Silent Problem #4 – A Final to Start With

COME WITH ME

Silent Problem #4 – A Final to Start With

ralat : masalah marga, marga ayah (kandung) Sohee disini adalah Park. Park Jeonmyeon. Aku ralat karena di chapter 2 aku sebut Kim Jeonmyeon. Maaf u,u

Soal masalah karakternya adalah Suho EXO apa OC, terserah kalian ^^

Now, enjoy.

Ingatan yang kau buat hari ini.

Lalu ingatan yang kau ingat kemudian.

 

 

Datang bersamaku.

Silent Problem #4 – Come With Me

Hari ini benar-benar berbeda.

Dengan setumpuk buku kau pegang erat di dada, siang itu kau memasuki kelas pertamamu. Ada sesuatu hal yang membuat berdebar keras saat mendapati beberapa mahasiswa lain di koridor tersenyum ketika melihatmu. Beberapa ada yang melambaikan tangannya. Tapi tidak banyak, hanya satu dua.

Saat kau memasuki kelas, kau segera memutuskan duduk di kursi agak belakang. Sedangkan mahasiswa lain saling berkelompok dan berbincang satu sama lain. Kau mendapati dirimu agak menyendiri. Bukan karena kau belum memiliki teman. Kau hanya merasa sedang tidak ingin mengobrol.

Konyol memang, tapi kau lebih ingin mengamati yang lain di hari pertamamu. Lagipula kau tidak benar-benar sendirian. Beberapa menit kemudian kau melihat seorang laki-laki tinggi dengan wajah seperti seorang gangster – dilihat dari matanya yang tajam dan gelap – datang menghampirimu. Kau pada awalnya tidak yakin anak itu satu kelas denganmu. Tapi ketika melihat dia menaruh tasnya di atas meja dan duduk satu kursi jauhnya dari kursi di sampingmu, kau mulai sadar anak laki-laki ini memang mengambil kelas yang sama denganmu kali ini.

Kau mengawasinya yang tidak kunjung mengajakmu bicara. Jadi dengan senyum maklum kau berinisiatif menyapanya terlebih dulu.

Morning.” Kau menangkap keningnya yang berkerut.

“Aku belum fasih bahasa inggris.” Ujar anak laki-laki itu tiba-tiba. Kau mau tidak mau tidak dapat menahan tawamu.

Yah, sorry.” Ujarmu sembari tersenyum geli.

Lalu kalian diam. Kau menatap keluar jendela kelas yang besar. Mulai berusaha mengingat-ingat bagaimana prakiraan cuaca di berita pagi ini. Karena ibumu memintanya, kau jadi punya kebiasaan baru itu sekarang.

Apalagi kalau bukan waspada dengan segala kemungkinan cuaca buruk?

Segalanya sama sekali berbeda disini.

“Kau ingat kalau aku teman Kim Jongin, kan?”

Kau menoleh. Tidak terbiasa dengan suara anak laki-laki di sampingmu itu. Kau diam sejenak untuk mencerna apa yang barusan dikatakannya padamu. Saat kau menangkap apa yang dimaksud, kau memutuskan hanya mengangguk kecil dan kembali menatapi kaca jendela.

Kau hanya berharap kelas segera dimulai.

“Secara tidak sengaja aku juga tahu soal ibu dan ayahmu.” Ujar anak laki-laki itu lagi. Kau mengangguk sekali, tapi tetap diam.

“Mungkin aku satu-satunya orang yang tahu di kelas ini.” Anak itu terus mengoceh. Tiba-tiba saja kau merasa diingatkan oleh seseorang di kelas di masa SMA-mu. Terus berbicara, bahkan ketika tidak ada yang mendengarkan.

Oh. Byun Baekhyun, si badut kelas.

Diam-diam kau menahan tawamu. Walau anak laki-laki di sebelahmu ini sama sekali tidak mirip, bahkan terkesan sangat bertolak belakang dengan Byun Baekhyun. Tapi, kau akan langsung setuju kalau ada yang bilang keduanya sangat mirip jika bertingkah seperti sedang ingin diperhatikan. Kau menghela nafasmu. Ini membuatmu tersadar, anak laki-laki ini benar, dialah satu-satunya yang familiar denganmu di sini. Dengan satu helaan nafasmu yang lain, akhirnya kau menoleh. Memutuskan untuk menyapa dengan benar teman barumu.

