Freaky Girl [6]

freaky girl

Author : alfykmn || Casts : Kim Chanyoung (OC), Secret Cast, Sehun [EXO], Baekhyun [EXO], Luhan [EXO], etc || Genre : Friendship, Life, School-life, Love/Hate, Comedy, AU || Lengrt : Chapter || Rating : Teen

(PS : already post at dreamersradio –fanfiction– dengan berbagai perubahan disini )

.

.

.

.

“Ye! Satu bulan lagi musim semi!” seru pemuda bermata rusa kelewat heboh sampai-sampai ia tanpa sadar melempar blazer yang tadi dia putar-putar di udara.

“Yak!! Xi Luhan!!”

“Ups! Sorry!” seru pemuda tersebut –Xi Luhan atau panggil saja Luhan keras sembari mengangkat tinggi-tinggi kedua jarinya yang dibentuk ‘v’ agar entah siapa yang terkena blazernya itu bisa melihatnya. Padahal jelas-jelas korban kena blazernya itu tidak bisa melihat tanda ‘v’ Luhan akibat terhalangi blazer Luhan yang menutupi wajahnya. Dasar Luhan luhan ckck-_-v

“Oh, aigo! Chanyoung-ah, gwaechanayo?” Yang bersangkutan namanya disebut –Chanyoung mengangguk yakin setelah kepalanya terlepas dari jeratan blazer yang sudah dipastikan milik Luhan itu.

“Kyungsoo, kau tidak perlu begitu khawatir seperti ini. Sudah sekitar 4 atau 5 bulan berlalu, pasti jahitannya sudah cukup kering jadi-”

“Tapi Chanyoung-ah…..”Kyungsoo mulai menggigiti ujung kuku-kukunya membuatnya hanya bisa terkikik. Kyungsoo mulai lagi, batinnya.

Kyungsoo memang jarang bicara kecuali saat menceramahi teman-temannya atau sikap keibuan muncul. Chanyoung sendiri bingung, sebenarnya antara dia dan Kyungsoo siapa yang wanita –bukan bermaksud menyinggung, tentu saja Chanyoung tetaplah perempuan apapun yang terjadi tapi sifat respect garis miring manusiawi Kyungsoo benar-benar mengalahkan sifat respect gadis tersebut.

“Chanyoung benar, Kyungsoo-ah. Lihat ini,” Tiba-tiba pemuda jangkung yang sedaritadi diam dan hanya berada di pinggir sebagai pentolan –atau sebut saja tiang penjaga muncul di sebelah sebelah gadis berambut pendek itu. Jari-jari tangannya baru saja mau menyentuh bahunya tapi lompatan Chanyoung ke belakang punggung Kyungsoo menahan itu semua.

Mata kecil pemuda tersebut sedikit membesar –meskipun begitu wajahnya tetap datar, tak berekspresi. “O-oh, refleksimu berlebihan sekali,” katanya. “Kau mulai tertular Luhan rupanya….”

“Lihat sendiri!” Tiba-tiba Kyungsoo mengeluarkan suara tingginya –sama sekali tidak peduli posisi Chanyoung yang dekat dengannya. “Katamu kalau tidak sakit harusnya tidak usah mencegah. Kamu memang tidak mencegah tapi berkelit!” lanjutnya.

“I-itu hanya refleks….” sahut Chanyoung cukup panik sekaligus kaget. Tentu saja telinganya masih cukup berdengung mendengar jeritan live itu.

“Kau sendiri tau kan kalau Sehun menunjuk atau sekedar mencolek orang dengan kuku jarinya yang tajam itu. Pasti sakit!” lanjutnya bertambah panik –terlihat jelas dari gerak-gerik tubuhnya– mengingat sekali sikap keibuan Kyungsoo muncul, dia pasti sensitif dan mudah ngambek.

Sementara di sisi lain, Kyungsoo yang bersatu dengan ngambek bukanlah hal baik.

Sehun baru membuka mulutnya hanya sekedar untuk mengajukan protes langsung ditatap tajam oleh gadis itu.

Jangan protes!! Pikirkan agar Kyungsoo tidak ngambek!

“Kalau kau tidak percaya. Pegang saja lukaku. Tapi jangan memakai kuku seperti Sehun,” Kyungsoo menatap ragu Chanyoung dengan matanya yang mulai berkaca-kaca. Chanyoung semakin panik. Saking paniknya, dia menyalurkannya ke rambut dengan menjambaknya dan berharap rasa paniknya berkurang setelah ini.

“Benar? Tidak apa-apa?” tanyanya pelan dan Chanyoung mengangguk dengan semangat.

Apapun kulakukan asal kau tidak ngambek z_z

TEK…

“Tidak sakit kan?” Chanyoung melongo parah dan mengangguk pelan.

