Dauntless One (Chapter 4)

btzhtevcmae_-zm

Judul:

Dauntless One (Chapter 4)

Author :

isanyeo

Main Cast

Oh Sehun ; Lim Hansun

Genre:

Romance ; Angst

Rating :

PG13

            Sehun berdiri di samping Hansun. Membawanya pergi dari game station sebelum lelaki tak dikenalnya membuka suara kembali. Siapapun lelaki itu, Sehun tak mengerti satu hal pun tentang alasan Hansun bersikap demikian.

            Hansun masih tak berhenti bergetar, bahkan keberadaan Sehun tak diindahkannya, atau memang Hansun tak menyadari bahwa Sehun yang menuntunnya pergi dari hadapan lelaki itu.

            “Hansun?”

            Sehun melepaskan genggaman tangan Hansun, memilih untuk menatap Hansun yang menunduk. Hansun tak menjawab, seolah sekelilingnya bukanlah hal apa-apa baginya. Sehun menangkap tatapan kosong di sana, tangan yang bergetar, kedua bibir yang tak bertemu dan mata yang mungkin membutuhkan satu kedipan untuk menjatuhkan buliran bening ke pipinya.

            “Hansun?” Sehun menggiring Hansun ke tempat duduk yang sempat ditangkap oleh matanya di samping lampu jalan.

            Hansun hanya mengikuti langkah Sehun entah sadar maupun tidak. Sehu menunggu Hansun untuk menjawab cukup lama, dia hanya diam sembari menatap Hansun iba dan khawatir. Hanya beberapa saat yang lalu dia melihat sisi berbeda dari Hansun: Hansun tak pernah selemah ini di matanya.

            Hansun bergerak. Mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Sehun. Menatapnya dengan mata yang sayu. Untuk sekian kalinya, Hansun menunjukkan yang dia tak biasa tunjukkan ke orang lain. Ekspresi.

            Hansun bukan orang yang dengan gampang menunjukkan bagaimana perasaannya sesungguhnya. Bukan karena dia bersikap seolah dingin atau bebal. Hanya saja Hansun tak ingin membuat orang lain khawatir tentangnya. Hansun lebih mementingkan orang lain daripada dirinya, itulah Hansun sekarang. Ia akan selalu mengatakan ‘iya’, pada setiap orang yang membutuhkan bantuannya, dan mengatakan ‘tidak’ setiap kali seseorang menawarkan sesuatu padanya. Hansun memberi namun tak menerima.

            Tatapan Sehun membulat seketika dilihatnya Hansun berlari darinya. Menembus angin malam dengan beberapa orang yang masih berkeliaran pada tengah malam di antaranya. Sehun hanya diam di sana tak berani untuk mengejar Hansun, perasannya mengatakan demikian.

            Bangun dengan pikiran tentang Sehun merupakan hal baru baginya, namun dikiranya itu hal yang wajar pagi itu, mengetahui bahwa semalam dia meninggalkan Sehun tanpa sepatah kata bahkan untuk sekedar mengucapkan terima kasih pada Sehun. Ia hanya terlalu takut akan kejadian semalam, bertemu orang yang tak terduga, menunjukkan sisi lemahnya pada Sehun merupakan hal yang tak bagus – menurutnya. Lalu pikirannya melayang tentang bagaimana jika ia bertemu Sehun hari ini, mengingat Fisika berada ke sesi 3 dan ia tak mungkin membolos.

            Hansun melihat ke arah jam digital di atas laci meja di samping kasurnya. Masih terlalu pagi untuk berangkat sekolah. Terkadang Hansun tak mengerti bagaimana tubuhnya bisa bertahan seperti itu, tidur terlalu larut dan bangun terlalu pagi, waktu tidur 3 jam merupakan hal yang biasa dan herannya dia tak merasa lelah.

            “Hansun?”

            Hansun menoleh ketika bunyi kayu terketuk dengan pelan serta suara lembut memanggil namanya. Wonsoo, ayahnya berdiri di balik pintu dengan kepala yang muncul sebagian.

            “Nanti malam? Kau ada waktu?” tanya lelaki itu dengan cepat.