“Yeah, senang berkenalan denganmu, Huang Zi Tao.” Ujarmu. Kau bahkan mengangsurkan tanganmu.

Tapi, sesuai dugaanmu, Tao justru mengernyitkan keningnya dengan sikap tidak terima. Dari ekspresinya kau tahu dia tidak suka diperlakukan sebagai teman baru. Pada kenyataannya kau memang sudah mengenalnya sejak sebelum menjadi mahasiswa di universitasmu yang sekarang. Tidak perlu disebutkan, kalau kalian bahkan mengikuti tes beasiswa yang sama sebelumnya.

“Mungkin aku juga teman pertamamu di kelas ini,” tambahmu memberi alasan baginya untuk menjabat tanganmu. Kau mengangkat bahumu. Dan dengan begitu Tao mengikuti gayamu dengan mengedikan kepalanya ke kiri. Segera menyambut uluran tanganmu.

Kau tersenyum dan tidak mengharap teman barumu itu membalas dengan senyum yang sama. Karena Tao memang tidak melakukannya.

Saat kalian berdua melepas jabat tangan kalian, kau beringsut ke kursi di sebelahmu agar duduk tepat di samping Tao. Anak laki-laki itu tidak mengekspresikan penolakannya, jadi kau melanjutkan menaruh tasmu lebih dekat.

Kau melihat profesor kalian memasuki ruangan. Saat itulah, dari ekor matamu kau melihat Tao mendekatkan wajahnya ke telingamu. Dan membisikan sesuatu.

“Karena aku teman pertamamu, kuharap kau mau mengenalkan ibu dan ayahmu.

Ok, Oh Sohee?”

.

10 months ago.

“Ini tidak buruk. Yang ini juga.”

“Sulli, kau tahu aku tidak sedang akan berkencan.”

Kau mendengus keras dari tempat tidur. Sesekali melirik jam di dinding kamar, lalu beralih menatap Sulli yang sibuk memilih dress yang cantik untuk kau pakai hari ini. Kau mengusap hidung Todd.

Kau tidak tahu pasti, hal ini di mulai sejah dua hari yang lalu, sesaat setelah kau merasa sangat depresi karena ujian tes beasiswa yang kau ambil tidak terlalu membuat suasana hatimu menjadi lebih baik hari itu1. Tiba-tiba saat kau sedang merutuk tentang ujian tes yang susah dan masa depanmu yang tiba-tiba membuatmu putus asa, Kim Jongin meneleponmu. Yah hanya untuk ditutup dua detik kemudian sebelum kau benar-benar menjawabnya. Lalu Jongin mengirim sebuah pesan singkat yang sukses membuat terdiam beberapa sesaat. Sebelum akhirnya menggerutu frustasi.

Kim Jongin mengajakmu pergi di hari Minggu ini. Dan kau tidak menjawab iya tau tidak untuknya. Kau hanya mengatakan setuju setelah Sulli menyemangatimu (yang kau nilai sebagai tindakan yang tidak perlu) dan mendesakmu untuk membalas pesan Jongin pagi ini.

Tapi di mulai sejak tadi pagi inilah kau merasa tidak seperti biasanya. Jantungmu berdegup keras setiap kali membaca pesan singkat terakhir di ponselmu. Tidak perlu disebutkan berapa kali kau mengecek pesan itu sejak terhitung kemarin malam.

Kau perlu mengakuinya, kalau kau tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya.

“Kau benar-benar suka anak ini, Sohee.”

Setidaknya begitu kata Sulli saat kau bertanya apa yang terjadi padamu. Sedangkan saat kau bertanya pada ibumu kau justru mendapati tawa kecil darinya disambut dengan tepukan di pipi kirimu sebanyak tiga kali.

Kau benar-benar tidak mengerti.

“Kau sudah tanya Sehun-nim soal Jongin?”

Kau membelalak. Tepat saat Sulli mengusulkannya. Kau memandang ekspresi nakal sahabatmu saat mengatakannya.

Sedangkan tangan Sulli sibuk memilah pakaianmu di atas tempat tidur, kau mengawasinya melanjutkan berbicara dari kursi belajarmu.

