The Seonsaengnim’s Love Story – So Called Love Story (Yara Chap 8, End)

Title       : The Seonsaengnim’s Love Story – So Called Love Story (End)

Author  : The Seonsaengnim – Han Jangmi

Genre   : Romance, School Life, Comedy

Cast       :

  • Han Yara (oc)
  • Kim Jeon Myeon (Suho – EXO)
  • and others

 

Rating   : PG 15

 

Length  : Chapter

 

Author’s Note:

FF ini juga dipublish di WP pribadi authors, thefantasticseonsaengnim.wordpress.com Authors? Ya, ada 4 authors disini. Dan untuk cerita yang satu ini, Han Jangmi yang menulisnya. Kalian bisa mengunjungi blog kami untuk membaca cerita-cerita lainnya J

 

Serial FF pertama author, mian kalau masih banyak kekurangan karena kesempurnaan hanya milik Tuhan. FF ini murni karangan author. Jika ada alur atau tokoh yang sama, itu merupakan unsur ketidaksengajaan belaka.

DON’T PLAGIAT AND BASH

Comments are really appreciated J

 

So, HAPPY READING…….

 

Chapter 8  – So Called Love Story (End)

Jeonmyeon’s POV

“kita memiliki aturan yang harus dipatuhi, Kim Jeon Myeon. Mengertilah.”

Yara menyebut namaku dengan lengkap. Dia bersungguh-sungguh dengan kata-katanya. Apakah harus berakhir disini? Tidak. Aku tidak akan membiarkannya.

Sudah kukatakan padamu. Diamlah. Dan biarkan aku yang melakukan semuanya. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku.

Dia beranjak dan langsung membalikkan tubuhnya. Kali ini biarlah aku memandangi punggungmu menjauh. kali ini saja. Tidak untuk selanjutnya. Tenangkan dirimu, Yara-ya. Semuanya akan kembali baik, besok.

***

Pikiranku akan Yara menginvasi seluruh bagian otakku, tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk hal lain. Ada yang mengatakan kalau laki-laki menggunakan otaknya dan bukan perasaan, seperti perempuan dalam segala hal. Karena itu, laki-laki cenderung melupakan hal begitu saja. Itulah yang kuharapkan sekarang. Tapi nyatanya? Semua serasa sulit bagiku.

Setelah kejadian sore itu, aku berpikir Yara akan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa ketika di sekolah. Kami akan mengobrol ringan, berbagi bangku di halaman samping sekolah. Tapi tidak. Esoknya, Yara justru mengacuhkanku. Hanya anggukan dan senyuman pendek yang dia berikan untuk merespon sapaanku. Sms-sms yang ku kirim ketika di sekolahpun tidak mendapatkan balasannya. Hari itu aku berusaha berpikir positif dengan berkali-kali mengatakan, “ini sekolah, jaga jarak..” Namun usaha ku ini sia-sia saat ku sadar dia mendiamkan ku tidak hanya di sekolah tapi berlanjut setelahnya.

Begitupun hari ini, dia membatalkan jadwal les kami. Jika sebelumnya aku yang selalu mengingatkannya, hari ini dia mendahuluiku dan mengatakan tidak ada les. Dia membatalkannya dengan alasan klise, “terlalu sibuk mempersiapkan ujian” yang seringnya diucapkan oleh mereka dengan jadwal yang mulai memadat. Tapi tidak dengan Yara-ku, dia tidak akan menelantarkan kewajibannya begitu saja. Jangankan persiapan ujian, pesta pertunangan sahabatnya sendiripun dia letakkan setelah tugas terlaksana. Ada yang berbeda dengannya. Pesannya tidak berhenti disana. Dia juga memintaku untuk tidak sering menghubunginya karena kesibukannya itu dan “fokuslah dengan ujianmu, Jeonmyeon.”

***

 

Ini sudah berhari-hari. Tanganku sudah gatal untuk menekan nomernya. Pesan-pesan yang batal ku kirim, bertumpuk di draft ponselku. Aku merindukannya. Sekolah tak dapat membantuku. Aku hanya dapat melihat wajahnya ketika dia mulai mengajar. 90 menit yang selalu ku tunggu dengan penuh suka dan perih yang turut kurasa dalam menit tersebut. Dia tidak melihatku, tidak menghiraukanku.

Aku kehilangan kemampuan berhitungku, entah hari ke berapa siang itu sejak dia mendiamkanku. Dan ketika akhirnya aku memberanikan diri menelponnya, suara mailbox yang menjawabku. Aku tak tahan lagi.

 

Aku menghentikannya setelah dia mengajar.

“Han seonsaengnim!” panggilku sebelum dia menjauh.

Dia tampak ragu untuk berhenti sampai akhirnya dia berbalik menghadapi ku.

“yes, Kim Jeon Myeon?”

Lagi. Dia memanggilku dengan nama lengkapku. Jantungku kembali berdesir.

“gwaencanayo?”

Dia mengerutkan keningnya dan berbalik hendak pergi.

“jakkamman..” aku menghadang langkahnya. “aku sungguh ingin bertanya tentang ujian nanti.” Alasan yang bagus Jeonmyeon. Sekarang pikirkan apa yang ingin kau tanyakan. “err.. pelajaran apa di hari pertama?” pertanyaan konyol meluncur begitu saja dari mulutku. Padahal jadwal ujian sudah terpampang jelas di tiap mading kelas beberapa hari sebelumnya.