            Dia hanya menganguk dengan mata yang berkedip sekali dua kali. Ayahnya mengatakan bahwa nanti malam akan ada pembukaan cabang baru di daerah Gumi, memintanya untuk ikut, dan Hansun tak bisa menolaknya karena ia khawatir jika lelaki paruh baya itu harus melakukan perjalanan sendirian.

            Hansun menelan kekecewaan kecil dalam hati, mengetahui cabang baru akan dibuka, pasti akan memakan waktu yang lebih banyak untuk Ayahnya, namun Hansun tak bisa menyalahkannya, itu lebih baik daripada membiarkannya tak melakukan apapun seperti tahun-tahun sebelumnya. Lalu dengan hembusan nafas panjang Hansun menggeret kakinya masuk ke kamar mandi.

            Kelas induk masih sepi dan Hansun sudah berada di dalam kelas dengan beberapa murid lainnya. Hanya beberapa, beberapa yang memang sudah menjadi keseharian mereka untuk datang pagi. Hansun menyempatkan menyapa mereka dan bertanya beberapa hal, hanya untuk syarat menjadi “invsible” – menurutnya. Hansun sempat mengatakan kepada Lyn menjadi tak terlihat itu menenangkan, ketika seseorang dimasukkan dalam kategori apapun itu pasti tak akan menyenangkan. Hansun memang jarang mempedulikan urusan orang lain, tetapi ketika itu berhubungan dengan itu dia tak bisa untuk tak memperhatikan.

            Hansun merasakan detak jantungnya yang berubah seketika, kaget melihat Sehun yang berjalan pelan memasuki kelas Induknya. Setahu Hansun, dia akan bertemu Sehun di sesi ketiga, bukan sesi pertama, selain itu kelas Induk Sehun berbeda.

            Sehun menangkap tatapan Hansun, kemudian berjalan pelan dan mengambil duduk tepat di depannya, memutar kursi berbahan non-woods dan menghadap ke arahnya.

            “Apakah kau akan ke Bioskop nanti?”

            Hansun akan mengangguk namun niat itu terurungkan ketika mengingat ucapan ayahnya pagi tadi. Ia menggeleng kepalanya lemah, menyadari entah mengapa ia merasa seperti tidak lengkap.

            “Baiklah. Aku hanya ingin mengatakan aku tak bisa ke Bioskop juga hari ini.”

            Sehun tersenyum kecil namun matanya menghindari tatapan Hansun. Kemudian ia berdiri dan keluar dari kelas tanpa menoleh atau mengucapkan ‘sampai jumpa’ seperti biasa. Padahal Hansun ingin meminta maaf atas kejadian kemarin malam, dan meminta Sehun untuk tidak bertanya apapun tentang kejadian di Game Station itu.

            “Kau mengenal Sehun?” tanya seorang gadis di kelas Induknya tepat ketika Sehun sudah tak terlihat di jendela paling ujung.

            Hansun menoleh dan menganguk ke arah gadis itu. Gadis itu tersnyum kemudian berkata, “Wah, kau pasti juga menyadari betapa tampannya ia rupanya selama ini.”

            Gadis yang jujur Hansun tak ketahui namanya itu tersenyum kagum sembari matanya melirik ke atas, yang pasti tengah membayangkan wajah Oh Sehun. Hansun mengerutkan keningnya, melihat ekspresi Hansun gadis itu menyadari sesuatu. “Kau tak mengenal dia sebelum ini? Maksudku ketika dia tampan seperti ini?”

            Hansun semakin mengerutkan keningnya. Gadis itu membelakkan matanya dan berkata, “Kau tak tahu anak lelaki kurus dengan rambut helm dengan kacamata persis Harry Potter itu?”

            Lelaki kurus dengan kacamata Harry Potter? Hansun mengingat lelaki itu, hanya bertemu beberapa kali di Sekolah dan memiliki beberapa kelas yang sama selama 2 tahun terakhir. Namun, Hansun tak pernah lagi melihat lagi lelaki yang juga memiliki rambut jatuh seperti model helm itu.

            “Apakah kau tidak menyadari bahwa itu adalah Oh Sehun?”