“Kau tahu aku pernah mengatakan pada ayahku bahwa anak perempuannya memacari seorang pewaris perusahaan terkaya di Seoul. Lalu apa yang ayahku bilang?” Sulli mengangkat kepalanya untuk menatapmu, “Ayahku meminta agar aku bisa memastikan anak itu datang ke rumah segera besok.”

Sulli terkekeh geli. Kau menggeleng dan mengangkat Todd ke pangkuanmu.

Jongin memang akan datang ke rumahmu hari ini.

Tapi dia bukan pacarmu atau apa pun semacam itu untuk kaukenalkan pada ibumu.

Dan pada calon ayahmu.

“Kira-kira bagaimana respon calon ayahmu?”

Kau melirik Sulli yang mulai terdengar seperti narator drama yang tengah bermonolog ketimbang mengajakmu bicara.

“Kau tahu, Oh Sehun-nim ini benar-benar sudah seperti ayahmu. Dia bahkan menyapaku dengan cara seorang-ayah-sahabatmu menyapa. Aku bisa merasakannya saat dia menyuruhku untuk turun ke dapur kalau butuh sesuatu saat lapar.” Seloroh Sulli, kau hanya bisa tersenyum dan melempar plushie Mike kearah wajah Sulli, menyuruhnya untuk diam.

“Kau tidak tahu, kan? Sehun-nim juga memarahiku Sabtu kemarin saat aku baru memutuskan akan pulang dari sini malam-malam. He’s indeed my bestfriend’s oh-so-care-and-lovely father. Even he already knows about my curfew!”

He is not failed you, Isn’t he?” celetukmu yang menghasilkan kekehan setuju Sulli.

“Aku hanya penasaran bagaimana responnya saat Jongin datang untuk mengajakmu keluar. Kurasa Sehun-nim akan berubah menjadi Hulk.”

Senyummu memudar saat itu juga. Oh, yes, that-Jongin-kid-issue.

“Kau berlebihan Sulli, Oh Sehun tahu dengan baik kalau Jongin hanya teman sekelas kita,” ujarmu berusaha memberi alasan. Dengan sekali hentakan kau bangkit dari kursimu dan mengambil satu shirt berwarna soft pink di depan Sulli. Lalu kau segera menuju ke kamar mandi. Menolak mendengar seruan sahabatmu yang meminta kau memakai dress yang dipilihkannya untukmu.

“Ya! Dengar, oke? Hanya masalah waktu sampai Sehun-nim berusaha menguji mental Jongin-mu tersayang tepat di hadapanmu.”

Kau menjawabnya dengan menutup pintu kamar mandimu dengan keras, sangat keras.

.

.

Prediksi Sulli terjadi lebih cepat daripada yang kau kira. Kau beberapa kali menggigit bibir bawahmu, sesekali kau tidak bisa menahan diri mendesah kesal kearah calon ayahmu.

“Apa kalian sangat dekat sampai berencana pergi bersama di hari Minggu seperti ini?”

Kau bisa melihat Jongin sekilas terlihat kebingungan dan melirik kearahmu.

Ini benar-benar memalukan.

“Uh, Kami sudah saling mengenal di sekolah kami yang sebelumnya.” Jawab Jongin. Kau mengangguk dari belakang punggung Oh Sehun.

“Tidak bisakah kita membiarkan seorang tamu masuk terlebih dahulu?”

Kali ini suara ibumu yang menginterupsi. Dalam hati kau mengeluh. Kau tidak merasa suasananya akan menjadi lebih baik bahkan jika ibumu ada disini.

“Hai, Jongin. Kau terlihat tampan. Apa kau memotong rambutmu?” tanya ibumu ramah. Kau bisa melihat tangan ibumu mencubit pinggang Oh Sehun, membuat calon ayahmu itu berjengit sedikit sebelum akhirnya menggeser tubuh tingginya dari depan pintu.

Sekarang kau bisa melihat Jongin dengan jelas setelah calon ayahmu bergeser. Dan kau tidak bisa menahan diri untuk tidak menyetujui perkataan ibumu barusan.

Apa Jongin memotong rambutnya? Dia benar-benar terlihat bersiap-siap.

