Nuna

Title : NUNA

Author : Amami Lim

Genre : Romance

Length : Oneshoot

Rate : General

Cast :

  • Cho Ra Hui (OC)
  • Park Chanyeol (EXO)
  • Others

Disclaimer :  Don’t plagiarism. Thank you.

U can contact me on twtitter @amami_lim, n happy reading my beloved reader nim J

“Kau bilang apa?”

“Berita kau berkencan, jadi headline news pagi ini hyung!”

Seingat ku, aku baru tidur pukul 2 tadi dan sekarang baru pukul 5 pagi. Entah ini hanya mimpi buruk atau yang ku dengar ini benar adanya. Zi Tao menerobos masuk kekamar ku, manager ku juga berdiri disebelahnya dengan wajah yang tak enak.

Kupijat kening ku pelan, aku mencoba menjelaskan, tapi tak seorang pun dalam posisi mau mendengar alasan ku. Mereka sibuk menuduh dan berargumen.

Ini masih jam 5 pagi, kantuk ku bahkan belum hilang. Tapi keributan ini membuat kami semua bangun.

“Kalau kau jujur padaku, aku akan menyelesaikan semuanya dengan cepat.” Desakan Han manager membuat kepala ku semakin pusing.

“Siapa gadis itu?”

“Kapan kalian bertemu?”

“Seharusnya kalian mengajak orang lain saat kencan!”

“Kau itu seorang idol, tidakkah kau sadar resiko itu?”

Mereka terus membombardir ku dengan pertanyaan yang bahkan tak ku mengerti ujung pangkalnya.

“DIA RA HUI, CHO RA HUI!” teriak ku kalap. Hilang sudah sabar ku.

“Ra Hui yang mana?” desak Su Ho yang juga sedari tadi jauh lebih panik, melebihi manager kami sekalipun.

“Ra Hui nuna, stylist kita!” jelas ku kesal, apa tidak ada yang mengenali foto itu? Melihat potongan badannya dari arah belakang saja aku sudah tahu kalau itu dia.

Mwoo?? Kau diam-diam berkencan dengan Ra Hui nuna? Ku pikir dia menyukai Min Seok hyung.” potong Kai tak percaya, yang lain mengangguk setuju. Gadis yang sedang kami bicarakan ini adalah teman lama Min Seok, sekaligus stylist kami, Cho Ra Hui.

“Itu bukan kencan, kalian semua ada disana waktu itu. malam ulang tahun Min Seok hyung di restoran ayah ku!”

Aku tidak mungkin lupa hari itu, hari dimana pertama kalinya aku menyentuh Ra Hui dengan jarak yang begitu dekat. Kami sama sekali tidak sedang bermesraan. Malam itu ditengah pesta aku keluar karena pusing, Ra Hui pun begitu. Aku mengeluh padanya leher ku sakit, ia mencoba memijit leher belakang ku, namun ia melakukannya dengan salah. Lalu aku mencontohkannya, gambar aku sedang memegang leher Ra Hui itulah yang di ambil oleh netizen.

Aku berdiri menghadap kamera memegangi leher Ra Hui nuna dan ia berdiri di depan ku cukup dekat, seolah kami akan berciuman. Beruntung hanya bagian belakangnya saja yang diambil.

“kalian ingat kan?”

Para member kembali melihat foto di artikel itu untuk memastikan bahwa tempatnya benar restorant ayah ku.

“Bukan kah itu sudah berbulan-bulan lamanya?”

Benar, ulang tahun Min Seok hyung sudah lama berlalu. Kenapa foto itu baru dimunculkan sekarang? Disaat popularitas ku sedang diatas awan.

“Baiklah, sekarang semuanya sudah jelas. Aku akan menemui direktur. Kalian tidur lah lagi, jangan lupa jam 9 kita ada show. Aku akan menjemput kalian nanti.”

Seperti itulah hidup kami. Tak ada hal yang boleh disembunyikan dari perusahaan. Karena kami adalah idola, tak banyak yang bisa kami lakukan. Hidup kami sudah tak lagi sama seperti dulu. Kadang untuk menikmati popularitas pun tak ada.

“Tapi hyung,” Kyung So menahan bahu ku saat ingin kembali tidur.

“Mm?” aku menoleh padanya.

“Bukan kah kau memang menyukainya?”

Wajah ku memanas. “Tutup mulut mu.” peringat ku cepat sebelum ada orang lain yang mendengarnya.

Harus kah aku mengakuinya? Sebenarnya ini diluar perkiraan ku.