Benar tidak sakit! Puahahahaha! Aku sudah sembuh! Seorang Kim Chanyoung sudah kembali pu-

“Hey hey! Ada apa ini? Kyungsoo-ah? Kau kenapa? Hey! Apa yang kalian lakukan pada Kyungsooku?” cerocos Luhan tiba-tiba nimbrung dengan menerobos pasangan Kyung-young ini sembari menggenggam tangan Kyungsoo. Saat itu juga Sehun mendengus pelan sebelum melipat kedua lengannya di depan dada.

“Oh ya ampun Luhan, kau begitu berlebihan dan……,” Chanyoung menoleh ke arah Kyungsoo menunjukkan ekspresi tak mau disentuh dan Luhan yang masih bersikukuh untuk berdekatan dengannya. “Crack pairing tidak bagus. Tidak ada semenya. Dan kupikir Sehun cemburu,” lanjutnya.

Luhan mengalihkan pandangannya ke arah Sehun sementara itu Sehun hanya mendelik sebagai respon.

“Sehun-ya~~~~Jangan cemburu ne ne ne ne? Aku tetap milikmu kok….”

“Sialan-_- Luhan! Aku masih normal!!” seru pemuda tersebut bergidik ngeri dengan tatapan jijik membuat Chen, Luhan, Kyungsoo, dan bahkan Chanyoung tertawa.

“Huah, Kyungsoo-ah~~~” rengek Chanyoung tiba-tiba langsung memeluk Kyungsoo tanpa sebab. Kyungsoo sendiri yang benar-benar anti-wanita –selain Ibunya tentu saja– hanya bisa menunjukkan wajah kepiting rebus –antara marah karena disentuh (lagi), malu disentuh perempuan, atau perasaan campur aduk karena tak bisa memarahinya.

“A-Ada apa?” Gadis itu menggeleng keras tapi masih tetap memeluk Kyungsoo.

“Ah……cuaca hari ini panas sekali ya…..,” Akhirnya Chen mengeluarkan suaranya yang mampu mengalihkan semua atensi mereka ke arahnya dengan berkomentar dan mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah.

“Iya…Padahal masih sebulan musim semi akan datang….,” timpal Luhan mengusap dahinya seperti sedang menghapus keringat.

“Apa kau sedang PMS ya sampai memeluk begitu?” tanya Sehun terdengar seperti errrr….bisa dibilang cemburu kah?

“Bukan begitu,” Chanyoung kembali memberikan adil perhatiannya kepada mereka semua–terutama Sehun. “Hanya terharu dengan perhatian Kyungsoo. Perhatiannya tidak seperti temanku yang lain,” sindirnya seraya mengeratkan pelukannya pada Kyungsoo layaknya koala dengan pohonnya.

“Sudahlah, aku panas dengan akting kalian. Racun King Dramanya Luhan benar-benar parah. Aku pergi saja,” ujar Sehun menyerah tanpa syarat seraya mengibas-ibaskan tangannya lalu beranjak pergi.

YA! OH SEHUN! AKU TADI KESINI IKUT BERKUMPUL DENGAN KALIAN KARENA DAPAT PESAN DARI GURU KESISWAAN!”

“Byun songsaengnim bilang apa?” Sehun yang bertanya lantas menoleh untuk menatap Chen yang tengah mengatur nafas akibat berteriak 2 oktaf lebih.

“Kita disuruh menghadapnya. Aku tebak Baekhyun mengadu soal luka Chanyoung.”

Rahang Sehun mengeras. Ia pun merapatkan blazernya sebelum mendesis keras. “Anak itu benar-benar…”

“E-eh, aku salah bicara…..”

“Ayo kita ke ruang kesiswaan. Bukankah habis ini akan ada pelajaran membosankan? Momen yang pas sekali,” ujar Sehun berusaha menahan emosinya sebisa mungkin dengan menyunggingkan senyum lebar –yang hampir menyeringai– tapi teman-temannya masih bergeming dengan tatapan menerawang kecuali Chanyoung. Chanyoung hanya bisa menatap lurus dengan tatapan kosong.

Tidak seperti biasanya

“HEY!” serunya keras membuat keempat temannya terlonjak kaget –bahkan Luhan sedikit melompat, Kyungsoo membulatkan matanya yang memang sudah besar, dan Chanyoung menunjukkan ekspresi lemas sambil mengusap dadanya.

“Ah sudahlah. Lagipula hanya ke ruangan itu. Apa karena ada gurunya? Tenang saja. Chanyoung yang biasa masuk sana saja tetap tenang. Benar bukan Kim Chanyoung?”

“E-eh iya,” jawab Chanyoung terbata-bata. Mendengarnya Sehun hanya menghela nafas berat. Ia memutar kepalanya ke depan lagi dan merajut langkah dengan sepasang tungkainya.

