Forelsket First Kiss [Chapter 4]

 New Picture (1)

Forelsket First Kiss Chapter 4

Title     : Forelsket First Kiss (Chapter 4)

Author : Blue Calla

Genre : School life, Friendship, Romance, (0,1 % comedy. Ohoho ~)

Length : Chaptered

Rating : PG-15

Cast     : Yoon Jae In (OC –sorry for the girl in poster, i’ve no idea ><)
Oh Sehun (EXO K)
Park Chanyeol (EXO K)
Xi Luhan (EXO M)
Seo Bin Rae (OC)

             ~And other supporting cast
Note     : Wuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuwuwuwuuwuwu!!! \^o^/   chapter 4nya sudah beres huahahaha, habisnya lega sekali sampai kepala berasa mau copot. Alhamdulillah.Mohon maaf karena saya sibuk sekali akhir-akhir ini jadi chapter 4 nya telat -______- saya jadi khawatir readernya udah pada kabur, tp mudahmudahan enggak sih, karena chapter 4 ini mengasyikkan sepertinya- dan sengaja dibuat lebih panjang biar puas wkwk . Oh ya, seperti biasa jangan pedulikan posternya yang ancur ini,.,poster ini adalah senorak-noraknya poster – 😀 well, enjoy reading! Comment needed!!! *mohon maaf bila ada typo dan kata-kata yang tidak berkenan dihati *

__________

“Jae In!! Apa kau sudah siap?! Sehun menunggumu sejak tadi!!!”

Aku tercekat oleh teriakkan Eomma yang membahana di ruangan ini. Kamarku. Dan aku tidak mengerti apa yang diteriakkannya. Dia bertanya apakah aku sudah siap dan ia bilang Oh Sehun menungguku.

Yang benar saja, Ia pasti sedang mengigau. Aku memutuskan untuk bangun dan mendapati sesuatu yang tidak nyaman membalut tubuhku. Benda itu berwarna pink, bertekstur kasar dan mengembang.

Apa itu…

Aku langsung meloncat dari ranjang menuju cermin dipojokan kamar untuk melihat benda bodoh apa ini yang melekat di tubuhku. Ketika aku melihat bayangan diriku dicermin, rasanya uratku nyaris putus semua.

“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!! EOMMAAAAAAAA!!! APA INIIIIIIIIIII?!!!” aku tidak bisa untuk tidak menjerit dan mencakar wajah ketika kudapati penampilanku seperti seorang Balerina. Ya! Balerina! Rok tutu serta tanktop pink melekat sempurna disana. Dan ini bukan sesuatu yang bagus karena potongan rok tutunya..

Sangat ekstrim.

“ini gila,”

Greb!

“Yoon Jaein, cepatlah sedikit!! Sehun sudah terlalu lama menunggu.!” Eomma tahu tahu sudah berada disana. Ia menyambar lenganku dengan marah ketika aku sedang melamun didepan cermin. Berusaha mencerna tentang hal gila apa yang sedang terjadi saat ini.

“a-ha-ha, Apa aku akan Cosplay Eomma? Kalau begitu..Sehun jadi apa? Ninja hatori? ” aku bergurau. Tertawa hambar pada diriku sendiri.

“Cosplay katamu!!? Kau akan menghadiri acara kelulusan, bersama Sehun!!”

Aku meghentikan langkah ketika kami sudah menuruni tangga.

“acara… kelulusan?” gumamku dengan mata menyipit.

“AHAHA!!!!! Apa kau bercanda!? Aku barusaja masuk sekolah tahun kemarin dan tiba-tiba saja aku sudah lulus! Ada apa dengan semua ini ~.~” kali ini aku sungguh-sungguh tertawa, habisnya yang benar saja! Spp-ku bulan ini bahkan belum lunas.

“jangan banyak bicara! Cepat temui Sehun.” Eomma mendorongku dengan acuh seakan-akan aku ini apa.

“Yak! Tidak mau! Bagaimana bisa aku menemui Sehun dengan rok sependek ini? Apa Eomma tidak takut Sehun macam-macam denganku?!”

“Tidak akaan, dia itu namja yang soleh” (apa ini)

‘Aish! Eomma tidak tahu saja bahwa Sehun diam-diam menyimpan kebusukan. Bahkan sejak kecil anak itu sudah punya bakat menjadi namja yadong.’ Rutukku dalam hati.

Eomma lagi-lagi menyeretku secara paksa untuk keluar. Ia mengacuhkan aku yang meronta dan menjerit, tanganku berusaha menarik-narik ujung rok-tutu-super-pendek-terkutuk-ini. Dan ketika adegan bodoh nan tidak jelas ini terjadi, -aku tidak tahu apa yang merasuki Eomma- ia menendang pintu dengan keras sehingga terbuka lebar. Cukup lebar untuk melihat Sehun yang sangat..

“Kecil?”

Ya, maksudku. Ia memang Sehun, tapi.. Oh Sehun tujuh-atau sembilan tahun yang lalu dimana kami masih berada di sekolah dasar dan badannya sangat kecil dan kurus.

“Ehm.. ahgassi, siapa yang kau sebut kecil?”

Sehun versi anak kecil itu bergumam dengan wajah datar. Aku baru sadar jika wajahnya sejak dulu tidak berubah. Wajah datar seperti papan cucian itu,

Aku bergerak mundur satu langkah, cepat-cepat menggamit lengan Eomma dengan tubuh gemetar.

“Eomma, apa..apa anak kecil berambut kelimis ini benar-benar Sehun? Kenapa dia jadi—?”

“—Hey! Siapa yang kau bilang kelimis!? Aku!?” sentaknya dengan wajah memerah. Aku ingin meledeknya, tapi tentu saja ini bukan saat yang tepat. Sehun kecil ini masih benar-benar membuatku bingung setengah mati. Jadi aku mengacuhkannya dan berpaling pada Eomma. menunggu jawabannya apa ini benar-benar Sehun atau bukan.

“Ahaha, Sehun. Maafkan anakku. Kadang-kadang ia tak bisa menjaga mulutnya” . Eomma malah gantian mengabaikanku dan bicara pada Sehun.

karma ini datang cepat sekali.

“Ngomong-ngomong, aku masih terlalu banyak urusan. Kalian pergilah sebelum terlambat, cepat!hush hush hush!” Eomma mengibas-ngibaskan tangannya seperti mengusir seekor kucing. Lalu ia masuk, membanting pintu dan meninggalkan kami berdua dalam keadaan aneh ini.