            Ia tak pernah mengamati wajah lelaki cupu itu dulu dan ketika gadis itu menyatakan bahwa itu Oh Sehun. Semuanya terasa masuk akal ketika Hansun merasa asing dengan Oh Sehun.

            “Oh Sehun..”

            Hansun melihat dirinya sekali lagi di depan cermin. Menatap dirinya yang berbalut dengan gaus sederhana berwarna fuchsia. Dengan rambut yang digerai tanpa di beri apapun. Perjalanan 3 jam ke Gumi dihabiskannya dengan melamun, memikirkan Oh Sehun yang sedari tadi diam ketika sesi ketiga dimulai. Hansun yang sebelumnya tak peduli ketika Sehun menganggunya atau mengucapkan apa yang ia ingin katakan, tadi hanya bisa diam dan menjadi orang pertama untuk keluar kelas ketika bel tepat berbunyi.

           Wonsoo menepuk punggung Hansun perlahan, mengisyaratkan mereka harus segera bersiap di tempat mereka, menyalami setiap tamu undangan yang hadir. Hansun tak heran bagaimana bisa Ayahnya memperoleh kesuksesan seperti ini mengingat berapa jam yang ia habiskan dengan kayu-kayu tersebut, atau bahkan besi atau plastik, yang diubah menjadi furniture yang berkualitas, bagaimana Ayahnya hanya mendapat waktu tidur yang sedikit setiap harinya atau bahkan tidak sama sekali. Thanks to my mother, batinnya.

            “Hansun?” suara itu terdengar ketika Hansun menyalami seorang lelaki paruh baya berjas abu-abu gelap.

            Suara itu terlalu familiar di telinga Hansun dan mendadak ia ingin cepat lari dari hall itu supaya tak memandang wajah pemilik suara itu. Keinginan itu menguap sudah ketika Wonsoo menepuk punggungnya untuk menghadap tamu lainnya.

            “Oh, hai Sehun.,” sapanya singkat.

            Lelaki paruh baya dengan jas abu-abu gelap itu membuka suara, “Wonsoo, kau tak pernah bilang kalau putrimu mengenal Sehun.”

            Wonsoo meliri ke arah Hansun sejenak. Ada perasaan bersalah di sana, menyadari Wonsoo tak mengerti apapun tentang bagaimana Hansun bersosialisasi dengan sekitar, siapa saja temannya atau mungkin siapa yang lebih dari sekedar teman.

            “Kami hanya sebatas teman sekolah,” Hansun menjawab dengan cepat.

            “Ayah, aku permisi ke toilet sebentar.” Dengan kalimat itu Hansun mempercepat langkahnya menjauh dari kerumunan.

            Hansun terus berjalan hingga dirasakannya sebuah tangan menarik pergelangan tangannya. Sehun melakukannya, entah mengapa sentuhan tangan Sehun menciptakan sensasi aneh pada dirinya. Sehun hanya menatap Hansun dan melepaskan tarikannya.

            “Melewatkan film hari ini dengan datang ke Gumi, Oh Sehun?”

            Sehun memandang ke arah lain. “Ya, begitulah.”

            “Kau tak pernah mengatakan kau mengenal keluargaku, Oh Sehun?”

            “Bagaimana aku tahu, kalau kau tak pernah mengatakan apapun kepadaku, Hansun.”

            Ia terdiam. Sehun benar, ia tak pernah mengatakan apapun tentang dirinya kepada Sehun, namun dikiranya itu sama saja, ia tak mengenal Oh Sehun begitu dekat. Namun, sebenarnya Sehun tahu, malam dimana ia melihat Hansun menuggu di depan toko furniture itu, saat itulah dia mengerti ‘keluarga’ siapa Hansun sebenarnya dan apa yang terjadi dalam keluarga itu, sejak saat itu pula, sikap sehun yang terus membuntuti Hansun berkurang sedikit demi sedikit, menyadari sikapnya membuat Hansun risih, dan ia tak mau menambah beban yang diemban Hansun selama ini.

            “Ayo kembali ke dalam Hansun.” Sehun mengulurkan tangannya, kali ini dengan senyuman lembut yang membuat Hansun hanya bisa diam memandang Sehun.

