Crystal Bullet (Part 1)

Author            :           @liarydm

Length            :           Multi-chaptered

Genre              :           Romance. (Slightly) Action

Main cast       :           EXO Kai , Song Ahri (Li Yien)

Additional cast :        EXO Sehun, EXO Tao (Edison), EXO Luhan, Red Velvet Irene

Disclaimer      : Untuk FF Sendiri original milik @liarydm. Ff ini pernah diposting dengan cast berbeda di blog pribadi milik author.

Author’s note            : Cerita ini masih membutuhkan banyak bimbingan dari kalian. Untuk kritik dan saran, bisa diberikan di kotak komentar di bawah atau mention ke @liarydm. So, freely feel the imagination!

 

-Prolog-

Satu… dua… tiga…

Aku mencoba untuk menghitung dengan cermat. Menahan nafas setelah satu tarikan panjang. Pria tua itu masih berdiri di bawah sana, sungguh tidak menyadari kehadiranku yang akan mengeluarkan nyawanya sedetik kemudian. Pun kamera-kamera tersembunyinya yang payah.

Debu menyelimutiku tubuhku. Dengan kehati-hatian, aku mulai menarik pelatuk tepat ketika aku yakin kalau peredam pistol yang kugunakan berfungsi dengan baik.

Kepala? Tangan? Jantung?

Aku menerka-nerka.

Lalu ‘duarrrrr’ yang sarkatis.

Sesempat-sempatnya, aku tersenyum puas. Headshot! Seperti rangkaian game dalam bentuk nyata. Darah segar tersembur kemana-mana. Bagai sekaleng cat yang diberi petasan. Aku mempersiapkan tubuhku untuk merayap tanpa jejak keluar dari tempat itu. Tanpa terlacak oleh sistem penjagaan payahnya, dan satpam-satpam bodohnya.

Tepat ketika mereka panik dan menghambur ke ruangan pria tua itu, aku menghambur keluar.

Dan kabur.

***

Chapter 1 : First Impression

 

Kai hidup untuk uang. Tubuhnya adalah uang. Kemampuannya karena uang. Dan beragam macam konklusi tentang uang dalam benaknya.

Sejak kecil, tepatnya ia tidak tahu sekecil apa dirinya saat itu, ia telah berada di penampungan mereka. Sebuah organisasi tertutup yang–karena beberapa alasan yang cukup masuk akal—tidak memiliki nama. Pria itu tumbuh dengan didikan yang keras. Dilatih untuk menjadi seekor belut yang licin. Semua itu mereka lakukan untuk sistem balas budi dalas organisasi tak bernama mereka itu.

Dan pada saat mereka sudah siap untuk menerima misi, mereka yang berada dalam penampungan akan dikirim satu atau dalam bentuk tim. Lalu menguntit mangsa mereka perlahan-lahan, membocorkan sebuah rahasia penting untuk client mereka, atau membunuh.

Kai sebenarnya tidak tahu ia berada di pihak mana. Benar atau salah. Baik atau jahat. Dia tidak pernah diberikan pilihan untuk memilih. Namun, ia juga tidak begitu peduli tentang perannya. Tentang baik tidaknya hal-hal yang telah ia lakukan ketika mendapatkan sebuah misi. Semua orang yang tumbuh dalam organisasi dikekang untuk taat. Termasuk Kai. Dia harus melakukan apapun yang organisasinya pinta, dan Kai tidak memiliki alasan untuk menolak. Kalau ia menolak, atau bahkan nyaris membocorkan rahasia organisasi, Kai akan dibunuh.

“Bagaimana?” tanya Sehun ketika melihat Kai tiba dengan nafasnya yang ngos-ngosan dari kegelapan yang pekat. Kai menghambur ke dalam mobil dan melepaskan segala dandanan wanitanya. Salah satu strategi agar mereka tidak tercium oleh pihak kepolisian adalah melakukan penyamaran dengan merubah gender. Maksudnya, ketika seorang penjahat tidak sengaja disaksikan oleh seorang saksi, ia akan menjelaskan tentang ciri-cirinya secara garis besar. Taktiknya adalah ketika bayangannya dilihat oleh sebuah kamera penyelundup (walau Kai tahu kalau kamera-kamera itu sudah mati atas persiapannya sebelum itu), pihak-pihak akan mengira kalau sang penyelundup adalah seorang wanita.