Aku dan Sehun masih dalam posisi yang sama. Aku menatapnya setengah curiga di teras rumah, Dan Sehun mematung disana. Ia lalu mengambil langkah dan mengulurkan tangannya padaku.

“Ayo, kita pergi. Princess Tutu,”

Deg!

Aku tidak tahu kenapa. Meskipun kalimat pendek itu keluar dari seorang anak kecil, tiba-tiba saja Jantungku terasa berdebar lebih kencang. Tanganku dengan ragu meraihnya, membiarkan Sehun menuntunku di belakangnya.

Apa ini semacam dejavu?

Tidak, situasi ini memang pernah terjadi sebelumnya. Satu dari kenangan-kenangan masa kecilku bersama Sehun yang tidak pernah aku lupakan.

Ia menoleh, mendongakkan kepalanya keatas mengingat tubuhku saat ini jauh lebih tinggi darinya.

“Ngomong-ngomong, kau sungguh kelihatan cantik dengan rok tutu,” Ujarnya tanpa ragu. Yang kulihat diwajahnya saat ini adalah, kepolosan. Tidak ada kesan dingin yang menyebalkan itu lagi. Dan aku sudah menduga seperti apa jalan ceritanya. Sehun memang berkata seperti itu, ia menyukai rok tutu yang kupakai dan itu membuatku meluap-luap. Ketika dulu ia mengatakannya di taman bermain dekat kelas kami, aku sampai ingin menenggelamkan diri sampai mati di kotak pasir.

Aku membayangkan saat-saat itu. Menatap Sehun kecil disampingku dengan perasaan bahagia yang sulit dijelaskan. Dan bocah itu juga balik menatapku dengan tatapan lugunya.

Lalu dia…

Dia..

Dia melihat..

Dia melihat..

Dia melihat ke….

p-p-p-p-p-p-p-p-p-p-p-p-p-pa-pa

pa-

pahaku,

“TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAK!!!! Apa yang kau lihat hah?! Menyingkir dariku bocah mengerikan!! Sana!!” aku menjerit ketakutan sembari sembunyi dibalik pohon.

“Ada apa denganmu!? Kenapa kau berteriak?”

“Kau.. tidak pernah berubah Oh Sehun, aku heran kenapa kau saat dewasa begitu terlihat pendiam dan naif. Padahal.. padahal kau yadong!!” geramku padanya. Mata sehun membelalak seketika saat mendengar aku mengatainya yadong. Wajahnya pun memerah lagi.

“Tidak! Aku tidak yadong!”

“Ya! Kau yadong!”

“Tidak!! Kubilang tidak!!” Sehun mulai menghentak-hentakkan kakinya. Entahlah, ia seperti tidak terima aku katai yadong. Setelah cukup membuatku kaget, anak itu kemudian berhenti dan berjongkok disana, di bawah pohon.

“Aku hanya agak heran kenapa rok-mu terlalu pendek. Bong Seosangnim pasti akan memarahimu!” Sehun menundukkan kepalanya, terlihat sedih. Aku menghampirinya dengan perasaan.. sedikit bersalah. Mungkin aku sudah keterlaluan. Bagaimanapun juga, Sehun masih anak-anak. Ia tidak akan suka didesak seperti ini.

“Sehunnie, maafkan aku. Aku tidak bermaksud—”

“—kau bermaksud!” Sialan, anak ini berani memotong kalimatku.

Aku tidak tahu trik macam apa yang harus dilakukan ketika menghadapi seorang anak kecil yang hampir menangis. Aku memiliki riwayat yang buruk dengan anak kecil. –sepupuku yang berumur enam tahun kulempar dengan kamus hinnga memar ketika ia menganggu Hae In, adikku. Ya.. aku memang kakak yang baik tapi..setelahnya bocah yang kulempari kamus itu menangis dan tak pernah bicara lagi denganku.

“Ehm.. sehunnie, apa cita-citamu?” Bukannya berusaha menghibur, aku malah keceplosan. Tapi kurasa ini berhasil karena Sehun berhenti murung seperti itu. Ia mengangkat kepala dan nampak memikirkan sesuatu.

“mungkin.. pilot,”

Eh,

Pilot? Cita-citanya ingin jadi pilot? Bukankah..

“Bukankah cita-citamu itu ingin mencium seorang gadis?! Apa kau lupa?!” desakku

Sehun memelototiku, ia menggidikkan bahu seolah-olah di depannya ini sedang bicara seorang gadis yang tidak waras. Ya, meskipun aku juga tengah berharap semoga tidak ada orang yang lewat karena aku pasti akan nampak seperti psikopat.

“Orang bodoh mana yang bercita-cita mencium seorang gadis. Mesum sekali,” cibirnya sembari memalingkan wajah. Sedangkan aku, masih terpaku dengan mulut menganga sampai seseorang menghapiri kami dengan langkah beratnya. Lalu ditengah-tengah kebingungan ini, ia berkata.

“Aku, akulah orang bodoh itu.”

Aku dan Sehun bertatapan, lalu mendongakkan kepala bersama untuk melihat siapa yang tengah berada di depan kami.

Dan itu adalah Sehun. Sehun dewasa yang sebenarnya.

“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!” kami berteriak bersama-sama dan menyerang Sehun dewasa dengan guling yang entah datangnya darimana.

____________

BUGH!

Hae In yang pagi itu sedang menonton serial teve di ruang tengah, tercekat begitu mendengar suara dentuman keras itu. Ia mendongak melihat langit-langit. Tepat diatas sana, adalah kamar Eonni malas-nya, Yoon Jae In.

“Dasar Eonni, Pagi-pagi begini sudah ricuh” Ia memutar bola mata seraya kembali pada televisinya.

Jae In baru saja terjatuh dari ranjangnya dengan keras. Ia membuka mata seraya mengaduh. Mendapati dirinya tengah berbaring dilantai dengan bantal guling di genggaman.

“Aw! Sakit sekalii…” pekiknya sambil mengusap punggung. Wajahnya semakin kusut mengingat apa yang terjadi beberapa detik lalu, dalam mimpinya.

Jae In meremas sprei dan menarik-nariknya dengan kesal. “Menyebalkan!! Kenapa aku harus memimpikan orang itu?! Ini benar-benar mimpi terburuk!” rutuknya sembari memukul-mukul pinggiran ranjang.