3 bulan yang lalu, kah? Atau lebih. Cho Ra Hui bukan orang yang asing, ia stylist kami. Tapi aku merasa, hanya aku satu-satunya orang yang tidak akrab dengannya. aku tahu dia sahabat lama Min Seok hyung. Banyak orang menyarankan mereka untuk pacaran karena mereka memang terlihat cocok satu sama lain.

Awalnya aku hanya ingin tahu, orang seperti apa dia. Kenapa semua orang begitu menyukainya. Karena aku bukan tipe orang yang tak bisa bergaul, jadi tak sulit untuk ku menjadi dekat dengannya.

Celakanya, aku mulai cemburu pada setiap pria yang dekat dengannya. Entah sejak kapan hal itu mulai terjadi. Mungkin sejak aku diam-diam mulai menyentuh rambut hitam lurus sebahunya, atau hanyut dalam bola mata indah coklatnya, atau tenggelam didalam suara tawanya. Entah yang mana, yang jelas perlahan, aku mulai menyadari. Ada yang tak beres dengan perasaan ku padanya.

Aku tahu, tidak akan ada yang lebih diantara kami. Karena Min Seok hyung terlalu sempurna untuk ku jadikan sebagai saingan.

Pagi ini saat membaca headline news itu, sejujurnya aku berharap berita itu benar.

Perusahaan menyelesaikan semuanya dengan cepat, hanya dalam beberapa jam, semua pemberitaan itu mulai ditarik dan hilang. Uang memang segal-galanya. Toh, kenyataannya memang kami tidak pacaran. Perusahaan bahkan secara terang-terangan menjelaskan bahwa gadis difoto itu adalah stylist kami. Mereka mendeskripsikan semuanya dengan baik dan benar.

Seolah pagi tadi tak terjadi apa-apa, semuanya kembali normal, begitupun dengan para member. Mereka makan, bercanda dan mengobrol seperti biasa. Sepertinya hanya aku yang terlalu berharap banyak.

Mwohae?”

Kepala Ra Hui muncul dari belakang melewati bahu kiri ku. Hampir saja aku mencium pipinya kalau tidak cepat-cepat menarik kepala ku darinya refleks.

“Kau tidak sehat?” ia berdiri di depan kursi ku sambil memegangi rambut ku.

Rasanya aku ingin memeluk tubuh kecilnya saat itu juga. Tapi aku tidak akan pernah bisa melakukannya. Aku melenguh pelan untuk menahan diri ku sendiri.

“Kau terkejut dengan berita pagi ini? Aku juga.” Ia terkekeh kecil, berita itu benar-benar hanya sebuah lelucon baginya.

“Semua orang terus bertanya ‘siapa gadis itu?’ didalam bis, sedang aku hanya bisa berpura-pura menatap keluar jendela sambil menahan tawa. Kalau mereka tahu itu aku, mungkin mereka semua akan membunuhku. Haha.” Ia tertawa besar, sedang aku hanya bisa melenguh kecewa. Menyadari bahwa aku bukan siapa-siapa dihatinya.

“Kau tahu Min Hwa, idol yang pernah kuceritakan padamu, gadis yang tergila-gila padamu itu. dia bahkan menelpon ku untuk memastikan bahwa gadis di foto itu benar pacar mu.” tangan Ra Hui nuna beralih merias wajah ku. Ia terus berbicara, mengabaikan aku yang mencoba melakukan kontak mata dengannya. sekalipun ada kontak mata, ia terlihat biasa saja.

“Aku tak bisa membayangkan seberapa banyak pemberitahuan dari SNS mu hari ini, fans mu sudah pasti menggila. Syukurlah masalah ini tidak berlarut-larut. Dasar netizen usil.” komentar Ra Hui nuna mulai menyentuh bibir ku dengan kuas ditangannya.

Nuna bisa kita bicara sebentar?” entah ide bodoh dari mana yang membuat ku berbicara seperti itu.

Ya, aku pasti sudah gila karena mengajaknya bicara.

Melihat wajah ku yang tak bersemangat sejak bertemu dengan nya, Ra Hui nuna menyetujui permintaan ku dengan mudah. Aku mengajaknya ke balkon, setidaknya tidak ada orang yang melihat kami disana.

“Kau kenapa?” Hanya tatapan iba yang bisa ia berikan padaku.

Nuna, pernah kah kau melihat ku sebagai seorang pria?” tanya ku serius. Setidaknya ada jarak satu meter diantara kami. Aku berusaha membuat jarak terbaik agar bisa melihat setiap inci perubahan raut wajahnya dengan jelas.

Alisnya terpaut. Sudah tentu ia pasti kebingungan mendengar hal tak masuk akal seperti ini tiba-tiba keluar mulut ku. Selama ini, ia hanya menganggap ku sebagai adiknya yang manis. Itu yang selalu dikatakannya padaku.

