My Teacher is My Husband (Chapter 9)

My Teacher is My Husband (Chapter 9)

BabyDo (@rizqil_amni)

School life || marriage life || comedy || romance.

 Lenght: Chapter

 Cast:

– Xi Luhan

– Park Nayoung

– Byun BaekHyun

 Support cast : You can find it..

 

Chapter 9

Author Pov

Seperti biasa seusai pulang sekolah Nayoung pulang dengan Luhan. Tapi tidak seperti biasanya, jika beberapa minggu yang lalu Nayoung ketika akan pulang sekolah harus berkelit dulu pada Baekhyun yang selalu mengajaknya pulang bersama. Tapi sekarang tidak, Baekhyun, Nayoung dan Kyung Jin berjalan bersama menuju gerbang sekolah.

“Baekhyun Kyung Jin aku duluan.” Pamit Nayoung sambil tersenyum.

“Aihhh dia, mentang-mentang sudah punya suami. Pantas saja jika diajak pulang bersama selalu saja punya alasan.” Ejek Baekhyun.

“Kau ini, mulai mengungkit lagi. Kau mau aku menangis lagi seperti tadi, huh?” Ucap Nayoung dengan dibuat-buat kesal.

“Silahkan saja kau menangis disini, kalau kau sudah tak punya malu.” Baekhyun berucap dengan nada menyebalkan andalannya.

“Sudah cukup, kalau kau terus membicarakan itu aku semakin merasa bersalah padamu.” Nayoung berkata sambil menekuk mukanya.

“Ayolah Xi Nayoung, aku hanya bercanda. Jangan kau tekuk mukamu itu nanti tambah jelek.”

“YAK!!”

“Okeoke i’m just kidding.” Baekhyun terus saja berdebat kecil dengan Nayoung seperti biasanya. Tapi berbeda dengan Kyung Jin yang menatap Baekhyun dengan tatapan iba.

“Aku salut padamu Baekhyun, rela mengorbankan perasaanmu demi persahabatan kita. Dan berusaha terlihat baik-baik saja walau itu hanya kasat mata. Aku tahu kau sangat rapuh Baekhyun.” Kyung Jin berucap dalam hatinya, sampai tidak menyadari kalau Nayoung sudah berlalu dari hadapannya dan Baekhyun.

“Kau sudah puas dengan menatapku dengan tatapan kasihanmu itu?” Tanya Baekhyun sambil menatap Kyung Jin.

“Eo.. aniyo bukan begitu.” Kyung Jin berusaha menyangkal.

“Kau tidak usah mengelak dari tadi aku sadar kau memperhatikanku.”

“Baiklah aku mengaku.” Akhirnya Kyung Jin harus mengalah.

“Bukankah tadi aktingku sangat bagus?” Baekhyun bertanya pada Kyung Jin sambil tersenyum getir. “Mungkin jika aku terus berlaku seperti ini, aktingku bisa disejajarkan dengan Kim Soo Hyun.” Tambah Baekhyun.

Kyung Jin hanya menghela nafas mendengar ucapan Baekhyun yang konyol tapi lebih terkesan miris untuk sekarang ini.“Sebenarnya aku kasihan padamu, tapi dalam waktu bersamaan aku juga salut padamu. Kau bisa terlihat baik-baik saja dari luar, dan aku tahu kau melakukan ini karena takut akan persahabatan kita bukan?”

Yang dikatakan Kyung Jin pada Baekhyun itu benar adanya, karena saat mereka memutuskan untuk bersahabat karib, mereka (Baekhyun, Nayoung dan Kyung Jin) berjanji tidak akan berhubungan lebih diantara mereka selain sahabat. Tapi mungkin Tuhan mentakdirkan untuk menyukai Nayoung tapi dengan adanya perjanjian itu, Baekhyun memilih bungkam akan perasaannya dan memendamnya. Bagi Baekhyun menjadi penggemar rahasia Nayoung sudah cukup. Dengan melihat Nayoung tersenyum bahagia, tertawa bersama mereka itu sudah membuat hati Baekhyun serasa memiliki Nayoung seutuhnya. Ironis bukan? Tapi mungkin inilah jalan hidup Baekhyun dalam bidang percintaan.

