The Seonsaengnim’s Love Story – Mosaic Emotion, Piece 1 (Yara’s Part 3)

Title     : The Seonsaengnim’s Love Story – Mosaic Emotion, Piece 1 (Yara’s Part 3)

Author : The Seonsaengnim – Han Jangmi

Genre  : Romance, School Life, Comedy

Cast     :

  • Han Yara (oc)
  • Kim Joon Myeon (Suho – EXO)

Rating  : PG 15

Length : Chapter

Author’s Note:

FF ini juga dipublish di WP pribadi authors, thefantasticseonsaengnim.wordpress.com Authors? Ya, ada 4 authors disini. Dan untuk cerita yang satu ini, Han Jangmi yang menulisnya. Kalian bisa mengunjungi blog kami untuk membaca cerita-cerita lainnya J

Ini merupakan seri FF pertama author, mian kalau masih banyak kekurangan karena kesempurnaan hanya milik Tuhan. FF ini murni karangan author. Jika ada alur atau tokoh yang sama, itu merupakan unsur ketidaksengajaan belaka.

DON’T PLAGIAT AND BASH

Comments are really appreciated J

So, HAPPY READING…….

 

Author’s POV

Terlihat seorang pemuda berjalan mantap ke arah ruang baca rumahnya.

“Semoga eomma ada di ruang baca sekarang. Aku harus memberitahu eomma sebelum semuanya terlambat.”

“Eomma,..” Joenmyeon membuka pintu yang memperlihatkan seorang perempuan paruh baya memperbaiki letak kacamatanya dan memandang ke arah asal suara tersebut.

“Eomma ada waktu, bisakah kita berbicara sebentar?” Joenmyeon berjalan ke arah dimana eomma nya duduk dan mengambil kursi.

Eommanya nenampakkan wajah sedikit kebingungan, tidak biasanya Joenmyeon memintanya waktu dan mengajaknya berbicara seperti sekarang. Apa telah terjadi sesuatu, pertanyaan tersebut muncul dalam pikiran eommanya.

“Tentang guru les..” sang eomma mendengarkan dan membiarkan Joenmyeon berbicara.

“Apa eomma sudah mendapatkan pengganti guru les ku sebelumnya?”

Eommanya semakin kebingungan, “Eoh, kenapa tiba-tiba kau menanyakannya, Joenmyeon-a? Tidak biasanya kau memikirkan tentang lesmu. Dan bukankah kau yang selalu berhasil membuat mereka mengundurkan diri-berhenti hanya dalam beberapa kali pertemuan? Bahkan, kau bisa membuat penghargaan siapa yang tercepat diantara guru-gurumu itu..” Nyonya Kim menyindir Joenmyeon dan membuatnya menyeringai penuh kemenangan.

“Baguslah!” jawabnya

“Bagus?” Nyonya Kim mengulangi kata Joenmyeon, tak percaya dengan apa yang dia dengar.

“Eomma, bisakah eomma meminta guru satu ini memjadi guru lesku?” Joenmyeon merajuk

Nyonya Kim mulai mengetahui arah pembicaraan Joenmyeon,”siapa guru itu, Joenmyeon-a?” Nyonya Kim tak ingin melewatkan kesempatan ini, saat Joenmyeon mulai tertarik dengan pelajaran.

“Namanya Han Yara, dia wali kelasku di sekolah. Dia mempunyai kepribadian yang sungguh menarik…” Joenmyeon menghentikan sejenak ucapannya ketika melihat eommanya memberikan tatapan cukup aneh padanya. “Dan bukankah sangat memguntungkan kalau wali kelasku di sekolah juga mengajarku di les, sehingga dia tahu setiap perkembangan siswanya. Baik untuk Yara seongsaenim dan juga baik untuk kalian berdua. Semoga eomma mengerti maksudku” Eomma nya menangkap kesan marah pada kata-kata Joenmyeon.

“Joenmyeon-a, sebenci itu kah kau pada kami?”

