Apart (Chapter 4)

Apart (Chapter 4)

Author : Arc97

Cast : Krystal/Jung Soojung

                        Kai/Kim Jongin

                        Sehun

                        Sulli/Choi Jinri

                        Other cast will appear

Length : 15.347 word.

Genre : Teen,  Fantasy

JONGIN POV

Malam natal itu akhirnya berlangsung tragis. Sehun yang terlalu excited untuk datang ke kediaman Jung, membuatnya tak focus melihat jalan. Akhirnya dia tergelincir di tangga dan jatuh secara dramatis. Dia mengerang kesakitan saat kupapah tubuhnya ke sofa. Segera saja kutelpon rumah sakit untuk membawa ambulance agar Sehun bisa diperiksa.

Meski umurku saat itu masih 12, ayahku punya banyak kolega di rumah sakit dan aku kurang lebih mengenal mereka jadi aku terbiasa menelpon rumah sakit saat dirumah terjadi sesuatu. Termasuk masalah sehun sekarang.

Mobil ambulance terasa sangat lama sampainya. Sehun masih berbaring di sofa, mengeluh jika kaki kanannya tak bisa digerakkan. Kugenggam erat tangan sahabatku yang sudah kuanggap saudaraku itu, mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Meski dalam hati, beberapa saat lalu noonaku mengalami kejadian yang sama dan mengeluh persis seperti Sehun. Keesokan harinya dokter memvonisnya patah tulang.

Samar-samar kudengar sirine memengkakkan telinga di luar, itu pasti ambulance. Panik, takut, aku memberitahu kemungkinan terburuknya ke Sehun. “Jika kau patah tulang dan harus menginap di rumah sakit, akan kutelpon kediaman Jung tentang kondisimu sehingga makan malamnya dibatalkan.” Jujur, tak pernah sedikitpun kubayangkan aku ada di tengah kediaman Jung sendirian. Meski hanya ayah, ibu dan 2 anak perempuan, gosip di kantor SM adalah anak tertua Jung merupakan gadis yang dingin serta jarang tersenyum. Pernah suatu saat ketika para trainee datang untuk merayakan debut SNSD, kulihat Jessica noona memang cantik tapi jarang melempar senyum ke orang lain. Sorot matanyapun terlihat dingin. Lalu kedua orang tuanya.. ayahnya petinju dan ibu sang pengacara.

Lengkap sudah. Jika aku tak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tajam dari ibu pengacara, kemudian sang ayah petinju siap menghabisiku.

“Datang saja. Mereka kan pasti menyiapkan banyak makanan enak. Aku juga memberitahu mereka kalau kau suka ayam dan pasti mereka sudah memasak banyak ayam.” Aku menelan saliva, membayangkan betapa kenyangnya nanti malam di kediaman Jung.

“Lagipula ini kesempatan satu-satunya supaya kau bertemu dengannya, gadis yang kusukai. Kau pasti setuju begitu melihat wajahnya yang menurutku cantik.”

Dengan berat hati, setelah Sehun dibawa oleh ambulance, ku ambil mantelku dan bersiap pergi. Sebenarnya aku belum terlalu terlambat untuk pergi mengingat masih ada sisa 30 menit sebelum acara makan malam mulai. Tapi tetap saja, pasti disana bakal canggung tanpa sehun yang mengenal baik Jung bersaudara.

30 menit terasa melayang. Saat ini kakiku sudah menginjak depan pintu rumah, menunggu pemilik rumah membukanya untukku.

Gagang pintu bergerak. Gugup, kualihkan pandanganku menunduk menatap kotak kue yang kubawa. Bisa kudengar suara pintu berdecit membuka, tapi aku terlalu gugup untuk menampakkan wajahku.

“Nugu?” Suaranya aneh, aksennya juga tak terdengar seperti orang Seoul. Lebih tepatnya tidak terdengar seperti orang Korea. Rasa penasaran mengusikku sampai akhirnya dia berhasil membuatku menegakkan tubuh kembali.