“Kau benar, aku melakukan semua ini karena takut kehilangan Nayoung. Tapi sekarang aku benar-benar kehilangannya bukan karena aku menyatakan cinta padanya, tapi karena dia sudah menjadi milik orang lain yang tidak lagi bisa ku miliki.” Ucap Baekhyun sambil menundukan kepalanya.

“Aku tahu kau pasti sangat terpukul dengan kenyataan, tapi mau bagaimana lagi mungkin ini sudah menjadi suratan takdir dari Tuhan untukmu. Dan aku yakin diluar sana masih ada perempuan yang lebih baik untukmu yang Tuhan telah persiapkan sebagai pengganti Nayoung.” Kyung Jin berucap dengan bijaksana.

“Aku tahu akan hal itu, tapi aku tidak menjamin dengan hatiku yang sudah terkunci pada seorang gadis dengan nama Park Nayoung itu.” Baekhyun tetap ngotot kalau dia hanya mencintai Nayoung seorang.

“Iya Baek, aku mengerti. Bukannya aku sudah katakan, kau harus berpikir tentang perasaan orang yang ada disekitar Nayoung bahkan perasaan Nayoung sendiri. Kalau kau terus bersikap seperti ini kau bisa dikatakan egois yang hanya memikirkan kesakitan yang mendera hatimu, mungkin kau merasakan sakitnya sekarang tapi Nayoung. Kau tak tahu berapa lama efek sakit yang akan Nayoung rasakan jika kau bersikap seperti ini. Bukannya aku melarangmu untuk mencintai Nayoung tapi lihat situasi dan kondisi orang yang kau cintai sekarang. Ingat Baek, cinta itu tak harus memiliki.” Kyung Jin terus menasehati Baekhyun takut-takut Baekhyun akan bertindak sesuatu yang bisa dikatakan bodoh.

“Kau benar, aku lupa akan hal itu.” Ucap Baekhyun sambil tersenyum terpaksa.

“Nah, ini baru Byun Baekhyun yang aku kenal.” Kyung Jin terus

“Kyung Jin kau mau menghiburku kan?” Tanya Baekhyun dengan muka melas andalannya.

“Tentu saja.” Dan bodohnya Kyung Jin menjawab Baekhyun dengan begitu polosnya. Dia tidak ingat jika dibalik muka memelas seorang Byun Baekhyun pasti ada maunya.

Dan saat Baekhyun mendengar jawaban Kyung Jin dia langsung tersenyum evil.

“Kalau kau mau menghiburku, traktir aku ice cream ukuran jumbo di kedai paman Shin.” Kata Baekhyun.

“Kau ingin merauk uang jajanku huh?” Kyung Jin langsung memukul Baekhyun saat mendengar permintaan konyolnya.

Dan kita biarkan saja orang yang sedang bertengkar konyol itu.

Luhan Pov

Mana Nayoung? Kenapa dia lama sekali? Aku terus melirik jam yang melingkar manis dipergelangan tanganku. Hampir 15 menit aku menunggunya didalam mobil. Aku berinisiatip memainkan ponselku sambil menunggu Nayoung. Saat sedang asyik bermain game Nayoung masuk mobil dengan nafas terengah-engah.

“Oppa mian aku terlambat.” Ucapnya sambil berusaha menarik nafas dan membuangnya dengan rilex.

“Gwenchana, oh ya eomma menyuruh kita untuk makan malam bersama.” Kataku dan tidak terlalu mempermasalahkan keterlambatan Nayoung.

“Ahh jeongmalyo?” Dia seperti antusias mendengar itu.

“Hmm, kita langsung kesana apa ke aparteman dulu?”

“Terserah oppa saja.” Setelah mendengar jawaban Nayoung aku langsung menstarter mobilku menuju aparteman dengan niatan mengganti baju terlebih dahulu.

