Thorn of Love Part 11 End – (Again, I Love You Today)

Thorn Of Love II

Author                         :           @Yuriza94 / Oriza Mayleni

Main Cast                    :

  • Byun Baekhyun
  • Han Yoonjoo
  • Byun Heejin
  • Oh Sehun

Support Cast               :

  • Kim Jongdae (Chen)
  • Byun Junghwan (OC)
  • Etc.

Genre                         :           Romance, Angst

Rating                         :           PG15

Recommended Song  :            Baek Jiyoung – Again, I love you today

Enjoy the final act!!

~oOo~

Bintang sedang tidak berselera untuk bertengger dilangit, begitu juga bulan yang daritadi tertutup awan hitam. Yoonjoo menghela nafas, ia diselimuti rasa khawatir tentang Baekhyun yang tak memunculkan batang hidung disekolah hari ini. Bahkan ia mendengar dari Chen kalau Baekhyun juga belum pulang kerumah dan tak menjawab panggilan atau pesannya sama sekali. Yoonjoo melirik ponselnya, ia mengirimkan sekitar 3 pesan pada Baekhyun namun belum satupun yang direspon. Lelah, Yoonjoo menutup jendelanya, matanya baru mau tertutup saat dering ponselnya membuatnya terlonjak. Sebuah pesan, buru-buru dibukanya dan benar saja dari Baekhyun.

“Aku akan membereskannya untukmu, agar kau bisa lelap dalam tidurmu”

Yoonjoo mengerjap berkali-kali untuk memahami arti pesan singkat tersebut namun nihil, ia tetap tak bisa menangkap maksud Baekhyun. Dengan cepat, jari Yoonjoo mencari nomor Chen dalam kontaknya lalu menekan tombol bergaris hijau. Ditunggunya beberapa saat hingga terdengar suara pemuda itu diujung sana.

“Baekhyun mengirimiku pesan” Ujar Yoonjoo langsung

Apa isinya ‘aku masih hidup’” ujar Chen dengan nada jengkel, ya tentu saja jengkel karena ia berkali-kali menelepon dan mengirim pesan pada Baekhyun namun hanya dibalas kalimat singkat seperti itu “Kau tahu berapa kali aku meneleponnya? Bagaimana bisa dia memberikan jawaban seenteng itu, dia—“

“Chen” Yoonjoo memotong omelan Chen

“Ehem, maaf, aku terbawa suasana, jadi ada apa?”

“Baekhyun mengirimiku pesan tapi isinya aneh, aku tidak mengerti maksudnya tapi…aku punya firasat buruk”

“Apa isi pesannya?”

Chen mendengarkan dengan seksama, seketika pikirannya melanglang jauh. Ia punya satu orang yang benar-benar bisa dihubungkan dengan ‘-nya’ yang dimaksud Baekhyun dan ‘-nya’ yang sedang ia pikirkan juga ada hubungannya dengan Yoonjoo.

“Dongjoo…” sebut Chen, Yoonjoo belum sempat menjawab apa-apa saat Chen dengan suara nyaring memberitahu “Aku akan kerumahmu untuk menjemputmu, aku tahu dimana Baekhyun”

Tuttt….obrolan itu berakhir. Yoonjoo melesat mengambil mantelnya lalu berlari keluar gang untuk menunggu Chen. Sekitar lima belas menit kemudian, sebuah Audi merah yang dikenal Yoonjoo sebagai mobil Chen datang.

“Cepat masuk, kita sudah terlambat” Ujar Chen dengan suara gemetar

“Apa Baekhyun benar-benar menemui Dongjoo?”

“Bukan hanya menemui, dia bahkan sudah membabi buta pada pria sialan itu”

Yoonjoo menganga “Tapi…bukankah Dongjoo ada dipenjara, bagaimana bisa…”

“Baekhyun kesana dengan dalih menjenguk tapi lalu dia mengamuk dan membabi buta memukuli Dongjoo saat mereka berdua ditinggal dalam ruangan berdua saja. Dia benar-benar sudah membuat babak belur pria itu saat kita asik mengobrol ditelpon. Saat perjalanan kerumahmu, aku dapat telpon dari Heejin, dia dan Ayahnya sudah dikantor polisi”

Yoonjoo menautkan tangannya erat. Ia benar-benar tak habis pikir Baekhyun akan bertindak sejauh itu tapi….bagaimana bisa Baekhyun melakukannya? Bukankah ia tidak ingat apa-apa tentang dirinya? Atau mungkin ingatan Baekhyun sudah kembali entah kapan..

“Ingatannya sudah kembali” gumam Yoonjoo

“Apa?”

“Ia sudah ingat semuanya”

~oOo~

Junghwan melayangkan tamparan keras sesaat setelah mereka sudah berada diluar kantor polisi. Baekhyun memang sudah selamat dari jeratan hukum berkat pengacara yang disewa Ayahnya namun Ayahnya tetap mendidih, ia tak habis pikir putranya yang satu ini akan berjiwa berandal sampai jauh seperti ini. Bukan hanya tindakan Baekhyun yang membuat ia mendidih, kebisuan Baekhyun jualah yang membuatnya terheran-heran. Ia terus menanyai alasan Baekhyun membabi buta memukuli orang yang sudah dipenjara namun Baekhyun terus mengunci mulut rapat.

“Kau menyebut dirimu pria? Beginikah caramu membalas dendam pada orang yang telah memukulimu?” Bentak Junghwan tak sabar, Heejin yang disampingnya terus berusaha menahan Ayahnya tapi percuma

Baekhyun tak mengangkat kepala, wajahnya masih datar. Jika ia harus menjawab pertanyaan Ayahnya barusan, jawabannya bukan. Ia bukan dendam karena Dongjoo dan anteknya telah membuatnya terkapar bersimbah darah dijalanan dan membuatnya amnesia tapi ia marah dan kalap karena ingat pria itu telah membuat salah seorang yang punya tempat dihatinya selalu dihampiri mimpi buruk. Baekhyun pedih membayangkan setiap malam gadis itu akan terbangun dari tidur dan menangis tanpa punya sandaran.

Karena Baekhyun terus diam, Junghwan berniat untuk melayangkan pukulannya lagi tapi tangannya mengerem tiba-tiba saat seorang gadis bermantel hitam dengan rambut panjang dan raut wajah takut berdiri didepan putranya. Tinggi gadis itu sebenarnya tidak sampai menutupi wajah Baekhyun, Junghwan bisa saja meneruskan niatnya untuk menampar Baekhyun tanpa mengenai gadis tersebut tapi tidak, ia tidak akan memukul anaknya didepan orang asing.

“Jangan pukul dia lagi paman, ini salah saya. Dongjoo dan saya—“

Baekhyun buru-buru menarik pinggang Yoonjoo agar menghadap padanya. Ia menatap Yoonjoo tajam lalu menarik gadis itu kebelakang tubuhnya.

“Ini salahku. Ayah pasti tahu sejak kecil aku tidak suka kalah makanya aku kembali untuk menghadiahi Dongjoo sedikit teguran, aku tidak sangka dia secepat itu babak belur”

Junghwan mengelus dadanya melihat cara bicara Baekhyun yang teramat santai. Ia seperti baru saja memukuli seekor ayam bukannya manusia. Diambang batas, Junghwan melirik beberapa orang berjas hitam lalu menunjuk dagunya kearah Baekhyun. Orang-orang tersebut sepertinya bodyguard karena dengan cepat mereka bisa mengunci gerak Baekhyun. Walaupun pemuda itu ahli berkelahi, tetap saja tenaganya tidak akan bisa menyaingi 4 orang berbadan kekar. Bukan perkelahian yang fair! Batin Baekhyun. Tanpa bisa berkata apa-apa, ia digiring masuk kedalam mobil.

“Heejin, cepat naik. Kita akan pulang untuk mendisiplinkan kakakmu”

Heejin tak langsung mengiyakan perintah Ayahnya. Terlebih dahulu ia menatap berang wanita didepannya. Heejin memajukan tubuhnya lalu berbisik kearah Yoonjoo.

“Pernahkah kau berpikir kalau kehadiranmu hanya memperkeruh keadaan?”

Yoonjoo menatap Heejin dengan wajah terkejut sempurna. Ia tak pernah mengobrol dengan Heejin, hanya beberapa kali berpapasan dengan gadis tersebut dan ia benar-benar tak menyangka Heejin adalah tipe orang yang akan melontarkan kalimat seperti tadi.

“Hidupnya sudah cukup sulit. Jangan menambahkan masalahmu ke pundaknya lagi” Bisik Heejin tajam, ia lalu membalikkan badan dan menghilang dibalik Audi hitam yang langsung melesat cepat

“Kau tidak apa-apa?” Chen menghampiri dengan wajah khawatir, ia tahu Heejin pasti baru saja mengatakan hal-hal mengerikan, bisa dilihat dari ekspresi Yoonjoo

“Aku antar kau pulang” Ujar Chen sambil menepuk pelan pundak Yoonjoo

~oOo~

Rumah besar itu untuk pertama kalinya terasa ramai. Selama bertahun-tahun, hanya ada kesenyapan yang hadir dan baru malam ini ada suara-suara yang memenuhi namun sayang suara tersebut suara ricuh yang memekakan telinga dengan serentetan kata sumpah serapah tak enak didengar. Empat pria berjas hitam melempar tubuh Baekhyun kedalam kamarnya lalu menguncinya rapat. Baekhyun melepas almamaternya lalu membuangnya kesembarang tempat, ia menarik dasi yang terpasang dilehernya dengan garang hingga hampir putus. Dilemparkannya tubuh keatas kasur empuk didalam kamar tersebut, Baekhyun memejamkan mata mencoba menetralisir amarah yang masih diubun-ubun.