“Tapi.. syukurlah, itu hanya mimpi. Aku hampir saja gila,” Tubuhnya merosot, wajahnya terbenam dalam guling yang dipakai untuk menganiaya Sehun beberapa saat lalu. Ia tertawa frustasi mengingat mimpi aneh yang melibatkan rok tutu serta dua Sehun sekaligus. Lalu, Jae In teringat sesuatu.

Ia bangkit dari tempatnya. Berjalan menuju sebuah loker kecil di sudut kamar tidurnya dengan langkah terburu-buru.

“Benar, aku harus membuangnya jika ingin benar-benar melupakan Oh Sehun.” Jae In bergumam pada dirinya sendiri. Dibukanya loker paling atas dimana ia menyimpan benda-benda kecil miliknya. Ikat rambut, stoples permen, quartet, dan hal-hal tidak penting lainnya. Tapi.. ngomong-ngomong, hanya ada satu benda yang menjadi paling penting dalam hidupnya selama ini. Setidaknya, sampai saat ini ia memandangnya dengan marah. Mencabut benda yang menempel pada pintu lokernya dengan susah payah.

Srek!

“hh, mulai saat ini aku tidak akan memandangimu lagi setiap bangun tidur, sepulang sekolah, saat aku mencari rautan pinsil atau apapun di loker ini. Mengerti? Kau harus musnah dari hidupku, anak idiot” Ia menyeringai dengan senyum terjahatnya. Berusaha mengumpulkan keberanian untuk melenyapkan selembar foto ditangannya yang mulai usang.

Gadis kecil dalam foto -yang tak lain adalah dirinya sendiri-, tersenyum menunjukkan gigi-giginya. Ia memakai rok tutu berwarna pink. Nampak serasi dengan anak lelaki ber-vest cokelat serta dasi kupu-kupu hijau pada kerahnya.

“Tidak, Yoon Jae In. Mereka hanya masa lalu,” gelengnya, berusaha menyingkirkan keraguan yang membuat jari-jarinya bergetar.

Dan pada akhirnya, ia bahkan tidak sanggup menyobek apalagi membuangnya. Jae In memutuskan untuk menyelipkan foto itu pada Buku sakunya yang sudah tak terpakai. Membanting pintu loker itu dengan kesal dan berharap suatu saat nanti, ia akan lupa bahwa foto itu pernah terselip disana.

“Fiuh,” Jae In menyeka keningnya.

“Hari ini adalah hari yang baru. Aku harus melupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan Sehun, dan aku kira.. tidak akan sulit. Kau hanya perlu bersenang-senang Jae In. Lupakan. Semuanya.”

Ia mengangguk penuh, kedua tangannya menelungkup didada. Seakan berjanji dan meyakinkan pada dirinya sendiri bahwa, melupakan sesorang yang kau sukai selama bertahun-tahun tidaklah sulit.

Jae In memulai paginya dengan membereskan kamar, kegiatan yang menurut ibunya begitu langka dilakukan. Lalu ia membersihkan diri, bersenandung didalam kamar mandi dan mencoba menghilangkan kantung matanya dengan sabun wajah. Namun ia malah tersandung dan menginjak pasta gigi hingga tutup kemasannya mental dan megenai mata kirinya (alah ketauan suka nonton spongebob =,=).

“Eomma! Apa kau sudah buatkan sarapan?” Jae In turun dari kamar tidurnya dilantai atas. Ia telah selesai berpakaian dan datang dengan penampilan yang agak berbeda dari kesehariannya. Rambut yang diikat sebagian, Dress selutut berwarna peach serta cardigan putih membuatnya nampak lebih segar.

“Eonni, kau mau pergi ke kondangan?” Jae In malah mendapatkan pertanyaan terlalu polos itu dari adik perempuannya. Jae In mengernyitkan dahi . “Sialan kau Hae In, aku sudah berusaha berpenampilan sebaik mungkin dan kau malah mengataiku, adik durhaka” umpatnya dalam hati.

Namun ia tak mengatakannya, ia mencoba mengabaikan pertanyaan Hae In dan menghampiri meja makan. “Apa Eomma tidak masak sesuatu, dimana Appa?” ucapnya acuh, mendapati tidak ada secuil makananpun disana.

“Appa sedang pergi mengantar Eomma ke toko souvenir di Manju. Eomma belum sempat memasak, Dan.. Oh! Eomma menitipkan catatan untukmu.”

“Catatan?”

Hae in mengangguk, menunjuk ke arah lemari pendingin dimana secarik kertas direkatkan dipintunya .

‘Kami akan pergi membeli hadiah untuk nanti malam. Dan untuk kue-nya, kuserahkan padamu, ya? Ukuran sedang saja.

p.s : aku belum sempat memasak, jadi kau bisa buat sarapanmu sendiri. Ok?”

Jae In lagi-lagi mengernyitkan dahi. Merasa tidak mengerti dengan pesan ibunya yang misterius dan tidak jelas. “Nanti ..malam?” Gumamnya pelan, mencoba mengingat-ngingat mengapa ibunya membeli souvenir dan menyuruhnya membeli kue.

“Ya Tuhan!” Ia berseru sedetik kemudian setelah menemukan jawabannya. Ia baru ingat bahwa malam ini malam sabtu di akhir pekan. Dan kalau tidak salah, akan ada acara makan malam di rumah keluarga Oh.

“Yak! Tidak salah lagi. Kenapa aku bisa melupakannyaaa?!” Jae In bicara sendiri di dapur. Menepuk-nepuk keningnya karena telah melupakan hal sedarurat ini. Ia menyebutnya begitu karena, ia tengah membicarakan Rumah keluarga Oh. Orangtuanya akan berkumpul dan akan ada Sehun disana. Well, mereka tidak tahu hubungan kedua anaknya sedang seburuk apa saat ini.

Ia tidak mungkin datang,

“Hae In, aku mungkin akan pergi membeli kue hingga sore nanti. Jika Eomma tidak pulang cepat, jangan sekali-kali meninggalkan rumah. Jangan masuk ke kamarku, jangan mengacau, jangan membawa teman-temanmu terlalu banyak dan.. jangan terlalu lama menonton serial teve. Itu bisa membuatmu bodoh,” Ujarnya panjang lebar setelah kembali, Mengambil tas selendang dan beberapa lembar uang kertas.

