(보고싶다) I Miss You [Chapter 4]

Title                       : (보고싶다)  I Miss You

Author                  : Putri Dini

Length                  : Chaptered

Genre                   : Friendship, Romance

Main Cast           : – IU  a.k.a  Lee Ji Eun
– Lu Han  a.k.a  Kim Luhan

Other Cast          : Oh Shin Ra, Suho, Kai, Park Yeon Ji, Chanyeol, Oh Ha Ni, D.O (Kyung Soo), Park Nam Ji

 

–(보고싶다)  I Miss You—[Chapter 4]

 

 

(Before Chapter 3)

 

Ji Eun kembali meronta-ronta denga air mata yang terus keluar. Mulutnya berucapa seakan ia sudah berteriak sekuat tenaganya. Tapi, tak ada suara yang keluar. Hyun Woo mulai menyium bibir Ji Eun.

Hyun Woo menyiumnya dengan penuh nafsu hingga membuat Ji Eun sudah tak berdaya lagi. Sejak Hyun Woo menindihnya memang harapan bagi Ji Eun untuk bisa lari sudah sangat kecil. Sekarang Hyun Woo malah membuat kiss mark di bagian leher Ji Eun.

 

Ji Eun langsung berontak dengan cara menolalk wajah Hyun Woo lalu menamparnya. Hyun Woo langaung naik pitam. Ia malah menampar kembali wajah Ji Eun. Ji Eun yang sudah tak kuat lagi pun hanya bisa menagis sejadi-jadinya. Dalam tangsinya ia terus menyebutkan satu nama yang ia harapkan agar datang menyelamatkan dirinya.

 

“Lu…Luha…Luhan-ah…” lirihnya dengan tangisan yang sudah menjadi tetapi tangannya tetap berusaha

memberontak Hyun Woo.

 

 

 

 

Brakk..

 

Sebuah suara yang terdengar seperti pintu terdobrak. Dan benar itu adalah pintu yang sudah didobrak. Hyun Woo langsung sedikit menoleh kebelakang dan tanpa ada kata sapaan, tubuhnya langsung terpental karena mendapat tendangan dari Luhan.

 

Luhan, nama yang disebuatkan oleh Ji Eun dalam ketiada kuasaanyaa pun akhirnya benar-benar datang

menyelamatkannya.

 

Mwoya neo..??!!” Hyun Woo langsung bangkit dan hendak ingin menghajar Luhan.

 

Seakan tahu akan serangan Hyun Woo, Luhan lansung menangkisnya dan memberikan pukulan di wajah Hyun Woo. Merasa kesempatan bagus, Luhan langsung memukuli Hyun Woo habis-habisan.

Terkira, Hyun Woo sudah tak sadar lagi Luhan berhenti memukulinya. Ia langsung mengampiri Ji Eun yang sedari tadi menangis memeluk lututnya sendiri. Tank top yang ia pakai pun sudah ada yang robek, rambutnya sudah tak karuan.

 

“Eun Ji-ssi..” Luhan menghampiri Ji Eun sambil duduk disampingnya dan memegang bahu Ji Eun.

 

“Jangan sentuh aku..” teriak Ji Eun yang terlihat sangat takut dan tangisan mulai menjadi lagi.

 

“Aku Luhan, tidak apa..” Luhan kembali mendekatkan dirinya ke arah Ji Eun.

 

“Jangan dekati aku!! Sudah kubilang jangan sentuh aku..!!” bentak Ji Eun lebih besar dan tinggi sembari menghempaskan tangan Luhan.

 

Luhan sanga terkejut melihat Ji Eun dengan keadaan seperti ini. Luhan berfikir bahwa Ji Eun pasti

sangat terguncang.

 

“Eun Ji-ssi, lihat aku, aku Luhan.. Lihat aku..!!” Luhan mulai menggenggam kedua bahu Ji Eun agar membuat Ji Eun menatapnya.

 

Ji Eun tetap menangis dan tidak menatap Luhan. Ia malah seakan tak ingin disentuh oleh Luhan dan terus meronta.

 

“Eun Ji-ssi, tolong lihat aku, aku ini Luhan, Kim Luhan..!!” suara Luhan mulai meninggi agar membuat Ji Eun menatapnnya.

 

Ji Eun mulai menatapnya. Ia tetap mengeluarkan air matanya.

 

“Lu..Luhan?” lirih Ji Eun.

 

Geure, Luhan..” Luhan dengan tatapan yang meyakinkan.

 

“Luhan-ah..Luhan-ah.. Aku takut, aku takut, aku takut..” Ji Eun langsung mendekap Luhan kuat.

 

Luhan tidak kaget dengan perlakuan Ji Eun. Luhan malah memeluknya erat juga. Luhan pun mengelus pelan kepala Ji Eun sambil menyebutkan ‘kwaenchana‘ berkali-kali dengan lembut.

