Seonsaengnim (Chapter 6)

Title: Seonsaengnim

Author: @diantrf

Main Cast:

Xiao Luhan, Park Chanyeol (Exo) | Park Cheonsa (OC)

Other Cast:

Kim Junmyeon/Suho, Oh Sehun, Kim Jongdae/Chen, Kim Minseok/Xiumin, Zhang Yixing/Lay, Wu Yifan/Kris (Exo) | Kim Myungsoo/L (Infinite) | Jung Jinyoung (B1A4) | Lee Gikwang (Beast)

Genre: Fantasy, Romance, Mystery, School-life | Rating: PG-17 | Length: Chaptered

Prev:

Part-1 | Part-2 | Part-3 | Part-4 | Part-5

0o0

Ia datang. Junmyeon seonsaeng yang kutakuti keberadaannya justru kini hadir di hadapanku. Tersenyum manis namun aku merasakan seperti tertusuk dari dalam. Sakit dan perih. Entah mengapa setiap aku melihat matanya aku merasakan sesuatu yang aneh pada diriku. Rasa sakit, penyesalan. Suatu rasa lain yang bergejolak dalam hatiku. Bukan ketakutan yang biasa, seolah ia pernah menyakitiku di masa lalu dan membuatku membencinya..

Tunggu! Menyakitiku di masa lalu? Apakah itu mungkin terjadi? Karena menurut sastra yang Junmyeon seonsaeng tulis aku memang pernah hidup di masa lalu. Karena memang saat înger dan Diavol berpisah pun tak tersebut dengan jelas apa penyebabnya. Mungkin itulah bagian sejarah yang aku lewatkan, dan yang tak ingin Junmyeon seonsaeng tulis. Ya ampun, sepertinya aku harus lebih sering mencari fakta lain lagi.

Benar juga, mengapa aku masih sempat memikirkan hal itu padahal sekarang aku tengah berada dalam bahaya? Sedaritadi Gikwang oppa terus memperhatikanku. Mungkin ia kaget dengan perubahanku yang dulunya masih serupa seorang gadis kecil dan sekarang menjadi lebih dewasa. Dokter Zhang pun sepertinya tengah memperhatikan sesuatu pada diriku, namun aku tak tahu apa itu. Dan yang terakhir adalah Junmyeon seonsaeng. Ia hanya diam dan sesekali tersenyum melihatku. Aneh.

Sehun semakin mempererat rangkulannya di pinggangku. Agak sesak memang, namun aku juga tak bisa berontak. Jika salah pergerakan mungkin aku akan memancing Junmyeon seonsaeng untuk bertindak aneh. maka dari itu aku lebih baik diam saja, menunggu semuanya bicara terlebih dahulu. Bagaimanapun juga aku adalah orang asing di sini.

“Sehun, kuharap kau mengerti posisimu. Jangan terlalu dekat dengan Cheonsa.”

Junmyeon seonsaeng akhirnya berucap juga. Tapi apa maksudnya itu? Jangan dekat-dekat denganku? Mengerti posisinya? Apa maksud semua itu? Kulihat Sehun menatap Junmyeon seonsaeng tajam, namun yang ditatap hanya diam, seolah ia telah biasa melihat tatapan sinis seperti itu. Kenapa sekarang aku lebih ingin mengetahui tentang Junmyeon seonsaeng? Mengapa sekarang aku sangat penasaran dengannya?

“Cheonsa, lebih baik kau istirahat. Sehun, antar ia ke kamarku. Biar nanti aku istirahat di kamar Jongdae.”

Jinyoung sunbae tersenyum—yang menurutku adalah senyum terpaksa. Sehun bangkit dari duduknya dan menarik tanganku agar mengikutinya. Dapat kurasakan bahwa Junmyeon seonsaeng masih terus memperhatikanku dari balik punggungku. Sampai aku merasakan sesuatu yang menyakitkan merambati jantungku. Pasti ulah Junmyeon seonsaeng. Tuhan, rasanya sungguh sakit..

Hyung, jangan mulai—“

“Apa? Bukan aku.”

