Devil Child (Part 2)

edit #6

Author : Z

Title : Devil Child (part 2)

Cast :

     ☆ Kim Jong In {Kai, nama aslinya di dunia iblis}

     ☆ Sung Ha Rim (OC)

     ☆ Kim Tae Hyung {merasuki tubuh seorang namja bernama Jungkook}

     ☆ Oh Sehun

     ☆ Song Ahri (OC)

     ☆ ….

Lenght : Chapter

Genre : Romance, Mistery, Supernatural, Action, Fantasy, Gore

Disclaimer : FF ini murni ide dan karangan author. No plagiat.

Author’s Note : Mian kalau ff ini tidak seperti ff yang lain(?) karena author memiliki imajinasinya sendiri(?) wkkk dan minta komennya ne ^^

。゚ °Devil Child °゚。

Jungkook tertawa mendengar omong kosong Jong In. “kau pikir kau bisa melakukannya dengan mudah?” Jungkook mendorong Jong In menjauhkan namja itu dari dirinya. “jangan pernah menyenyuhku seperti itu.” Jong In dan Jungkook menoleh kearah Sungha saat kedua namja itu merasakan aura yang sangat berbeda dari tubuh Sungha. Yeoja itu merintik kesakitan menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang kepalanya.

Jong In bergegas menghampiri Sungha yang terduduk menahan rasa sakitnya yang terus bertambah. “Sungha! Kau bisa mendengarku!” yeoja itu terus memegang kepalanya dan menggerang kesakitan. “Sungha!” tangan kiri Sungha mencengkram lengan Jong In menahan rasa sakit yang tak kunjung menurun. Ia berteriak kesakitan dan saat itu juga sayap berwarna putih keluar dari punggung yeoja itu. Tapi warna putih itu hanya berada pada sayap kanannya dan sebaliknya dengan sayap kiri miliknya. Sayap itu berwarna hitam yang membuat Jong In maupun Jungkook terkejut.

Sungha tidak lagi mencengkram lengan Jong In karena rasa sakit itu telah menghilang. “kau setengah iblis?” ucap Jong In masih menatap tak percaya sayap yang dimiliki Sungha. Pintu kelas terbuka dengan paksa. Guru Han memasuki kelas itu.

“apa yang terjadi disini?! Jong In! Kau membuat kerubutan lagi?!” guru Han melihat Jungkook yang berada disampingnya. “kenapa kau bisa disini?” tanyanya. Karena setau guru Han Jungkook berada di kelas yang berbeda. Tak menjawab guru itu Jungkook memilih pergi karena dia baru saja melihat kejadian yang sangat mencengangkan. Bagaimana bisa ada malaikat setengah iblis. Namja itu menyimpulkan jika yeoja itu lahir dari hubungan terlarang antara bangsa iblis dan bangsa malaikat.

Jong In membopong Sungha layaknya seorang putri. “kau mau kemana?” tanya guru Han.

“dia sedang tak enak badan. Aku akan membawanya ke ruang kesehatan. Biarkan dia beristirahat.” Jong In membopong Sungha melewati guru Han dan melewati muri-murid yang masih berkumpul di luar kelas untuk membawanya ke ruang kesehatan.

“apa yang kalian tunggu?! Cepat masuk dan siapkan pelajaran kalian!” bentak guru Han pada muridnya yang masih menatap punggung Jong In yang mulai menjauh. Setelah memastika semua masuk kedalam kelas guru Han segera keluar karena guru yang mengajar barusaja tiba.

。゚ °Devil Child °゚。

Jong In menatap Sungha yang lemas dan tak berdaya tertidur di tempat tidur ruang kesehatan. Ia kembali teringat kejadian beberapa menit yang lalu saat sayap Sungha muncul. “sepertinya orangtua aslimu sengaja menaruhmu di dunia manusia karena tak mau hubungan terlarang mereka terbongkar oleh yang lain.”

Setengah jam kemudian Sungha terbangun dari tidurnya. Ia merasakan tubuhnya pegal serasa telah berlari sangat jauh. Walaupun begitu ia sekuat tenaga mencoba mendudukkan dirinya agar tidak berbaring lagi. Yeoja itu melihat kearah Jong In yang duduk tertidur di bangku sampingnya. Kepala yeoja itu seketika terasa pusing. Ia merintih kesakitan dan  memegangi kepalanya menahan rasa sakitnya.

Jong In terbangun karena mendengar suara yeoja yang kesakitan. Ia terbelak melihat Sungha yang merintih kesakitan. “kau tidak papa?” saat Jong In memegang lengan Sungha mencoba menenangkannya. Tapi yeoja itu menangkisnya sambil menahan rasa sakit yang tak kunjung mereda. “ikuti perintahku!” bentak Jong In.

Namja itu menggengam tangan Sungha dan menurunkannya perlahan. “tenangkanlah pikiranmu dan tidurlah. Setidaknya itu bisa menghilangkan rasa sakitmu. Kau harus bisa mengkontrol emosimu mulai sekarang..” Jong In menyandarkan kepala Sungha didadanya berusaha membuat yeoja itu lebih tenang. Jong In masih menggengam tangan Sungha yang perlahan mulai tertidur dipelukannya.

Perlahan namja itu kembali menidurkan Sungha dan membetulkan selimutnya. Ini bukan pertama kalinya ada malaikat setengah iblis. Sekitar tigaratus tahun yang lalu dunia iblis maupun dunia malaikat di kejutkan oleh sosok anak yang memiliki darah keturunan malaikat dan iblis tapi pada akhirnya anak itu dibunuh dengan persetujuan antara raja iblis dan ratu malaikat. Karena kedua ras itu menganggap anak itu bisa menyebabkan ketidak seimbangnya dunia manusia, iblis, maupun malaikat.

。゚ °Devil Child °゚。

Setelah tidur cukup lama Sungha memutuskan untuk beristirahat dan pulang kerumah. Jong In telah mengizinkannya pada guru Han. Tapi yang Sungha tidak mengerit kenapa Jong In ikut mengantarny pulang? “kau kembalilah kesekolah. Aku bisa pulang sendiri.” ucap Sungha dan menambah kecepatan jalannya. Jong In tetap berjalan santai di belakang Sungha.

“kau tidak akan pulang kerumahmu. Kau akan pulang kerumahku.”

“aku tidak mau! Aku mau pulang kerumahku sendiri!”

“bukankah orangtuamu di rawat dirumah sakit?” yeoja itu berhenti dan terdiam. Jong In benar orangtuanya memang sedang dirawat dirumah sakit. Dan jika ia pulang tak ada seorangpun disana. “aku akan merawatmu. Dan…” Jong In menggandeng lengan Sungha. “aku akan membuatmu menjadi yeoja yang kuat.”

。゚ °Devil Child °゚。

Jong In mengajari banyak hal pada Sungha dari mulai siapa dirinya sampai bangaimana sikap para makhluk padanya. Tapi Jong In mengatakan jika Sungha memiliki kukuatan yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Kekuatan malaikat dan iblis yang luar biasa. “keluarkanlah sayapmu.” suruh Jong In.

“aku tidak bisa.” jawab Sungha setelah mencobanya.

“lakukan seperti dulu yang pernah aku ajarkan padamu.”

“tidak bisa. Sayapku tak mau keluar.” Jong In melihat Sungha bingung. Dan menyuruh yeoja itu berdiri.