Kembali Yara mengernyitkan keningnya tapi dia tetap menjawab. Begitulah Yara.

“bukankah kau bisa langsung melihatnya di mading kelasmu? Ketua kelas sudah..”

“bogoshippoyo…” aku memotongnya. Kata konyol lain yang meluncur begitu saja.

Yara tidak merespon.

Dia berlalu pergi. Tak mengapa, setidaknya dia melihatku dan tidak mengacuhkanku.

***

 

Jika saja ada kompetisi mencari siapa yang paling lama bertahan setelah diacuhkan, maka aku akan berada diantara para pemenang. Aku masih sempat menghibur diri sendiri walau mengenaskan. Ponsel tak ku lepaskan dari genggamanku. Kabar yang eomma bawa tentang Yara malam ini benar-benar membawaku ke batas tolerir atas semua sikapnya.

Flashback on

“keusilan apa lagi yang kau buat sampai guru les mu mengundurkan diri, Jeonmyeon-a?”

Pertanyaan eomma membuatku tercekat. Ku berhenti menuangkan air ke gelasku. Sel-sel dalam otakku bekerja dengan cepat menerima rangsangan pertanyaan tersebut.

“Kapan dia melakukannya eomma?”

“Sore tadi, Han seonsaengnim datang menemui eomma di kantor. Hm…sebenarnya eomma berharap banyak kepada guru mu ini. Dia guru les terlamamu. Dia masih menjadi wali kelasmu kan? Eomma sempat berpikir, mungkinkah kenakalanmu yang menyebabkannya berhenti. Tapi kami tak pernah lagi menjawab telpon tentang laporan kenakalan mu di sekolah. Dan dia juga mengatakan bukan karena  alasan itu. Dia cukup menyesal tidak bisa membimbingmu di les sampai akhir seperti yang pernah dia janjikan tapi dia akan tetap mengawasimu di sekolah. Apa kau tahu sesuatu tentang itu?”

Flashback off

Lagi-lagi terhubung dengan mailbox. Pesan-pesanku  tidak mendapat respon. Apa sebenarnya yang dipikirkannya.

***

 

“Yara-ssi.. ada yang perlu aku bicarakan denganmu..” ucapku sebelum dia pergi dengan motornya. Akhirnya aku berhasil menghadangnya di parkiran sekolah setelah berkali-kali dia menghindariku.

Dia letakkan kembali helmnya dan memandangku, “apa lagi yang ingin kau bicarakan, Joenmyeon. Pelajaran? Sekolah? Selain dari itu, maaf, aku terburu-buru”

Aku rebut kunci yang sudah tergantung di motornya.

“kenapa kau lakukan ini? Kenapa kau menghindariku? Di kelas, di sekolah, bahkan kau berhenti begitu saja dari les. Kau tidak menjawab telponku. Kau tidak membalas pesan-pesanku. Katakan kenapa?” aku tumpahkan semuanya namun masih tetap dengan akal sehatku ketika mengatakannya.

“Joenmyeon, aku mohon, jangan kekanak-kanakan..”

“aku memang masih anak-anak dan aku sama sekali tidak mengerti denganmu!” nada suaraku tidak lagi bisa ditahan.

……

“ku mohon…” kini dia menunduk, “hentikan perasaanmu kepadaku. Ini tidak benar. Dan kau tahu itu” dia menatapku. Namun aku merasakan ada yang aneh dengan tatapannya kali ini.

“perasaan itu… dia hanya akan merusakmu, bukan hanya pikiranmu tapi juga lahirmu dan juga…. keberadaanmu disini. Masa depanmu masih sangat panjang, Joenmyeon-a.. Aku tidak akan membiarkan hal buruk apapun terjadi padamu”

Aku menggeleng, aku tak bisa terima ini.

“siapa yang kau coba lindungi, Yara-ssi?!” Aku tak lagi bisa menahannya. “Aku tak butuh perlindunganmu! Aku bisa menjaga diriku sendiri. Dengan menghindar seperti ini, kau pikir kau telah melindungiku? Tidak Yara-ssi. Tidak. Kau justru membunuhku perlahan…”

Ku berikan kunci motor yang kurebut darinya dan pergi.

 

Aku tak percaya, kini kau semakin mirip ayahku. Kau memutuskan sesuatu untuk ku tanpa kau bertanya dulu apakah itu hal yang aku inginkan atau tidak, apakah hal itu akan baik untuk ku atau tidak. Aku membencinya.

Lalu kau mencoba melindungiku? Heh..kau membuatku geli. Aku tak pernah memintamu melakukannya. Dan kalaupun ada yang harus dilindungi, itu adalah kau, bukan aku. Akulah yang akan melindungimu. Aaarggh…

***

Yara’s POV

“ Aigoo.. aiish!! Yaa, yara-yaa, kau membuatku kaget saja. Sejak kapan kau berdiri di belakangku seperti ini? Yaa… kenapa bengong saja?”

“eoh, Aini, maafkan aku.” Aku tarik kursi kerjaku dan duduk di sebelahnya.