Myungsoo langsung melesat menghampiriku yang tengah kesakitan. Aku ambruk di lantai dengan topangan Myungsoo. Sehun hanya diam sambil memperhatikanku yang tengah kesakitan dan Junmyeon seonsaeng melihatnya dengan sinis. Ada apa ini? Jika ini bukan ulah Junmyeon seonsaeng lalu ini ulah siapa? Apa mungkin.. Sehun?

“Sehun, hentikan!” Kris seonsaeng berdiri dari duduknya dan menatap Sehun tajam.

Rasa sakitku semakin menjadi-jadi. Seperti ditusuk dan rasanya sangat sakit. Aku mulai kesulitan mengatur napasku. Dadaku terasa sangat sesak. Sangat, ya Tuhan ini menyakitkan. Mungkin aku bisa mati di tempat saat ini juga. Semua orang seakan hanya menjadi penonton di kursi kesayangan mereka. Sehun masih terdiam. Dan mungkin benar ia-lah yang membuatku merasakan rasa sakit ini. Junmyeon seonsaeng juga masih terdiam, memperhatikan Sehun dengan seksama. Sepertiya ada sesuatu yang tersembunyi di antara Sehun dan Junmyeon seonsaeng.

“Sehun, kau gila? Cepat hentikan sebelum Cheonsa kehabisan napas.” Jongdae sunbae terlihat ingin memukul Sehun namun tangan Jinyoung sunbae menahannya. Ada apa dengan semua orang? Aku seakan menjadi bahan pertunjukan seru yang tak bisa diganggu gugat.

“Sehun..hen..tikan..akh!”

Aku tak kuat lagi. Cengkraman tanganku pada Myungso mulai mengendur. Aku lemas, benar-benar melayang dengan ringan seperti akan terbang ke atas. Nyawaku seakan hanya tinggal berada di ujung penantiannya. Aku sudah pasrah dengan misteri ini. Terlalu menyakitkan bagiku. Aku lelah merasakan rasa sakit seperti ini. Tuhan tolong aku..

“Sehun!”

Ukh..ukh..”

Akhirnya jeratan rasa sakit itu menghilang. Berkali-kali aku mengatur napasku dengan Myungsoo yang setia mengusap punggungku. Rambutku berantakan, aku terlihat kacau. Kuyakin saat ini kulitku berubah sepucat mayat. Aku benar-benar sudah tak memiliki tenaga bahkan hanya untuk bangun. Aku masih terduduk di lantai dengan topangan Myungsoo.

“Sudah kuduga. Kau tak mungkin tega melihat Cheonsa kesakitan lebih lama lagi.”

Junmyeon seonsaeng menunjukkan senyum kemenangannya, dan itu membuat Sehun semakin terlihat menyeramkan. Pandangannya dingin, dan bola matanya berubah warna menjadi merah. Dengan paksa Sehun menarik tanganku agar mengikutinya. Sontak aku terseret di lantai karena benar-benar tak mampu berdiri. Aku bagai siput lembek yang lemas, tak ada tenaga sama sekali.

Kyaa! Sehun, turunkan aku!”

Ia mendengus dan langsung menggendongku. Refleks aku melingkarkan lenganku di lehernya. Jarak wajah kami sangat dekat. Ya Tuhan, ada apa dengan Sehun? Dan sebenarnya siapa ia? Apa hubungannya ia dengan masa laluku?

Aku hanyut dalam mata merahnya yang menakutkan namun mempesona. Matanya seakan bicara padaku tentang sesuatu yang tak kumengerti. Tentang sebuah peristiwa penting, sesuatu yang aneh di masa lalu. Matanya semakin membuatku hanyut lagi dan lagi. Seperti jatuh dalam sebuah lingkaran hitam dan tak ada jalan untuk kembali. Tubuhku semakin melemah. Dan sepertinya memang Sehun mengucapkan beberapa kata untuk membuatku tertidur, karena setelahnya tak ada lagi yang dapat kulihat selain gelap.