“Apa yang sedang kau bicarakan?”

Tepat seperti dugaan ku, ia tidak akan mengerti.

“Aku pasti sudah gila.” Kuremas rambut ku frustasi, “Aku benci saat kau tersenyum pada pria lain, aku benci saat kau menceritakan tentang Min Seok hyung pada ku berulang kali, aku benci saat Min Seok hyung menggandeng tangan mu, aku benci nuna, aku benci!” ku gelengkan kepala ku kesal.

Tangan kecil Ra Hui mendarat diatas kepala ku, ia mengusap puncak kepala ku pelan.

“Jangan lakukan ini adik manis, aku tidak mau kehilangan mu.”

Adik manis, kutepis tangan Ra Hui kecil begitu mendengar kata itu.

“Aku benci menjadi adik kecil mu! Aku ingin menjadi seseorang seperti Min Seok hyung. Aku ingin kau melihat ku sebagai pria!” kucengkram bahu Ra Hui erat hingga ia meringis.

“Apa yang kau lakukan Park Chan Yeol!!”

Min Seok hyung muncul di depan kami dengan ekspresi yang tak pernah kulihat sebelumnya. Wajahnya mengeras, tangannya mengepal. Aku tahu ia pasti marah.

Ia menghampiri kami dan memaksa ku melepaskan cengkraman ku dari Ra Hui, sekalipun tubuhnya kecil, kuakui ia jauh lebih kuat dari ku.

“Anggap saja aku tak pernah melihat hal ini. Dan jangan pernah mengulanginya, kau dengar itu?” teriaknya keras.

Min Seok hyung benar-benar marah padaku. Ia menarik pergi Ra Hui dari hadapan ku.

“AARRRGGGH!!” teriak ku frustasi. Seharusnya aku tidak pernah melakukan ini.

oOo

Jangan tanya berapa lama, hubungan ku dengan Min Seok hyung benar-benar tidak baik. Hal-hal sepele seperti baju kotor menjadi perkelahian kami. Aku tahu aku salah hari itu, tapi Min Seok hyung juga berlebihan. Ia terlalu menunjukkan kekesalannya padaku.

Sekalipun para member bertanya ada apa diantara kami, tak satupun dari kami akan membuka mulut.

“PARK CHAN YEOL!!”

Aku baru saja meletakkan kepalaku diatas bantal saat mendengar teriakan dari arah ruang TV. Aku tahu itu suara Min Seok hyung. Tak ada pilihan selain menghampiri beruang yang sedang marah itu.

“Ada apa hyung?” tanya ku tetap berusaha sopan.

Bukan hanya aku, semua member yang merasa khwatir dengan ketegangan yang terjadi diantara kami belakangan ini juga keluar dari kamar masing-masing untuk memastikan bahwa semua nya baik-baik saja.

“Berapa kali harus kukatakan padamu? Tidak bisakah kau bereskan piring-piring itu seusai makan?” Min Seok hyung menunjuk kearah meja makan kami yang berantakan. Semalam aku memang membuatkan mereka makanan kecil dan belum sempat membereskannya. Hingga sepulang latihan kami belum membereskannya karena memang tak ada waktu.

“Aku akan membereskannya nanti hyung.” Balas ku mencoba menahan diri. Tidak kah ia juga mengerti, kita semua butuh istirahat.

“Kapan? Satu jam lagi kita akan pergi, dan kau pasti mau tidur, kan?” suara Min Seok hyung meninggi.

Darah ku sudah naik hingga keubun-ubun, kali ini Min Seok hyung sudah benar-benar keterlaluan.

“Bukan hanya aku yang makan semalam hyung, tapi kami semua. Kenapa kau hanya marah padaku? Oo, ini caramu membalas dendam?” teriak ku kesal. “Aku lelah bertengkar dengan mu setiap hari hyung, maaf kan aku karena menyukai gadis mu.” aku bahkan sampai berlutut di depannya meminta maaf.

Tak ada yang melerai pertengkaran hebat kami, mereka hanya berdiri di pintu memandangi, mengamati apa yang sedang terjadi sebenarnya diantara kami.

“Sepertinya kau belum mengerti apa kesalahan mu Park Chan Yeol.” Min Seok memandang ku tajam.

“Aku tahu hyung, karena aku menyukai gadis mu.” aku menunduk mengambil nafas panjang dengan posisi yang masih berlutut di depan Min Seok hyung. Karena aku lebih muda, sudah seharusnya aku meminta maaf.

