Thorn of Love Part 10 – (Please Don’t)

Thorn of Love Part 10 –

(Please Don’t)

Author                         :           @Yuriza94 / Oriza Mayleni

Main Cast                    :

  • Byun Baekhyun
  • Han Yoonjoo
  • Byun Heejin
  • Oh Sehun

Support Cast               :

  • Kim Jongdae (Chen)
  • Byun Junghwan (OC)
  • .

Genre                         :           Romance, Angst

Rating                                     :           PG15

Recommended Song  :            Soohyun (U-Kiss) ft Eunyoung (Brave Girls) – April Story

I know it’s been a long long time and I’m really sorry about this late post.

 

~oOo~

Baekhyun’s POV

Aku sering mendengar orang mengatakan bahwa jika kau berada dalam keadaan antara hidup dan mati, kau akan bisa melihat potongan-potongan kejadian dalam hidupmu yang selama ini mungkin sulit untuk kau ingat atau bahkan sudah kau lupakan sepenuhnya. Ucapan tersebut tak sepenuhnya bohong karena aku sudah mengalaminya sendiri, aku sudah merasakan bagaiman hidup terasa terombang-ambing saat pikiran dengan paksa mengingat segala sesuatu yang sudah amat sangat lama berlalu. Aku sendiri tak mengerti kenapa harus kejadian itu yang mampir. Saat kepalaku terantuk sesuatu atau mungkin dipukul suatu benda yang sangat keras, saat itu pula-lah aku kembali teringat saat-saat paling menyedihkan dalam hidup. Entah darimana datangnya, aku merasa ada aroma obat kuat yang memenuhi hidungku, suara-suara tangis memekakkan telingaku, ya aku tahu ini fantasi, fantasi yang dibawa memorial tersebut.

Aku masih disini, masih berdiri tegap didunia, rupanya Tuhan masih belum menginginkanku. Entah sudah berapa lama aku berbaring diranjang putih itu, tapi tak ada perubahan yang berarti, tak ada yang berubah kecuali pernyataan dari Chen bahwa aku masuk rumah sakit karena ulah kaki tangan Dongjoo, Park Dongjoo. Ya, aku ingat siapa dia, lelaki berbadan gempal yang merupakan teman sekelas Heejin saat di Sekolah Dasar. Orang pertama yang kuhajar seperti pria sejati di umurku yang baru terhitung sebagai anak kecil ingusan. Aku juga ingat saat itu dahinya mengucurkan darah karena ada robekan akibat pukulanku yang keras yang menyebabkannya terpeleset dan terbentur sesuatu. Tapi…sesuatu yang aku bingungkan adalah untuk apa aku berurusan dengannya lagi? Tidak, pertanyaannya adalah kapan, dimana, dan bagaimana aku bisa bertemu dengannya? Apa aku menghajarnya dalam rangka membela Heejin seperti dulu yang kulakukan? Atau untuk yang lainnya, aku tak tahu, semua hal kuingat kecuali yang satu itu.

Tenggorokanku kering, kuteguk cepat satu gelas air mineral yang berada dinakas samping ranjang. Rasa hausku hilang tapi masih ada rasa janggal lain, rasa seperti ada sesuatu yang hilang tapi aku tak tahu apa dan bagaimana mengatasinya. Aku tak mau terlalu memaksakan karena aku baru selamat dari ujung kematian sekitar 12 jam yang lalu.

Cklek…

Aku menoleh kearah pintu, seseorang yang sedang tak ingin kutemui masuk bersama tas koper berukuran sedang yang aku yakin berisikan pakaianku. Aku perhatikan jari manis tangannya, tak ada cincin yang melingkar disana, rupanya ia memang belum bertunangan dengan Oh Sehun. Aku juga tak ingin bertanya karena pasti akan membuatnya terbebani.

“Heejin…”

“Ya?”

“Apa yang terjadi malam itu? Bukankah Ayah sudah tahu mengenai kita”

“Tidak ada yang terjadi. Oppa kecelakaan lalu mengalami amnesia ringan, Ayah memutuskan untuk melupakan semuanya”

“Itu saja?” Aku merasa kurang puas dengan jawabannya “Apa tidak ada yang terjadi selama aku lupa ingatan?”

“Tidak, tidak ada sama sekali”

End Baekhyun’s POV

Author’s POV

Heejin benar-benar tidak mengerti, ia tak mengerti kenapa bisa dirinya menyelinap masuk begitu saja ke kamar Baekhyun. Yah mungkin tujuan awalnya adalah untuk mengemas barang-barang seperti pakaian untuk dibawa ke rumah sakit namun sesuatu yang ada digenggamannya kini sudah sangat jelas bukan salah satu benda yang masuk ke dalam daftar pencarian awalnya. Heejin menatap lekat sketchbook dihadapannya, tangannya bergetar ringan, pelan namun pasti jari-jarinya bergerak untuk melihat gambar sejenis apa atau lebih tepatnya gambar siapa yang ada disana karena Heejin tahu Baekhyun selalu membawa benda tersebut bersamanya.

Sketchbook tersebut terbuka, terbesit rasa menyesal dihati Heejin, jika tahu akan seperti ini jadinya, ia seharusnya tidak pernah membuka buku tersebut sama sekali. Air matanya menetes dua kali, membuat halaman yang tengah terbuka menjadi sedikit basah dibagian tengahnya, Heejin menghela nafas, ia berteriak dalam hati tentang dirinyalah yang seharusnya ada dalam sketsa tersebut namun tidak, setidaknya dulu ia adalah obyek tetap tapi dulu hanyalah dulu.

“Heejin kau didalam?”

Terdengar ketukan pintu dua kali diikuti suara seorang pria dari luar sana. Heejin menyeka air matanya dengan cepat, secepat mungkin ia melesakkan sketchbook ditangannya ke dalam tas.

“Sebentar lagi, tunggulah dimobil” Ucap Heejin setengah berteriak

Gadis itu menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan. Ia menyandang tasnya sambil menarik koper sedang berwarna coklat gelap disamping kirinya sambil berjalan kearah pintu. Saat pintu terbuka, sosok yang tadi menyadarkan lamunannya masih berdiri disitu, segera setelah melihat sosok Heejin dari balik pintu, sosok tersebut tersenyum hangat lalu segera mengambil alih koper Baekhyun yang terlihat berat itu.

“Apa yang kau lakukan didalam? Kenapa lama sekali?” Sehun menggeret koper lalu berjalan mendahului Heejin, namun baru beberapa langkah ia berhenti karena tak kunjung mendapat respon dari Heejin dan juga tak mendengar suara langkah gadis itu.

Sehun berbalik, gadis yang tengah memakai dress berwarna soft-pink dipadu rompi denim tersebut masih berdiri ditempat semula, wajahnya terlihat bingung, pandangan matanya tak fokus. Sehun mendekat lalu menggenggam tangan Heejin.

“Kau kenapa?”

Heejin menggeleng, Sehun menghela nafas berat

“Beritahu aku, apa kau khawatir dengan Baekhyun? Karena ingatannya telah kembali?”

“Yah..mungkin, aku juga tak mengerti”

Sehun  memerhatikan wajah Heejin, mata gadis itu tak kunjung menatapnya.

“Heejin, jangan lupa janjimu….”

Heejin melirik tangannya yang tengah diremas keras oleh Sehun. Matanya kemudian beralih ke wajah pemuda berahang tegas itu, ia bisa melihat wajah serius Sehun yang bahkan terlampau serius. Dia ingat, dia ingat apa yang ia katakan pada lelaki tersebut dimalam itu, dimalam Sehun sakit lalu mereka berpelukan erat seakan besok mereka tak akan bertemu lagi. Disaat seperti ini, Heejin merasa ingin menerjunkan tubuhnya ke dalam aliran sungai Han, berharap ia akan ikut terhanyut bersama semua kejanggalan hatinya. Ia ingin merengkuh Sehun dan membuat pria itu bahagia namun ia juga ingin ada pria bernama Byun Baekhyun selalu berdiri dipihaknya, hanya untuknya seperti saat dulu.

~oOo~

Heejin memasuki kamar rawat Baekhyun yang terletak di lantai tiga. Dia bisa melihat pemuda itu tengah berdiri menerawang ke arah jendela, entah apa yang dilamunkan. Saat Heejin membuka pintu, pandangan mereka bertemu, namun hanya sebentar karena Baekhyun segera melihat ke arah lain.

“Heejin…” Baekhyun memanggilnya pelan

“Ya?”

