Let Me Call You [Episode 1]

니이름을 불러 [ 1 ] ‘Let Me Call You [Episode 1]’

니이름을 불러 커프

Cast :

Park Chan Yeol as Park Chan Yeol ( 박찬열 )

Kim Joon Myeon – Su Ho as Su Ho (수호)

Song Ji Hyo as Moon Jae I (문재히) (or you can imagine as an OC)

Do Kyung Soo as Moon Kyung Soo ( 문경수)

Park Sam Dong ( 박삼동 ) (OC)

Jang Ha Ni ( 장하니) (OC)

Other

Genre : Angst, Romance, Life Slide

Author : Lee Young

Length : Multichapter

PG-17

Prolog

Begitu banyak hal yang terjadi di dunia ini…

Kadang, tanpa sadar kau menyukai hal yang seharusnya kau benci.

Dan kau membenci hal yang seharusnya kau sukai.

Parahnya tidak ada yang tahu kau akan terjebak di sebuah drama manis berujung pahit atau drama pahit berujung manis.

Ketika itu, usiaku baru menginjak 6 tahun.

Sebenarnya aku tidak tahu pasti berapa usiaku saat itu. Tapi kakakku selalu berkata jika usia 6 tahun adalah usia yang cukup matang untuk menyebut semua hal yang ingin kuraih ketika dewasa nanti, dan dia bilang aku harus segera memikirkan semua rencana kehidupan di masa depanku. Jadi saat itu aku percaya bahwa usiaku sudah 6 tahun dan aku berhak menyebutkan semua yang aku inginkan.

Jujur saja, ketika itu aku tidak begitu mengerti apa itu cita-cita. Yang aku tahu hanya sebatas hal yang harus ku miliki jika aku sudah terlanjur mengucapkannya, tidak peduli apapun yang terjadi.

Keegoisanku sebagai anak-anak muncul dan terus tumbuh. Besar dan semakin besar setelah aku yakin jika menjadi artis adalah cita-cita yang tepat untuk kujalani.

Tidak ada yang melarangku untuk menjadi artis ketika aku menceritakan cita-citaku, kecuali ibu. Karena aku tahu jika ayah dan kakakku mengira bahwa aku akan segera mengubah keinginanku seiring dengan berjalannya waktu. Namun ibu dengan tegas langsung melarangku. Ibu berkata jika dunia artis itu kejam. Lebih kejam dari dunia di film dinosaurus favoritku.

Ibu berkata seolah-olah aku akan langsung menjadi artis begitu aku menginginkannya.

Walaupun aku tidak tahu maksud Ibu dengan kata kejam.

Apa mungkin artis akan saling kejar dan saling makan? Menginjak-injak yang lemah lalu membunuhnya? Mencari mangsa di kerumunan tak berdaya yang lengah di tengah padang rumput?Atau jika tengah sial-sialnya, malah dikeroyok oleh pasukan kecil-kecil dalam jumlah banyak hingga dia tewas?

Aku tidak tahu, sungguh. Dan aku belum mendapatkan penjelasannya karena Ibu sudah terlanjur meninggalkanku tanpa sebuah alasan yang jelas. Sementara Ayah, tidak pernah sekali pun menyinggung cita-cita yang aku ungkapkan. Hingga aku benar-benar mendapatkannya. Cita-citaku.

1 [Episode 1]

CUT!

Chan Yeol melepaskan pelukannya dari tubuh Han Hae Jin, lawan mainnya di sebuah drama. Laki-laki itu membungkukkan tubuhnya. Tanda hormat atas kerjasama yang telah mereka jalin selama beberapa bulan di lokasi syuting.

“Akting yang bagus, Chan Yeol-ssi. Terima kasih atas kerjasamanya,” Hae Jin berkata manis. Gadis itu tersenyum sebari membenarkan selempangan tas yang menjadi properti aktingnya kali ini.

Chan Yeol terkekeh. Dia menggeleng, “Tidak. Kau yang bagus. Terima kasih atas kerjasamanya, Hae Jin-ssi,” balas Chan Yeol dengan kalimat yang sama. Membuat keduanya tertawa bersama sebelum akhirnya berjalan berdampingan untuk menuju kru yang tengah melihat rekaman adegan scene terakhir drama.

Sebelum bercerita lebih jauh, perlu diketahui bahwa Park Chan Yeol dan Han Hae Jin adalah dua dari sekian banyak artis yang tengah naik daun akhir-akhir ini. Mereka beradu akting di sebuah drama romance dengan alur cerita rumit dan penuh intrik. Permasalahan diantara keduanya tidak hanya tentang perasaan, tapi juga harga diri dan keselamatan. Permasalahan yang sengaja diangkat dan membuat rating drama mereka menduduki posisi teratas dari jajaran drama yang lainnya. Sebuah prestasi yang membanggakan.

“Akhir yang indah. Selamat” ucap Jung Dong Ah, seorang pria paruh baya berkacamata yang berperan sebagai sutradara drama. Seulas senyum tampak melengkung di bibirnya. Sesaat kemudian Dong Ah berdiri dari kursinya, menatap kearah beberapa kru yang berada di kejauhan.

“Baiklah!! Karena hari ini kalian sudah bekerja keras, sebelum episode terakhir ini ditayangkan aku ingin mengundang kalian ke rumahku. Kalian semua!!!” teriakan Dong Ah langsung disambut oleh gemuruh tepuk tangan kru yang lain. Pria itu berhasil menguasai mood semua orang. Bahkan Chan Yeol ikut mengangkat tangannya tinggi-tinggi, bertepuk tangan dan bersorak kegirangan menyambut undangan sutradara Dong Ah.

“Kalian berdua dan seluruh pemeran drama ini juga termasuk! Produser Kang sudah merencanakan acara ini sejak dulu, dan aku eksekutornya” lanjut Dong Ah kepada Chan Yeol dan Hae Jin. Membuat keduanya tertawa lalu mengangguk mengiyakan, “Tentu saja seonsaeng. Aku pastikan, aku datang” jawab Chan Yeol riang.

Pembicaraan tentang episode terakhir drama terus berlanjut. Kesibukan terakhir mereka di lokasi ini, membuat semua orang tidak ingin tergesa-gesa untuk pulang. Termasuk Chan Yeol, Hae Jin, dan beberapa artis lain.

Membicarakan momen-momen berharga mereka ketika syuting menjadi topik hangat sore ini. Semua orang tenggelam dalam pembicaraan. Mereka tertawa bersama, sembari meneguk coklat panas. Terkadang gurauan, ejekan, pujian, atau sekedar celetukan tidak penting terlontar dan ditanggapi dengan cara yang menyenangkan. Tanpa mereka sadari jika di balik dinding kafe tempat syuting dan istirahat mereka, seorang laki-laki misterius tengah memotret dari balik jendela. Dia memotret seseorang yang sama secara berulang, sebelum akhirnya bergerak untuk memotret orang-orang di sekitarnya.