“Ya, um maaf tidak memberitahu sebelumnya. Tapi aku ingin mengajak pergi Sohee hari ini dan…”

“Kami akan mengerjakan tugas akhir kami. Eh seperti projek buku akhir tahun untuk kelas kami. Aku dan Jongin akan memotret beberapa orang dan tempat yang akan dilampirkan di buku tahunan kelas.” Ujarmu cepat. Ibumu mengernyit melihat kau yang tiba-tiba memberi alasan. Dan kau sendiri tidak berani menatap ekspresi calon ayahmu.

“Kau tahu aku seperti pernah melihatmu. Apa dia teman yang ada di sampingmu saat aku menjemputmu dari sekolah saat dulu itu?” tanya Oh Sehun. Kau dan Jongin saling menatap sebentar sebelum akhirnya mengangguk mengiyakan.

“Sudah aku bilang kami teman sekelas.” Ujarmu.

“Tentu saja,” sahut Sulli. Saat kau melihat sahabatmu itu turun dari tangga, kau seakan ingin menutup wajahmu dan berlari pergi. Dengan adanya Sulli semua tidak akan bertambah baik.

“Sulli, apa kau ingin pulang?” ibumu mengambil alih pembicaran. Menanyai sahabatmu itu dengan manis sekali, padahal kau sendiri berjanji untuk membunuh anak itu nanti.

De. Um aku baru ingat harus mengambil sesuatu yang di pesan Ibu di toko kue. Aku rasa aku harus pergi sekarang. Terima kasih untuk roti dan tehnya. Aku pergi dulu Sohee-ya.”

“Kurasa aku dan Jongin akan pergi juga. Dengan Sulli,” kau buru-buru mengusulkan. Sedangkan Sulli jelas terlihat tidak setuju kau menggunakannya sebagai alasan untuk segera pergi. Pergi dari calon ayahmu lebih tepatnya.

“Oke, kalau begitu,” ujar ibumu

“Kalian pergi sepagi ini?”

Kau memutar bola matamu. Yang terakhir itu Oh Sehun yang mengatakannya.

“Apa temanmu tahu tentang jam malammu?” tanya Oh Sehun.

“Aku akan memberitahunya.”

“Jadi dia belum tahu?”

“Belum. Makanya aku bilang aku akan memberitahunya.”

Kali ini Ibumu yang memutar bola matanya. Dengan tepukan sekali di punggung calon ayahmu, Ibumu mengambil alih dominasi.

“Oke, kalian benar-benar boleh pergi sekarang.”

Dengan itu, kau menarik lengan Jongin dan Sulli untuk segera keluar. Tidak lupa mengucapkan sampai jumpa dengan cepat pada ibumu dan calon ayahmu tersayang.

“Kau harus memberitahunya tentang jam malammu,” adalah kalimat terakhir yang kautangkap sebelum menutup pintu di belakangmu.

.

.

.

.

.

Kau mungkin tidak pernah bertengkar dengan ibumu. Kalian memang berdebat dengan perumpamaan konyol sesekali, tapi sudah jelas kalau tidak pernah melewati batas serius.

Tapi sebenarnya, kau pernah bertengkar hebat dengan ayahmu. Sekali di saat umurmu masih sekitar 6 tahun. Ayahmu mungkin ayah sangat baik, menuruti semua keinginanmu sebagai satu-satunya anak perempuannya.

Hingga suatu saat kau benar-benar mengecewakannya.

Kadang kau sadar kalau sebaik dan sepeduli apapun ayahmu padamu. Atau sebaliknya, sesayang apapun kau pada ayahmu, kalian berdua bukan pasangan ayah-anak yang sesempurna itu.

Disamping kekurangan keluarga kalian menyangkut kasih sayang seorang istri dan ibu. Kalian sama-sama memiliki sifat keras kepala.

Kau bisa sangat penurut dengan ayahmu, tapi sekali waktu kau bisa seharian menjerit dan merajuk. Ayahmu mungkin juga sangat keras, tapi kau tahu ayahmu lebih sering mengalah untuk mengetuk pintu kamarmu dan meminta maaf lebih dulu.

Jika dipikir lagi, ayahmu adalah yang paling hebat bagimu.

Mungkin karena ayahmu kehilangan ibumu ketika kau lahir. Kau tidak pernah merasakan masa transisi dimana ayahmu harus menyesuaikan diri menjadi satu-satunya orangtua untukmu.

Mungkin saat-saat berat itu hanya dialami ayahmu sendiri. Mungkin ayahmu bersedih sendiri atas kematian ibumu. Mungkin ayahmu berjuang sendirian di saat-saat itu.