“Apa yang terjadi malam itu? Bukankah Ayah sudah tahu mengenai kita”

Heejin berpikir cepat dan langsung memberikan jawaban “Tidak ada yang terjadi. Oppa kecelakaan lalu mengalami amnesia ringan, Ayah memutuskan untuk melupakan semuanya”

“Itu saja? Apa tidak ada yang terjadi selama aku lupa ingatan?” Baekhyun kembali mendesak namun rupanya Heejin tetep kukuh pada jawaban semula

“Tidak, tidak ada sama sekali”

Baekhyun mengedikkan bahu lalu duduk manis diranjangnya, saat mulutnya terbuka hendak mengatakan sesuatu, Heejin mendahuluinya.

“Aku turun sebentar, nanti akan kembali”

“Apa kau kesini bersama Sehun?”

Heejin mengangguk yang langsung dibalas tatapan sebal dari Baekhyun “Tidak usah kembali, pulanglah dengan Sehun. Aku bukan anak kecil yang perlu dijaga”

Heejin menghela nafas dan berlalu pergi tanpa sepatah katapun sedangkan Baekhyun menenggelamkan diri dibalik selimut. Melihat bagaimana nyeri hatinya ketika mendengar Heejin-Sehun, Baekhyun tahu ia belum lupa seberapa besar ia menyukai gadis itu. Mungkin saja saat ia amnesia, ia sudah berhasil melupakan gadis itu tapi sayang amnesia yang menyerangnya tak bertahan lama padahal ia sendiri berharap amnesia itu akan diderita seumur hidup, yang penting ia lupa rasa sakit ditolak dan tak diinginkan. Baekhyun terus bergumam hingga sebuah ketukan pintu membuatnya melirik, ia menyingkap selimut sambil berteriak malas.

“Masuk”

Seorang gadis dengan setelan kemeja berwarna peach dan rok merah bernuansa kotak-kotak masuk dengan ragu-ragu. Kornea hitam miliknya bertemu dengan milik Baekhyun, mereka berpandangan untuk sepesekian detik sebelum akhirnya Baekhyun mengerutkan kening heran. Kepala Baekhyun menengok ke kanan dan ke kiri lalu segera mengeluarkan sebuah pertanyaan yang membuat gadis tersebut tersenyum hambar.

“Maaf…anda mencari siapa?” Ujar Baekhyun

Gadis itu mengatupkan mulutnya rapat lalu segera menggeleng pelan “Maaf, aku sepertinya salah kamar” Ia membungkuk dan segera keluar

Yoonjoo berjalan cepat sambil memegang erat tasnya. Hal yang ia khawatirkan terjadi, Baekhyun sama sekali tak mengingatnya. Matanya perlahan memerah lalu berair namun ia segera menyekanya sebelum butiran tersebut jatuh. Saat sudah diambang pintu keluar rumah sakit, seseorang yang muncul dari arah depan membuatnya tersentak.

“Kenapa keluar?” Pemuda itu mengerutkan dahi heran

“Hey…kau kenapa? Kita baru sampai, kau mau kemana?” Chen terus bertanya tanpa tahu apa yang telah terjadi

“Sebaiknya aku tidak ikut saja” Ucap Yoonjoo, dia dan Chen memang ke rumah sakit bersama-sama menggunakan mobil milik Chen lalu pemuda berambut ikal tersebut menyuruh Yoonjoo untuk naik duluan sementara ia memarkir mobil

“Kenapa?”

“Dia tidak mengingatku”

Chen terdiam lalu menghela nafas “Kalau begitu bukankah seharusnya kau mencoba membuatnya ingat lagi?”

“Kurasa tidak, itu akan membuatnya terbebani jadi…kumohon kau jangan katakan apapun padanya tentang aku”

Lagi, Chen menghela nafas berat lalu memegang pundak Yoonjoo pelan “Baiklah, tapi karena kau sudah terlanjur disini, bagaimana kalau ikut aku ke atas?”

Mereka berdua berjalan memasuki lift. Tak berapa lama kemudian pintu lift terbuka yang sebelumnya diikuti bunyi dentingan. Yoonjoo mengekor dibalik tubuh Chen namun hingga pemuda itu masuk ke sebuah kamar tempat Baekhyun dirawat, Yoonjoo belum juga berani melangkahkan kakinya masuk.

“Masuklah, kau mau berdiri sampai kapan disitu?”

“Kau bersama seseorang?” Tanya Baekhyun segera setelah mendengar ucapan Chen yang ditujukan pada seseorang diluar

“Ya…” Ucap Chen yang diikuti bunyi pintu terbuka

Baekhyun mengernyitkan dahi untuk kedua kalinya, ia ingat gadis ini adalah yang beberapa menit lalu mengatakan salah kamar namun bukan hal tersebut yang membuat dahinya berkerut melainkan ada perasaan aneh tiap melihat gadis didepannya ini. Perasaan seperti pernah melihatnya disuatu tempat sebelumnya, awalnya ia tak yakin akan perasaan itu namun ada dorongan kuat dari arah lain yang memaksanya untuk percaya kalau ia pernah bertemu dengan gadis itu sebelumnya.

“Kau tidak ingat dia? Dia murid baru dikelas kita, Han Yoonjoo” Jelas Chen sambil meletakkan keranjang buah yang ditentengnya sedari tadi

Baekhyun memutar otak, Ya..ia ingat sekarang. Gadis berambut panjang ini bernama Han Yoonjoo, murid baru yang duduk tepat disebelahnya tapi sejak kapan mereka akrab? Tidak, lebih tepatnya sejak kapan Yoonjoo dan Chen akrab hingga sahabatnya itu membawa serta Yoonjoo kesini untuk menjenguknya? Karena terakhir kali ia ingat gadis ini penuh aura gelap, terlalu misterius dan terlalu pendiam, Baekhyun pun masih ingat Yoonjoo yang mengacuhkan jabatan tangan dari Chen pada hari pertama ia masuk, lalu sekarang ada apa?

“Kalian berdua tidak mungkin? Lalu bagaimana dengan Yunae?” Baekhyun menunjuk Chen dan Yoonjoo bergantian dengan tampang curiga

“Ya Byun Baekhyun, aku bukan seorang playboy. Aku dan Yoonjoo hanya teman, kita kan sekelas jadi apa salahnya, justru yang ada apa-apa dengan Yoonjoo itu ka—“

Yoonjoo menarik lengan jaket Chen hingga membuat pemuda itu berbalik kaget. Segera setelah melihat tatapan Yoonjoo, Chen mengerti dimana letak kesalahannya. Ya seperti biasa, mulutnya memang susah dikontrol.

“Aku masih ada pekerjaan lain, aku permisi” Yoonjoo bergegas menaruh sesuatu berbungkus kain bercorak bunga dinakas samping ranjang lalu segera berlalu pergi

“Kau keterlaluan” celetuk Chen

“Apa maksudmu?” Baekhyun memandang dengan alis terangkat

“Lupakan. Oh ya, kau kan tidak suka makanan rumah sakit, makanlah makanan ini, tidak ada mentimun didalam acar-acar ini jadi jangan khawatir dan makan yang banyak” Chen terus berbicara diikuti tangannya yang sibuk mengeluarkan dan membuka tumpukan kotak makanan yang tadi dibawa Yoonjoo

“Yoonjoo yang membawa makanan ini?”

“Haruskan kau bertanya? Bukankah kau tadi melihatnya sendiri”

“Darimana dia tahu aku alergi mentimun?”

Chen menoleh dan mengedikkan bahu

“Jangan mengedikkan bahu, itu tindakan yang sangat tak berkomitmen” Omel Baekhyun

Chen mengangkat bahu lagi yang diikuti tatapan ‘come on’ dari Baekhyun. Pemuda berambut ikal itu melempar tubuh ke sofa lalu memejamkan mata sambil berucap “Kutebak, dia cukup tahu banyak tentangmu”

~oOo~

3 hari berselang, tak ada perubahan berarti. Baekhyun tetap tak bisa mengingat kejadian apapun selama ia amnesia, kini ia berdiri diambang pintu kelasnya sambil melamun. Sebenarnya pihak rumah sakit dan dokter yang merawatnya menentang keras acara ‘pulang’ ini namun Baekhyun bersikeras dengan alasan kurang dari seminggu lagi ia akan melaksanakan ujian kelulusan dan ia tahu ia bukan seorang jenius keturunan Einstein, makadari itu alangkah baiknya jika ia lebih rajin masuk kesekolah karena jika dilihat, ia sudah sepenuhnya sehat, tak ada yang salah dengan anggota tubuhnya.

