Ahreum tersenyum dan Jongin tidak mau Ahreum bersedih.

Tanpa dikoordinir oleh otaknya, tangan Jongin terangkat dan mendekat ke wajah Ahreum. Jongin menangkupkan kedua tangannya ke wajah Ahreum. Karena sedang tersenyum, Ahreum menoleh balik ke Jongin. Sebenarnya dia sangat terkejut dengan perlakuan Jongin yang tiba-tiba ini.

Kedua ibu jari Jongin dengan sendirinya mendekat ke kedua lesung pipit Ahreum, seolah-olah menahan senyum Ahreum agar senyum itu tidak pudar.

Jongin menatap intens kedua mata Ahreum lalu berkata, “Aku ingin terus melihat senyummu. Selama ini kau tidak pernah tersenyum di sekolah dan teman-teman disekolah pasti juga tidak pernah melihatnya. Karena itu, teruslah tersenyum.” Setelah berkata demikian, Jongin tersenyum lalu melepaskan tangannya dari wajah Ahreum dan matanya tetap menatap Ahreum.

Senyum Jongin…. terlihat begitu tulus. Sebenarnya Ahreum sangat ingin melakukan apa yang Jongin katakan tadi, tapi hal itu tidak bisa Ahreum lakukan mengingat perlakuan tidak baik dari semua teman-teman disekolah seperti Jaekyung dan kawan-kawannya. Ahreum pun hanya bisa tertunduk lesu.

“Bagaimana bisa aku tersenyum di sekolah? Meski nilai matematikaku seratus pun aku tetap tidak bisa tersenyum karena Jaekyung pasti akan berkata hal yang buruk padaku. Sekilas, aku terlihat baik-baik saja dan terlihat mengabaikan komentar pedas Jaekyung. Tapi sebenarnya, aku ingin dihibur. Aku ingin ada seseorang yang menghiburku dan berkata : ‘Ahreum-ah, jangan dimasukkan ke dalam hati. Jaekyung memang begitu orangnya.’. Masalahnya… Bagaimana aku bisa dihibur? Teman saja satu pun aku tidak punya. Semua orang menjauhiku padahal aku tidak berbuat apa-apa.” Rasanya Ahreum ingin menangis, tapi pasti akan sangat memalukan kalau Jongin melihatnya menangis. Han Ahreum! Kau tidak boleh menagis! Kau harus kuat! Ahreum menyemangati dirinya sendiri.

Jongin merasa tersentuh dengan ucapan Ahreum. Dia tahu bagaimana perasaan Ahreum saat ini. Dengan meletakkan tangannya ke bahu kiri Ahreum, Jongin berkata, “Tidak semua orang menjauhimu, kan ada aku. Aku mau menjadi temanmu, kok.”.

Kepala Ahreum yang tadinya tertunduk sekarang kembali terangkat dengan perlahan setelah mendengar ucapan Jongin tadi. Ahreum tak bisa berkata-kata lagi selain, “Benarkah?”.

Jongin menggangguk dengan tersenyum tulus. “Tapi ada syaratnya.” Seakan-akan mengerti tatapan Ahreum yang seperti berkata ‘Apa?’, Jongin melanjutkan. “Kau harus berjanji agar kau selalu tersenyum dan tidak pernah bersedih lagi. Janji?” Jongin mengangkat jari kelingkingnya.

Ahreum tersenyum membalas senyuman Jongin. Dengan segera dia mengangkat jari kelingkingnya dan mengikat jarinya ke jari Jongin. “Janji!” Ahreum berkata mantap. Setelah mengucapkan perjanjian singkat tersebut mereka melepaskan tautan jari kelingking mereka dan kembali tersenyum bersama.

Saat ini rasanya Ahreum ingin menangis. Bukan menangis karena sedih, tapi menangis karena bahagia. Ahreum bahagia karena akhirnya dia bisa mempunyai seorang teman di sekolah setelah selama setahun lebih dia sendirian. Dan terlebih lagi, teman pertamanya di sekolah itu adalah Kim Jongin, orang yang selama ini Ahreum sukai! Melalui pertemanan ini, Ahreum berharap agar dia bisa menjadi lebih dekat dengan Jongin.

.

.

.

KRUYUKKK….

