Choice

 New Picture (4)

Title : Choice.|Cast : Do Kyungsoo, OC|Genre : Marriage-life|

Length : One shoot|Rating : R|by phyokyo

&&&

Life is choice. And you are my choice.

Pagi yang buruk. Entah sudah berapa kalinya Naeri merutuki paginya sebagai pagi yang buruk hari ini. Memang buruk. Dimulai dari terlambatnya alarm ponsel membangunkannya—oh bukan, alarm itu bahkan sudah berkali-kali membangunkannya dari mimpi buruk yang entah kenapa ia merasa nyaman dengan mimpi itu. Mengambil handuk dengan mata terpejam, membersihkan diri dalam waktu 5 menit, kembali ke kamar dan berteriak.

Flashback

 “YA! KYUNGSOO! KELUAR DARI KAMARKU SEKARANG!!”

Kyungsoo yang tengah memasukkan buku-bukunya kedalam tas, mendongakkan kepalanya kearah pintu begitu mendengar suara ‘bising’—yang hampir setiap hari—terdengar ditelinganya.

“Hey, kamarmu? Kau lupa? Aku suamimu. Berhentilah bertingkah berlebihan. Suaramu itu bisa merusak telingaku.”

Naeri tercengang dan refleks meneguk ludahnya sendiri begitu mendengar jawaban Kyungsoo. Oh god.. Sejak kapan aku amnesia?

Ia berdeham lalu kembali berucap dengan suara—yang memaksa—lembut. “Err.. Maaf, tapi bisakah kau keluar sebentar Kyungsoo-ssi? Aku ingin pakai baju.”

Kyungsoo berhenti memasukkan buku-bukunya lalu menoleh lagi kearah Naeri. Ia memandang gadis itu dari ujung kaki hingga kepalanya. Gadis itu masih memakai sehelai handuk yang panjangnya hanya sebatas paha, membuat Kyungsoo meneguk ludahnya dan kembali—mengalihkan pandangannya—pada buku-buku kampusnya.

Ini masih pagi dan kau bahkan belum menyelesaikan kuliah. Kembalilah pada akal sehatmu Kyungsoo..

“Pakai saja. Aku masih sibuk merapikan ini.” Jawab Kyungsoo sambil tetap memasukkan buku-bukunya walaupun sesekali sudut matanya mencuri pandang kearah Naeri.

Naeri terdiam kaku. Ia masih berdiri mematung ditempatnya dengan wajah yang ditekuk.

 “Tenang saja.. aku tidak akan melihat…”

“…tidak janji.”

Naeri mendengus kesal. Ia lalu berjalan menuju lemari, mengambil pakaian—sedapatnya—dan beranjak dari sana secepat mungkin tanpa mempedulikan tatapan Kyungsoo.

Setidaknya ia masih bisa berganti pakaian dikamar sebelah.

Ia sungguh amat sangat bersyukur pernah meminta syarat ini sebelumnya—tinggal bersama dengan 2 kamar terpisah atau tinggal dirumah orang tua Naeri bersama eomma dan oppanya.

Dan—tentu saja—Kyungsoo memilih pilihan pertama.

Hanya beberapa menit dan Naeri telah rapi dengan pakaiannya dan tas jinjingnya. Ia tersenyum pada cermin sesaat lantas berjalan keluar kamar.

“Jangan lupa matikan lampu dan kunci pintu. Matikan mesin air panas. Tutup pintu kamar. Dan jangan pergi sebelum kau sarapan.”

Naeri terperangah dengan mulut terbuka begitu ia keluar kamar dan segera diserang dengan peringatan bertubi-tubi. Ia menatap laki-laki yang kini berjalan kearahnya tanpa bergerak sedikitpun.

‘Cup’

 

“Kelas akan dimulai 15 menit lagi. Roti panggang dan susu sudah kusiapkan diatas meja. Berhenti menganga atau aku yang akan menutupnya.” Ucap Kyungsoo setelah bibirnya berhasil mendarat dikening Naeri. Gadis itu cepat-cepat menutup mulutnya dan menegak kaku.

“Aku berangkat.”

Setelah mendengar suara pintu yang tertutup, Naeri bernafas lega. Ia lantas menatap 2 potong roti dan segelas susu dimeja makannya. Ia mengernyit dan berpikir.