Mungkin ayahmu adalah terhebat untukmu.

Kau membayangkan untuk terus memilikinya di sisimu hingga kau dewasa seperti saat ini.

Tapi, Tuhan menyimpan bayanganmu dan menggantinya dengan yang baru.

Mungkin yang jauh lebih baik.

“Jadi dia adalah ayahmu?” suara berat Jongin membuatmu tertarik kembali dari lamunan. Tapi, kau memutuskan untuk tidak menoleh dan membiarkan Sulli melakukan tugasnya. Menyudutkan Kim Jongin untukmu.

“Kau pikir siapa? Tunangannya? Kau percaya Sehun-nim adalah tunangan Sohee?”

Kau mengunyah permen karetmu dan terus menatap malas keluar jendela bus. Di sampingmu Sulli dan sisi lainnya ada Jongin yang sedang membahas calon ayahmu yang sepertinya sangat menggemparkan.

“Aku hanya mendengarnya dari Baekhyun,” ujar Jongin. Kau refleks menggeleng mendengarnya.

“Yah, tak heran kau baru tahu sekarang. Bilang pada kekasihmu, Byun Baekhyun, kalau dia menyebarkan berita yang konyol,” seloroh Sulli. Kali ini kau mengangguk setuju.

“Bisakah kau berhenti mengatakan kalau Baekhyun adalah kekasihku? Itu menjijikan!”

“Oh, lalu dia siapa? Calon tunanganmu? Atau calon ayahmu?” tanya Sulli sinis. Perkataannya sukses membuat sahabatmu itu mendapat tepukan keras di lengannya. Tentu saja darimu.

Kau, mau tidak mau, merasa sedikit tersindir.

“Oke, aku turun sekarang.” Seru Sulli setelah melayangkan protesnya atas tindakan kekerasan darimu. Kau segera sadar kalau kalian sudah sampai di pemberhentian dimana Sulli berencana turun.

Dalam hati kau merutuk bus yang menurutmu berjalan terlalu cepat. Kau tidak yakin siap ketika Sulli meninggalkanmu.

Kau hanya memandangi sahabatmu itu memelukmu sekilas, menjulurkan lidah pada Jongin dan berlari turun dari bus.

Setelahnya kau tidak tahu apa yang harus kau lakukan.

“Eh, aku minta maaf karena sudah salah paham.”

Kau sedang memandangi punggung Sulli yang berlari kecil di trotoar saat suara Jongin membuatmu sadar kau tidak benar-benar ditinggal sendiri.

“Yah, seisi sekolah salah paham. Kau tidak perlu minta maaf,” ujarmu berkomentar. Kau mendengar Jongin mendesah. Kau tidak yakin bisa mengartikannya sebagai apa.

“Dia memang terlihat sedikit tua.”

Tua? Well, kau pun berpikir begitu saat melihatnya sebagai calon ayahmu.

Tua, tapi terlalu muda.

“Dan namanya Oh Sehun, kalau kau ingin tahu. Bicara formal padanya.” Ujarmu menambahkan.

Lalu kalian sama-sama diam untuk beberapa saat. Kau memikirkan banyak hal dalam benakmu, dan kau yakin hal yang sama terjadi pada Jongin.

“Bagaimana menurutmu jika anak-anak di sekolah tahu?” Kau bertanya sembari menoleh kearah Jongin. Sebenarnya kau sangat penasaran bagaimana reaksi Jongin dan yang lainnya mengenai siapa sebenarnya Oh Sehun. Kenyataan bahwa Oh Sehun adalah calon ayahmu tentu sangat mengejutkan. Kau ingat bagaimana Sulli menatapmu selama beberapa detik lamanya sebelum pada akhirnya anak itu memintamu lebih baik bercerita kalau Oh Sehun adalah titisan vampir saja. Karena menurut Sulli yang terakhir itu terdengar lebih masuk akal.

“Mereka akan membicarakanmu hingga acara reuni tahun depan, tentu saja,” jawab Jongin tiba-tiba. Anak laki-laki itu menjawab dengan sangat santai membuatmu ingin melempar kepalanya dengan sepatu kets yang kaupakai sekarang juga.

