Namsan Tower

tumblr_lpbjfgOVX51qltemzo1_500

Chanyeol // Kim Hyuna

Angst, Romance

Ficlet

Sexygeek95 storyLine

Pg13

Winniesulastri 2014

This story belong to me, and the characters belong to their agency and GODJ

Do not Copy – Cut my fanfiction.

Meet me on http://winniesulastri.wordpress.com//

 

Soundtrack ten 2 five – you.

 

“Aku mencintaimu chanyeol, dan aku berharap kau tidak lagi mencintaiku”

 

Malam ini, tepat dimalam natal aku mengatakan bahwa aku begitu mencintai Chanyeol dan berharap dia tidak lagi mencintaiku.

Desember bulan yang paling aku tunggu kedatangannya, bukan hanya karena ada keajaiban natal ditiap tanggal 25nya, karena sosok itu, seorang pemuda tampan yang aku kenal beberapa tahun yang lalu akan bersamaku selama perayaan ini.

Namanya park chanyeol, aku begitu mencintainya bagai oksigen yang selalu aku hirup, aku selalu membutuhkannya.

“Sayang, mari kita pulang” ucapnya memeluk pinggangku yang masih selalu takjub dengan pohon natal yang indah dinamsan tower.

“Tapi kita terbiasa menghabiskan malam – malam natal disini sampai pagi menjelang kan?” Chanyeol tersenyum dan memelukku lalu mengatupkan tangannya diwajahku, membawa mataku menatap mata teduhnya.

“Malam ini dingin, aku tidak ingin kau sakit, aku berjanji malam – malam berikutnya aku akan selalu berada disampingmu, sampai pagi menjelang bahkan sampai mentari lelah bersinar” aku terpaku menatapnya “aku mencintaimu hyuna…” lanjutnya dan aku memeluknya lalu pulang.bersamanya.

Setidaknya chanyeol telah berjanji akan melewati malam.berikutnya, malam – malam seterusnya bersamaku tidak masalah lagi bila malam natal ini kami harus terpisah, karena aku pun tahu dia masih punya keluarga, mungkin ia merindukan keluarganya toh sudah 2 tahun dia selalu melewatkan malam natal bersamaku.

Baru saja dua langkahku aku pijakan ke lantai rumahku, ada sesuatu yang mengangguku, dan benar saja kunci gembok yang baru saja aku pasangkan di menara namsan masih ada disakuku, aku lupa membuangnya yatuhan bodoh sekali.

Tanpa basa – basi aku bergegas kembali kesana menggunakan taksi yang beruntungnya dengan mudah aku dapatkan malam itu, mungkin Tuhan memang memudahkannya.

Aku menatap sekelilingku, banyak pasangan muda – mudi yang berada disini, dimalam dingin ini mereka saling berpelukan satu sama lain, ah rasanya aku begitu iri, tapi aku tidak boleh egois.

Aku tahu chanyeol nantinya akan bersamaku dimalam berikutnya, besoknya dan seterusnya.

Sayang itu hanya hipotesisku sementara saat mataku menatap sosok pemuda yang baru saja membuatku tersenyum hanya dengan memikirnya, “Chanyeol…..” panggilku lirih sehingga hanya dapat terdengar oleh telingku,

Air mata ini menetes begitu saja saat aku melihat chanyeol mencium bibir seorang wanita, tunggu aku mengenalnya.

Wanita itu Choi sulli, mantan kekasih chanyeol, dan mengapa mereka bersama dimalam ini, tidak lebih tepatnya kenapa mereka berciuman disini.

Tubuhku bergetar, rasa sakit ini dengan cepatnya membuat jantungku bergemuruh bagaikan aku berlari dikejar cheetah. Aku sedikit kesulitan bernapas saat samar – samar aku mendengar chanyeol berterimakasih karena sulli mau menemaninya malam ini.

Jadi itu alasan chanyeol membawaku pulang lalu membawa sulli bersamanya?
Bukan karena menghawatirkanku?

Sebagian orang menatapku yang berdiri dan diam dengan airmata yang terus memgalir dipipiku, mungkin terlihat begitu menyedihkan disini.