“Aku tak membencimu eomma…” pandangan Joenmyeon beralih dari wajah eommanya ke karpet di bawah alas kakinya. “aku hanya tak suka pada aboeji dan bagaimana dia memperlakukanku.” kali ini kebencian yang tampak di wajahnya.

“Joenmyeon-a…” eommanya berusaha meraihnya.

“Ah sudahlah bu, ku tak ingin merusak suasana hatiku saat ini.” Cepat-cepat Joenmyeon memperbaiki posisinya menghadap eommanya.

“Dan ini nomer telponnya eomma. Lebih baik jika eomma cepat menghubunginya karena khawatir jadwalnya akan penuh dan tidak mempunyai waktu untukku”.

Yara’s  POV

Di sini aku berdiri, di depan sebuah pintu pagar rumah menunggu seseorang membukakan pintu untukku. Ya, beberapa hari yang lalu, seseorang yang menyebut dirinya Nyonya Kim menelponku dan memintaku menjadi guru les putranya yang sekarang duduk di tingkat akhir sekolah menengah atas.

“Yara seonsaengnim? Silakan masuk.” Seseorang yang tampaknya pelayan rumah ini membukakan pintu pagar.

“Mari ikuti saya.”

Aku melihat halaman yang cukup luas dengan permadani rumput hijau. Di beberapa bagian halaman ini terdapat pohon, bunga dan beberapa tanaman lainnya yang membuat rumah ini tampak begitu asri. Di salah satu sisi halaman terdapat bangku taman beserta mejanya. Aku yakin mereka sering menghabiskan pagi dan sore hari mereka di bangku taman tersebut sambil menikmati hangatnya teh dan hembusan angin dan mungkin sesekali berbagi cerita. Atau mungkin mereka lebih senang menghabiskan judul-judul buku baru disana, menyibukkan diri dalam keheningan. Ah, adegan yang sempurna, seperti di film-film itu.  Bangunan rumahnya pun bergaya korea modern. Begitu indah. “siapakah keluarga Kim ini?”

Bibi rumah ini menuntun ku memasuki rumah tersebut, melewati ruang tamu, dan ruang makan? Ada yang aneh disini.

“Permisi bi, dimanakah tuan dan nyonya Kim? Bukankah saya harus menemui mereka dulu?”

“Tuan dan nyonya sedang dalam perjalanan pulang dan anda diminta untuk langsung menemui tuan muda.”

Bibi membawaku menaiki tangga menuju sebuah kamar.

TOK-TOK

“Tuan muda, Yara sonsaengnim di sini.”

“Silakan masuk bi.”

Eoh.. suara itu..

“Selamat datang Yara-ssi”

“Joenmyeon?”

Ya itu Joenmyeon. Dia duduk di tepi tempat tidur yang menghadap lurus ke pintu, dengan posisi andalannya, kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Apa dia sedang menungguku?

Aku melangkah ke arahnya sambil menurunkan ransel di bahuku ke lantai.

“Jadi ini rumahmu? Kenapa tidak mengatakannya sejak awal kalau kau adalah siswa lesku yang baru?”

“Secara teknis ini bukanlah rumahku karena bukan aku yang membelinya dan bagaimana mungkin kau tidak mengenali alamat murid-muridmu. Benarkah kau seorang wali kelas?”

“Haaiish, jinja!” bocah ini benar-benar.

“Dan aku juga tidak tahu kalau ternyata kau masih memiliki keinginan untuk belajar. Karena yang aku tahu kau selalu tidur dalam kelas. Hmm.. I wonder.” Godaku.

“Yaa.. berhenti mengejekku. Guru macam apa yang tega mengolok siswanya.”  Dia sekarang telah mengganti posisi duduknya, rupanya dia termakan godaanku. Hihihi…

TOK-TOK

“Ne?”

“Tuan muda, tuan dan nyonya Kim sudah datang dan sedang menunggu tuan muda dan Yara seonsaengnim  di ruang tamu.”

“Baik bi, terima kasih. Kami akan segera turun.” Jawabku.

“Gaja, Joenmyeon, kedua orang tuamu sedang menunggu kita.”