“pejamkan matamu.” suruhnya. Sungha segera melakukan apa yang diperintah Jong In. Namja itu mengkecup Sungha yang membuat yeoja itu membuka matanya. Tapi sayap itu tetap tidak keluar. “sebenarnya kau itu makhluk apa?” tanyanya sedikit emosi. Sungha masih diam terpaku karena ini keduakalinya Jong In mengkecupnya. Jantung Sungha berdebar melihat wajah Jong In yang tampak kebingungan. Sungha memegang dadanya dengan kedua tangan. Dan sayap putih keluar dari punggungnya.

Mata Jong In melebar melihat Sungha dengan sayap putih bersihnya. Ia tampak sangat cantik. Tanpa perintah dari Jong In sayap hitam miliknya keluar begitu saja. Namja itu berbalik dan mengerjapkan matanya beberapa kali. Jantungnya berdebar melihat Sungha seperti itu. “aku akan mengambilkanmu makanan dan minuman. Kau pasti haus.” Jong In mencari alasan untuk bisa tidak menatap Sungha dan memilih sedikif menenangkan dirinya. Ia pergi tanpa berbalik menatap Sungha.

Dari kejauhan Jong In bisa milihat wajah Sungha yang senang melihat sayap putihnya. Tanpa ia sadari ia ikut tersenyum milihat kejadian itu. Jong In menyembunyikan sayapnya kembali dan mengambil minuman di kulkas. Tak lupa ia juga mengambil beberapa cemilan yang ia punya dirumahnya. Jong In menaruh minuman dan cemilan itu di meja didepan Sungha. “kau tampak begitu senang.” ucap Jong In dan duduk di sofa yang letaknya berseberangan dengan Sungha.

“ya. Kau lihat sayapku bisa muncul kembali bangaiman aku tidak senang.” lelah berdiri ia akhirnya memilih duduk dan meminum minuman yang Jong In bawakan untuknya.

“sayapmu sudah kembali normal.” Sungha hanya mengangguk mengiyakan perkataan Jong In. “sepertinya kau akan menjadi malaikat jika kau senang dan menjadi iblis jika kau sedang emosi. Sebaiknya kau benar-benar mengatur emosimu.” Sungha terdiam sesaat. Ia teringat tentang kedua orangtuanya yang tidak bersalah. Walaupun mereka bukan orang yang melahirkannya tapi mereka telah merawatnya sejak masih bayi.

“Jong In..” Sungha menatap minuman yang ia pegang. “apakah namja tadi juga seorang iblis sepertimu? Dan kenapa dia melakukan itu kepada kedua orangtuaku?” Sungha menatap Jong In dengan penuh harapan. Berharap namja itu menceritakan semuanya padanya.

“didalam tubuh namja tadi adalah iblis. Dia adalah Taehyung, iblis api hijau. Kau harus berhati-hati padanya karena dia tertarik padamu.”

“tertarik?” Jong In mengangguk.”

“sejak kau mengeluarkan sayapmu di cafe waktu itu kau memancarkan aura yang dapat membuat iblis tertarik. Bukan hanya itu. Tadipun kau kembali mengeluarkan aura yang sangat kuat. Tapi kau bisa sedikit tenang karena hanya iblis tertentu yang bisa merasakan aura.”

“lalu apa yang harus aku lakukan supaya auraku tidak terlihat?”

“tidak ada.”

“mwo? Lalu maksudmu aku akan selalu dikejar oleh iblis?”

“secara tidak langsung iya.”

“kau tidak bisa diandalkan.” Sungha menghabiskan minumnya dan kembali manaruh gelas itu dengan sedikit emosi. Ia tak percaya akan menjadi target buruan para iblis. Bahakan ia juga bisa di bunuh oleh pada malaikat jika ketahuan dirinya adalah setengah iblis.

“jika kau dikejar oleh iblis kau bisa bersembunyi dirumahku. Tak ada yang bisa masuk kerumah ini kecuali mendapat kunci dariku. Aku akan memberimu kunci. Ulungkan tanganmu.” Sungha mengulungkan tangannya dengan ragu. Namja itu menulis sesuatu ditelapak tangan Sungha. Entah apa yang ia tulis tapi Sungha bisa melihat cahaya biru yang keluar dari setiap ayunan jari Jong In di telapak tangannya. “selesai.”

“selesai?” Sungha melihat telapak tangannya. Dimana kuncinya? Taka ada apapun ditelapak tangannya.

“tulislah ‘KAI’ dimanapun kau mau. Itu akan menjadi pintu masuk kerumahku. Tapi kau jangan masuk didepan banyak orang dan jangan pernah membawa siapapun masuk. Mengerti.” nada bicara Jong In seperti seseorang yang sedang mengancam. Tapi itulah nada yang biasa ia gunakan sehari-hari.

“‘KAI’? Apakah itu mantra?”

“bukan. Itu nama asliku didunia iblis.” mulit Sungha membentuk huruf O mengerti apa yang Jong In katakan.

“Jong In, aku ingin bertanya sesuatu.. Bagaimana caranya kedunia malaikat?” walaupun sepanjang umur Sungha dihabiskan didunia manusia ia juga ingin melihat bagaimana bunia malaikat itu dan ia ingin bertemu ibu kandungnya.

“aku tidak tau. Kamu bangsa iblis tidak diperbolehkan kedunia itu. Maka dari itu raja iblis tidak memberi kunci kedunia malaikat dengan begitu mudahnya.” seketika Sungha merasa dirinya hancur. Apakah ia benar-benar tidak bisa melihat makhluk sepertinya seumur hidupnya? “tapi ada satu jalan untuk bisa kesana. Di sebuah ruangan di istana iblis ada sebuah pintu yang menghubungkan antara dunia iblis dan dunia malaikat. Tapi pintu itu dijaga ketat oleh para penjaga dan dilarang untuk didekati. Hanya raja dan yang berkepentingan saja yang diperbolehkan mendekati pintu itu.”

“ayo kesana!” ucap Sungha semangat.

“aku tidak akan kesana.”

“wae?!”

“aku sudah berjanji pada diriku tidak akan kembali sebelum diriku bertambah kuat.”

“kalau begitu cepatlah berlatih supaya kita bisa kesana!”

“kau pikir semudah itu?!!” Sungha diam seketika saat Jong In membentaknya. “bertahun-tahun aku hidup didunia ini sendiri. Aku tidak bisa menghitung seberapa kekuatanku sekarang. Aku hanya bisa berlatih dan terus berlatih hinga aku merasa lelah. Ketika aku bertemu denganmu aku ingin mencoba berlatih seberapa kuat diriku. Tapi kau seorang malaikat. Aku tak bisa berlatih denganmu.”

“aku bisa menjadi iblis! Kau bisa berlatih denganku!”

“kau gila?! Kau bahkan merasa kesakitan saat kau menjadi setengah iblis. Kau belum bisa mengendalikan dirimu. Kau bisa mati.” Sungha menyipitkan matanya kesal. Niat awalnya ingin membantu malah ditolak mentah-mentah oleh Jong In.

“aa Jong In aku lupa menceritakan padamu. Hari itu Taehyung meninggalkan surat untukku.”

Bencilah aku..

Buat dirimu penuh dengan kebencian..

Karena kebencian akan membuatmu jauh lebih mempesona..

Cepat atau lambat kau akan menjadi milikku..

“apa maksudnya?”

“kebencian bagi seorang iblis adalah kekuatan. Tapi bagi seorang malaikat kebencian adalah kelemahan mereka.”