“Oppa”

Baekhyun membuka mata paksa, ia bangun dari posisi tidur lalu mendapati Heejin berdiri sambil membawa nampan penuh makanan.

“Aku tahu kau belum makan apa-apa dan kau habis minum banyak” Heejin mendekati Baekhyun

“Bagaimana kau?”

“Aku ditelpon Dr. Lee tadi pagi, aku berusaha tidak memberitahu Ayah tapi kau tidak menghiraukan panggilanku sama sekali. Malamnya aku diberitahu Chen kau habis minum-minum di pub, Chen bilang dia dihubungi pria bernama Hose yang entah aku tak tahu siapa itu” Heejin berhenti sejenak “Aku memaklumi semua itu, yang membuatku marah adalah barusan, barusan Ayah ditelpon dan diberitahu kau ada dikantor polisi karena memukuli tahanan”

“Aku tidak ingin membahasnya sekarang” tolak Baekhyun halus

“Kau tidak tahu aku marah padamu!!” Bentak Heejin, Baekhyun tersentak, ini kali pertama ia melihat Heejin berteriak “Aku marah karena kau memukuli orang itu lagi-lagi untuk Yoonjoo, kau mau terlibat masalah sampai mana untuk gadis itu?!”

“Heejin” Baekhyun memberi kode agar Heejin menghentikan ucapannya

“Tidak akan ada yang tahu lainkali kau masih selamat atau tidak saat membela gadis itu, kau sudah pernah terkapar dijalan, kau hampir saja masuk penjara, kau…jika berita ini sampai masuk ke catatan kriminalmu, kau akan gagal memasuki Universitas yang kau dambakan daridulu, kau akan gagal ke Jerman. Gadis itu, gadis itu hanya menghancurkanmu!!”

“Heejin!!” Suara Baekhyun benar-benar meninggi, ia mencengkram lengan Heejin kuat

“Kenapa kau melakukannya? Kenapa?” suara Heejin melemah

“Kau sungguh tidak tahu jawabannya?” Baekhyun balik bertanya dengan wajah datar

“Lalu…bagaimana denganku?

Baekhyun menatap Heejin dengan sorot kesal bercampur heran “Kau bilang Yoonjoo hanya menghancurkanku? Apa kau tahu aku sudah menghancurkannya duluan? Kau tahu tidak?!” Bentak Baekhyun

“Kau juga menghancurkanku” Baekhyun tersudut dengan pernyataan Heejin yang satu itu “Kau juga menghancurkanku, tapi kenapa kau memilih berdiri dipihak Yoonjoo? Bukannya kau bilang akan selalu berdiri dipihakku?” Kalimat Heejin tajam dan menusuk

Baekhyun menelan ludah susah payah, ia merasa kerongkongannya disiram air panas, sambil mengepal tangan, ia berkata “Aku menghancurkan semua orang disekitarku. Aku tahu dan aku ingat seberapa sering aku berkata akan selalu melindungimu tapi keadaan berputar seperti bumi yang kita pijak ini, selalu berputar”

“Pionku sudah lagi tak mengarah padamu karena sudah ada seseorang yang berdiri didepanmu, menjadi tamengmu, sedangkan Yoonjoo….dia hanya punya aku”

“Lalu…jika Yoonjoo memiliki tameng lain—“

“Bahkan jika dia memiliki puluhan tameng didepannya, aku tetap akan dengan sukarela berdiri menjadi salah satu dari puluhan tersebut”

Heejin merasakan sesak yang luar biasa. Ia terisak, benar-benar terasa seperti melompat kedalam sungai Han pada musim dingin. Dinginnya air tersebut akan membuatmu mati membeku dan lupa akan hal apapun kecuali kematian.

“Heejin…aku sudah terlalu jauh masuk kedalam hidupmu, ini saatnya aku keluar. Kau tidak boleh melihat kebelakang, ada orang lain yang lebih menjanjikan didepanmu daripada aku. Kita sama-sama tahu hubungan ini tidak akan berhasil dan aku sudah mendapatkan akal sehatku kembali jadi, mulai sekarang kita harus pergi kejalan masing-masing dan tidak menjadi penghalang satu sama lain”

Heejin tersenyum pahit, ia meninggalkan Baekhyun tanpa sepatah katapun. Pemuda itu merasa ia sudah melakukan hal yang benar, sekarang ia merasa sudah melepaskan satu dari sekian banyak beban berat dihatinya, ia sudah membuang jauh-jauh obsesinya pada Heejin, ia sudah tak memusatkan dunianya pada gadis itu, porosnya kini berputar pada sosok lain yang selalu bisa membuatnya rileks hanya dengan mendengar suara nafas sosok tersebut.

Baekhyun melirik kearah jendela, pikirannya kembali dihinggapi ide liar. Saat ini ia benar-benar ingin melihat sosok itu, memeluknya sebentar hanya untuk memastikan sosok itu masih dalam jangkauannya, setidaknya sebelum sosok tersebut pergi menjauh saat mengetahui semua kenyataan yang terkubur bersama masa lalu.

Baekhyun membuka jendela kamarnya, ia melirik kearah gerbang, hanya ada dua penjaga disana, ia yakin bisa menghadapi dua orang itu walaupun tidak sampai terkapar. Setidaknya sampai kedua penjaga itu memberinya ruang untuk kabur. Baekhyun menyambar topi baseball milik timnya bersama dengan jaket hitam. Ia pakai topi tersebut lalu ditutupinya lagi kepalanya yang sudah berbalut dengan tudung jaket hitam. Tubuhnya masih berbalut celana sekolah berwarna biru tua dan kemeja putih yang terkena bercak darah, ia sudah terlalu malas untuk berganti. Dengan gaya yang terlihat seperti ahli, Baekhyun memanjat dinding rumahnya dan perlahan turun, sudah ditegaskan bukan bagaimana imagenya jadi tidak heran ia amat ahli panjat memanjat walau disekolah ia sama sekali tidak tergabung dalam komunitas panjat tebing.

Baekhyun menjatuhkan tubuhnya saat dirasa tanah berbalut rumput hijau itu sudah tak terlalu jauh. Ia berjalan cepat menuju gerbang sambil mengambil ancang-ancang untuk melayangkan pukulan atau tendangan. Kedua bodyguard yang menyadari kehadiran Baekhyun itu langsung berteriak pada bodyguard lain yang tengah berjaga didalam rumah.

“Sialan!” umpat Baekhyun, kenapa mereka mengadu segala, batinnya

Bodyguard dengan mata sipit dan wajah seperti Park Jisung yang berada disisi kanan Baekhyun berusaha menangkap lengan Baekhyun namun Baekhyun menghindar, ia mendaratkan pukulan keras diperut pria itu hingga pria itu sedikit tersungkur. Kesempatan itu dimanfaatkan Baekhyun untuk menyerang bodyguard disisi kirinya, kaki Baekhyun menendang kaki bodyguard tersebut diiringi tangannya yang menghantam keras pipi bodyguard malang itu.

“Maaf” Pekik Baekhyun, ia lalu berlari kencang

“Tuan muda!!!!”

“Tuan muda kembali!!!”

Teriakan-teriakan itu membuat Baekhyun merasa menang, ia menjawab dengan kalimat yang terdengar seperti olokan.

“Nanti aku akan kembali!! Sekarang masih ada urusan, titip salam untuk Ayahku!! Selamat malam!!”

Baekhyun cekikikan saat sampai didalam taksi yang melaju membelah malam. Ia bernafas lega karena tidak ada yang mengikutinya, ia berasumsi tangannya meninju kedua bodyguard tadi cukup keras hingga membuat dua anak buah Ayahnya itu sedikit cedera, mereka jadi sibuk menahan rasa sakit dan tidak mengejar dirinya.

~oOo~

Baekhyun merogoh kantong jaketnya untuk menggapai benda putih persegi disana. Ia melirik ponsel itu sekilas sebelum tangannya menekan angka satu dan melakukan panggilan.

“Baekhyun?”

Baekhyun tersenyum mendengar suara ketekejutan diujung sana

“Aku ada didepan rumahmu” tak lama setelah Baekhyun mengatakan hal itu, Yoonjoo menunjukkan diri dari balik jendela kamarnya

Baekhyun melambai, gadis itu menghilang sekejap hingga beberapa menit kemudian ia sudah berdiri didepan Baekhyun.

