Hate or Love (Chapter 9)

HoL

Title : Hate or Love (Chapter 9)

Author : starLinn (@StellaW_)

Genger : Romance, family, …

Rating : G

Main cast : Yoon Hagun (OC), Oh Sehun, Kim Jongin

Sub cast : Yoon Joonmyeon, Yoon Bora, Xi Luhan, ……

Length : Chapter

Selamat membaca~~~~~

PYONGG!!!

************

“Walaupun menurutmu ini bukan salah Sehun, ingat! Pernikahan akan tetap berjalan sesuai rencana. Untuk seminggu kedepan, kalian tak akan bersekolah. Kalian harus menyiapkan semua kebutuhan menikah kalian. Jangan harap kami yang akan mengurusnya. Kalian yang harus mengurusnya sendiri.” Ujar Suho panjang lebar. Hagun menatap appanya tak percaya. Sejak kapan sosok malaikat yang singgah di appanya berubah menjadi tak berperasaan seperti itu?

‘Hagun.. jangan menatap appa seperti itu, sungguh ini menyakitkan.’ Batin Suho lalu mengalihkan pandangannya dari Hagun.

“Sudah-sudah.. perjalanan pasti membuat kalian lelah. Istirahatlah terlebih dahulu. Untuk saat ini, kalian bisa menggunakan kamar Sehun.” ujar Bora kepada Kris dan Dasom.

“Sehun, kau bisa tidur di kamar Hagun. Dan Hagun, kau akan tetap tidur di kamarmu.” Lanjut Bora lalu para orangtua mulai meninggalkan ruang keluarga. Sehun dan Hagun membeku di tempat.

“Aku benci kehidupan ini..” ucap Hagun pelan lalu membuang napasnya kasar.

 

Chapter 9

 

Normal Pov

“EOMMA! APPA!” teriak Hagun sambil memukul pintu kamarnya dari dalam.

“Aishh… apa yang harus kulakukan sekarang?” lanjutnya yang terlihat frustasi.

“Mandi dan terimalah kenyataan kau akan memakai baju itu.” Ujar Sehun santai lalu menidurkan dirinya di ranjang.

“YA! Apa yang kau lakukan di ranjangku, eoh?” tanya Hagun dengan tatapan tak suka.

“Tidur.” Jawab Sehun singkat, padat, dan jelas.

“Enak saja, kau tidur di… Aihhhh, apa mereka telah merencanakan ini semua??” Hagun mengacak rambutnya frustasi.

“Sudah, cepat kau mandi. Semakin kau mengulur waktu, mungkin mereka bisa mematikan air panas.” Ujar Sehun dan detik selanjutnya Hagun sudah memulai kegiatan mandinya.

10 menit kemudian~~

20 menit kemudian~~

30 menit kemudian~~

‘Apa yang dilakukan Hagun selama ini di dalam kamar mandi?’ batin Sehun yang mulai gelisah menunggu Hagun keluar dari kamar mandi. Setelah berdebat cukup lama dengan pikirannya, Sehun memutuskan untuk mengeuk pintu kamar mandi.

TOK TOK TOK…

“Hey, Hagun, apa kau baik-baik saja?” tanya Sehun dari luar.

“Eoh! Aku baik-baik saja, tapi..” jawab Hagun mengganjal.

“Tapi kenapa?”

“Hmm.. Aku tak mau keluar dengan baju yang kukenakan sekarang!”

“Aishh, memang kenapa dengan bajumu? Yang penting kau tak telanjang bukan?” ujarSehun kesal.

“Lagi pula aku tak akan tergo-“ Sehun menelan ludahnya saat Hagun keluar dari kamar mandi. Kemeja putih kebesaran dan hot pants menempel sempurna di tubuhnya.

“Apa yang kau lihat, eoh?!!” tanya Hagun sedikit kesal melihat tatapan Sehun yang entah menggambarkan apa. Hagun menginjak kaki Sehun dan berlari menuju ranjang, menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.

“Akhh.. dasar kau-“ ucapan Sehun kembali terpotong karena teriakan Hagun dari dalam selimut

“Kau apa,HAH?! Yeoja mengerikan?! Yeoja menyebalkan?!”