Untuk keterjutanku, matanya langsung menatap milikku. Manik mata yang besar dan mengesankan. Wajahnya juga tak pernah kulihat. Mungkinkah dia gadis yang disukai Sehun?

Kami bertatapan cukup lama sampai muncul sosok Sica noona dari belakang dan melambai menyuruhku masuk. “This is Kim Jongin, my junior at company.” Dia langsung menghampiri gadis asing itu dan memperkenalkanku dengan bahasa Inggris. Mataku mendadak mengerling melihat sesuatu yang aneh pada noona.

“Noona memasak?” Ceplosku begitu saja, terdengar seolah aku mengenalnya baik. “Eh? Ah benar! Aku memasak ayam untukmu, dibantu Soojung.” Awalnya noona terlihat kaget tapi syukurlah dia langsung menanggapinya dengan enteng. “Adikku, bodoh. Perkenalkan, gadis yang membukakanmu pintu. Adikku, Jung Soojung.”

Entah berkat sambutan hangat noona tadi, acara makan malam berlangsung baik. Meski hanya aku seorang tamu disana malam itu, aku tak merasa canggung dengan keluarga Jung. Ayahnya, seperti yang kuharapkan, sangat menyukai olahraga dan dia mengeluh tak bisa mengobrol tentang olahraga di rumah sebab semua anggota keluarganya wanita. Begitu melihat ketertarikanku pada olahraga, terutama sepak bola, dia hanya berbicara padaku seolah para wanita itu tak ada. Sica noona dan ibunya sibuk mengurus makanan di dapur, bergosip seperti layaknya ibu-ibu.

Tapi soojung berbeda. Dia tetap duduk disampingku, meski aku yakin dia tak paham dengan apa yang kubicarakan dengan ayahnya. Dia terus saja makan dengan diam, seolah ingin bicara padaku tapi tak ada keberanian.

“Hey Soojung,” Panggilku ketika ayahnya pergi ke toilet. “Bahasa Koreamu belum lancar kan? Aku akan mengajarimu.” Aku memutar badan sehingga sepunuhnya menghadapnya.

“Handsome is mosshitta.”

“Mosshitta?” Balasnya kaku, membuatku ingin tertawa.

“Right. Then like is joha.”

“Joha?” Dia mengucapkannya cukup bagus.

“Jadi para gadis akan menyukai (joha) pria tampan (mosshitta). Oke?” Dia mengangguk.

“Gomawo Jongin.” Dia tersenyum, ajaibnya aku tertegun olehnya.

“Jongin lumayan tampan kan? Apa kau menyukainya Soojung?” Tiba-tiba saja noona menyelonong masuk ruang makan sambil membawa seloyang kalkun siap makan. Membuat air liurku semakin susah ditahan.

“Anieyo. Aku lebih suka ayam dibanding Jongin.”

“Kau benar! Aku juga lebih suka ayam dibanding kau, ayo makaaan!”

Kami tidak diizinkan ikut bersih-bersih karena umur kami. Akhirnya Soojung mengajakku ke kamarnya untuk bermain game. Dan langsung saja, aku terpukau dengan peralatan game yang ada dikamarnya. ITU SEMUA ADALAH YANG KUINGINKAN TAHUN INI T-T dan appa tak membelikanku karena harganya yang tak murah. Well, untung aku ikut makan malam disini sehingga aku mulai kenal Soojung dan bisa memainkan peralatan gamenya hhehee.

“Aku lelah, ayo tidur.” Soojung melempar sticknya ke sudut kamar dan berbaring begitu saja di lantai. Tadi sebelum aku masuk, dia menyuruhku menunggu karena dia ingin ganti baju. Terkejutnya aku beberapa saat kemudian aku disambut Soojung versi lelaki karena memakan kaos longgar dan celana panjang serta rambutnya yang diikat.