 

“Aku takut, aku takut, jangan tinggalkan aku, aku takut..” lirih Ji Eun sambil tetap menangis dalam pelukan Luhan.

 

Kwaenchana, ayo kita pergi..” Luhan melepaskan pelukannya dan menatap Ji Eun.

 

Tanpa menunggu jawaban Ji Eun, Luhan langsung mengambil blezzer dan tas Ji Eun yang tergeletak di lantai begitu saja. Ia lalu memungut, ponsel Ji Eun yang jatuh tadi. Setelah memegang semua barang Ji Eun yang berserakan ia meletakkannya sebentar diatas sofa yang ia duduki tadi dan melepas jasnya.

 

Luhan langsung memasangkannya di punggung Ji Eun. Bahu Luhan yang tentunya lebih besar dari Ji Eun pun mampu membuat jasnya bergantung begitu saja tanpa Ji Eun kenakan.

 

Kajja..” Luhan pun membantu Ji Eun berdiri.

 

Tentu Ji Eun tak bisa jalan menggunakan heel-nya. Lengan kanan Luhan pun terlingkar di bahu Ji Eun agar dapat menjaga keseimbangan Ji Eun. Sedangkan lengan kirinya memegang barang-barang Ji Eun seperti sepatu, tas, serta blezzer-nya.

 

Luhan dan Ji Eun mulai berjalan keluar. Luhan lalu tersadar bahwa orang-orang melihat dengan tatapan aneh kearahnya dan Ji Eun. Ia lalu sedikit melirik Ji Eun yang berada dalam dekapannya. Tampilan Ji Eun memang sangat kacau. Make up yang sudah tak terlihat, rambut sudah seperti tak terurus. Luhan pun menarik Ji Eun lebih dalam ke dekapannya hingga kepala Ji Eun bisa bersembunyi di dada Luhan.

 

Ji Eun yang sadar akan perlakuan Luhan yang aneh menurutnya. Ji Eun sedikit melirik Luhan. Luhan

tetap dengan ekspressinya yang cool dan tetap mendekap kuat Ji Eun.

 

***

 

Luhan membantu Ji Eun memasuki mobilnya dan tak lupa memasangkan sabuk pengaman untuk Ji Eun.

Setelah Ji Eun masuk Luhan pun langsung masuk. Saat Luhan memakai sabuk pengamannya, ia mengalihkan pandangannya sejenak kepada Ji Eun. Ia melihat Ji Eun hanya bersender di kursinya dan menutup matanya. Ia tahu Ji Eun bukan tidur melainkan mencoba menetralkan kembali jiwanya.

 

Pandangan Luhan lalu turun kearah kaki Ji Eun. Luhan melihat tangan Ji Eun yang berada diatas pahanya sendiri masih bergetar hebat. Dan ia juga tahu, Ji Eun bukan kedinginan melainkan ia masih diselimuti rasa takut yang tak kunjung hilang. Setelah menatap Ji Eun, Luhan pun segera melajukan mobilnya.

 

***

 

Di perjalanan, Ji Eun masih saja tetap pada posisinya. Tangannya masih bergetar walaupun tidak separah tadi. Tapi, tiba-tiba tangan kanan Ji Eun memegang tangan Luhan yang sedang ingin menaikkan gigi mobilnya. Luhan pun langsung menatap kearah Ji Eun.

 

“Eun Ji-ssi, waeyo? Apa ada yang salah?” tanya Luhan yang terlihat khawatir sebenarnya.

 

“Ja..ngan pulang..” lirih Ji Eun yang mencoba duduk tegak menatap Luhan.

 

Luhan yang tahu bahwa pembicaraan mereka akan panjang pun segera menepi ke tepi jalan.

 

“Kenapa? Kau harus istirahat di rumah..” ucap Luhan setelah memberhentikan mobilnya.

 

“Aku tidak ingin bibiku melihatku seperti ini..” ucap Ji Eun yang sudah mulai terdengar jelas.

 

Luhan akhirnya berfikir bahwa Eun Ji yang ia kenal ini tidak memiliki orang tua dan tinggal bersama bibinya.

 

“Bawa aku ke butik saja, tolong..” pinta Ji Eun.

 

Luhan ingin berbicara tapi Ji Eun langsung menyelanya seakan tahu apa yang ingin dikatakan oleh

Luhan.

 

“Tolong jangan berbicara lagi, aku mohon bawa aku kesana..”

 

Tanpa menjawab ataupun memberi respon, Luhan langsung melajukan mobilnya kembali.

 

***

 

Luhan membuka pintu ruangan Ji Eun dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya tentu saja membantu Ji Eun berjalan. Luhan lalu mendudukkan Ji Eun diatas sofa yang ada diruangannya. Luhan meletakkan barang-barang Ji Eun di atas kursi. Ia lalu mengambil sebuah selimut yang tergantung

diatas kursi kerja Ji Eun. Luhan langsung menyelimuti Ji Eun yang sudah dalam posisi tertidur diatas sofanya.