Kau tidak menduga jawabannya akan seperti itu. Kau tidak mengelak, kau mengharapkan sesuatu yang lebih mendekati menghibur, dan yang kaudapat justru sebaliknya.

“Aku tidak bisa menolak idemu, Kim Jongin,” sahutmu. “Yah, ucapkan terima kasihku pada kekasihmu, Byun Baekhyun, untuk itu.”

Tapi, bicara soal sarkasme, siapa pun tahu kau adalah ahlinya.

“Ya~” Jongin menatapmu sebal tapi tidak menutupi ekspresi gelinya. Detik berikutnya kalian berdua terkekeh dan menggelengkan kepala kalian bersamaan.

“Jadi? Kemana kita saat ini,

Nona Oh?”

.

.

.

.

When he smiles like that. And places her big hand on the top of your head. Sings you a lullaby. And makes a great joke that you laughed heartily.

You tell him the truth. You let him know.

You love him. That you always love him.

 

 

.

.

Saat kau menerima pesan Jongin untuk mengajakmu keluar, kau tidak menyangka sebagai apapun yang mendekati kencan. Sulli yang bilang begitu. Sahabatmu itu memaksamu percaya bahwa Jongin menyiapkan sebuah candle light dinner romantis dan akan memintamu menjadi kekasih anak laki-laki berkulit gelap itu di akhir sesi pandang-memandang penuh cinta.

Tapi kenyataan lebih sering menampar keras gadis penuh delusi ya, kan?

Dan kali ini kenyataan menampar keras tepat di wajahmu.

“Jadi kita pergi kemana?” tanya Jongin sembari memandangi ponselnya. Kau tiba-tiba ingat apa yang kau ceritakan pada ibumu tentang projek kelas. Sial, projek kelas. Itu hanya cerita bohong karena kau tidak mungkin berkata kalau kau akan berkencan dengan teman sekelasmu, apalagi mengatakannya di depan tatapan tajam calon ayahmu.

Tapi, melihat keadaan sekarang kau lebih berharap kalau kalian berdua memang tengah melakukan projek kelas. Saat kau mendapati Jongin justru menanyaimu dengan pertanyaan bodoh, ‘kita pergi kemana’, sedangkan jelas-jelas dia yang mengajakmu pergi.

“Kau bertanya atau memintaku untuk memukul kepalamu, Kim Jongin?” kau mendengus sembari berbicara. Jongin mengangkat kepalanya dan menatapmu dengan tatapan kebingungannya yang lucu tapi menyebalkan.

“Apa?” tanyanya. Kau menggeleng sekali, terlalu lelah untuk menanggapi. Lalu kau mengedarkan pandanganmu ke sekelilingmu. Kalian sudah turun di halte setelah 10 menit berdiam di bus. Saat itulah pandanganmu menangkap seorang anak kecil yang memegang balon dan secangkir cairan dengan bola-bola pearl di dalamnya. Kau termenung mengingat sesuatu.

“Kau bertanya kita pergi kemana? Aku ingin kau mengantarku ke suatu tempat. Dan jangan banyak bicara,” ujarmu. Dengan segera kau menarik lengan Jongin untuk ikut berdesak ke kerumunan orang yang menyusuri trotoar. Kau lupa ini hari Minggu, kalau bukan karena ajakan Kim Jongin yang kau (atau Sulli lebih tepatnya) salah artikan, kau pasti lebih memilih meringkuk di kamarmu daripada berjejal dengan lautan manusia yang haus hiburan.

“Kita kemana?” seru Jongin terlalu keras di telingamu. Walau kalau tidak berseru keras seperti itu kau tidak bakal dengar perkataannya.

“Aku sendiri belum terlalu tahu dimana. Tapi, bisakah kau diam?”ujarmu memberi komando. Dan Jongin menurut, membiarkanmu menarik lengannya, seperti kau ini ibu yang tidak ingin kehilangan anak kecilnya.

“Hei, hati-hati.” Kau hampir terpeleset ke samping saat beberapa anak kecil berlarian melewati, beruntung Jongin berbalik menangkap lenganmu dan membantumu menyeimbangkan pijakan kakimu di trotoar. Kau tidak punya waktu untuk berterimakasih karena sebuah plang besar lebih menyita atensimu. Kau mendapatinya karena anak-anak itu berlarian keluar dari sana.

Dengan masing-masing segelas bubble tea di tangan kecil mereka.