“Kau mau selimut dan bantal?” Aku tak bisa tidur tanpa itu, sehingga aku berdiri dan mengambilnya diatas kasur Soojung. Entah kenapa meski Soojung anak perempuan, aku sangat nyaman padanya meski baru malam ini kami bertemu.

Soojung tak segera membalas ucapanku, akhirnya kuambilkan juga untuknya. Begitu aku selesai menata selimut dan bantalku di sebelahnya, kulirik Soojung yang tak bergerak dari tadi.

Mungkin dia tidur, batinku.

Perlahan, kuselimuti tubuhnya dan mengangkat kepalanya agar bisa kutaruh bantal. Seperti drama-drama di tv yang orangtuaku tak pernah mengizinkanku menontonnya tapi aku menontonnya sembunyi-sembunyi dengan noonaku, ketika pemeran utama pria mulai jatuh hati pada pemeran wanitanya.. waktu seperti berhenti berdetak.

Seperti sekarang.

Tanganku memegang pundaknya, membuat wajahnya terkulai lemah. Membuatnya menampakkan seluruh wajahnya. Wajah kami sangat dekat sekarang sampai-sampai yang kulihat hanyalah wajah Soojung, bukan hal lain.

Kulitnya sangat putih, cenderung pucat. Garis-garis wajahnya juga tajam, tak seperti anak seumuran kami yang masih punya banyak babyfat. Bentuk matanya juga indah.

Dia sangat cantik..

 

Tanpa kuketahui, ayahnya tiba-tiba masuk saat kami sedang terlelap. Perlahan, tangannya tiba-tiba memapahku dan membawaku keluar dari sana. Meski dia menutup mobilnya sangat pelan, aku tahu jika dia membawaku ke suatu tempat. Masih mengantuk, kulihat samar-samar jalanan sudah sangat gelap. Sepertinya dia membawaku pulang kerumah.

“Paman. Terima kasih atas semuanya.” Aku akhirnya bangun ketika mobil berhenti persis didepan rumahku. “Paman mengantarku sampai sini saja. Dirumah tidak ada siapapun. Keluargaku ke Jepang dan Sehun baru saja masuk rumah sakit.” Ucapan terakhirku sepertinya membuatnya benar-benar terkejut. “Benarkah? Sampaikan ucapan belasungkawaku padanya ya.”