“Kau, kenapa kau disini? Kau mau membuat Ayahmu semakin marah, kau ini—“

“Ssttt” Baekhyun menempelkan jari telunjuk pada bibirnya untuk mengisyaratkan Yoonjoo diam “Hari ini aku sudah banyak sekali mendapat omelan, aku kesini karena ingin menenangkan diri jadi aku mohon nona Han, jangan mengomel dulu untuk sementara waktu”

“Kau membuat masalah, siapa yang tidak akan mengomelimu? Dan lagi…kenapa kau melakukan hal itu pada Dongjoo?” Yoonjoo geram, ia geram dengan ekspresi santai Baekhyun

“Untukmu” Jawab pemuda itu polos “Sebenarnya aku ingin mengajakmu supaya dia bisa berlutut minta maaf langsung tapi aku tidak mau kau melihatku mengamuk. Aku pastikan kau benar-benar tidak ingin melihat caraku mengamuk. Owh ya tapi jangan khawatir, sebelum menghajarnya, aku sudah merekam dia yang sedang berlutut minta maaf” Tangan Baekhyun bergerak untuk menunjukkan video yang ia simpan diponsel itu namun Yoonjoo menghentikkan gerakannya

Gadis itu menatapnya nanar, sedetik kemudian ia merasakan tubuhnya hangat. Gadis itu, untuk pertama kalinya memeluknya, ya Baekhyun ingat mereka sudah sering berpelukan tapi untuk kali ini beda, bukan dia yang mengambil inisiatif tapi gadis itu. Sebenarnya sejak melihat Yoonjoo didepan kantor polisi tadi, ia sudah ingin sekali memeluk Yoonjoo tapi ia tahan karena berhubung baunya pasti tidak enak.

“Aku mau saja memelukmu untuk waktu yang lama, hanya saja..apa kau tidak terganggu dengan bau tubuhku sekarang ini?”

Yoonjoo melepaskan pelukannya “Kau….habis minum-minum?”

“Sedikit” Baekhyun berlagak polos

“Lalu noda darah apa dikemejamu? Keningmu kenapa? Kau kemana saja seharian ini? Kau sudah makan belum? Parfum apa yang kau pakai? Kenapa—”

“Wow..wow..wow..stop stop, aku masih akan hidup sampai besok, besoknya lagi, besoknya lagi, dan seterusnya hingga kau bosan melihatku jadi bertanyalah satu-satu”

Belum sempat Yoonjoo membuka mulut, Baekhyun kembali menelurkan ide “Bagaimana kalau kau mempersilahkanku masuk kerumahmu hmm? Badanku seperti mau remuk, kau tentu tidak mau melihatku pingsan disini karena aku berani bertaruh kau tidak akan kuat menggendongku”

“Aku bisa memapahmu, kau bukanlah Chanyeol”

“Hey jangan membanding-bandingkan tinggi badan, itu diskriminasi. Asal kau tahu saja, Chanyeol itu badannya saja yang besar, kalau dalam perkelahian, dia orang pertama yang babak belur atau tidak orang pertama yang kabur”

Yoonjoo tertawa pelan, ia menggeleng-gelengkan kepala mendengar rentetan hinaan Baekhyun yang ditujukan pada sahabatnya sendiri.

“Jangan beritahukan hal ini pada Chanyeol, dia akan malu sekali” Baekhyun merangkul pundak Yoonjoo lalu mereka berjalan masuk kedalam rumah sederhana yang disewa Yoonjoo dan bibinya

Saat masuk, Baekhyun melirik Yoonjoo.

“Bibi Jung sedang tidak ada, ia sedang diajak paman disebelah rumah untuk menonton konser salah satu penyanyi lawas”

“Nice timing! Kalau begitu cuma ada kita berdua” Baekhyun menyeringai

“Asal kau tahu Baekhyun, aku punya selusin pisau didapur” Tandas Yoonjoo

Baekhyun mengangkat tangan tanda menyerah, ia lalu menoleh kekiri-kanan “Dimana kamar mandi, aku mau mandi” Gaya bicaranya seperti sedang berada dirumah sendiri

“Didekat dapur, akan aku ambilkan handuk”

Setelah menunggu kurang dari dua menit, Yoonjoo muncul dengan handuk dan kemeja putih ditangannya “Ini kemeja Ayahku, aku yakin pasti muat”

“Tidak apa-apa kupakai?”

Yoonjoo menggeleng “Daripada kau harus pakai baju kotor, aku takut kau gatal-gatal semalaman dan tidak bisa tidur”

“Bagaimana kau bisa tahu aku akan menginap disini?”

“Dari gelagatmu, untuk apa juga kau mandi disini jika akhirnya mau pulang, dan aku yakin kau pasti perlu usaha keras untuk kabur dari rumah jadi bukankah usahamu akan sia-sia saja kalau kau mau pulang lagi?”

“Apa kau sedang menahanku?” Goda Baekhyun

Yoonjoo merutuki ucapannya, kenapa sekarang dia jadi begitu banyak bicara “Cepatlah mandi, aku akan buatkan makanan”

“Eiii aku merasa beruntung sekali malam ini”

Godaan-godaan Baekhyun terus berlanjut hingga mereka makan.

“Owh ya sejak kapan ingatanmu kembali?”

Baekhyun menghentikkan kegiatannya melahap tempura “Tadi…tadi pagi” Jawabnya agak terbata

“Begitu….”

“Ada yang mau kutanyakan”

“Apa?”

“Sedekat apa kau dan Sehun?”

Yoonjoo menatap aura aneh pada Baekhyun “Lumayan dekat, kami kenal sejak kecil”

“Apa dia tahu banyak tentang dirimu lebih dari aku?”

“Kurasa ya” Jawab Yoonjoo santai tanpa memerhatikan perubahan ekspresi diwajah Baekhyun

Pemuda itu membanting sumpitnya “Aku kenyang”

“Kau ini terperamental sekali” cibir Yoonjoo

Baekhyun tidak menggubris dan malah bertanya hal lain lagi “Apa kau tidak tertarik tentangku? Kau tidak pernah bertanya”

Yoonjoo sedikit gelagapan, ia meminum airnya yang sisa setengah “Aku tidak mau bertanya karena—“

“Aku akan menceritakannya padamu” Potong Baekhyun cepat

“Aku dan Heejin tidak memiliki hubungan darah sama sekali, Ibuku selingkuh dengan pria lain dan menghasilkan aku. Ayahku yang sekarang bersama wanita lain dan menghasilkan Heejin. Bukankah hubungan kami rumit?” walaupun Baekhyun mengatakannya sambil setengah tersenyum, Yoonjoo tahu itu hanya topeng

“Ayah dan Ibu kandungku meninggal dalam kecelakaan, aku heran kenapa saat itu hanya aku yang selamat. Ibu kandung Heejin meninggal karena menyelamatkanku, dia jadi murung dan karena rasa bersalahku yang besar, aku jadi menyimpan perasaan lain pada Heejin”

“Baekhyun, kau tidak perlu menceritakannya semuanya padaku”

“Harus! Kau harus tahu….”

Luka Baekhyun melebar tapi ia tetap tak bisa mengatakan hal yang ia simpan itu didepan gadis ini. Ia takut setelah mengatakan yang sejujurnya, gadis ini akan kabur seolah-olah melihat monster. Ia takut akan reaksi gadis ini, ia takut gadis ini tidak akan menatapnya seperti sekarang, tidak akan tersenyum lagi padanya, lebih-lebih, ia takut ditinggalkan. Tapi Baekhyun tahu ia tetap harus mengatakannya, tidak sekarang, tidak malam ini karena ia ingin malam ini berakhir dengan mimpi indah untuknya dan untuk gadis yang dicintainya ini. Jika saat itu tiba, jika tiba waktunya Baekhyun membuka semua yang disimpannya, ia ingin memohon satu hal, ia ingin memohon pada Yoonjoo untuk tetap berada disisinya, untuk tak meninggalkannya.

“Kau tahu? Ibuku juga meninggal dalam kecelakaan…”

Itudia, hal yang tidak ingin didengar Baekhyun akhirnya disebut oleh Yoonjoo.

“Aku mengantuk, tidurlah sekarang. Besok pagi kita ada ujian bukan?” Baekhyun berkilah untuk menghindari apa yang tidak ingin didengarnya

Yoonjoo mengangguk patuh, ia masuk kedalam kamarnya lalu keluar lagi untuk memberikan selimut dan bantal pada Baekhyun.

“Yoonjoo-ya”

“Ya?”

Baekhyun mengecup bibir gadis itu singkat lalu membisikkan kalimat penenang “Selamat malam. Tidurlah yang nyenyak, selama aku masih ada, tidak ada yang akan bisa mengganggumu”

Yoonjoo balas tersenyum “Selamat malam”

~oOo~

Pagi-pagi sekali, burung masih beterbangan bebas sambil bernyanyi. Matahari baru menyembul sedikit, amat sedikit ditemani dengan tiupan angin yang lumayan kencang. Akhir-akhir ini Seoul memang sedang dilanda hujan dan angin kencang. Cuaca pagi itu benar-benar membuat orang malas beranjak dari tempat tidurnya tapi tidak dengan gadis itu. Langkahnya amat cepat, tubuhnya yang memakai dress putih selutut berbalut mantel merah marun terus bergerak konsisten. Rambut panjangnya yang diikat ekor kuda melambai kesana-kemari karena ulah angin. Ia memasukkan tangan kedalam saku mantelnya saat merasakan hawa dingin menyeruak, kepalanya menoleh kekanan dan kekiri seperti memastikan tidak ada satu orangpun yang sedang mengikutinya. Saat sampai dijalan utama, ia segera menyetop taksi, angkutan biru tersebut melaju kencang. Masih terlalu pagi hingga jalananpun masih lumayan lengang. Gadis itu melirik ponselnya, ia ingat sekitar setengah jam yang lalu, ia membuat janji untuk bertemu dengan seseorang dikedai sekitar daerah yang akan ia datangi. Sejujurnya ia juga tak tahu kedai yang mana, ia hanya asal sebut, rencananya ia akan memilih acak lalu menelepon orang tersebut dimana keberadaannya.