Mungkin Baekhyun harus menggaris bawahi kalimat ‘tak ada yang salah dengan tubuhnya’ karena ia sadar betul sejak hari itu, sejak Chen mengucapkan kalimat aneh dan sejak matanya melihat sosok bernama Han Yoonjoo, ia terus uring-uringan. Lagi-lagi Baekhyun melirik kearah tempat duduk dimana gadis tersebut seharusnya berada, ia menghela nafas lalu mengusap wajah. Jam dinding yang terpasang rapi dikelasnya menunjukkan pukul 06.45, terlalu pagi untuk kesekolah. Baekhyun juga bingung saat mendapati dirinya datang begitu pagi tapi jika diingat-ingat lagi, ia melakukan ini dalam rangka menghindari sesuatu.

Selama ia amnesia, ia tahu tak ada yang berubah. Ia tetaplah seorang Byun Baekhyun yang berteman akrab dengan 3 orang laki-laki bernama Kim Jongdae, Do Kyungsoo, dan Park Chanyeol. Chanyeol tidak bertambah pendek, begitu juga dengan Chen dan DO yang tidak bertambah tinggi. Rencananya untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi di Jerman juga tidak berubah bahkan ia baru tahu bahwa ia sudah mengirimkan formulir pendaftaran, entah kapan. Begitu pula dengan Heejin dan Sehun, mereka berdua tetap bersama. Tak ada yang berubah, tak ada sama sekali namun ia heran kenapa ia terus saja merasa kehilangan sesuatu. Apakah sesuatu itu Heejin? Tidak. Karena Baekhyun sadar, dulu atau sekarang ia tak pernah memiliki Heejin jadi kalau dikatakan ia kehilangan Heejin, bukankah agak sedikit keterlaluan? Lalu..apa yang hilang?

“Pukul 06.45 lagi…sungguh kau murid teladan yang patut ditiru”

Sebuah suara membuat Baekhyun terenyak. Ia menoleh dan mendapati Chen tengah memerhatikannya dari kaki hingga kepala.

“Bisakah minggir dari pintu? Aku mau masuk” Sindir Chen

Baekhyun memasang tampang sebal sambil berlalu masuk “Lalu dalam rangka apa kau juga datang sepagi ini?”

“Mengawasimu”

“Apa?” Baekhyun merasa ia salah dengar

“Me-nga-wa-si-mu” Chen mengeja setiap katanya

Baekhyun rupanya tak salah dengar “Kau pikir aku anak kecil?”

“Siapa yang tidak khawatir melihat tingkahmu?”

Baekhyun menaikkan alis, tampang tak berdosa ia lontarkan “Aku? Memangnya aku kenapa?”

“Kau selalu datang pagi tapi yang kau lakukan hanya berdiri diambang pintu sambil melamun. Kalau datang pagi, setidaknya kau harus melakukan sesuatu yang bermanfaat”

“Misalnya?”

“Membersihkan kelas, membuka jendela-jendela ini, membersihkan papan tulis…” Chen berhenti, ia memandang wajah Baekhyun yang tengah menatapnya heran lalu bergumam “Lupakan saja”

Entah sejak kapan buliran air itu turun karena saat Baekhyun mengalihkan matanya kearah jendela, lapisan kaca tersebut telah berembun akibat guyuran hujan. Bukankah ini terlalu pagi untuk turun hujan? Batin Baekhyun.

“Chen..”

“Ya?” Chen tidak menoleh, ia sibuk membongkar tasnya seperti sedang mencari sesuatu

“Apa maksud ucapanmu waktu itu?”

“Ucapanku yang mana?”

“Ucapanmu yang bilang kalau Yoonjoo tahu cukup banyak tentangku”

“Ahh yang itu….”

“Ya”

Tangan Chen berhenti dari aktifitas mengobrak-abrik, ia menoleh “Entahlah aku harus mengatakan ini atau tidak tapi kalian—“

“Kami kenapa?”

Tepat saat Chen hendak membuka mulut, ada sekitar 5 orang yang sedang mengomel tentang hujan memasuki kelas yang dengan segera mengurungkan niat Chen.

“Kurasa agak keterlaluan kalau aku yang menceritakan semuanya jadi kau harus berusaha mengingatnya sendiri” Chen menepuk pundak Baekhyun pelan “Owh ya, aku pinjam—“

Sebelum sempat Chen menyelesaikan ucapannya, Baekhyun melempar buku catatan Kimia miliknya. Chen terperangah lalu bertepuk tangan pelan “Bagaimana kau tahu aku sedang membutuhkan ini?”

“Bukankah kau selalu terbelakang jika soal pelajaran Kimia?” cibir Baekhyun

“Kau—“

“Salin saja yang cepat sebelum sonsengnim datang”

Chen menggerutu sambil membuka buku milik Baekhyun halaman per halaman hingga tangannya berhenti mendadak akibat cengkraman Baekhyun.

“Ada apa?” Tukas Chen

“Ini….tulisan siapa?”

“Inikan buku milikmu, kalau bukan tulisanmu, lalu tulisan siapa lagi?”

“Ini bukan tulisanku, lihatlah! Halaman ini dan ini berbeda”

“Ya Byun Baekhyun…ternyata kau juga tipe orang yang menyuruh orang lain mengerjakan tugasmu ya?” Chen mencibir namun Baekhyun sama sekali tak bergeming, ia sibuk memikirkan kemungkinan siapa yang telah menorehkan tinta pada buku miliknya karena ia tahu betul buku-buku miliknya tak akan semudah itu berpindah tangan.

“Apa jangan-jangan…..”

~oOo~

Jari tangan Baekhyun bergerak senada, berpadu dengan meja yang terbuat dari kayu menghasilkan bunyi dentingan yang tak terlalu bisa didengar akibat tertelan suara dentuman petir diluar sana. Hujan tersebut turun sekitar dua jam lalu dan makin bertambah deras setiap menitnya membuat seisi kelas atau mungkin seisi Junsang International Academy terserang kantuk. Tak sedikit yang terus menguap sambil bersandar malas pada kursinya namun kegiatan lain sedang dilakukan Baekhyun. Ia terus menatap bangku kosong tepat disampingnya, sang empunya kursi tersebut tak menunjukkan batang hidung dan hal tersebut entah kenapa membuat Baekhyun terganggu. Pemuda itu berteriak frustasi dalam hati, ia bertanya-tanya tentang apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri, ia heran kenapa ia harus memusingkan seseorang yang bahkan tak dikenalnya. Baekhyun menggeleng pelan, mungkin mereka kenal, hanya saja Baekhyun tak bisa mengingatnya sama sekali.

“Sial!” Umpat Baekhyun keras, tak kalah keras dari suara guyuran hujan hingga membuat seisi kelas termasuk gurunya terlonjak kaget

“Ada masalah Baekhyun?” Tegur guru tersebut dengan raut wajah heran

Baekhyun baru hendak membuka mulutnya saat bunyi deringan keras melepas suara lega dari manusia-manusia didalam ruang kelas tersebut. Kelas berakhir, waktunya melepas penat dan melayani cacing-cacing dalam perut, begitulah kira-kira isi pikiran hampir semua siswa-siswi dikelas itu. Chen bangkit dari kursinya, ia menguap lebar sebelum akhirnya menepuk keras pundak Baekhyun lalu memamerkan senyuman tak bersalah.

“Ayo kita makan”

Tepat saat itu juga ponsel milik Baekhyun bergetar hebat. Tangannya merogoh mencari benda tersebut. Matanya membulat lumayan lebar saat melihat sebuah nama yang terpampang pada layar ponselnya.

“Kau duluan lah, aku mau ke perpustakaan” dusta Baekhyun

Chen menaikkan alisnya tanda tak percaya namun akhirnya ia mengangguk dan pergi tanpa kata.

Itu tadi Heejin, Baekhyun mendapat sebuah pesan singkat dari Heejin yang berisi permintaan untuk menemuinya di ruang seni. Pemuda itu berjalan cukup lambat, disela langkah kakinya yang terlihat berat, ia sadar akan sesuatu bahwa entah sejak kapan semua perasaannya pada Heejin mulai meredup. Perasaan itu memang masih ada namun hanya seperti sisa-sisa daun oak yang mengering ditengah musim semi yang menyambut. Perasaan dan semangatnya semakin mengabur, ia sendiri tak mengerti apa maksudnya tapi seiring pikirannya yang teralih ketempat lain, ia seperti merasakan bahwa perasaannya untuk Heejin bukanlah hal yang penting lagi.