“Eoh, kau duluan saja, aku akan menyusulmu nanti.”

Jawaban Joenmyeon terkesan aneh bagiku. Dia tiba-tiba membuang muka. Entah apa yang dipikirkannya dan membuatnya menjawab seperti itu.

“Kenapa tidak turun bersama saja?” aku masih memintanya untuk segera turun.

Dengan sedikit enggan dia beranjak dari tempatnya dan menghampiriku. Tanpa kata. Aku tersenyum kecil melihatnya, bukan karena kenyataan aku memenangkan keinginanku padanya melainkan karena dia, sang bocah nakal masih mau mendengarkan orang lain.

Dibukakan pintu kamarnya untukku dan memintaku untuk berjalan mendahuluinya.

Di ruang tamu aku melihat orang tua Joenmyeon sedang bercengkerama, sang eomma sesekali memperbaiki tatanan cangkir teh yang dihidangkan.

“Eoh, Yara sonsaengnim?” Nyonya Kim menyadari kedatanganku.

“Ye, annyong haseyo, tuan Kim, nyonya Kim”

Keduanya pun memperkenalkan diri mereka. Aku baru tahu kalau ternyata keluarga Kim ini adalah keluarga terpandang. Mereka adalah pemilik Miracle Mall yang salah satunya terletak berdekatan dengan Namsan Seoul Tower, landmark  Korea Selatan. Tidak hanya itu, keluarga Kim adalah satu dari beberapa pemegang saham terbesar di universitas Yong, universitas terkenal di Korea Selatan yang telah menghasilkan tokoh-tokoh ternama di Korea. Keluarga yang tidak mungkin kekurangan tujuh turunan. Ani tapi sebelas keturunan, itu tepatnya. Tapi, kenapa Joenmyeon menjadi pemberontak seperti ini. Hmm.. Sesekali aku menoleh kepadanya dan aku lihat dia selalu membuang muka tiap kali tuan Kim berbicara.

“Saya meminta bantuan Yara soensaengnim untuk membantu Joenmyeon belajar. Saya dengar anda juga wali kelasnya di sekolah?”

“ye tuan Kim. Saya akan berusaha membantu Joenmyeon.”

“Tahukah anda, Yara soensaengnim, Joenmyeon ini dia sungguh bodoh. Saya menyuruhnya untuk masuk universitas Yong, bahkan saya sudah mendaftarkan namanya disana, dan mengambil jurusan manajemen untuk membantu perusahaan kami nantinya. Di univeritas itu setidaknya dia bisa masuk tanpa bersusah payah. Tapi dia menolak mentah-mentah semua kemudahan yang kami tawarkan. Dan lihat sekarang dia malah terjebak dengan masa SMAnya. Saya tidak tahu sebutan apalagi selain bodoh untuknya.”

Aku benar-benar terkejut mendengar apa yang baru saja tuan Kim katakan tentang Joenmyeon. Dia sudah menggariskan masa depan Joenmyeon. Kuliah di universitas Yong, melanjutkan perusahaan keluarga. Sungguh hal yang berat untuk seorang siswa sekolah menengah pikirkan. Namun tampaknya Joenmyeon tidak menyukai rencana aboejinya ini. Dan satu lagi yang perlu ditambahkan. Aku sungguh tidak setuju kalau Joenmyeon disebut sebagai siswa bodoh meskipun yang mengatakan itu adalah orang tuanya sendiri.

“haruskah kau mengatakan itu semua disini pak tua?!”

Mataku semakin terbelalak mendengar Joenmyeon. Oh tidak aku berada di tengah-tengah perang keluarga konglomerat. Cobaan apa lagi yang akan aku hadapi sekarang.

“KAU!!” tuan Kim bangkit dari tempat duduknya sambil mengepal tangannya, geram. Untung saja nyonya Kim bisa langsung menenangkan suaminya dan arena tinjupun dapat dihindarkan. Pemandangan yang mengerikan. Sungguh.

“Serahkan Joenmyeon pada saya.”

“Eoh??”