Hanya memakan waktu 20 menit tapi terasa seperti 2 tahun bagi Heejin. Ia berhenti didepan kedai kopi sederhana lalu menekan tombol hijau. Tak lama, sebuah suara menyahut diujung sana. Ia bicara sedikit lalu ditutupnya percakapan singkat tersebut. Ia ingin ini cepat berakhir, ia ingin segera mengutarakan semua yang ada dibenaknya sebelum ia berubah pikiran. Kalau ia sudah goyah, kesempatan seperti ini tak akan datang lagi.

~oOo~

Terdengar lantunan lagu supermassive black hole milik band America Muse. Lagu tersebut keluar dari sebuah ponsel yang sedari 10 menit lalu terus menjerit-jerit. Sebuah tangan telulur keluar dari balik selimut. Ia sebenarnya jengkel sekali karena harus diganggu pagi-pagi begini.

“Halo” Jawabanya dengan suara serak

“Kau dimana!?”

Baekhyun melonjak sedikit karena suara teriakan diujung sana. Ia menjauhkan ponselnya dari telinga dan melirik nama yang terpampang pada layar ‘Chen’. Baekhyun menggerutu.

“Kau mau membuatku tuli?” Semprot Baekhyun

“Aku tidak peduli soal itu sekarang. Kau dimana? Masih dirumah Yoonjoo?”

“Bagaimana kau bisa tahu aku dirumah Yoonjoo?”

“Kau pikir orang mana yang tidak tahu tindakan kabur nekatmu tadi malam? Bodoh!”

“Kau ini kenapa? Pagi-pagi sudah mengomel seperti wanita mau bersalin saja”

“Dimana Yoonjoo? Apa dia bersamamu sek—“

“Kau sudah gila! Bagaimana bisa kau bertanya seolah-olah kami tidur bersama?” Omel Baekhyun

“Ah maaf, bukan maksudku begitu. Lagipula jika kalian tidur bersama juga, aku setuju-setuju saja, hahahaha”

“Sialan kau!”

“Ah kenapa malah mengobrol masalah lain” Pekik Chen “Aku tanya dimana Yoonjoo?”

“Tentu saja dikamarnya, kau pikir dimana lagi?”

“Kau yakin? Masalahnya…….” Ucapan Chen mengambang membuat Baekhyun mulai menyadari ada yang tidak beres

“Ada apa?” Tembak Baekhyun langsung

“Itu…tadi pagi-pagi sekali Heejin meneleponku untuk meminta nomor Yoonjoo. Aku benar-benar masih dalam keadaan setengah sadar jadi aku berikan. Tapi setengah jam kemudian aku baru menyadari sesuatu yang salah makanya aku buru-buru menelp—halo…halo…Baekhyun kau masih disana? Halo!!”

Tuttttt….Baekhyun sudah melempar ponselnya entah kemana. Ia membuka kamar Yoonjoo dan benar saja tempat tidurnya sudah rapi. Gadis itu sudah bangun entah sejak kapan dan mungkin saat ini dia sedang bersama dengan Heejin. Sementara Baekhyun sedang lari kesana-kemari sambil mencoba menghubungi Heejin dan Yoonjoo, kedua gadis itu sedang duduk berhadapan dikedai kopi dengan secangkir latte yang kepulan asapnya mulai menghilang.

Yoonjoo menatap kearah Heejin dengan tidak percaya. Ia menggeleng pelan sambil tersenyum hambar. Ia terus mendoktrin dirinya agar tidak percaya dengan apa yang barusan Heejin katakan. Semua ini terlalu cepat sekaligus terlalu menyakitkan, yang makin membuat ia terluka adalah kenyataan ia harus mendengar semua ini dari mulut orang lain. Heejin menatap Yoonjoo tenang walau sebenarnya tangannya pun mulai berkeringat. Ia tidak tahu sekarang ini ia merasa puas atau menyesal. Ia tidak memikirkan tentang reaksi Baekhyun saat tahu ia telah bertindak sejauh ini. Ia tidak peduli, yang ia tahu adalah berkata semuanya hingga hatinya merasa lega.

“Kau mungkin berpikir aku bohong. Jika kau tidak yakin, tanyakanlah pada Dr. Lee langsung, selain kalian berdua, Ayahmu, dan Ayahku, Dr. Lee lah yang ada saat itu menyaksikan dengan kedua matanya sendiri. Itulah alasan Baekhyun berdiri dipihakmu”

Yoonjoo menelan ludahnya. Benar. Selama ini ia tidak pernah menemukan alasan tepat kenapa Baekhyun selalu disampingnya. Pemuda itu punya segalanya yang dibutuhkan seorang pria untuk memikat wanita mana saja namun, kenapa harus dia? Kenapa harus dirinya yang dipilih Baekhyun dari sekian banyak opsi yang tersedia. Yoonjoo kehilangan kekuatannya, ia limbung, kepalanya berputar. Tangannya berpegangan pada sudut meja yang bisa ia gapai, tak berapa lama kemudian sesosok pemuda masuk menerobos dengan wajah khawatir.

“Yoonjoo” ucapnya sambil menahan tubuh gadis itu, ia berbalik, gadis itu berbalik untuk melihat siapa yang menahan tubuhnya

“Sehun” gumamnya lirih, ia sudah hampir menangis, tangannya yang berpegangan erat pada lengan baju Sehun bergetar kuat. Sehun bisa merasakannya, pemuda itu lalu menoleh pada sosok gadis lain didepan mereka

Heejin berdiri dengan wajah pucat pasi. Ia terkejut bagaimana bisa Sehun ada disitu, apa jangan-jangan pria itu sudah menguping pembicaraannya dengan Yoonjoo. Belum sempat Sehun menyerbu Heejin dengan banyak pertanyaan, Yoonjoo sudah mendorongnya pelan, gadis itu berlari keluar, Sehun berniat mengejarnya namun sepasang tangan menahannya.

“Jangan pergi” Pinta Heejin dengan suara gemetar, ia juga hampir menangis sama seperti Yoonjoo

“Apa yang kalian bicarakan?” Tanya Sehun lunak, ia membantu Heejin duduk kembali kekursinya

“Bagaimana kau bisa ada disini?” Heejin mencoba mengalihkan topic

Sehun menjawab dengan sabar “Tadi pagi aku kerumah mu karena aku dengar kabar soal Baekhyun tapi lalu aku melihatmu keluar dengan terburu-buru jadi aku mengikutimu sampa sini” Sehun diam sejenak dan mengulang pertanyaannya “Jadi, apa yang kalian bicarakan?”

“Aku….aku tidak mengerti kenapa aku seperti ini” Heejin menggeleng, matanya memerah, tubuhnya masih bergetar hebat “Aku sendiri tidak mengerti kenapa aku melakukan ini, aku…aku…” Ia terisak sambil memeluk Sehun erat “Maafkan aku. Tolong maafkan aku” Rintihnya, Sehun tak mengerti ucapan maaf itu ditujukan untuknya, untuk Yoonjoo, atau untuk Baekhyun. Ia hanya terus mendekap Heejin erat.

~oOo~

Sudah sekitar 10 menit Baekhyun berkeliling komplek untuk mencari Yoonjoo. Tangannya masih terus bergerak memencet tombol hijau saat nada sibuk menyambut telinganya tapi hasilnya nihil, sampai sekarang Yoonjoo atau Heejin tidak mengangkat panggilannya sama sekali. Ia frustasi, terbukti dari sumpah serapah yang daritadi menguar dari mulutnya. Ia berlari keluar dengan hanya berbalut kemeja putih ditengah cuaca dingin, beberapa kali ia tersandung karena terlalu kalut, beberapa kali juga ia menendang tembok jalan saat rasa kesalnya sudah diubun-ubun. Perasaannya makin menjadi-jadi dengan telpon dari Chen yang datang bertubi-tubi memberitahukan ia harus masuk hari ini karena hari ini adalah hari pertama ujian.

“Persetan dengan semua itu!!” Maki Baekhyun, ia berhenti sejenak, tangannya bertumpu pada salah satu tembok yang penuh coretan crayon

Saat pemuda itu tengah mengumpulkan nyawa, telinganya menangkap suara langkah kaki diseret dari arah depan. Ia mendongak, itu Yoonjoo. Gadis itu berjalan sangat pelan dengan langkah terseret, matanya memandang kedepan namun menarawang. Baekhyun bahkan berani bertaruh gadis itu tidak bisa menangkap dirinya yang tengah berdiri tepat didepan dengan jarak kurang dari 20 meter. Mata itu, Baekhyun bisa melihat Yoonjoo menangis, gadis itu menangis dalam diam.

“Kau kemana saja? Aku meneleponmu berkali-kali”

Yoonjoo memandang Baekhyun dengan mata berkilat. Bibirnya bergetar menahan suara tangisnya.

“Kau, kenapa kau menangis?” Tangan Baekhyun terulur hendak menyeka air mata di pipi Yoonjoo tapi gadis itu langsung mundur 2 langkah menghindari sentuhan dari Baekhyun

Baekhyun kaget, ia merasakan penolakan dari Yoonjoo. Pemuda itu mengambil langkah maju untuk memotong jarak antara mereka namun lagi-lagi Yoonjoo dengan refleks mundur memperpanjang jarak tadi.