 

Gumawoyo, Luhan-ssi..” ucap Ji Eun.

 

Luhan hanya tersenyum. Ia lalu keluar dan kembali dengan membawa segelas air. Luhan lalu duduk di pinggir sofa yang dipakai Ji Eun untuk tidur. Ji Eun merubah posisinya menjadi duduk dan langsung meminum air yang dibawa oleh Luhan.

 

“Kau pulanglah, adikmu sendirian dirumah..” ucap Ji Eun yang sudah terlihat lebih tegar di mata Luhan.

 

Aniyo, bagaimana bisa aku meninggalkanmu dengan keadaan seperti ini..”

 

“Aku tidak akan bunuh diri, kau pulanglah. Aku merasa terbebani jika kau berada disini..” ucap Ji Eun lagi.

 

Luhan tetap merasa tidak enak jika harus meninggalkan Ji Eun sendirian disini. Apalagi keadaan Ji Eun sedang tidak dalam kondisi yang normal.

 

Kwaenchanayo..” Ji Eun tersenyum seakan ingin menunjukkannya pada Luhan bahwa ia benar-benar sudah baik-baik saja.

 

“Baiklah..” Luhan pun bangkit dari duduknya.

 

“Kau bisa membawa mobilku, akan susah mencari taksi selarut ini..” ucap Ji Eun sedikit mendongak karena Luhan sudah berdiri.

 

“Aku ba…” perkataan Luhan terpotong oleh perkataan Ji Eun.

 

“Aku yang tidak baik-baik saja, aku mohon pergilah menggunakan mobilku. Besok juga kau akan bekerja, kau bisa membawanya kembali besok..”

 

Luhan pun mengangguk pelan. Ia lalu keluar dari ruangan Ji Eun. Ji Eun pun memberikan senyumnya tatkala Luhan keluar dari ruangannya. Pada saat Luhan sudah pergi, senyumnya langsung luntur menjadi ekspresi yang ketakutan.

 

***

 

Luhan sedang berbaring dirumahnya. Matanya belum tertutup. Tubuhnya memang sedang terbaring. Tapi, raganya entah dimana. Luhan tiba-tiba merubah posisinya menjadi duduk. Ya, yang ia fikirkan adalah Ji Eun. Bagi Luhan mungkin adalah Eun Ji. Luhan lalu bangkit dan langsung mengambil jaketnya dibalik pintu sebelum keluar. Luhan tak langsung pergi. Ia masuk ke kamar adiknya terlebih dahulu.

 

Terlihat Seol Hyun sedang tertidur dengan keadaan pipi sebelah kirinya menempel di meja belajarnya. Lampu belajarnya masih menyala, buku masih berserakan, pena pun masih melekat pada tangan kanan Seol Hyun. Luhan memandangi adiknya sesaat.

 

“Kau benar-benar berusaha keras, Kim Seol Hyun..” Luhan yang terlihat tersenyum bangga.

 

Ia lalu mendekat kearah wajah Seol Hyun dan membangunkannya.

 

“Seol Hyun-ah.. Bangunlah..” ucap Luhan sembari menggoyangkan tubuh Seol Hyun.

 

“Eungg..” Seol Hyun mengucek matanya.

 

“Pindahlah ke tempat tidurmu..”

 

Seol Hyun yang setengah sadar pun bangkit dan berjalan beberapa langkah dan langsung melempar tubuhnya diatas kasur.

 

Oppa harus pergi sekarang, kau hati-hati di rumah ya..” ucap Luhan.

 

“Eeung.. Eo, pergilah..” ucap Seol Hyun dalam keadaan menutup matanya.

 

Luhan lalu menyium kening Seol Hyun sebelum ia pergi.

 

***

 

Luhan memasuki butik Ji Eun. Luhan lalu membuka perlahan pintu ruangan Ji Eun. Luhan tidak langsung masuk. Ia berdiri di depan pintu yang sedikit terbuka tersebut karena melihat Ji Eun sedang berbicara di telpon.

 

“Iya, bibi tidur saja. Aku tidak akan pulang malam ini..” ucap Ji Eun.

 

“….”

 

“Aku akan pulang besok, jadi jangan terlalu khawatir. Sudah ya, aku tutup..” Ji Eun mengakhiri pembicaraannya dan langsung menutup teleponnya.

 

Luhan masih memperhatikan Ji Eun.

 

Perlahan Ji Eun hanya diam. Ia lalu memandangi tubuhnya sendiri. Ia lalu melihat sebuah bekas seuatu.

Dan Ji Eun tersadar bahwa itu adalah kiss mark yang dibuat oleh Hyun Woo tadi. Ji Eun mulai

kehilangan akalnya lagi. Ia menggosok tangannya kuat seakan ingin menghapus tanda tersebut. Ji Eun menggosoknya dengan kuat sembari menangis dengan kuatnya.