“Dasar kau yeoja yang kucintai.” Ucap Sehun pelan tapi Hagun masih bisa mendengarnya. Tak tahu kenapa, jantung Hagun berdetak tak normal, diapun menjadi sulit bernapas.

‘Lagi-lagi..’ batin Hagun sambil memegang dadanya. Tak lama Hagun merasakan sedikit guncangan di ranjangnya.

‘Apa Sehun sudah naik ke ranjangku? Huaa.. apa yang harus kulakukan?’ bantin Hagun lagi, dia memutuskan untuk mengintip sedikit. Dan, saat ia mengeluarkanss edikit kepalanya, ia meilihat Sehun sedang menatapnya. Dengan cepat Hagun menyembunyikan kepalanya kembali.

“Boleh aku bertanya?” suara Sehun masuk kependengaran Hagun. Tapi tak ada jawaban dari Hagun, karena itu Sehun menajutkan pertanyaannya.

“Kalau boleh, kenapa kau membelaku tadi?”

“Ka-kata siapa aku membelamu?!! Ja-jangan terlalu percaya diri seperti itu!” jawab Hagun gugup dari dalam selimut.

“Tapi siapapun yang mendengar ucapanmu tadi, pasti berpikir kalau kau membelaku.”

“Tapi kenyataannya aku tak membelamu!!!”

“Apa sulit untukmu berkata jujur?”

“Jadi kau berpikir kalau aku ini berbohong?” emosi Hagun mulai memanas.

“Bisa dibilang seperti itu.” Mendengar ucapan Sehun, Hagun keluar dari dalam selimutnya lalu berlari menuju jendela kamarnya. Ia tak betah berada di dalam kamar ini bersama Sehun. Hagun membuka jendela lalu melompat ke semak-semak yang ada di perkarangan rumahnya. Dia berlari keluar rumah, tak memperdulikan Sehun yang berteriak memanggil namanya. Tak memperdulikan baju yang ia kenakan. Dan tak perduli dengan kakinya yang terasa sangat sakit akibat lompatannya tadi. Ia hanya ingin bertemu Jongin sekarang. Mencurahkan seluruh isi hatinya, menangis di depan sahabatnya, dan mendapat pelukan hangat dari sahabatnya. Itulah yang dibutuhkan Hagun saat ini.

************

Ruang keluarga kediaman Kim terasa kelam, hanya ada suara tangisan dari seorang gadis yang terdengar. Hagun, gadis itu sedang menangis di pelukan Jongin, sahabatnya.

“Sudah, berhenti menangis. Aku sudah memelukmu bukan?” Jongin mengelus pelan rambut sahabatnya yang ia cintai. Hagun sudah mengganti pakaiannya, Jongin meminjamkan pakaian ibunya. Dan masalah orangtua Jongin, mereka sedang pergi ke luar negri untuk berlibur. Mereka tak mau meninggalkan Jongin sendiri, tapi masalahnya Jongin yang menuruh kedua orangtuanya pergi. Ia tahu Hagun akan sering berkunjung ke rumahnya, sahabatnya dalam keadaan yang sulit sekarang.

“Hiks.. Aku juga ingin berhenti, hiks,.. tapi air mataku tak mau berhenti..” Hagun mengusap kasar air matanya, tapi setik berikutnya air matanya kembali jatuh.

“Ya sudah, menangislah sampai air matamu habis.” Ujar Jongin dan entah air mata Hagun serasa mengering.

“Sepertinya sudah..” ujar Hagun pelan dan Jonginpun melepas pelukannya.

“Benarkah? Kalau begitu ceritakan masalahmu.” Jongin menatap hangat mata indah Hagun. Hagun menarik napasnya, ia memutuskan untuk menceritakan semuanya pada Jongin. Tapi tidak dengan Sehun yang tinggal di rumahnya dan juga pernikahannya dengan Sehun yang ada di depan mata. Belum sempat Hagun menceritakan masalahnya, ponsel Jongin bergetar.