“Ada apa?” Tanya Baekhyun ragu-ragu, ia memilih untuk diam ditempat karena dari cara Yoonjoo menghindarinya, ia bisa melihat gadis itu seperti ketakutan padanya

Plakk….

Baekhyun merasakan perih dipipinya, tidak sakit karena ia sudah biasa mendapat pukulan yang lebih bertenaga. Tamparan tadi cuma terasa seperti gigitan nyamuk tapi entah kenapa dadanya terasa sakit.

“Yoonjoo—“

“Pergi kau, jangan pernah muncul didepanku lagi”

“Yoonjoo…”

“Aku bilang pergi!! Minggir dari jalanku!!” Gadis itu mulai histeris, beberapa orang yang kebetulan lewat dijalan itu jadi tertarik perhatiannya, mereka berbisik-bisik membuat Baekhyun makin kesal

Baekhyun menarik Yoonjoo menjauh dari keramaian, gadis itu berontak, benar-benar berontak seolah Baekhyun akan melakukan hal yang buruk padanya.

“Lepaskan!! Lepaskan aku!!” Ia mulai menjerit tapi Baekhyun terus mencengkram tangannya kuat hingga sampailah mereka didepan kediaman Yoonjoo

“Kau kenapa? Jelaskan padaku kenapa kau begini?” Baekhyun menatap Yoonjoo tajam, ia bisa terima tamparan tadi tapi tidak dengan cara Yoonjoo menghindarinya seolah-olah dia adalah penyakit menular

Yoonjoo tertawa hambar “Jelaskan? Justru kau yang harus menjelaskan padaku! Ibuku, kembalikan Ibuku!!” Yoonjoo menghantam tubuh Baekhyun dengan pukulan-pukulan keras, gadis itu benar-benar membabi-buta

Mendengar Yoonjoo mengucapkan kata ‘Ibu’, Baekhyun tiba-tiba menggigil. Yoonjoo sudah tahu, Yoonjoo sudah tahu!

“Apa yang Heejin katakan padamu?” Baekhyun mencengkram lengan Yoonjoo dan seperti sebelumnya, gadis itu langsung melepaskan diri dengan kasar

“Jangan menyentuhku!! Kau…” Yoonjoo berlari masuk, Baekhyun mengikutinya, saat sampai didalam, Yoonjoo meraih jaket milik Baekhyun lalu melemparnya ke wajah sang empunya.

“Pergi kau!! Jangan muncul lagi!!”

“Yoonjoo aku….aku minta maaf, aku sungguh minta maaf” Pemuda itu memohon dengan wajah amat menyesal, ia terus mencoba mendekati gadis didepannya

“Kau minta maaf sekarang? Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaanku? Kenapa kau diam terlalu lama? Apa sebegitu senangnya kau memperlakukan orang yang kau kasihani seperti ini?”

“Aku tidak melakukan semua ini karena rasa kasihan! Aku melakukan ini karena memang aku ingin bersamamu, aku melakukan semua ini karena memang aku ingin kau jadi wanitaku, terlebih aku mencintaimu” Jelas Baekhyun dengan sisa tenaganya, ia menahan air matanya keluar, ia tak mau terlihat cengeng didepan orang yang disukainya

“Cinta? Omong kosong!”

“Kau tidak begitu?” Balas Baekhyun dengan wajah kaku

“Sekarang saja aku merasa susah bernafas, hanya berada disatu ruangan denganmu saja membuatku susah bernafas jadi bagaimana kau bisa menyebut-nyebut cinta diantara kita?” Yoonjoo benar-benar melempar Baekhyun kesudut tergelap yang ada dihatinya, pemuda itu meneteskan air mata. Wajahnya masih tetap kaku tapi air mata terus menetes dari matanya.

“Pergilah. Anggap saja pertemuan kita ini seperti takdir jelek dan berdoalah dimasa depan kita tidak akan bertemu lagi”

Seorang wanita tua yang baru masuk langsung menarik pelan Baekhyun keluar. Wanita itu adalah bibi Jung, sebenarnya ia sudah ada diluar sejak 10 menit lalu tapi ia tak berniat masuk untuk melerai karena masalah ini bukan wilayahnya. Sekarang ia hanya bisa menepuk pundak Baekhyun dan menyuruh pemuda itu pulang sambil memberikan senyum penyemangat.

~oOo~

Wajah Baekhyun bertekuk sempurna. Lingkaran hitam terlihat jelas disana, ketiga temannya bergidik ngeri melihat Baekhyun seperti itu. Mereka tidak berniat mengganggu Baekhyun seperti biasa karena tidak ada seorangpun yang mau melihat amukan lelaki berwajah manis didepan mereka ini. Benar kata bartender bernama Hose itu, Baekhyun memang berwajah tampan dan manis tapi jangan kira ia tidak bisa marah, justru jika ia sudah marah, bahkan seekor nyamukpun akan berbondong-bondong melakukan imigrasi. Hiperbola memang tapi mengingat hal yang ia lakukan pada Dongjoo, semua itu benar. Sebagai catatan saja, sebuah kursi patah dan hancur menjadi beberapa bagian dalam peristiwa itu. Bayangkan sendiri saja bagaimana brutalnya cara Baekhyun memberi pelajaran pria bermarga Park itu.

Hari ini Junsang terlihat lumayan sepi karena siswa kelas 10 dan 11 diliburkan dalam rangka ujian kelulusan siswa kelas 12. Lima menit yang lalu, siswa-siswi tahun akhir tersebut baru saja selesai dengan ujian matematika, sekarang ada waktu istirahat sekitar setengah jam untuk mendinginkan otak sebelum kembali disibukan dengan soal dari mata pelajaran lain. Suasana kelas sepi, tentu saja karena tidak ada siswa yang mau berdiam diri dijam-jam berharga seperti ini. Daripada merenung dikelas, akan lebih baik memenuhi perut dengan beragam makanan enak tapi tidak dengan Baekhyun, pemuda itu benar-benar seperti mayat hidup. Pikirannya sedang ada di galaksi lain. Chen beranjak dari tempat duduknya, ia sudah mendengar apa yang terjadi antara Baekhyun dan Yoonjoo, tidak seperti Chanyeol dan DO yang terbengong-bengong heran dengan suasana hening sekarang ini.

“Kau mau seperti ini sampai kapan?” Tegur Chen pelan

Baekhyun diam, dia masih mengamati bangku kosong disampingnya dengan wajah depresi dan tatapan nanar.

“Aku bahkan tidak yakin kau tadi menjawab soal-soal itu” Chen ikutan depresi

Chanyeol dan DO hanya saling tatap. Mereka memilih mengunci mulut daripada Baekhyun akan senewen jika mereka terlalu banyak bertanya.

“Sekarang kembalikan akal sehatmu Byun Baekhyun. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian terpuruk, aku akan membantumu mencari solusi, tapi untuk sekarang ayo kita fokus pada ujian ini. Kau tidak mau kan tetap tinggal disekolah ini untuk satu tahun lagi?”

“Bagaimana caranya? Solusi seperti apa yang bisa menyelesaikan semua ini?” Baekhyun menatap Chen serius

Chen membuang nafas berat, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal “Pertama-tama kau harus menjelaskan sejujur-jujurnya pada Yoonjoo, semuanya, jangan ada yang disem—“

“Kau pikir aku tidak mencoba? Kalau memang cara itu berhasil, apa kau pikir aku akan seperti ini?” Ini dia! Batin Chanyeol. Baekhyun sekarang benar-benar senewen, terlihat dari nada bicaranya yang semakin naik ditiap kata.

Menyadari dirinya yang terlampau temperamental, Baekhyun merebahkan kepala diatas meja “Tadi hanya tamparan dan makian. Lainkali mungkin dia akan melemparkan batu atau pisau padaku” Lirihnya

Baekhyun mendapat masalah pelik dan kepalanya seperti terantuk batu dengan berat berton-ton. Ia sebenarnya ingin meringkuk saja dibalik selimut atau menghabiskan waktu di pub tapi hari ini dan 3 hari kedepan adalah hari yang menentukan. Mau tak mau ia harus rajin kesekolah walau sesuntuk apapun. Gadis itu, gadis yang menyebabkan ia uring-uringan tak menampakan diri, Baekhyun mendengar soal-soal ujian dikirim ke rumah Yoonjoo karena gadis itu sedang sakit.

~oOo~

Satu minggu kemudian….

Burung berkicau melantuntkan siulan indah. Matahari bersinar namun tak terlalu terik. Suasana hari itu cerah. Baekhyun menarik nafas panjang memenuhi paru-parunya dengan oksigen. Sekali lagi ia mematut diri didepan cermin. Dirinya yang dalam setelan jas benar-benar berbeda dengan biasanya. Ia sudah memotong rapi rambutnya, ia bahkan melepas semua tindikan ditelinganya. Pemuda itu memang dalam tampilan baru tapi tidak dengan anggota tubuh bagian dalamnya. Selama seminggu ini ia uring-uringan bahkan tak bisa tidur nyenyak. Ia mengirim pesan tanpa absen, melakukan panggilan hingga jempolnya terasa sakit, tapi tetap saja gadis itu tak menggubris. Dimalam hari, pemuda itu bahkan nekat menatap jendela kamar Yoonjoo jika hatinya benar-benar dilanda rindu. Disiang hari, ia terus mengetuk pintu rumah Yoonjoo, kadang bibi Jung yang membuka dan kadang tidak ada sama sekali yang menjawab ketukannya. Miris? Memang. Baekhyun melirik mejanya, 3 hari lagi ia akan pergi ke Jerman, passport dan visanya sudah siap, begitu juga dengan tiketnya.