Aiish, apa yang baru saja aku katakan? Setan mana yang merasukiku barusan! Aiiish jinja.

Tapi aku harus melakukannya. Aku harus menyelamatkan anak didikku.

“Izinkan saya menjadi pendamping Joenmyeon..”

“Tapi, Yara soensaengnim, Joenmyeon masih bersekolah. Dia belum tau apa-apa tentang tanggung jawab. Bagaimana mungkin anda sudah memintanya menikahi anda.”

Tampaknya nyonya Kim salah mengerti pernyataanku tadi. Oh tidak, situasinya semakin runyam.

“Maaf tuan dan nyonya Kim, maksud saya, izinkan saya mendampingi Joenmyeon belajar. saya akan melakukan yang terbaik dan tentu saja saya juga membutuhkan kerjasama dari semua pihak, tuan dan nyonya Kim dan Joenmyeon sendiri. Jika saya bergerak sendirian disini, hasilnya tidak akan maksimal dan bahkan mungkin semua usaha akan sia-sia. Jadi izinkan saya melakukannya dan dengan dukungan dari semuanya.”

Keberanianku muncul. Yak bagus Yara-ya, kau harus bisa meyakinkan kedua orang tua Joenmyeon.

Keduanya kini terdiam, mereka saling berpandangan. Nyonya Kim memandang teduh suaminya. Keduanya memang tidak mengatakan apapun tapi aku bisa melihat mereka berbicara banyak hal dari tatapan mereka. Joenmyeon-a… tak bisakah kau melihatnya, keduanya sangat mencintaimu. Kau sangat beruntung Joenmyeon. Senyum tipis tersungging di sudut bibirku.

Nyonya Kim mengangguk memandangku.

“Ne, Yara soensaengnim. kami mengerti. Kami percayakan Joenmyeon padamu dan tentu kami akan membantu setiap usaha yang akan anda lakukan. Joenmyeon-a kau dengar sendirikan, wali kelasmu bersedia membantumu. Kalau begitu jangan kecewakan gurumu. Tunjukkan kalau kamu memang layak untuk dibantu. Dengarkan dan ikuti apapun yang gurumu katakan. arachi, eo?”

Joenmyeon tidak memberikan respon apapun dari pernyataan eommanya ini.

Di depan pintu kamarnya aku biarkan Jeonmyeon membukakan pintu untukku. aku berjalan mundur memasukinya dan sambil memandangnya yang berada di belakangku. Kini dia benar-benar harus mendengarkanku hehehe..

“Jadi Joenmyeon-a, mulai sekarang kamu harus patuh padaku karena sekarang aku adalah penjagamu whoaaaa…”

Aku kehilangan keseimbanganku. Aku tersandung ranselku sendiri yang ku letakan sembarang tadi. Jika bukan karena Joenmyeon yang menarik lengan kiriku, sekarang aku pasti sudah terjungkal, lagi. dan sekali lagi kini wajahku menempel di dadanya. Haiissh.. memalukan.

“Bagaimana mungkin kau akan menjagaku, sedangkan kau tidak bisa menjaga dirimu sendiri.”

Dia setengah berbisik. Apa ini.. pipiku terasa panas. Segera aku melepaskan diri dari pelukannya.

Thank you” aku tak berani menatapnya. Segera ku raih ranselku itu dan menuju satu-satunya meja dalam kamarnya.

Meja tersebut terletak diantara tempat tidur dan pintu. Tidak ada kursi di depannya karena meja itu sendiri tidak tinggi, dan kami cukup duduk di lantai.

So.. my guardian,..” joenmyeon sudah bersila di seberang meja. “kau tahukan kalau les kita tidak hanya untuk mata pelajaran Bahasa Inggris tapi juga untuk semua mata pelajaran. Untuk teknis pembelajarannya, buku-buku yang digunakan itu semua aku serahkan padamu. Tapi satu hal, aku tak ingin kau datang terlambat. Karena waktuku sangat berharga”

“What?!”  baru kali ini aku di dikte oleh siswaku. Seenaknya saja mengajukan syarat. Tunggu dulu, apa mungkin dia menyatakan syarat itu karena aku sering datang ‘sedikit’ terlambat ke sekolah. Dan apa maksudmu waktumu berharga! Kalau memang demikian harusnya kau tak menyia-nyiakan tahunmu dengan  tinggal kelas. Dasar bocah dungu. Aku menggerutu dalam hati dan tanpa ku sadari aku telah mengernyitkan dahiku.