“Dan pintu rumah kami akan selalu terbuka untukmu, Jongin-ah. Kau bisa datang siap saat.”

~~~AAA~~~

2014

NORMAL POV

“Apa yang mau kau bicarakan Oh Sehun?”

Suatu hari setelah kejadian Sica noona, Sehun mengabari Sulli untuk bertemu. Awalnya dia terkejut melihat pesan dari pria yang menjadi pilihan terakhir yang ingin disapa Sulli ketika bertemu EXO.

Satu jam berikutnya, mereka sudah duduk saling berhadapan. Bibir terkatup rapat, tak seorangpun ingin keheningan ini dipecah.

“Aku melihat apa yang kau lakukan pada Jongin tempo hari depan lift.” Suara Sehun sangat lancar dan tenang, tak mengekspresikan keterkejutan sama sekali. Disisi lain, Sulli tak mampu menahan keterkejutannya. Grogi, matanya menghindari tatapan namja itu lalu beringsut mengambil iced americano pesanannya.

Setelah nyawanya berkumpullagi setelah terkejut, Sulli menantangnya. “Lalu? Kau ingin mencegahku?”

Ajaibnya, namja itu menggeleng sambil tertawa. Seakan baru saja Sulli mengatakan hal bodoh diluar akal manusia. “Sebagai sahabat Jongin, mungkin aku akan memperingatkanmu untuk tidak merusak hubungan sahabatku dengan pacarnya.”

“Mungkin?” Mata Sulli memincing, mulai tertarik dengan percakapan mereka.

“Tapi sama sepertimu, aku juga mempunyai misi. Aku sedang berusaha mendapatkan hati Soojung dalam dunia kami sekarang. Kau tahu kan hanya aku yang bisa berkomunikasi dengan arwah Soojung?” Gadis itu membalasnya dengan anggukan kecil. “Jika suatu saat aku berhasil sebelum dia sadar, dia akan segera meninggalkan Jongin.”

“Dan kau, nona Jinri, kau melakukan ini hanya sebagai balas dendammu ke Soojung kan? Kau iri padanya karena popularitas bukan?”

“Ya.” Sulli sengaja meninggalkan smirk kecil saat menjawab pertanyaan Sehun. Meski mereka asing terhadap satu sama lain, setidaknya mereka butuh kerja sama agar misi mereka sukses.

“Dan mulai saat ini, mari bekerja sama Choi Jinri.”

Sulli POV

Kami sudah bersepakat untuk bekerja sama, tapi diluar misi ini kami sangat canggung satu sama lain. Maka aku berpendapat, kami sebisa mungkin menghabiskan waktu bersama. Demi kerjasama tim.

“Mau bertukar denganku?” Ujar Sehun tiba-tiba memecah hening. “Bertukar apa?” Tanyaku gelagapan, pikiranku sedang terbang tentang Taemin oppa yang saat ini sedang tur. “Minuman. Para gadis sepertinya menyukai minuman manis, bukan iced americano seperti milikmu.”

“Well, aku gadis yang berbeda.” Balasku ketus. Kenapa dia peduli sekali dengan apa yang kuminum? Taemin oppa bahkan tak pernah bertanya seperti itu. Meski awalnya rasanya pahit, lama-lama lidahku terbiasa dengan rasanya.

“Heey, itulah asal sikap sinismu. Sini berikan padaku, bubble tea mungkin membuatmu bersikap lebih manis.”

“Hey, pakai ini.” Akhirnya aku mengalah. Memberinya iced americanoku dan meminum bubble tea-nya. Dia benar, mengkonsumsi hal manis membuat moodku naik. Dan begitu aku hampir menghabiskan bubble tea-nya, dia sudah memintaku melakukan hal lain.

“Kenapa aku harus memakai jaketmu? Jaketmu benar-benar bukan styleku.” Tolakku mentah-mentah. Yang benar saja dia menyuruhku memakai jaket semacam jas berwarna khaki sedangkan dressku berwarna merah maroon. “Aish pakai saja lah.” Tanpa ijinku, dia berdiri dan menyampirkan jaketnya di pundakku. Tak lupa, mengeluarkan kembali rambut panjangku dari dalam jaket.

“Sudah cukup dengan semua permintaan bodohmu. Sekarang giliranku menyuruhmu berbuat sesuatu untukku.”

Aku selalu menyukai berjalan santai di trotoar jalan, menikmati cahaya matahari dan melihat orang-orang berpapasan tak peduli denganku. Sayang semenjak debut, aku tak pernah melakukannya lagi. Orang yang melewatiku selalu saja mengenaliku dan memintaku untuk berfoto.

“Minggir.” Sehun tiba-tiba menghancurkan lamunanku, mendorongku agar berjalan di sebelah kiri. “Mwoyaa?” Ujarku protes, tak berbalas jawab darinya.

“Bisakah aku melepas jaketmu?”

“Apa kau punya alasan untuk itu? Sekarang musim dingin dan kau tak punya apapun untuk menutupi kulitmu.”

“Aissh jaketmu sangat tidak cocok dengan bajuku, tidakkah kau sadar?”

“Bertahanlah sampai pulang.”

Kami berjalan hampir selalu dengan diam. Sesekali aku berkomentar dengan kondisi sekitar, sesekali dia menimpalinya. Sesekali dia bercerita tentang apa yang dia lakukan bersama Soojung di dunia mereka, sesekali juga aku meresponnya dengan ‘hhmm’.

“Bagaimana hubunganmu dengan Taemin hyung?” Dia bertanya saat kami berhenti di lampu merah dan melihat beberapa pasangan kekasih saling bergandengan mesra. “Kami baik-baik saja.” Balasku bosan, terlalu sering orang-orang menanyai itu padaku. “Kenapa? Apa menurutmu kami tidak baik-baik saja?” Tambahku.

“Bukan seperti itu. Aku hanya penasaran. Jatuh cinta pada orang yang sangat menginspirasi kemudian akhirnya menuntunmu ke dunia yang lebih baik. Dan kau sekarang memiliki pria itu. Kau pasti gadis yang paling berbahagia.”

Entah pernyataan Sehun sedikit menusukkku. Dia benar. Aku jatuh cinta pada Taemin oppa karena kerja kerasnya di dunia hiburan dan saat ini aku memilikinya sebagai kekasihku.

Tapi kemudian, aku bertanya pada diriku sendiri..

Bahagiakah aku sekarang?

 