“Oppa, kau bisa terlambat ke upacara kelulusan jika tidak turun sekarang”

Baekhyun tidak menoleh, ia bisa melihat pantulan tubuh pemilik suara tersebut dari cermin didepannya. Selama seminggu ini ia terus mendiamkan Heejin, ia tak bisa marah ataupun bersikap biasa pada gadis itu. Kadang ia merasa keterlaluan dengan sikapnya karena sebenarnya Heejin sudah meminta maaf padanya pada hari itu juga, hari dimana ia membokar semuanya didepan Yoonjoo. Tapi luka tetap luka, ia juga tak tahu kapan akan bisa bersikap biasa lagi dan menganggap semua tak pernah terjadi.

“Aku akan turun” Jawab Baekhyun pendek sambil membenarkan lagi letak dasinya

Heejin kembali menutup pintu rapat, ia berjalan gontai menuruni tangga sambil memikirkan sampai kapan Baekhyun akan terus bersikap seperti ini. Kakinya berhenti tatkala tubuhnya merasakan getaran akibat ponsel yang berdering. Tangannya merogoh kedalam tas untuk mengambil benda tersebut, itu Sehun. Ia ingat janjinya, ia ingat hari ini ia harus ke sekolah Sehun untuk ikut menghadiri upacara kelulusan pemuda itu. Sebenarnya dalam hati ia juga ingin menghadiri upacara kelulusan di Junsang tapi….melihat tatapan Baekhyun tadi, ia berpikir akan lebih baik tak menunujukkan diri dulu didepan kakaknya. Baekhyun perlu waktu, Heejin tahu itu.

~oOo~

Ratusan siswa-siswi SMA Shinhwa melemparkan buket bunga bersamaan untuk merayakan kelulusan mereka. Hari itu benar-benar dipenuhi dengan suka-cita, tawa bahagia, dan tangisan haru kala teringat perjuangan mereka selama 3 tahun di sekolah menengah atas. Begitu juga dengan Sehun, ia terus tersenyum bangga karena kembali menjadi salah satu lulusan terbaik dari sekolah tersebut. Tangan kanannya memegang ijazah sedangkan tangan kirinya yang bebas sedang menggenggam erat tangan Heejin. Mereka berdua tengah tersenyum pada kamera, momen-momen sekali seumur hidup ini tentu saja harus diabadikan.

“Kau benar-benar akan ke Perancis?” Heejin bertanya dengan suara sangat pelan

Sehun menoleh lalu tersenyum “Kenapa? Kau mau ikut bersamaku?”

“Apa maksudmu? Masih ada satu tahun yang harus kuselesaikan di Junsang”

“Kau bisa pindah sekolah disana”

Heejin menggeleng “Tidak. Jujur saja aku lebih suka di Korea”

“Kau tidak suka bersamaku?”

Heejin mengedikan bahu sambil tertawa mengolok. Sehun mengacak rambutnya “Kau tidak takut aku selingkuh dengan wanita Perancis? Kau tahu kan bagaimana bentuk tubuh mereka?” Sehun terus memprovokasi

“Kau berani melakukannya?” Tantang Heejin

“Kenapa tidak?”

“Aku akan meracun mati wanita bule itu didepanmu”

Sehun terbahak, baru kali ini dilihatnya Heejin bercanda sejauh itu. Biasanya gadis itu lebih banyak diam tapi hari ini dia sungguh berbeda, sebenarnya bukan hari ini saja, tepatnya sejak seminggu yang lalu, sejak ia dan Yoonjoo duduk berhadapan membicarakan sesuatu. Saat itu Heejin benar-benar menangis menyesali apa yang telah ia lakukan, Sehun terus setia mendengar dan mencoba memahami gadis itu walau dalam hatinya sakit. Tentu saja sakit karena Heejin melakukan hal itu demi lelaki lain. Sekarangpun, Sehun belum yakin Heejin sudah melupakan Baekhyun sepenuhnya tapi, ia sudah berjanji, ia sudah berjanji akan menunggu hingga tiba waktunya pandangan Heejin benar-benar hanya tertuju padanya.

“Aku mau ke suatu tempat. Kau mau mengantarku?”

“Kemana?”

“Mencoba memperbaiki hal yang ku kacaukan”

Sehun tak bertanya lebih jauh, ia langsung menyetujui permintaan Heejin. Setelah keluar dari daerah sekolah, Heejin baru menyebutku kemana ia minta diantar. Jujur saja Sehun agak terkejut tapi kalimat Heejin berikutnya justru membuat ia lega.

“Aku akan meluruskan apa yang kukacaukan, kau tidak usah khawatir. Aku tidak akan melakukan hal bodoh lagi” Ucapnya sambil menunjukkan sebuah sketchbook

“Itu milik siapa?”

“Baekhyun. Hari ini aku akan menyerahkan pada orang yang memang seharusnya menerimanya”

Sehun mengerti, ia tahu Baekhyun amat handal menggoreskan pensil diatas kanvas atau kertas. Tak heran pemuda itu dengan mudah lolos tes masuk ke jurusan arsitektur di salah satu perguruan tinggi ternama di Jerman. Sketchbook itu pasti ditujukan untuk Yoonjoo.

“Apa perlu kutemani?” Tawar Sehun saat mereka sudah sampai didepan sebuah gang kecil menuju kediaman Yoonjoo

Heejin menggeleng sambil memamerkan senyum hangat “Ini urusan wanita” candanya

“Baiklah. Aku akan menunggumu disini”

Heejin mengangguk, ia mengambil nafas lalu melangkahkan kakinya dengan pelan. Anak-anak tangga itu dilalui Heejin dengan perasaan campur-aduk, ia takut kalau-kalau kalimat yang sudah ia siapkan tiba-tiba menguar saat berhadapan dengan Yoonjoo. Ia benar-benar merasa bersalah karena hari itu.

“Kau sudah disini. Hadapilah Byun Heejin” Ucapanya pada diri sendiri

Setelah sekitar 3 menit berjalan, Heejin sampai didepan sebuah rumah kecil sederhana. Pagar rumah itu setengah terbuka membuat Heejin tertarik mengintip kedalam. Saat kepalanya bergerak melihat situasi didalam, matanya dibuat terkejut karena Yoonjoo dan seorang wanita tua terlihat ingin pergi jauh. Disamping mereka berjejer beberapa koper ukuran besar.

“Eonni” Panggil Heejin, baru kali ini ia memanggil Yoonjoo dengan sebutan formal tersebut

Yoonjoo terenyak, ia memandangi Heejin lalu memandang jauh kebelakang entah apa yang ia cari. Mungkin ia berharap Baekhyun datang bersama Heejin atau mungkin juga tidak. Hari ini upacara kelulusan dan ia sengaja datang kesekolah hanya untuk mengambil ijazahnya lalu segera pulang. Ada rasa tak enak saat beberapa guru yang mengenalnya meminta dia untuk tinggal sebentar melihat upacara tersebut.

Melihat Yoonjoo diam, Heejin mengambil inisiatif duluan. Gadis itu melangkah masuk, ia mencari tatapan benci dimata Yoonjoo namun nihil, ia tak menemukannya. Ketakutan yang terus ia bayangkan tak terjadi.

“Bisakah kita bicara berdua saja?” Pinta Heejin

Yoonjoo mengangguk lalu tanpa diperintah, bibi Jung melangkah mundur masuk kedalam rumah.

“Kau mau kemana?” Tanya Heejin basa-basi

Yoonjoo tak langsung menjawab, ia menimbang beberapa saat tentang apa yang Heejin inginkan.

“Aku akan pergi ke suatu tempat, diluar Korea” Yoonjoo memberikan jawaban yang justru terdengar seperti kasus yang harus dipecahkan

Hening cukup lama sebelum Heejin memberanikan diri menyerahnya sketchbook yang ia simpan didalam tas.

“Apa ini?”