            Lalu dengan cepat, Sehun meraih tangan Hansun untuk digandengnya kembali ke Hall peresmian. Hansun merasakan jemari-jemari tangan Sehun yang lembut disela-sela jemari-jemari tangannya. Hansun tak berani melihat bagaimana tangan mereka menyatu, dan Hansun sendiri tak mengerti mengapa ia tak mencoba untuk melepaskan ikatan mereka.

Acara demi acara berlangsung namun tangan mereka masih saling menyatu tak ada yang menarik tangan dari genggaman itu, malah Sehun semakin mengeratkan genggaman tangan mereka. Bagi Hansun dia merasakan hal-hal berbeda secara bersamaan. Hansun mengingat bagaimana dulu untuk pertama kalinya tangannya diraih oleh seorang lelaki yang teramat dicintainya, rasa itu hadir kembali bersama Sehun yang kini mengenggam tangannya, namun untuk beberapa waktu Hansun menyadari bahwa rasa itu berbeda kali ini. Dia merasa aman.

            Hansun dan Sehun tak hadir ke sekolah hari ini. Acara peresmian berakhir lebih dari tengah malam, dan untuk kembali ke Seoul memerlukan setidaknya waktu 3 jam. Hansun mungkin bisa untuk tak tidur dalam satu hari, namun Sehun tak bisa. Wonsoo juga memutuskan hari ini untuk menetap di Gumi terlebih dahulu, menyelesaikan beberapa urusan mengenai cabang baru di Gumi.

            Hansun tengah memindah channel TV berulang-ulang berharap menemukan tayangan yang bagus untuk ditonton. Suara pintu kamar diketuk terdengar, Hansun mengernyitkan dahinya. Ayahnya tak mungkin kembali secepat ini, pikirnya. Hingga dilihatnya sosok Oh Sehun yang berdiri di belakang pintu sembari tersenyum tipis.

            “Ya, Oh Sehun?”

            Sehun membuka mulutnya, namun tak ada suara yang terdengar. “Sehun?”

            “A-Aku hanya ingin mengajakmu makan di luar. Apakah kau mau?” Hampir tak ada jeda saat Sehun mengatakannya layaknya Kereta ketika melintas di depanmu dan Hansun sedikit tersentak akan hal itu.

            “Makanan Hotel kurasa sudah cukup, tak perlu makan di luar.”

            Sehun mendengus kecil. Memikirkan bagaimana dia akan melewati waktu tanpa rasa bosan. “Boleh aku masuk? Aku sungguh bosan sendirian.”

            Hansun menaikkan sebelah alisnya. Melihat Sehun dengan kedua alisnya yang menjadi satu, desahan nafas lelah yang eluar dari mulutnya, serta bibir yang sedikit maju kedepan, itu semua menunjukkan betapa bosannya Sehun hari itu.

            Hansun membuka pintu kamar lebar-lebar, mempersilahkan Sehun masuk ke dalam kamarnya. “Lalu kau mau apa, Sehun?”

            “Menonton TV, mungkin?” Lebih seperti pertanyaan untuk Hansun. “Bagaimana jika menonton film?”

            “Ada channel yang menayangkan film terbaru kurasa.” Hansun naik ke ranjang dan menarik selimut hingga ke pinggangnya, meraih remot dan melemparkannya ke Sehun.

            Sehun duduk di ujung ranjang. Menghalangi pandangan Hansun ke layar TV.

            “Ya! Oh Sehun, kau menghalangiku!”

            Sehun tersentak. Mendengar suara Hansun dengan nada tinggi merupakan hal yang baru baginya. Sehun terdiam sejenak dan merangkak ke arah Hansun, duduk di sampingnya dan menarik selimut Hansun.

            “S-Sehun!”

            “Kau bilang aku menghalangimu. Jadi aku duduk di sini saja, benar kan?” tanya Sehun santai.

            Hansun hanya diam saja dan mengalihkan pandanganannya dari Sehun. Mereka berdua menikmati film yang mereka tonton. Tertawa saat adegan lucu, mengernyitkan dahi saat adegan action, atau menahan nafas ketika peran utama bersedih. Semuanya berjalan baik-baik saja hingga Sehun memecah keheningan mereka berdua sejak tawa terakhir.