“Benarkah?”

“Aku bersumpah. Lihat saja Sehun,”

Hae In mencibir, “Cih, Semua orang tahu Sehun Oppa bahkan jauh lebih pintar darimu,”

“Berisik kau,” jawabnya terkekeh, mengacak pelan rambut adik perempuannya yang terkadang agak sok tahu. Ia bangkit menuju pintu dan melambaikan tangan pada Hae In.

“Aku pergi dulu, Dah!”

_____________

Busway menuju Gangnam berhenti tiga puluh menit kemudian. Hari ini tidak terlalu penuh. Mungkin karena tidak ada anak sekolahan yang biasanya berhamburan seperti bubaran pabrik. Yah, aku beruntung mendapatkan tempat duduk paling depan. Dan setelah bus ini mengantarku sampai tempat tujuan, aku berdiri mematung di depan sebuah pusat perbelanjaan dan tak tahu harus melakukan apa.

Aku tidak mungkin beli kue sekarang, aku harus.. sedikit bersenang-senang dulu,

Kuputuskan untuk masuk dan berjalan kemana kakiku membawanya. Ketika aku melihat sebuah petshop, aku berbelok dan melihat kucing-kucing lucu. Ini lebih menyenangkan daripada mengunjungi toko perhiasan. Lalu mereka membiarkan aku menggendong seekor kucing gendut dengan plat kalung bertuliskan ‘Babu’.

Kemudian Babu mencakar cardiganku.

Selain petshop, aku tidak tahu tempat menyenangkan lainnya di mall. Seleraku berbeda dengan gadis-gadis kebanyakan. Toko perhiasan, salon, counter cat kuku, atau butik mahal. Tempat-tempat seperti itu hanya membuat kantong anak sekolahan sepertiku jebol. Jadi aku memutuskan untuk keluar dan mencari stand makanan di sekitar pinggiran jalan. Lalu ketika aku tengah berjalan, sebuah suara klakson nyaring berbunyi tepat dibelakangku. Aku mencoba tidak menghiraukannya hingga bunyi itu terulang sebanyak tiga kali. Sudah pasti, orang ini sedang mencari masalah.

Aku berbalik dengan marah.

“Hey apa kau tid— “ Kalimatku terpotong begitu melihat siapa yang berada di belakangku. Sesosok tubuh jangkung berpakaian serba hitam, jaket kulit, helm penerbang dengan goggle serta masker yang membuatnya tampak misterius. Mengendarai motor besar yang juga berwarna hitam.

“Ghost Rider?”

Pria itu tertawa, Mungkin ia kira aku sedang melawak.

“Apa kau Wild Ones, atau.. semacamnya?”

Ia membuka masker yang menutupi sebagian wajahnya. Kukira, ini akan menyeramkan seperti aslinya, namun yang kulihat adalah wajah menyebalkan dengan senyum tiga jari serta sederet gigi putih yang kulihat kemarin. Bahuku melorot seketika,

“Chanyeol??”

Ya, itu Chanyeol. tersenyum dengan senyum secerah matahari Seoul saat itu. harus kuakui kadang ia terlihat begitu manis dan..keren. Mungkin itu juga yang dipikirkan Bin Rae. Namun ia belum tahu sifat mengganggunya seperti apa. Sewaktu-waktu senyumnya bisa berubah menjadi mengerikan.

“Apa..Apa yang kau lakukan disini? ..Dimana mobilmu?” Aku bertanya dengan ragu. Mencoba menyingkirkan pikiran-pikiran aneh itu.

“Hanya keliling-keliling, mobilku sedang berada di bengkel, ehm…” Chanyeol menepuk-nepuk tangki motornya. “Aku meminjamnya dari seorang teman,”

“Oh, baiklah.” Lagipula tidak ada yang bertanya dari mana dia mendapatkan motor sebesar bison afrika itu. Aku kemudian berbalik, sepertinya tidak ada yang harus dibicarakan lagi dengan Chanyeol. Aku cukup membalas sapaan klakson motornya. Namun, ia bicara lagi

“Kau sendiri?”

Aku memandangnya dengan tatapan aneh. “Ya, tentu saja. Aku sendiri”

“Ah, tidak. Bukan, maksudku.. Kau sendiri sedang apa disini?”

-.-

“sama sepertimu, mungkin.” Jawabku singkat, sembari meneruskan berjalan, mengacuhkannya karena aku yakin tidak lama lagi Chanyeol akan membuatku jengkel. Saat ini saja, ia berusaha menyamai langkahku dengan sepeda motornya. Dan di saat yang sama aku mulai menyesal telah keluar dari pusat perbelanjaan secepat ini.

Aku mulai jengah ketika kudapati Chanyeol masih menguntitku, untuk kedua kali, aku menengok padanya dengan wajah tak ramah. Namun Ketika aku hendak memakinya, Chanyeol lebih dulu berbicara padaku. Membuatku menghela napas dan menarik kembali kata-kataku karena Chanyeol disana, masih-tersenyum seperti itu. Apa ia tak bisa membaca raut wajahku? apa ia tak mengerti jika aku mengabaikannya sejak tadi?

“Hey, mau jalan jalan bersama?”

“Tidak terimakasih Park Chanyeol, ada tempat yang harus aku datangi,”

“Kalau begitu akan kuantar,” Tanpa menghiraukan pendapatku, Chanyeol menyalakan mesin motornya dalam sekejap. Menatapku dengan alis terangkat,

“Chanyeol, Aku bahkan belum bilang aku mau. Kenapa kau begitu—“

“Ayolah Yoon Jae In, berhenti bersikap seperti itu. Aku hanya ingin berniat baik tapi kau..” Kalimatnya terpotong, Chanyeol kehilangan kata-kata seiring seyumnya memudar. Ia menunduk lemas.

“Apa kau tak ingat kemarin aku berusaha menghibur—“

“Cukup Chanyeol!!” aku menyentaknya dengan refleks. Beberapa orang disekitarku menoleh, memandang kami dengan tatapan kaget.

Aku menghampiri Chanyeol, dengan merendahkan suara. “Aku.. aku akan ikut denganmu, tapi jangan pernah mengatakan hal tentang kemarin. Ketika aku menangis, ketika kita makan bersama dan apapun itu. Lupakan semuanya pernah terjadi, oke?” tanyaku sungguh-sungguh.