“Sebelum bekerja semalaman, bagaimana jika kita mencari ddeokbokki atau ramyeon di luar?”

“Ye, ye, ide yang bagus. Aku dengar, di sekitar sini ada kedai ramyeon yang enak”

Percakapan antarkru membuat laki-laki itu menghentikan aktivitasnya. Dia segera memasukkan kameranya ke dalam tas dan berlari dengan wajah tertunduk sedalam yang dia bisa, sebelum ada yang sadar dengan hal mencurigakan yang dia lakukan. Tapi terlambat, salah seorang diantara dua kru sudah menolehkan kepalanya ketika mendengar suara berisik langkah kaki yang menjauh dari cafe.

“Nuguji (누구지)?” salah seorang kru tersentak ketika melihat siluet hitam berlari menjauh dan menghilang di kegelapan.

“Nugu(누구)?” kru yang lain melonggokkan kepalanya, mengikuti arah pandang teman di sebelahnya.

“Entahlah. Baru saja sebuah bayangan hitam berlari ke arah sana. Mungkin sasaeng,” jawaban itu meluncur dengan nada ringan setelah siluet itu benar-benar hilang dari pandangannya. Sebuah jawaban yang menunjukkan jika tidak ada seorang pun diantara mereka yang ingin mengambil pusing kejadian barusan. Lagipula sasaeng memang ‘gangguan’ yang wajar untuk artis setingkat Chan Yeol cs.

Teman di sebelahnya, mengangguk mengiyakan. “Baiklah, tidak begitu penting. Jadi, kita akan mencari ramyeon dimana?”

“Kata temanku, di sekitar sini”

©©©

Malam semakin larut. Suara jangkrik dan binatang malam terdengar bersahutan di keheningan lokasi parkir cafe. Cafe tempat syuting ini memang terletak di sebuah kota kecil. Tidak seperti halaman cafe di Seoul yang penuh dengan desing suara kendaraan dan dengung keramaian banyak orang. Keheningan mendominasi malam di tempat ini, membuat takzim siapa saja yang berjalan berdampingan sambil membicarakan sebuah topik ringan.

Chan Yeol dan Dong Ah tampak berjalan dari kejauhan. Suara langkah kaki mereka langsung mendominasi seluruh suara malam yang ada.

“Aku berjanji tidak akan menghubungimu lagi jika kau tidak datang ke rumahku besok,” kata sutradara Dong Ah sembari terkekeh.

Chan Yeol menoleh sekilas. Laki-laki jangkung itu segera tersenyum. Dia tahu, Jung Dong Ah pandai bergurau, dan kalimat itu juga termasuk salah satu gurauannya.

“Tentu saja aku akan datang, Jung seonsaeng. Lagipula, aku sudah menganggap kalian sebagai keluargaku. Aku anggap pesta di rumahmu besok adalah awal dari pertemuan kita, bukan perpisahan”

“Ye, kau benar,” balas Dong Ah lalu menghela napas. “Aku harap, setelah ini aku masih bisa bekerjasama denganmu lagi Park Chan Yeol.” lanjutnya. Pria berkacamata itu menghentikan langkahnya secara mendadak, membuat Chan Yeol yang berjalan di sampingnya pun ikut menghentikan langkah.

Dong Ah memutar tubuhnya, menjadi tepat berhadapan dengan Park Chan Yeol.

“Kau, begitu mirip dengan seseorang di masa lalu. Seseorang yang hebat di dunianya” kata Dong Ah tiba-tiba. Chan Yeol tidak heran. Laki-laki itu sedikit melengkungkan senyumnya sebari menatap Dong Ah di hadapannya. “Artis juga? Cinta pertamamu?” tanggap Chan Yeol.

Dong Ah terkekeh. Dia menggeleng. “Ye, dia artis. Tapi bukan cinta pertamaku”

“Park Sam Dong?” tebak Chan Yeol. Kali ini, Dong Ah tertawa geli dengan cara Chan Yeol menyebut nama Park Sam Dong–ayahnya sendiri.

“Park Sam Dong? Kau pikir ayahmu bisa sebaik kau dalam berakting? Ingat, dia adalah seorang penyanyi bukan aktor. Ah, dasar kau Chan Yeol. Kau pernah mendengar nama Baek Ah Joo?”

Chan Yeol mengangguk. Dia tahu benar siapa Baek Ah Joo. “Maksudmu, aku mirip Baek Ah Joo?”

“Seratus persen! Kau seperti duplikatnya” Dong Ah mengibaskan tangannya, lalu kembali melanjutkan langkah yang diikuti oleh Chan Yeol.

“Kalau aku boleh menyebut, kau ini seperti Ah Joo versi laki-laki,” lanjut Dong Ah.

Chan Yeol tersenyum samar.

“Kau ini bisa saja. Bagaimana mungkin aku mirip dengan Ibuku jika mengajariku akting saja dia tidak pernah?” jawab Chan Yeol setelah mengambil sebuah napas dalam.

“Aish kau ini! Bakat itu menurun di dalam dirimu. Sudah mendarah daging dan bersatu dengan jiwamu”

“Mungkin,” balas Chan Yeol lirih.

Seketika laki-laki itu terdiam. Dia memilih untuk terus berjalan menuju mobilnya, tanpa menganggapi sedikit pun ocehan Dong Ah di sampingnya. Karena memang dia sudah tidak ingin membicarakan hal yang berhubungan Baek Ah Joo atau pun Park Sam Dong lebih jauh lagi.

Perkataan Dong Ah tentang kemiripannya dengan Ah Joo, sudah bukan hal yang jarang dia dengar sejak beberapa minggu terakhir. Mungkin banyak diantara artis lain yang memiliki kemampuan akting melebihi Chan Yeol, tapi tidak dengan garis keturunan yang dimiliki Chan Yeol.

Sejak beberapa minggu lalu, publik mulai mengaitkan kesuksesannya dengan sejarah kedua orangtuanya di kancah dunia hiburan.

Walaupun awalnya, perkenalan Chan Yeol di dunia hiburan tidak serumit kondisinya saat ini. Karir laki-laki itu pun selama hampir 5 tahun terakhir, mulus tanpa pemberitaan berlebih terkait dengan statusnya sebagai anak pasangan artis.

Wajah laki-laki itu pertama kali terlihat di sebuah music video penyanyi terkenal tanpa ada yang sadar jika dia adalah anak dari Park Sam Dong, seorang mantan penyanyi terkenal di masa lalu. Hingga publik sendiri yang menemukan jika Chan Yeol adalah anak dari Park Sam Dong – Baek Ah Joo. Membuat semua orang berpikir jika Chan Yeol memang sengaja dilahirkan dan dibentuk untuk menjadi seorang aktor di masa depan.

Seketika itu, pikiran semua orang langsung penuh dengan kerumitan. Memperkirakan segala hal yang mungkin terjadi di dalam keluarga kecil Park Chan Yeol. Perkiraan yang sebenarnya sudah melanggar hak privasi Chan Yeol.