“hei. Bengong lagi!” kibasan tangan Aini di depan wajahku membawaku  kembali. “apa yang kau pikirkan, ha? Joenmyoen?”

Aku mengangguk perlahan. “Soe seonsaengnim baru saja memanggilku dan menanyakan tentang ketidakhadiran Jeonmyeon kemarin. Hari ini pun setelah aku cek di kelasnya ternyata dia juga tidak ada. Aku sudah mencari di beberapa tempat di sekolah yang mungkin saja dia jadikan tempat untuk membolos, nihil.” Aku menggeleng lemah. “Jeonmyeon-aaa.. kau dimana? Kau semakin membuatku khawatir!”

“Aini-a, kira-kira apa kau tahu dia ada dimana? Atau bagaimana aku bisa menemukannya?”

Aini..kenapa kau diam saja? Ekspresinya berubah. Ekspresi apa-aku-bilang-Yara- nya kembali dia tampakkan. Ekspresi yang sama ketika aku menceritakan teguran Yoon seonsaengnim dan Seo seonsaengnim setelah insiden ku dan Tao. Aku mengerti, maafkan aku Aini, tidak bisa menahan perasaanku. Kau sudah memperingatkanku sejak awal tapi ternyata aku tak bisa menjaganya dan kebablasan seperti ini. Aku justru membuat celaka orang yang ingin aku lindungi.

“ne, arasso. Kau pasti akan bilang, apa aku bilang yara-ya! Ne, aku tahu, aku yang salah.” Aku semakin menundukkan kepalaku.

“Yara-ya.. aku yang minta maaf dengan kata-kataku waktu itu. Tidak seharusnya aku mengatakan hal tersebut padahal aku tahu bagaimana perasaanmu saat itu. Kinipun pastinya perasaanmu sedang sangat kacau.”

“Perasaanku sekarang sudah tidak penting lagi. Aku harus menemukan Jeonmyeon dan membawanya kembali ke sekolah.” Aku pegang tangannya untuk menunjukkan kesungguhanku.

“ara-ara.. Yara-ya..”

Aku sudah melakukan semua cara yang dikatakan Aini bahkan sebelum Aini menyarankannya. Aku sudah mencoba mengirimkannya pesan, menghubungi nomer nya, dia tidak merespon. Teman-teman sekelasnya sama sekali tidak tahu dimana dia berada. Pun aku sudah mendatangi rumahnya.

“Bagaimana dengan Tao, Yara-ya? Bukankah kau pernah bilang kalau mereka sangat dekat.”

“dia bahkan tidak mau melihat wajahku. Dia tidak memberiku salam ketika kami berpapasan di selasar sekolah.”

“apa perlu aku menemanimu untuk bertemu dengannya?”

“tak perlu, Aini. Terima kasih. Lebih baik aku melakukannya sekarang, sebelum jam istrirahat selesai. Aku akan mencarinya.” Aku bangkit dan menggeser kursiku.

“apa kau yakin tidak ingin aku temani, Yara-ya?”

“gwaenchana, gomawo Aini.” Ya, aku bisa melakukannya sendiri.

 

Aku mulai dari ruang kelasnya. Syukurlah aku tidak perlu jauh-jauh mencarinya di tempat lain karena ternyata Tao ada disana, sedang membaringkan kepala di atas bangkunya.

“Nak, bisa kau panggilkan Tao kesini?” Aku meminta salah seorang teman sekelasnya.

“Ne, Han seonsaengnim.”

Terlihat Tao sedikit mendongakkan kepalanya dan  menoleh ke arahku tapi setelah itu dia kembali membaringkannya. Temannya mulai ragu, antara ingin melanjutkan usahanya membangunkannya  dan memandangku dengan tatapan penuh harap aku akan menghentikannya. Aku memanggilnya kembali, mengabulkan harapannya. Jika aku tetap memaksanya, hasilnya tidak akan baik.

Aku berjalan kembali ke ruang guru dengan pikiran penuh dengan rencana untuk membawa Jeonmyeon kembali. Jika tak dapat menggali informasi dari Tao dan teman-temannya di sekolah, keluarga adalah orang yang paling banyak berinteraksi dengannya. Tapi ini Jeonmyeon bukan siswa kebanyakan. Jeonmyeon dengan orang tua super sibuk. Setidaknya aku harus mencobanya dulu. Aku cari nama Nyonya Kim dalam daftar kontak ponselku dan menekannya.

“Yeoboseyo?” Nyonya Kim menjawab panggilanku.

“Yeoboseyo nyonya Kim, Han seonsaengnim imnida..”

“Ne, Han seonsaengnim. Ada yang bisa saya bantu?”

Aku mengatakan alasanku menelponnya. Nyonya Kim cukup terkejut mendengarnya. Dia tidak tahu kalau ternyata Jeonmyeon beberapa hari belakangan ini tidak pergi ke sekolah. Dia berangkat sebelum Jeonmyeon sarapan dan pulang setelah cukup larut. Kini dia menyesal tidak memberikan perhatian yang cukup terhadap putranya. Dia khawatir Jeomyeon akan kembali ke dirinya yang dulu yang tidak mau mendengarkan orang-orang yang sayang dengannya.

“karenanya nyonya Kim, saya mohon bantuan dan pengawasannya apalagi ujian sebentar lagi.”