Tidak kusangka, Chanyeol lebih mudah dibujuk dibandingkan seorang anak kecil. Seyum di wajahnya bahkan dengan cepat kembali. Membuatku geleng-geleng sendiri karena sikapnya yang tidak mudah ditebak. Sedikit nyentrik, terkadang begitu bodoh, dan polos (wajahnya) aku tidak begitu yakin dengan pikirannya. Namun seingatku, sebelum kami saling mengenal gara-gara kecelakaan itu. ketika aku dan Bin Rae yang menyukainya setengah mati dengan rutin datang pada pertandingan futsalnya setiap kamis, mengamatinya saat duduk di kafetaria, mengintip ke kelasnya dari balik jendela. Chanyeol adalah orang yang benar-benar berbeda. Ia lebih banyak diam, cara berjalannya angkuh, dingin, dan berkharisma. Terkadang ia nampak seperti berandalan yang keren saat berbicara dengan teman-teman lelakinya. Namun ternyata, sampai saat ini aku mengenalinya, kharisma itu hilang entah kemana.

“Ini, pakai helm-nya” Chanyeol menyodorkan helm penerbangnya, membuyarkan lamunanku.

“Hey, bukankah seharusnya pengemudi yang memakai helm? Kau tidak membawa lagi, kan? Kenapa diberikan padaku?”

Chanyeol menyunggingkan senyum, “Sudah, jangan banyak bertanya. Pakai saja,” ia memakaikan benda itu dikepalaku dengan hati-hati. Kubiarkan saja, meskipun aku sedikit tidak nyaman dengan perlakuannya.

“Pegangan,”

“Tidak,”

“Pengangan, kubilang”

“Hey! Jangan memaksaku—“ Aku memukul punggungnya cukup keras. Dan disaat yang sama, Chanyeol meng-gas motornya dengan kencang seperti mesin pelontar. Apa ia kira jalanan ini sirkuit?! Aku hampir saja terhuyung ke belakang jika tanganku tidak bergerak dengan refleks. Aku segera menyambar pinggangnya dan berpegangan erat disana. Berusaha tidak mencakar perutnya karena aku benar-benar marah saat ini.

“Apa kau sudah gila Park Chanyeol?! Kau hampir saja membunuhku!!” jeritku sambil terus memukul punggungnya dengan sebelah tangan. Dan dalam suara mesin yang menderu, angin yang bertiup berkali-kali lebih kencang, aku dapat mendengar suara pria itu samar-samar. Ia tertawa. Puas sekali,

Chanyeol benar-benar sudah gila.

_____________

‘Tok! Tok! Tok!’

Luhan terbangun dari mata setengah mengantuknya. terlalu lama berada dikamar dengan suasana sehening ini membuatnya melamun, dan lambat laun, kantung matanya memberat. Ia menegakkan tubuhnya ketika mendengar suara ketukan tiba-tiba itu di pintu kamarnya.

“Masuk,” Luhan membuka selimutnya. Mungkin itu hanya ibunya yang membawakan obat atau makan siang, biasanya begitu. Namun ketika nampak tak ada respon disana, Luhan mulai merasa tidak yakin.

Seseorang muncul dari balik pintu, membawa sekeranjang kecil buah plum dan apel merah yang nampak ranum.

“Hai sobat,” ucap pria itu, dengan seulas senyum tipis.

“Sehun?” Luhan terdengar agak terkejut. Namun sedetik kemudian ia tersenyum pada sahabatnya itu, berbicara dengan nada yang menyenangkan. Berusaha antusias.

“Masuklah, kau datang menjengukku?”

Sehun menghampirinya, meletakkan keranjang itu disamping Luhan kemudian menarik sebuah kursi kecil dari nakas untuk duduk.

“Apa kau sudah baikan?” ia balik bertanya sambil menatap dengan serius. Ada plester di kening dan lilitan perban di pergelangan tangan Luhan. Mungkin sisa perkelahiannya dengan Jongin. Namun lelaki itu nampak tidak peduli dan malah asyik dengan keranjang buahnya, ia menelitinya satu persatu seakan berharap ada sebutir anggur terselip disana.

“Ya, aku sudah sangat sehat. Apa ini? Plum, apel, Kau tahu aku tidak suka Plum, Sehun.” Komentarnya sembari melambung-lambungkan sebuah apel seperti bola tennis.

“Setidaknya kau bisa makan apel ‘kan?” Sehun terkekeh. Kemudian, jeda selama beberapa detik sembari memperhatikan Luhan memainkan apelnya. Ia memulai bicara lagi.

“Luhan, dengar..”

Lelaki itu masih belum berhenti dengan apelnya, kali ini ia menambah satu buah plum yang terjatuh pada lemparan pertama.

“Aku benar-benar minta maaf,” Sehun melanjutkan tanpa peduli,

Luhan menoleh, “Kenapa?”

“Membuatmu terlibat dalam masalah ini, Gosip murahan Jongin,” ia mengangkat bahu. Menunduk untuk menyembunyikan kilatan dimatanya setiap kali mengingat kejadian di kafetaria tempo hari. Namun sedalam apapun Sehun menyembunyikannya, Luhan tahu. Ia menggeser posisi duduknya dan mendaratkan tepukan di bahu temannya.

“Tidak, Kau sama sekali tidak bersalah. Sejak awal aku sudah menduga Jongin memang tidak menyukai kita, terkhusus kau, Sehun.” Luhan mendorong Sehun dengan telunjuknya.

“bisa dibilang, ia.. iri padamu,”

“Jongin.. iri.. Padaku?” dahinya berkerut, ia tidak tahu ada apa pada dirinya yang bisa membuat Jongin iri.

Luhan menjawab pertanyaan yang tersirat di wajah kebingungan Sehun. “Entahlah, mungkin karena kau lebih populer darinya, lebih pintar, lebih tampan, mungkin”

“—Hey, kau sedang memujiku?” Sehun lagi-lagi terkekeh. Luhan melemparkan sebuah apel padanya sebagai jawaban.

“Tapi, aku serius. Jongin dan aku sangat jauh berbeda. Ia punya kehidupan sekolah yang menyenangkan, punya banyak teman. Apa yang membuatnya iri padaku?”

“Kebahagiaan bagi setiap orang berbeda, kau tahu,” Tidak cukup untuk menjawab pertanyaan Sehun, namun Luhan mulai bersikap serius. Ia berhadapan dengan Sehun dan nampak menimbang-nimbang.