“jadi dia tau aku adalah malaikat dan dia ingin membunuhku dengan cara seperti itu?”

“kurasa tidak. Sepertinya saat dia mengincarmu dia mengira kau adalah seorang iblis dan dia menginginkan kekuatanmu. Tapi dia sudah tau jika kau malaikat dan juga barusaja dia tau bahwa kau adalah setengah iblis. Dia akan semakin mengincarmu.”

“ya! Kenapa kau selalu mengatakan hal buruk padaku?! Tak bisakah kau sekali kali mengatakan jika aku beruntung terlahir sebagai setengah malaikat dan iblis? Aku seperti tidak di butuhkan dan pembuat masalah disini.” keluh Sungha. Ia sudah tidak tahan. Sedari awal Jong In terus saja mengatakan hal yang menambah takut Sungha. Dari dikejar pasukan iblis sampai diincar oleh para malaikat dan iblis. Dia terasa sangat tidak dibutuhkan.

“itulah kenyataannya.” Jong In dengan cepat menoleh kearah pintu keluar rumahnya. Ia merasakan ada sesuatu yang mencoba memaksa masuk. “Sungha sepertinya ada yang sedang mencoba masuk kesini.” Sungha melihat kearah pintu yang juga Jong In lihat. Tak ada apapun bahkan suara juga tidak ada.

“siapa?”

“yang pasti dia bukan manusia. Kau tunggu disini.” Jong In berdiri dan mendekati pintu itu. Ia mengusap pintu itu dan seketika menjadi transparan. Sungha terbelak melihat sesuatu yang melayang dengan sayap hitamnya. Sayap itu diselimuti oleh api hitam. Jiak tidak salah Jong In bernah bercerita jika iblis api hitam adalah pasukan biasa. “mau apa makhluk seperti dia kesini..” ucap Jong In tak suka.

Jong In berjalan cepat kearaj Sungha dan menyuruh yeoja itu bersembunyi dikamarnya. Walaupun pasukan iblis tak memiliki kekuatan untuk merasakan aura tapi iblis itu bisa curiga jika ada yeoja dirumahnya. Jong In keluar dari rumahnya. Ia tak menginginkan rumahnya itu dimasuki oleh iblis hitam.

“ada apa?” tanya Jong In dengan nada tak suka.

“pangeran Kai. Pangeran Sehun ingin bertemu denganmu dia ingin membicarakan hal penting.”

“jika dia ingin bertemu denganku suruh dia untuk datang sendiri. Aku tidak ingin kembali ketempat itu sebelum aku bisa mengalahkan raja. Pergilah.” Jong In kembali masuk kedalam rumahnya meninggalkan ilbis hitam yang juga terbang entah kemana.

“ada apa? Apakah rumahmu sudah tidak aman?” Sungha merasa sangat khawatir. Apakah iblis itu mencarinya dan ingin membunuhnya?

“hanya iblis yang menyampaikan pesan. Rumahku akan selalu aman kecuali jika raja iblis dan pasukannya menyerang itu baru tidak aman.” Sungha menghela nafas lega. Setidaknya dia tak harus mati hari ini. Walaupun dia sendiri memang belum ingin mati muda.

Diluar itu Jong In masih memikirkan perkataan iblis tadi bahwaa Sehun mencarinya. Untuk apa saudara laki-lakinya itu repot-repot mengirim iblis hitam untuk mencarinya? Apakah terjadi sesuatu didunia iblis?

“Jong In? Jong In?!” namja itu tersentak dari lamunannya. Dan segera duduk di sofa yang ia tinggalkan tadi. “kau tidak apa-apakan?” tanya Sungha memastikan.

“ne gwaenchana.” Jong In meminum habis minuman yang ada dihadapannya. “jadi kau ingin bertanya apa lagi?”

“bagaimana cara menggunaka  kekuatanku?”

。゚ °Devil Child °゚。

Jungkook berjalan-jalan mengitari sekolah. Karena wajah ramahnya beberapa mirid sering menyapanya ketika berpapasan. “manusia menarik juga.. Sepertinya tubuh ini begitu populer..” Jungkook berhenti di belakan yeoja yang sedang asik menelefon seseorang.

“ya! Kenapa kau selalu menyuruhku untuk mendekati Jong In? Aku sudah tidak mau berurusan dengannya.” Jong In? Jungkook pernah mendengar Jong In adalah nama yang dipakai Kai selama ini.

“….”

“jika kau ingin balas dendam hadapi secara langsung! Jangan menyuruhku seperti itu!”

“….”

“terserah kau! Baiklah kita berakhir sekarang! Jangan hubungki aku lagi!” yeoja itu mematika sambungan itu dengan emosi. “aku juga tidak mencintaimu lagi.” gerutunya. Yeoja itu berbalik akan kembali kekelasnya tapi ia terkejut saat ada seorang namja yang berdiri tepat dihadapannya. “ahh ya tuhan! Apa yang kau lakukan?!” Jungkook melipat tangannya dan bersandar di dinding di dekatnya.

“kau mengenal Jong In?” tanyanya.

“memang apa urusanmu?” yeoja itu memilih pergi karena ia sedang tak mau berurusan dengan namja sekarang. Jungkook menahan lengan yeoja itu dan kedua mata mereka saling menatap. Cahaya hijau mengkilap muncul dari kedua bola mata Jungkook. Dan beberapa saat temudian juga muncul di bola mata yeoja itu. Jungkook melepas tangan yeoja itu.

“siapa namamu?”

“Song Ahri.”

“Ahri. Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku. Kau maukan?”

“ne.”

。゚ °Devil Child °゚。

Jong In mengacak rambutnya frustasi. Sudah berulang kali Jong In mengajari Sungha tapi yeoja itu masih saja tak bisa melakukan hal yang ia contohkan. “ya! Kenapa kau sangat buruk.” namja itu menaruh keduatangannya di pinggang dan menatap Sungha tak percaya. “kau bahkan lebih buruk dari anak iblis yang baru saja lahir.”

“ya! Kenapa kau memarahiku seperti itu?!” protes Sungha. “mungkin kau yang salah mengajariku” Jong In teringat akan sesuatu yang penting.

“kau benar. Kau adalah malaikat jadi semua yang aku ajarkan tadi hanya berguna saat kau menjadi iblis.”

“kalau begitu ajari aku sebagai malaikat.”

“aku tidak bisa. Aku adalah iblis dan aku sama sekali tidak tau bagaimana teknik yang digunakan para malaikat.”

“ya! Kau benar-benar…” Sungha menahan emosinya yang memuncak pada namja itu. “kalau begitu tidak ada gunanya aku disini. Sebaiknya aku segera pergi dan melihat keadaan kedua orangtuaku.” Sungha mengambil tasnya dan segera pergi. Saat ini ia ingin melihat keadaan orangtuanya. Ia merindukan mereka.

“ingat. Jangan keluarkan sayapmu sembarangan. Nyawamu bisa melayang jika kau melakukannya.” ucap Jong In tanpa melihat Sungha yang mulai semakin dekat dengan pintu.

“aku mengerti. Aku tidak sebodoh yang kau bayangkan.”

。゚ °Devil Child °゚。

Sungha telah sampai dirumah sakit sekitar jam enam sore. Dengan membawa buah-buahan yang ia beli diperjalanan kesini ia berjalan menuju kamar milik kedua orangtuanya dirawat.