            “Hansun?”

            Sehun tak mendengar jawaban, namun ia tahu Hansun mendengarkan. “Aku ingin bertanya sesuatu?”

            “Apa? Tentang bagaimana aku bisa tidak tau bahwa kau anak dari Paman Oh?” tanya Hansun.

            “Bukan.”

            “Lalu?”

            “Ini tentang malam itu. Maksudku, siapa lelaki itu? Waktu kita berada di game station?” Sehun mengecilkan suaranya.

            Sehun bisa melihat jelas dari sudut matanya Hansun tengah tercengang, dia juga mengerti Hansun tengah menahan nafasnya, karena beberapa detik kemudian suara hembusan nafas kasar terdengar.

            “Hansun?”

            Hansun tak menjawab. Sehun memberanikan diri menoleh ke arah Hansun dan dilihatnya mata gadis itu tengah berkaca-kaca. Mungkin hanya satu kedipan lagi, air mata akan membasahi kedua pipinya. Sehun dengan reflek memegang pundak Hansun mengguncangnya perlahan dan menyubatkan namanya berkali-kali.

            “Kurasa memberitahumu bukan hal yang menyakitkan, hm?” tanya Hansun lemah.

            “Hah?”

            “Namanya Jongin. Kim Jongin. Satu tahun lebih tua dari kita, kurasa. Sekarang berada di Seoul National University. Program studi Fine Arts. Dia lebih suka menari kurasa, tapi entah mengapa dia lebih tertarik dengan fine arts, seharusnya dia masuk ke jurusan musik. Dia seorang yang sangat romantis, sungguh, kuakui itu. Hingga mungkin setiap wanita yang hanya melihat senyumnya saja akan jatuh hati. Sehun, kau harus melihatnya ketika dia menari, mungkin kau akan kagum padanya.” Hansun berhenti sejenak, mengusap kasar air mata yang jatuh ke pipinya.

            Rasanya Sehun ingin menghentikan kata-kata Hansun mengenai lelaki tampan malam itu. Entah mengapa, Sehun merasa dadanya terasa sesak melihat Hansun seperti itu sembari menceritakan tentang lelaki itu, apapun itu Sehun tahu ada yang tidak baik di cerita Hansun.

            Hansun menarik nafasnya dalam-dalam.

            Untuk kali ini saja, Hansun. Batinnya. Hansun sudah tak tahan, bagaimanapun Hansun berusaha untuk tetap terlihat biasa, seolah di hidupnya tak terjadi sesuatu yang membuatnya terguncang, meskipun dunia melihatnya sebagai seorang anak remaja dengan kehidupan yang biasa saja. Namun Sehun dan Hansun sama-sama mengerti, hidupnya tak sesederhana itu.

            “Oh Sehun? Apa yang kau harapkan setelah mengetahui tentang Kim Jongin?” tanya Hansun, yang sebenarnya tak peduli akan jawaban Sehun sama sekali, yang ia butuhkan sekarang adalah seorang pendengar, hanya seorang pendengar.

            “Kim Jongin sungguh sempurna, Sehun. Dia memiliki segalanya yang aku harapkan. Kebahagiaan, Sehun. Dia memiliki itu dan dia mampu membaginya denganku. Dan sayangnya aku melakukan suatu kesalahan Sehun, aku jatuh terlalu dalam padanya, pada kesempurnaannya.”

            Sehun tercekat, rasa sesak yang timbul di dada dirasanya semakin nyata. “Hansun? Maksudmu, dia kekasihmu?”

            Hansun menggeleng lemah. Menundukkan kepalanya lebih dalam. “Dulu. Ketika aku masih berusia 16, sangat muda.”

            Sehun merasakan sensasi membakar di matanya.

            “Aku mencintainya, Sehun. Demi apapun di dunia ini aku benar-benar mencintainya.” Hansun menatap Sehun yang tengah mengatur nafasnya.

            Hansun membutuhkan itu. Membutuhkan sentuhan hangat yang selalu ia rindukan dari sosok Kim Jongin. Sentuhan yang selama 2 tahun terakhir tak ia rasakan. Sehun mengangkat tangannya, berusaha meraih tubuh Hansun untuk sekedar ia tenangkan, namun mendengar bahwa Hansun masihlah mencintai lelaki bernama Kim Jongin itu, dia mengurungkan niatnya.