“Ne, Han seonsaengnim. Terima kasih atas infonya. Dan Han seonsaengnim,” Nyonya Kim  tiba-tiba menghentikan ucapannya.

“Ne, nyonya Kim?”

“Tolong jangan mengabarkan hal ini pada suami saya, karena.. kau tahu bagaimana hubungan diantara keduanya. Ketika Jeonmyeon berubah dan kembali bersekolah saya lihat ayahnya tidak lagi memandangnya sebelah mata. Saya senang dengan perubahan keduanya. Saya khawatir kalau dia tahu akan hal ini, keadaan akan kembali memburuk.”

“Baik, saya mengerti nyonya Kim”

“gumawoyo, Han seonsaengnim.” Kami mengakhiri percakapan.

Seperti yang aku duga, kedua orang tuanya tidak tahu kalau Jeonmyeon  membolos lagi. Semoga saja besok Jeonmyeon kembali ke sekolah.

***

 

“Kim Jeonmyeon tidak masuk lagi seonsaengnim hari ini.” Seru ketua kelas ketika aku  mengabsen mereka.

Murid-murid kini mulai berbisik, membicarakan Jeonmyeon. Mereka menyesalkan Jeonmyeon kembali ke sisi gelapnya disaat-saat krusial. Mulai senin mendatang ujian mereka akan segera dimulai. Semua orang sibuk dengan persiapan dan kekhawatiran mereka masing-masing. Namun tampaknya Jeonmyeon tidak terlalu memusingkan persoalan ini. Jadilah frustasi semakin nyaman berada di dekatku..

***

 

Mungkinkah

Pikiranku berkecamuk melihat anak-anak kelasku banyak bergerombol di bangku Jeonmyeon. Langsung ku buka pintu kelas untuk memastikan sangkaku. Mendengar pintu terbuka, mereka berhamburan kembali ke bangku masing-masing dan memberiku pandangan yang lebih jelas.

Ya, itu Jeonmyeon! Dia kembali!

Aku perlu bicara banyak dengannya. Dia harus menjelaskan sikapnya. Dia perlu diberi pelajaran. Dan… aku merindukannya. Tidak. Ku batalkan langkahku menghampirinya

Ini hari ujian, tinggalkan emosional pribadi, bersikaplah professional layaknya seorang guru.

Ku mulai lafalkan mantra itu. Jantungku berdetak tak beraturan. Lalu, kertas-kertas meluncur mulus dari tanganku saat aku hendak membaginya. Sempurna sudah. Seluruh kelas bisa melihat kecerobohanku. Salah tingkahku ini tidak boleh berketerusan.

Jeonmyeon? Tidak , aku tak boleh menatapnya. Dia lah penyebabnya.

Setelah ku bacakan peraturan ujian, ku biarkan mereka berkonsentrasi dengan pertanyaan-pertanyaan di kertas ujian mereka.

Jeonmyeon?

Kepalaku, kenapa kau terus memanggil namanya? Ough!

Aku merutuki diriku sendiri. Tapi, kali ini aku mempunyai seluruh hak untuk memandanginya. Aku harus mengawasi seluruh peserta ujian. Senyum terkembang tanpa ku sadari di wajahku.

Jeonmyeon?

Dia terlihat baik, tetap mempesona. Soal ujian tidak terlalu banyak memberinya masalah tampaknya. Baguslah.

Dia melihatku! Ku alihkan segera pandanganku. Dia menangkapku sedang memperhatikannya. Oh memalukannya!

***

 

“Han seonsaengnim, selamat. Siswa kelasmu lulus semua dan sebagian besar dari mereka telah diterima di universitas-universitas tujuan mereka”

Soe seonsaengnim memberiku ucapan selamat. Aku tersenyum bangga menanggapinya. Ya, aku pantas berbangga hati karena semua siswaku lulus ujian. Begitupun Jeonmyeon, yang sebelumnya membuat semua orang khawatir, dia membuktikan diri sebagai siswa yang cerdas. Dia termasuk kedalam peringkat dua puluh lima besar di sekolah dan berada di peringkat pertama di kelasnya. Aku yakin dia bisa saja mendapat peringkat lima besar di sekolah kalau dia mau dan bersungguh-sungguh.

“selamat Yara-ya. Tapi, eits jangan senang dulu, setelah ini sekali lagi kau harus memeras tenaga dan pikiranmu untuk mempersiapkan pesta kelulusan sekolah. Kyu menjanjikan sesuatu yang berbeda tahun ini, selain ada malam seni juga akan diadakan bazar.

“jinja, Aini?” Sunye yang berada paling dekat dengan ku dan Aini melompat dari kursinya mendengar kabar tersebut.

“jeongmal, Aini?” Raemun pun kini mendekat ke arah kami.

“Yoon seonsaengnim tidak mengatakan apapun pada ku. Kamu yakin Aini?” Aku pun ikut menanyakan kevalidan kabar tersebut.

“Yaaa, kalian meragukanku?” Aini protes.

“hihihi… Araaa… calon nyonya Cho!” ucap Raemun setengah berbisik kepadanya.

Tawa kami bertiga serta-merta meledak dan Sunye butuh beberapa detik menyusul.