Setelah dari aparteman aku langsung menuju kediaman keluargaku. Sesampainya disana aku langsung memasukan mobilku ke garasi. Aku langsung mengajak Nayoung masuk, saat memasuki rumah aku dan Nayoung langsung disambut oleh suara cempreng milik Mei Lin.

“Eonni kau datang?” Ucap Mei Lin dengan senang. Dan Nayoung hanya tersenyum menanggapi pertanyaan adikku yang cerewet ini.

“Eonni kau terlihat makin cantik saja.” Puji Mei Lin pada Nayoung.

“Ahh jeongmalyo?” Tanya Nayoung yang merasa tersanjung. Dan adikku mengangguk menjawab pertanyaan Nayoung.

Merasa tersisihkan aku berdehem. “Hey, kalian jangan lupa masih ada lelaki tampan disini.” Ucapku dengan percaya dirinya.

“Ahh aku lupa kalau oppa juga ada disini, habisnya oppa terlalu kurus jadi tidak terlihat.” Apa dia bilang?! Aku kurus? Awas kau Xi Mei Lin dasar adik durhaka.

“Hey apa yang kau katakan tadi, sangat tidak sopan berkata begitu pada kakakmu yang tampan ini.” Ucapku sambil menjitak kepalanya.

“Sakit oppa..” Dia merengek sambil mengusap kepalanya.

“Rasakan itulah akibatnya.”

“Hey sudah-sudah, kalian ini.” Dan akhirnya Nayoung melerai pertengkaran kecil kami.

“Aigoo anak dan menantu eomma sudah datang.” Dari ruang tamu eomma langsung menghampiri kami.

“Ne eommanim annyeonghaseyo.” Salam Nayoung sambil membungkukan badannya.

“Kajja kita masuk.”

Tanpa terasa hari sudah mulai petang, sambil menunggu makan malam dan appa pulang. Nayoung membantu eomma didapur, Mei Lin bermain dengan kelinci kesayangannya dan aku terus berkutat dengan PSPku.

“Luhan kau ada disini?” Suara itu adalah suara appaku.

“Ne abeoji.” Jawabku.

“Mana menantuku yang manis itu?”Abeoji bertanya sambil duduk disebelahku.

“Nayoung ada didapur sedang membantu eomma menyiapkan makan malam.” Jawabku sambil mematikan PSPku.

“Ohhh” Dan begitulah sahutan terakhirnya.

“Abeoji, bagaimana keadaan perusahaan?” Tanyaku.

“Ya begitulah syukurnya masih tetap stabil. Oh ya kapan kau akan berhenti mengajar?” Dan pertanyaan itulah yang paling aku benci.

“Aku tidak tahu, bahkan belum genap 1 bulan aku mengajar disana. Tidak mungkin aku tiba-tiba mengundurkan diri.” Seberusaha mungkin aku terus meyakinkan abeoji, memang dari kecil aku bercita-cita menjadi seorang guru. Dan aku tidak tertarik sama sekali dengan dunia bisnis yang digilai oleh Abeoji. Tapi saat memasuki bangku kuliah aku diharuskan masuk jurusan managemen bisnis. Mungkin abeoji melakukan itu mengingat hanya akulah satu-satunya penerus usaha yang telah ia bangun dari aku kecil, dan abeoji tidak mungkin memberi semua alih perusahaan pada Mei Lin.

Sangat tidak ada berkaitan sma sekali aku kuliah di managemen bisnis tapi sekarang aku menjadi seorang guru. Ya sedikit informasi saat dibangku sekolah menengah dulu aku termasuk anak yang pandai dengan nilai akademik yang bisa dibilang sangat memuaskan. Jadi aku tidak terlalu kesulitan menjalani profesiku.

“Begini Luhan, abeoji melakukan ini karena tidak ada pilihan lain. Kau pasti mengerti usia abeoji sudah tidak muda lagi, sudah tidak bisa melakukan semua kegiatan perusahaan. Dan hanya kau satu-satunya penerus perusahaan abeoji.” Aku terus berpikir menimang-nimang pilihan antara berhenti atau tidak.