“Oppa”

Baekhyun terenyak, ia menoleh dan mendapati Heejin tersenyum lembut padanya. Rupanya selama ia berpikir tadi, kakinya sudah jauh membawa hingga ketempat tujuan dan disinilah dia, diruang seni yang amat sepi, hanya mereka berdua ditemani sketsa-sketsa dan lukisan bisu yang mengelilingi. Hening, Baekhyun atau Heejin belum membuka mulut mereka, keduanya seperti sedang terjebak pada dimensi lain dan tidak menyadari keberadaan satu sama lain.

“Aku….” Heejin ingin mengatakan sesuatu tapi justru lebih terdengar seperti gumaman

Baekhyun tak merespon, ia menunggu Heejin menyelesaikan kalimatnya.

“Aku….ingin bersamamu oppa”

Baekhyun seperti mendapat sengatan listrik berkekuatan tinggi. Ia menatap Heejin lekat-lekat dengan ekspresi tak percaya.

“Heejin-ah…”

“Aku minta maaf atas sikapku dulu. Aku seperti itu hanya untuk membentengi diri, aku memakai topeng karena tidak ingin Ayah terluka karena kita”

“Lalu bagaimana dengan Sehun?” kalimat tersebut meluncur bebas dari mulut Baekhyun, ia sendiri heran kenapa bisa-bisanya ia malah mementingkan perasaan orang lain disaat seharusnya ia senang. Hal ini, bukankah hal ini yang selalu ia harapkan sejak dulu? Bukankah perasaan Heejin yang seperti ini yang ia impi-impikan dalam tidurnya? Tapi kenapa? Kenapa ia justru berkata lain?

Heejin menatap Baekhyun dengan kilatan tak percaya, matanya memerah dan buliran air menetes bebas sejalan gumamannya “Oppa…”

Baekhyun tak bisa menemukan kata yang tepat, ia merasakan tangannya mulai berkeringat ditengah suhu dingin yang menyeruak. Sedetik kemudian Baekhyun mendekat dan menyeka air mata Heejin dengan jarinya, ia ingin memeluk Heejin namun dalam waktu yang bersamaan, siluet wanita lain muncul dalam benaknya. Baekhyun mundur selangkah, ia tidak akan memeluk seorang wanita disaat pikirannya tengah untuk wanita lain.

“Maafkan aku Heejin. Aku berada ditengah jurang kebingungan. Aku bahkan belum bisa membedakan mana yang kuinginkan dan mana yang tidak. Aku belum bisa menemukan pikiranku….”

“Kau tidak amnesia, pikiran seperti apa lagi yang kau butuhkan?” Heejin menggigit bibirnya menahan pedih

“Kau mungkin tidak menyadarinya tapi aku tahu apa yang pikiran, tubuh, dan hatiku butuhkan karena ini aku. Pikiran, tubuh, dan hati ini milikku, aku yang paling bisa merasakannya lebih dari siapapun. Sakit, senang, menderita, kesepian, dan kehilangan, aku yang merasakannya, bukan orang lain” Baekhyun memekik dalam hati, kenapa justru ia yang menjadi emosional? Kenapa ia begitu marah setiap kali ada yang mengatakan bahwa ia tidak butuh atau kehilangan apapun?

“Heejin-ah…” Baekhyun hendak meraih tangan gadis itu namun terlambat, Heejin lebih dahulu melangkah pergi meninggalkannya

Baekhyun merasa bodoh. Ia merasa tengah ditertawai lukisan-lukisan disekitarnya. Pening mendera kepalanya, ia hampir limbung, ia butuh istirahat yang panjang namun betapa tersiksanya saat ia kembali teringat akan daftar panjang hal-hal yang ingin dilakukannya. Istirahat sepanjang apapun dirasa percuma jika urusan-urusan tersebut belum menemukan titik terang. Titik terang soal mimpi buruk yang selalu menghampirinya belakangan ini.

~oOo~

Baekhyun melirik jam tangannya, pukul 18.00 dan ia masih berkeliaran dengan seragam sekolahnya. Ia bukan sedang nongkrong di pub atau club seperti yang biasa dilakukannya melainkan sedang duduk sendiri di deretan bangku koridor rumah sakit. Ia sedang menunggu giliran check up dengan Dr. Lee yang kebetulan sahabat Ayahnya. Sebenarnya ia malas melakukan rutinitas seperti ini tapi mengingat dokter yang merawatnya mempunyai hubungan dekat dengan Ayahnya, ia takut kalau-kalau Dr. Lee akan mengadu dan sungguh ia tidak hobi mendengarkan omelan Ayahnya.

“Tuan Byun” Panggil salah seorang perawat

Baekhyun menghembuskan nafas lega karena gilirannya telah tiba. Saat beranjak dari tempat duduknya, Baekhyun tiba-tiba menoleh cepat kala sosok itu tertangkap ekor matanya. Gadis itu…sebuah senyuman mengembang diwajah Baekhyun. Itu Yoonjoo. Ia berlari mengejar gadis itu tanpa memerdulikan perawat yang setengah berteriak memanggilnya. Tepat diujung koridor, Baekhyun berhasil mencengkram tangan Yoonjoo dan membuat gadis itu berbalik menatapnya.

“Kau tidak masuk sekolah hari ini dan kau ada di rumah sakit, apa kau sakit?”

Yoonjoo tak membuka mulut, ia hanya menatap Baekhyun, ia tidak bisa berbohong tentang betapa rindunya ia akan sosok pemuda ini.

“Apa kau benar-benar sakit? Kau sakit apa? Sudah bertemu dokter belum?—“

“Justru dia kesini untuk bertemu dokter dan kau seenaknya saja menahannya dengan rentetan pertanyaan itu” sebuah suara berat tiba-tiba bergabung dalam dunia mereka

“Dr. Lee….” Ucap Yoonjoo yang lalu dibalas senyum hangat dari pria berumur lebih dari 40 tahun tersebut, mereka bahkan berpelukan yang langsung membuat dahi Baekhyun berkerut

“Kau kenal Dr. Lee?” Baekhyun menatap Yoonjoo

“Dia anak dari salah satu sahabat baikku. Sudah kuanggap seperti anakku sendiri” Dr. Lee merangkul pundak Yoonjoo

“Owh ya kau sepertinya ingin menemui dokter lain bukan? Pergilah, biar anak ini aku yang urus” ujar Dr. Lee sambil melirik kearah Baekhyun

Yoonjoo membungkuk lalu berbalik arah, Baekhyun dengan cepat menahannya lagi.

“Baekhyun kita harus segera melakukan pemeriksaan padamu dan Yoonjoo juga harus segera menemui dokternya” ucap Dr. Lee

“Aku tahu, sebentar saja” Pinta Baekhyun dengan wajah melas yang dibuat-buat

“Dasar anak muda” pria paruh baya itu melenggang sambil tersenyum simpul

10 detik terbuang, Baekhyun masih diam sambil memandangi punggung Lee Jisung. Ia ingin memastikan sahabat Ayahnya tersebut sudah cukup jauh untuk tak mendengar obrolannya.

“Aku ingin bicara denganmu”

“Soal apa?”

“Apa saja” jawab Baekhyun sembarang “Dengar…check up ku hanya sebentar jadi, bisakah kau menunggu di lobi lantai satu? Aku akan mengatarmu pulang”

“Aku bisa pulang sendiri” Yoonjoo menjawab santai, hal tersebut tak elak membuat Baekhyun memutar bola mata

“Maaf, aku orang yang tidak suka dengan penolakan jadi tunggu aku di lobi, aku akan mengantarmu” segera setelah ia selesai dengan perintahnya, Baekhyun melangkah pergi dengan cepat bahkan setengah berlari.