“Ketika kau sudah berada di tempat sepi, ganti platnya.” Kai membuang rambut palsu hitamnya ke kursi belakang.

“Aku tahu sebelum kau suruh,” ucap Sehun pelan. Sehun bukanlah seseorang yang baru saja mendapatkan misi sehingga melupakan hal-hal kecil semacam penggantian plat, penyamaran, pemusnahan barang-barang yang telah dipakai untuk bertugas dan berbagai macam.

Kedua mata Sehun terfokus pada jalanan di hadapannya, tidak ingin kehati-hatiannya berkurang akibat malam yang semakin larut. Kai menopang dagunya pada kaca jendela mobil. Wajahnya masih berdempulan oleh riasan yang ia hapus dengan setengah hati.

“Setelah ini, kita harus menghadiri rapat besar-besaran organisasi. Kau sudah siap mendapatkan misi baru?” tanya Sehun sambil memamerkan senyum. Ia hanya ingin membuat Kai sadar kalau mereka akan menghadiri pertemuan besar organisasi, dan akan menjadi kejadian yang lucu apabila melihat seorang pria dengan gincu berwarna merah jambu dan pewarna pipi menghadiri rapat itu.

Kai tidak menjawab. Tetapi ia menghapus riasan wajahnya dengan malas.

“Kuharap di pertemuan nanti, kita akan mendapatkan misi yang hebat, Kai-ah.”

***

Sebagai salah satu wanita dari sedikit yang berada di dalam organisasi tidak serta-merta membuat Ahri menjadi seorang wanita yang lembek. Ia tumbuh tanpa mengenal keluarga. Karena begitulah tujuan dari organisasinya itu. Mereka dengan sengaja melatih seseorang sejak kecil hingga dewasa, sehingga tidak ada satu alasan pun yang dapat menghentikan mereka. Mereka hanya mengenal organisasi itu sendiri seperti sebuah keluarga.

“Kau tidak apa-apa, Li Yien?” Kris bertanya dengan aksen Cinanya yang kental. Ahri menoleh singkat ke arah pria itu. Kris kemudian memperjelas, “Maksudku, apa kau tidak apa-apa menetap di Korea? Aku yakin akan menjadi sulit untukmu untuk bekerja di negara lain setelah sekian lama berada di Beijing. Bersamaku.”

Ahri tersenyum hambar. “Aku tidak masalah dengan ada apa-apa ataupun tidak ada apa-apa. Bahkan ketika aku mesti mati di negara ini, itu sudah menjadi takdirku, iya kan?”

Sebelum Kris sempat membuka mulutnya, lampu tiba-tiba redup dan orang-orang di sekitar mereka berubah menjadi hening. “Pertemuan akan dimulai,” bisik Kris, menegakkan tubuhnya pada sandaran kursi.

***

Pertemuan besar ini hampir sama membosankannya dengan pertemuan beberapa tahun lalu. Pemimpin yang berambut setengah botak serta uban yang mencuat dimana-mana mulai menjelaskan tentang misi-misi yang mestidilaksanakan selanjutnya, ada berapa banyak trainee yang sudah bisa melaksanakan misi, dan perekrutan beberapa bayi untuk menjadi trainee nantinya. Omongan dari sang pemimpin tidak begitu Kai simak dengan baik. Ia memakai bahasa inggris dengan lancar dan Kai hanya dapat menangkap sebagian diantaranya.

Kantuk hebat yang mendera kepalanya. Ayolah, ini sudah sangat-sangat-sangat tengah malam. Kemudian si-botak-sialan ini mengadakan sebuah pertemuan besar-besaran di tengah-tengah situasi redup dan suara yang terdengar bagaikan nyanyian nina bobo.

Sehun berbisik di telinganya. Terdengar agak terkesiap, “Kau dengar? Kodemu tadi disebut.”

“Hem.”