0o0

Terbangun dengan keadaan lemah sepertinya sudah sering kualami. Namun kali ini adalah yang paling membuatku takut dan ingin sekali menjerit. Ruangan bernuansa cokelat kayu yang sangat anggun dan elegan. Di dinding tepat di hadapanku—menghadap dengan ranjang yang kini kutiduri—terdapat sebuah lukisan foto keluarga besar yang sangat menawan.

Seorang pria yang kelewat tampan dengan kulit pucat khas vampire, yang di sebelahnya terdapat seorang wanita cantik yang tengah menggendong seorang bayi mungil yang sangat lucu. Bayi yang tersenyum akan kehangatan pelukan ibunya. Keluarga yang sangat bahagia. Tunggu, dimana semua orang? Kamar siapa ini?

“Syukur kau telah bangun.”

Suara berat itu mengagetkanku yang mau tak mau mulai menelisik mencari arah sumber suara—yang ternyata berada tepat di sampingku. Sehun duduk menyandar kepala ranjang dengan sebuah buku dalam genggamannya. Ia hanya mengenakan sebuah kaus polos berwarna hitam dengan celana panjang senada. Rambutnya terlihat lebih berantakan dari yang terakhir kali aku lihat, namun tetap saja itu malah membuatnya terlihat semakin mempesona.

Aku ikut bangkit dan terduduk menyandar kepala ranjang. Apakah ini kamar Jinyoung sunbae? Atau jangan-jangan kamar Sehun? Apa lukisan itu adalah foto keluarga Sehun? Aku kembali terpaku pada lukisan itu. Agak lama aku terhanyut dan berusaha mengingat siapa orang yang terlukis di sana. Wajah yang menurutku sangat familiar dan terkesan sangat nyata di hidupku. Aku hanya terdiam, sampai di detik berikutnya aku hampir menjerit begitu menyadari sesuatu.

“Kau sepertinya tertarik dengan lukisan itu.” Sehun menoleh padaku, dan ternyata matanya masih memancarkan warna merah darah yang kentara.

“I-itu..”

“Itu lukisan keluargaku.” Sungguh, aku ingin sekali berteriak. Ini tidak mungkin.. Tidak mungkin!

“Berhentilah mengatakan hal ini tidak mungkin, Cheonsa! Lihat kenyataanmu di masa lalu!”

Aku terlonjak mendengar suara bentakan Sehun. Tahu-tahu ia telah berada tepat di sampingku, memenjarakanku dengan tangannya. Wajahnya sangat dekat dan hawa tubuhnya kembali membuatku mulai merasakan sakit.

“Kuyakin kau sudah membaca karya itu sampai habis. Kau terlalu bodoh untuk tak mengetahui satu kenyataan pahit dalam cerita itu.”

Tangannya bermain di wajahku, terus turun sampai leherku. Tangannya sangat dingin, dan itu membuatku tak nyaman. Ada apa sebenarnya dengan Sehun? Apa kenyataan yang tak aku ketahui di masa lalu yang berhubungan dengan diriku dan..

“Menurutmu apa yang membuat Diavol tak bisa bersama înger?” Benar, aku sama sekali belum mengetahui alasan mengapa Diavol tak bisa bersama înger. Mengapa Junmyeon seonsaeng tak bisa bersama dengan gadis yang semula memang juga menyukainya?

“Karena pria itu! Pria dalam foto itu merebut înger dari Diavol.”

Segala kepingan ingatan dan peristiwa seperti terangkai dengan sempurna. Memilin sebuah ingatan, mungkin itu yang tengah terjadi padaku. Foto itu.. Ya benar, aku tak mungkin salah mengira. Itu adalah foto înger yang tengah memeluk anaknya, dan sang pria adalah..

“Kau masih belum mengerti, Cheonsa? Bayi dalam gendongan wanita itu adalah aku. Aku adalah anak dari înger!”

Aku memejamkan mataku. Ternyata memang benar dugaanku. Sehun.. Sehun adalah anak dari înger, yang otomatis itu berarti bahwa ia adalah anakku di masa lalu—dan tetap akan menjadi anakku selama apapun dunia ini hidup. Sehun adalah anakku.