Yoonjoo memandangi punggung Baekhyun. Bibirnya yang berwarna pink pucat membentuk sebuah senyum pahit, ia menunduk seraya berbicara dalam hati “Seperti hari-hari kemarin, lagi…aku juga mencintaimu hari ini. Tapi aku terlalu takut untuk menjelaskan kembali masa laluku yang pasti telah kau lupakan, aku takut kau tidak bisa menerimaku seperti dulu karena aku tahu kau layak mendapat yang lebih baik dari semua ini”

~oOo~

“Aku tidak menyangka kalian bisa saling kenal” Ucap Dr. Lee sembari duduk dengan sejumlah cetak hasil CT Scan milik Baekhyun. Pria tua tersebut mengamati hasil pemeriksaan ditangannya dengan seksama lalu menatap Baekhyun yang tengah melamun “Baekhyun” panggilnya pelan, pemuda itu beralih fokus

“Ya paman” Jawabnya santai, dia memang selalu memanggil Lee Jisung dengan sebutan paman

“Sudah tidak ada masalah serius dengan kepalamu. Lihatlah semuanya jauh lebih normal dari saat pertama kali kita melakukan pemindaian” Dr. Lee membandingkan dua hasil CT Scan dari pemeriksaan sebelum dan saat ini

“Ya” jawab Baekhyun tak sabar

“Aku tahu kau ingin segera keluar dari ruangan ini dan berkencan, tapi sabarlah sedikit Baekhyun, check up ini hanya seminggu sekali bukan?” Ujar Dr. Lee dengan senyuman tertahan

“Bukan begitu paman, aku—“

“Lalu bagaimana? Aku ini sahabat Ayahmu, aku sudah kenal kau dari kecil. Dengan rentetan pertanyaan yang kau lempar pada Yoonjoo tadi, aku tidak bisa menyimpulkan itu hanya pertanyaan basa-basi, bukankah begitu Baekhyun?” Telak! Jisung mengunci perkataan Baekhyun dengan pernyataan telak

Baekhyun tersenyum masam “Paman…aku ini hanya berandal diluarnya saja, didalamnya aku adalah orang yang sangat perhatian dengan orang-orang disekitarku” Ucapnya dengan wajah semeyakinkan mungkin

Jisung tertawa pelan “Terserahlah kau menyebutnya apa, intinya aku senang kalau kau dan Yoonjoo dekat. Selama bertahun-tahun aku menganggap takdir seperti ini adalah omong kosong belaka karena hanya bisa dilihat dalam acara TV tapi baru saja, karena kalian, persepsiku berubah. Jagalah dia Baekhyun, kau tahu kan dia sudah tak punya siapa-siapa?”

Baekhyun berteriak tidak dalam hati. Ia memang tidak tahu tentang kenyataan itu karena yah dia tidak ingat Yoonjoo pernah menceritakan mengenai keluarganya atau tidak. Mungkin pernah, hanya saja terhapus paksa akibat amnesia sialan yang menderanya. Ada satu lagi yang membuat dahi Baekhyun berkerut yaitu kalimat yang menyangkut “takdir”, ucapan Dr. Lee tersebut seolah-olah merujuk tentang kenyataan bahwa Baekhyun dan Yoonjoo sudah pernah bertemu sebelumnya. Pernahkah? Batin Baekhyun, ia tidak bisa menjawab.

Baekhyun menangguk canggung “Paman, apa maksudmu dengan ‘takdir seperti ini’?”

Jisung mengangkat kepala, ia seperti baru tersadar telah mengatakan sesuatu yang salah. Wajahnya memucat, tawa yang tadi terbingkai hilang seketika, mulutnya terkatup rapat dan Baekhyun bisa menyadari betul perubahan reaksi tersebut. Ia tahu ada sesuatu. Jisung mengangkat tubuh lalu menepuk pundak Baekhyun pelan sambil tersenyum ringan.

“Ini hasil check up mu, aku tahu Ayahmu akan menanyakannya. Pulanglah, bukankah kau masih ada urusan lain”

Baekhyun ingin membuka mulut untuk menyerukan protes karena pertanyaannya diabaikan tapi mulutnya terkatup lagi setelah Jisung berkata “Tidak usah berusaha terlalu keras. Cepat atau lambat kau pasti akan mengerti apa maksud perkataanku tadi”

Baekhyun berjalan pelan keluar dari ruangan tersebut. Sesampainya diluar, ia bersandar pada dinding koridor yang terlihat sepi tersebut. Cukup lama hingga ia tersadar Yoonjoo telah menunggunya. Pemuda itu berlari pelan menuruni tangga, ia terlalu tak sabar menunggu lift. Saat sampai dilobi yang penuh dengan puluhan orang tersebut, mata Baekhyun berpencar namun ia tidak bisa menemukan sosok gadis yang dicarinya. Baekhyun memekik kesal namun sedetik kemudian ia melepaskan nafas lega saat gadis yang dicarinya tersebut muncul melalui pintu utama rumah sakit.

“Aku menyuruhmu menunggu disini, aku kira kau pergi”

“Aku keluar untuk mencari udara segar”

Baekhyun mengangguk paham, kecemasan diwajahnya mulai memudar. Sedetik kemudian entah setan apa yang merasukinya, ia dengan gaya santai menggandeng tangan Yoonjoo keluar menuju Porsche Boxter putih miliknya. Tangan kirinya yang bebas membuka pintu mobil untuk Yoonjoo lalu dagunya bergerak memberi perintah agar Yoonjoo masuk. Tak berapa lama, Baekhyun masuk melalu pintu lain dan duduk dibalik kemudi. Ia menstarter mobilnya dan mengemudi dalam kecepatan normal.

“Bukan gayamu sekali” cetus Yoonjoo pelan

Baekhyun menoleh cepat namun hanya sebentar karena ia harus tetap fokus pada jalan didepannya “Bukan gayaku? Maksudmu?”

“Kau tidak pernah mengemudi sepelan ini, bukankah kau biasanya mengemudi seperti buronan yang dikejar Interpol?” canda Yoonjoo

Walaupun wajahnya datar, sebenarnya Baekhyun amat kaget. Gadis ini bahkan tahu kebiasaan abnormalnya saat sedang mengemudi.

Setelah cukup lama diam, Baekhyun mulai memikirkan sesuatu untuk menahan gadis ini lebih lama bersamanya “Kau sudah makan?”

“Sudah”

“Aku belum” jawab Baekhyun tanpa ditanya

“Kalau begitu kau harus makan”

Baekhyun tersenyum geli, gadis ini terlalu naïf “Mau saja asal ada yang menemani”

“Kau bisa menghubungi DO atau Chen kan? Atau Chanyeol?”

“Karena kau yang ada disampingku, kenapa tidak kau saja?”

“Aku…….”

“Jangan kejam begitu, masa kau mau menyuruhku makan sendiri”

“Aku tidak menyuruhmu makan sendirian, tadi kan kubilang kau bisa meminta—“

“Mereka punya urusan sendiri, masa aku harus merecoki mereka terus”

“Jadi kau merasa tidak sedang merecoki ku?” Tanya Yoonjoo

“Tidak. Mengingat apa yang tadi kau katakan tentang kebiasaan mengemudiku, sepertinya kita cukup akrab dan kau tahu kan aku tipe orang yang tidak akan sungkan-sungkan atau bisa dibilang tidak tahu malu kalau meminta sesuatu jadi……” Baekhyun memanuver mobilnya, Porsche tersebut berbelok kedaerah Hongdae

“Aku akan menemanimu, lagipula aku tidak akan bisa melarikan diri juga kan?”

Baekhyun tertawa keras. Lima menit kemudian mereka berhenti didepan sebuah kedai makanan yang terlihat tak terlalu ramai, itulah suasana yang Baekhyun suka karena ia benar-benar tak suka diganggu dengan banyaknya suara disana-sini.

“Kau mau pesan apa?” tanya Baekhyun sesaat setelah mereka duduk dibangku bernomor 4 yang terletak didekat sebuah pohon imitasi berhias lampu warna-warni

“Tidak usah. Aku kan sudah makan”

“Setidaknya minum, hmm karena kau sedang kurang enak badan, aku akan pesankan yang hangat saja”

Yoonjoo mengangguk pelan. Sambil menunggu pesanan mereka datang, Baekhyun mengetuk-ngetukan jarinya pada meja, pikirannya sedang menimbang-nimbang untuk bertanya pada Yoonjoo atau tidak. Tentu saja ia harus bertanya karena memang tujuan utamanya adalah untuk bertanya pada gadis didepannya ini bukannya makan. Setelah hening cukup lama, Baekhyun memberanikan diri membuka mulut.

“Yoonjoo..” Gadis yang tengah sibuk memerhatikan jalanan dari balik dinding kaca kedai tersebut langsung menoleh saat suara berat Baekhyun menyebut namanya

“Ya?”

“Boleh aku bertanya?”

“Tentu saja”

“Kelihatannya kau dan paman Jisung, maksudku Dr. Lee akrab sekali” Baekhyun memulai dengan pertanyaan sederhana, ia tak mau langsung ke intinya dan membuat gadis itu shock berat

“Dr. Lee dan Ayahku sahabat baik. Dia bilang aku ini anaknya karena dia cuma punya seorang putra yang bahkan jauh darinya. Dr. Lee juga sudah banyak membantu keluargaku disaat kami terpuruk”

Baekhyun tak langsung menembaki Yoonjoo dengan pertanyaan lain, ia diam sesaat lalu ia menghela nafas dan membuka mulut “Aku tahu, anaknya kuliah di Perancis. Dulu waktu kecil aku pernah bertemu anaknya, hyung itu beda jauh dengan Dr. Lee yang suka bercanda, wajahnya kaku dan selera humornya jelek” Baekhyun berbasa-basi sedikit

Yoonjoo tertawa “Kurasa dia seperti itu hanya padamu. Saat bertemu denganku, dia baik sekali bahkan ia pernah memberi mainan kesayangannya untukku”

“Kalau begitu dia tipe orang yang membeda-bedakan gender. Dia hanya baik pada wanita, payah!” Pekik Baekhyun dengan tampang kesal yang dibuat-buat

Pesanan mereka datang. Sebelum menggali sesuatu yang lebih jauh dan lebih mendalam, Baekhyun menyuruh Yoonjoo untuk menyeruput hot chocolatenya, ia juga ikutan menyeruput espresso miliknya.