“mwo ya? Apa yang kau pikirkan? Kau keberatan?” Joenmyeon membuyarkan lamunanku.

“Baik, aku terima. Dan ingat kau harus mendengarkanku.”

 

Joenmyeon’s POV

Aku masih tak percaya Yara sedang duduk di hadapanku sekarang. Kami memang selalu bertemu di sekolah tapi kami tak pernah mempunyai kesempatan untuk duduk berdua, berlama-lama seperti ini atau berbicara panjang lebar. Apalagi sekarang Yara sudah tahu kalau aku adalah anak tunggal dari pemililk Miracle mall, aku khawatir dia akan berubah terhadapku. Ani, lebih baik lupakan dulu hal tersebut, aku terlampau senang. Dan menjadi pendampingku, hehe.. apa yang ada di pikirannya.

“Hm..jadi kau putra pemilik Miracle mall..”

Mwo.. apa dia sedang membaca pikiranku? Ah, tidak. Dia bahkan tak melihatku saat mengatakannya.

“Ya..apa yang kau gumamkan?”

“Eoh, ani. Aku hanya berpikir kalau kau putra seorang konglomerat harusnya akan sangat mudah bagimu untuk lulus dari sekolah ini dan seandainya kau ikuti saja saran aboejimu kau tidak akan dalam masalah.”

“yaa.. apa yang kau katakan? Jadi sekarang kau memihak pak tua itu ha? Dan semua yang kau katakan di bawah tentang menjadi pendamping dan penjagaku itu semua omong kosong?” aku tak bisa lagi menahannya. Ini sudah keterlaluan.

“Yaa.. Joenmyeon apa meneriaki orang itu hobimu? Dan ingat satu hal, aku adalah gurumu, bicaralah yang sopan!”

Guruku –deg-

Satu kata itu telah merubah irama dentuman jantungku. Sakit.

Aku silangkan lengan di dadaku dan memalingkan wajahku darinya.

“Joenmyeon, dengarkan dulu. Aku hanya penasaran kenapa kau memilih jalan yang sulit ketika jalan yang mudah sudah terbentang di depanmu? Dan ya, aku akan tetap menjadi penjagamu. Kau bisa memegang kata-kataku. Tapi bukan berarti ketika aku menjadi penjagamu maka aku akan meng-ia-kan semua yang kau lakukan dan menolak semua yang kedua orang tua mu katakan. Tidak, hal tersebut tidak ada dalam rencanaku.”

“Kalau begitu katakan apa rencanamu?”

“Rencanaku?” dia mulai menggaruk-garuk kepalanya. “He.. Aku bahkan belum memikirkannya..”

“Haaiish, lalu bagaimana kau bisa sangat yakin kau bisa menjagaku?”

“Aku hanya tahu. Kita akan memikirkannya nanti. Karena itu kau harus membantuku, otte? Otte Joenmyeon?” sekarang dia tersenyum lebar dan lihat kedua bola matanya yang bulat itu. Tak seorang pun bisa lolos tanpa membalas tersenyum kepadanya. Kau sekali lagi menang Yara.

Dia benar-benar tak membiarkan kesunyian menang diantara kami. Kini dia kembali berbicara setelah hanya beberapa menit kami tenggelam dalam buku pelajaran.

“Jadi katakan padaku kenapa kau tidak mau berkuliah di universitas Yong? Dan menurut guru-guru yang pernah mengajarmu, kau adalah salah satu siswa terpandai di tingkat pertama, lalu apa yang merubahmu seperti sekarang? Maaf, tapi aku sungguh perlu tahu tentang semua itu.”

Kau memang tak pernah menyerah Yara.