~~~AA~~

“Yah Jinri, dari mana saja kau?” Vic umma langsung menginterogasiku sesampainya dirumah. Seperti yang kuharapkan. “Cari udara segar diluar, kenapa?” balasku teriak, masih melepas sepatu di teras dorm. Sesaat tak ada balasan darinya tapi detik berikutnya Vic umma sudah ada di hadapanku dengan berkacak pinggang.

“Tengah musim dingin? Dan kusarankan lain kali kau memakai pakaian lebih tertutup lagi, untung saja jaket itu membuatmu tidak dilirik pria hidung belang dijalan.” Nasihatnya sebelum pergi meninggalkanku lagi.

Kulirik bayanganku di kaca depan. Vic umma benar, itulah sebabnya Sehun memaksaku memakai jaketnya. Seiring dengan pahamku mengenai sikap Sehun padaku tadi, muncul perasaan hangat asing yang menjalar ke tubuhku.

Taemin oppa tak pernah sepeduli Sehun padaku..

~~AA~~

NORMAL POV

Kamar pasien bernama Jung Soojung terlihat sepi seperti biasanya, tidak ada suara apapun didalamnya. Tapi kali ini, ada genggaman hangat Jongin yang menemani tubuh pasien cantik itu.

“Soojung..” Jongin memanggil namanya lagi, kali ini perasaan getir terdengar dari bibirnya. Pria itu terlalu merindunya, sekaligus terlalu banyak menangis untuknya. “Maafkan aku, maafkan semuanya yang terjadi padamu.” Jongin mencium tangan dingin itu, air matanya mulai mengalir tak terkontrol.

“Keegoisanku membuatmu sampai seperti ini, maafkan aku..” Kali ini tidak hanya Jongin yang berurai air mata, arwah gadis itu yang ternyata ada di ruang yang sama juga mulai sesegukan. “Aku tak pernah membayangkan hal ini terjadi padamu, aku tak pernah membayangkan betapa beresikonya saat aku menggodamu di panggung, maafkan aku Soojung..” Ditaruhnya telapak tangan dingin itu ke pipinya, berharap si gadis mampu bangun dan memaafkannya.

“Please Jongin, berhentilah menangis. Itu membuatku semakin tersiksa, Jongin.” Arwah Soojung saat ini berhadapan dengan Jongin, berucap ditengah tangisnya. Disisi lain, sang pacar tak berucap lagi, tenggelam dengan perasaan sedihnya. Menggenggam erat telapak tangan sang gadis.

“Berhenti, Jongin. Aku tak sanggup melihatmu seperti ini.”Pinta arwah Soojung dengan berurai mata. Tak terduga, perlahan Jongin mulai tenang.

Jongin bersumpah tak ada siapapun diruangan ini selain dirinya, tapi barusan dia mendengar samar-samar suara seseorang. Dia memaksakan diri berhenti mengeluarkan suara dan mendengar lebih teliti suara asing itu.