“Dan kau sadar siapa pria itu? Pernah mendengar tentang nama Anhel yang terselip dalam cerita itu?”

Anhel, seingatku ia adalah teman yang ditemui înger sebelum ia benar-benar hilang dari dalam cerita. Junmyeon seonsaeng memang tak menjelaskan sampai akhir sebab înger menghilang dari jangkauan matanya. Apakah.. înger kabur dengan Anhel lalu mereka menikah diam-diam?

“Benar, kukira kau sudah bisa menebak semuanya. Anhel adalah ayahku, pria yang membawa kabur înger dan menikah diam-diam lalu memiliki seorang anak.”

Aku semakin terkejut, sungguh. Apa benar aku menikah dengan Anhel di masa lalu? Dan Anhel itu adalah..

“Apakah Anhel itu manusia?” Tanyaku memberanikan diri. Oke, aku sudah siap dengan segala kenyataan terburuk. Tuhan, selamatkan aku..

“Anhel adalah salah satu Strămoș.”

Syok, satu kata itu benar-benar menyelimutiku. Ya Tuhan, ternyata aku menikah dengan Strămoș. Aku?! Tapi mengapa sekarang Anhel..

“Mengapa Chanyeol terlahir menjadi manusia jika dulunya ia adalah Strămoș?” Ucapku tanpa basa-basi. Yap, lukisan pria itu adalah Chanyeol. Aku yakin jika itu Chanyeol. Pendampingku di masa lalu, dan masih sampai sekarang.

Sehun menatapku semakin dalam, seperti ada sebuah sejarah kelam yang dulu terjadi. Ini benar-benar di luar perkiraanku. Kukira Luhan-lah yang membawaku kabur atau bagaimana, namun ternyata ini sangat mengejutkanku. Chanyeol, adikku sendiri ternyata adalah suamiku. Dan mengapa pula ia bisa menjadi manusia dan Sehun yang kini justru menjadi Strămoș?

“Pernah mendengar tentang peluruhan darah?”

Tangan Sehun kini bermain di rambutku. Sepertinya ia senang sekali membuatku ketakutan seperti sekarang. Peluruhan darah, seingatku adalah ritual untuk menghapuskan ikatan darah seorang vampire untuk sementara waktu. Seorang vampire yang diluruhkan darahnya akan kehilangan naluri vampire-nya dan yang meluruhkan darahnya akan mati atau tereinkarnasi lagi bertahun setelahnya. Oh, jangan katakan jika Chanyeol melakukan peluruhan darah agar aku menjadi manusia dan menidurkan naluri vampire-ku. Namun untuk apa?

“Kau terlalu berharga pada zaman itu. Hampir semua Strămoș menginginkan darahmu. Hanya Anhel—atau kau sekarang menyebutnya Chanyeol—yang tahan berdekatan denganmu tanpa bermaksud membunuhmu dan mengambil darahmu. Ia sangat mencintaimu, berbanding terbalik dengan Junmyeon yang sangat tergila-gila padamu. Kau adalah vampire terkuat, Cheonsa.”

Sehun ini sangat menyebalkan. Ia selalu bisa membaca pikiranku dan menjawab pertanyaanku tanpa aku tanya. Aku ibunya, tapi ia tak memiliki sopan santun sama sekali padaku dan malah menggodaku seperti ini. Dasar anak durhaka

“Sehun.. hentikan, tolong.”

Ia tak menggubris omonganku dan malah semakin gencar memainkan tangannya, yang kini tepat berada di leherku. Ia memegang tengkukku dan menaruh wajahnya di leherku, mengelitikku. Namun tetap saja hanya rasa sakit yang aku rasa. Aura Sehun sangat kuat, dan aku tak tahu mengapa bisa seperti itu.

“Ayah terlalu egois karena ia menidurkan naluri vampire-mu, membuat vampire lain tak bisa merasakan harum darahmu. Membuatku harus kehilangan kasih sayang seorang Ibu di usiaku yang waktu itu baru berumur belasan tahun.”