“Haruskah kau tahu?”

Dia hanya mengangguk sekali, mantap. Dan membuatku menghela nafas kuat, karena itu berarti aku harus mengingat sekali lagi kejadian-kejadian itu.

“Kau benar dulu aku adalah anak yang pandai. Aku tak mau menyombongkan diri tapi aku memang tak pernah absen dari peringkat lima besar di tahun pertamaku. Hingga di tahun kedua, saat semuanya berubah. Aku menikmati aku yang dulu, yang tidak pernah dipusingkan dengan kepentingan orang lain, yang selalu mengikuti kata hati. Aku merasakan kebebasanku yang sebenarnya. Mungkin kau akan bilang kalau sekarangpun aku terlalu bebas, tidak mendengarkan orang lain. Tapi tahukah kau, Yara-ssi kalau apa yang aku lakukan selama ini adalah bentuk pergolakanku, penolakanku akan pemaksaan kepentingan pak tua itu kepadaku. Aku tak suka jika seseorang mendikteku, aku harus bagaimana dan aku harus apa. Aku tahu, sangat tahu kalau suatu saat aku harus mengambil alih perusahaan. Tapi sampai hari itu tiba, salahkah jika aku melakukan sesuatu sesuai inginku?”

“lalu pernahkah kau menceritakan hal ini pada keduanya?”

Tak mungkin aku menceritakannya pada keduanya, Yara. Pak tua itu terlalu keras kepala dan eomma sangat sibuk, sulit menemukannya berada di rumah.

Aku menggeleng untuk menjawab pertanyaan Yara.

“Kau tahu, aku selalu percaya komunikasi adalah kunci dari setiap masalah. Mungkin jika kau menceritakan apa yang kau mau dan yang tidak kau sukai dari tindakan mereka, kedua belah pihak akan menemukan jalan keluar terbaik. Anyway, bantu aku menguraikannya..”

Yara sedikit mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak. Dia serius menanggapi masalahku.

“Kau tahu kalau suatu hari perusahaan akan kau pimpin tapi kau tidak mau kalau aboejimu memasukkan mu ke universitas Yong, begitu? Lalu apa kau sudah mempunyai ancang-ancang akan berkuliah di suatu universitas tertentu?”

Aku menggeleng sekali lagi, “ani, nyatanya aku tidak tahu akan melanjutkan kuliah di universitas mana. Tapi aku tak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Apapun universitasnya, aku akan melakukan yang terbaik disana. Sampai pak tua itu..”

“Yaa.. bisakah kau menunjukkan sedikit rasa hormat pada aboejimu? Pak tua itu tetap aboejimu. Berhenti memanggil beliau dengan sebutan seperti itu. Apalagi dihadapanku, mengerti!!”

Dia membuatku kaget dengan protesnya itu.

“sampai a…boeji,” lihat sekarang dia tersenyum. Haiiish..aku benar-benar dikutuk untuk mendengarkan tiap kata-katanya. “memberitahuku untuk melanjutkan belajar di universitas yong. Bahkan seperti yang kau dengar sendiri, dia sudah mendaftarkan namaku disana. Aku tak suka dia melakukan hal itu. Aku ingin melakukannya sendiri, karena ini adalah bagian dari kebebasanku..”

“oh, karena itulah kau dengan sengaja membuat dirimu tinggal kelas agar kau tidak perlu masuk ke universitas Yong?”

Kini kau mengerti Yara.

“Mungkin terdengar konyol tapi hanya itu yang terpikirkan olehku.”

“Bukan hanya konyol tapi sangat bodoh, Joenmyeon. Kau merugikan dirimu sendiri dengan sikapmu ini! Apa sekarang akhirnya kau tahu akibat dari perbuatanmu ini? Untuk selanjutnya apa yang ada dalam pikiranmu? Apa rencana masa depanmu? Akan kuliah dimana? ”

“Yaaa.. apa aku sedang melamar pekerjaan disini? Kenapa kau menanyaiku seperti itu?” dia sungguh membuatku kesal.