©©©

9 PM, X Hotel Restouran in a same day

“Hal macam apa yang sebenarnya kau inginkan?,” suara berat Sam Dong terdengar lirih diantara hiruk pikuk restoran malam ini. Sesekali, dia menghela napas lalu membuang muka dari seorang laki-laki muda di hadapannya. Rasanya dia ingin menendang laki-laki itu keluar dari tempat ini agar enyah dari pandangannya.

Topik pembicaraan laki-laki di depannya sudah terlalu jauh dari sekedar hubungan antarrekan kerja. Parahnya, Sam Dong tidak pernah merasa jika laki-laki di depannya adalah rekan kerjanya. Tapi rekan kerja anaknya. Rekan kerja dari anaknya yang paling berharga. Jadi jika diurutkan, bisa jadi rekan kerja anaknya ini sama berharganya dengan seorang ‘rekan kerja’ Sam Dong sungguhan.

“Aku hanya ingin dia bisa mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan, tuan”

“Memang apa yang seharusnya didapatkannya?” Sam Dong langsung menatap laki-laki itu begitu mendengar jawaban yang menurutnya tak masuk akal. “Chan Yeol sudah mendapatkan lebih dari yang dia bisa dapatkan,” lanjut Sam Dong.

“Belum. Dia belum mendapatkan semua yang seharusnya dia dapatkan. Saham itu–”

“Diam kau, Su Ho. Kau tidak memiliki hak apapun untuk berbicara tentang saham. Saham itu milik Ah Joo,” potong Sam Dong kasar. Setelah itu dia kembali membuang muka.

Diam-diam, urat Su Ho menegang. Laki-laki itu harus bisa menahan emosinya demi Chan Yeol–artis yang ditanganinya selama 5 tahun terakhir. Su Ho tahu, jika dia tidak berhak sedikit pun berbicara tentang urusan keluarga Park terlebih tentang saham Baek Ah Joo di sebuah perusahaan ternama. Tapi, kepercayaan yang Sam Dong berikan kepada Su Ho membuat Su Ho akhirnya tahu jika hampir 50% saham di perusahaan multidimensi itu adalah milik Ah Joo dan belum dipindah tangannya hingga saat ini.

“Tapi Baek Ah Joo–”

“Kau tidak tahu dampak apa yang akan terjadi jika semua orang tahu kalau saham itu milik Ah Joo,” potong Sam Dong sekali lagi.

“Karena sejak Ah Joo memegang 47% dari saham perusahaan itu, Ah Joo tidak pernah membiarkan orang tahu jika saham itu miliknya. Pemilik perusahaan itu, teman dekat Ah Joo sendiri yang membantu Ah Joo untuk bisa memiliki 47% saham tanpa ada seorang pun yang tahu. 47 % Su Ho. Jumlah yang terlalu besar, kau tahu itu?”

Untuk sesaat Su Ho hanya bisa menelan ludahnya. Hal itu adalah rahasia baru yang dia ketahui malam ini. Su Ho baru tahu jika Baek Ah Joo merahasiakan kepemilikannya di perusahaan itu.

“Tapi, kenapa?”

Sam Dong menggelengkan kepalanya sebari tertunduk.“Dampaknya terlalu besar untuk uri Chan Yeol, Su Ho. Aku tidak ingin kehilangan Chan Yeol seperti ketika aku kehilangan Jae Hyeon 20 tahun lalu. Kematian kakaknya sudah cukup untuk memperingatkan kami jika aku harus menjauh dari segala hal yang berhubungan dengan masa lalu itu. Semuanya. Kami harus meninggalkan semuanya dan memulai kehidupan kami jauh dari nama Ah Joo,” jawab Sam Dong dengan suaranya yang semakin melirih.

“Jauh dari nama Ah Joo? Wanita yang kau cintai?”

“Jauh, Su Ho”

“Tapi Chan Yeol? Dia malah terjun ke dunia yang sama dengan Baek Ah Joo, ibunya! Jangan bercanda, tuan” Su Ho tertawa kecut setelah mendengar semua yang Sam Dong katakan. Sungguh, semua ini di luar logikanya. Menjauh namun malah terjun ke dunia yang sama? Gila!

Tapi Sam Dong hanya mengangguk samar. Pria itu terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab dengan suara berat, “Karena ini, adalah cita-citanya sendiri. Menjadi artis dan terkenal adalah keinginan Chan Yeol sendiri. Dan kau adalah satu-satunya orang yang aku percaya untuk menjaganya di dunia ini, Su Ho. Dunia yang begitu kejam bagi uri Chan Yeol. Jadi aku mohon, tutup mulutmu jika itu berhubungan dengan Baek Ah Joo, termasuk saham itu. Demi Chan Yeol”

©©©

Su Ho membuka pintu apartemen Chan Yeol yang belum sepenuhnya tertutup. Laki-laki itu melongokkan kepalanya, mencari dimana pemilik apartemen yang dengan cerobohnya membiarkan pintu terbuka sementara terdapat begitu banyak barang berharga di dalam ruangan ini.

“Kenapa kau mengendap-endap, hyeong? Masuk saja” suara Chan Yeol terdengar ketika Su Ho tengah menatap kearah sofa yang biasa menjadi tempat Chan Yeol tergeletak.

Su Ho segera menegakkan posisi tubuhnya, lalu masuk ke dalam dan menutup pintu apartemen. Dia berjalan mendekati Chan Yeol yang sudah duduk di sofa sambil menggosok rambutnya yang masih basah.

‘PLETAK’

“Ish, hyeong!!!” pekik Chan Yeol setelah sebuah jitakan mendarat di kepalanya. Laki-laki itu segera menatap Su Ho yang sudah duduk di sofa kecil di sampingnya.

“Apa salah ku hingga kau menjitakku, hyeong? Aish… kau!! Kau tahu berapa harga kepala ku ini? Banyak produser yang mengincarnya agar bisa menaikkan rating drama mereka, kau tahu?! Aish, kau baru saja menjitak kepala artis terkenal… ah, sakit…” gerutu Chan Yeol sebari mengusap kepalanya yang masih berdenyut.

“Dan kau tahu siapa yang mengijinkan mereka untuk menggunakan kepalamu? Aku!! Aku manajermu, dan kau bilang kau tidak salah? Bodoh. Kau membuka pintu apartemen di saat kau mandi! Kau pikir kau bisa aman? Bagaimana jika ketika kau mandi, sasaeng masuk dan memasang kamera pengitai di tempat tidur, di ruang tamu, di dapur, bahkan di depan kamar mandi? Dan keesokan harinya kau akan mendapati kepribadian aslimu terekpos karena hasil rekaman itu tersebar di youtube?!” kata Su Ho menakut-nakuti.

Chan Yeol begidik ngeri. Laki-laki itu menatap Su Ho dengan keningnya yang berkerut dan sorot matanya yang hampir percaya dengan semua perkataan Su Ho.