Siapa sebenarnya yang menjadi istri disini, aku atau Kyungsoo?

Flashback end

Dan seperti dugaannya sejak awal, ia telat dan ia dapat hukuman.

Huhh.. Haruskah ia menyesali pernikahannya? Tidak, bukan pernikahannya, hanya waktunya saja yang belum tepat.

Salah siapa melamar disaat mereka masih harus kuliah?

Salah siapa yang menginginkan seorang cucu walaupun mereka tahu kalau anak-anaknya saja bahkan belum menyelesaikan kuliahnya?

Salah siapa yang takut kalau kekasih tertampannya diambil orang?

Salah Kyungsoo, salah orangtua mereka, dan salah ia sendiri.

Naeri menyugar poni panjangnya dan meremasnya. Ia menunduk, menatap dedaunan kering yang berguguran disekitar bangku taman yang didudukinya.

Hey!”

Seorang laki-laki bermata bulat memanggilnya sambil melambaikan tangan diseberang sana.

Naeri mengangkat kepalanya dan mendengus.

Sekarang, salah siapa jika suaminya juga bersekolah ditempat yang sama bahkan dalam kelas yang sama pula?

“Sini!”

Namun dari semua salah-salahnya, ia tidak pernah menyesali pilihannya. Life is choice. Dan ia memilih Kyungsoo sebagai pilihan hidupnya. Tidak peduli pada masalah umur yang masih muda atau terbatasnya mereka untuk bersama selama di kampus. Bersama laki-laki itu sepanjang hari tetap membuat hari-harinya menjadi lebih indah. Jauh lebih indah ketimbang ia harus menjalani ‘kerasnya dunia’ yang ia hadapi sendiri.

Dua lebih baik dari satu. Kyungsoo lebih baik dari pada ia seorang diri. Karena Kyungsoo mampu memasak makanan untuknya setiap hari. Dan itu cukup untuk hidupnya.

Dengan langkah malas, Naeri berjalan menghampiri Kyungsoo. Ia tidak tahu kenapa laki-laki itu memanggilnya dan menyuruhnya untuk datang. Dan ia tidak tahu kenapa ia mau menuruti perintah laki-laki itu.

“Kenapa?”

Kyungsoo berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tangannya lalu menjulur menyentuh kepala Naeri dan mengambil sesuatu disana. Naeri melongo begitu Kyungsoo menunjukkan beberapa lembar daun kering kecil yang berasal dari rambutnya.

“Setelah datang terlambat dan dihukum dosen, ia duduk sendiri dibangku taman dengan rambut penuh daun kering. Istriku begitu menyedihkan…”

Kedua sudut bibir Kyungsoo melengkung, membentuk senyuman yang lebar. Senyum yang terlihat mengejek.

Naeri dengan cepat menoleh kebelakang. Keadaan taman kampusnya saat ini cukup ramai. Dan tentunya disana banyak mahasiswa yang berlalu lalang disepanjang jalannya menuju Kyungsoo tadi. Naeri terdiam membayangkan dirinya yang bagai orang gila berjalan lunglai dengan rambut penuh daun kering. Dan tatapan para mahasiswa yang memandang kasihan kearahnya—bahkan sampai saat ini.

‘Mati sajalah…’ batin Naeri sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya—walaupun ia tahu ini tidak akan berpengaruh sama sekali untuk menutupi kejadian memalukan tadi.

Demi Tuhan, ia membenci laki-laki ini.

Sebuah tangan tiba-tiba membuka tangkupan tangan Naeri dari wajahnya. “Ada apa dengan istri—“

“Berhenti memanggilku dengan sebutan istri! Ini lingkungan kampus!”

Kyungsoo terkekeh sementara Naeri segera memutar tubuhnya membelakangi Kyungsoo.

“Apakah toko es krim disana masih buka? Kurasa aku ingin membeli es krim sekarang.” ujar Kyungsoo sambil berpura-pura melihat keluar gerbang.

Mendengar kata ‘es krim’ ditelinganya, Naeri segera berbalik dan menarik ujung baju Kyungsoo menuju ke gerbang. Sementara sebelah tangannya lagi masih digunakannya untuk menutupi wajahnya.

“Dua mangkuk!” Seru Naeri dengan dua jari yang diacungkan dan segera kembali menutupi wajahnya lagi.