“appa.. eomma..” ucapnya saat membuka pintu kamar itu. Ia disambut oleh dua senyuman yang membuat hati yeoja itu sedikit tenang. Sungha menaruh buah-buahan yang ia bawa di meja. Dan duduk di bangku diantara kasur ayah dan ibunya. “bagaimana keadaan appa dan eomma? Sudah merasa baikan?”

“sudah lebih baik.” jawab ayah Sungha. “sekolahmu bagaimana?”

“sekolahku baik-baik saja. Tidak ada yang spesial.”

“memang yang spesial seperti apa?” tanya ibu Sungha. “dikelilingi banyak namja?” godanya.

“a-aniya!” orangtua Sungha tertawa bersama melihat reaksi wajah anaknya itu.

“Sungha..” ibu Sungha membelai tangan anaknya itu dengan penuh kasih sayang. Ibu Sungha melihat kesamping kanannya yang tak lain adalah suaminya. Namja itu menganguk saat istrinya terlihat ragu untuk mengatakan sesuatu.

“wae eomma?”

“pulang dan ambillah sebuah buku di dalam laci di kamar eomma. Tapi kau tidak boleh membukanya sebelum kau sampai disini.”

“buku?”

“ne. Buku berwarna merah dengan gambar bunga disampul depannya.”

“sekarang?”

“jika kau merasa penasaran cepat ambil dan bawa kemari.” ucap ibu Sungha dengan senyum yang terpancar di wajahnya.

“baiklah.” Sungha berdiri dari duduknya. “aku akan secepat mungkin mengambilnya.” yeoja itu segera berpamitan dan pergi kerumah untuk mengambil buku yang dimaksud ibunya itu.

。゚ °Devil Child °゚。

Jong In membuka matanya. Setelah Sungha pergi ia memilih untuk tidur sebentar di sofa panjang miliknya. Entah kenapa namja itu memiliki suatu firasat buruk yang membuatnya sedikit terasa pusing. Ini kejadian yang sangat langka bagi Jong In. Setelah membuka matanya beberapa menit. Namja itu kembali menutup matanya perlahan dan mencoba untuk tidur.

。゚ °Devil Child °゚。

Sungha masuk kedalam kamar orangtuanya dan segera mengambil buku yang dimaksud ibunya itu. Saat yeoja itu membuka laci yang dimaksud ia melihat sebuah buku berwarna merah dan sebuah cincin. Setau Sungha cincin itu bukan cincin pernikahan orangtuanya. Dan cincin ini terlihat sangat cantik. Ia mengambil buku dan cincin itu dan membawanya kerumah sakit.

Setelah hampir sampai di kamar orangtuanya dada Sungha terasa sakit. Ia menepuk pelan dadanya dan mengatur nafasnya. Mata yeoja itu terbelak. Buku dan cincin yang ia pegang terjatuh begitu saja setelah membuka pintu kamar tempat orangtuanya dirawat. Air mata yeoja itu menetes melihat dua sosok yang berlumuran darah. “appa.. Eomma..” ucapnya pelan.

Sungha menatap tajam namja yang sedang mengarahkan pisau tepat keleher ibunya. Ayah Sungha telah terkapar begitu saja dilantai terdapat bekas sayatan benda tajan di beberapa bagian tubuhnya. Kaki Sungha terasa sangat lemas dan iapun terduduk lemas. “appa.. Eomma..”

“Sungha.. Larilah..” Sungha bisa mendengar suara ibunya itu tapi saat ini ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya terpaku dengan tatapan kosong. “SUNGHA LARI!!”

Crat!

Ibu Sungha terdiam seketika. Lebih tepatnya namja yang menodongnya pisau telah menyayat lehernya yang membuat darah keluar begitu saja dari luka yang terbuka sangat lebar itu. Namja tadi membersihkan darah yang terciprat di tangan dan wajahnya. “aku tak suka darah manusia. Menjijikkan.” namja itu berjalan mendekati Sungha. “selamat malam nona..” ucapnya dan tersenyum pada Sungha.

Tapi yeoja itu hanya terpaku dan menatap kosong jasat orangtuanya yang tergeletak di lantai. Namja itu menyadari bahwa dirinya diacuhkan dan ia tak suka itu. Ia kembali ke salah satu jasat dan menginjak punggung jasat itu. “mereka sudah tak bernyawa. Jangan memandangi mereka seperti itu.”

Sungha menatap namja itu tajam. Tapi tatapan itu dibalas dengan senyuman kebahagiaan dari namja itu. “SIAPA KAU?!! KENAPA KAU MELAKUKANNYA?!!” tanya Sungha dengan nafas memburunya. Namja itu tersenyum.

“kurasa namja bernama Jong In itu telah memberi taumu.”

“apakah kau Taehyung?!”

“ya begitulah.” ucapnya dengan masih menunjukkan senyumnya. Sungha memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa sangat sakit. “ya teruslah begitu.. Bencilah aku dan semakin membenciku. Akulah yang telah membunuh orangtuamu.” Sungha merintih kesakitan. Ia tak bisa menahan rasa sakit dikepalanya dan juga hatinya terasa sangat sakit. Debu hitam mengelilingi tubuh Sungha yang masih terduduk dilantai.

。゚ °Devil Child °゚。

Jong In dengan cepat membuka matanya saat merasakan aura yang sangat mengerikan. Aura ini seperti aura yang keluar dari tubuh Sungha saat ia menjadi setengah iblis. Apakah dia melakukan sesuatu? “Sungha? Apa yang kau lakukan?” Jong In segera bangkit dan pergi menuju ketempat aura itu berasal.

。゚ °Devil Child °゚。

Taehyung menyeringai gembira melihat Sungha yang dikelilingi oleh debu hitam. Yeoja itu menjerit dan semakin memegang erat kepalanya. “akulah yang membunuh orangtuamu.. Mereka hanyalah manusia yang tak berguna dan rendah. Mereka sangat berbeda dengan kita. Ikutlah bersamaku.. Sungha.”

Debu yang awalnya berwarna hitam mulai muncul beberapa api berwarna biru keunguan yang membuat Taehyung semakin menyukai Sungha. Yeoja itu kembali menjerit kesakitan dan muncullah sayap hitam dengan api biru keunguan yang mengitarinya. “kau..” Sungha perlahan menurunkan tangan yang sedari tadi memegangi kepalanya. Kepala yeoja itu masih saja tertunduk menatap kedua lututnya.

Tidak seperti tadi. Ekspresi Taehyung tanpak terkejut. Ia tak pernah menyangka aura yeoja itu akan terus bertembah. Ditambah api biru keunguan yang hanya dimiliki oleh raja iblis yang semakin menyelimuti tubuh Sungha. Apa ini? Kenapa Taehyung tiba-tiba terasa sangat takut. “aku tak akan pernah memaafkanmu.” Sungha mengangkat kepalanya dan menatap Taehyung sangat tajam. Hinga membuat namaj itu memundurkan langkahnya karena terkejut dengan tatapan yang Sungha berikan.

Dengan secepat kitat Sungha menyerang Taehyung tapi yeoja itu pingsan dipelukan Taehyung sebelum mengenai tubuh namja itu. Namja itu menghela nafas lega. Jika saja Sungha tidak pingsan ia pasti akan terbunuh ditempat ini. Terkadang ia memang terlalu ceroboh menghadapi sesuatu.