“Tapi santai saja, tidak ada kamera pengintai yang berhasil mereka pasang” lanjut Su Ho. Membuat Chan Yeol menghela napas dan langsung melemparkan dirinya ke sandaran sofa.

“Kau selalu bisa membuatku merasa bersalah, hyeong” desis Chan Yeol. Mendengar kalimat itu, Su Ho terkekeh pelan.

“Apa yang ingin kau bicarakan hingga membuatmu kesini?,” tanya Chan Yeol pada akhirnya.

Su Ho menghela napas. Laki-laki itu mengeluarkan ipad-nya dan menunjukkan sebuah berita yang akhir-akhir ini tersebar.

“Kau sudah baca?” tanya Su Ho kepada Chan Yeol yang tengah menatap layar dengan keningnya yang berkerut. Sesaat kemudian, giliran Chan Yeol yang menghela napas. Laki-laki itu kembali bersandar di sofa dan mengangguk lemas.

“Kini semua orang mulai percaya jika keberhasilanmu ini berkat ayah dan ibumu. Kau bisa baca sendiri tadi, jika begitu banyak orang yang sangsi dengan keberhasilanmu bermain di berbagai film dan drama, hingga keberhasilanmu bekerjasama dengan production house milik tuan Geum. Sekarang, apa yang akan kau lakukan?” pertanyaan Su Ho terdengar lebih menakutkan daripada keheningan yang tiba-tiba tercipta di ruangan ini.

Chan Yeol hanya terdiam. Laki-laki itu pun mulai gerah dengan pemberitaan yang berlebih dari semua pihak yang tidak menyukainya. Mungkin fans tahu jika Chan Yeol berhasil karena usahanya sendiri, tapi yang lain? Tidak. Orang-orang mulai tidak mengagumi kemunculan Chan Yeol semenjak kehadiran berita itu beberapa minggu lalu.

“SNS,” jawab Chan Yeol lirih. Membuat Su Ho yang semula membaca berita di internet dan meratapinya, menatap Chan Yeol keheranan.

“Bagaimana jika aku membuat status di SNS jika aku sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan kesuksesan ayah dan ibuku?”

Su Ho memutar bola matanya. Bodoh.

“Kau pikir, SNS bisa membuat dunia takluk?”

“Tapi SNS-lah yang memulai ini semua hyeong”

“Tidak semudah itu, aku berani bersumpah,” kata Su Ho. “Karena menurutku, kau harus menjelaskannya ketika konferensi pers sebuah brand pakaian ternama, VX” lanjut Su Ho setelah menarik napas dalam, dan menyerahkan sebuah amplop undangan berlabel VX di depannya.

©©©

Matahari bersinar cerah. Aktivitas semua orang sudah dimulai jauh sebelum kicauan burung terdengar diantara deru mesin kendaraan.

Kupu-kupu tampak beterbangan di antara bunga yang masih berembun. Angin sepoi mengerakkan dedaunan hingga membuat air disana menetes jatuh ke tanah. Dan keindahan yang memanjakan mata terlihat di taman besar sebuah rumah mewah di sebuah kompleks perumahan elite kota.

Suara ketukan pintu juga mulai terdengar. Jarang namun berirama.

Tok, Tok, Tok.

Tok, Tok, Tok.

Seseorang di balik selimut abu-abu masih tak bergerak dan tak terlihat. Seluruh tubuhnya sempurna tertutup rapat oleh selimut tebal yang baru saja terpasang rapi 20 menit lalu, setelah dia tidur dengan posisi berantakan di atas ranjang.

Tok, Tok, Tok.

Tok, Tok, Tok.

Sekali lagi, ketukan pintu terdengar. Membuat gumpalan selimut-manusia itu bergerak memutar kearah pinggir ranjang.

Tok, Tok, Tok.

Tok, Tok, Tok.

“Sudah hampir pukul 8 pagi, Jae I-a”

‘BRAK’

Kali ini, suara nyaring dari arah luar berhasil membuatnya terjatuh ke bawah. Dan tidak butuh waktu lama, seorang gadis dengan rambut kusut dan super berantakan meraih sprei untuk membantunya berdiri dari lantai kamar.

“Jae I-a, apa kau masih tidur? Kau lupa dengan jadwalmu hari ini, Jae I?” suara seseorang dari luar terdengar semakin tak sabar dan panik.

“Jae I–“

“Aku sudah bangun. Wae geurae?,” kata Jae I serampangan setelah mendadak Jae I membuka pintu dan membuat kalimat Ha Ni terpotong begitu saja. Wanita berblazer abu-abu itu kaget dengan kemunculan Jae I yang terlampau kusut pagi ini.

“Ah, A.. kau tidak lupa jika hari ini kau harus bertemu dengan calon brand ambassador pakaianmu,kan?” tanya Ha Ni. Sedikit ragu dengan tingkat kesadaran Jae I.

Jae I mengangguk samar, “Ye, ye, na gieokhae, Na gieokhae ( 에, 에, 나 기억해, 나 기억해). (Ya, ya, aku ingat. Aku ingat). Aku–”

BRUUK

“JAE I?!!”

Jae I kembali terkapar di lantai dengan mata tertutup dan suara dengkuran samar.

Gadis itu, tertidur lagi.

©©©

“Aish!! Kenapa kau tidak membangunkanku?!!!” omelan Jae I menjadi satu-satunya yang terdengar sejak 10 menit lalu. Gadis itu kini tengah sibuk memoleskan lipstiknya di samping Ha Ni yang tengah menyetir mobil.

Pagi ini, mereka bergerak menuju ke distro milik Jae I untuk bertemu dengan calon brand ambassador merk pakaian yang perusahaan keluarga Jae I kelola.

“Hya, hya, hya, bisakah kau pelan-pelan? Lipstikku berantakan!!!”

Ha Ni memutar bola matanya. Gadis ini sudah kelewat sabar menghadapi manusia yang satu itu. “Salah sendiri bangun kesiangan”

Mendengar jawaban Ha Ni, Jae I langsung menurunkan lipstiknya. Gadis itu segera menatap Ha Ni lalu mendengus sebal.

“Bagaimana mungkin aku bisa bangun pagi jika kau tidak membangunkanku?”

“Aku sudah membangungkanmu, Moon Jae I. Aku sudah berulang kali mengetuk pintu dan menyebut namamu, tapi kau malah tertidur di lantai. Aku sampai harus berterima kasih kepada kucing mu karena berkat dia, kau bangun 15 menit sebelum acaramu dimulai,” balas Ha Ni ketus dan penuh penekanan, terlebih di bagian ‘15 menit sebelum acaramu dimulai’.