“Tapi abeoji berikan aku kesempatan, ku mohon.” Aku terus memohon padanya. Dan terlihat abeoji menghela nafas.

“Baiklah, abeoji beri kau kesempatan sampai Nayoung lulus sekolah ditempatmu.” Dan itulah kebijakan terakhir yang abeoji berikan padaku. Setelah dipikir-pikir begitu lebih baik daripada aku tidak bisa melihat perkembangan belajar Nayoung di sekolah.

“Ne abeoji.”

“Yeobo kau sudah pulang?” Terdengar suara eomma menghampiri dari arah dapur.

“Hmm, mana Nayoung?” Tanya abeoji.

“Dia sedang didapur membantu menyiapkan makan malam.” Jawab eomma.

“Appa sudah pulang?” Kini Mei Lin menyapa abeoji dan terlihat Nayoung mengekor dari belakang.

“Ne sayang, ahh ini dia menantuku.”

“Annyeonghaseyo abeonim.” Sapa Nayoung sambil membungkukan badannya.

“Bagaimana kabarmu Nayoung?” Tanya Abeoji.

“Ahh aku baik-baik saja.” Jawab Nayoung sambil tersenyum dan ku akui senyumnya sedikit mirip dengan eomma jika diperhatikan dengan seksama.

“Bagaimana sekolahmu? Apa Luhan mengajar murid-murid dengan baik?” aku langsung diam mencoba mendengarkan apa jawaban Nayoung takut dia menjawab dengan anehnya atau mengadukan kelakuanku yang bisa dibilang menyebalkan.

“Ahh itu berjalan dengan baik dan Luhan oppa juga mengajar dengan baik.” Aku bernafas lega saat mendengar jawaban Nayoung. Mungkin aku patut berterima kasih padanya.

“Yeobo sebaiknya kau ganti baju dulu dan segera bersiap makan malam.” Eommaku buka suara.

Setelah semuanya berkumpul, kami langsung menyantap makan malam bersama. Mungkin sekarang suasananya sedikit berbeda karena ada Nayoung sekarang sebagai penambah aggota keluarga.

“Oppa kapan kau memberiku keponakan?” Dan pertanyaan Mei Lin sontak membuatku tersedak makanan yang sedang aku santap.

“Mei Lin, kau ini bicara selalu saja ngelantur.” Ucap eomma.

“Igeo oppa, minum dulu.” Ucap Nayoung sambil memberiku segelas air putih.

“Tapi eomma aku benar-benar kesepian sekarang, Luhan oppa sudah menikah, eomma dan appa selalu saja sibuk dengan pekerjaan. Dan aku selalu sendirian dirumah dengan Jang Ahjumma.” Aku melihat raut muka Mei Lin yang tergambar sedang kesal.

“Iya tapi Nayoung eonni tidak akan punya anak secepatnya, karena dia masih sekolah.” Sekarang abeoji yang menasehati Mei Lin.

Aku yakin kalau Nayoung juga kaget dengan perkataan Mei Lin yang meminta keponakan. Terlihat dari raut mukanya yang berubah tegang.

“Arraseo..” Mei Lin langsung menekuk mukanya.

“Mei Lin kalau merasa kesepian datang saja ke aparteman Luhan oppa, arraseo?” Aku langsung memandang Nayoung, dan dia terlihat dia balik menatapku.

“Jeongmalyo?” Mei Lin terlihat berbinar. Dan Nayoung menjawabnya dengan anggukan.

Setelah makan malam aku dan Nayoung memilih duduk dibalkon rumah sambil menatap langit malam yang menampakan benda langit yang memancarkan cahayanya yang indah. Sekarang aku sedang duduk dengan Nayoung sambil merangkul bahunya dan dia menyandarkan kepalanya ke bahu kananku.

“Oppa..” Panggilnya.

“Hmm..” Sahutku sambil terus memandang kearah langit.

“Baekhyun..” Saat nama itu terdengar aku langsung menatap Nayoung.

