Freaky Girl [5]

freaky girljao

“Freaky Girl [5]”

Author : alfykmn || Casts : OC, Secret Cast, Sehun [EXO], Baekhyun [EXO], Luhan [EXO], etc || Genre : Friendship, Life, School-life, Love/Hate, AU || Lengrt : Chapter || Rating : Teen

(PS : already post at dreamersradio –fanfiction– dengan berbagai perubahan disini )

.

.

.

.

Joh-eun achim yeorobun…”

“Ah ya selamat pagi ju-” Kening pemuda bermata rusa tersebut berkerut dalam, hidungnya bergerak gerak lucu sebelum kepalanya mengangguk pelan seakan mengerti. “Eih, kupikir aku berhalusinasi mencium bau, suara, dan langkah kakimu itu. Ternyata kau tidak membolos toh,” komentar pemuda yang bernama Xi Luhan ini masih terlihat kelewat heran. 

“Wahahaha kau ini mengetahuiku detail sekali,” ledek Chanyoung mengajak kedua tungkai kakinya untuk memasuki kelas lebih dalam seraya menyeringai nakal.

“Lagipula aku ini siswi baik yang tidak suka membolos, manis,” lanjutnya sambil mengambil aba-aba untuk melempar tasnya ke arah mejanya dan Luhan, benar-benar mengabaikan mata pemuda tersebut yang membesar seperti ingin keluar.

BRAK!!

Strike!”

“Oi! Seenaknya saja bilang strike begitu, memangnya kita sedang bermain bowling? Kalau kena aku bagaimana heh?” tanya Luhan sewot seraya menutup keras buku astronominya dan beralih menatap yang bersangkutan dengan tajam.

“Aish, Xiao Lu ini berisik sekali seperti perempuan…..” keluh Chanyoung dengan ekspresi berlebih. Ia menarik mundur bangku di sebelah Luhan lalu dengan hati-hati duduk disana.

“Justur kalau kenamu itu bagus. Siapa tau otakmu menjadi berada di tempat yang benar jadi kau mulai tidak membaca buku astronomi itu,” lanjutnya mengedikkan dagu ke arah buku milik teman sebangkunya tersebut.

Kedua bola mata Chanyoung yang besar mengerjap pelan. “Oh ya aku baru ingat. Tadi, aku baru sampai di pintu tapi kau sudah tau itu aku. Kau cenayang?”

Luhan menggelengkan kepalanya pelan lalu kembali membuka buku astronominya lagi, mencari si fokus sulit di dapat yang bisa langsung menghilang begitu saja karena kedatangan Chanyoung di sebelahnya itu.

“Aku hanya menebak. Lagipula aroma tubuhmu benar-benar berbeda. Aroma khas coklat sekali,” Chanyoung mengendus-endus dirinya sendiri layaknya seekor kucing –atau anjing entahlah aku tak mengerti– yang bodoh lalu setelah otaknya benar-benar menerima sinyal bau coklat yang dimaksud, cengiran khasnya pun muncul .

Seriously, bau coklat membuatku lapar, Han apa kau punya sedikit maka-”

BRAK!!

Luhan dengan berlebihannya –namun tak mampu membuat nona Kim ini terkejut– menggebrak meja dengan buku astronomi yang super tebal itu.

“Oke bagus, karena kau aku tidak bisa berkonsentrasi. Masa bodo dengan ulangan astronomi sialan nanti. Jadi…” Luhan mendekatkan wajahnya ke wajah Chanyoung secara tiba-tiba –wajar saja kalau gadis tersebut memundurkan kepalanya sebagai refleks– lalu matanya pun memicing. “….ceritakan padaku, bagaimana rasanya dijahit?”

“Heh, kau ini kemarin kabur ya agar tidak ikut?” Luhan terkekeh pelan sebelum mengerang karena kena pukul Chanyoung di punggungnya –sasaran favorite gadis tersebut. Kau taulah pukulan Chanyoung yang jelas-jelas pemegang sabuk hitam ini tetap tidak bisa diremehkan sebelah mata meskipun masih menyandang status perempuan.

“Tentu saja! Siapa yang mau di rumah sakit hanya untuk melihat secara live orang menjahit, mendengar jeritan Kyungsoo, omelan Sehun, dan kekaguman Chen yang menyebut hal seperti itu sebuah seni?” tanya Luhan kelewat histeris namun disatu sisi perkataannya ada benarnya juga, siapa gerangan orang yang kuat mental melihat secara live ditemani suara suara begitu?