Tiba – tiba mata chanyeol menemukanku saat ia masih memeluk sulli dan begitu sebaliknya, hanya sekilas lalu dia mengalihkan pandangannya kearah lain seolah dia tidak melihatku, lebih tepatnya dia melihatku dan mengabaikanku, oh kenyataan yang pahit bukan?

sungguh aku ingin sekali pergi mendekatinya dan menamparnya,
Tapi sayangnya aku tidak bisa melakukannya, alasannya? karena semakin aku mendekatinya dan menatap mereka semakin hati ini hancur dan aku harus menyelamtkannya sebelum menjadi debu.

Aku berjalan kearah lain tempat dimana aku meletakan gembok ku dengan gembok chanyeol. Aku tahu ada mata yang mengikuti gerakku namun aku mencoba mengabaikannya sebagaimana dia melakukannya.

Dengan tangan bergetar dan air mata yang tidak bisa berhenti menetes aku melepaskan gembok itu dengan kunci yang aku bawa.

Perlahan tapi pasti kedua gembok itu terbuka.

Kim Hyuna dan Park Chanyeol.

Jika niat awalnya aku ingin membuang kunciku dan berharap tidak lagi menemukannya, tapi saat ini aku hanya berharap aku dapat menghapus semua memori tentang chanyeol.dan tidak lagi menemukannya. Tidak ingin lagi.

“Hyuna.”

Aku masih hapal dengan suara bas itu, suara terindah yang mampu aku rekam diotakku, aku berhenti ditempatku dan menengok kearahnya.

“Aku bisa jelaskan semua ini….”

aku masih diam.

“Aku mencintaimu…” ucapnya dan kata – kata itu semakin membuatku hancur, hati yang tadi aku jaga supaya tidak hancur lebih parah saat ini sudah berkeping – keping.

“Aku mencintaimu, aku mohon dengarkan aku…” aku bisa melihatnya bersungguh – sungguh demi menjelaskan apa yang baru saja aku lihat.

Maka aku putuskan aku memberinya waktu untuk menjelaskan.

“Aku sengaja membawa sulli, aku berjanji untuk terakhir kalinya dan aku akan melupakannya karena aku mencintaimu.. aku berjanji…”

Berjanji? lagi? bahkan bila aku tuliskan disebuah kertas satu buku berhalaman tebalku sudah tidak lagi mmberikan ruang untukku menulis janji – janji chanyeol.

Aku tahu, chanyeol pasti masih menyayangiku dan menyesalinya, tetapi akupun tahu chanyeol akan terus mengulanginya selama ia masih menyimpan sedikit rasa berharapnya atas cinta sulli, cinta sempurna untuknya, cinta selamanya, atau cinta matinya.

Aku memeluknya dan aku tumpahkan semua rasa sakitku didada bidangnya, dia perlahan mengusap punggungku.

Aku melepaskan pelukannya perlahan dan saat ini mata bulatnya menatap mataku.

“Dimalam natal ini, aku mengatakan bahwa aku mencintaimu dan aku berharap kau tidak lagi mencintaiku….”

“Kenapa?”

“Karena alasan kau mencintaiku hanya untuk menyakitiku chanyeol, dan buanglah rasa cintamu agar aku tidak lagi tersakiti, pergilah bersama cinta pertamamu itu, jangan mencintaiku hanya untuk membuatnya kembali, aku tidak lagi ingin menjadi pelampiasan hatimu…”

“Tidak.. aku benar – benar mencintaimu hyuna aku mohon—-” belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya aku memotongnya.

“lupakan aku. Pergi dan jangan kembali..” dan aku pergi dari sana, berharap chanyeol tidak berlari kearahku dan mengambil kepingan hati ini lagi.

Aku tidak ingin lagi hati ini menyatu hanya untuk dihancurkan kedua kali, ketiga kali atau seterusnya.

Setidaknya bukan dengan orang yang sama atau dengan kesalahan yang sama. Tidak lagi. Tidak lagi untuk alasan dicintai hanya untuk tersakiti.

Merry chrismast chanyeol-ah. Goodbye love..

“geudae gyeoteul ije tteonaneun geoseul
huhoehaljido moreujiman geudael
saranghagi ttaemuniya”

(meski aku menyesal meninggalkanmu,
aku melakukannya karena aku
mencintaimu)

 

Iklan

4 pemikiran pada “Namsan Tower

  1. yaaaaaaaaaaak chanyeol-aah.. issshh tega banget deh ah.. hyuna biar aku yg lempar di pakek bola salju kalo perlu sama gembok2 yang ada di namsan hiks,, sebel banget hahahahha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s