 

Luhan sangat terkejut melihat Ji Eun seperti orang tidak waras. Luhan ingin sekali berlari dan menghentikkan aksi gila yang sedang dilakukan oleh Ji Eun. Tapi, langkahnya tertahan. Ia bisa mendengar jelas Ji Eun menangis dan berteriak. Sekarang Ji Eun sedang mencoba melepaskan beban yang ada pada dirinya itu fikir Luhan. Jika datang sekarang dan mencoba menghentikkan Ji Eun, ia tidak yakin bahwa Ji Eun akan melepaskan beban yang ia rasakan dengan mudahnya.

 

Jadilah, Luhan hanya melihat aksi Ji Eun tersebut. Sebenarnya hati Luhan cukup miris melihat kelakuan Ji Eun. Ia sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana yang dirasakan oleh Ji Eun sekarang hingga membuat Ji Eun seperti orang tidak waras.

 

***

 

Ji Eun mengerjapkan matanya berkali-kali. Ia lalu bangkit mengubah posisinya menjadi duduk. Ia melihat kearah jam dinding sudah pukul 10 waktu setempat. Ji Eun pun mengira bahwa butiknya pasti buka. Lalu terbukalah pintu kerjanya.

 

Sajang-nim, kau sudah bangun?” ucap orang baru membuka pintu yang ternyata adalah Yoo Mi.

 

Eo, Yoo Mi-ya..”

 

“Tadi, aku bawakan bajuku dan celananya. Kau bisa memakainya..” ucap Yoo Mi lalu kembali menutup pintunya dan keluar.

 

Ji Eun lalu memandangi tubuhnya dalam keadaan memakai sebuah jas berwarna hitam. Ji Eun tahu bahwa ini adalah milik Luhan. Tapi, Ji Eun teringat bahwa seingatnya ia tidur tanpa memakai jas tersebut. Ji Eun terlihat bingung dan berfikir. Tapi, ia langsung menepis kecurigaan yang ia pikirkan kemudian berusaha berdiri dan ingin segera menyegarkan tubuhnya dengan mandi.

 

***

 

Ji Eun sudah selesai mandi dan memakai pakaian yang diberikan oleh Yoo Mi. T-shirt putih panjang dan celana jeans yang membuat Ji Eun lebih casual dan nyaman.

 

“Luhan dimana?” tanya Ji Eun yang menghampiri Yoo Mi di meja kasir dan langsung duduk di kursi berhadapan dengan Yoo Mi.

 

“Luhan? Dia pulang dan mandi dulu tadi..”

 

“Pulang? Apa maksudnya?”

 

“Kau tidak tahu? Sepertinya Luhan semalaman disini bersamamu..”

 

Ji Eun terlihat terkejut mendengar pernyataan Yoo Mi barusan. Tiba-tiba, bel dipintu butik Ji Eun pun berbunyi. Pandangan Ji Eun dan Yoo Mi pun beralih melihat kearah pintu tersebut.

 

Annyeong haseyo..” sapa orang tersebut yang ternyata Luhan.

 

Ne, kau datang juga..” ucap Yoo Mi.

 

Ji Eun hanya diam menatap Luhan. Luhan pun menatap mata Ji Eun. Akhirnya, Ji Eun pun melangkah

pergi. Ia menuju ke ruangannya. Yoo Mi hanya bisa memandang aneh bos nya itu.

 

***

 

Sajang-nim, kau memanggilku..” ucap Luhan dimuka pintu kepada Ji Eun yang terlihat sedang

mendesain sebuah pakaian diatas meja kerjanya.

 

Eo, masuklah..”

 

Luhan pun masuk dan menutup pintunya. Ia lalu berdiri dihadapan Ji Eun.

 

“Duduklah..” perintah Ji Eun sambil menyingkirkan kertas-keetasnya tadi.

 

Luhan pun duduk di kursi yang berada si depannya.

 

“Semalam kau tidak pulang?” ucap Ji Eun yang terkesan to the point.

 

Luhan sedikit terkejut karena Ji Eun beratanya tetang itu.

 

Aniyo, aku pulang”

 

“Lalu, kau balik lagi?” sambung Ji Eun.

 

Luhan menatap Ji Eun. Ia tidak ingin Ji Eun mengetahui bahwa ia memang kembali tadi malam. Kalau ia mengatakannya, maka Luhan bingung harus memberikan alasan kenapa ia kembali. Ia tidak mungkin berkata bahwa ia tidak bisa tidur karena berfikir terus dengan Ji Eun.

 

Aniyo, aku semalam tidur dirumahku..” dusta Luhan yang terdengar sangat jujur.

 

Geure? Kalau begitu, kembalilah bekerja. Maaf aku bertanya seperti itu..” ucap Ji Eun.