“Itu artinya Gi Weo yang membangunkanku, bukan kau”

“Jadi maksudmu, aku juga harus menjilati wajahmu agar kau bangun? Baiklah, besok kalau kau menginginkanku membangunkanmu lagi, aku akan lakukan”

Jae I mengerucutkan bibirnya dan lanjut memoleskan lipstiknya ke bibir. Sesekali dia mendesis karena kecepatan Ha Ni kali ini di luar batas normal.

“Jangan salahkan aku jika aku mengendarai dengan kecepatan seperti ini. Kau sudah terlambat lebih dari 15 menit,” kata Ha Ni lalu menginjak gas lebih dalam lagi. Membuat lipstik Jae I meleset hingga ke pipi.

Tapi kali ini Jae I tidak berteriak protes. Dia memejamkan mata lalu bersandar di jok mobil. “Jang Ha Ni, jebal (장하니, 제발)” rengek Jae I kemudian.

©©©

Chan Yeol melihat jam tangannya.

Ini sudah yang ke-10 kalinya dia menatap jam tangan namun orang yang ditunggunya belum juga datang. Sesekali, laki-laki itu melongok kearah luar lalu menghela napas karena bosan. Baru kali ini seorang tamu undangan menunggu seseorang yang mengundangnya untuk datang. Parahnya, kali ini Chan Yeol sudah hampir mati bosan duduk di sebuah sofa merah dalam distro.

Demi melihat perubahan wajah Chan Yeol, sebagai manajer distro dan orang yang bertanggungjawab penuh atas kenyamanan semua orang di distro ini, Lu Han mulai angkat bicara. Laki-laki kelahiran Cina dan berwajah manis itu mulai mengangkat teko kecil di hadapannya.

“Refill Chan Yeol-ssi?” Lu Han mulai membuka percakapan. Sedikit berbasa-basi dengan menawarkan refill kepada Chan Yeol.

Chan Yeol melepaskan pandangannya dari luar. Laki-laki itu menatap Lu Han yang tersenyum lebar di sampingnya.

“Mungkin nona sedang ada masalah dengan keluarganya di rumah, dan sedikit memakan waktu. Jadi, maafkan dia” lanjut Lu Han lalu terkekeh.

“Refill?”

Chan Yeol mengangkat tangan kanannya, sebari menggeleng. Dia tersenyum. “Sudah, terima kasih refillnya. Hmm… ya gwenchanna. Banyak hal tak terduga yang terjadi di luar sana. Iya,kan manajer Su Ho?” Chan Yeol melempar pembicaraan kepada Su Ho yang duduk di depannya. Karena dia sendiri pun malas untuk terlalu banyak basa-basi seperti saat ini. Lebih baik Su Ho saja yang meladeni basa-basi Lu Han.

Su Ho mengangguk. “Iya, benar. Jangan terlalu dipikirkan. Mungkin dia tengah sibuk dengan urusannya yang lain. Aku dengar, sekarang dia juga bekerjasama dengan desaigner luar negeri untuk pakaiannya.”

“Ye, benar sekali. Dia memang seorang pekerja keras yang selalu berusaha melebarkan sayap,” tanggap Lu Han dengan suara renyahnya. Chan Yeol tidak peduli.

“Jalhada. Aku dengar juga seperti,” balas Su Ho.

“Tapi walaupun dia begitu bisa menguasai pasar, sikapnya sebagai seorang gadis biasa juga masih melekat kuat. Kadang, dia bertingkah menggemaskan,” kata Lu Han bersamaan dengan suara pintu distro yang dibuka.

Chan Yeol yang hampir mati bosan, segera menegakkan posisi tubuhnya untuk melihat keluar. Begitu pula Su Ho. Kedua laki-laki itu seperti mendapatkan oase di padang pasir. Akhirnya yang ditunggu datang juga.

“Ah, itu dia datang. Moon Jae I” sambung Lu Han memperkenalkan Jae I dengan wajah yang terlampau bersinar cerah.

Tapi apa yang terjadi sungguh di luar dugaan.

Entah saking tergesa-gesa atau cerobohnya, Jae I yang berjalan di samping Ha Ni mendadak terjatuh terjerembab. Heel sepatunya patah. Membuat Lu Han yang semula tersenyum cerah, perlahan tersenyum aneh sambil melirik Chan Yeol dan Su Ho yang membatu di tempat. Tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.

Inikah Moon Jae I? Pemilik distro terkenal itu?

Su Ho perlahan melirik Chan Yeol yang masih ‘takjub’ dengan pemandangan di depannya, sementara Ha Ni sudah meringis sambil membantu Jae I untuk bangun dari lantai. Tidak begitu berbeda dengan Ha Ni, Jae I pun meringis sebari menatap kedua orang yang melongo di hadapannya. Berharap kedua laki-laki itu akan bersikap pura-pura tidak tahu dengan insiden pagi–menjelang siang ini.

“Ah, anggap saja kecelakaan kecil,” kata Jae I lalu melepas sepatunya.

“Jang Ha Ni-ssi, bisakan kau membawakan ku sepatu yang lebih baik dari sepatu yang ini?” lanjutnya. Sementara Ha Ni, hanya mengangguk mengiyakan lalu pergi mengambil sepatu.

Su Ho semakin khawatir dengan Chan Yeol yang mungkin akan menjadikan sikap Jae I sebagai bahan pertimbangannya untuk menjalin kerjasama. Laki-laki itu ikut-ikutan meringis, “Gwenchanna nona Jae I”

“Haha, iya, maafkan aku. Kalian sudah menunggu lama?” tanya Jae I sebari berjalan kearah sofa dengan telanjang kaki.

Lu Han terkekeh sungkan sebari berbisik kepada Su Ho yang berdiri di depannya, “Sudah aku bilang, dia sedikit menggemaskan”

“Sekali lagi jwesonghamnida karena kalian harus melihat heelku yang patah. Ehem, jadi sekarang bagaimana dengan surat tawaran yang aku kirim untuk saudara Chan Yeol kemarin malam? Apakah, Chan Yeol-ssi menyetujuinya?” lanjut Jae I tanpa cela. Gadis itu berpura-pura tidak pernah terjadi apapun dan langsung to the poin dengan maksudnya mengundang Chan Yeol. Kepercayaan diri yang terlampau tinggi dari seorang Moon Jae I.

Chan Yeol tidak menjawab. Laki-laki itu hanya diam sambil menatap Jae I yang sudah berdiri di hadapannya dengan pandangan keheranan. Membuat Jae I semakin lama merasa menjadi manusia terbodoh sepanjang masa.

Jae I yang semula tersenyum tanpa dosa, kali ini tersenyum sungkan. Sesuatu yang aneh mulai menyelimuti dirinya. Atmosfer kecanggungan–peruntuh segala bentuk kepercayaan diri–yang sangat tidak Jae I sukai akhirnya muncul juga. Sial!

“Apa ada yang salah dengan pertanyaanku, Chan Yeol-ssi?” tanya Jae I hati-hati. Tapi Chan Yeol masih saja diam. Laki-laki itu malah semakin intens menatap wajah Jae I. Membuat Jae I semakin salah tingkah. Sementara Lu Han dan Su Ho, menahan napas.