“Yang benar saja, kau berlari dan hampir terjatuh hanya untuk bubble tea?” omel Jongin di belakangmu. Walau begitu dia tidak protes saat kau mengabaikannya dan melangkahkan kakimu ke dalam cafe bubble tea itu.

Saat kalian berdua sudah benar-benar memasuki cafe, kalian disambut dengan suasana yang tidak jauh berbeda dari yang ada di luar. Tetap padat dan penuh suara tawa.

Kau menangkap plang nama di balik konter dan membaca apa yang tertulis disana dengan puas. Karena kau berhasil menemukannya.

Boils and Bobba,” bisikmu. Jongin membantumu melewati orang-orang yang berlalu-lalang dalam kafe. Jelas sekali kalau Jongin tidak terlalu suka berada di kerumunan, berkali-kali kau mendengar anak itu mengomentari ruangan yang terlalu kecil untuk pelanggan sebanyak ini. Dan kau tidak bisa tidak setuju dengan omelannya.

“Tetap di dekatku atau kau akan terjatuh lagi,” ujar Jongin memberi instruksi. Kedengarannya seperti dia menyalahkan padatnya kafe ini atas insiden yang membuatmu hampir terjatuh tadi.

Kalian menunggu antrean dengan kau yang memandang takjub pelanggan-pelanggan yang berjejalan. Sedangkan Jongin disampingmu memegangi lenganmu agar kau tidak tergeser dari antrean yang memanjang di belakang kalian.

Sekarang Jongin yang terlihat seperti seorang ibu yang menjaga anaknya. Dia bahkan menarikmu pelan ke depan konter saat kau terlalu takjub melihat-lihat. Kau segera sadar sekarang adalah giliran kalian memesan.

“Hai, selamat datang di Boils and Bobba! Ada yang bisa kami bantu untuk sepasang kekasih yang sedang berburu bubble tea di kafe kami?” sapa seorang gadis tinggi dengan senyum lebar yang manis. Sama sekali tidak menyadari cara berbicaranya yang terlalu riang telah menimbulkan kecanggungan, terlebih ketika frasa ‘sepasang kekasih’ disebutkan. Tunggu, apa tadi dia bilang kekasih?

Jongin terbatuk sebentar, kau menyadari tangannya melepas lenganmu pelan-pelan. Kau meliriknya dan menangkapnya tengah berpura-pura menunjuk-nunjuk beberapa red velvet di balik etalase. Kau mendengus kecil.

“Taro bubble, aku ingin Taro.” Tanyamu cepat-cepat. Kau tidak tahu apa yang akan dikatakan gadis dengan senyum lebar itu lagi jika kalian berdua tinggal lebih lama di depan konter.

“Oke, dan untuk kekasihmu?” ujarnya riang. Kau memicingkan matamu dengan sebal untuk melihat name tag gadis itu sebelum akhirnya menjawab pertanyaannya.

“Chocolate bubble. Dan dua potong red velvet, eum… Joy?” ujarmu memastikan kau tidak salah menyebutkan namanya. Orang tua mana yang menamai anak perempuannya dengan Joy? Walau pun anak perempuan mereka memang tersenyum terlalu lebar sepanjang waktu dan berbicara riang ke pada siapapun.

“Oh, namaku memang Joy! Senang ada orang yang mau memanggil begitu setelah mereka membaca name tag-ku!” seloroh Joy riang. Kau bisa melihat Jongin mengetuk kakinya ke lantai dengan tidak nyaman. Tapi, kau memutuskan untuk bertingkah tidak sopan seperti anak laki-laki itu. Kau tahu, kau tidak bisa menilai orang dengan buruk dengan kebiasaannya dan pembawaannya yang riang. Lagipula Joy ini terlihat sangat ramah dan baik.

Kau tertawa kecil dan menyuruh Joy menamai pesanan kalian dengan nama Jongin. Untuk beberapa alasan, kau tidak ingin meninggalkan ‘jejak’-mu di kafe ini. Terutama namamu.

Kau bahkan tidak memberitahu Jongin, dan Joy kalau perlu, kalau kau adalah calon anak perempuan dari pemilik kafe ini.

Boils and Bobba, huh? Kau langsung mengingatnya saat melihat nama itu di cup bubble tea yang dipegang anak kecil di dekat halte. Kau yakin kafe milik calon ayahmu itu ada di sekitar sini.