Suara yang tidak diinginkan muncul tiba-tiba.

Kenapa sih perutku harus berbunyi di saat yang tidak tepat? Mana sedang hening-heningnya, lagi! Jongin mengumpat dalam hati.

“Ah! Tak terasa sekarang sudah jam enam pagi! Waktu berlalu dengan cepat, ya?!” Seru Jongin mengalihkan pembicaraan.

“Hihihi… Iya, sekarang sudah pagi dan tampaknya perutmu sudah minta diisi!” Ahreum terkekeh tak bisa menyembunyikan kegeliannya.

“Ah, itu… Aku sendiri juga tidak tahu…” Jongin menggaruk kepalanya tengsin.

“Ya sudah, ayo kita mencari makanan untuk mengganjal perut.” Ujar Ahreum sambil bangkit berdiri.

Jongin juga berdiri dari duduknya. Ahreum mengembalikan kembali gitar yang tadi diambilnya ke lemari tempat alat musik. Setelah keadaan ruangan sudah seperti semula, mereka menutup pintu dan turun bersama ke bawah.

Sambil bercakap-cakap, mereka pergi ke mini market 24 jam. Mereka berdua membeli dua bungkus roti rasa cokelat, satu kotak susu vanilla untuk Ahreum, dan satu kotak kopi cappucino untuk Jongin. Dengan menggabungkan kedua uang mereka, mereka membayar semua yang mereka beli.

Di dekat mini market tersebut ternyata ada sebuah taman, mereka berdua memutuskan untuk ke sana. Mereka duduk di salah satu bangku taman yang ada di dekat mereka. Mereka membuka makanan yang mereka beli masing-masing. Ahreum melahap rotinya dan begitu juga dengan Jongin. Sambil mengunyah makanan mereka, mereka mengamati kesibukan sekitar.

Di hari Minggu pagi yang cerah ini, banyak orang yang sudah memulai aktifitasnya. Ada yang jogging sambil mendengarkan musik, ada yang sedang mengajak anjingnya untuk berjalan-jalan, ada juga yang sedang melakukan senam pagi. Semua orang mempunyai aktifitas mereka masing-masing.

“Whoa, pagi-pagi sudah sudah banyak yang berkeliaran, ya?” Ucap Jongin mengomentari.

“Yah, udara pagi yang segar membuat banyak orang yang bersemangat untuk berolahraga pagi. Biasanya habis latihan kadang-kadang aku suka jogging. Tapi biasanya aku jogging sehabis berlatih dance. Kan sekalian berkeringat.” Balas Ahreum.

“Ooh… Lain kali kalau kau mau jogging ajak aku, ya. Sepertinya asyik juga kalau jogging pagi-pagi di taman.”

“Pasti!”

Mereka kembali memakan santapan sederhana mereka. Tapi suatu hal lucu terjadi. Jongin menggigit rotinya, ternyata selai cokelat isi roti tersebut mengenai bagian atas bibir Jongin. Selai cokelat itu terlihat seperti kumis!

“Hahaha! Aigoo… Kau lapar sekali, ya? Sampai-sampai makan saja belepotan!” Ujar Ahreum sambil merogoh saku celananya untuk mengambil tisu. Ahreum mengusap bagian atas bibir Jongin dengan tisu. Sebenarnya Ahreum hanya melakukan tindakan sederhana saja, tapi kenapa Jongin kembali merasakan hal aneh ini?

“Lihat ini.” Ahreum menunjukkan tisu yang dipegangnya dan disana terdapat bekas selai cokelat.

“Eoh? Hehehe…” Kekeh Jongin. Sekali lagi dia merasa malu.

 

Mereka melanjutkan makan mereka. Setelah roti dan minuman mereka masing-masing sudah habis, mereka pun berjalan kembali menuju ke SM Building. Mereka berjalan berdampingan sambil membicarakan pr untuk besok senin. Akibat pembicaraan tersebut, mereka tak sadar kalau kaki mereka sudah menapaki pintu depan SM Building.

Ahreum dan Jongin berpisah di pintu depan SM building. Ahreum menuju ke sebelah kanan sementara Jongin menuju ke sebelah kiri. Sebelum berpisah, Jongin melambai sambil tersenyum ke Ahreum sebagai tanda sampai jumpa lagi. Ahreum membalas lambaian Jongin dan juga tersenyum.