Sehun mendorong tubuhku dan membuatku terbaring dengan ia yang menindihku. Ia masih terus meracau tak jelas, bicara tentang betapa kecewanya ia pada ayahnya sendiri. Sekarang aku mulai mengerti. Mungkin maksud Chanyeol menyegel naluri vampire-ku agar aroma darahku ini tak menggoda Strămoș yang lain dan tak menyebabkan perkelahian di antara mereka.

Aku kembali teringat, bagaimana Chanyeol sangat berusaha menjauhkanku dari dokter Zhang yang saat itu sedang memeriksa kakek. Bagaimana ia sangat menentang hubunganku dengan Gikwang oppa dengan alasan perbedaan umur kami yang jauh. Bagaimana ia selalu berusaha ada di sampingku agar aku tak melirik namja lain. Dan terakhir saat ia memberitahuku tentang keganjilan sastra yang ternyata adalah buatan Junmyeon seonsaeng. Ia hanya ingin agar aku selalu bersamanya bahkan walaupun sekarang ia hanyalah seorang manusia. Chanyeol tahu bahwa para Strămoș masih mengincarku sampai sekarang.

Ia bahkan rela bereinkarnasi bersamaku dan menjadi saudara kembarku. Ia rela membiarkanku lahir lebih dulu ke dunia sehingga aku-lah yang menjadi kakaknya. Ia yang mendorongku agar keluar terlebih dahulu dari rahim ibu karena ia tahu aku lemah dan tak bisa keluar dengan caraku sendiri. Chanyeol-lah yang selalu membantuku. Suamiku yang rela melakukan apapun untukku.

Dan Sehun adalah anakku. Sejujurnya aku memang tak percaya. Tapi mengingat bagaimana perasaanku saat pertama kali bertemu dengannya dan bagaimana Chanyeol terlihat sangat menyayangi Sehun hanya dari tatapan matanya. Chanyeol sangat menyayangi anaknya, naluri seorang ayah yang tak akan pernah berubah selama apapun waktu memisahkan. Kami sama-sama menyayangi Sehun.

“Ayah kejam. Ia merebutmu dariku. Seharusnya aku sekarang hanya menjadi vampire biasa, dan bukan Strămoș. Seharusnya Ayah-lah yang masih menjadi Strămoș. Seharusnya aku bisa memilikimu seutuhnya dan membuatmu mencintaiku. Ini gila! Aku mencintai ibuku sendiri.”

Rasa syokku semakin bertambah tiap detiknya. Apa-apaan Sehun ini? Ini salah, Sehun tak mungkin mencintaiku. Tak boleh! Semuanya menjadi jelas. Saat Sehun berkata bahwa ia menciptakan Luhan agar bisa selalu menjagaku karena Sehun tak bisa menyentuhku. Sehun ingin Luhan menikah denganku karena Sehun memang tak bisa menikah denganku. Aku ibunya, dan selamanya akan tetap seperti itu. Namun bagaimana dengan Chanyeol? Ia suamiku, namun mengapa ia juga mendukung pernikahanku dengan Luhan?

Sehun membuka bajuku hanya dengan sekali tarik. Matanya menjadi semakin lebih merah dan sangat kelam. Tuhan, mengapa seperti ini? Sehun, hentikan..

“Sehun, hentikan!”

Suara ini.. Sehun bangkit dari tubuhku dan kini aku dapat melihat Luhan yang tengah berdiri di depan pintu sembari menatap Sehun dengan tajam. Luhan.. Bagaimana bisa ia datang kemari? Mereka hanya saling adu tatap tanpa melakukan apapun. Tubuhku lemas, Sehun sepertinya menghisap habis seluruh tenagaku. Dengan sisa tenagaku yang minim ini, aku mengambil selimut terdekat dan membalutkannya pada tubuhku. Sebenarnya mataku ini ingin sekali terpejam, namun aku juga ingin melihat apa yang akan terjadi di antara mereka.

Tak lama, Luhan berlutut sembari memegangi dadanya. Mungkin Sehun yang mengendalikan Luhan, karena bagaimanapun juga Sehun adalah Tuan dari Luhan. Ia yang menciptakan Luhan dan sudah sewajarnya Luhan harus mematuhi segala perkataan Sehun, bukan malah menentangnya seperti sekarang ini. Jujur, aku juga sedikit merindukan Luhan, semarah apapun aku padanya tetap saja aku pernah mencintainya. Pernah, eh?