Kalau memang ada yang kuat, mungkin hanya sahabat-sahabat Chanyoung minus Luhan saja.

Chanyoung memutar kedua bola matanya dengan malas. “Dan kau juga gila, Luhan-ssi. Terlalu mendramatis. Aku bingung kenapa Sehun mau denganmu. Dan kau kenapa juga mau dengan Sehun yang flat itu. Lagipula aku tidak dijahit,” Gadis itu mengakuinya dengan suara lucu lalu mengeluarkan lengan kirinya dari dalam lengan blazer dan terpapang jelas perban baru ada di bahu kirinya.

“Hey, kau mencuri blazerku ya? Nametagnya masih Xi Luhan tau. Sini sini sini kemarikan,” Chanyoung mengangkat dagunya dan menggeleng pasti.

“Kau kan punya banyak blazer. Pinjam satu harusnya tak masalah bukan? Lagipula Xi Luhan satu ini sekarang kan sudah memakai blazer lain.”

“Kau kan juga punya blazermu sendiri ck.”

“Blazerku bau anyir semua dan masih betah bertengger di jemuran,” sahut Chanyoung dengan senyum kemenangan terukir di bibirnya, yakin sekali Luhan akan menyerah karena kalah berdebat atau menyerah tanpa syarat dan alasan sama sekali.

“Oke, baiklah. Terserah kau saja. Aku masih mau muda bukan cepat tua,” kata Luhan pasrah seraya memijit pelan dahinya yang sedaritadi berdenyut, entah karena perdebatan mereka berdua atau efek astronomi masih terasa.

“Jadi….kau juga kabur?” tambahnya masih sembari memijit-mijit dahinya

“Oh, tentu saja.”

“Oh…..” Luhan mengangguk pelan lalu tersenyum simpul begitu menyadari denyutan yang ia rasakan mulai tidak sesakit tadi. “Yah….Kau nanti terimalah resikonya hari ini. Bel masuk sebentar lagi akan berbunyi dan setelah itu, kau akan dibawa kabur oleh Sehun. Aku yakin,” Senyuman dari bibir Chanyoung mendadak menghilang membuat Luhan merasa senang dan begitu puas.

“Oh ya ngomong-ngomong,” Chanyoung menoleh ke arah Luhan dengan kedua alisnya yang terangkat, apa membuat senyumnya tadi menghilang itu tidak cukup untuk memuaskan pemuda tersebut?

“….Tenang saja ini bukan kabar buruk, menurutku sih begitu. Jadi aku tadi menemukan sesuatu di kolong mejamu. Kupikir dia orang kedua atau ketiga yang datang setelahmu. Sial! Rekorku kalah oleh anak itu! Aku penasaran dia sia–”

“To the point, please….”

“Ok oke…” Pemuda tersebut melirik Chanyoung dengan tatapan ngeri. Pasalnya, gadis berambut pendek ini menatapnya seperti ingin menelannya begitu saja tanpa dikunyah –kalau dikunyah pun, Luhan tetap enggan karena intinya masih sama, dimangsa oleh Chanyoung yang buas.

“….Baiklah….Jadi intinya surat ini ada di kolong mejamu. Aku hanya menyentuhnya dan belum membukanya. Ini,” Kepala Chanyoung kembali mundur beberapa centi saat sebuah surat sudah teracung di depannya, nyaris menyentuh matanya yang sensitif.

“Oh oke. Thanks,” Surat itu lantas diterima dan dibuka dengan baik oleh Chanyoung. Mungkin benda tipis ini terbilang tidak bisa disebut sebagai surat karena tak ada amplop yang melapisinya, tanpa alamat, perangko bahkan pengirimnya pun juga tidak ada.

Kuakui permainan basket teammu bagus. Kau juga termasuk karena bisa kabur dari Kris menjulang yang jago itu. Mungkin karena kau wanita yang pendek serta lincah jadi bisa kabur atau kau telah menjadi mengalihkan ‘perhatian’ Kris? Haha.

Sembuhkan dulu lukamu baru kita kembali berhadapan. Aku tidak mau dibilang pengecut karena melawan orang sakit. Kau harus ingat oke masalah kita ini belum selesai.