“Wae?” Jongin masih terdiam, dan benar saja. Ada suara lain di ruangan itu. Sedikit gentar, tanpa disadari genggaman tangannya semakin erat. Sementara tangan lain berjaga menekan tombol emergency, yang jika ditekan maka perawat akan segera datang.

“Jongin ada apa?” Arwah Soojung kebingungan. Ekspresi Jongin cepat berubah, saat ini terlihat terancam sekaligus ketakutan. Disisi lain, Jongin juga masih mendengar suara arwah Soojung tapi belum dapat mengenalinya.

“Jongin, tatap aku. Ada apa denganmu?” Dan baru sekarang dia memahami suara asing itu, yang anehnya terdengar familiar. Matanya menatap keliling dengan waspada, mencari sumber suara.

“Aku tepat diseberangmu, Jongin.”

Butuh 1 kalimat, mata Jongin berhenti berputar.

Hanya 1 kalimat, Soojung membeku. Jongin menatap dirinya seutuhnya, seolah dirinya terlihat.

Seolah tak memakai lensa kontak, Jongin melihat bayangan blur persis diseberangnya. Beberapa saat setelah beradaptasi, Jongin tak mampu mempercayai matanya sendiri.

Itu Soojung.

“Soojung?” Soojung dapat melihat pupil mata Jongin setelah dapat melihatnya. Begitu besar, sudah pasti Jongin kaget bukan kepalang bisa melihatnya. Suara Jongin, baru kali ini setelah kecelakaan terdengar begitu menggetarkan hati Soojung.

“Soojung?” Jongin bertanya lagi, tanpa sadar air mata lolos begitu saja dari matanya. Sosok bayangan itu terlihat shock sama seperti dirinya, membekap mulutnya dan mulai menangis.

“Dengarkan aku, kembalilah”  Jongin berbicara sangat cepat, tapi Soojung cepat menangkapnya juga. “Bantu aku menyelidiki kasusmu dan menemukan sasaeng fans yang melukaimu.”Tatapannya sangat tajam, artinya Jongin sangat serius sekarang.

“Aku mencintaimu, Jung Soojung. Kembalilah disisiku.” Kali ini tatapannya melunak, sekaligus penuh cinta. Tatapan yang sangat Soojung damba akhir-akhir ini.

Seolah sepaham dengan perasaan Soojung sekarang, jemari Soojung yang dari tadi digenggam Jongin bergerak. Kaku, tapi Jongin jelas bisa merasakannya bergerak.

Perhatian Jongin teralihkan menjadi ke tubuh Soojung. Digenggamnya erat tangan Soojung, berbisik persis ditelinganya agar cepat sadar.

“Jongin?” Mata Soojung bergerak khawatir, berusaha beradaptasi di dunia yang ditinggalkannya sejak coma. Sampai akhirnya dia membuka mata seutuhnya dan menyadari sang kekasihlah yang ada disampingnya saat dia sadar.

Terharu, shock, bahagia, tak ada yang bisa mendeskripsikan perasaan Jongin sekarang. Tanpa ragu, disekapnya tubuh sang kekasih yang masih kaku.

Menghiraukan bahwa sebenarnya..

Arwah Soojung masih duduk diseberangnya.

Arwah siapa yang memasuki tubuhku?

 

 

 

TBC

 

FYI, chapter berikutnya adalah cerita terakhir dan author minta maaf banget, kaistal will together till the end. Than we have another couple~! Just let me know, who’s you prefer? Taelli or Sesul (sehun-sulli)?

BIG THANKS FOR ALL COMMENT and for those silent readers *sobs*, kalian masih saya hargai^^ annyeoong~erah h.

 jalanan sudah sangat gelap.ana. lap. perlahan,nyak babyfat. n. v yang orangtuaku tak pernah mengizinkanku menontonnya tapi aku menontonnya sembunyi-sembunyi dengan noonaku,longgar dan celana panjang serta rambutnya yangn susah ditahan. asuk ruang makan sambil membawa seloyang kalkun siap makan. membuatku ibunya sibuk mengurus m

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s