Setiap orang yang telah menjalani trainee diberi sebuah kode. Kode itu sama saja dengan nama. Setiap orang memiliki empat buah kode yang diacak. Sejak melepas predikat trainee, kepala Kai terus-menerus dijejali oleh kode nama yang acapkali ia lupakan urutannya. Hal itu disebabkan karena mereka tidak boleh memiliki sebuah nama tetap. Kai sudah memiliki banyak nama sejak ia lahir sampai sekarang. Kode Kai sendiri adalah 8228.

Baru saja Kai mendapatkan misi. Sebuah misi biasa yang mesti ia lakukan dengan seseorang berkode 7328 yang Kai tidak ketahui siapa. Yang jelas, kode itu bukan milik Sehun. Dan ia benci akan berpisah dengan Sehun. Keterikatan dirinya dengan berkulit susu itu sudah terjalin dengan sangat lama. Mereka sering bersama ketika trainee. Mereka juga sering dipasangkan dalam sebuah misi lokal ataupun luar negeri.

Jelasnya lagi, Kai tidak suka melakukan hal-hal dengan orang yang tidak ia kenal.

“Tentang apa?” Kai akhirnya bertanya kepada Sehun. Sebenarnya ia malas membuka mulut hanya untuk berbicara. Berbicara itu menguras banyak energi.

“Maksudnya?” Sehun bertanya balik. Sepertinya tidak mengerti. Kai menarik nafas dalam-dalam dan mengerutkan keningnya. Lelah sekali.

“Misiku,” desis Kai. Sehun membulatkan mulutnya pertanda mengerti.

“Kau harus mencuri data sebuah ponsel mutakhir. Tapi itu hanyalah sebuah penelitian awal, kau tahu, banyak yang ingin mencurinya,” Sehun menjelaskan kepada Kai. Walau tatapan matanya terfokus kepada gerak-gerik pria setengah botak yang sedang berbicara itu.

Kai tidak mengerti tentang jalan pikiran mereka. Misi ini dapat ia lakukan sendirian. Toh bukan hanya kali ini ia ditugaskan untuk mencuri sesuatu. Dia telah memiliki skill yang mumpuni untuk mencuri sebuah barang. Apalagi hanya formula sekecil itu. Dia yakin bisa mengatasinya sendiri tanpa bantuan siapapun di dunia ini.

***

Polisi bergegas kesana-kemari untuk mengamankan, mengecek dan menyelidiki sesuatu yang aneh di ruangan itu. Rembesan darah dari korban masih tersisa di penjuru tempat. Tak tanggung-tanggung, sebuah ledakan di kepala merupakan salah satu dari sedikit hal paling tidak manusiawi yang pernah ia saksikan. Setelah kasus mutilasi.

Dia membungkukkan tubuhnya dan mencoba membaui hal-hal selain bau anyir darah. Matanya terpejam. Kemudian ia berjalan ke arah salah satu polisi dan menekankan nada suaranya, “Selidiki jenis pistol yang ia pakai, jejaknya, cari beberapa saksi dan tolong laporkan kepadaku nanti.”

Dia memasukkan tangannya ke dalam saku dan menatap ke atas langit-langit. Polisi yang ia temui hampir saja pergi dari hadapannya, namun ia menggenggam pundak polisi itu untuk menahannya. Ia berkata lagi, “Selidiki gedung ini. Cara apa yang bisa aku pakai untuk mencapai atas sana,” pria itu menegakkan jarinya menuju ke langit-langit ruangan. Dia berjalan ke arah jendela yang terletak berlantai-lantai di atas tanah. Pria itu menyibak gordennya dan membuka daun jendela sehingga angin malam masuk ke dalam ruangan itu.

Ia menatap ke area parkiran yang sudah sepi karena saat itu memang bukan merupakan waktu kerja. Jam dua dini hari.

Matanya didongakkan ke atas. Menangkap sesuatu, ia mendudukkan dirinya di jendela itu. Tidak merasa takut dengan fakta kalau ia oleng sedikit, tubuhnya akan hancur berantakan. “Jendela…,” gumamnya pelan. Dia kemudian tersenyum.