“Kau bisa melihatnya sendiri nanti” Heejin menarik nafas pendek “Aku minta maaf atas perkataanku waktu itu dan….Baekhyun, dia benar-benar tidak seperti yang kau pikirkan. Kau pasti sudah tahu tentang kami yang sama sekali tidak punya hubungan darah. Kami sama-sama kesepian, tidak punya tempat bersandar, hal itu membuat kami memiliki perasaan satu sama lain. Tapi…itu dulu sebelum Baekhyun bertemu denganmu, saat itu aku seharusnya segera sadar tentang perasaannya yang semakin hilang tapi aku justru pura-pura buta pada kenyataan dan terus memaksakan perasaanku. Dan sekarang aku bukan hanya melukainya tapi juga melukaimu”

“Kau tidak perlu menceritakan semua itu padaku” Ujar Yoonjoo pelan

“Harus, kalau tidak, aku akan merasa bersalah seumur hidup” Heejin memelintir roknya, ia terlihat tegang

“Aku harus ke bandara sekarang” Yoonjoo menghentikan situasi canggung tersebut, ia bisa merasakan Heejin tertekan

“Sebentar lagi, dengarkan aku sebentar lagi” Pinta Heejin

Yoonjoo mengangguk, Heejin membuka mulutnya perlahan “Baekhyun, dia sudah mengalami banyak hal mengerikan dalam hidupnya, ia tak punya pegangan, aku tidak mau melihat kakakku itu kembali kaku seperti dulu jadi…..aku minta kau memaafkannya”

“Aku—“

“Dia selalu menyebut namamu didepanku” Potong Heejin cepat, Yoonjoo menatap gadis didepannya lurus-lurus “Dia terus mengatakan kalau dia menyukaimu, dia menyayangimu, dan saat itu aku tahu dia menemukan pegangan hidupnya. Dia bahkan pernah bilang, walaupun kau punya ratusan pelindung didepanmu, dia tetap dengan senang hati menjadi salah satunya”

Yoonjoo merasakan tubuhnya melemah, perkataan Heejin barusan benar-benar seperti rudal besar yang meledakkan seluruh pertahanannya. Ia jadi teringat saat-saat ia membabi-buta memukul Baekhyun, melontarkan bertubi makian pada pemuda itu, ia merasa sedih jika mengingatnya, ia merasa bersalah karena jika dipikir-pikir, kecelakaan yang menimpa keluarganya bertahun-tahun lalu bukanlah murni kesalahan Baekhyun. Ia hanya….ia hanya marah kenapa pemuda itu menyembunyikan hal sebesar itu darinya dan justru ia harus mendengar dari mulut orang lain.

“Aku harus pergi sekarang” Yoonjoo mengusap air yang hampir saja menetes dari matanya “Bibi Jung, taksinya sudah datang. Kita harus pergi sekarang” Teriak Yoonjoo mencoba sesantai mungkin

Heejin tak bisa berbuat apa-apa, ia seperti patung. Matanya hanya memandang punggung Yoonjoo yang kemudian menghilang dibalik pagar. Tangannya bergetar, dengan sisa tenaga, Heejin mencoba menghubungi Baekhyun namun tak kunjung diangkat. Saat percobaan kelima, akhirnya sebuah suara membalasnya.

“Ada apa?” Suara diujung sana begitu dingin

“Yoonjoo, dia pergi” Ucap Heejin lemas

Hening, Baekhyun tak bersuara, mungkin ia juga kaget “Apa maksudmu?”

“Dia baru saja pergi menuju bandara. Dia bilang akan pergi ke suatu tempat diluar Korea”

Setelah mengatakan itu, Heejin mendengar suara berisik yang diikuti tanda panggilan ditutup.

“Yoonjoo, dia mau kemana? Apa dia bilang padamu dia mau kemana?” Sehun yang baru saja datang langsung membanjiri Heejin dengan pertanyaan

“Dia tidak bilang. Aku…sudah mengubungi Baekhyun dan memberitahunya. Apa aku melakukan hal benar?”

Sehun mengangguk dan tersenyum hangat “Kau melakukan hal yang sangat benar” direngkuhnya tubuh Heejin erat, ia tahu sejak hari ini, ada hari-hari yang lebih cerah akan menyambutnya juga Heejin.

~oOo~

Yoonjoo sedang berada diruang tunggu. Ia bisa melihat panggilan-panggilan tak terjawab dari Baekhyun sejak 15 belas menit lalu, ia juga tak berani membuka sketchbook yang tadi diberikan Heejin.

“Angkatlah nona”

Yoonjoo menoleh pada pemilik suara itu “Jika memang nona sudah tidak mau bicara dengan dia lagi, anggaplah yang kali ini untuk terakhir kalinya” Nasehat bibi Jung

Yoonjoo menimbang, saat wanita tua bermarga Jung itu menjauh, Yoonjoo dengan ragu menekan tombol bergaris hijau. Ia tempelkan benda itu ketelinganya namun ia tak bersuara.

“Kau dimana?” Suara Baekhyun, hanya sepenggal suara itu berhasil menitikan air matanya

“Halo! Yoonjoo! Kau dimana? Kau mau kemana? Kita bicara dulu…”

Yoonjoo tak menjawab, ia sibuk menutup mulut dengan telapak tangan agar suara tangisnya tak lepas

“Baiklah kita bicara ditelpon, aku mohon jangan tutup telponnya” mohon Baekhyun diujung sana

“Aku tahu aku benar-benar tidak bisa mengembalikan semua yang telah hilang, bahkan jika aku membunuh diriku sendiri, semuanya akan tetap sama, waktu tak akan terulang” Baekhyun berhenti sejenak, terdengar suara nafasnya yang sangat tak beraturan

“Kau boleh menghukumku dengan cara apa saja sampai kau puas. Kau boleh menamparku, memakiku, memukulku, atau bahkan mengutukku sesuka hatimu tapi aku mohon…jangan hukum aku dengan cara seperti ini”

Badan Yoonjoo gemetaran, air matanya terus keluar, ia menggigit bibir mendengar suara putus asa milik Baekhyun.

“Jangan menghukumku dengan menghindariku. Jangan pergi, jika memang kau harus pergi, pergilah! Tapi aku mohon, pergilah ketempat dimana aku masih bisa melihatmu dari jauh untuk memastikan kau baik-baik saja. Pergilah ketempat dimana mataku masih bisa menjangkaumu….setidaknya…setidaknya, biarlah aku sekedar mendengar nafasmu dan tahu kau baik-baik saja”

Yoonjoo mengakhiri panggilan Baekhyun. Ia terisak, suara tangisannya bahkan membuat orang-orang sekitar menoleh kaget dengan wajah khawatir.

“Ada apa? Kenapa nona menangis?” Tanya bibi Jung dengan raut amat khawatir

“Baekhyun….” Sebut Yoonjoo disela tangisannya “Baekhyun” sebutnya lagi “Aku benar-benar merindukannya” Lirih Yoonjoo lalu memeluk wanita tua didepannya itu dengan erat

~oOo~

4 years later……

Seoul, Autumn 2018

Baekhyun bersiul pelan sambil melihat ke kiri dan ke kanan sebelum berjalan cepat menyeberangi jalan menuju pintu masuk Gimpo International Airport. Bangunan besar tersebut pernah menjadi saksi saat-saat mengharukan, saat pelukan seperti tidak dapat dilepaskan lagi, saat lelah tersampaikan lewat isak tangis dan air mata tapi, hari ini, bangunan tersebut akan kembali menjadi saksi pertemuan dari sebuah penantian panjang dan rindu yang amat dalam. Langit kota Seoul hari itu terlihat cerah, secerah suasana hati Baekhyun sendiri. Hari yang indah memang selalu bisa membuat orang gembira! Batinnya.

Drtttt…. Baekhyun merasakan ponselnya bergetar hebat. Sebuah nama yang terpampang disana membuat senyumannya merekah.

“Kau sudah sampai? Aku sudah ada diarea kedatangan” Ucapnya riang

“Kau benar-benar sudah dibandara?” Suara disana terdengar was-was

“Ada apa? Kenapa suaramu begitu?”

“Begini….itu…”

“Ada apa?”

“Cuaca di Milan sedang buruk jadi semua penerbangan ditunda lalu kemudian aku dapat sebuah kabar tentang tour ke Verona dari salah seorang temanku dan—“

“Jangan bilang kau mau mengikuti tour itu lagi!!” Baekhyun berteriak membuat orang-orang disekitarnya memandang heran, bukannya minta maaf, Baekhyun malah melemparkan tatapan ‘Kalian melihat apa huh?!’

“Aku juga sebenarnya tidak mau tapi kau tahu—“

“Kau sudah menunda kepulanganmu selama 3 bulan, dan sekarang kau mau menunda berapa lama lagi? Sebenarnya kau itu cinta tidak padaku? Kau sepertinya tidak ingin bertemu denganku” Baekhyun benar-benar senewen sekarang, ia merajuk seperti anak kecil

“Aku tidak bilang begitu”

“Kau tidak bilang tapi gelagatmu menunjukkan seperti itu. Sewaktu kau pertama ingin pergi ke Italia, kau tidak mau menerima uang pemberianku sama sekali”

“Yak! Bukankah kukatakan Ayahku meninggalkan uang yang cukup, apa kau tidak ingat aku juga membayari debt collector itu? Aku benar-benar punya uang yang cukup untuk hidupku. Lagipula kenapa kau harus membiayai hidupku? Kita kan belum berstatus apa-apa”

“Baiklah lupakan masalah uang. Lalu bagaimana kau menjelaskan tentang tolakanmu setiap kali aku mau mengunjungimu hmm?”

“Bukankah jawabannya sudah jelas. Jerman ke Italia tidaklah dekat, lagipula aku sibuk jadi tidak bisa menerima tamu dan lagi kau juga seharusnya fokus kuliah saja disana, bukannya terus berpikir terbang kesana kemari”

“Terbang kesana kemari katamu? Aku ke Italia untuk mengunjungi pacarku!”

Lagi-lagi mereka berdua bertengkar karena masalah kecil. Dan sepertinya pertengkaran itu akan berlangsung lama. Wanita itu menghembuskan nafas lelah, perdebatannya dengan Baekhyun selalu menguras tenaga.

“Daripada kau terus mengomel, bukankah lebih baik kau membantuku mendorong koper?”

“Apa kau sedang menyuruhku terbang ke Italia hanya untuk mendorong koper dan mengantarkan acara kaburmu ke Verona?” Sungut Baekhyun

“Ya Byun Baekhyun!”