 

Berita yang dibawa Aini hari itu benar-benar terjadi. Kini wali kelas dan guru-guru lainnya disibukkan sekali lagi dengan persiapan pesta dan upacara kelulusan siswa tahun akhir Kyungra high school. Akan ada bazar dari tiap kelas selama dua hari dan malam seni di malam hari terakhir bazar, diikuti upacara kelulusan dua hari setelahnya. Hebatnya lagi, sekolah hanya memberikan kami waktu satu minggu untuk mempersiapkan semuanya.

Sekarang disinilah aku berdiri, di salah satu toko barang antik di tengah-tengah Insadong bersama Jeonmyeon. Ya, bersamanya setelah anak-anak memutuskan Korea through the time, Korea dari waktu ke waktu sebagai tema booth kami di bazar, mereka semua sepakat menunjuk Jeonmyeon sebagai ketua pelaksana proyek ini alih-alih ketua kelas mereka.

Apa  kami baik-baik saja? Ya, kami terlihat baik. Hubungan kami tidak lagi seperti dulu memang, kini bahkan lebih baik. Tampaknya dia mengerti apa yang pernah aku katakan sebelumnya tentang hubungan professional. Dia memanggilku dengan seonsaengnim tak lagi menyebut namaku begitu saja, tidak lagi membantah perkataanku dan kalimat-kalimat yang dia katakan menjadi lebih pendek. Dia menjadi lebih dewasa. Dan aku harusnya senang dengan hal tersebut tapi kenapa aku menjadi sedih seperti ini.

Sudah cukup lama kami berada di toko ini. Cukup lama pula aku memandangi foto-foto lama kota Seoul, bingung memutuskan untuk membeli yang mana. Jika Jeonmyeon yang dulu dia pasti akan merecoki pilihanku tapi setidaknya kami akan saling berdiskusi dan memutuskan lebih cepat. Tidak seperti sekarang, dia sedang memperhatikan barang di sisi lain toko.

Haruskah aku yang pertama kali menghampirinya?

Ego mencegat kakiku.

Tidak, tidak boleh seperti ini. It will end up nowhere.

Ku hampiri dia. “ada yang menarik?”

“Anda sudah selesai?”

Anda?

DEG

“A- Aku bingung memutuskan foto mana yang akan ku ambil untuk dipajang di booth kita.” Aku tergagap. Aku tunjukkan beberapa foto lama yang sudah ku pegang sedari tadi.

“ambil saja semuanya.” Ucapnya tanpa memandang foto-foto yang ku tunjukkan.

Aku terkesiap. Sungguh. Aku tak pernah melihat Jeonmyeon yang seperti ini.

Dia keluar dari toko. Aku pun segera berjalan ke arah kasir.

Dia berjalan di depan ku setelah melihatku keluar dari toko. Selain foto yang baru saja aku beli, kami sudah memasukkan beberapa barang antik lain ke dalam kantong belanja kami. Sebenarnya itu semua sudah cukup tapi berada di pasar dengan toko-toko memamerkan berbagai barang antik di kanan-kiri seperti ini adalah kali pertama untuk ku. Aku terus saja berdecak kagum dan berhenti beberapa saat di depan etalase toko kemudian harus sedikit berlari kecil mengejar Jeonmyeon yang tidak mau berhenti.

Sampai aku mendapati sebuah toko buku bekas. Aku langsung masuk ke toko tersebut tidak lagi memandang dari luar. Ada sekitar lima rak di toko ini. Mereka berdiri di tiga sisi ruangan, dua rak berderet di satu sisi berhadapan dengan dua rak lainnya di sisi mukanya sedang satu rak yang lain berdiri di sisi diantara mereka. Semua rak tersebut menghadap lurus ke meja di  bagian tengah toko. Buku-buku tertumpuk dengan rapi di tiap rak dan meja tersebut. Aku kembali berdecak kagum. Judul-judul buku mereka sungguh bervariasi, dari pengarang baru sampai yang melegenda.

Aku menghentikan gerakan tanganku pada punggung-punggung buku yang berderet bersesakan, tampaknya pemilik toko harus menambah rak untuk mengurangi jejal buku mereka. Aku menemukannya. The Old Man and The Sea, karya Ernest Hemingway, terbitan kedua. Waah, hebat. Buku yang sudah lama ku cari. Dia berada di rak atas yang tingginya melebihi kepalaku meskipun masih dalam jangkauanku. Aku mencoba mengambilnya dengan satu tanganku. Buku itu tak mau bergeming. Aku melihat sekeliling, aku tidak menemukan penjaga toko di dalam, dia sedang sibuk menjelaskan sesuatu kepada pembeli di luar. Okay, sekali lagi. Aku memasang kuda-kuda, tas tangan yang ku bawa, ku selemapangkan dengan mantap. Ku julurkan kedua lenganku ke atas dan mulai menariknya. Sekali, dua kali, berhasil, buku itu mulai bergerak.

“Hana, dul, seeeet…”

Aku tersenyum puas, aku men..

“YARA YAAAA!!!”

Bruk-bruk-bruk……

Buku-buku berjatuhan dari rak tapi tak satupun mengenaiku. Ternyata posisiku sekarang sudah sedikit membungkuk, dan Jeonmyeon memelukku, menghadang jatuhan buku itu menyentuhku.

Bugh..

Rak buku itu menimpanya, membuatnya semakin menimpa tubuhku dan memelukku semakin erat.