Jong In tiba dengan wajah yang penuh kekhawatiran. Ia melihat dua jasat yang tergeletak dilantai dan Taehyun yang sedang memeluk Sungha. Ia melihat sayap yang ada dipunggung yeoja itu. Sayap berwarna hitam yang sangat lemas dan perlahan menghilang. “apa yang kau lakukan?!” tanya Jong In.

Taehyung tersenyum penuh kemenangan. “kau tertinggal sesuatu yang menakjubkan Kai.” Taehyung mengeluarkan sayapnya yang berwarna hitan dan terdapat berjak api berwarna hijau itu. “aku akan membuat Sungha menjadi milikku selamanya dan aku akan mengangkat derajat iblis api hijau. Sepertinya ada beberapa iblis yang datang kemari. Kau bisa mengurusnyakan?” Taehyung menggendong Sungha layaknya seorang putri dan membuat sebuah lubang besar didinding dengan kakinya.

Namja itu menyulut api dan membakar dua tempat tidur disana supaya tidak ada jejak yang tertinggal. “aku pergi.” Taehyung melompat dari lubang yang ia buat dan terbang bebas diudara. Tak mau tinggal diam Jong In segera mengejar Taehyung dan meluncurkan beberapa serangan yang sukses mengenainya. Tapi ia hampir saja membuat kesalahan dan hampir membuat sungha terkena apinya.

Jong In dan Taehyung berhenti bermain kejar-kejaran dan saling menatap. “kenapa kau menginginkan yeoja ini?” tanya Taehyung.

“itu bukan urusanmu.” seberapa lama merwka terbang diatas kota mereka tidak akan terlihat oleh para manusia karena mereka memang sedang tidak memperlihatkan wujud mereka. Jong In besa merasakan dua iblis yang semakin mendekat kearahnya sekarang.

“baiklah aku akan memberikannya. Tapi aku akan merebutnya lagi karena aku harus merubah beberapa rencana karena melihatnya berubah tadi. Jika kau ingin yeoja ini, ambillah..” Taehyung melepas tubuh Sungha dari lengannya yang membuat yeoja itu dengan mudahnya terjatuh. Melihat itu Jong In segera mengejar Sungha karena ia tak ingin yeoja itu terbentuk tanah dan hancur berkeping-keping.

Saat melihat titik lemah Jong In, Taehyung mengarahkan apinya tepat di kaki kanan Jong In yang membuat namaj itu kesakitan. Tapi ia masih terus terbang menukik dan berhasil menangkap Sungha. Kaki kanan namja itu terasa perih karena api hijau Taehyung yang tepat mengenai kakinya.

Disaat sedang terbang manahan rasa sakitnya dua iblis telah sampai dan menghadang Jong In. Sedangkan Taehyjng sudah menghilang entah kemana. “sial!” ini bukanlah saat yang tepat untuk melawan dua iblis sekaligur. Disamping luka dikakinya ia juga harus memperhitungkan keselamatan Sungha.

“Mau apa kalian kemari?” tanya Jong In yang mencoba nenenagkan dirinya dan memilih bicara baik-baik. Mereka melihat api biru yang menyelimuti sayap Jong In. Siapa iblis yang tak tau dengan api biru? Api yang menyimbolkan keluarga kerajaan yang sangat dihormati.

“walaupun kami tidak bisa merasakan auran dengan sempurna tapi kami merasakan aura yang aneh. Apakah itu auran anda pangeran?”

“iya. Itu auraku. Aku sedang latihan jadi jangan menggangguku.” para iblis itu melihat Sungha yang sedang dibopong Jong In dan memilih pergi tak peduli dengan yeoja itu.

Jong In tak heran jika dua iblis tadi bisa merasakan aura Sungha. Ini pertama kalinya ia merasakan aura yang hampir sama seperti ayahnya sang raja iblis. Kedua iblis itu memilih untuk pergi karena telah merasa aman. Tak mau berlama-lama Jong In segera membawa yeoja itu pulang kerumahnya.

Dengan berjalan pincang Jong In membopong Sungha kedalam kamarnya dan menidurkannya di tempat tidur miliknya. Namja itu keluar dan duduk di sofa untuk melihat seberapa besar luka yang ia derita. Luka iblis yang diciptakan karena api iblis lainnya memang akan sangat lama untuk disembuhkan. Ini kesalahan Jong In karena lengah melindungi dirinya sendiri dan membiarkan tubuhnya terluka.

Jong In meluruskan kakinya dan berbaring di sofa. Ia menahan kaki kanannya di salah satu lengan sofa yangbmembuatnya sedikit lebih tinggi.

Beberapa jam berlalu setelah Jong In membawa Sungha kerumahnya. Tapi yeoja itu tetap belum sadarkan diri. Sekitar pukul duabelas malam lewat beberapa menit perlahan Sungha membuka matanya. Yeoja itu mengedarkan pandangannya mencari dimana dia sekarang. Kepala Sungha masih terasa sedikit sakit tapi ini tak sesakit saat ia berubah menjadi iblis.

Lelah berbaring, yeoja itu memutuskan untuk bangkit dan keluar dari kamar yang entah milik siapa. Ia mimpi buruk malam ini. Sangat buruk sehinga ia tak ingin mengingatnya. Ia bermimpi kedua orangtuanya dengan sadisnya dibunuh oleh Taehyung. Salah satu iblis api hijau.

Sungha melihat Jong In yang tengak tertidur di sofa panjang miliknya. Ia tersenyum karena bisa melihat Jong In untuk saat ini. Perlahan yeoja itu mendekati Jong In dan menatap Jong In lekat. Wajah namja itu sedikit pucat dan beberapa tetes keringat mengalir begitu saja disekitar pelipisnya. Apakah Jong In sakit?

Sungha memegang pelipis namja itu dan benar saja. Badan namja itu seperti api yang sedang membara. Sungha hanya tau cara mengobati manusia. Ia tak pernah mengobati iblis sebelumnya tapi ia rasa manusia dan dan Jong In hampir sama. Saat Sungha akan mengambil kompres untuk mendinginkan badan Jong In ia melihat luka bakar di kaki kanan namja itu.

Entah naluri darimana Sungha meraba luka itu dengan memberi jarak sekitar tiga centi dari luka. Luka itu diselimuti oleh cahaya putih dan beberapa saat kemudian luka itu menghilang tanpa bekas. Ia segera mengambil kompres dan air untuk mengkompres tubuh Jong In.

Dengan lihai dan penuh kasih sayang yeoja itu merawat Jong In dan mengganti kompres yang sudah mulai kering. Ia melakukannya berulangkali hingga ia tertidur dengan kepala berbantalkan sofa dan tubuhnya duduk bertumpu dilantai.

Jam menunjukkan pukul enam pagi. Jong In membuka matanya perlahan dan mengambil sesuatu yang tertempel di keningnya. Kompres? Ia melihat sungha yang tertidur dengan posisi terduduk di dampingnya. “apa yang dia lakukan?” ucapnya pelan. Namja itu mendudukkan dirinya. Ia terkejut melihat kakinya yang tidak terdapat bekas luka sedikitpun. Apakah Sungha yang melakukannya? Namja itu kembali menatap Sungha dan memilih menidurkan yeoja itu di sofa tempat ia tertidur tadi.

Jong In telah membersihkan dirinya dan bersiap untuk bersekolah. Ia berniat membangunkan Sungha tapi sebelum sempat membangunkannya yeoja itu telah terbangun. “kau sudah bangun?” ucap Jong In dan menghampiri.