Dengan 3 kali lambaian singkat Ahreum, Jongin berbalik kembali dan berjalan menuju asrama trainee namja. Karena Jongin sudah pergi, Ahreum pun juga memulai langkahnya menuju ke asrama trainee yeoja. Mungkin sekarang Boeun sudah bangun.

 

Ahreum melangkah pelan di jalan menuju ke asramanya. Pikirannya terus melayang, membayangkan kejadian yang terjadi kurang dari 60 menit tadi. Semua kejadian tadi masih fresh di otak Ahreum.

Saat dia berlatih dengan Jongin tadi, saat mereka bernyanyi Seoul Song, saat mereka berdua tertawa bersama, saat perut Jongin berbunyi karena lapar, saat mereka makan berdua bersama di taman, saat selai cokelat di bibir Jongin terlihat seperti kumis, saat Jongin menangkupkan tangannya ke wajah Ahreum, saat kedua mata Ahreum bertemu dengan manik mata Jongin, saat Jongin mau menjadi teman Ahreum…. Semua itu tak akan pernah terlupakan oleh Ahreum.

Membayangkan tingkah Jongin tadi saja sudah cukup membuat Ahreum deg-degan saat ini. Dia memegang jari kelingkingnya. Dengan pelan Ahreum mengusap jari kelingking kanannya yang menjadi saksi atas pertemanan Ahreum dengan Jongin tadi dengan jari jempol kirinya. Kalau bukan karena alasan kebersihan, mungkin Ahreum tidak akan pernah mencuci tangannya itu. Seulas senyum pun terlukis di bibir Ahreum dan Ahreum belum pernah merasa sebahagia seperti ini sebelumnya.

 

***

 

“Wah, apakah terjadi sesuatu setelah latihan?” Tanya Boeun heran ketika melihat roommatenya itu membuka pintu kamar mereka dengan senyum yang terus mengembang dibibirnya. Well, Boeun tahu mengenai kebiasaan Ahreum yang suka berlatih sendirian di pagi hari.

“Hehehe…” Ahreum hanya tersenyum kecil membalas pertanyaan Boeun. Ahreum memilih untuk menyimpan hal itu di hatinya. Sekarang terlalu cepat kalau Ahreum menceritakan kalau dia menyukai Jongin sejak dulu. Nanti pasti ada saat yang tepat.

Ahreum membanting dirinya di kasur dengan tanpa melepas senyum. Dengan erat dia memeluk bantal saking bahagianya. Menurutnya, ini adalah weekend terbaik dalam hidupnya! Liburan ke Paris saja mungkin masih kalah membahagiakan dibandingkan bisa berteman dengan Jongin!

Kemarin. Kemarin Jongin membantu mengajarinya dance. Dia juga membantu membuat koreografi yang cocok. Dan karena bantuan Jongin itu, Ahreum bisa menjadi yang terbaik. Bahkan Ahreum bisa mengalahkan Seulgi yang biasanya meraih gelar tersebut.

Hari ini. Hari ini Ahreum bisa kembali berlatih dengan Jongin. Dimulai dengan Ahreum mengajari Jongin dalam hal vokal, lalu saat mereka berdua bernyanyi duet, dan juga hari ini dia dan Jongin makan bersama, dan terlebih lagi… Jongin menjadi teman pertama Ahreum di sekolah!

 

Kemarin dan hari ini adalah hari terbaik dari hari-hari sebelumnya, aku berharap semoga hari esok hal yang buruk tidak terjadi. Batin Ahreum.

 

 

To be continued….

 

***

 

–Author’s Note – (Author bakal seneng kalo yang ini mau dibaca)

Hai, hai, hai! Ketemu lagi di chap 6! Eotteyo? Mengecewakan ga? Sebenernya chap ini lebih pendek daripada chap 5, gapapa kan? Tapi yang ini jauh lebih panjang dibandingkan chap 1-4, kok!

Maaf kalo yang ini lamaaaaa banget! Soalnya waktu lagi ngetik chap ini, author lagi kurang sehat, jadi mau ngapa-ngapain itu rasanya males. Belom lagi ditambah sama pr, tugas, ulangan yang bejibun. Tapi author yakin pas chap ini dipost, author udah sehat. Jadi kalian ga perlu khawatir. (lagian, emangnya ada yang khawatir?)