Dan saat kau menemukan kafe ini pun, kau sama sekali tidak punya ide sebelumnya, betapa ramai kafe kecil itu. Apa kafe ini sangat terkenal? Lalu bagaimana dengan 3 cabang lainnya yang disebutkan ibumu beberapa hari yang lalu.

Tiba-tiba kau teringat pengakuan Oh Sehun tentang keputusannya berhenti kuliah di pertemuan pertama kalian. Kau berdecak. Siapa yang mengira seorang mahasiswa di umur setua Oh Sehun memiliki 4 kafe sekaligus di Seoul? Tidak perlu disebutkan betapa ramainya kafe itu.

Kau tidak percaya kau pernah ‘mempertanyakan’ kondisi ekonomi seperti apa yang bisa dibawa seorang mahasiswa seperti Oh Sehun.

Kau memang benar-benar tidak mengenal calon ayahmu sebelumnya.

Kau menghempaskan tubuhmu ke kursi empuk di sudut kafe. Membiarkan Jongin memainkan ponselnya di sisimu. Jelas kalian tidak akan membahas soal kata ‘kekasih’ yang diucapkan gadis di balik konter, Joy.

Kalian tengah tenggelam dengan kesibukan masing-masing. Kau yang memandangi grafiti di dinding kafe dan Jongin yang memainkan ponselnya. Membiarkan suara riuh kafe mendominasi. Saat itulah kau tiba merasakan sepasang tangan lebar menepuk kedua bahumu dengan tiba-tiba. Membuatmu hampir menjerit dan menoleh dengan segera.

Hanya untuk mendapati sebuah wajah yang segera kau ingat kau temui di tes beasiswamu dua hari yang lalu.

Kau baru akan berseru saat suara berat Jongin mendahului.

“Kenapa kau bisa ada di sini, Zitao?”

Cont

A/N

Okaaaaaayyyyy sorry. Ini diluar ekspetasi ngepost SP chap 4 selama ini.

Dan karena ini panjang banget ternyata chap finale-nya~ aku putuskan untuk membaginya (terlepas dari kemungkinan chap finale-nya masih panjang berlembar-lembar)

Chap ini anggep saja bonus dan pengantar chap 5 dan juga agar kalian bisa ingat kembali dengan fic-ku yang terkesan terabaikan oleh authornya sendiri ini ToT

Special appearance… say hi to our big-and-lovely smile JOY!!!!! Untuk kalian yang bertanya-tanya kenapa aku tetiba nyebut Seulgi di A/N chap sebelumnya, aku ingin nyeselin seulgi tapi Joy di Be Natural terlalu mendistraksi gak sihhh >o<

Dan our big baby gangster panda AB Style Taurus guy…. TAOOOOOO~~

Believe me, Tao gak hanya sekedar kameo biasa di Silent Problem~ /senyumsenyum/

Sebelumnya cek ini àhttp://naespaceline.wordpress.com/2014/09/08/silent-problem-4-a-finale-to-start-with/

4 pemikiran pada “Silent Problem #4 – A Final to Start With

  1. Aaaahh. Aku ingat beberapa informasi(?) dan latar belakang disini agak samar…
    Huhaa.. Bagus,lohh.. Jarang ada yang memakai tokoh utama “kamu” di Indonesia..
    Biasanya para pengarang luar negeri(?)..
    Hee.. Ditunggu karya selanjutnya!

  2. Aduh, saya jadi penasaran Se Hun di ff ini kayak gimana sih? Saya kok bayanginnya dia masih sangat amat muda banget.
    Hm…saya masih ingat di chapter sebelumnya, yang saya baca berjuta tahun yang lalu *maaf author-nim, chapter 4 baru sempat saya baca sekarang  dan saya lagi mengubek-ubek chapter selanjutnya *kangen sama Todd yang dielus-elus ‘aku’) saya penasaran banget dengan Se Hun yang dengan gaya kebapakannya masuk ke dalam dunia Sohee. Ah, sampai saat ini nggak bisa membayangkan lah si dedek jadi bapak.
    Dan Jong In, dia konyol banget sumpah -_- dia yang ngajak tapi dia yang tanya tempat. Kalo saya yang jadi Sohee, saya tonjok beneran tuh..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s