“Sehun..hentikan..” Lirihku agar ia menghentikan siksaannya pada Luhan. Luhan kini berteriak kesakitan dengan tubuhnya yang bergeliat di lantai. Mengenaskan.

Oh, jadi kau membelanya? Ia hanyalah vampire biasa yang hina, dan kau lebih membelanya ketimbang aku?!”

“Sehun! Dimana rasa hormatmu pada ibumu sendiri?!” Luhan berteriak membentak Sehun. Namun sepertinya itu adalah tindakan yang salah karena Sehun semakin menatap Luhan tajam sehingga Luhan semakin meraung dengan keras. Terdengar sangat pilu. Ya Tuhan tolonglah Luhan..

“Kau lemah, Sehun. Dimana harga dirimu sebagai seorang Strămoș?”

Mataku teralih pada seseorang yang berdiri tak jauh dari posisiku dan Sehun. Junmyeon seonsaeng berdiri dan menatap Sehun dalam, dan tak lama Sehun juga ikut berteriak seperti Luhan. Namun justru kini teriakan Luhan berhenti. Luhan mencoba bangkit dan akhirnya mampu mencapai ke arahku. Pandanganku semakin kabur, sepertinya Junmyeon seonsaeng berusaha membuatku tertidur.

“Bawa Cheonsa pulang. Sekarang.”

Junmyeon seonsaeng menyuruh Luhan dan Luhan hanya mengangguk. Ia melepas jaket yang ia kenakan dan membalut tubuhku dengan itu. Aku masih dapat melihat bagaimana wajah kesakitan Sehun dan raut datar Junmyeon seonsaeng. Luhan menggendongku dan sepertinya ia melakukan teleportasi. Mataku sudah tak kuat lagi untuk terbuka dan akhirnya semua kembali menjadi gelap.

0o0

Aku merasakan sesuatu yang dingin berada di keningku. Sial, sesungguhnya aku sudah sadar sejak beberapa menit yang lalu. Namun kelopak mata ini tak mau berkompromi bahkan hanya untuk terbuka sekilas. Sangat berat dan membuatku frustasi. Semuanya gelap, aku ingin tahu di mana aku sekarang. Apakah sudah aman di rumah atau justru kembali dibawa ke tempat aneh lainnya?

Sudah kesekian kalinya aku berusaha membuka mata, namun hasilnya nihil. Dan beberapa detik setelahnya, akhirnya kelopak mataku mulai terasa ringan dan cahaya menyilaukan menyambut kedua mataku. Aku kenal tempat ini. Ini adalah kamar Chanyeol. Ah benar, ternyata aku sudah aman di rumah. Luhan benar-benar membawaku pulang sesuai dengan yang Junmyeon seonsaeng perintahkan.

Oh, ngomong-ngomong soal Junmyeon seonsaeng, aku masih bingung kenapa justru ia menolong Luhan dan menyuruh Luhan membawaku pulang sementara ia menahan Sehun dengan mengendalikan rasa sakitnya. Ada misteri apa lagi yang belum aku ketahui? Ruangan ini sepi, hanya ada aku yang terbaring lemah di sini. Tirai terbuka dan sepertinya sekarang masih pagi. Kemana semua orang?

“Sudah bangun?”

Aku yang masih antara sadar dan tidak kini langsung mencari sumber suara. Itu dia. Chanyeol yang sedang duduk di meja belajarnya sembari membaca buku apalah-itu-judulnya-aku-tak-peduli. Berapa lama aku meninggalkan rumah? Mengapa Chanyeol terlihat berbeda dari biasanya? Ia.. Oh Tuhan, Chanyeol terlihat semakin tampan dan manis. Sungguh, aku tak mengada-ngada. Sejak kapan wajah lusuhnya itu berubah menjadi cerah? Sejak kapan rambut kecokelatannya yang berantakan berubah menjadi kemerahan? Chanyeol menutup bukunya dan melihatku dengan pandangan aneh. Aku yakin sekarang diriku terlihat sangat jelek dengan mata membulat karena kaget.