 

Kwaenchanayo..” Luhan tersenyum tipis dan langsung bangkit.

 

“Ah, Luhan-ssi..”

 

Ne?” Luhan mengurungkan niatnya untuk membuka pintu.

 

“Masalah tadi malam, bisakah kau merahasiakannya?” pinta Ji Eun.

 

Luhan terdiam menunggu kelanjutan ucapan Ji Eun.

 

“Dari siapapun, termasuk Shin Ra..”

 

Luhan terlihat ragu untuk langsung menyetujui permintaan Ji Eun barusan.

 

Ne, aku akan kurahasiakan..” ucap Luhan.

 

Gumawoyo” Ji Eun tersenyum.

 

Luhan pun keluar dari ruangan Ji Eun.

 

“Kau ternyata memang kembali semalam..” gumam Ji Eun tiba-tiba.

 

Ya, Ji Eun tahu bahwa ia kembali ke butik semalam.

 

“Lihat tanganmu, kau terus menggerakkannya..” Ji Eun yang selama pembicaraan mereka, hanya

memandangi jari-jari Luhan yang tidak bisa diam.

 

Itulah kebiasaan Luhan jika berbohong. Dan Ji Eun tahu itu.

 

***

 

Malam harinya.

 

Sajang-nim, aku pulang dulu ya..” teriak Yoo Mi yang langsung keluar.

 

Ji Eun pun hanya melambaikan tangannya.

 

“Luhan-ssi, kau sudah selesai?” Ji Eun menghampiri Luhan yang sedang duduk menulis diatas meja kasir.

 

“Sebentar lagi, aku mencatat ini semua terlebih dahulu..” jawab Luhan yang menoleh ke Ji Eun sesaat.

 

“Berhentilah, dan segera pulang. Kau bisa melanjutkannya besok..”

 

Kwaenchanayo. Kau bisa pulang dulu, nanti akan ku kunci butiknya..”ucap Luhan yang tetap menulis.

 

‘Sejak kapan ia jadi rajin..?’ batin Ji Eun.

 

Ji Eun lalu mengambil tasnya yang dikursi. Ia lalu berbalik seakan ingin meninggalkan Luhan. Tapi, Ji

Eun terdiam. Ia tidak bergerak maupun melangkah. Ji Eun kembali berbalik dan menoleh kearah Luhan.

 

“Luhan-ssi, bisakah aku pulang bersamamu..?”

 

Luhan lalu mendongakkan kepalanya menatap Ji Eun. Luhan lalu melihat kearah luar toko. Terlihat sangat gelap dan menyeramkan.

 

Ne..” Luhan tersenyum.

 

Ji Eun pun duduk di kursi yang berhadapan dengan Luhan.

 

***

 

“Seharusnya, aku yang mengantarmu dulu..” ucap Luhan yang sudah turun dari mobil.

 

“Tak apa, dari sinikan sudah dekat dari rumahku..” ucap Ji Eun melalui jendela mobilnya.

 

“Walaupun begitu..”

 

“Aku pulang dulu..” Ji Eun pun menutup kaca mobilnya dan langsung menancapkan gas mobilnya.

 

***

 

“Kenapa rumah kosong..?” gumam Ji Eun memasuki rumahnya.

 

“Bibi..” teriak Ji Eun yang terlihat memanggil bibinya.

 

Tapi, tak ada respon suara yang membalas.

 

“Kemana bibi? Kenapa malam begini belum pulang? Apa ia belanja?” gumam Ji Eun bingung.

 

Ji Eun pun memutuskan naik ke kamarnya dan segera menyegarkan tubuhnya dengan mandi.

 

***

 

Selesai mandi, Ji Eun pun segera menyambar kulkas dan segera mengambil susu dan beberapa jenis buah yang sudah dipotong-potong berada diatas piring. Ji Eun lalu duduk diatas meja makannya. Kemudian ia melihat ke layar ponselnya.

 

Terlihat Ji Eun tersenyum melihat percakapan grupnya yang tentunya adalah sahabat-sahabatnya. Ji Eun terlihat sangat exited melihat percakapan mereka. Ji Eun tiba-tiba terlihat bingung ketika melihat sebuah kalimat.

 

‘Hei, Lee Ji Eun. Kau dimana..? Apa percakapan ini bisa sampai di Paris..?’

 

Ji Eun lalu melihat siapa yang mengirimkan pesan tersebut. Seperti yang di duga, itu adalah Luhan.

 

‘Hei, kenapa kau tidak balas..?’

 

Pesan masuk lagi. Sahabat-sahabat Ji Eun yang lain yang berada di berbagai tempat pun hanya bisa

menahan tawanya melihat pesan Luhan.

 

‘Waahh, Luhan kita merindukan Ji Eun kita.. Kekeke..’ pesan Shin Ra yang sedang tiduran dikamarnya.