“Contoh kecilnya seperti.. kebahagiaan untukku adalah merakit miniatur kapal dalam waktu tiga puluh menit. Dan kebahagiaan untukmu adalah ketika Yoon Jae In—“

“—Hey! Hey! Hentikan, Luhan” Sehun mengacungkan telunjuknya, ia dengan mengejutkan mendorong Luhan dan membekapnya dengan bantal. Kedua lelaki itu tertawa sampai terbatuk-batuk.

“Hahaha! Lepaskan Sehun,” Luhan menepuk-nepuk kasurnya, seperti memberi tanda menyerah pada permainan gulat.

“ini sudah mulai tidak lucu. Jangan membicarakan gadis itu lagi, mengerti?”

“Tidak! Tidak akan, Sehun! Jangan menindihku! Kau berat, bodoh!”

Sehun mengangkat tubuh dan melepaskan Luhan, Ia kembali duduk seperti biasa, hanya saja diatas ranjang nyaman Luhan dan nafasnya tersengal, suara tawanya putus-putus. Luhan tidur terlentang, menghadap langit-langit kamarnya sambil masih mengumpulkan nafas.

“Ngomong-ngomong soal Jae In, aku masih penasaran apakah ia sudah tahu tentang kejadian di kafetaria, ketika aku..”

“—melakukan hal bodoh itu?” Luhan memotong dengan skeptis.

“ya, dia ada tepat di belakangmu, dan dia me—“

“apa? Kau bilang.. Jae In ada di belakangku? Bagaimana bisa?!” Sehun menoleh dengan gusar,

“Ya.. bisa saja. Kebetulan aku yang membawanya kesana,” Jawaban Luhan terdengar santai, ia masih berbaring ketika Sehun melontarkan pandangan tidak percaya padanya.

“..Apa? Aku tidak bermaksud kok,”

Luhan bangkit untuk duduk disamping Sehun. Ia yakin pria itu memerlukan penjelasan selain wajah tidak bersalahnya. Ia memandang Sehun dengan gugup.

“Aku hanya ingin membantumu menyampaikan undangan makan malam itu. Dan tahu-tahu saja kejadiannya jadi seperti itu,”

Luhan mendapat kesan aneh pada wajah Sehun. Raut wajahnya sulit diartikan, bola matanya bergerak-gerak gelisah.

“Hhh..” kemudian Sehun mendesah, mengacak rambut dengan frustasi.

“Kau tahu, ini tidak baik. Bagaimana jika ia mengadukannya pada orangtuaku saat makan malam nanti kalau aku.. ewh~” Sehun memasang tampang jijik.

Luhan tidak ada hentinya menggoda Sehun. “Hanya itu? Apa kau yakin?” ia mendekatkan wajahnya.

“maksudmu?”

“Maksudku.. kau mungkin saja khawatir Jae In akan menganggapmu apa, masalahnya.. mencium seorang gadis di depan umum sangat..” Luhan menghentikan kata-katanya setelah melihat wajah Sehun, memerah.

“Luhan-ssi..” gumamnya pelan,

“aku tidak peduli jika orang-orang menganggapku pengecut atau apa, aku hanya melakukannya untuk membuktikan bahwa, kita..”

Ah, lupakan..

“Kau hanya mengikuti keinginan si Jongin sialan itu, kau terpancing”

“Oke, kau benar. Maafkan aku,” Sehun mengangkat kedua tangannya,menyerah. Ia tidak punya kata-kata lagi untuk mengelak selagi Luhan menyela untuk kesekian kali,

“Tidak, tidak.” Luhan bangkit dari tempatnya. berjalan ke arah jendela dan itu terasa melegakkan, setelah selama berjam-jam dirinya berdiam diri di kasur dengan kebosanan.

“Bukan begitu, hanya saja..”

Ia berpikir sejenak,

“entah kenapa aku berpikir bahwa kau perlu meminta maaf pada gadis itu, Yoon Jae In

­____________

Sebuah kedai Ice Cream adalah tempat pemberhentian mereka, pada akhirnya. Chanyeol telah mengantar Jae In mengelilingi toko-toko kue di sepanjang jalan, membiarkan gadis itu memilih berjam-jam tanpa hasil, mencari lagi dan akhirnya menemukan sebuah kue berukuran medium yang sempurna.

“Boleh aku mencoba punyamu, strawberry dengan .. alpukat?”

“Bukan alpukat bodoh, ini green tea,” Jae In memasukkan satu suapan Ice Cream ke mulutnya, tanpa memperdulikan Chanyeol.

“Siapa peduli, warnanya hampir sama. Boleh ya?”

“Kau yang membelikkannya untukku, tentu saja boleh. Ambil sesukamu,” Matanya melengkung, tersenyum. Ia mendorong mangkuk miliknya ke tengah meja agar Chanyeol dapat dengan mudah menyendok. Setidaknya, karena alasan Chanyeol yang membayar, mereka bisa makan bersama untuk saat ini. Mungkin Jae In juga bisa meminta ice cream cokelat milik Chanyeol.

Namun, pria itu tidak menyentuh sendoknya. Ia terdiam selama beberapa saat,

“Ada apa? Tidak jadi? baguslah—“

“—Suapi aku, Jae In-ya,”

BRAK!

Telapak tangan gadis itu menggebrak meja dengan refleks,

“Kau ini apa-apaan?! Diberi Ice Cream minta jantung hah(?)!” Jae In memajukan bibirnya.

“Hey! Apa tidak salah nona, aku yang memberimu Ice Cream,”

“Kalau begitu sini! Aku suapi kau!” Jae In mengacungkan ‘cakarnya’,

ya, cakar.

“Tidak! Tidak hahaha, aku hanya bercanda, tenang saja! Kau cepat sekali naik darah!” Chanyeol tertawa dengan lantang tanpa memperdulikan tatapan pengunjung lain yang tertuju pada sumber kericuhan. Tatapan mereka mengintimidasi, seakan barusaja melihat dua orang kurang waras mengamuk di sebuah kedai es krim.

Jae In mendelikkan mata, mencoba untuk duduk kembali dengan tenang seperti tidak terjadi apapun sebelumnya. Menjauhkan mangkuknya dari Chanyeol dan menatap lekat-lekat pada pria itu.

“Berhenti bersikap menjengkelkan Chanyeol, kau membuatku malu!” bisiknya denga tegas, pria di depannya hanya bisa menahan tawa.