“Kenapa? Kau seperti tak mengenali adikmu sendiri—“

“Kau suamiku, bukan adikku.”

Refleks aku menutup mulutku dengan kedua tanganku. Ah, kenapa aku mengucapkan hal itu?! Dasar Cheonsa bodoh! Ya ampun, bagaimana reaksi Chanyeol nantinya? Bagaimana?! Ya Tuhan tolong Cheonsa..

“Jadi kau sudah tahu? Hebat, diculik selama satu hari menjadikanmu mengetahui segalanya.”

Ini semakin aneh. Mengapa Chanyeol sangat berbeda dari yang biasanya? Ia menjadi sedikit—ah, tidak sedikit! Chanyeol menjadi agak berwibawa dan ‘liar’ di saat yang bersamaan. Tatapan matanya semakin tajam dan seakan berkata bahwa aku harus selalu memperhatikannya. Memandangnya. Harus selalu mematuhi apa yang ia katakan. Oh tidak, jangan bilang jika..

“Bagaimana Chanyeol bisa menjadi vampire lagi? Apa kau digigit seseorang?”

Benar. Hanya vampire yang memiliki aura seperti ini. Hawa tubuh Chanyeol yang semula hangat dan menenangkan berubah menjadi dingin. Namun anehnya, aku tak merasakan rasa sakit saat melihat dan dekat dengannya. Tunggu! Aura berwibawa.. Liar.. Tatapan mata yang tak bisa kau pungkiri.. Tidak!

“Kau kembali menjadi Strămoș lagi?!—Akh!”

Salahkan aku yang terlalu semangat berteriak. Tubuhku oleng dan hampir saja jatuh dari ranjang jika saja Chanyeol tak melesat dan menahan tubuhku. Jarak kami sangat dekat sekarang. Ini aneh. Sebelumnya aku tak pernah merasa canggung saat berdekatan dengan Chanyeol. Aku selalu merasa nyaman saat dekat dengannya. Namun mengapa rasa itu sekarang sedikit berbeda? Apakah sebenarnya dulu itu aku.. tak benar-benar mencintai Chanyeol?

“Dasar ceroboh! Lain kali hati-hati, Cheonsa.”

Ahh, Chanyeol sakit! Pipi Cheonsa merah karena selalu dicubit.”

Aku mengembungkan pipiku sedangkan Chanyeol tertawa. Ia mengusap rambutku yang tak pernah kusadari telah panjang sampai menyentuh pinggangku. Padahal baru saja aku berpikiran negatif tentang hubunganku dan Chanyeol di masa lalu dan sekarang ia bersikap sangat manis padaku. Apakah hanya sebuah kamuflase khas seorang Strămoș?

Namun baru saja aku melihat senyum di wajahnya, kini ia telah mengganti ekspresinya menjadi sedikit serius. Tatapan matanya yang mengunci pergerakanku. Bola matanya yang berubah menjadi emerald. Sepertinya sesuatu yang tak baik tengah terjadi saat ini.

“Aku merindukanmu. Selalu.”

Mataku terpejam saat ada sesuatu yang lembut menyentuh bibirku. Chanyeol menciumku, dan ini terasa sangat aneh. Aku tak bisa menolak dan juga tak menyangkal bahwa aku menikmatinya. Rasa rindu yang entah datang dari mana. Seakan aku baru dipertemukan lagi olehnya. Jiwa yang telah lama berpisah kini perlahan menyatu kembali. Rasa cinta yang terpahat lama muncul ke permukaan dan tak dapat ditolak lagi. Cinta yang dipertemukan oleh waktu dan takdir.

Dan suatu saat nanti darahnya akan tersegel sedangkan aku menanti waktu untuk pembalasan cintaku.