“Gadis?” suara cempreng penuh rasa ingin tahu Tao mencuat. Su Ho hyung pasti sudah menutup mulutnya hingga aku tak mendengar lagi komentar dari mulut Tao.

Ani, aku tidak suka dengan cara mu memperlakukannya. Aku sudah memperingatkan semua orang termasuk kau jauh-jauh hari. Kalian boleh mendekati siapapun, boleh pacaran dengan siapapun. Tapi tidak dengannya! bukan karena aku menyukainya, tapi dia gadis baik-baik dan bukan untuk kalian mainkan! Lebih dari teman, aku sudah menganggapnya sebagai saudara ku.” jelas Min Seok hyung.

Kuangkat kepala ku tak percaya setelah mendengar alasan Min Seokk hyung marah padaku selama ini.

“Tapi hyung, aku tidak berniat untuk main-main dengannya.” balas ku serius.

“Kau mau serius dengannya? Berapa lama? Setahun? Dua tahun? Berhenti bermimpi Chan Yeol-a. Kalau kau ingin bersenang-senang, cari lah wanita lain, bukan Cho Ra Hui.” peringat Min Seok hyung.

“CHOI RA HUI??” nama itu muncul secara bersamaan dari mulut para member yang sejak tadi hanya bisa diam menonton.

“Tebakan ku benar, ini pasti masalah wanita.”

“Jadi Min Seok hyung benar tidak pacaran dengannya?”

Mereka malah berdebat ditengah situasi genting ku dengan Min Seok hyung.

“Temui dia besok. Ku mohon jangan sakit dia Chan Yeol-a. Maafkan aku yang tidak dewasa dan membuat mu tidak nyaman selama ini.” Min Seok hyung membungkuk dalam padaku sebelum akhirnya berbalik dan kembali kekamarnya.

Tanpa diminta pun, sebenenarnya aku memang ingin bicara dengan Ra Hui nuna. Aku memang harus meluruskan semua ini dengannya. café di depan gedung perusahaan menjadi pilihan kami, selain nyaman, setidaknya tempat itu tidak terlalu ramai, para fans pun tidak akan mencurigai kami.

“Kau pasti bertengkar banyak dengan Min Seok.” Ra Hui nuna mengakat gelas kopinya santai.

Aku hanya mengangguk membenarkan.

“Min Seok tidak marah padamu, ia hanya memikirkan masa depan mu.” imbuh Ra Hui.

Aku menyeringai. Masa depan yang mana yang dipikirkan oleh Min Seok hyung? Aku sendiri bahkan belum berpikir sejauh itu.

“Apa aku tidak pantas untuk mu nuna?” tanya ku to the point.

Ujung bibirnya melengkung sempurna, ia menyeruput kopinya sekali lagi sebelum meletakkan cangkir putih dengan kepulan asap tipis itu kembali keatas meja. Matanya menatap kearah ku lurus.

“Kau pantas, bahkan sangat pantas untuk ku.” balasnya tenang.

“Lalu?” aku mengenyit, sekarang apa alasannya dia akan menolakku kalau aku ternyata pantas untuknya.

“Anggap saja aku suka padamu sekarang, lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya?”

“Pacaran.”

“Berapa lama?”

“Kita bahkan belum menjalaninya, bagaimana aku tahu kita bisa bertahan sampai kapan?” elakku.

“Bagaiman caramu melindungi ku, melindungi karirmu saat kita ketahuan nanti?”

“Aku akan berusaha sampai tidak ketahuan.”

“Bagaimana kalau kita putus? Bagaimana dengan pekerjaan kita?”

“Apapun yang terjadi, kita harus tetap professional.”

Ra Hui menggeleng pendek seperti sedang menyalah kan ucapan ku.

“Kau tidak mengerti Chan Yeol-a.” ia kembali menggeleng kecewa, ”Hubungan yang kau bayangkan itu tidak semudah kenyataannya. Ini bukan diantara aku dan kau saja, tapi Min Seok dan member yang lain juga. Terlebih karena kita satu perusahaan, semuanya akan lebih sulit saat hubungan kita berakhir.” Ra Hui nuna mengambil jeda dengan menarik nafas panjang.”Terutama Min Seok, kau tahu kenapa dia begitu menentang hubungan ini?” tanya Ra Hui.

“Cemburu.” balas ku sekenanya, memangnya alasan apa lagi.

Ani,” Ra Hui kembali menggeleng, entah berapa kali sudah ia mengeleng padaku hari ini. “Sama seperti mu, ia terlalu gegebah memulai sebuah hubungan dan berakhir dengan hilangnya nyawa seseorang.”