“Anda tahu ruangan diatas itu apa?” dia bertanya kepada polisi yang berada di sampingnya. Polisi itu menghentikan sebentar aktifitasnya dalam mengecek sebuah pot bunga.Garis-garis lelah nampak jelas mengitari wajahnya.Polisi tadi mendongak ke jendela. “Ruangan di atas ialah sebuah kerja untuk karyawan perusahaan ini.”

Dia mengangguk.

“Tuan Xi Luhan,” salah satu polisi memanggilnya. “Kami menemukan ini di atas.”

***

“Dia 7328,” Sehun menunjuk ke salah satu orang dari berbagai kerumunan yang berbondong-bondong keluar. Kai hanya melirik, tidak menemukan siapa tepatnya yang ditunjuk oleh Sehun. Kepalanya pusing, matanya setengah terpejam.

“Kita menyapanya dulu sebelum pulang. Kata sang pemimpin, dia berasal dari negara belahan Asia lain. Yang akan menunjang misi kalian dengan lebih sempurna.” Langkah kaki Kai hampir saja mengarah ke pintu keluar namun tindakannya itu segera dicegah oleh Sehun. Ruangan luas itu hanya terisisa setengahnya. Setengahnya lagi telah pulang dan Kai berharap dirinya ialah salah satu dari mereka.

Good morning!” sapa Sehun dengan senyuman merekah. Dengan ujung matanya, Kai dapat melihat sosok wanita yang akan menjadi partnernya. Rambutnya panjang, berwarna hitam legam. Bibirnya kecil seperti cherry. Kai sendiri yakin kalau gadis itu bukan orang Korea, hal itu sangat jelas terlihat di matanya yang seperti mata kucing. Gadis itu menundukkan kepalanya sebagai tanda penghormatan. “I’m 6-7-5-8,” ucap Sehun lagi hati-hati sambil mengulurkan tangannya. Sang gadis membalas uluran tangannya singkat lalu melihat papan nama penanda kode nama pria itu curiga. Pria tinggi menjulang tetap berada di dekat gadis itu, menjaganya.

Nice to meet you then, I’m 7328.”

7328 perempuan. Itulah yang muncul secara tiba-tiba di benak Kai. Perempuan itu tampak seperti gadis manja yang suka menjerit kesetanan, aneh dan tidak waras. Bukannya semua perempuan seperti itu? Kai mendengus.

“Aku akan menunggumu di mobil,” Kai berucap dingin kepada Sehun. Mood-nya jatuh. Pertama, ia kurang tidur. Kedua, misi untuk setahun kedepannya harus ia lakukan bersama dengan seorang gadis. Dan hampir semua gadis itu mengerikan, camkan. Sejak ia trainee sampai sekarang, persepsinya tentang seorang gadis tak akan berubah. Mengerikan, menggelikan dan aneh. Tidak waras. Gila.

Apalagi gadis ini berasal dari negara lain. Komunikasi pasti akan sangat sulit terjalin.

Kai menghela nafas. Sepertinya misi kali ini menjadi lebih rumit daripada bayangannya.

“Kai-ah,” cegah Sehun sambil menarik jas hitam milik Kai. 7328 mengernyitkan alisnya.“Dia partnermu, ingat? Kau akan bekerja sama dengannya, jadi bersikaplah lebih ramah sedikit,” sungut Sehun. Kai menyerah. Ia tidak akan bisa bertahan lama kalau Sehun sudah memasang wajah sungut-sungutnya.

“Hm. Aku 8228,” kata Kai singkat. Sehun menyikut lengan Kai. Sementara 7328 maupun pria menjulang di sampingnya tidak terlihat begitu antusias. Bak menginginkan percakapan itu segera berakhir. Sehun melanjutkan, berusaha untuk mencairkan suasana beku diantara mereka, “You can call him by Kai. Kim Kai is his last name. And I’m Oh Sehun, his last partner,” Sehun berkata terbata-bata. Seakan setiap kata bersiap untuk terselip di lidahnya.

Si pria menjulang akhirnya angkat bicara, “I’m Kris and she’s Li Yien.”

Ahri membelalakkan matanya ke arah Kris. Nama ‘Li Yien’ seharusnya sudah ia tinggalkan sejak menyelesaikan misi. Namun Kris tidak begitu merasakan sinyal yang dikeluarkan oleh Ahri.