“Jeonmyeon!! Bertahanlah! Tolong!” aku berteriak panik.

Orang-orang mulai berdatangan dan membantu kami.

“Kau tak apa, jeonmyeon-a?” aku bertanya cemas segera setelah rak buku yang menimpanya dipindahkan.

“kita harus menuntut pemilik toko!” bukannya menjawabku, dia malah meracau dan menarik tanganku .

“kalian berdua baik-baik saja? Apa perlu aku panggilkan dokter untuk memeriksa kalian?” pemilik toko pun juga terlihat sama khawatirnya denganku.

Belum sempat aku menjawab, Jeonmyeon sudah berteriak padanya.

“Ahjussi, kami harus menuntut anda. Bagaimana anda masih tetap menggunakan rak buku yang sudah lapuk untuk semua buku-buku itu. Sekarang mungkin kami baik-baik saja tapi lain kali, pengunjung yang lain mungkin tidak akan seberuntung kami.”

Wajah pemilik toko semakin panik.

“maaf ahjussi sudah membuat toko mu berantakan. Kami tidak akan menuntut anda, karena aku…” belum sempat aku menengahi, Jeonmyeon menarik keras tanganku. Tanda untukku tidak melanjutkan apa pun yang ingin aku katakan pada ahjussi itu.

“kalau anda masih tetap menggunakan rak-rak lapuk ini, aku..”

“Maafkan kami. Maaf. Maaf…” aku langsung menarik lengan Jeonmyeon dan membawanya keluar toko sambil membungkuk pendek kepada ahjussi itu dan orang-orang disana.

“Yaa, apa maksudmu. Aku belum selesai berurusan dengan ahjussi itu.”

“Sudah-sudah Jeonmyeon-a. Ayo, kita harus memeriksa punggungmu.” Aku tuntun dia menjauh dari toko tersebut dan mencari tempat nyaman untuk kami duduk.

“kau tunggu disini” ucapku seraya melepaskan genggamannya setelah kami menemukan tempat yang cukup rindang dan jauh dari toko buku tadi.

“kau mau kemana lagi?” dia kembali menarik tanganku .

“aku akan mencari minuman di toko sana” dia pun melepaskanku.

 

“ini minumlah.”

Aku sodorkan satu botol air mineral dingin. Dia lalu menegaknya dan meletakkannya di pundak sebagai kompres.

Dari caranya berusaha menggerakkan bahu dan duduk tegak, terlihat begitu menyakitkan. Aku perlu melihat lukanya. “coba aku lihat punggungmu.”

“disini? Di tengah jalan seperti ini?” dia mendongak, memandangku dari posisi duduknya tak percaya.

“aku harus mengoleskan salep ini untuk mengurangi memarmu, Jeonmyeon.” Aku tunjukkan salep pereda nyeri yang baru saja aku beli bersama air mineralnya.

“tidak-tidak terima kasih. Kau tak boleh melakukannya padaku disini, dan lagi aku bisa melakukannya sendiri di rumah nanti.”

“apa kau malu membuka bajumu disini, Jeonmyeon?”

Aku menggodanya. Anak laki-laki biasanya mudah sekali melakukannya, bertelanjang dada dimanapun dia mau.

“mwo? Aiish, kau benar-benar.”

“setidaknya biarkan aku melihat pundakmu.”

Setengah memaksa, aku menundukkan dia dan  sedikit menarik kerah kaosnya ke bawah untuk melilhat bagian pundaknya. Semburat biru tampak disana dan besok aku yakin area tersebut akan  mulai berwarna ungu dan terasa lebih sakit lagi. Hatiku terenyuh melihatnya. Kini dia mulai meringis menahan sakit karena usapan yang kulakukan disana.

“lihat, kedua pundakmu saja se-memar ini apalagi punggungmu!”

“Ani, Yara-ya. Aku baik-baik saja. Aku bisa melakukannya sendiri nanti.” Dia tetap menolak untuk ku olesi punggungnya dengan salep.

Aku tidak bisa memaksanya lagi. Aku pun duduk di sebelahnya memandang lurus ke depan menembus orang-orang yang berlalu-lalang.

“aku lah yang salah di toko tadi. Jika saja aku tidak memaksakan diriku untuk mengambil buku itu sendiri dan justru meminta bantuan penjaga toko disana, pasti tidak akan terjadi keributan  itu dan kaupun tidak akan terluka seperti ini.”

“ahjussi pemilik toko yang salah. Tidak seharusnya dia masih menggunakan rak-rak lapuk untuk semua koleksi bukunya. Dan harusnya kau tak menahanku  tadi untuk menuntutnya.”

“kau tak perlu sampai sejauh itu, Jeonmyeon.”

Suasana kemudian hening, tidak ada yang mau memulai percakapan. Aku tiba-tiba kehilangan topik dan semua pertanyaan yang sebelumnya sangat ingin aku tanyakan pergi tak membekas di kepalaku. Jeonmyeon, entah apa yang sedang dia pikirkan sekarang.

“sebaiknya kita pulang saja” Aku berdiri dan membersihkan rok ku.

“sudah cukup belanjanya?” Jeonmyeon memandang ke arah ku lalu ke barang belanjaan kami.