“Kalian juga ikut jalan jangan diam saja,” ujarnya tanpa mengalihkan pandangannya ke belakang. Ia pun mengulum senyum tipis saat mendengar suara langkah kaki beriringan di belakang punggungnya.

“Sehun-ah…,” panggil seseorang dari sisi kanan Sehun. Pemuda itu sudah tau si pemilik suara hanya menoleh ke kanan tanpa memperlambat langkahnya yang terbilang cepat.

“Aku tau perasaanmu,” Sehun menghela nafas panjang, terutama saat melihat raut wajah serius Luhan yang jarang ditunjukkan itu.

“Kau tidak meng–”

“Aku mengerti. Sangat mengerti. Begini-begini aku lebih tua beberapa bulan darimu hm?”

“……”

“Kim Chanyoung kita sudah dewasa. Sudah waktunya dia lebih dekat dengan pemuda lain –entah salah satu dari kita atau benar-benar pemuda lain. Jangan mencegah atau menghalanginya begitu.”

“Tapi, aku–”

“Aku mengerti. Tapi tetap biarkan dia bebas ya? Kalau kau memang ingin mencekalnya, kau harus dapatkan hatinya lalu nyatakan perasaanmu itu.”

Sehun tampak tercengah tapi ia tak menunjukkan seluruh ekspresinya. Luhan yang sudah mengenalnya dari kecil bisa memakluminya dengan mengulum senyum.

“Aku kembali dulu,” Luhan menepuk-nepuk punggung pemuda yang lebih tinggi darinya itu sebelum kembali berjalan mundur ke posisinya.

“Kim Chanyoung kita sudah dewasa. Sudah waktunya dia dekat dengan pria lain selain kita….”

“Hng….Xi Luhan, kau memang….ada benarnya juga.”

***

“Jadi……Saya mendengar dari Byun Baekhyun dari kelas 2-2 dan–”

“Keponakkanmu.”

“Ya itu benar. Tapi bukankah itu tidak sopan memotong ucapan seseorang yang lebih tua?”

Chanyoung hanya mengangguk acuh tak acuh.

“Baik saya lanjutkan. Jadi…Kudengar kalau kau itu ingin mengadu soal lukamu yang parah itu. Bisa ceritakan kejadiannya?”

“Aku hanya sedang pulang bersama teman-temanku setelah makan malam di kedai pinggir jalan lalu dihadang oleh komplotan anak perempuan yang menggenggam botol soju dan–”

“APA?! Minum soju?! Siapapun komplotan itu, aku akan memarahinya!”

“Dan membawa senjata-”

“APA?! Senjata?! Anak perempuan macam apa mereka?!”

Chanyoung memutar kedua bola matanya sambil mendengus pelan. “Oh ayolah pak, minum dan bermain dengan senjata itu sudah bisa untuk umur kita yang hampir 20 dan siap–”

“Tapi kalian belum lulus sekolah, nak,” potong Baekyon songsaengnim tegas.

“Oh baiklah. Tadi sampai mana? Oh ya, kita melawan mereka. Oke, mungkin karena di geng mereka lebih banyak pria yang lebih mabuk jadi kita kalah tapi beruntung hanya aku yang terluka. Alasan mereka melakukan ini sih katanya sikapku ini membuat yeochin mereka gelisah dan namchin mereka terasa seperti di rebut olehku.”

Baekyon songsaengnim meletakkan pulpennya keras setelah mencatat pengakuan Chanyoung. Terlihat jelas sekali bahwa beliau tengah menahan emosinya agar tetap terlihat berwibawa.

“Harusnya bapak hanya menyuruh saya kesini. Hanya saya yang bersaksi disini sedangkan yang lain hanya diam,” komentar Chanyoung sambil membetulkan blazernya yang sedikit melorot.

“Sudah selesai bukan? Bisakah kita kembali?” tanya Sehun sarkastik.

“Belum, ada satu pertanyaan lagi lalu kalian boleh keluar. Jadi, siapa komplotan yang menyerang kalian?”

“Mereka dari kelas-”

Chanyoung memotong ucapan Chen dengan berteriak riang. “Mereka kakak kelas! Selesai ye!! Ayo kembali ke kelas!”

“Saya serius, Park Chanyoung,” desis Baekyon songsaengnim membuat dampak kepada Chanyoung yang kembali duduk manis dengan raut wajah ‘sialan.margaku.kim.tau.”.

“Saya juga serius loh, pak.”

“Lalu kenapa kamu mengadu kesini jika tidak mau memberitau pelakunya seperti kejadian yang dulu saat pertengkaran satu pihak?”