 

‘Luhan..Luhan.. Kau menunggu Ji Eun ya..?’ pesan Chanyeol yang sedang menidurkan salah satu anaknya.

 

‘Haruskah kita meninggalkan mereka berdua..? Hahaha..’ pesan Nam Ji yang sedang duduk lengkap dengan pakain dokternya diruangannya.

 

‘Nam Ji benar, ayo kita tinggal mereka saja..’ pesan Suho yang sedang duduk menonton televisi di rumahnya.

 

‘Kajja, ayo kita pergi.. Luhan-ah fighting.. Ji Eun-ah, jaga dirimu.. Kekeke..’ pesan dari Kai yang masih duduk di bangku kerjanya.

 

Ji Eun hanya bisa membuka mulutnya lebar-lebar setelah melihat pesan dari sahabat-sahabatnya yang terlihat begitu kompak mengerjainya.

 

Mwoya? Mereka benar-benar menonaktifkannya” gumam Ji Eun setelah melihat sahabat-sahabatnya sudah tidak aktif lagi kecuali Luhan.

 

Tak berbeda dengan Ji Eun, Luhan pun tidak mengerti melihat pesan sahabat-sahabatnya tersebut.

 

“Apa yang sedang mereka lakukan?” gumam Luhan.

 

Ji Eun hanya bisa memandangi layar ponselnya.

 

‘Hei, Lee Ji Eun.. Kau masih disana kan..?’ pesan Luhan tiba-tiba masuk.

 

Ji Eun terlihat sedikit kaget melihat Luhan memeberikan pesan ketiganya.

 

Eo, aku masih disini..’ Ji Eun membalas pesannya.

 

‘Kau dimana? Apakah ini sampai di Paris?’

 

Ani, aku ada di Korea..’ Ji Eun membalasnya seakan akan terus terang kepada Luhan.

 

JINJJA..??!! Hei, kau dimana? Kenapa tidak menemui kami?’ Luhan membelalakan matanya melihat balasan Ji Eun.

 

‘Kenapa kau terlihat sangat terkejut? Wae? Kau merindukanku?’

 

Geure, aku sangat merindukanmu, sangat.. Jadi, dimana kau? Seoul?’

 

Deg.. Jantung Ji Eun seperti mendapat hentakan tepat saat ia membaca pesan Luhan yang mengatakan

bahwa Luhan merindukannya. Ji Eun hanya memandangi pesan tersebut sambil tersenyum senang.

 

‘Hei, kau tidur? Kau dimana? Apa jauh? Aku akan kesana jika kau tidak sempat..’ balas Luhan lagi yang terlihat tidak sabar menanti jawaban Ji Eun.

 

Ani, aku ada di Seoul..’

 

‘Ji Eun-ah, kenapa kau tidak bilang? Apa mereka sudah bertemu denganmu..?’

 

Eo, sudah..’ Ji Eun yang terlihat tidak ingin merahasiakannya lagi.

 

Rasanya saat ini juga ia akan bilang bahwa Eun Ji yang ia kenal adalah Lee Ji Eun sahabatnya.

 

‘Kau membuatku seperti sahabat yang jahat, ayo kita bertemu..’

 

‘Baiklah, akan kukabarkan kepada mereka..’

 

Hajima..’ balas Luhan cepat.

 

Eo? Apa maksudmu?’

 

‘Kita berdua saja, hanya kita’

 

Ji Eun sedikit terkejut melihat balasan Luhan lagi. Ia tidak percaya Luhan hanya ingin berdua dengannya.

 

Jinjja? Wae?

 

Geunyang…mwo..

 

Geure, hanya kita berdua, eodiro?’

 

‘Tempat yang bisa kau datangi, aku akan kesana..’

 

‘Kalau di kedai soju di daerah wachun?’

 

‘Baiklah, aku akan menunggumu jam 1’

 

‘Aku akan pakai baju berwarna peach dan celana jeans..’

 

‘Hei, kau fikir aku tidak akan mengenalimu..?’

 

‘Siapa tahu..’

 

‘Kirimkan nomormu..’

 

Ji Eun lalu mengirimkan nomornya kepada Luhan.

 

‘selamat malam, Ji Eun-ah..’ Luhan mengakhirinya.

 

“Mungkin besok Luhan akan menyadarinya..” gumam Ji Eun yang terdengar semangat.

 

Ji Eun lalu mendegar suara mobil bibinya baru pulang.

 

“Bibi, kenapa lama sekali pulangnya?” tanya Ji Eun yang langsung menghampiri bibinya yang baru saja masuk.

 

Eo? Ada urusan..”

 

“Apa jangan-jangan bibi mempunyai kekasih..?”

 

Bibinya terlihat tersipu dan tidak bisa mengelak.

 

“Jadi benar? Wahh, selamat bibi..” Ji Eun memeluk bibinya.

 

Gumawo, Ji Eun-ah.. Cepatlah tidur ini sudah larut..”