“mian”

Ini adalah hari pertama les kami. Aku rasa agak membosankan jika hari pertama sudah harus belajar serius, apalagi sejak tadi dia sudah bertanya banyak tentangku, jadi kali ini adalah giliranku.

Akupun mulai bertanya tentang pengalamannya belajar di luar negeri. Dia begitu bersemangat menceritakannya. Bagaimana dia memenangkan beasiswa belajar disana, bagaimana kehidupan disana, bagaimana dia harus beradaptasi dengan lingkungan dan suasana yang baru. Mata bulatnya berbinar-binar.

“Kau tergolong siswa pintar ketika di SMA dulu, yara-ssi?”

Yes, indeed!” dia tersenyum puas.

“Karena kau siswa pintar dan kaupun tidak jelek-jelek amat, itu berarti juga kau telah berkali-kali pacaran? Mantanmu pasti berjejer di belakang? Bagaimana ketika kuliah dulu, pernahkah kau berkencan dengan teman-teman bulemu? Atau bahkan sekarang, apa kau sudah punya pacar?” akhirnya aku sampai pada pertanyaan itu.

“yaaa.. apa aku sedang melamar pekerjaan sekarang?” yak, yara mengulangi kata-kataku.

“yaa.. jangan mengkopi kata-kataku!”

“yaa.. berhentilah berteriak dan kembalilah belajar!” Yara menunujuk buku-buku yang sedari tadi terbuka lebar di hadapanku.

Author’s POV

Banyak perubahan terjadi pada Joenmyeon. Tingkat kehadiran Joenmyeon dalam kelas semakin meningkat. Dia pun mulai memperhatikan pelajarannya kembali meskipun masih agak malas mengerjakan tiap tugas yang gurunya berikan. Selain itu, kini dia menjadi lebih sering bertemu dan berbicara dengan yara. Dan satu hal yang pasti, dia sangat menikmati setiap kebersamaannya dengan Yara, dia sangat menyukai setiap perhatian yang Yara berikan. Setiap Rabu dan Sabtu sepulang sekolah Joenmyeon selalu mengingatkan Yara akan jadwal les mereka hari itu. Bahkan Joenmyeon pun sering menawarkan tumpangan untuk pulang bersama, namun Yara selalu menolaknya.

Sedangkan Yara, kini rutinitasnya semakin bertambah. Setelah dia menjadi wali kelas di Kyungra school, kini dia juga menjadi guru les untuk Joenmyeon. Apalagi dalam waktu dekat siswa akan menghadapi ujian tengah semester dan sekolahpun menunjuknya sebagai salah satu panitia untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Itu artinya tanggung jawabnya pun bertambah. Dikeluarkan HP-nya yang sedari tadi berada di tasnya. Yara melihat ada beberapa sms disana, dan salah satunya adalah dari Joenmyeon. Seperti biasa Rabu ini dia mengingatkan Yara akan lesnya. Tapi ternyata Yara telah melupakannya karena kesibukannya di sekolah.

Joemyeon:

Ya, Yara-ya, jangan bilang kau akan melarikan diri dari tanggung jawabmu. Pukul berapa ini? Cepat datang. Kita harus belajar!

Yara refleks memukul keningnya sendiri ketika membaca pesan tersebut. Dia sungguh melupakan jadwal mereka. Dia membalas pesan Joenmyeon sambil menggelengkan kepalanya.

“Bocah ini, masih saja memanggilku dengan namaku. Padahal sudah berkali-kali aku menyuruhnya untuk menambahkan kata guru di depan. Tapi syukurlah setidaknya dia masih tahu batasannya, dia tidak melakukan kebiasaannya ini ketika berada di depan umum.” Ungkap Yara dalam hatinya.

To joenmyeon:

yaa, berhenti meneriakiku..

“ani, tidak seperti ini..” Yara menghapus kata-kata yang baru saja dia ketik untuk membalas pesan Joenmyeon.

bahkan sekarang sms-mu pun bisa meneriakiku

no-no, bukan juga yang ini..” sekali lagi Yara menghapus kata-kata tersebut.