Kyungsoo tertawa pelan menatap tingkah istrinya yang kekanakan. Jika orang melihat Naeri sebagai gadis mandiri dan dewasa, maka dimata Kyungsoo semua itu berbanding terbalik.

Naeri adalah gadis manja dengan segala tingkah lakunya yang kekanakan.

&&&

‘Dosen memanggilku dan sepertinya aku akan  pulang telat. Jangan menungguku.’

[From : Dio Diodore]

“Cihh.. Percaya diri sekali.”

Naeri segera bangkit dari tempat duduknya begitu menerima pesan dari Kyungsoo. Tanpa sadar ia menggerutu pada dirinya sendiri, padahal jelas bahwa ia sedang menunggu Kyungsoo di halte.

Walaupun ia dan Kyungsoo tidak pulang bersama-sama, ia ataupun Kyungsoo wajib untuk mengabari satu sama lain tentang keberadaan mereka. Setidaknya itu adalah salah satu yang bisa mereka lakukan untuk menutupi status keduanya. Bahkan tidak ada satupun sahabat mereka yang tahu mengenai status keduanya. Selama ini, baik kyungsoo maupun Naeri hanya terlihat sebagai teman ataupun sahabat biasa.

Bukan masalah sebenarnya bagi seorang Naeri untuk menutupi statusnya sebagai seorang istri Do Kyungsoo. Ia tidak terlalu mementingkan tentang banyaknya mahasiswi yang mengincar Kyungsoo ataupun rumor tentang kedekatan Kyungsoo dengan salah satu mahasiswi. Toh, pada kenyataannya Kyungsoo adalah suaminya, iya kan? Lagipula sejauh ini ia tidak pernah melihat Kyungsoo berdua dengan seorang wanita—atau mungkin belum.

“Lapar…”

Naeri mendongak saat langit mulai redup. Sepertinya sebentar lagi akan hujan namun bus yang ditunggunya tak kunjung datang. Naeri lalu memijat-mijat kakinya yang mulai pegal akibat hukuman dari dosen yang menyuruhnya untuk mengantarkan buku-buku tebal ke perpustakaan selama 5 kali. Perpustakaan kampus yang Naeri sendiri tidak mengerti kenapa perpustakaan itu dibangun terpisah dan berjarak 100 meter dari gedung kampusnya. Menyusahkan.

Perlahan, langit bergemuruh dan tetesan air hujan mulai menutupi jalan sekitar. Naeri menghela nafas. Ia merasa seolah penderitaannya hari ini begitu berat.

“Setelah ini apalagi…”

Pandangan Naeri menatap lurus keseberang jalan. Hujan hari ini turun begitu deras, dan itu cukup membuat sekujur tubuhnya menggigil saat ini. Dilihatnya pagar besar kampusnya yang sudah mulai sepi dari para mahasiswa yang berlalu lalang.

Naeri menguap lelah. Ia memejamkan mata sesaat sebelum akhirnya ia membelalak lebar kearah pagar kampusnya. Seorang laki-laki tengah berdiri bersama seorang wanita dengan setungkai payung yang dipakai bersama. Batin Naeri ingin membantah namun ia merasa kesadarannya masih penuh untuk mengatakan bahwa ia tidak sedang tertidur dan ini bukan mimpi.

Laki-laki di seberang sana adalah Kyungsoo dan wanita itu adalah Min Ah. Wanita yang selama ini menjadi rumor dengan Kyungsoo.

“Sejak kapan Min Ah menjadi seorang dosen?”

Kepala Naeri mendadak terasa pening, dan itu membuat ia memijat-mijat keningnya.

“Kurasa aku akan menjadi gila..”

Life is choice. And you are my choice.

.&&&

Pagi yang buruk. Entah sudah berapa kalinya Naeri merutuki paginya sebagai pagi yang buruk hari ini. Memang buruk. Dimulai dari terlambatnya alarm ponsel membangunkannya—oh bukan, alarm itu bahkan sudah berkali-kali membangunkannya dari mimpi buruk yang entah kenapa ia merasa nyaman dengan mimpi itu. Mengambil handuk dengan mata terpejam, membersihkan diri dalam waktu 5 menit, kembali ke kamar dan berteriak.

Flashback

 “YA! KYUNGSOO! KELUAR DARI KAMARKU SEKARANG!!”