“She looks so smart and beautiful, right, Kai-ah?” Sehun menyenggol lengan Kai. Kai mengacak-acak rambutnya. Lalu memperhatikan Ahri dari ujung kaki sampai puncak kepalanya.

“Aniya1,” ucapnya sambil tersenyum ramah. Seakan-akan perkataannya berupa persetujuan, padahal tidak. “Dia terlihat seperti…,” Kai menatap dengan ujung matanya, “pabo yeoja2.” (1. Tidak 2. Gadis bodoh)

Kai melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Berkali-kali Sehun memanggil, namun Kai tidak memperdulikan teriakannya. Sehun akhirnya pamit kepada Kris yang terlihat kebingungan dan Ahri yang masih menjejak di tempat itu.

***

“Kenapa dia mesti semisi dengan kita?”

“Petinggi sudah memutuskan ini, Kim Jongin. Dan ingat, ini bukan tentang kita, tetapi tentang kau dan wanita itu. Bisakah kau ramah sedikit? Aku lelah melihat kelakuan kekanakanmu itu!” Sehun menjelaskan. Dia menekankan nama asli Kai, ‘Kim Jongin’, kalau pria itu sedang kesal. Ia menaikkan kecepatan mobilnya walaupun berada di sebuah jalanan besar. Beberapa kendaaan mulai bermunculan, mengisi jalan-jalan. Hari telah menjelang subuh.

Kai mendengus. Merasa malas untuk berbicara. Matanya memerah dan tengkuknya menyandar pada kursi mobil.Ia memejamkan matanya, berusaha untuk tertidur.

Sehun hanya dapat melihat wajah tertidur Kai dari kaca mobil. Ia mengalihkan perhatiannya ke jalan raya. Sepertinya, ia akan berperan sedikit banyak dalam misi Kai kali ini. Pria dingin yang pemalas itu tidak terlihat antusias, sedikit pun. Dia mendengkur halus.

Tiba-tiba e-mobs Kai berbunyi.

E-mobs adalah elektronik yang dibuat oleh organisasi. Fungsinya hampir mirip seperti telepon. Namun jaringan e-mobs berbeda dengan operator-operator telepon lainnya sehingga pertukaran informasi berlangsung tanpa diketahui oleh publik. Kerahasiaannya dapat dijaga dengan sangat baik.

Sehun melirik Kai yang ketika itu masih tertidur. Kai telah menerima tugasnya, batin Sehun. Pria itu mengalihkan lirikannya pada dashboard mobilnya, dimana e-mobs Sehun tergeletak pasrah. Belum berbunyi. Belum ada misi.

Tepat di sebuah tikungan, Sehun berbelok. Keluar dari keramaian jalanan saat subuh.

***

Edison merapatkan kacamata. Matanya sudah perih dan mengabur, meskipun begitu ia tidak ingin tidur. Setidaknya jangan saat ini. Jangan ketika ia hampir menyelesaikan pekerjaannya. Ia takut kalau tidur akan membuatnya lupa akan semuanya, pekerjaan pentingnya. Kehidupannya.

Pria itu menuangkan kopi pada cangkir hijaunya. Meneguknya pelan dan berkutat di depan komputernya lagi. Sekali-kali, dia mengacak-acak kertas dan mempelototinya. Mencocokkan sesuatu dengan yang ada di komputernya, lalu mulai berkutat lagi.

Tiba-tiba bel apartemennya berdering. Edison mengumpat. Dia mengendap-endap ke arah kamera dan mengintip siapa yang mengunjunginya pagi itu. Postur pria keturunan Cina dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya nampak di layar. Edison segera membetulkan letak kacamatanya, rambutnya yang acak-acakan dan membuka pintunya.“Annyoung haseyo.”

Hangeng tersenyum. Lalu masuk setelah dipersilakan oleh Edison.

“Bagaimana? Apakah kau sudah menyelesaikannya?” Tanya Hangeng tanpa perlu berbasa-basi, aksen Cina terjahit dalam tiap-tiap kalimatnya.

Edison tersenyum mantap, “Tiga atau empat bulan robot ini akan diluncurkan. Aku hanya menemukan sedikit ‘masalah’ pada sensoriknya.”