“Kenapa kau tidak menjawabku, tuan Park Chan–”

“Sebegitu tergesa-gesanya kah kau, hingga meninggalkan bekas lipstik di atas bibir mu?”

Zonk.

Jae I tersentak dengan kalimat mendadak Chan Yeol. Dia langsung menyentuh bibirnya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya menurunkan tas yang semula menggantung di pundak. Lu Han yang tahu maksud Jae I langsung bangkit dan meraih tas yang digenggam Jae I. Laki-laki itu segera mengobrak-abrik tas dan mengeluarkan cermin dari dalam.

“Ah, Ne, kau benar hehe. Terima kasih sudah mengingatkan,” kata Jae I setelah selesai mengusap coretan lipstik di atas bibirnya. Gadis itu segera menjejalkan kembali cermin ke dalam tas dan duduk di samping Lu Han.

“Lipstik itu baru pertama kali aku gunakan jadi sedikit meninggalkan bekas yang berlebihan. Teksturnya begitu lembut, jika kau mau tahu hehe” lanjut Jae I sebari terkekeh tak jelas. Sementara Chan Yeol hanya mengangguk lalu meneguk kopinya sekali lagi.

“Jadi, bagaimana? Kau pasti sudah membaca tawaranku. Apakah kau menyetujuinya, Chan Yeol-ssi?”

Chan Yeol sedikit melirik Su Ho. Laki-laki itu menghela napas lalu menatap Jae I yang sudah menatapnya penuh harap. “Memangnya, kapan pemotretannya berlangsung?” Chan Yeol balik bertanya ketimbang menjawab pertanyaan Jae I.

“Dua minggu lagi. Dan kau akan resmi menjadi brand ambasador distro ini bersama dengan Han Hae Jin dan juga Kim Jong Dae. Kau tentu tahu siapa Kim Jong Dae, kan? Baby dont cry, to night~ ,“ jawab Jae I berlebihan dengan diselingi menyanyikan sepenggal lagu Kim Jong Dae.

Gadis itu berusaha menarik perhatian Chan Yeol yang sudah menunjukkan wajah super datar yang sangat tidak enak dilihat. Tapi sesuai dugaan, Chan Yeol tidak tertarik untuk menanggapi lelucon Jae I.

“Apa mereka sudah menyetujuinya?” kali ini, nada sangsi mulai keluar dari mulut Chan Yeol.

“Sudah untuk Hae Jin. Dan mungkin, Kim Jong Dae akan menyetujuinya sore ini, mengingat jadwalnya padat karena world tour”

“Oh, begitu? Hmm… bagaimana jika aku memikirkannya lagi sebelum menyetujuinya? Karena sepertinya dua minggu lagi, jadwalku juga padat,” jawab Chan Yeol.

Su Ho yang mendengarnya sedikit tersentak. Karena dua minggu lagi, anak itu sama sekali tidak memiliki agenda apapun. Tapi, Su Ho tidak bisa menyela. Karena dia tahu apa yang tengah berputar di kepala Chan Yeol saat ini. Tentu saja, pertimbangan.

“Memikirkannya lagi? Hingga kapan?”

“Mungkin, lusa”

“Lusa?” Jae I melebarkan matanya. Tapi, sesaat kemudian dia segera berekspresi normal mengingat jika semua kekacauan ini ada karena tingkah cerobohnya.

“Iya, lusa. Nanti aku akan menghubungimu, atau jika belum juga ada kabar, pihak distro bisa menghubungi manajer Su Ho. Bagaimana manajer-nim?”

Su Ho mengangguk sopan. Laki-laki itu tersenyum ramah.

“Ne, dengan senang hati hubungi aku saja” jawab Su Ho sebari menatap kearah Jae I yang mulai bernapas lega.

Gadis itu terkekeh dan mengangguk paham. “Ah, syukurlah jika masih ada pihak yang bisa aku hubungi ha ha ha. Kita harus bersyukur kan Lu Han-ssi? Ha ha ha” Jae I terkekeh aneh sebari melihat kearah Lu Han di sampingnya.

“Kabar dari kalian akan menjadi oase di tengah gurun sahara bagi kami,” lanjut Jae I yang kali ini menatap Su Ho dan Chan Yeol secara bergantian.

Su Ho tertawa kecil menanggapi Jae I, sementara Chan Yeol hanya menghela napas karena ternyata ekspektasinya terhadap pemilik distro ini terlalu melebihi fakta yang ada.

Lagipula siapa sangka jika pemilik sebuah distro terkenal adalah seorang gadis ceroboh, yang dengan begitu mudahnya mematahkan heel di depan tamu undangan? Bahkan orang paling anti-fasion sekali pun tidak akan bisa menyangka jika ratu fasion bisa super-kacau seperti Jae I.

Chan Yeol kembali melihat jam tangan untuk yang ke-11 kalinya. Dan kali ini, Su Ho tahu jika gerakan itu adalah isyarat dari Chan Yeol untuk segera keluar dari tempat ini. Membuat Su Ho yang baru saja meletakkan cangkir kopinya, langsung menatap Jae I yang tampak kebingungan akan membicarakan topik apalagi. Gadis itu sudah mulai salah tingkah.

“Moon Jae I-ssi” panggil Su Ho, membuat Jae I langsung menoleh kearahnya.

“Sepertinya kami harus segera pergi dari sini. Sebentar lagi, uri Chan Yeol harus menghadiri sebuah acara di salah satu stasiun televisi”

“Oh, ya, tentu saja. Kami tahu jika Chan Yeol adalah seorang artis terkenal. Jadi, tidak ada yang bisa kami lakukan kecuali mengijinkannya pergi,” kata Jae I sebari berdiri dari sofa. Tanpa ada yang tahu jika sebenarnya Jae I pun ingin agar Chan Yeol segera pergi dari tempat ini. Kecanggungan kali ini sudah tidak bisa Jae I kendalikan lagi. Parah. Parah. Parah. Triple parah!!

Chan Yeol sama sekali tidak bereaksi dengan kalimat Jae I. Hanya Su Ho yang sempat terkekeh untuk menanggapi kalimat Jae I, sebelum akhirnya berpamitan dan pergi.

©©©

Jae I membanting tubuhnya ke sandaran sofa setelah kedua orang itu keluar dari pintu distro. Gadis itu sempurna lemas setelah melewati momen paling canggung dan memalukan yang pernah ada di sepanjang kehidupannya.

“Na Jugeda (Matilah aku),” desis Jae I lalu memejamkan mata.

Lu Han yang duduk di sampingnya pun ikut menghela napas sebelum meraih cangkir kopinya.

“Apa menurutmu aku akan dia bunuh setelah ini?” tanya Jae I sebari menolehkan kepalanya kearah Lu Han. Lu Han melirik sebari meneguk kopinya.