“Kenapa?” Tanyaku mulai dengan nada serius.

Terlihat Nayoung menghela nafasnya. “Dia ternyata menyukaiku sejak lama.” Ucapnya sambil menunduk.

Aku langsung terdiam saat mendengar perkataan Nayoung. “Lalu bagaimana?” Tanyaku ingin tahu lebih dalam.

“Dia menyukaiku sebelum aku mengenal dan menikah dengan oppa. Terhitung dia menyukaiku sejak 3 tahun yang lalu.” Aku melebarkan mataku, apa? Tiga tahun? Selama itukah?

“Lalu kenapa dia tidak menyatakan perasaannya padamu?” Tanyaku berusaha setenang mungkin.

“Entahlah, aku dan Baekhyun serta Kyung Jin bersahabat sejak kami saling mengenal dekat dan dari sanalah kami membuat janji tidak akan ada yang saling menyukai diantara kami bertiga. Mungkin itulah kendala Baekhyun yang tidak menyatakan perasaannya padaku.” Jelas Nayoung.

“Dan dia sudah tahu semuanya, kejadian saat oppa memelukku di taman bahkan perihal kita sudah menikah.”

Author Pov

Mendengar penuturan Nayoung, Luhan sedikit menegang. “Benarkah?” Begitulah reaksi Luhan.

“Ne, bahkan saat itu dia mendiamkanku seharian penuh, dia bersikap acuh padaku, menjawab ketus setiap pertanyaanku.” Jawab Nayoung yang langsung membuat Luhan khawatir.

“Lalu sekarang bagaimana? Dan bagaimana kau tahu kalau Baekhyun selama ini menyukaimu?” Tanya Luhan semakin penasaran.

“Aku memergokinya sedang menyimpan sebuket bunga kesukaanku di loker, dan disana dia menyisipkan sebuah pesan yang menjelaskan semua perasaannya padaku selama ini. Meskipun isi surat itu begitu singkat tapi itu bisa membuatku merasa amat bersalah pada Baekhyun saat itu juga. Setelah itu aku langsung menyuruhnya menemuiku diatap sekolah, dari sanalah kami sedikit bertengkar. Baekhyun secara tidak langsug mengeluarkan semua yang ada dalam hatinya.” Penuturan terakhir Nayoung terdengar sedikit tertahan karena dia sedang menahan tangisannya.

“Apa aku perempuan yang jahat oppa?” Tanya Nayoung mulai mengeluarkan air mata.

“Tidak,  kau tidak jahat. Hanya mungkin Baekhyun sengaja melakukan ini semua agar kau tidak menjauhinya.”

“Tapi aku ini emang perempuan yang tidak peka.” Nayoung terus saja menyalahkan dirinya sendiri, Luhan yang melihatnya merasa kasihan sekaligus sakit gadis kecilnya terus menangis.

“Sudahlah, kajja kita masuk kedalam disini dingin.” Luhan langsung memapah Nayoung kedalam.

Setelah didalam Nayoung masih terus saja berdiam diri, dan Luhan semakin khawatir akan hal itu. “Young-a.” Panggil Luhan.

“Ne oppa?” Sahut Nayoung.

“Kajja kita pulang.” Ajak Luhan sambil memakai jaketnya.

“Tapi aku belum pamitan..” Ucap Nayoung merasa tak enak.

“Tadi aku sudah berpamitan pada eomma dan abeoji, kajja kita pulang.” Luhan langsung menarik lembut Nayoung keluar dari kediaman orang tuanya.

Selama didalam mobil Nayoung hanya memandang keluar jendela sambil melamun, sesekali Luhan melirik Nayoung yang ada disampingnya. Luhan yang melihat Nayoung melamun hanya mendesah ‘apa dia masih kepikiran masalah tadi?’ Ucap Luhan dalam hatinya.

“Young-a..” Luhan berusaha mengembalikan Nayoung kealam sadarnya. Tapi tak ada sahutan dari Nayoung. “Nayoung..” Luhan masih terus berusaha memanggil Nayoung dan lihat masih tak ada sahutan dari Nayoung. Luhan mendengus kesal dia paling tidak suka didiamkan seperti ini.