Meskipun begitu, Hangeng terlihat tidak puas. Pria itu sudah terbang ke Korea atas perintah ayahnya hanya untuk mengecek kinerja Edison. Jika segalanya masih berupa tanda tanya seperti sekarang ini, Hangeng mesti tinggal di Korea untuk beberapa saat lagi dan memegang kantor ayahnya yang mempunyai cabang di Korea.

Hangeng merupakan penerus perusahaan elektronik dengan merek yang tidak begitu terkenal. Namun saat ini, ayahnya telah merancang teknologi baru yang akan ia realisasikan bersama dengan Edison. Pria jenius itu, menurut Hangeng, benar-benar membuktikan niatnya. Ia hanya membutuhkan waktu sekitar tiga tahun untuk merumuskan segala rencana hebatnya. Dengan umur yang semuda itu, dan wajah yang setampan itu, Hangeng bertaruh kalau Edison bisa menjadi artis dengan mudahnya. Tanpa bersusah-susah belajar tinggi-tinggi sampai menciptakan penemuan konyol semacam ini.

“Kau harus hati-hati, aku tidak ingin segala pengorbanan yang ayahku bangun selama bertahun-tahun dengan biaya yang memakan setengah hartanya itu habis seketika. Segalanya tergantung kepadamu, Edison-sshi,” wanti Hangeng yang kemudian berdiri dari sofa, menundukkan kepalanya lalu pamit pergi.

***

Ahri merasakan pusing yang hebat saat berada di Korea. Gadis itu sudah mengirimkan invite-connected kepada 8228 namun ia sama sekali tidak menggubris permintaannya. Ia tidak tahu apa hal itu dilakukannya dengan sengaja atau e-mobsnya memang tertinggal di kamar mandi. Ahri menggerutu. Seharusnya ia telah berada di apartemen partnernya itu dan beristirahat dengan tenang. Namun yang ia lakukan hanyalah berputar-putar di sebuah jalanan. Memusingkan.

“Seharusnya kita mengikuti pria itu dulu saat mereka keluar tadi. Aku tidak menyangka kalau alamat yang diberikan petinggi sudah kadaluarsa,” Ahri menggerutu untuk yang keseribu kali.

Kris tidak menoleh ke arahnya. Ia memutar kemudinya ke suatu belokan yang telah mereka lalui selama beberapa kali. “Maaf, perbincanganku dengan staff regional Jerman tadi terlalu lama,” katanya dengan nada suara yang sedikit bersalah.

Ahri tidak merespon. Dia terlalu gondok untuk menimpali. “Kita kembali saja ke hotel.”

Kris mengerutkan alis. “Kau sudah ditugaskan ke apartemennya dan aku akan terbang ke Cina siang ini. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian, Yien.”

Ahri menyandarkan kepala dan memijat pelipisnya. Sejak mereka trainee, Kris memang sudah seperti kakaknya sendiri. Dialah yang memberi Ahri nama Li Yien, yang sampai sekarang masih melekat pada dirinya. “Ah!” baru saja ia menyadari sesuatu. Mengapa sejak tadi ia tidak memikirkan untuk mengirim invite-connected kepada pasangan gay si Kim Kai yang imut itu?

Ahri mengirimkan invite-connected kepada 6758 yang beberapa selang kemudian diterimanya. Dia bergumam senang atas keberhasilannya sendiri, kemudian mencari lokasi dari 6758 di aplikasi map yang tersedia di e-mobs. Setelah melacak keberadaannya, e-mobs mulai menunjukkan panah-panah sesuai dengan tujuan mereka. Hampir mirip dengan game modifikasi mobil yang pernah Ahri mainkan beberapa kali.

Tiba-tiba e-mobsnya berbunyi, menandakan sebuah pesan masuk. Pesan itu berasal dari 6758, sang teman gay yang namanya bahkan Ahri lupakan.

Hello Ahri! Our apartment’s number is 223~^^

Selang berpuluh-puluh menit kemudian, e-mobs Ahri kembali berkedip-kedip bulatan merah besar. Ini berarti mereka telah sampai di tujuan. Ia menatap sebuah gedung tinggi menjulang. Meskipun begitu, daerah itu bukanlah daerah yang aktif dimana rumah-rumah tidak begitu berdempetan dan jauh dari jalan raya.