Aku menelan ludah tak percara, apa Ra Hui baru saja menyebut hilangnya nyawa seseorang? Benar, pasti ada rahasia yang tidak ku ketahui dari para member, terlebih Ra Hui nuna adalah teman lamanya, dia pasti tahu semuanya.

“Min Seok menjalani hubungan dengan gadis itu di akhir masa trainingnya. Popularitas Min Seok meluncur seperti roket dalam waktu yang singkat begitu kalian debut. Tapi gadis itu kehilangan Min Seok nya, ia menunggu Min Seok yang hanya menghubunginya sekali seminggu. Segala kesibukan Min Seok membuat gadis itu kesepian. Perlahan beberapa fans lama menyadari gadis itu dan membullynya. Bahkan saat terburuknya pun, ia tak pernah membuat Min Seok khawatir. Sampai akhirnya ia mati karena merasa lelah dan kesepian. Saat itulah Min Seok sadar kalau ia sendiri lah yang menyebabkan gadis itu mati. Cintanya lah yang membuat gadis itu mati.”

Kepala ku pusing. Bayangan indah tentang hubungan ku kedepan dengan Ra Hui nuna perlahan memudar dan berubah menjadi mimpi buruk. Aku tidak pernah membayangkan betapa mengerikannya para fans dan netizen membully seseorang sampai mati. Kalau kami putus sudah pasti yang akan menjadi korban adalah Ra Hui. Aku adalah artis sedang dia hanya seorang pekerja yang bisa diganti kapan saja.

Selama ini aku hanya memikirkan perasaan ku saja. Yang tak pernah kusadari adalah aku adalah seorang artis dengan ribuan fans berdarah muda yang bisa membunuh karir dan orang-orang terdekat ku dalam satu serangan.

Ra Hui nuna menarik kerah jaket ku hingga wajah kami berdua berada ditengah meja dan sangat dekat, aku bahkan bisa merasakan hembusan nafasnya dari jarak sedekat itu.

“Aku menyukai mu, jauh sebelum kau menyadari perasaan mu sendiri.” Ia tersenyum dan mengerjap bersamaan, “Aku tak menyangka, cinta mu padaku membuat mu berubah banyak, kau bukan Chan Yeol yang kusuka dulu. Chan Yeol yang manis, Chan Yeol yang perhatian pada semua orang, Chan Yeol yang sopan. Kau berubah menjadi egois sekarang.” imbuhnya.

Aku mencoba menarik diriku namun Ra Hui nuna menahan ku lebih kuat.

“Aku belum selesai.” ucapnya sambil tersenyum, jangan tanya betapa gilanya debaran jantung ku. Aku tak bisa mengusai diriku dengan jarak sedekat itu.

“Dengarkan aku baik-baik,”

Aku mengangguk, menelan ludah tak bisa berbuat apa-apa.

“Aku juga mencintai mu, aku juga punya mimpi indah sama seperti mu. Tapi tidak sekarang, karena hati mu belum pasti. Biarkan setahun berlalu. Jika setelah itu hati mu tetap sama, aku bersedia menjadi kekasih mu. Apapun cobaannya, aku akan tetap berada disisimu, tapi jangan coba-coba untuk mengakhiri hubungan dengan ku, karena aku tidak akan pernah melepaskan mu saat kau menjadi milikku kelak.”

Aku mengerjap tak yakin, dia menyatakan perasaannya, menyuruhku menunggu dan mengancam ku dalam waktu yang bersamaan.

“Jalani hidup mu sekarang dengan benar. Tetaplah menjadi Chan Yeol yang manis dan dicintai banyak orang. Aku akan tetap ada disisimu sampai saat itu tiba.”

Dan CUP

Sebuah ciuman dikening ku mendarat begitu singkat. Ia melepaskan kerah jaketku. Menyeruput kopi nya sekali lagi, lalu beranjak pergi tanpa mengajakku.

Ilusi dan dan kenyataan rasanya sama, aku berada diantara mimpi dan khayalan. Lalu sekarang status ku dengannya apa?? Gadis itu benar-benar membuat ku gila.

Tidakkah dia sedang menggantung hubungan kami? Aku harus menunggu selama setahun? Kenapa harus setahun? Apa yang harus ku lakukan selama setahun? Melihatnya bermesraan dengan Min Seok hyung? Apa dia tidak sadar siapa laki-laki yang sedang di gantungnya? Aku! Park Chan Yeol, pria yang dipuja ribuan wanita. Ada ribuan wanita, kenapa aku harus suka padanya!

“ARRGH, CHO RA HUI!!”

-Fin-

Iklan

Satu pemikiran pada “Nuna

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s