“Emm, Yoonjoo….siapa pria yang waktu itu mengamuk dirumahmu?”

Yoonjoo memandang Baekhyun dengan alis berkerut. Waktu itu? waktu itu yang mana? Batin Yoonjo.

“Kau tahu, ingatanku hanya sampai hari dimana kau pingsan lalu aku mengantarmu ke rumah sakit tapi setelah itu wanita tua yang kau panggil bibi itu membawamu paksa untuk pulang jadi aku membuntutimu”

Yoonjoo mengangguk, ia mengerti apa maksud Baekhyun “Itu hanya debt collector yang terus mencariku untuk mendapatkan uangnya”

Rahang Baekhyun mengeras, perasaan khawatir dan marah menyelubunginya sekaligus.

“Tapi kau tidak perlu khawatir, ia sudah tidak pernah mengagangguku lagi”

“Benar?”

“Ya. Aku memberinya apa yang dia mau, aku sudah lelah dikejar terus”

Baekhyun tidak berani bertanya darimana Yoonjoo mendapat uang untuk membayar hutang tersebut karena ia tahu itu hanya akan membuat Yoonjoo makin nelangsa.

“Keluargaku terlibat masalah pelik. Kami jadi kehilangan semuanya, kami jadi dikejar-kejar debt collector” suara Yoonjoo melemah “Ayahku, dia orang baik, ia dipenjara akan sesuatu yang tidak pernah dilakukannya hingga ia jatuh sakit karena terus memikirkan keadaanku diluar sana lalu….”

Baekhyun bangkit dari tempat duduknya lalu berlutut disamping Yoonjoo dan dengan segera menarik gadis itu kedalam pelukannya. Ia tak peduli pada pasangan mata yang memerhatikan gerak-geriknya karena yang ia tahu adalah ia harus merengkuh Yoonjoo erat dan berharap beban gadis itu sedikit berkurang.

“Jangan menceritakannya lagi” Ucap Baekhyun sambil mengelus puncak kepala Yoonjoo tapi sedetik kemudian gadis itu melepaskan diri dan berlari keluar

Baekhyun terpengkur akibat dorongan Yoonjoo, pemuda itu cepat-cepat meletakkan beberapa lembar uang dimeja lalu mengejar gadis itu. Yoonjoo berlari cepat namun belum bisa menyamai kecepatan Baekhyun. Pemuda itu menarik lengan Yoonjoo dan bisa dilihatnya mata gadis itu masih menumpahkan butiran-butiran air.

“Kau mau kemana?” Tembak Baekhyun langsung, nafasnya masih tersengal-sengal akibat berlari

“Apa kau merasa kasihan? Itu hanya separuh dari kisah hidupku, masih banyak yang belum kau dengar dan aku yakin kau tidak mau mendengarnya”

Baekhyun terdiam. Ia tidak tahu seberapa buruk hidup yang sudah dijalani Yoonjoo. Ia hanya tahu gadis itu kehilangan Ayahnya karena masalah masa lalu yang ia juga tak mengerti dari mana asalnya, ia hanya tahu beberapa tahun belakangan gadis itu tak pernah tidur nyenyak karena dikejar manusia-manusia tak berperasaan yang selalu meminta uang pada gadis lemah, lalu…lalu apa lagi yang harus ia tahu? Jawabannya adalah banyak, banyak sekali.

Baekhyun tahu Yoonjoo perlu waktu sendiri untuk menangis menumpahkan semua rasa gundahnya. Ia mencegat taksi lalu menyuruh Yoonjoo naik setelah memberikan beberapa lembar uang pada supir taksi tersebut.

“Kita ketemu lagi besok” Ucap Baekhyun lalu ditutupnya pintu tempat Yoonjoo masuk

Setelah taksi tersebut berjalan, Baekhyun berlari untuk menghampiri Porsche miliknya dan membuntuti taksi tersebut hingga sampai didepan sebuah gang yang hanya bisa dimasuki manusia. Yoonjoo keluar dengan kepala menunduk, Baekhyun masih memperhatikan gadis itu hingga menghilang.

~oOo~

Angin sayup menyambut kedatangan Heejin dihalaman depan rumahnya. Perasaannya berkecamuk karena sekarang sudah hampir pukul sebelas dan Baekhyun sama sekali belum menunjukkan batang hidungnya. Sekitar 4 menit Heejin mondar-mandir, pemuda yang ditunggunya muncul dengan wajah kusut. Heejin menghampiri Baekhyun dengan berlari kecil.

“Oppa, kau darimana saja? Untung Ayah belum pulang, kalau tidak dia bisa—“

“Bisakah kau mengomel besok saja?” Ucap Baekhyun pelan “Aku sedang tidak enak badan” Baekhyun berjalan melewati Heejin, gadis itu ternganga melihat sifat tak acuh dari Baekhyun

“Bagaimana kau bisa mengacuhkanku seperti ini?” Heejin berteriak sambil menggigit bibir, tangannya terkepal

Baekhyun membalikkan badan lalu mendapati Heejin sedang menatapnya berang “Heejin—“

“Apa kau tidak lihat aku begitu khawatir padamu?” Serang Heejin lagi “Kau berubah dan aku tidak suka itu. Aku tidak suka perubahanmu dan sesuatu yang merubahmu” Heejin masih meluapkan kekesalannya

Saat pemuda itu ingin mengutarakan kalimatnya, ia sudah merasakan sepasang tangan memeluk pinggangnya dengan erat, itu Heejin.

“Jangan berubah, aku ingin kau yang dulu” Pinta Heejin disela isakannya, Baekhyun hanya bisa membalas pelukan gadis itu sambil mengusap punggungnya pelan

Baekhyun merasa bukan hanya bagian luar dirinya yang rusak tapi bagian dalampun ikut terkontaminasi. Ia merasa seperti pria paling brengsek karena telah membuat dua wanita menangis dalam kurun waktu kurang dari 3 jam. Ia bahkan bingung tentang hatinya saat ini, ia tidak pasti apa hatinya itu masih mencondong kearah Heejin atau telah berubah haluan kearah lain. Sayang sekali adegan pelukan tersebut harus putus ditengah akibat suara mobil yang datang, mereka tahu itu adalah seseorang yang paling menentang hubungan dalam arti romantis antara mereka berdua, itu Ayah mereka.

Malam itu angin bertiup cukup kencang, Baekhyun yang tengah berbaring dikasurnya yang nyaman terlihat sedang mendapat mimpi buruk. Keningnya terus mengeluarkan keringat, tubuhnya juga padahal malam itu ia hanya mengenakan T-Shirt putih tipis tapi entah kenapa seperti mengenakan baju berbahan wol berlapis-lapis. Lenguhan menguar dari mulut Baekhyun yang diikuti sentakan tubuhnya yang langsung menegang, ia membuka mata lebar-lebar kemudian melirik kekiri dan kekanan memastikan yang barusan terjadi adalah mimpi. Ya, memang benar itu adalah mimpi. Mimpi yang sama seperti beberapa hari belakangan. Baekhyun mengusap wajah, dadanya naik turun tak beraturan. Ia melirik kearah luar jendela, ia tak mengerti kenapa dari sekian banyak hal buruk dalam hidupnya, harus kejadian itu terus yang menghampirinya. Peristiwa itu hanya melibatkan dirinya, Heejin, Ayahnya, dan almarhum ibu Heejin, jadi…apakah ini ada hubungannya dengan Heejin atau dengan yang lain?