Sang gadis turun dari mobil. Diawali dengan memperlihatkan kakinya yang jenjang. Gadis itu terdiam sesaat di depan gedung itu. Menantikan Kris yang sedang mengambil kopernya. Tidak pernah ia sadari kalau saat itu adalah awal yang akan merubah kehidupannya untuk selamanya.

***

Kepala Kai sakit. Sakit yang berdenyut-denyut sampai ke seluruh tubuhnya. Ia memutuskan untuk keluar dari kamar dan mendapati Sehun sedang berleha-leha sambil menonton televisi di sofa. Kai tidak tahu mengapa dirinya terbangun jam segini. Tidur selama dua jam benar-benar memusingkan. Matanya panas bak akan tercongkel keluar saat itu juga.

Perlahan, Kai membuka kulkas dan mengambil kotak jus. Dia mendudukkan dirinya di sebelah Sehun, melihat televisi itu juga.

“Sudah periksa e-mobsmu?” tanya Sehun kepadanya. Kai menggeleng. “Memangnya ada apa?”

“Aku yakin Li Yien telah mengirimkanmu invite-connected,” ucap Sehun lagi. “Dia akan tinggal disini.”

Kai meneguk jusnya sampai setengah.“Siapa itu Li Yien?”

Sehun menatap Kai tidak percaya. Hampir-hampir memukul kepala Kai dengan remote televisi. “Dia itu partnermu, Bodoh!”

“Oh,” Kai merespon lagi. Kemudian meneguk jusnya sampai habis. “Aku tidak suka channel ini.”

Kai meraih remote control dan mengganti channel televisinya. Tiba-tiba bel apartemen berdering. Kai menggeliat malas. Dia mencecap lidahnya yang asam. Sehun bangkit dari sofa dan bergerak ke arah pintu. Suara derit pintu terbuka memenuhi ruangan.

“You’re here! Come in come in!” suara Sehun terdengar terlalu ramah dan dibuat-buat. “Let me bring your bag.” Sehun terdengar bak pelayan. “You can sleep at my room, Yien.”

Kai sontak menoleh. Berarti Sehun akan mendepak Kai dari kamarnya sendiri? Ini tidak boleh terjadi!

“Jangan memanggilku Li Yien. Namaku sekarang adalah…,” suara cempreng ala gadis terdengar di telinga Kai. Barusan bukannya dia telah berbahasa Korea? Bukankah gadis itu orang asing? Kai memelototi Ahri. Menyaksikan Sehun yang terkesiap sambil membawa tas dan gadis itu yang masih berdiri dengan ekspresi datar. Ya, masih gadis tadi. Gadis yang Kai nilai dengan pabo yeoja di pertemuan tadi.

“Panggil aku Song Ahri. Tapi kalau kau mau…,” dia berhenti. Kai tidak salah, telinganya tidak salah, otaknya juga tidak salah. Gadis itu menggunakan bahasa Korea dengan lancar meskipun aksen Cinanya masih kentara. “kau bisa memanggilku dengan ‘pabo yeoja’”

Dia melafalkan kalimat itu dengan nada dingin. Wajahnya bertemu dengan wajah Kai dengan bibir yang tersungging ala setan. Sehun ternganga. Kai benci rasa terkejut di wajah Sehun itu. Melihatnya seperti itu menjadi bukti nyata kalau Kai berada dalam situasi kalah dan memalukan. Kai mengira Ahri tidak akan mengerti ejekannya terhadap tadi subuh. Ternyata Kai salah. Ahri lebih pintar daripada yang ia kira.

Gadis itu menaikkan dagunya dan berlalu dari hadapan mereka.

5 pemikiran pada “Crystal Bullet (Part 1)

  1. waaaaa, part 1nya keren!!
    btw, aku gak tega Sehun dibilang pasangan gay-nya Kai T.T
    trus td tuh Kai ke-skakmat! haha
    tapi ditunggu yah kerjasama Kai sama Ahri di part selanjutnya!!^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s