            “Sehun?”

            Sehun hanya mampu mengangkat wajahnya menatap ke arah Hansun. Hansun hanya memandang selimutnya dan berkata, “Temani aku untuk kali ini saja. Untuk kali ini saja.”

            Sehun hanya menganggukkan kepalanya. Gadis yang selama beberapa tahun terakhir dicintainya memintanya untuk ditemani. Meskipun dengan itu Sehun tahu Hansun pastilah merindukan kehangatan mantan kekasihnya itu.

            Sehun menarik Hansun perlahan ke dalam pelukannya. Memeluknya dengan erat dan bisa dirasakannya Hansun melingkarkan tangannya ke pinggang Sehun. Dengan perlahan Sehun membaringkan tubuh mereka berdua, menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka berdua. Bisa didegarnya isakan tangis Hansun, Sehun tahu bahwa mungkin sesuatu terjadi sehingga membuat Hansun seperti ini, getaran tubuh Hansun sama ketika mereka bertemu Jongin di game station malam itu. Gadis itu ketakutan.

            “Kalau kau mencintainya, mengapa kau berpisah dengannya?”

            Hansun mengeratkan pelukannya, menyandarkan kepalanya di antara lekukan leher Sehun. Entah mengapa itu terasa begitu nyaman untuk Hansun.

            “Dia melepaskanku, dia meninggalkanku Oh Sehun.”

            Ucapan Kim Jongin malam itu seolah menjadi petunjuk Sehun mengapa Hansun seperti ini. Kim Jongin meninggalkan Lim Hansun, Hansun begitu mencintai Jongin, tidak menerima bahwa mereka akan berpisah, Hansun mulai mengatakan bahwa dia tidak akan bisa melupakan Jongin dan tidak akan ada orang yang bisa menggantikannya. Itulah mengapa pada malam itu, Hansun terlihat begitu tercengang dan terlihat begitu rapuh, karena Hansun masih mencintai lelaki yang sudah meninggalkannya.

            “Tidakkah dia mencintaimu, Hansun? Kurasa tidak mungkin kalau dia tak mencintaimu. Siapa lelaki yang mampu menolak gadis sepertimu.”

           Sehun tak berbohong. Hatinya benar-benar jatuh pada Hansun, meskipun Hansun tak mengetahui akan hal itu.

            “Dia mencintaiku. Dulu. Sebelum bertemu dengan perempuan lain yang kurasa jauh lebih baik daripada aku, lebih cantik, lebih menarik, lebih menyenangkan.” Hansun terlihat begitu menyedihkan di mata Sehun.

            Sehun menyudahi percakapan mereka. Tak ingin mendengar bagaimana kelanjutan hubungan mereka atau lebih tepatnya tak ingin melihat Hansun terlihat begitu menyedihkan. Sehun mengelus perlahan puncak kepala Hansun, seolah menyuruhnya untuk tidur meskipun waktu masih belum menunjukkan jam malamnya, bahkan matahari masih belum terbenam.

            “Sehun?”

            “Hm?”

            “Mungkin memberitahumu tidak akan menyakitiku, hm?”

            “Hah?”

            “Jika saja aku dan Jongin tidak melakukannya, aku tidak akan terlihat seperti buruk saat ini.”

            Sehun menaikkan sebelah alisnya, merenggangkan pelukan mereka berdua untuk melihat wajah Hansun. Hansun memejamkan mata dan berbisik sesuatu yang Sehun tak bisa mendengarnya. “Apa, Hansun?”

            Hansun membuka matanya perlahan, melihat Sehun yang memancarkan raut wajah khawatir. “Aku melakukan hal itu bersama Jongin. Maka dari itu aku tak bisa melepaskannya,Sehun.”

            “Hal itu membekas. Aku tidak seperti apa yang terlihat, Sehun. I’m not virgin anymore.

            Well, apakah masih terlalu cepat? Maafkan ><

14 pemikiran pada “Dauntless One (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s