~oOo~

Pagi itu Baekhyun memilih untuk tidak mengendarai ‘teman berwarna putihnya’. Kepalanya masih berdenyut hebat, menyetir dalam keadaan seperti ini sama saja mengorbankan nyawa. Ia menolak naik dalam Audi hitam yang dikemudikan supir pribadi karena tak ingin satu mobil dengan Heejin, untuk sementara ini ia hanya bisa menghindar, menghindar hingga ia memperoleh jawaban tepat. Pagi ini hujan mengguyur deras, Baekhyun menaikkan tudung jaketnya, tangan kanannya masih menggenggam erat gagang payung berwarna putih transparan yang melindunginya dari serbuan air. Tujuan Baekhyun tinggal diseberang mata, halte itu ada disana namun saat melihat lampu penyeberangan tak kunjung berubah hijau, Baekhyun memasuki sebuah box telepon dan menutup payung lalu meletakkan benda tersebut dipojok, ia berencana meninggalkan benda tersebut disana karena membawa payung merupakan hal merepotkan baginya. Halte berjarak kurang dari 50 meter darinya, ia berencana berlari untuk kesana, tidak akan terlalu basah kuyup, batinnya. Dari dalam box, Baekhyun terus memerhatikan lampu tanda menyeberang, saat warna hijau tiba-tiba muncul, Baekhyun bergegas keluar lalu berlari cepat. Baru sampai sepertiga jalan, ia mendengar suara berdecit keras yang lalu diikuti suara teriakan orang. Matanya mengabur, ia merasakan tubuhnya terbanting keras, ia masih sadar namun bisa dirasakannya ada darah segar mengalir dari keningnya.

Baekhyun masih belum bisa mencerna apa yang terjadi. Matanya menangkap beberapa orang yang menghampirinya dan menghujamnya dengan pertanyaan, ia juga bisa melihat sebuah mobil terparkir menyerong ditengah jalan. Baekhyun baru mengerti kalau mobil itulah sesuatu yang menghantamnya, tidak keras namun cukup membuat ia terpental dan menorehkan lecet juga luka dikeningnya.

Baekhyun memegang kepala, ia tiba-tiba melihat peristiwa aneh dikepalanya. Tubuhnya menggigil karena seragam yang dipakainya kini basah kuyup. Seiring dengan sakit yang menderanya, peristiwa yang tadinya seperti potongan puzzle tersebut mulai tertata rapi menampilkan pemandangan yang membuat Baekhyun bergidik ngeri. Ia ingat….ia ingat hari itu, petir itu, guyuran hujan itu, serangan dingin itu, suara teriakan itu, suara tangis itu, bercak-bercak darah itu, tatapan benci itu, tatapan nanar itu, kepedihan itu….

“Akh!!!” Baekhyun memekik sambil memegangi kepalanya

Entah kapan mobil ambulance datang, yang pasti ada seseorang dari kerumunan orang disekitar Baekhyun yang telah menelepon unit gawat darurat. Tanpa perlawanan, Baekhyun dibawa masuk kedalam mobil bersuara khas tersebut, hingga mobil tersebut melajupun, Baekhyun masih belum bisa mengembalikan akal sehatnya.

“Dia akan membenciku” gumam Baekhyun dengan wajah memucat dan mata memerah

Mobil ambulance yang membawanya membelah cuaca dingin yang menyelimuti, Baekhyun patuh saat petugas medis mengelap darah segar dikeningnya, Baekhyun patuh saat petugas medis melingkarkan selimut hangat pada tubuhnya, namun dia tetap diam saat petugas menanyai keadaannya hingga ia berteriak memerintah.

“Antarkan aku ke Woosung Hospital” Nada ucapan Baekhyun terdengar begitu tegas dan tak main-main

“Kita akan ke Dankook University Hospital, rumah sakit itu lebih—“

“Antarkan ke Woosung Hospital!” Potong Baekhyun dengan rahang terkatup rapat, petugas medis tersebut terheran namun hanya bisa mengangguk. Ia mengangguk karena menganggap Baekhyun sedang shock dan ia tak ingin pemuda itu mengamuk, yang penting pemuda itu mau dibawa ke rumah sakit, batin petugas medis tersebut.

Perlu waktu sekitar 10 menit untuk sampai di Woosung Hospital. Sesaat setelah Baekhyun sadar mobil yang membawanya berhenti, ia menyambar pintu dan membukanya dengan brutal. Ia tak peduli teriakan petugas medis dibelakangnya, ia tak peduli tubuhnya yang menggigil, ia tak peduli akan darah yang masih menetes dari keningnya, ia terus berlari dan berlari. Saat sampai ditempat tujuannya, seorang suster yang begitu hafal dengan Baekhyun langsung menghampiri.

“Dr. Lee sedang ada pasien, aku akan mengantarkanmu ke ruang UGD dulu” Perawat itu ngeri melihat Baekhyun dengan jaket penuh noda darah namun baru saja tangannya ingin mengiring Baekhyun, pemuda itu menerobos masuk seperti kelompok FBI yang akan menyergap gembong teroris.

Dr. Lee yang melihat kejadian tersebut bersama pasiennya langsung terlonjak kaget. Baekhyun mengalihkan pandangan pada wanita paruh baya yang berstatus pasien Dr. Lee tersebut.

“Maaf, bisakah anda meninggalkan kami? Saya sedang dalam keadaan kritis” Ujar Baekhyun

Wanita itu patuh saja karena ia juga bisa melihat luka-luka yang didapat Baekhyun.

“Kau seharusnya ke UGD, kenapa langsung kesini? Lihatlah keadaanmu!” Semprot Jisung yang langsung berniat menarik anak sahabatnya itu untuk ditangani petugas UGD

“Apa dia gadis itu?”

Jisung berhenti, tangannya yang tadi mencengkram lengan Baekhyun jadi mengendur. Ia menatap Baekhyun dengan dahi berkerut sempurna.

“Jawab aku paman, apa dia gadis itu?” Wajah Baekhyun benar-benar terlihat frustasi

Jisung merasakan ada sesuatu yang besar telah terjadi. Ia tahu betul Baekhyun adalah tukang buat onar sekolah, suka balapan liar, suka berkelahi, dan ia tahu betul anak itu sudah menerima berbagai macam hukuman tapi tidak pernah Baekhyun menunjukkan ekspresi seperti ini. Raut wajah Baekhyun sekarang benar-benar baru kali ini dilihatnya, raut wajah putus asa bercampur depresi.

“Jawab aku paman!” Suara Baekhyun naik beberapa oktaf, ia lupa bahwa orang yang ia ajak bicara adalah orang yang jauh lebih tua darinya

“Paman tidak mengerti maksudmu Baekhyun, kenapa kau seperti ini, tenangkan dulu dir—“

“Bagaimana aku bisa tenang kalau sekarang aku tahu orang-orang yang menderita karena aku ternyata jauh lebih banyak dari perkiraanku?!” Pekik Baekhyun “Gadis itu….” Baekhyun mengatupkan giginya “Yoonjoo…apa dia…”

Jisung mengerti sekarang, ia tahu hal ini cepat atau lambat akan terbongkar. Tapi ia tidak menyangka Baekhyun akan ingat secepat ini.

“Apa benar dia gadis itu?” Kali ini pertahanan Baekhyun runtuh, sebulir air mata menetes diikuti suara seraknya

Jisung menutup mata, ia bisa merasakan apa yang Baekhyun rasakan

“Baekhyun-ah….” Jisung bersuara amat pelan

“Aku tidak mengerti kenapa Tuhan seperti ini, kenapa beliau mempertemukanku dan Yoonjoo dengan cara seperti ini?!” Baekhyun menunduk dalam-dalam, dirinya yang sekarang amat jauh dengan dirinya yang biasa dicap berandal dan urakan

“Kau menangis karena menyesal dengan yang terjadi dimasa lalu atau kau menangis karena takut Yoonjoo akan hilang dari pandanganmu?”

Pertanyaan yang satu itu benar-benar membuat Baekhyun merinding, ia mengangkat wajah dan berkata dalam hati “Aku takut pandangannya yang sekarang berubah menjadi pandangan yang nantinya menghujam hatiku”

~oOo~

House music mengalun keras memekakan gendang telinga. Volume music tersebut bisa saja membuat tuli telinga jika terlalu sering didengar. Dibalik sebuah meja marmer panjang, seorang bartender seperti tengah tawar-menawar dengan pelanggannya. Pelanggan itu sedang meminta bartender didepannya untuk memberikan minuman lain namun sang bartender menolak dengan alasan pelanggannya itu sudah teler.

“Berhentilah, kau sudah mabuk, dan lagi kenapa kau kesini dengan seragammu itu? Bagaimana kalau ada razia dadakan? Bukan hanya kau yang kena masalah tapi Pub ini juga”

“Eiii kau terlalu berlebihan seperti aku tidak pernah terlibat masalah begini saja”

Bartender itu menggeleng, ia menyerah jika harus beradu mulut dengan pemuda didepannya.