I’m really sorry, I forget about our schedule. But don’t worry I will never run from my responsibility. I’ll be there soon, just wait. Anyway, today we’re going to study about history. Prepare your self.

Segera setelah dia membalas pesan Joenmyeon, dia membuat pesan untuk Sunye. Yara tidak membawa buku sejarah yang akan keduannya pelajari. Buku sejarah di meja Sunye adalah penyelamatnya.

***

“Bagaimana mungkin kau sangat terlambat?”

Kini keduanya sudah saling berhadapan.

“Maafkan aku, aku harus bekerja overtime untuk mempersiapkan ujian kalian nanti. Tapi bukankah sekarang aku sudah ada di sini. Ayo jangan buang waktu, segera belajar.”

Tidak selang beberapa lama, Joenmyeon sudah mendapati Yara tertidur dihadapannya.

“Secapai itu kah dirimu Yara-ya? Kasihan sekali. Seharusnya kau tak perlu memaksakan dirimu. Aku tak bersungguh-sungguh dengan semua teriakan-teriakanku itu. Maaf” Joenmyeon menyesali tindakannya.

Dia memandang sendu gadis yang tertidur di hadapannya itu. Dia pun beringsut mendekatinya dan berniat untuk memindahkannya ke atas tempat tidurnya agar gadis itu bisa tidur dengan nyaman. Ketika dia hendak menggendongnya, Yara tiba-tiba saja membuka matanya. Dan sekarang wajah keduanya hanya terpisah beberapa senti saja. Tak pelak lagi keduanya pun kaget. Yara mendorong tubuh Joenmyeon menjauh.

“Yaa.. Joenmyeon jangan bertindak mesum!!”

“Haaiiish.. kalau kau mau tidur, lebih baik pulang saja!” Joenmyeon balas berteriak.

“Tidak akan. Aku masih bisa bertahan. Kau harus menyelesaikan belajarmu!”

“Perempuan ini, dia sungguh keras kepala” batin Joenmyeon dan kembali ke tempatnya semula.

Joenmyeon pun membiarkan keheningan menguasai mereka. Dia tidak berusaha membuat Yara tetap terjaga. Dia bahkan berniat untuk membiarkannya tertidur saja. Dan akhirnya kantukpun menguasai Yara sepenuhnya. Namun Joenmyeon tidak ingin melakukan kesalahan yang sama. Dia membiarkan Yara dengan posisinya untuk beberapa lama, sampai dia yakin Yara sudah benar-benar terlelap.

Sekali lagi dia dekati sleeping beauty dihadapannya.

“sungguh cantik”

Degup jantung Joenmyeon sudah tak beraturan lagi. Perlahan dia menggendong tubuh gadis itu dan memindahkannya ke atas tempat tidurnya. Dia melakukannya dengan sangat lembut agar gadis tersebut tetap tertidur. Ditatapnya wajah gadis yang sekarang berada di tempat tidurnya. Begitu damai. Dan rok mini yang dia kenakan cukup memamerkan jenjang kakinya. Segera Joenmyeon menarik selimut untuk menutupinya sebelum akal sehatnya terkalahkan.

Degup jantung Joenmyeon semakin kencang. Dia memegang dadanya hanya untuk memastikan jantungnya tidak melompat keluar. Gadis yang berhasil menarik perhatiannya, gadis yang ternyata diam-diam dia cintai kini berada tepat dihadapannya, tertidur pulas, tak berdaya.

Disingkirkannya rambut-rambut halus yang jatuh di wajahnya. Begitu hati-hati dia lakukan agar Yara tidak terbangun. Semakin dalam Joenmyeon menatap wajah gadis itu, dan

CUP

Joenmyeon mengecup sudut bibirnya. Dia berikan ciuman pertamanya padanya.

“selamat malam, Yara-ya” bisiknya dengan masih mempertahankan posisinya.

TBC

Iklan

43 thoughts on “The Seonsaengnim’s Love Story – Mosaic Emotion, Piece 1 (Yara’s Part 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s