 

***

 

Prang….

 

Terdengar suara benda pecah tiba-tiba. Luhan pun terbangun. Ia mengucek matanya karena memang

masih sangat mengantuk. Tentu saja, ini masih jam 1 malam dan ia baru sekitar 3 jam menutup matanya yang sudah satu hari ini terbuka. Luhan pun keluar dari kamarnya.

 

Ia berusaha membuka matanya dengan lebar untuk melihat suara apa itu. Ia berfikir itu pasti tikus. Ia langsung berjalan menuju kearah dapur yang tak jauh, hanya beberapa langkah saja. Dan mata Luhan kali ini sukses terbelalak melihat adiknya tergelat dengan gelas pecah di sampingnya.

 

“Seol Hyun-ah..!!!” pekik Luhan sambil menghampiri tubuh Seol Hyun yang sudah tergeletak tak berdaya.

 

“Seol Hyun-ah..Seol Hyun-ah.. Bangunlah.. Seol Hyun-ah..!!” ucapnya sambil mengguncang tubuh Seol

Hyun sembari menepuk-nepuk wajah Seol Hyun.

 

Tapi, Seol Hyun sudah tak sadarkan diri. Luhan terlihat sangat panik. Ia terlihat juga tak bisa mengatur nafasnya dengan baik.

 

“Badanmu sangat panas…” gumam Luhan setelah memegang dahi Seol Hyun.

 

Terlihat memang wajah Seol Hyun pucat. Luhan lalu mengangkat Seol Hyun dan meletakkannya di

punggungnya. Ia langsung berlari menuju keluar rumahnya tanpa menguncinya.

 

 

***

 

 

Luhan sudah berada di jalan besar ia terlihat bingung mengambil jalan yang sebelah kiri atau yang kanan. Mulutnya terus berucap nama Seol Hyun.

 

“Seol Hyun-ah, sadarlah.. Seol Hyun-ah..” itu yang diucapkannya berkali-kali.

 

Luhan akhirnya berlari kearah kiri.

 

 

***

 

Luhan lalu berhenti di depan sebuah rumah. Dan ternyata adalah rumah Ji Eun. Luhan langsung

menekan bel yang yang berada di samping pagar.

 

Sedangkan di dalam rumah, Ji Eun menuruni tangga dengan mata setengah tertutup. Bibinya pun keluar dari kamarnya yang berada di lantai 1.

 

“Siapa yang datang tengah malam seperti ini? Sangat tidak sopan..” gumam bibinya yang masih setengah sadar.

 

“Tidurlah bibi, biar aku saja yang melihatnya..”

 

Geure..”

 

Ji Eun pun menuju interkom rumahnya.

 

Nuguseyo?” ucap Ji Eun tetap ketika menekan sebuah tombol di interkomnya.

 

“Ji Eun-ssi, tolong aku.. Ji Eun-ssi..”

 

Mata Ji Eun langsung terbuka lebar ketika mendengar suara yang sangat ia kenal.

 

“Luhan-ssi, wae iraeyo? Ada apa?” Ji Eun yang ikut-ikutan panik mendengar Luhan.

 

“Tolonglah aku, jebal..” Luhan terlihat hanya bisa mengucapkan kata-kata tersebut, ia tidak bisa menceritakannya sekarang.

 

Arassoyo, tunggu disitu..” Ji Eun langsung mematikan saluran interkomnya. Ia berlari mengambil jaketnya yang memang sudah tergeletak di sofa.

 

***

 

“Luhan-ssi..” panggil Ji Eun ketika membuka pagarnya.

 

“Kenapa dengan Seol Hyun?” Ji Eun terlihat terkejut melihat Luhan sedang menggendong Seol Hyun.

 

“Dia sepertinya sakit, bisakah aku meminjam mobilmu untuk kerumah sakit?” Luhan yang terdengar

sangat panik.

 

“Tentu saja, tunggu disini..” Ji Eun langsung berlari kedalam.

 

***

 

“Luhan-ssi, ayo masuk..” Ji Eun yang sudah siap di kursi kemudi. Luhan lalu masuk dengan meletakkan tubuh Seol Hyun terlebih dahulu kemudian ia disampingnya.

 

Ji Eun langsung menancap gas mobilnya. Ji Eun lalu mengambil smart phone-nya.

 

“Nam Ji-ya.. Kau dimana? Apa di rumah sakit?”

 

***

 

Luhan terduduk di kursi tunggu dengan wajah menunduk. Ji Eun berdiri sembari melihat Luhan. Ji Eun tiba-tiba teringat kejadian seperti ini pernah terjadi.

 

Flashback On>>

 

Ji Eun berlari di koridor rumah sakit. Langkahnya langsung terhenti ketika melihat sahabat-sahabatnya sedang duduk di kursi tunggu dan ada juga yang berdiri.