“Ne, gaja.” Memar di punggungnya harus segera diobati, kita harus segera pulang dan lagi rasanya kita sudah mendapatkan semua yang kita butuhkan untuk bazar tersebut.

“gaja.” Dia ikut berdiri dan membawa kantong belanja dengan tangan kanannya, lalu menggenggam tanganku dengan tangan kirinya.

“kenapa?” dia tahu aku tak beranjak dari tempatku. “aku harus melakukannya kalau tidak sekali lagi kau akan menghilang dari sisiku.”

Aku tidak lagi bisa menoleh kanan kiri, menghampiri tiap toko yang kami lewati. Pandanganku hanya tertuju ke depan dan sesekali-dua kali melirik tanganku yang tergenggam itu. Jantungku terasa mau melompat keluar, dentumannya terlampau keras. Dia terus menggenggamku sampai kami tiba di mobilnya.

***

Author’s POV

Dua hari pelaksanaan bazar di Kyungra High School berlangsung meriah. Masing-masing booth yang mewakili tiap kelas berusaha menarik para pengunjung ke tempatnya. Tidak ketinggalan booth kelas Yara.  Berbagai tawaran diberikan pada pengunjung, barang-barang display tersusun dengan rapi. Hasilnya booth mereka tidak pernah sepi pengunjung.

Hari terakhir, seperti yang diumumkan sekolah diadakan pula malam seni. Siapapun dapat menunjukkan keahlian seni mereka baik itu siswa maupun guru, baik itu individu maupun grup. Semua orang menyambut baik acara ini. Para penampil pun sudah berlatih untuk malam tersebut.

Yara, Sunye, Aini dan Rae turut sibuk mempersiapkan malam ini karena mereka termasuk panitia acara tersebut. Kini keempatnya sedang bercengkrama, sambil menikmati teh hangat dan sedikit melepas lelah di kantor setelah kesibukan mempersiapkan semuanya.

Keempatnya sangat senang karena malam seni yang semua orang nantikan akhirnya akan dimulai. Ketika empat orang sahabat ini berkumpul keadaanpun menjadi riuh. Keempatnya saling melemparkan candaan dan respon yang justru membuat suasana menjadi lebih ramai.

Kali ini Aini, Rae dan Sunye yang terlibat. Untuk kali pertama Rae dan Sunye satu kata dan mem-bully Aini dengan Tuan Cho-nya. Sedangkan Yara hanya terkekeh melihat aksi mereka. Ketiga sahabat Aini inilah orang pertama yang mengetahui kedekatan nya dan Kyuhyun.

“Ehmm… Ehm” Tiba-tiba Jongwoon dan Kyuhyun hadir ditengah-tengah mereka.

“Aku merasa namaku menjadi topik disini. Apa kalian membicarakan kami?” Seru Jongwoon yang bermain mata ke arah Sunye.

“Tentu saja hyung. Sudah pasti jika para gadis berkumpul maka yang akan mereka bicarakan adalah laki-laki. Benarkan sayang?” Tak mau kalah dengan Jongwoon, Kyuhyunpun menggoda gadis perkasanya, Aini. Kyuhyun yang semula berdiri dengan posisi sok kerennya lalu mendekati Aini dan meletakkan lengan kanannya melingkar dibahu Aini. Aini yang memang tidak suka keadaan ini lalu reflek menyikut perut Kyu.

“Auuu… uhhh, aku anggap ini sebagai sapaan sayang hari ini” Kyu kesakitan dan memegangi perutnya tapi tetap saja mulutnya masih bisa menggoda Aini.

“Aish kalian ini. Aku akan ke Aula duluan saja!” Yara yang merasa gerah dengan pasangan-pasangan tadi akhirnya memilih keluar ruangan.

“Aaaaahhh…” Suara kali ini tidak lagi berasal dari Kyuhyun yang kesakitan melainkan berasal dari Yara yang hampir terjatuh setelah melewati pintu ruangan. Beruntung ada seseorang yang menahannya, orang yang ditabraknyalah yang menjadi penyelamatnya.

“Owhhh…. Sepertinya pasangan ini juga penuh keajaiban. Dimana Yara terjatuh disitu ada Jeonmyeon!” Ucap Aini

“Aigo Han Yara, kenapa kau selalu bermasalah dengan keseimbangan tubuhmu?” Rae menggeleng kepalanya menyayangkan kelakuan sahabatnya tersebut.

“Mm…. Apa kalian akan terus dalam posisi seperti itu?” Melihat Yara masih setia dengan posisinya, dalam pelukan Joonmyeon, Sunye pun menjadi gemas untuk bersuara mengoda Yara. Mendengar seruan Sunye, Yarapun tersentak dari lamunannya dan melepaskan diri dari pelukan Jeonmyeon.

“Kau sedang apa disini?” Tanya Yara dengan sedikit wibawanya berusaha menjaga image-nya saat berada disekolah.

“Jeosonghamnida seongsaengnim, saya hanya ingin berbicara sedikit dengan Han Seonsaengnim” Ucap Jeonmyeon setelah menundukkan badannya memberi salam kepada Sunye, Rae, Kyuhyun dan Jongwoon.

“Aku? Baiklah kalau begitu ikuti aku” Yara akhirnya berlalu dari ruangan kantor bersama Jeonmyeon.