Kyungsoo yang tengah memasukkan buku-bukunya kedalam tas, mendongakkan kepalanya kearah pintu begitu mendengar suara ‘bising’—yang hampir setiap hari—terdengar ditelinganya.

“Hey, kamarmu? Kau lupa? Aku suamimu. Berhentilah bertingkah berlebihan. Suaramu itu bisa merusak telingaku.”

Naeri tercengang dan refleks meneguk ludahnya sendiri begitu mendengar jawaban Kyungsoo. Oh god.. Sejak kapan aku amnesia?

Ia berdeham lalu kembali berucap dengan suara—yang memaksa—lembut. “Err.. Maaf, tapi bisakah kau keluar sebentar Kyungsoo-ssi? Aku ingin pakai baju.”

Kyungsoo berhenti memasukkan buku-bukunya lalu menoleh lagi kearah Naeri. Ia memandang gadis itu dari ujung kaki hingga kepalanya. Gadis itu masih memakai sehelai handuk yang panjangnya hanya sebatas paha, membuat Kyungsoo meneguk ludahnya dan kembali—mengalihkan pandangannya—pada buku-buku kampusnya.

Ini masih pagi dan kau bahkan belum menyelesaikan kuliah. Kembalilah pada akal sehatmu Kyungsoo..

“Pakai saja. Aku masih sibuk merapikan ini.” Jawab Kyungsoo sambil tetap memasukkan buku-bukunya walaupun sesekali sudut matanya mencuri pandang kearah Naeri.

Naeri terdiam kaku. Ia masih berdiri mematung ditempatnya dengan wajah yang ditekuk.

 “Tenang saja.. aku tidak akan melihat…”

“…tidak janji.”

Naeri mendengus kesal. Ia lalu berjalan menuju lemari, mengambil pakaian—sedapatnya—dan beranjak dari sana secepat mungkin tanpa mempedulikan tatapan Kyungsoo.

Setidaknya ia masih bisa berganti pakaian dikamar sebelah.

Ia sungguh amat sangat bersyukur pernah meminta syarat ini sebelumnya—tinggal bersama dengan 2 kamar terpisah atau tinggal dirumah orang tua Naeri bersama eomma dan oppanya.

Dan—tentu saja—Kyungsoo memilih pilihan pertama.

Hanya beberapa menit dan Naeri telah rapi dengan pakaiannya dan tas jinjingnya. Ia tersenyum pada cermin sesaat lantas berjalan keluar kamar.

“Jangan lupa matikan lampu dan kunci pintu. Matikan mesin air panas. Tutup pintu kamar. Dan jangan pergi sebelum kau sarapan.”

Naeri terperangah dengan mulut terbuka begitu ia keluar kamar dan segera diserang dengan peringatan bertubi-tubi. Ia menatap laki-laki yang kini berjalan kearahnya tanpa bergerak sedikitpun.

‘Cup’

 

“Kelas akan dimulai 15 menit lagi. Roti panggang dan susu sudah kusiapkan diatas meja. Berhenti menganga atau aku yang akan menutupnya.” Ucap Kyungsoo setelah bibirnya berhasil mendarat dikening Naeri. Gadis itu cepat-cepat menutup mulutnya dan menegak kaku.

“Aku berangkat.”

Setelah mendengar suara pintu yang tertutup, Naeri bernafas lega. Ia lantas menatap 2 potong roti dan segelas susu dimeja makannya. Ia mengernyit dan berpikir.

Siapa sebenarnya yang menjadi istri disini, aku atau Kyungsoo?

Flashback end

Dan seperti dugaannya sejak awal, ia telat dan ia dapat hukuman.

Huhh.. Haruskah ia menyesali pernikahannya? Tidak, bukan pernikahannya, hanya waktunya saja yang belum tepat.

Salah siapa melamar disaat mereka masih harus kuliah?

Salah siapa yang menginginkan seorang cucu walaupun mereka tahu kalau anak-anaknya saja bahkan belum menyelesaikan kuliahnya?

Salah siapa yang takut kalau kekasih tertampannya diambil orang?

Salah Kyungsoo, salah orangtua mereka, dan salah ia sendiri.

Naeri menyugar poni panjangnya dan meremasnya. Ia menunduk, menatap dedaunan kering yang berguguran disekitar bangku taman yang didudukinya.

Hey!”