Baekhyun kaku, ia seperti mendengar sebuah suara memanggil namanya. Ia membalikkan tubuh perlahan dan disana, disana berdiri seorang wanita yang sangat dikenalnya. Wanita itu tengah tersenyum lebar sambil melambaikan tangan. Baekhyun merasa tanduknya muncul, ia kemudian mendekatkan ponselnya ketelinga

“Tunggulah sampai kau ada dalam jarak yang dekat denganku. Kau akan menerima hukumanmu Han Yoonjoo!”

 

~ The End ~

 

Epilog

Heejin menatap Yoonjoo yang baru saja duduk dihadapannya.

“Ada apa?” Tanya Yoonjoo heran, ia tak berniat meminum latte yang telah dipesan Heejin sebelumnya

“Minumlah dulu. Kau mungkin akan terkejut setelah mendengar apa yang akan kukatakan”

Yoonjoo mengernyitkan dahi, ia mencoba terlihat santai “Katakan saja apa yang mau kau katakan”

“Aku tahu Ibumu meninggal dalam kecelakaan 9 tahun lalu”

“Bagaimana bisa kau tahu?” Yoonjoo benar-benar terkejut tentang yang satu ini

“Kau tentu tidak lupa dengan anak lelaki itu bukan? Anak lelaki yang berlari ketengah jalan hingga mengakibatkan kalian mendapat kecelakaan” Heejin terus menguarkan semua cerita yang ia dengar dari Dr. Lee, ia benar-benar tak mengijinkan Yoonjoo untuk berpikir atau sekedar mengambil nafas

“Kau dan Baekhyun adalah takdir yang buruk”

“Apa maksudmu?”

“Anak lelaki itu….itu Baekhyun. Dia memperlakukanmu dengan baik hanya karena rasa bersalahnya”

Bagaikan disayat lalu disiram air panas, Yoonjoo mendadak merasakan sesak luar biasa. Bukan hanya karena ia dipaksa mengingat detik-detik kepergian Ibunya tapi juga ia dipaksa percaya tentang kenyataan bahwa pria yang membuatnya nyaman selama ini adalah anak lelaki yang membuatnya kehilangan sosok Ibu. Setelah ia ingat betul-betul, ia baru sadar bahwa memang benar itu adalah Baekhyun…bagaimana bisa ia lupa wajah itu? Wajah yang sempat menawarkan sapu tangan dan permen untuknya….

9 Years Ago……

Bibir kecil Yoonjoo terus menyenandungkan lagu kanak-kanak yang ia pelajari saat disekolah. Suara nyanyiannya tak ayal membawa suasana hangat ditengah guyuran hujan deras dan cuaca dingin yang menusuk hingga ketulang sumsum. Ia bersemangat karena sekarang ia bersama dengan Ayah dan Ibunya sedang dalam perjalanan ke Seoul untuk mengunjungi rumah salah seorang sahabat Ayahnya, ia senang bisa bertemu sahabatnya sejak kecil, Oh Sehun.

“Ibu, dimana boneka Barbie milikku?”

“Ada ditas sayang, Ibu sudah memasukkannya”

“Tapi aku mau bu” Gadis kecil itu memaksa, ia bahkan melepaskan seatbeltnya agar lebih leluasa membongkar tas untuk menemukan boneka kesayangannya

“Yoonjoo cepat pasang seatbeltmu lagi” Perintah Ayahnya

“Pasang seatbeltmu sayang, Ibu yang akan mencarikannya”

Karena Ibunya duduk dikursi depan, ia dengan terpaksa harus melepas seatbelt jua agar bisa menjangkau tas yang diletakkan dibagian belakang. Saat itu, mereka benar-benar tidak sadar akan ada sebuah kejadian yang mengawali takdir panjang dimasa depan.

Yoonjoo mengangkat kepala setelah sukses memasang seatbeltnya, saat itu pula bibir mungilnya gemetaran, ia berteriak “Ayah awas!!!!”

Seorang anak lelaki kecil tiba-tiba berlari ketengah jalan, hal itu menyebabkan Han Taesung—ayah Yoonjoo— mengerem mendadak sambil melempar setir kearah lain untuk menghindari anak lelaki itu. Mobil mereka menghantam tembok jalan dengan keras, Istrinya yang sedang dalam keadaan tak berbalut sabuk pengaman, tubuhnya terlempar keluar menembus kaca depan mobil. Tubuh itu terpental jauh. Yoonjoo yang masih dalam keadaan sadar, menangkap suasana ribut diluar sana. Ia bisa melihat ada seorang pria seumuran dengan Ayahnya berlari, ia bisa melihat ada truk besar menghadang jalan, ia bisa melihat anak lelaki itu, anak lelaki yang menyebabkan semua ini lalu kemudian ia tersadar Ibunya sudah tak ditempat semula..

“Ibu…” Panggilnya lirih

~oOo~

Aroma obat membuat kepala Yoonjoo berputar. Ia masih tak bisa berhenti menangis terlebih melihat keadaan UGD yang kacau dan penuh suara isak tangis itu. Ayahnya bahkan sudah tak terlalu memerdulikannya karena sibuk dengan tubuh Ibunya yang bersimbah darah, ia menangis sendiri namun tanpa disadari, dari balik tembok koridor ada sepasang mata yang tengah memerhatikannya. Tubuh kecil itu lambat laun mendekat, setelah sampai tepat dibelakang Yoonjoo, ia tak bersuara tapi kedua tangannya terjulur memberikan sesuatu. Tangan kirinya memegang sapu tangan dan tangan kanannya memegang permen loli berukuran besar.

Yoonjoo menoleh mencari pemilik tangan itu dan saat ia menyadari yang berdiri dihadapannya adalah anak lelaki yang menyebabkan semua kekacauan ini, Yoonjoo makin histeris. Gadis kecil itu mengibaskan tangan hingga jatuhlah permen loli dan sapu tangan si lelaki kecil. Wajah bocah lelaki itu terlihat hampir menangis dan sama ketakutannya seperti Yoonjoo, ia bergumam “Maafkan aku”

 


 

Inilah akhir kisah mereka, maaf kalau endingnya benar-benar kurang berkenan. Sebenarnya waktu menulis fanfict ini, saya sudah menyiapkan tokoh Yoonjoo tapi sengaja tidak saya tulis namanya sebagai cast diawal cerita agar jadi surprise. Mohon maaf untuk reader yang mengharapkan akhir Baekhyun-Heejin, bukannya saya bermaksud php (?), hanya saja ceritanya memang sudah saya setting begini. Terima kasih untuk semua yang setia membaca dan terus menanyakan kelanjutan fanfict ini. Sekali lagi maaf jika ending ini kurang memuaskan. Sampai jumpa lagi *nangis Bombay *bow jedot lantai

Iklan

14 pemikiran pada “Thorn of Love Part 11 End – (Again, I Love You Today)

  1. Akhirnya ending juga :’) walau telat yah aku baca nya 😅😅😅😅.

    Aku ga nyangka kalo ending bakal gini,yah yah aku mah masih berharap Baekhyun sama Heejin tapi kenyataan berkata lain :v soalnya dari awal cerita itu kan kisah Baekhyun-Heejin dan muncul Yoonjo merubah pemikiran awal aku kalo Baekhyun bakal jadi sama Heejin bukan tanpa alasan juga Yoonjo muncul tapi emg dari awal Baekhyun udah ditakdirkan sama Yoonjo /nanggisbombai😌😌😌.

    Walau pas Heejin ngasih tau kenyataan ke Yoonjo aku kira dia ngasih tau apa ternyata kalo Baekhyun yang menyebabkan ibu Yoonjo meninggal tapi pada akhirnya Yoonjo memiliki Baekhyun sebagai penggantinya 😅😅😅.

    Dari awal cerita udh greget gitu sama hubungan Baekhyun sama Heejin ><,tapi yah gitudeh hahahahha ,yah semoga Heejin bahagia sama paduka Oh Sehun 😃😃😃.

    Makasih yah Kak udah menyuguhkan cerita ini yang bikin baper sama greget 😊😊😊😊,kalo boleh tau punya WP pribadi?biar bisa ngunjungin ke WP kakak 😃😃😃 ,aku tunggu yah ff ff lainnya ^^

  2. yeeeee,,, pas liat ada cast yoonjoo akuuu emangg udah ada feel klo baek itu bakalan sama yoonjoooo,, yeeeeeee 🙂

    Akhirnyaaa happy end baekjoo 🙂

    Sehun heejin aku yakin happy end jugaaaa,,,,,,,,, 🙂

    Tapi aku mash tanda tanyaaaa,,,,,, katanya sehun mau jadi jaksa sukses dan membuka kembalii kejahatannnn masa lalu yoonjooo,,,,, iyaa sihhh dongjoo udah dipenjara,, tapi kan ayahnya sehun blum dapettt karmanayaaaaa,,,,, sayang banget g di ceritaaiinnnn,,,

    Ayahnya baek jga menghlangg,, stlahh kejadian dikantor polisi ,,,, ga dimasukin cast lagiii,,,
    Ituu ajaaa thorrr

    Maksihhh,, aku suka ff muuu 🙂 fightingg

  3. Awalnya aku nge ship baekhyun heejin, tapi chapter ini mengubahku jadi baekhyun yoonjoo shipper. Ciealh bahasaku😂 tapi ini eugh…beugh…ajib banget kak

Tinggalkan Balasan ke wfs Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s