“Aku tebak itu bukan suara ancaman. Itu ditulis dengan tinta hitam dari pulpen, tidak dengan tulisan sok horror dengan tinta warna merah darah yang biasa kau terima. Dan juga bukan surat cinta main main. Baru diawal kalimat kau pasti sudah merobeknya lalu kita berdua akan bermain puzzle dengan itu.”

“Dari Byun Baekhyun ya?” tebak Luhan tanpa bertele-tele seperti tadi benar-benar tepat sasaran. Tentu saja Luhan bukanlah cenayang namun seperti cenanyang. Dia hanya perlu menebak dari senyum miring gadis itu.

Chanyoung memang flat –tanpa ekspresi atau datar– di bawah beberapa tingkat dari Sehun, tapi dia jarang sekali tersenyum miring. Sekalinya tersenyum pasti ‘tidak seperti itu’ dan hanya di depan 4 orang sahabatnya.

Tiap tahun, Chanyoung memang ‘mengkhususkan’ senyum miringnya untuk siapapun yang mengusiknya ketika ia berekspresi –sesuatu hal yang tidak cocok dengan penampilan bahkan wajahnya– saat melakukan sesuatu –terutama saat melihat salju. Dan senyumnya itu hanya bertahan tidak pernah lebih 6 bulan karena Chanyoung jelas-jelas akan menang dalam masalah yang ia geluti seperti sekarang.

“Kau tau lalu kenapa bertan-”

“Oi kau! Iya kau Kim Chanyoung! Ayo ikut aku,” Yang merasa terpanggil pun menatap lurus ke arah pintu kelas dengan kening berkerut tapi tatapannya sudah bertabrakkan dengan tatapan serius Sehun yang jelas-jelas hanya mengarah ke dirinya.

KRINGG!!!

Wow, bel masuk sudah berbunyi. Nice timing Luhan.

Seharusnya Chanyoung beruntung karena ada orang yang dengan baik hati menyelamatkan dirinya dari pelajaran Astronomi. Tapi kalau yang menjemputnya Sehun, dia bingung harus senang atau….

 “Se-Sehun-ah, pelajaran pertama itu pelajaran Astronomi jadi-”

“Aku sudah minta izin, Lu.”

“Hari ini kami ulangan, Sehun!” seru Luhan berusaha membantu Chanyoung lagi.

Aku akan berterimakasih karena Luhan hari ini menjadi baik. Aku harap hidupnya akan-

“Aku tau. Chanyoung pasti senang bukan karna aku menyelamatkannya dari ulangan?”

Aku tidak senang bodoh!!!

“Aku-”

“Tidak ada kata tapi. Apa kau mau aku menggendongmu seperti kemarin?”

“YAH! KIM CHANYOUNG DIGENDONG!”

 “Tenang tenang semuanya! Atau kau mau diseret?”

“Seret saja dia, Sehun-ah~”

“Chanyoung nakal! Kau harus menuruti keinginan Sehun oppa karna dia pasti kasian dan capek jika harus menggendongmu atau menyeretmu T_T”

“HUAH! AKU TIDAK MAU CHANYOUNG SIALAN ITU IKUT SEHUN OPPA! TAPI AKU MAU DIA DIGERET! TAPI PASTI SEHUN OPPA LELAH MENGGERETNYA! BAGAIMANA INI?!”

Cukup sampai disini, telinga Chanyoung benar-benar sudah pengang karenanya.

“Baiklah. Aku ikut denganmu, tukang pemaksa,” Suara jeritan histeris terdengar. Siapa lagi yang mampu membuat para gadis itu menjerit kalau bukan karena senyum Sehun yang jelas-jelas bukan untuk mereka?

-TBC-

NB : Haruskah aku meninggalkan jejak disini? Hehehe~ /ditimpukkin batu

Lalalalalalalala~! Musim ujian selesai, bagi rapot selesai, waktunya aktif kembali! /ditimpuk lagi karena gaje-nya. Disini, waktu aku nulis dan ngirim ini tanggal 01-11-2014 tepat part 3 dipost –oke ketahuan banget kalo baru inget ada ff yang belom selesai kan dan apalagi aku juga baru inget belom balesin komentar disana /ditimpuk lagi jadi sumimasen, gomenasai, mianhaeT___Tvvv

Kemudian mau nulis sesuatu lagi dan lupa apa yang mau ditulis, abaikan saja sampai jumpa di chapter 5 dan kolom komentar~! Ppyong~~

14 pemikiran pada “Freaky Girl [5]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s