Ketika semua siswa dan guru terpusat di aula untuk malam seni, sebagian besar ruangan pun menjadi kosong tak berpenghuni. Hal ini memudahkan Yara mencari tempat untuk keduanya berbicara. Ya, Yara masih sangat berhati-hati jika berhubungan dengan Jeonmyeon. Dia tahu sekolah masih mengawasi mereka meskipun Yoon seonsaengnim tak pernah lagi secara langsung menanyakan hubungan keduanya. Dan dia merasa sedikit tenang karena Jeonmyeon benar-benar bisa bersikap dewasa. Setelah kejadian di pasar tempo hari, Jeonmyeon tak lagi mengacuhkannya pun tak lagi sedekat sebelumnya.

Hal yang sebenarnya adalah dia berada di level teratas kegalauannya namun dia yakinkan diri sendiri tak ada seorangpun, termasuk ketiga sahabatnya akan mengetahui keadaannya ini. Rasa itu telah tumbuh kepada dan di waktu yang salah, karenanya dia terus mengingkarinya, tidak ingin kesalahan di masa lalunya terulang.

 

“tatap mataku dan katakan kau tak mencintaiku, Yara-ya..” tanya Jeomyeon setelah menutup pintu ruangan dimana mereka berdiri sekarang.

“Jeonmyeon-a.. Kita tidak…”

Yara tak dapat melanjutkan ucapannya ketika bibir Joenmyeon sudah menguasai bibirnya. Yara seketika kaget, dia sama sekali tidak menyangka serangan Joenmyeon terhadapnya. Kedua matanya terbuka sempurna  menatap wajah sempurna Joenmyeon yang tak lagi berjarak darinya. Ciumannya begitu lembut, dia tidak merasakan nafsu disana. Begitu lembut.

Untuk beberapa saat bibir Joenmyeon terdiam, dia ingin mengetahui respon Yara dan lebih untuk memberikan kesempatan keduanya menikmatinya. Dan Yara mengambil kesempatan tersebut. Dia terhanyut. Sekarang kedua matanya telah terpejam, menikmati tiap sentuhan yang dia dapat disana. Ketika Joenmyeon, yang masih terpejam, menggerakkan bibirnya sekali lagi, tanpa melepas tautannya, Yara merasakan sengatan listrik sedang mendera tubuhnya. Dan tanpa dia sadari bibirnya telah membalas lumatan Joenmyeon. Sedang kedua tangannya bergerak menyusuri tubuh Jeonmyeon mencari pegangan disana. Demi dirasakannya hal tersebut, kini lengan kiri joenmyeon  memeluk Yara lebih erat, sedang tangan kanannya masih memegang wajah Yara. Dia mempererat pelukannya. Joenmyeon bahkan dapat merasakan jantung Yara berdetak sama kencang dengan miliknya. Bagi keduanya waktu seakan  bergerak dalam slow motion, satu-satunya yang normal adalah gerakan bibir mereka.

“aku tak lagi memerlukan jawabanmu Yara-ya..” ucap Joenmyeon sembari tersenyum setelah ciuman mereka berakhir. “karena aku telah mengetahuinya”

CUP

Joenmyeon memberikan ciuman cuma-cuma  di pipi yara.

see you on stage

Joenmyeon berlalu meninggalkan Yara terbengong dalam ruangan tersebut sendirian. Semuanya terjadi begitu cepat untuknya. Benarkah dia sudah menjawab, benarkah dia sudah mengutarakan isi hatinya pada Joenmyeon. Senyuman itu dan apa yang terjadi beberapa menit yang lalu adalah nyata, Yara tidak ingin melupakannya.

Jeonmyeon berjalan menuju aula dengan senyuman terkembang dan tertawa kecil. Akhirnya dia mendapatkan jawaban itu. Cinta pertamanya tersambut, Yara menyambut perasaannya. Walaupun Yara tak mengatakan apapun namun seandainya dia tak memiliki perasaan yang sama, dia pasti tidak akan membalas lumatan lembut dalam ciumannya tadi. Jeonmyeon tak menyesal melakukan serangannya pada Yara, karena dia tahu Yara pasti akan, sekali lagi menjawab tidak. Selama ini Yara sudah cukup banyak berbicara dan beralasan untuk menutupi perasaannya dan serangan tadi telah berhasil membungkamnya. Hari ini dia belajar hal baru lainnya tentang guru favoritnya itu. Ciuman membungkamnya.

***

 

“Lagu ini aku persembahkan untuk seseorang yang telah mengalihkan duniaku.” Ucap Jeonmyeom mengawali penampilannya. Dia menyanyikan akustik Nothing better milik Brown eyed soul. Penampilan sempurnanya mendapatkan apresiasi penonton dan teriakan histeris para siswi, serta meninggalkan rona kemerahan di pipi Yara.

 

END

 

Thank you for reading my first FF till the end, chinggu J *bow

Sempat gak PD dan khawatir  kalian tidak akan menyukai ceritanya yang biasa saja, *sigh. Tapi membaca komen-komen kalian buat aku jadi lebih semangat membuat cerita-cerita lainnya. Thank you for doing so J *bow

See you very soon,

xoxo

 

Iklan

57 thoughts on “The Seonsaengnim’s Love Story – So Called Love Story (Yara Chap 8, End)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s