“Aku kan kesini juga karena di suruh anda,” jawab Chanyoung polos. “Lagipula maksudku dulu sampai sekarang mungkin agar ‘kejahatan’ di sekolah ini menghilang?”

“Selain itu karena Chanyong dulu-”

“Itu bukan alasannya, Kim Jongdae. Mulutmu ini ya….” potong Chanyoung menatap tajam Chen dari sudut matanya.

“Jangan bilang alasan aslimu yang lama itu saat pertama kali masuk masih berlaku sampai sekarang?” Mereka –Luhan, Chen, dan Kyungsoo menggigit bibir bawah mereka, kembali membayangkan 2 tahun yang lalu dimana untuk kedua kalinya keadaan tak layak seorang Kim Chanyoung ditunjukkan di depan hadapan mereka.

Sehun sendiri yang hanya menunjukkan wajah datarnya bukan berarti dia tidak tau alasan yang disinggung kembali oleh Baekyon songsaengnim. Dia hanya sedang mengingat kejadian 1 tahun yang lalu seperti yang lain.

“Ya. Memangnya kenapa pak?” Luhan semakin menggigit keras bibirnya hingga rasa perih mulai terasa. Bahkan Luhan sedikit yakin kalau bibirnya itu mulai berdarah. Jawaban gadis itu memang benar-benar singkat tapi menusuk.

“…….Perlukah saya menelepon walimu?”

“Percuma, kalau bisa anda menghubungi kakak saya. Itu kalau dia masih peduli,” Chen menghentikan aktivitas bodohnya untuk lebih lanjut melukai bibirnya seperti Luhan, dia lebih memilih membungkam mulutnya rapat-rapat.

Kemana Chen yang biasa akan berkata ‘udaranya menjadi dingin ya. Apa karna suasananya?’ atau ‘udaranya panas ya’ seperti biasa untuk mencairkan sedikit suasana?

“Apa ada cara lain?”

“Ada, keluarkan saya dari sekolah ini. Saya permisi dulu.”

“PARK CHANYEOL!” Chanyoung refleks menoleh ke belakang saat mendengar suara Sehun memanggil nama yang dulu selalu menjadi 2 kata yang tabu untuk diucapkan saat dirinya ada maupun tidak ada.

Saking tabunya, Luhan membulatkan matanya dengan wajah shock, Chen semakin merapatkan bibirnya, dan wajah pucat pasih milik Kyungsoo.

“Ah….Sehun are you drunk? Lagipula maaf, dia siapa ya? Namaku ini Park Chanyoung –ah lebih tepatnya Kim Chanyoung bukan Park sialan apa itu,” Sehun hanya menyeringai bukannya menunjukkan wajah khawatir atau bergerak mengejar Chanyoung yang sudah keluar dari ruangan. Dia hanya memandang namja tinggi yang baru keluar dari tempat persembunyiaannya –dibalik pitu ruang administrasi saat Chanyoung pergi.

-TBC-

NB : Tadada~! /ala entah-siapa-itu-mungkin-joy-pas-taeyong-ngerapp-di-be-natural/ /brb ditimpukkin/ aku kembali lagi~! /udah-sibuk-sampe-gak-ngedit-ini-ff-masih-aja-sempet-bikin-kesel/

Abaikan saja diatas, anggap saja itu hanya halusinasi belakang /okezipqaqa. Btw sedih kali udah musim semi di ff ini di koriya sana baru musim dingin, salah timming eaea…..

Btw muahahahahaha ini part kesukaanku!! Part ter-gak jelas sama terseru!! Sekaligus part lets-say-goodbye-to-uri-gloomy-poster dan…..munculnya si secret cast tersayang ((padahal dia bukan bias juga pake sayang-sayang aja))!! Di next part, ada poster/cover baru~lebih ceria, lebih gak jelas, lebih sedap dilihat mata, dan ada secret cast!! ((udah ketahuan juga namanya masih aja pake secret cast, lawak ai. Maapkan daku))

Syudahlah ya, aku gak mau banyak basa-basi yang bikin basi dan gumoh ini. Biarkan para readers bersorak sorak ((terutama yang bisa nebak dari awal secret castnya saking gampangnya HAHAHA)) penuh kemenangan mengetahui salah satu member terganteng di ekso ada disini~((kemudian pada berebutan pengen jadi chanyoung //siapasihyanggakmau.kenamasalahsamabakbikbuknyasihgakHAHAHA)). Okezip, aku tau tulisanku gak bisa kebaca banget ((untuk ini diketik bukan tulis tangan, lebih gak bisa kebacaHAHAH)). Okedech, abaikan saja lagi yang diatas. Sampai jumpa lagi kalian semua~ /kemudian terbang ke kayangan/

5 pemikiran pada “Freaky Girl [6]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s