“Chan Yeol adalah artis yang diminta khusus oleh direktur utama, tapi aku malah mengacaukannya. Ish, mengecewakan,” lanjut Jae I sesaat kemudian. “Hajiman, bukankah Chan Yeol sendiri juga terlalu dingin? Lihat saja ekspresinya yang begitu angkuh itu. Ish, apa memang kepribadian aslinya seperti itu? Lagipula Hae Jin dan Jong Dae tidak seburuk Chan Yeol dalam menanggapiku”

Lu Han meletakkan cangkir kopinya lalu menatap Jae I.

“Bukan salah Chan Yeol jika dia bersikap seperti tadi. Kau terlambat setengah jam, Jae I. Bagi artis sekelas Chan Yeol, 30 menit itu terlalu berarti jika harus digunakan untuk menunggu. Dan berbicara tentang ‘dia’, apa yang kau maksud itu kakakmu?”

Jae I mengangguk lemas.

“Sejauh berita ini belum terdengar hingga ke Amerika, aku pikir kau masih bisa hidup dengan tenang,” jawab Lu Han lalu berdiri dari sofa bersamaan dengan kemunculan Ha Ni yang membawa sebuah plastik besar berisi kardus sepatu.

Raut ketegangan masih saja ada di wajah Ha Ni, hingga dia sadar jika Park Chan Yeol dan manajernya sudah tidak ada di samping Jae I.

“Ini sepat…. Park Chan Yeol–dia sudah pergi?” tanya Ha Ni. Gadis itu menatap Jae I dengan kedua alisnya yang saling bertautan. Ekspresi kebingungan tingkat wahid yang hanya dibalas dengan helaan napas panjang Jae I dan gelengan kepala Lu Han.

Ekspresi mereka berkata jika Chan Yeol sudah kabur, bukan pergi.

©©©

“Yang benar saja aku harus menandatangani kontrak dengan distro itu, hyeong!!!” protes Chan Yeol di samping Su Ho yang tengah mengemudi. Laki-laki itu tidak habis pikir dengan segala hal yang baru saja dia lihat terkait dengan Jae I dan distronya.

Su Ho sedikit melirik kearah Chan Yeol, “Kau berpikir akan menolak tawarannya? Jangan terlalu tergesa-gesa. Moon Jae I adalah satu-satuya harapanmu agar kau bisa berkata langsung ke publik tentang hubunganmu dan orang tuamu”

“Aku tidak yakin jika gadis itu bisa membantu. Kau lihat sendiri tadi, dia bertingkah konyol di depan tamu undangannya,” kata Chan Yeol setelah menghela napas.

“Ya, mungkin dia grogi karena melihatmu secara langsung. Banyak yang seperti itu,kan? Lagipula kau lihat sendiri tadi, dia begitu salah tingkah”

“Tapi bagaimana dengan keterlambatannya? Coretan lipstik di bibirnya? Heh! Dari semua hal itu aku bisa simpulkan jika dia bukan tipikal orang yang telaten”

“Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan, Chan Yeol-a”

Chan Yeol menggeleng tidak mengerti. Laki-laki itu mengeluarkan i-podnya dan mulai memasang headset di telinga.

“Sejauh ini aku tidak pernah salah menilai orang, hyeong. Dia itu konyol” desisnya.

Su Ho melirik Chan Yeol sekali lagi. “Ya, ya, terserah kau saja. Tapi kau tetap harus menyetujuinya jika kau masih ingin hidup di dunia ini.” gumam Su Ho kepada Chan Yeol yang sudah memejamkan mata di sampingnya.

©©©

“Appa!! hyeong!!!” seorang anak laki-laki berusia 7 tahun menangis sebari melihat ke sekeliling. Sejauh mata memandang, hanya pohon dan pohon. Suara yang terdengar pun hanya suara hewan malam dan riak air sungai.

Darah kering tampak di dahi bocah itu, sementara jemarinya terluka setelah terperosok ke dalam sebuah jurang bersama dengan sepeda motor yang dikendarainya dengan ayah dan kakaknya.

“Appa….”

“Hyeong…”

Berulang kali dia memanggil ayah dan kakaknya, tapi tidak ada jawaban. Membuat anak itu semakin terisak ketakutan.

Dia mulai berdiri dari tempatnya terduduk, lalu berjalan ke arah yang tak tentu. Berusaha mencari ayah dan kakaknya. Dua orang paling berharga yang masih dia punya setelah kepergian ibunya.

Dia melihat kesekeliling, ke arah kegelapan malam, ke arah air sungai yang memantulkan sinar kekuningan rembulan.

“Chan… Yeol-a, hyeong di…sini Chan.. Yeol…” suara lemah dengan nada terputus terdengar dari arah sungai.

Chan Yeol segera melemparkan pandangannya, hingga mendapati seorang anak laki-laki memegang erat akar pohon dengan separuh tubuhnya hampir terjatuh ke dalam sungai. Tubuhnya lemas, sementara wajahnya sudah lebam karena teratuk bebatuan.

“Hyeong? Hyeong? Kau kah itu, hyeong?” dia segera berlari kearah kakaknya.

“Chan Yeol…”

“Hyeong,” Chan Yeol semakin ingin berteriak ketika melihat kondisi kakaknya. Dengan langkah takut, bocah itu mendekati pinggir sungai yang lumayan curam bersamaan dengan satu tangan kakaknya yang mulai mengulur kearahnya.

Isakan Chan Yeol terdengar semakin keras. Tapi bocah itu tetap saja mengulurkan satu tangannya untuk menyambut tangan kakaknya. Dia takut. Takut sekali. Dia takut dengan suara air di bawah sana. Takut melihat kilauan cahaya rembulan yang terpantul di bebatuan sungai. Tapi lebih takut lagi melihat kondisi kakaknya yang sangat memprihatinkan.

“Appa…” Chan Yeol hanya bisa menyebut ayahnya lirih ketika tangannya mulai meraih tangan kakaknya. Dia ingin sekali ayahnya muncul dan menolong mereka berdua.

Jae Hyeon semakin mengulurkan tangannya, begitu juga Chan Yeol. Tapi ketika jemari Jae Hyeon mulai bersentuhan dengan Chan Yeol, takdir lain terjadi di kehidupan mereka. Bersamaan dengan akar pohon yang tidak lagi kuat untuk mempertahankan tubuh Jae Hyeon. Membuat Jae Hyeon akhirnya terperosok ke dalam sungai di bawahnya dan hilang di kegelapan malam.

“Chan…AAAAAAAAA”

“HYEONG!!!!!”

©©©

“Hyeong!”

Chan Yeol tersentak. Laki-laki itu segera terbangun. Deru napasnya terdengar diantara suara samar musik yang mengalun dari headset yang masih menempel rapi di telinganya. Wajah dan lehernya basah oleh keringat. Tangannya terasa begitu dingin, dan sedikit bergetar. Kakinya sakit tanpa sebab.