Chanyeol kemudian memainkan sendok miliknya, mengaduk sisi Ice Cream cokelatnya yang hampir mencair dengan garis wajah lain. Tawanya telah berubah menjadi senyum, senyum yang tersungging malu- malu di sebelah sudut bibirnya.

“Habisnya.. itu lucu, membuatmu marah.” Gumamnya, dengan suara sehalus butiran es yang mencair di mulut Jae In. Gadis itu terdiam sejenak ketika mendengar perkataan Chanyeol yang kali ini, terasa aneh.

Setelah itu, tak ada lagi keributan yang muncul dari meja nomer sembilan di sudut ruangan. Gadis itu menyibukkan diri dengan strawberry-green tea-nya. Menimbulkan dentingan sendok yang ganjil seraya mati-matian menahan rasa gugup. Mengabaikan sepasang mata didepannya yang terasa tak lepas sedetikpun, dengan sebelah tangan menopang dagu, mengamatinya seperti sebuah lukisan.

Ia tidak berani melihat mata itu, bola mata cokelat milik Park Chanyeol yang sejak tadi menatapnya dalam diam.

Pukul empat sore, ia harus pulang. Ia tidak ingin membiarkan waktu berjalan terlalu cepat- jika itu berarti- ia menikmati harinya bersama Chanyeol. Ia benar-benar tidak ingin.

____________

“Ya Tuhan, Apa yang baru saja aku lakukan?.” Jae In baru saja kembali pada sekitar pukul enam sore. Ia berjalan terseok-seok menuju rumahnya dengan penuh penyesalan. Chanyeol baru saja mengantarnya sampai di persimpangan jalan, tepat ketika ia memeriksa ponselnya yang sejak tadi dimatikan, menerima beberapa pesan masuk yang diantaranya dari sang ibu, serta sahabatnya Bin Rae.

“Bin Rae berusaha menghubungiku, dan aku, menghabiskan waktu dengan Chanyeol?” rutuknya pada diri sendiri. “Yang benar saja?! Aku benar-benar menjijikan” Ia meringis melihat dua panggilan tak terjawab dan pesan-pesan singkat Bin Rae. Semuanya, menanyakan bagaimana keadaan Jae In. Apakah ia baik saja tentang kemarin dan bahkan –sialnya-, Park Chanyeol telah membuatnya lupa. Ia tidak ingin sampai Bin Rae berpikiran macam-macam.

“Bagus, Bin Rae. Kau mengingatkanku soal Sehun, aku jadi mual.” Ia memasukkan ponselnya kedalam saku. Membuka pagar rumahnya dan masuk kedalam cepat-cepat.

Jae In mendapati keluarganya tengah berembuk di ruang tengah, dengan panik. “Aku..pulang,” gumamnya seraya memandang aneh.

“Jae In!”

“Ya Tuhan, Jae In!”

“Kemana saja kau, Eonni?”

Semua orang bereaksi berlebihan, menurutnya. Ia begitu lelah mencarikan kue yang tepat dan mereka bahkan bertanya ‘kemana saja kau’.

“Aku mencarikan kue,bukan? Untuk kado pernikahan orangtua Sehun.” Jelasnya malas. Ia meletakkan tas selendang serta kotak berisi Lemon Cheesecake yang entah seperti apa keadaannya sekarang. Masalahnya, Chanyeol mengendarai motor seperti orang gila yang kerasukan arwah setan pembalap . Ia tak yakin apa bentuknya masih menyerupai kue atau sudah jadi —kau tahu lah,

“Ya, aku tahu. Tapi kau bahkan belum bersiap-siap. Kita akan pergi tak lama lagi,”

“Kalau begitu aku tak akan ikut,” Timpal Jae In dengan dingin, ia langsung mendapatkan tatapan menusuk dari ketiga orang di depannya.

“Maksudku, aku memang tak berencana ikut, lagipula.. kepalaku sakit, aku sangat lelah Eomma, Appa. Besok aku harus sekolah dan aku tidak mau terlambat karena terlalu menikmati pesta,” jelasnya panjang lebar, tentusaja, semuanya omong kosong. Ia tak mau mendengar orangtuanya berkomentar lebih. jadi, Gadis itu memutuskan untuk cepat-cepat menaiki tangga. Mengurung diri di kamar.

“sampaikan salamku dan ucapan selamat, untuk Tuan dan Nyonya Oh,” serunya dari atas, disusul suara pintu yang dibanting.

Jae In bersandar di balik pintu, wajahnya muram seketika. ‘pergilah, aku bahkan tak akan bisa menikmati pestanya,’

“Sepertinya kita harus segera pergi, biarkan saja.” Nyonya Yoon mengambil kotak kuenya, meminta bantuan Hae In untuk membukakan pintu depan.

Lalu suaminya bergumam,

“Sayang, apa hubungan Sehun dengan Jae In baik-baik saja? Aku punya firasat buruk soal mereka,”

____________

“Sehun! Oh Sehun! Apa yang sedang kau lakukan di atas?!”

“Tidak ada! Aku akan segera turun Eomma!”

‘Sial!’ umpatnya dalam hati, ia membuka lagi kemeja merah yang telah dipakainya, bahkan kemeja itu sudah dibubuhi wangi parfum favoritnya. Dan ketika ia bercermin untuk kesejuta kalinya, Sehun mengutuk dirinya sendiri karena ternyata kemeja Biru dengan garis-garis hijau lebih bagus. Dasar labil,

“Oke, sepertinya aku sudah cukup tampan,” ia mengaitkan kancing terakhir, dan berniat melangkah ke sudut kamar untuk bercermin namun, ia mengurungkan niat.

“Tidak, tidak. Cermin itu terkutuk. Aku harus ganti baju lagi kalau melihat kesana—“

“Sehun!!! Cepatlah!! Keluarga Yoon sudah tiba!!”

“Ya, ya!! Aku selesai!” serunya dengan emosi, ia membanting pintu dan berjalan buru-buru ke bawah. Mulutnya berkomat-kamit mengucapkan sesuatu seperti ‘aku tampan, ya aku tampan, aku tahu, aku tampan, Luhan bilang aku tampan’

Sehun menggosok-gosok tangan, ekspresi wajahnya berubah seketika saat tiba diruang tengah. Mendapati ada sesuatu yang kurang.

Kemudian, Hatinya mencelos.