“Xi Nayoung..” Luhan memanggil Nayoung sedikit lebih keras dan Nayoung langsung terlonjak kaget “Ne oppa?” Dan begitulah sahutan Nayoung.

“Kau tidak mendengarkanku?” Tanya Luhan dengan nada biasa.

“Aku mendengarmu oppa.” Jawab Nayoung sambil menatap Luhan yang sedang fokus menyetir.

“Aku sudah memanggilmu tiga kali tapi kau tidak menyahutnya, apa itu yang disebut mendengarkan?” Dan sekarang Luhanlah yang memulai perdebatan yang tidak jelas ini.

“Maaf, aku sedang melamun tadi.” Nayoung yang tidak ingin menambah pertengkaran langsung meminta maaf.

“Apa kau terus kepikiran masalah itu?” Tanya Luhan dengan nada sedikit khawatir.

“Tidak..” Nayoung berusaha menyangkalnya.

“Geotjimal..” Luhan terus mendesak Nayoung.

“Aku tidak bohong oppa.” Nayoung terus ngotot mengatakan tidak sedangkan Luhan terus mengintrogasinya.

“Ya sudah, kau selalu saja tidak terbuka padaku.” Ucap Luhan dengan sedikit nada kesal sedangkan Nayoung hanya diam tidak menyahuti ucapan Luhan.

Nayoung Pov

Sesampainya di aparteman aku langsung masuk ke kamar dan duduk ditepi ranjang. Hahh kenapa badanku terasa lengket padahal tadi sebelum kerumah eommoni aku menyempatkan diri untuk mandi ya walaupun sebentar.

‘Aku harus mandi lagi.’ Pikirku. Dan sejujurnya aku merasa tidak nyaman dengan badanku ini.

Setelah itu aku langsung menuju kamar mandi. Butuh waktu yang lumayan lama membersihkan badanku ini. Setelah mengeringkan badanku, aku baru ingat kalau aku lupa membawa pakaian ganti ‘Aduh Park Nayoung kenapa kau begitu bodoh sampai lupa begini.’ Aku terus menepuk jidatku dan merutuki kecerobohanku yang bisa dibilang akut ini.

‘Tapi tunggu dulu untuk apa aku khawatir begini, bukannya tidak akan ada siapa-siapakan diluar?’

‘Ehh tidak-tidak bagaimana kalau ada Luhan oppa diluar? Tapi untuk apa dia dikamarku jika tidak ada keperluan, tapi bisa saja dia masuk seenak jidatnya itu.’ Aku terus saja bergelut dengan argumenku antara keluar dan tidak, tapi jika aku tidak keluar aku mati kedinginan disini. Baiklah aku sudah punya jawabannya.

“Aku harus keluar.” Ucapku dengan nada yang sangat yakin sambil membuka pintu kamar mandi dan saat aku berbalik…

“KYAAAAAAAAAAAAA!!!!!”

TBC~

Aloha semua!!! Apa kabar? Semoga baik ya.. maaf ya sebelumnya author ngilang tanpa kabar, sebenernya author sedih karena ngga ngasih kalian kepastian tentang ff ini. Tapi author jga seneng sama yg ngontekin lewat sosmed atau via sms, tapi maaf ya ngga diwaro. Kalau boleh curhat author lagi sibuk dan bener sibuk sampe ngga ada ide buat ngelanjutin ff ini.

Sebenernya dari beberapa bulan lalu ff ini udah ada sampe chapter 12 cuman karena laptopnya diinstal ulang dan musibahnya tuh semua data ilang.

Dan author harap kalian para reader ngga hilang minat buat tetep baca ff ini. Makasih yang udah tetep setia nungguin ff ini, dan makasih jga atas apresiasi kalian lewat komentar.

Sampai ketemu di chater selanjutnya ya.. ^^ annyeong~ *BOW

Iklan

49 pemikiran pada “My Teacher is My Husband (Chapter 9)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s