Chan Yeol mengatur napas, sebari melepaskan headset dari telinganya. Dia mengacak rambutnya. Laki-laki itu kembali terpejam di sandaran jok mobil, sibuk mengatur degup jantung.

Mimpi buruk lagi rupanya.

“Ah, bisa-bisanya dia memerintah dengan seenaknya,” suara Su Ho terdengar setelah laki-laki itu kembali masuk ke dalam mobil. Chan Yeol segera menoleh ke samping, bersamaan dengan Su Ho yang menatap kearahnya.

“Sudah bangun kau rupanya” celetuk Su Ho kepada Chan Yeol.

Chan Yeol hanya mengangguk sebari merapikan headset dan I-podnya. Laki-laki itu kehilangan kata-kata setelah kenangan masa kecilnya kembali muncul sebagai mimpi buruk yang begitu menakutkan.

“Sebentar lagi kita sampai, jadi siapkan dirimu. Dan baru saja aku ditelepon oleh produser Kang terkait dengan 2 episode spesial dramamu baru-baru ini. Dia ingin bertemu denganmu sebelum tapping di acara stasiun tv itu dimulai,” lanjut Su Ho sambil sesekali melirik kearah Chan Yeol.

“Permintaannya sedikit mendadak memang, hingga aku harus menghentikan mobil dan sedikit mengungkapkan ketidaknyamananku kepadanya”

Chan Yeol hanya menghela napas. Laki-laki itu sama sekali tidak bisa fokus dengan kalimat Su Ho.

“Kau tidak apa-apa? Kenapa kau mendadak diam seperti ini, Chan Yeol-a?” tanya Su Ho begitu sadar jika Chan Yeol sama sekali tidak menggubris kalimatnya.

“Ye, gwenchanseumnida hyeong. Geurae, kalau itu mau produser Kang, kita temui saja dia,” jawab Chan Yeol pelan.

©©©

Seorang laki-laki berjaket hitam berdiri di ujung gang kota. Tangan kanannya menggenggam erat ponsel yang menempel di telinga, sementara tangan kirinya memegang beberapa lembar foto ukuran 3R.

“Yoboseyo, aku sudah membawa foto yang kau minta. Sekarang apa yang harus aku lakukan?”

Laki-laki itu sedikit berbisik ketika tahu teleponnya di angkat seseorang di seberang sana.

“Letakkan saja fotonya di atas tong sampah di sampingmu. Sekarang,” jawab suara serak dari seberang.

Laki-laki itu segera memasukkan foto-foto ke dalam amplop dan meletakkannya di atas tong sampah. Persis seperti yang diperintahkan.

“Sudah. Lalu apa lagi?”

“Apa kau melihat amplop coklat di bawahnya?”

“Amplop coklat?” laki-laki itu segera melihat ke sekeliling, mencari amplop coklat yang ternyata tergeletak tepat di bawah tong sampah. “Ye, aku melihatnya” katanya penuh selidik.

“Itu imbalan untuk foto yang kau bawa. Ambil dan segera pergi dari tempat itu, secepatnya” suara dari seberang terdengar semakin serak dan menakutkan. Membuat laki-laki itu segera mengambil amplop dan mengangguk sendirian. “Ye, ye, aku akan segera pergi”

“Dan jangan sekali pun menoleh ke belakang hingga kau berada jauh dari sini. Sekali pun”

Laki-laki itu sedikit tersentak. Hawa panas langsung naik ke ubun-ubunnya, sementara bulu kuduknya mulai berdiri pertanda dia tidak ingin mengambil resiko berlebih hanya karena perintah menguntit seorang artis.

“Y..Ye, aku mengerti”

TUTT.. telepon ditutup secara sepihak oleh orang di seberang. Membuat suasana tak mengenakkan semakin menguasai laki-laki itu.

Dia segera memasukkan amplop ke dalam saku celananya, dan pergi dengan langkah tergesa. Secepat mungkin, tanpa sedikit pun menoleh ke belakang. Bersamaan dengan suara langkah kaki yang terdengar nyaring di keheningan gang.

Pemilik langkah kaki itu, berjalan menuju ke arah amplop foto yang tergeletak di atas tong sampah.

Tangannya terulur, mengambil amplop lalu mengeluarkan foto yang ada di dalamnya.

Chan Yeol bersama dengan Hae Jin, Chan Yeol di sebuah mobil dengan Su Ho, Chan Yeol bersama sutradara Jung Dong Ah, Chan Yeol yang tengah membaca skrip di lokasi syuting, dan yang terakhir, Chan Yeol & Jae I di sebuah distro paling terkenal kota ini.

Gerakan tangan yang semula gesit, mendadak terhenti di foto Chan Yeol – Jae I yang bertuliskan 9 A.M, 29 Juni. Foto yang baru diambil 3 jam lalu.

To Be Continued….

Next Episode Preview :

“Kau begitu yakin dengan kalimatmu, sajangnim. Pasti ada alasan lain kenapa harus Park Chan Yeol. Mungkinkah, kalian sudah pernah berhubungan sebelumnya?”

Seong Won tersenyum, “Sungguh kau gadis yang keras kepala Jae I”

*

“Kau lihat kan apa yang terjadi jika kau membiarkan semua ini begitu saja? Kontrakmu dibatalkan secara sepihak oleh produser Kang,” kata Su Ho kepada Chan Yeol setelah acara tapping di sebuah stasiun televisi swasta selesai dilakukan.

“Kau harus segera mengklarifikasinya sebelum kau hancur berkeping-keping, Chan Yeol. Karirmu dipertaruhkan saat ini. Di luar sana, begitu banyak orang yang membenci nepotisme jika kau mau tahu” lanjut Su Ho.

*

“Dan kau hanya berpamitan kepada Lu Han, sementara aku adalah pemilik VX? Berani-beraninya kau– Hya!!,” teriak Jae I tidak terima. Gadis itu berjalan cepat mengikuti Chan Yeol yang sudah keluar dari studio.

“Hya!! Semahal apa dirimu hingga bersikap begitu sombong di depanku?!! Aku tidak tahu sejak kapan kau memulai sikap menyebalkanmu itu kepadaku, tapi sejak pertemuan pertama kita kau sama sekali tidak bisa meninggalkan kesan baik sebagai seorang aktor terkenal untukku!”

*

Chan Yeol berdiri setelah meletakkan rangkaian bunga di atas pusara ibunya. Siang ini, Chan Yeol memutuskan untuk berkunjung ke makan ibunya sendirian. Laki-laki itu menatap lekat nama ibunya yang terukir indah di batu nisan makan. Membaca perlahan setiap kata yang terangkai dalam sebuah nama Baek Ah Joo disana, sambil merasakan semilir angin pemakaman yang menyapa lehernya.

Ibu, mungkinkan ini definisi kejam yang pernah kau katakan kepadaku dulu?

니이름을 불러See You In The Next Episode –니이름을 불러

 

 

9 pemikiran pada “Let Me Call You [Episode 1]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s