“sepertinya aku bermimpi buruk tadi malam. Aku bermimpi melihat iblis yang membunuh kedua orangtuaku.” Sungha sangat takut. Ia tak ingin itu benar-benar terjadi. Walaupun kejadian itu seperti nyata. Sungha tak bisa menerimanya.

Jong In terdiam. Apakah Sungha mengangap kejadian semalam hanyalah sebuah mimpi? Haruskah dia memberi tau bahwa kejadian itu bukan mimpi dan kedua orangtuanya telah tiada? “Sungha.. Kau berangkat sekolah tidak?”

Sungha meloncat berdiri dari sofa. “jam berapa ini?!” tanyanya panik.

。゚ °Devil Child °゚。

Sungha masuk kedalam kelas di ikuti Jong In di belakangnya. Beberapa yeoja mendekatiny dan memeluknya. Sungha terbingung-bingung dengan kelakuan temannya itu. Kenapa tiba-tiba memeluknya? Jong In melanjutkan jalannya yang sempat terhenti dan duduk di bangkunya. “ada apa?” tanya Sungha pada yeoja tadi. Yoja tadi melepaskan pelukannya.

“kami sudah mendengar kabar tentang orangtuamu.. Kami semua turut berduka cita..” ucap yeoja itu. Berduka cita? ……mata Sungha terbelak dan menoleh kearah Jong In yang sudah terduduk di bangkunya. Tapi namja itu tidak melihatnya karena matanya yang telah tertutup. Mata Sungha memerah menahan air mata yang sudah hampir tumpah. Ia segera keluar dari kelas dan pergi ketempat dimana sekiranya ia bisa bertemu dengan kedua orangtuanya. “Ya! Sungha!” panggil yeoja tadi.”

“kurasa dia masih terpukul..” ucap yeoja satunya.

Jong In membuka matanya dan melihat ke jendela. Dari tempat ia duduk saat ini ia bisa melihat seorang yeoja yang tengah berlari dengan sekuat tenaga pergi meninggalkan gedung sekolah. Jong In hanya melihat yeoja itu datar.

。゚ °Devil Child °゚。

Sungha tak bisa membendung tangisnya lagi. Ia terus berlari dengan meneteskan airmata. Tak jarang ia menabrak beberapa siswa yang akan masuk kedalam area sekolah karena ia tak bisa mengendalikan tubuhnya. Yang Sungha ingin kan sat ini adalah segera bertemu dengan orangtuanya dan menyimpulkan kejadian itu hanya mimpi.

Seorang namja tersenyum saat seorang yeoja melintas melewatinya dengan airmata yang terus menetes melewati pipi putihnya. Tapi namja itu tak berpaling dan tetap melanjutkan jalannya menuju kesekolah tempatnya bersekolah.

。゚ °Devil Child °゚。

Sungha sampai di rumah sakit tempat orangtuanya dirawat dan segera menuju kamar tempat orangtuanya menjalani rawat inap.

Sungha terduduk lemas saat mendapati kamar itu kosong dengan lubang besar yang ada di dinding. Tempat tidurnya pun telah hangus terbakar. Sungha menangis terseduh-seduh di ambang pintu. Ia masih tak percaya jika ini benar-benar terjadi. “appa.. Eomma..” ia terus saja menangis sampai seorang yeoja menghampirinya.

“maaf anda tidak bolah disini.. Kasus ini masih ditangani kepolisian jadi anda belum boleh memasuki ruangan ini.” Sungha masih saja menangis. Ia tak ingin mendengarkan perawat itu. “apakah anda putri mereka?” tebak sang perawat. Sungha mengangguk tanpa mau mengangkat kepalanya.

Perawat itu menyuruh Sungha untuk ke kantor polisi untuk menjelaskan pekara kejadian yang menelan korban orangtuanya. Sebelum menuruti perkataan perawat itu Sungha ingin melihat wajah orangtuanya yang masih terbaringkaku di kamar mayat rumah sakit. Ia menangis melihat keadaan orangtuanya. Didalam dirinya ia ingin sekali membalaskan dendam kepada Taehyun. Namja yang diketahui Sungha sebagai iblis api hijau yang telah membunuh orangtuanya.

。゚ °Devil Child °゚。

Sungha duduk di sofa dan memeluk lututnya. Ia terus menatap sebuah buku yang berada di meja depannya. Buku itu ia dapatkan saat di kantor polisi. Saat ini ia memilih datang kerumah Jong In karena ia masih belum mau pulang kerumahnya. Itu mengingatkannya pada sosok orangtuanya. Tampaknya Jong In masih bekum pulang.

Sungha mengulurkan tangannya perlahan mengambil buku dihadapannya itu lalu membukanya. Hati Sungha ngilu melihat foto kecilnya bersama dengan kedua orangtuanya. Airmatanya kembali menetes. Sungha kembali membuka lembar demi lembar buku itu. Tapi ia kembali terisak saat melihat foto-fotonya yang semakin ia membuka buku itu kebelakang ia mendapati dirinya semakin tumbuh besar. Beberapa lembar dibagian buku itu masih bersih tanpa sebuah tulisan maupun goresan bulpen. Saat Sungha ingin menutup buku itu ia melihat lembaran terakhir dari buku yang ia pegang.

Sungha membaca tulisan yang ia yakini sebagai tulisan ibunya.

Sungha..

Cepat atau lambat kau pasti akan mengetahuinya.

Saat itu saat dimana ibu terasa sangat bahagia dan sangat beruntung melihatmu yang penuh dengan senyuman.

Saat ibu di fonis dokter tidak akan memiliki keturunan ibu merasa ini adalah akhir dari segalanya tapi ayahmu selalu menyemangati ibu dan selalu berada di sisi ibu.

Beberapa bulan setelah itu, ibu menemukanmu di depan pintu rumah bersama dengan sebuah cincin dan selembar surat yang menyatakan bahwa ibu harus merawatmu..

Ibu awalnya ragu tapi didalam hati ibu, ibu sangat bahagia karena mendapatkan berkah dari tuhan.

Walaupun kau bukankah anak yang lahir dari rahin ibu tapi ibu telah menganggapmu sebagai anak ibu satu-satunya dan kami sangat menyayangimu..

Sungha, kau adalah kehidupan bagi ibu dan ayah dan kau memberi kami kebahagiaan yang tidak bisa kami dapatkan sebelumnya..

Kami menyayangimu.. ♡

Sungha menangis terseduh-seduh dan memeluk buku yang ia pegang. “appa.. Eomma..” ia kembali teringat dengan senyu kedua orangtuanya. Hatinya terasa sangat sakit.

。゚ °Devil Child °゚。

Entah kenapa ia merasa sangat khawatir dengan keadaan Sungha. Ia takut jika kejadian kemarin terulang kembali dan mengundang para iblis untuk datang mendekatinya. Bahkan hal yang terburuk adalah Sungha dapat terbunuh. Jong In meremas bulpen yang ia pegang saat mengingat wajah taehyung yang sangat menyebalkan baginya itu. Apa yang ia rencanakan? Bolpen itu patah menjadi dua. “akan kubunuh kau..” ucap Jong In pelan. Tetapi karena keadaan kelas yang sunyi suara Jong In dapat terdengar dengan jelas hingga semua murid melihat kearahnya tak terkecuali guru Kim yang sedang menulis didepan.