DRTT DRTT

Yoon Ahjumma is Calling… Jongin menatap Hagun sebentar lalu menggangkat ponselnya,

“Ya-“

“Jongin-ah!! Apa Hagun di rumahmu?!!” belum selesai Jongin mengucapkan kata sambutan/? Bora sudah bertanya.

“Ahh, n-ne.. Hagun ada di rumahku, a-ahjumma.” Jawab Jongin gugup. Ia takut Bora akan marah karena mengijinkan Hagun datang ke rumahnya malam-malam.

“Syukurlah, ahjumma tenang kalau Hagun ada di rumahmu. Maaf anak ahjumma mengganggu waktu istrahatmu, Jongin-ah.”

“Tidak apa-apa ahjumma, Hagun tak mengganggu waktu istirahatku. Apa perlu aku antar Hagun pulang?”

“Tak perlu, ahjumma akan menyuruh Sehun menjemputnya.”

“Sehun?”

Iya Sehun, dia teman sekelasmu, bukan? Ahhh.. Ahjumma lupa memberitahumu. Sehun itu adalah- Tut tut tut..”  Hagun menarik paksa ponsel Jongin dan memutuskan sambungan telponnya.

“Apa yang kau lakukan, eoh?!” Jongin bingung dan kesal dengan kelakuan Hagun.

“Tidak ada, hehe” Hagun tersenyum kikuk berusaha menyembunyikan sesuatu dari Jongin. Tapi sayangnya Jongin tak sebodoh itu, Jongin menatap Hagun dalam. Membuat Hagun gugup, ia berharap sekarang juga ia menghilang dari hadapan Jongin.

“Ada apa dengan Sehun?” tanya Jongin penuh penekanan.

“Ma-maksudmu?  Memang ada apa dengan dia? Haha, Jangan membutku bingung Jong-ah. Aku tak ada hubungan apa-apa dengan Sehun.” Jawab Hagun, jantungnya serasa sedang mengikuti lomba lari.

“Aku tak menanyakan kalau kau memiliki hubungan dengan Sehun atau tidak. Aku hanya- ahh.. aku mengerti sekarang.” Hagun menatap takut Jongin. Sedangkan Jongin hanya mengeluarkan ekspresi datar.

“Ceritakan semuanya Hagun, semuanya.. dengan jujur.” Baik, pertahanan Hagun runtuh. Ia tak dapat menyembunyikan apapun dari seorang Jongin.

“Hah.. Baiklah, tapi kau jangan marah ataupun membenciku. Janji?” Jongin hanya menganggukan kepalanya. Mereka menarik napas secara bersamaan, siap atau tidak, mereka harus menghadapi kenyataan.

“Sebenarnya Sehun tinggal di rumahku, dan alasannyapun sampai hari ini aku tak tahu. Tapi yang jelas aku dan Sehun akan menikah minggu ini. Dan semua itu terlalu rumit untuk dijelaskan. Aku bingung.. Benar-benar bingung, apa yang harus kulakukan, Jongin-ah? Aku-aku tak mau menikah dengannya. Aku membencinya, benar-benar membencinya. Tapi.. entah ada sesuatu yang mengganjal saat aku bersamanya. Kau bisa membatuku?” ucap Hagun mengakhiri ceritanya. Jongin diam beberapa saat, tentu saja dia marah dan kesal dengan Hagun. Bagaimana bisa ia menyembunyikan masalah ini darinya? Tapi itu semua kalah dengan hatinya yang sakit. Gadisnya akan menikah dengan Oh Sehun, musuhnya. Jongin menatap Hagun, berusaha mengubah hatinya untuk mengganggap Hagun sebagai sahabatnya. Bukan gadis yang ia cintai.