“Kau ini! Hanya wajahmu saja yang manis, kelakuanmu tidak” Cibir bartender itu yang langsung diikuti suara tawa yang keras

Pemuda itu mengibas-ngibaskan tangannya “Kau tidak boleh menilai orang dari wajah atau penampilannya”

“Ya ya ya aku tahu. Kau! Byun Baekhyun! Siswa SMA paling segala-galanya yang pernah kutemui. Kau satu-satunya siswa SMA yang berani melawan ketua gangster beserta anteknya dengan terang-terangan, kau satu-satunya siswa SMA yang bisa keluar masuk sesuka hati ke tempat seperti ini, kau satu-satunya siswa SMA dengan wajah amat tenang bahkan saat berhadapan dengan polisi, kau memang juara!” Bartender itu mengacungkan jempol namun wajahnya terlihat nelangsa “Tapi, tidak bisakah kau hidup normal seperti bocah SMA lainnya?”

Baekhyun tersenyum miring “Hidupmu sudah tidak normal sejak dulu jadi biarkan saja, tidak bisa diperbaiki”

“YA! Jangan coba-coba menghubungi 3 bocah itu!” Ancam Baekhyun saat melihat bartender yang dikenalnya bernama Hose ini memegang ponsel sambil melirik-lirik kearahnya

“Bukankah lebih enak minum dengan teman daripada sendirian?” Tawar Hose, ia sebenarnya bukan ingin mencarikan Baekhyun teman minum tapi ia sedang berharap 3 orang teman Baekhyun tersebut bisa membawa pulang pemuda keras kepala ini

Baekhyun kembali mengibas-ngibaskan tangannya membuat Hose jengkel “Yak! Aku menganggapmu seperti adikku, sebenarnya aku malas memberimu minuman-minuman ini tapi karena aku melihatmu sedang suntuk, aku memberikannya tapi kau malah jadi menyebalkan dengan meminta lagi dan lagi. Pulanglah! Aku akan memanggilkanmu taksi” Hose mulai berang, ia khawatir juga sebenarnya

“Masalahku tidak bisa diselesaikan dengan pulang”

“Aku tahu” Hose geram “Aku menyuruhmu pulang agar bisa menenangkan diri dan memikirkan solusi”

“Tidak semudah itu” Baekhyun terus menjawab, ia benar-benar teler

“Aku tahu” balas Hose lagi sambil memapah Baekhyun keluar “Semua masalah ada penyelesaiannya, hanya kadang manusia saja yang suka mendramatisasi”

“Hei Kang Hose, kau tahu apa?!” Baekhyun menoyor kepala Hose seenaknya

“Yak sialan kau! Aku ini lebih tua darimu”

Baekhyun hanya meringis, Hose merasa dia akan melahap hidup-hidup pemuda didepannya ini. Sebelum hal tersebut benar-benar terealisasi, Hose memanggil taksi dan memasukkan pemuda itu kedalam. Ia menyebutkan alamat rumah Baekhyun dan membayari ongkos taksi pemuda itu sebelum akhirnya melihat angkutan biru tersebut pergi menjauh dari pandangannya.

Baekhyun memegangi perut, supir taksi tersebut menjadi was-was tentang angkutannya yang akan penuh dengan muntahan Baekhyun. Supir tersebut bergidik ngeri membayangkannya, ia meminggirkan taksinya lalu melesakkan beberapa lembar uang yang tadi ditinggalkan Hose kedalam saku almamater milik Baekhyun. Walaupun teler, Baekhyun mengerti apa maksud supir tersebut, ia turun dengan tergopoh-gopoh lalu berlari gontai kearah gang sempit disamping supermarket tempatnya diturunkan. Ia memuntahkan semua yang diminumnya juga dimakannya, ia mengerang sambil memegangi kepalanya, pening.

“Sialan! Berapa banyak tadi aku minum” Maki Baekhyun

Pandangannya berputa-putar, ia berjalan gontai keluar dari gang gelap tersebut lalu bersyukur dalam hati matanya menangkap apotek yang berjarak beberapa langkah dari tempatnya berdiri. Tanpa menunggu matahari terbit, Baekhyun bergegas untuk membeli obat penetral yang ia juga tak tahu apa namanya karena seumur-umur ia belum pernah semabuk ini.

Setelah mendapatkan obatnya, Baekhyun masuk ke salah satu supermarket yang juga tak berada jauh dari apotek tersebut. Ia berjalan kearah jejeran kulkas, ia membuka dengan tidak sabar dan meraih sebotol air mineral lalu menegaknya bersamaan dengan dua butir obat sekaligus. Baekhyun menutup mata merasakan denyutan-denyutan dikepalanya, setelah beberapa menit, baru ia membuka mata. Saat itu juga, ia bisa melihat dari ekor matanya ada beberapa gadis berseragam tengan menatapnya kagum.

Baekhyun menoleh “Lihat apa!?” Tegurnya tak bersahabat

Gadis-gadis itu bubar tanpa diperintah namun masih berkasak-kusuk, Baekhyun bahkan sempat mendengar ada yang bilang “Wajah tampannya tak bisa ditutupi walau penampilannya berantakan. Sayang terlalu galak” lalu ditimpali dengan yang lain “Aku dengar semua siswa Junsang memang begitu, tampangnya saja yang kelas atas tapi kelakuan urakan, kau lihat sendirikan dia sepertinya habis mabuk-mabukan”

Baekhyun mendengus sambil tertawa geli, ia mendatangi kasir sambil membawa air mineral yang tadi sudah duluan diminumnya bersama sebotol parfum yang diambilnya secara acak, ia membayar dan melesat pergi tanpa menunggu kembaliannya. Setelah diluar, Baekhyun menyemprotkan parfum tersebut tanpa ampun keseluruh tubuhnya, ia berencana akan ke Rutan jadi tentu saja tidak boleh ketahuan polisi kalau dia baru saja minum-minum.

Saat memasuki taksi yang dicegatnya, ia disambut tatapan aneh dari si supir, mungkin karena aroma parfumnya yang terlalu memekakan hidung.

Baekhyun meringis “Anak muda jaman sekarang memang suka bau yang mencolok” jelasnya sembarangan

Setelah duduk manis, Baekhyun merogoh benda dibalik saku celananya. Dahinya berkerut melihat jumlah pesan dan panggilan tak terjawab yang terpampang disana. Ada dari Chanyeol, ada dari Chen, ada dari DO, ada dari Heejin, dan ada dari Yoonjoo…

Untuk 2 nama terakhir itu, Baekhyun menahan nafas. Ia mengetik pesan dengan kalimat singkat “Aku masih hidup” lalu memforwardnya keseluruh temannya yang mengirimkan pesan hampir sama yaitu menanyakan dimana ia seharian ini

Untuk Heejin, Baekhyun berpikir untuk memberitahunya saat dirumah saja dan untuk Yoonjoo, ia tidak tahu apa ia bisa mendengar suara gadis itu saat ini dan dalam keadaan seperti ini hingga ia mengirimkan sebuah pesan yang mungkin akan menimbulkan tanda tanya besar dikepala Yoonjoo.

“Aku akan membereskannya untukmu, agar kau bisa lelap dalam tidurmu” saat memencet tombol send, terdengar suara supir yang memberitahukan Baekhyun bahwa mereka sudah sampai

Baekhyun tersenyum pahit, malam ini ia mungkin akan mengotori tangannya.

To be continue……..

Wah saya gak tahu apakah masih ada yang membaca fanfict ini. Sekali lagi maaf untuk rentang waktu yang begitu lama. Ending part 11 sudah saya kirim, silahkan ditunggu akhir kisah anak manusia ini /?

Iklan

32 pemikiran pada “Thorn of Love Part 10 – (Please Don’t)

  1. Jujur aja aku lebih suka baekhyun sama heejin .-.,tapi kalo alurnya udh gini ya mungkin terrserah kakak aja yg terpenting semua cast bahagia itu udh cukup :’),itu baekhyun mau kekantor polisi mau ngapain?apa dia mau bilang kalo dia pelaku dari semua masalah yoonjo? Plis ini ceritanya berubah banget dari yg aku duga :’) huhuhu bener bener deh ini harus nunggu chap 11 nya

  2. kenapa baekhyun keplaanya kepukul mulu kk
    ga pusing apa ya
    tapi gapapa si kalo ujung2nya baekhyun bisa inget semuanya lagi
    what theee………
    baekhyun lgi mabuk
    what are you doing bae
    duh aku deg deg an banget pas liat endingnya
    segera di apdet secepatnya chap 11

  3. aduhhh baekkkk,,,, apa baek sama yoonjo pernah ktmu dimasa lalu?? Dan takdirr??? Yang dimaksudkan dokter lee,,,,,,,

    Baekhyun mau bunuh siapaaa???????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s