Sadar jika dirinya ditatap oleh banyak mata Jong In membalas tatapan itu dengan sorot mata membunuhnya yang membuat seluruh orang yang menatapnya memalingkan pandangan termasuk guru Kim yang notabennya takut dengan Jong In. Pelajaran kembali berlanjut walaupun dengan suasanya yang cukup canggung.

Setelah pelajaran usai Jong In segera mencari namja yang ia tau bernama Jungkook. Yang tak lain adalah Taehyung. Namja itu tidak ada di kelasnya. Kemana dia? Jong In mencari Jungkook ke seluruh penjuru sekolah sampai ia melihat sesosok namja dan yeoja yang sedang berbincang yang Jong In yakini itu adalah Jungkook dan Ahri. Jong In segera menghampirinya dan menyeret Jungkook ketempat yang sepi. Namja itu menghempaskan tubuh Jungkook bergitu saja. “apa rencanamu?” tanyanya.

Jungkook merapikan bajunya yang ia rasa sudah kusut karena perbuatan Jong In. “itu rahasia.” jawabnya santai dan tersenyum.

“jangan ganggu dia lagi! Dan keluar dari tubuh itu pengecut!”

Jungkook menyeringai. Pengecut? Yang benar saja. “kau pikir lebih pengecut mana dibanding seorang pangeran yang bahkan tidak berani pulang kerumahnya.” Jong In mengangkat kerah Jungkook.

“lebih baik kau diam jika tidak ingin mati disini.”

Jungkook teringat sesuatu. Ia melirik kaki Jong In yang tengah berdiri tegap dan serasa tidak memiliki luka sedikitpun. “apakah malaikat itu juga bisa menyembuhkan luka?” Jong In terdiam sesaat dan melepaskan tangannya dari kerah Jungkook dengan kasar. “dia sangat menarik bukan? Kau bisa memanfaatkannya untuk membalaskan dendammu pada ayahmu.”

Jong In tak menanggapi Jungkook dan memilih untuk mengganti topik pembicaraan. “keluarlah dari tubuh itu. Dia bisa mati jika kau terus berada di dalam tubuhnya.”

“aku tak peduli tubuh ini terluka maupun mati. Dia dan aku sudah membuat perjanjian yang tidak akan bisa dilanggar. Kau tau? Jika dia melanggar dia akan mati tapi jika dia mengikuti perjanjian itu dia juga akan mati.”

“apa maksudmu?”

“sepertinya aku sudah berbicar terlalu banyak.” Jongkook memasukkan tangannya kedalam saku celananya. “aku pergi, ada hal yang masih harus aku lakukan.” Jungkoon menunjukkan senyum yang entah apa itu artinya dan pergi meninggalkan Jong In.

Yang saat ada dalam pikiran Jong In adalah perjanjian apa yang Jungkook buat dengan Taehyung? Namja itu sangat yakin bahwa Taehyung telah melakukan perjanjian darah dengan Jungkook. Tapi apa untungnya bagi Jungkook?

。゚ °Devil Child °゚。

Jong In tersentak saat mendapati Sungha yang tengah terlelap di sofa rumahnya. Apa yang ia lakukan disini? Namja itu mendekatinya dan mengamatinya sesaat. Sungha tertidur dengan memeluk buku berwarna merah. Merasa tak nyaman dengan posisi tidur Sungha ia mengambil buku itu dan membetulkan posisinya.

Jong In menaruh buku itu dimeja dan pergi kekamar untuk mengganti bajunya. Setelah mengganti seragam dengan kaos berwarna abu dengan gambar mickymouse bertuliskan guilty dan dengan celana jeans yang sangat serasi membalut tubuhnya. Namja itu segera keluar dari kamarnya dan mengambil soda kaleng yang telah namja itu simpan di kulkas.

Ia membukanya dan meneguknya perlahan. Mata namja itu kembali terfokus pada sosok yang tengah tidur di sofa. Tanpa menaruh sodanya ia menghampiri Sungha dan melihat buku merah diatas meja.

“buku apa ini?” ucapnya pelan karena penasaran. Kenapa Sungha sampai tidur memeluk buku tua ini?

Jong In menaruh sodanya dan menukarkannya dengan buku. Perlahan ia membuka dan melihat setiap foto yang terpampang di setiap lembarnya. Ia membaca tulisan yang berada di lembar paling belakang.

Setelah selesai Jong In kembali menaruh buku itu dan mengambil sodanya. Ia duduk di sofa yang letaknya berhadapan sengan Sungha. Matanya tak bisa lepas dari sosok yang sedang terlelap itu.

Detik berganti menit. Menit berganti jam. Tapi Jong In masih tak beranjak dari tempatnya. Jangankan beranjak. Namja itu bahkan masih setia menatap yeoja itu. Apa yang dia pikirkan sampai menatapnya seperti itu?

Perlahan tapi pasti Sungha membuka matanya. Tubuhnya terasa sakit karena tidur di sofa. Yeoja itu mendudukkan dirinya dan melihat Jong In yang menatapnya. “wae?” tanyanya.

Tapi Jong In tak menjawabnya dan masih terdiam menatap Sungha. Sungha mulai tak nyaman dengan tatapan Jong In dan melempar bantal yang ada di sofa yang ia duduki. “ya! Kenapa kau melihatku seperti itu!” Bantal itu tepat mengenai wajah Jong In.

Jong In mengambil bantal yang barus saja mengenainya itu dan melemparnya kearah Sungha. “kenapa kau melemparku?! Hah?!”

“kenapa kau melihatiku seperti itu?”

“siapa yang melihatimu?!” Jong In berdiri dan menaruh tangannya dikedua pinggangnya. “jika kau hanya ingin tidur disini pergilah.” namja itu mengacak rambutnya dan pergi.

“kenapa dia?” ucap Sungha bingung. Yeoja itu melihat cincin tang melekat manis dijarinya. Setelah membaca buku itu dan menyadari tak ada cincin. Ia segera kembari le kantar polisi tetapi mereka bilang hanya menemukan sebuah buku. Yakin jika cincin itu masih berada di kamar rumah sakit Sungha segera menuju kesana dan benar saja. Ia menemukan cincin itu tergeletak begitu saja dilantai. Kenapa polisi tidak menemukannya? Jelas-jelas cincin ini sangat terlihat.

Jika Sungha menyimpulkan dari pesan yang dituliskan dibuku itu cincin ini adalah cincin pemberian orangtua kandungnya. Dan ia pasti akan menjaganya.

Jong In kembali dan menghampiri Sungha. “kenapa kau kemari?” tanyanya. Sungha mendongakkan kepalanya menatap Jong In.

“wae? Bukankah kau memperbolehkanku kesini?” Jong In berfikir sebentar ia memang mengingat jika dirinya memberi kunci pada Sungha dan memperbolehkan yeoja itu masuk jika dalam bahaya.

“kau dikejar iblis?” tanyanya. Sungha menggeleng. “ohh..” Jong In melihat sesuatu bersinar di salah satu jari Sungha. Mata Jong In melebar mendapati sebuah cincin yang membalut jari itu. “sejak kapan kau memakai cincin itu?” tanyanya dengan wajah serius.

“ini?” Sungha merebahkan jarinya dan melihat cincin yang ia kenakan. “ini adalah peninggalan orangtua kandungku. Wae? Tidak cocok ya?”

“bisa aku melihatnya?”