 

 

Sontak aku membuka kembali mataku dan mendorong Chanyeol, melepas ciuman manis yang ia berikan. Kalimat itu begitu saja terlintas dalam benakku. Satu lagi kenyataan yang luput dari ingatanku. Darah yang tersegel bukanlah vampireprint atau semacamnya. Darah yang tersegel adalah saat Chanyeol membuat naluri vampire-ku tertidur. Darah vampire terkuat yang selama ini Chanyeol lindungi. Darahku. Oh Tuhan, ini bencana!

“Kenapa menolak? Bukankah Cheonsa selalu suka saat kucium?”

Belum puas menciumku, kini Chanyeol memainkan bibirnya di lekukan leherku. Ia memenjarakanku dengan kedua lengannya. Aku benci keadaan seperti ini, di saat para vampire tengah menikmati tubuhku. Entah hanya aromanya atau bahkan berani menyentuhku, aku selalu merasa ketakutan. Rasa takut yang sama seperti ketika Luhan menyentuhku untuk petama kalinya. Kini ia menatapku lembut. Keningnya menempel dengan keningku.

“Leher ini, tubuh ini, semua yang ada padamu adalah milikku.” Tangannya bergerak di sekitar leherku. Tunggu, bukankah itu tempat..

“Karena itu, sekarang kau tak membutuhkan tanda-tanda ini lagi.”

Vampireprint yang Luhan berikan, Chanyeol mengusapnya dan aku merasakan sesuatu yang tak dapat kujabarkan. Sakitkah? Atau apa? Ini aneh, namun yang pasti sepertinya Chanyeol menghapus vampireprint pemberian Luhan.

“Dan yang ini akan sedikit menyakitkan.”

Akh! Chanyeol..”

Bahuku, rasanya terbakar dan perih. Ini cukup menyakitkan. Aku tak mau membuka mataku, terlalu sakit untuk merasakannya. Bekas luka yang Junmyeon seonsaeng timbulkan—tanda kepemilikan yang lainnya. Rasa sakit ini tak hilang begitu saja. Aku mencengkram kedua bahu Chanyeol dengan kuat. Ini sakit, padahal Chanyeol hanya menyentuhnya dan rasa sakit ini benar-benar menyiksaku.

“Chanyeol.. sakit..”

Bersama dengan kesakitan ini, aku yakin masih ada banyak misteri lagi yang belum kuketahui. Namun yang pasti, Chanyeol memang benar suamiku dan ia melindungiku dari incaran Strămoș lainnya. Tapi ada satu pertanyaanku yang sangat besar. Mengapa aku bisa menjadi vampire terkuat dan bagaimana sejarahnya? Mengapa aku melupakan hal itu? Oh Tuhan, segalanya membuat kepalaku pusing.

TBC

Maaf banget kalo lama yaa, dian lagi banyak banget tugas huhu menyedihkan. Entah kenapa selalu suka membuat peran utama seakan tak mendapat tempatnya dan digantikan dengan pemeran pendukung. Lagi-lagi part Luhan di sini sedikit dan Chanyeol adalah suami Cheonsa lalu Sehun adalah anak mereka. Bingung? Jadi endingnya mau gimana nih? Luhan atau Chanyeol? Atau mungkin Junmyeon? Hehe, semoga ga bingung. Annyeong^^

Iklan

186 pemikiran pada “Seonsaengnim (Chapter 6)

  1. Makin complicated tapi aku suka karna always dibikin penasaran. So aku next ya. Btw bener kecurigaan aku sama chanyeol di awal haha tapi tetep aja pngennya sama luhan. Huhu

  2. Kyaaaaaaaaaaa…
    Ceritanya mkn greget bgtzz..cheonsa kau ababil bgtz sihh smsmua cwo tampan kau nempel jgn ababil pilih salah satu aja..kasian my prince luhan dia pst terluka bgtz liat cheonsa ababil gt…knp joonmyeon nolongin cheonsa bknnya dy pngn melukai cheonsa dan berniat utk mengambil seluruh darahnya cheonsa…

  3. wah.. ini seperti memasuki sebuah labirin panjang.. di setiap sudutnya penuh mistery yang mengejutkan. banyak hal yang tak terduga dan meleset dari dugaan ku. akhirnya akan seperti apa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s