“Hagun, mungkin kau berkata kalau kau membencinya. Tapi kau harus menerima takdir kalau sebenarnya, kau mencintainya.. kau, benar-benar mencintai Oh Sehun.” Jongin merasa hatinya tercabik dengan setiap perkataan yang dikeluarkannya. Sungguh mudah mengetahui perasaan Hagun. Jongin tahu kalau hati kecil sahabatnya, berteriak kalau ia mencintai Sehun. Merelakan gadis yang ia cintai untuk laki-laki yang memang tepat untuknya adalah jalan terbaik. Sesakit apapun hatinya ia harus merelakan Hagun yang tak mencintainya. Selama ini Hagun hanya menganggap Jongin sebagai sahabat, dan sampai kapanpun gelar itu tak akan berubah. Mereka telah ditakdirkan menjadi sahabat untuk selamanya. Jongin harus mengubur cintainya dalam-dalam. Sebelum cinta itu semakin besar. Atau… sebelum perasaan bencilah yang mengubur cintanya.

“Tapi, bagaimana bisa aku mencintai namja yang telah menghancurkan kehidupanku? Namja yang telah merebut orangtuaku, namja yang sudah membuat Roo meninggal..” Hagun menundukan kepalanya. Ia merasa ada seribu alasan untuk meng-iyakan ucapan Jongin. Tapi ada seribusatu alasan untuk tak meng-iyakan ucapan Jongin.

“Cinta itu tak selalu datang disaat kau bahagia. Cinta itu tak masuk ke dalam hatimu hanya karena seseorang melakukan apa yang baik dimatamu. Cinta itu datang secara tiba-tiba, tak mengenal bagaimana masalah yang sedang menimpamu. Cinta itu datang, karena itu waktunya ia untuk tumbuh di hatimu.” Jongin tersenyum mendengar ucapannya sendiri. Itulah yang ia rasakan saat mencintai Hagun. Hagun terdiam mendengar ucapan Jongin.

“Dari mana kau mendapat kalimat itu, eoh?” tanya Hagun.

“Entahlah, tapi sepertinya aku yang merasakan cinta itu sendiri.”

“…..Karena kau, hari ini aku mengubah perasaanku pada namja asing itu sebanyak empat kali.”

“Maksudmu?”

“Tadi pagi aku membencinya, saat mengubur Roo aku kembali menyukainya, dan sebelum aku datang ke rumahmu aku membencinya kembali dan sekarang.. aku…” ucap Hagun menggantung

“Dan sekarang kau mencintainya.” Jongin melengkapi ucapan Hagun. Entah, Hagun harus memberi tanggapan apa pada ucapan Jongin. Ego-nya terlalu tinggi untuk meng-iyakan, tapi perasaannya juga tak bisa dibohongi.

“Sudah-sudah, aku tak mau melihat sahabatku gila karena masalah ini.” Jongin mengacak pelan rambut Hagun. Sedangkan Hagun hanya mengerucutkan bibirnya.

“Apa kalian sudah selesai bicara?” tiba-tiba Sehun muncul denga tatapan dinginnya. Jongin hanya tersenyum tipis.

“Sudah, bawalah ia pulang.” Jongin bangkit berdiri dengan tangan yang menggenggam lengan Hagun. Dengan perlahan Jongin mendorong Hagun ke sisi Sehun. Dia melangkah ke samping Sehun dan mencondongkan kepalanya ke telingan Sehun.

“Jagalah ia baik-baik, Oh Sehun. Aku mempercayainya padamu.” Jongin menepuk pundak Sehun lalu pergi dari hadapannya. Baru beberapa detik pergi, Jongin kembali

“Ahh.. tolong kunci gerbang rumahku saat kalian keluar. Kalau rumah ini kemalingan, kalian akan ku jadikan tersangka utama.” Setelah mengucapkan kalaimat itu, Jongin benar-benar pergi dari hadapan Sehun dan Hagun. Dan suasana canggung menyeliputi dua orang ini.

“Ayo kita pulang, kau terlihat lelah.” Ucap Sehun berusaha mengurangi kecanggungnan di antara mereka. Hagun mengangguk pelan dan melangkahkan kakinya kelaur mendahului Sehun. Sepanjang jalan Hagun hanya menundukan kepalanya. Ucapan Jongin kembali berputar di pendengarannya.

‘Apa benar aku mencintai Sehun?’ batin Hagun.

 

12 pemikiran pada “Hate or Love (Chapter 9)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s