_________

“Sehunnie, bagaimana perilaku Jae In disekolah? kudengar kalian tidak di kelas yang sama. Tapi kau pasti sering mengobrol dengannya ‘kan?” Nyonya Yoon mengajukan serentet pertanyaan pada Sehun disela-selan makanan penutupnya, Lemon Cheesecake yang langsung dihidangkan.

Sehun hampir tersedak, ia tak sengaja menjatuhkan garpunya dan segera mengambil segelas air putih.

“Oh, kau tak apa nak?”

“Tidak apa, Ahjuma.” Ujarnya sambil tersenyum kaku, “ Kami , yah, kadang-kadang cukup sering berpapasan sewaktu-waktu, lumayan sering. Kami saling menyapa.”

Wanita di samping tempat duduknya terdiam, ia merasa ada yang lucu dengan kalimat Sehun. Dan pada akhirnya hanya bisa menjawab ‘oh, baguslah’

‘kadang-kadang-cukup-sering-berpapasan-sewaktu-waktu-lumayan-sering’. Ia mengulangnya dalam hati,

Nyonya Oh melirik dan menyadari pembicaraan mereka, ia menyambung selagi para pria disana –suaminya,- mebicarakan hal-hal berbau pekerjaan yang tidak menarik untuk didengar dan menoleh pada Sehun. “Sayang sekali Jae In tidak bisa hadir, apa sakitnya parah?” wanita berambut cokelat itu beralih pada Yoon.

“Tidak, hanya kelelahan. Jae In hanya butuh tidur,” jawabnya sambil tersenyum.

Nyonya Oh mengangguk penuh pengertian dan kemudian, terdiam beberapa detik karena menyadari sesuatu.

“Sehun, kau bisa menjenguknya ‘kan? Antarkan puding yang kubuat, Jae In pasti akan sangat senang!”

Jeng! Jeng! Jeng!

‘Apaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa??!!’ Sehun menjerit dalam hati,

“me.. menjenguk… Yoon Jae In?”

Ibunya mengangguk lagi, tampak bersemangat. Tapa peduli dengan seperti apa wajah shock anak laki-lakinya sekarang, ia bangkit dari kursi dan menarik piring porselen lebar di tengah meja makan. Memotong seperempat besar puding cokelat dan memindahkannya pada piring kosong lainnya.

“Ini, pergilah. Jae In pasti menyukainya, Dia tidak sedang diet kan, Nyonya Yoon?”

“Tidak, dia bukan gadis seperti itu,” jawabnya kemudian, sambil tertawa.

“Cepat, apa yang kau tunggu?” Eommanya merengek ketika Sehun tak bergeming, ia seperti membeku dikursinya.

‘Sudah kuduga, Seharusnya aku pakai kemaja warna merah,’ gumam Sehun dalam hati.

___________

Aku tidak tahu pasti apa yang Eomma pikirkan sampai-sampai menyuruhku mengantarkan puding pada Yoon Jae In. Ia kira aku maid atau semacamnya, dan ia kira, jika aku kesana dengan membawa sepiring puding cokelat yang terlalu enak bagi gadis itu, ia akan menyambutku dan aku akan merawatnya lalu kami berbincang dan tertawa-tawa. Tidak mungkin,

Jadi, aku tak bisa menolak Eomma karena ia kira hubungan kami baik-baik saja. Tahu-tahu aku sudah berada di ruang tengah rumah keluarga Yoon. Mengendap-ngendap seperti perampok di malam hari.Ya, aku tahu persis letak kamar gadis itu. Tapi bahkan, aku sangsi apa lututku masih mampu menaiki tangga dan tanganku masih sanggup mengetuk pintunya. Tulangku pasti sudah remuk duluan.

Agak berlebihan sih, nyatanya aku sudah sampai disana, berdiri memegang sepiring puding dan merasa bodoh, Tulangku tidak retak. Tapi sepertinya darahku berhenti mengalir. Aku mengambil nafas dan membuangnya berkali-kali. Tetes demi tetes keringat jatuh di pelipisku seperti gerimis.

Sesaat, mataku menemukan sebuah keranjang sampah di sudut lorong. Dan mulai berpikiran jahat.

‘Tidak, kau tidak boleh membuangnya lalu mengatakan bahwa kau sudah menemui Jae In. Itu akan berbahaya kalau ketahuan’

‘Jangan memakannya juga, alibi ini bisa membuatmu nampak seperti lelaki jahat yang kelaparan,

‘Lalu apa?!’

Apa aku harus berdiri disini sepanjang malam sampai Jae In membuka pintu dan menemukanku mati konyol gara-gara gugup? .

Aku menatap pintu berwarna putih itu dengan gusar. Ada plakat dari kuningan yang tergantung disana, namanya dalam huruf Hangeul. Aku menatapnya dengan tatapan putus asa. dan tiba-tiba saja sebuah ide cemerlang melintas di kepalaku.

Ini tepat sekali, aku tak tahu kenapa baru terpikirkan sekarang. Aku hanya tinggal menaruh pudingnya di meja makan atau lemari pendingin di dapur, lalu kembali kerumah dan mengatakan pada Eomma bahwa Jae In sepertinya sudah tidur jadi aku tidak berani mengganggu. Bingo!

Jadi aku cepat-cepat melangkahkan kaki untuk menyingkir dari sana. Namun tepat sebelum aku menuruni tangga, Sebuah gumaman mengusikku. Datang dari kamar Yoon Jae In, Cukup Jelas sampai membuatku penasaran. Aku malah tergoda untuk kembali dan menempelkan telingaku di daun pintu berwarna putih itu.

.

.

“Tidak.., aku sudah tidak lagi menyukai Oh Sehun, percayalah,” katanya.

Lalu aku benar-benar membeku disana.

——To Be Continued——-

Apa-apaan itu endingnya -____-

Selesai!!! Cape gak sih bacanya? Membosankan kah? Apakah masih harus dilanjutkan? Yah, jari-jari saya sudah bengkak jadi sepertinya gak akan banyak cuap cuapnya wkwkw 😀 ceritakan bagian mana yang jadi best part kalian ya reader J)) POKOKNYA COMMENT COMMENT COMMENT!!! Author akan sangat merasa dihargai dengan comment kalian, bye, terimakasih ^^

*big thanks buat admin yg sudah posting loh^^

Iklan

48 respons untuk ‘Forelsket First Kiss [Chapter 4]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s