“tentu.” Sungha melepaskan cincin itu dan memberikannya kepada Jong In. Namja itu memutar-mutar cincin itu dan meneliti setiap detailnya. “ada apa?” tanya Sungha bingung.

“ani.” Jong In mengembalikan cincin itu dan diterima langsung oleh Sungha. Ia sangat yakin pernah membaca buku tentang cincin itu sewaktu ia masih kecil. Motif yang terukir dicincin itu tak akan bisa dibuat oleh manusia. “Sungha. Bisakah kau menyimpan cincin itu. Danuntuk sekarang lebih baik kau tidak memakainya.”

Jong In tak bisa menerangkan apa yang sedang ia pikirkan dan ingatannya sedikit kabur karena sudah sangat lama ia membaca buku itu. Ia ingin memastikan suatu hal terlebih dahulu.

“wae?”

“turuti saja perintahku.”

。゚ °Devil Child °゚。

Seperti biasa Jungkook mengerjakan tugasnya diwaktu sebelum makan malam. Namja itu berhenti sejenak dan melihat sebuah bingkai foto yang terletak di meja belajarnya. Seorang namja dan yeoja tampak sangat serasi dan sangat berbahagia di foto itu. Senyum terpancar diwajah mereka berdua. “kau pasti selamat.. Bertahanlah..” ucapnya dan tersenyum.

“kau masih masih mengerjakan tugas?” tanya Taehyun dengan posisi tiduran dan sebuah comik di tangannya.

“ya begitulah.” Taehyun melirik Jungkook dan mendapati namja itu tengah tersenyum melihat foto dirinya dan pacarnya. Entah kenapa Taehyung tersenyum tanpa tau apa maksud dari senyumannya itu.

“besok datanglah kerumah sakit. Dia pasti sudah sadar.” ucapnya dan kembali terfokus pada comik yang dipegangnya. Jungkook menatap Taehyung penuh harapan.

“jinjja?”

“hmm. Bukankah aku sudah berjanji padamu..” jawabnya masih fokus pada comiknya.

“tapi untuk apa kau meminjam tubuhku? Bukankah kau sendiri sudah berwujud manusia?”

Taehyung membuka lembar selanjutnya. “sejak kapan kau mulai banyak bertanya?”

“jika kau tak mau menjawabnya tak apa.” namja itu kembali mengerjakan tugasnya yang telah tertunda karena percakapan itu.

。゚ °Devil Child °゚。

Jong In membaca buku tua dihadapannya itu dengan serius. Ia mendapatkan buku itu karena memaksa iblis api merah yang kebetulan lewat didepannya. Buku yang Jong In baca memang tak ada di dunia manusia dan hanya ada di perpustakaan dunia iblis.

Cincin ini hanya bisa dibuat oleh sang raja iblis yang memiliki kekuatan diatas rata-rata. Jika seorang iblis memakainya maka kekuatan yang ia punya akan tertidur sementara. Walaupun begitu cincin ini memancarkan sinar yang berwarna indah jika sang iblis memakainya.

Tapi sejak jaman dahulu raja iblis telah menghentikan dan melarang cincin ini beredar karena ia merasa cincin ini tak ada gunanya bagi bangsa iblis.

“kenapa orangtua Sungha bisa mendapatkannya?” ucapnya bingung. “siapa kau sebenarnya?” Jong In menutup buku itu dengan kasar dan keluar dari kamarnya. Ia mendapati Sungha yang sedang tertawa-tawa sendiri menyaksikan acara televisi.

Jong In menghampirinya dan duduk di sampingnya. “kau tidak pulang?” tanyanya.

Sungha tak memedulikan kehadiran Jong In dan masih tertawa melihat acara itu. Merasa tidak dianggap Jong In mengambil remot dan mematikannya. “dengarkan jika ada orang bicara!”

“ya! Kenapa kau mematikannya!” Sungha merebut remot itu dan terjadi saling rebut semot sampai Jong In membuang remot itu ke sofa lain. “ya!” protes Sungha.

“pulanglah.”

“aku tak mau pulang.” Sungha melipat tangannya dibawah dada dan menggembungkan pipinya tak suka dengan sikap Jong In yang telah mengganggu acara nonton tv nya.

“kau boleh tidak pulang jika kau melihatkan sayap iblismu padaku.” Jong In ingin memastika sesuatu. Ia pernah melihat sayap itu tapi hanya saat yeoja itu pingsan. Dan sayap itu hanya berwarna hitam tanpa ada api sedikitpun.

“wae? Bukankah kau tau jika aku belum bisa mengendalikan sayapku? Apalagi sayap iblisku, kau bercanda?!”

“maka dari itu kau harus bisa mengendalikannya. Kau bisa tidur di sofa ini jika kau mau. Tapi besok bagi aku harus bisa melihat sayap iblismu. Jika tidak…” Jong In melakukan gerakan memotong lehernya dengan tangan. Sungha menelan salivanya takut jika Jong In benar-benar melakukannya pada dirinya.

Namja itu segera masuk kekamarnya dan meninggalkan Sungha sendiri.

。゚ °Devil Child °゚。

Jam telah menunjukkan pukul sebelas malam tetapi Sungha masih belum bisa melakukannya. Sebanyak apapun ia mencoba hanya sayap putihlah yang bisa ia keluarkan.

Sungha lelah melakukannya berulang kali dan memutuskan untuk melakukannya lagi keesokan hari. “kenapa dia sangat jahat padaku..” keluhnya dan berbaring disofa.

Mata yeoja itu perlahan menutup tapi belum sempat menutup sempurna ia merasakan tubuhnya seperti tersengat listrik kecil. Yeoja itu mendudukkan dirinya. “apa tadi?” ia melihat telapak tangannya dengan masih kebingungan.

。゚ °Devil Child °゚。

Jong In bangun dari tempat tidurnya dan segera mandi untuk melanjutkan kegiatan kesekolahnya. Sekilas ia melihat Sungha yang masih tertidur. Tak mau mengganggunya namja itu segera melanjutkan kegiatannya.

setelah berpakaian rapi ia mengambil sebuah roti dan melapisi permukaan atas roti itu dengan selai strouberi. Merasa sudah terlalu cukup untuk tidur Jong In menghampiri Sungha masih dengan roti dimulutnya.

“bagunlah. Kau berangkat sekolah tidak?” Jong In menghentikan kunyakan roti dimulutnya saat mendapati tubuh yeoja itu menggigil. Ia menaruh sisa roti diatas meja dan memegang kening Sungha. Panas. Itulah yang ia rasakan.

“Sungha? Sungha kau dengar aku?! Bukalah matamu.” entah apa yang terjadi tubuh yeoja itu masih bergetar dan matanya masih tertutup rapat.

Jong In memegang pipi Sungha yang juga terasa panas. Dari wajah Jong In sangat jelas terlihat jika ia merasa panik dan khawatir. Ia memutuskan untuk membopongnya dan membaringkannya di tempat tidur kamarnya.

Bersambung..

35 thoughts on “Devil Child (Part 2)

  1. Kejam banget sih Taehyung, sebenarnya apa yg dia inginkan pada Sungha? Bahkan dia memancing emosi Sungha dengan membunuh ke2 orangtuanya. Tega sekali #namanya juga iblis hhehe
    Ohh jadi Joongkok bekerjasama dengan Taehyung karena pacarnya yg lagi koma di Rumahsakit. Tapi perjanjian apa yg mereka buat?
    Makin suka lihat kedekatan Kai sama Sungha deh hhehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s