Di chap ini, si Jongin udah ngerasain sesuatu sama Ahreum. Kecepetan ga sih? Ada seorang readers yang komen (gatau persisnya gimana tapi intinya kaya begini): ‘thor, si Jongin kan abis ditolak sama Naeun, masa cepet amat dia udah deket sama Ahreum?’. Nah, loh! Author juga baru ngeh kalo itu tuh kecepetan. Abis… ya mau gimana lagi? nanti kalo kelamaan readers yang lain udah keburu berjamur lagi nungguin si Jongin sama Ahreum kapan deketnya. Lagi pula, sebenernya tuh ya, si Jongin itu suka sama Naeun karna dia cantik aja. Karna Naeun cantik, makanya si Jongin tertarik. Padahal si Jongin itu belom mastiin perasaannya kalo dia itu suka Naeun apa ga, tapi dia udah langsung nembak si Naeun.

Ada yang pernah denger lagu Closer, U, sama Seoul Song? Yang demen ttby pasti tau lagu Closer sama U! Yang ga tau bisa dengerin di youtube biar tau lagunya gimana sama supaya lebih dapet feel pas adegan mereka nyanyi. Tapi beneran, aku baru kepikiran kalo lagu closer itu pas banget sama feel-nya Ahreum!

Mungkin diantara kalian ada yang bingung. Kalau ada teks macem gini: “Abcdefghi.” Itu lagi nyanyi. Kalo teks begini: “Abcdefghi.” Itu lagi ngomong biasa. Terus kalo yang ini: Abcdefghi. Itu artinya batin/pikir seseorang.

Oh ya, kan ada lagu yang aku kasih english translate sama ada yang ga. nah, yang ku kasih english translate itu adalah lagu yang liriknya bener-bener dirasain sama tokoh utama (ya contohnya lagu Closer sama Ugly), tapi yang ga kukasih translate-an itu lagu yang biasa aja, yang ga ada hubungannya sama perasaan si tokoh utama.

Buat yang nunggu kapan Ahreum jadi cantik, sepertinya kalian masih harus bersabar… Ahreum cantiknya di chapter 7, ato ga paling lambat di chap 9. Yang mau liat gimana Ahreum versi cantik, sabar menunggu, ya!

Komen dong! Sebagai seorang author, komen itu sangat penting. Lewat komen, author bisa tau gimana plus minus karyanya di mata pembaca. Kalau kalian jadi author ff, kalian pasti juga butuh komen atas ff kalian, kan? Nah begitu juga dengan aku! Kalau kamu mau ff kamu banyak yang komen, maka mulailah dari kita ngomentarin ff orang lain.

Sebenernya author berencana buat ganti poster soalnya yang pertama itu author rasa kurang bagus. Maklum lah, author kan ga begitu jago mengedit foto… berhubung belom nemu gambar yang pas, jadi saat ini author ga kasiin poster. Nanti kalo udah jadi pasti ff ini author kasih poster yang baru!

Satu lagi. terima kasih untuk komen kalian selama ini. Ada yang komen positif, ada juga yang komen negatif. Tapi gapapa, author bisa nerima komen negatif kok. Justru komen negatiflah yang bikin aku semakin terpacu buat nulis lebih. Aku seneng banget bacain komen kalian, tapi maaf kalo aku balesnya lama mengingat aktifitas siswa kelas 9 yang padat. Aku balesnya kalo lagi libur atau kalo koneksi internet lagi bagus.

Sekian author’s note, maaf kalo cuap-cuapnya panjang banget dan terkesan ga penting, terus maaf juga kalo ada typo dan kesalahan-kesalahan lainnya. Annyeong!^^

 

Love,

Annabeth :3

Iklan

64 pemikiran pada “Ugly (Chapter 6)

  1. makin kesini makin seru ceritanya ^^ karena kkamjjong mulai ada rasa sama ahreum.. Ehehe.. Ini nggak pendek, dan gak kecepetan kalo kkamjong mulai suka ahreum.. Itu wajar.. 🙂 ditunggu next chapternya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s