 

“Bagaimana ini bisa terjadi? Sebenarnya seperti apa kejadiannya..” tanya Ji Eun.

 

“Aku juga tidak begitu tahu, tapi sepertinya Seol Hyun dipukuli ayahnya. Terlihat dari wajahnya yang sedikit babak belur” jawab Suho.

 

“lagi?” pekik Ji Eun.

 

Geurhoge, ayah macam apa itu..” ucap Kai yang ikut terbawa emosi.

 

Yeon Ji sedikit menarik pakaian Kai mengisyaratkan seakan jangan bicara seperti itu di depan Luhan.

Mata Ji Eun pun beralih menatap Luhan. Kepalanya terdunduk. Ji Eun lalu duduk di sampingnya.

 

“Seol Hyun kwaenchanal-geoya..” ucap Ji Eun.

 

Luhan menatap Ji Eun. Ji Eun pun tersenyum berusaha menepis rasa panik Luhan.

 

Flashback Off<<

 

Melihat Luhan seperti sekarang, keadaannya sama persis sama kejadian itu. Ji Eun lalu duduk di samping Luhan.

 

Seol Hyun kwaenchanal-geoya..” ucap Ji Eun persis seperti yang pernah ia ucapkan dulu.

 

Luhan lalu menatapnya. Lagi-lagi Ji Eun tersenyum sama seperti dulu.

 

Gumawo..” ucap Luhan tersenyum.

 

Luhan lalu kembali menundukkan kepalanya. Tiba-tiba Luhan sedikit mendongak ia mengingat kata-kata yang diucapkan Ji Eun barusan. Dan tanpa sadar pula tadi ia mengucapkan terima kasih dengan bahasa informal. Itu karena Ji Eun pun memulainya begitu.

 

“Nam Ji adalah dokter yang hebat kau tidak usah terlalu khawatir..” ucap Ji Eun lagi yang membuat

Luhan menatapnya.

 

***

 

“Luhan-ah, apa Seol Hyun sekarang sedang dalam masa hiatus..?” tanya Nam Ji yang sedang duduk di mejanya, Luhan dan Ji Eun berada di hadapanya.

 

“Sepertinya tidak, setahuku ia akan ujian 4 bulan lagi. Wae? Apa parah?”

 

“Dia sangat lemah, dia terkena anemia. Kurang makan, terlalu banyak pikiran dan tadi dia sudah terkena usus buntu. Aku sudah mengoperasinya jadi kau jangan terlalu khawatir, dia akan baik-baik saja setelah melewati malam ini..” ucap Nam Ji sebagai seorang dokter.

 

“Apa maksudmu? Apa dia tidak baik malam ini?”

 

“Aku harus jujur, dia kritis malam ini. Dia akan berada di ICU untuk malam ini, tapi setelah malam ini ia akan baik-baik saja. Aku juga akan terus mengontrolnya..” pesan Nam Ji lagi.

 

Luhan kembali down. Ia tak menyangka kondisi adik tercintanya sebegitu parahnya. Sedangkan Ji Eun pun tak kalah panik dari Luhan setelah mendengar kata-kata dari Nam Ji tentang kondisi Ji Eun

 

***

 

“Ji Eun-ssi, kau pulang saja..” suruh Luhan kepada Ji Eun.

 

Aniyo, aku akan disini..” bantah Ji Eun langsung.

 

“Seol Hyun adalah adikku, dia buk….”

 

Arayo, hanya biarkan saja aku disini..” Ji Eun memotong ucapan Luhan.

 

Luhan pun terdiam setelah mendengar ucapan tegas dari Ji Eun.

 

***

 

“Minumlah..” Ji Eun menyodorkan sekaleng minuman kepada Luhan yang masih duduk di kursi tunggu di depan ICU.

 

Gumawoyo..” Luhan mengambil minuman tersebut dan langsung membukannya.

 

“Ji Eun-ssi..” panggil Luhan tiba-tiba.

 

Ji Eun menoleh kearah Luhan.

 

“Maaf, aku datang ketempatmu tadi. Tadi, aku terlalu panik karena rumahmu lebih dekat makanya aku

kesana. Sekali lagi, aku minta maaf karena merepotkanmu malam-malam seperti ini..” ucap Luhan yang terdengar sangat tulus.

 

Aniyo, aku sangat berterima kasih karena kau datang. Terima kasih kau sudah datang kepadaku..”

 

Luhan sedikit terkejut mendengar jawaban Ji Eun yang tak pernah ia sangka.

 

Waeyo?”

 

“Hanya saja…” Ji Eun menggantungkan kata-katanya.

 

“Aku hanya ingin lebih dekat denganmu, Luhan..” sambung Ji Eun dengan menatap mata Luhan langsung.

 

Luhan pun hanya bisa membalas menatapnya.

 

 

–TBC–

2 pemikiran pada “(보고싶다) I Miss You [Chapter 4]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s