Seorang laki-laki bermata bulat memanggilnya sambil melambaikan tangan diseberang sana.

Naeri mengangkat kepalanya dan mendengus.

Sekarang, salah siapa jika suaminya juga bersekolah ditempat yang sama bahkan dalam kelas yang sama pula?

“Sini!”

Namun dari semua salah-salahnya, ia tidak pernah menyesali pilihannya. Life is choice. Dan ia memilih Kyungsoo sebagai pilihan hidupnya. Tidak peduli pada masalah umur yang masih muda atau terbatasnya mereka untuk bersama selama di kampus. Bersama laki-laki itu sepanjang hari tetap membuat hari-harinya menjadi lebih indah. Jauh lebih indah ketimbang ia harus menjalani ‘kerasnya dunia’ yang ia hadapi sendiri.

Dua lebih baik dari satu. Kyungsoo lebih baik dari pada ia seorang diri. Karena Kyungsoo mampu memasak makanan untuknya setiap hari. Dan itu cukup untuk hidupnya.

Dengan langkah malas, Naeri berjalan menghampiri Kyungsoo. Ia tidak tahu kenapa laki-laki itu memanggilnya dan menyuruhnya untuk datang. Dan ia tidak tahu kenapa ia mau menuruti perintah laki-laki itu.

“Kenapa?”

Kyungsoo berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tangannya lalu menjulur menyentuh kepala Naeri dan mengambil sesuatu disana. Naeri melongo begitu Kyungsoo menunjukkan beberapa lembar daun kering kecil yang berasal dari rambutnya.

“Setelah datang terlambat dan dihukum dosen, ia duduk sendiri dibangku taman dengan rambut penuh daun kering. Istriku begitu menyedihkan…”

Kedua sudut bibir Kyungsoo melengkung, membentuk senyuman yang lebar. Senyum yang terlihat mengejek.

Naeri dengan cepat menoleh kebelakang. Keadaan taman kampusnya saat ini cukup ramai. Dan tentunya disana banyak mahasiswa yang berlalu lalang disepanjang jalannya menuju Kyungsoo tadi. Naeri terdiam membayangkan dirinya yang bagai orang gila berjalan lunglai dengan rambut penuh daun kering. Dan tatapan para mahasiswa yang memandang kasihan kearahnya—bahkan sampai saat ini.

‘Mati sajalah…’ batin Naeri sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya—walaupun ia tahu ini tidak akan berpengaruh sama sekali untuk menutupi kejadian memalukan tadi.

Demi Tuhan, ia membenci laki-laki ini.

Sebuah tangan tiba-tiba membuka tangkupan tangan Naeri dari wajahnya. “Ada apa dengan istri—“

“Berhenti memanggilku dengan sebutan istri! Ini lingkungan kampus!”

Kyungsoo terkekeh sementara Naeri segera memutar tubuhnya membelakangi Kyungsoo.

“Apakah toko es krim disana masih buka? Kurasa aku ingin membeli es krim sekarang.” ujar Kyungsoo sambil berpura-pura melihat keluar gerbang.

Mendengar kata ‘es krim’ ditelinganya, Naeri segera berbalik dan menarik ujung baju Kyungsoo menuju ke gerbang. Sementara sebelah tangannya lagi masih digunakannya untuk menutupi wajahnya.

“Dua mangkuk!” Seru Naeri dengan dua jari yang diacungkan dan segera kembali menutupi wajahnya lagi.

Kyungsoo tertawa pelan menatap tingkah istrinya yang kekanakan. Jika orang melihat Naeri sebagai gadis mandiri dan dewasa, maka dimata Kyungsoo semua itu berbanding terbalik.

Naeri adalah gadis manja dengan segala tingkah lakunya yang kekanakan.

&&&

‘Dosen memanggilku dan sepertinya aku akan  pulang telat. Jangan menungguku.’

[From : Dio Diodore]

“Cihh.. Percaya diri sekali.”

Naeri segera bangkit dari tempat duduknya begitu menerima pesan dari Kyungsoo. Tanpa sadar ia menggerutu pada dirinya sendiri, padahal jelas bahwa ia sedang menunggu Kyungsoo di halte.

Walaupun ia dan Kyungsoo tidak pulang bersama-sama, ia ataupun Kyungsoo wajib untuk mengabari satu sama lain tentang keberadaan mereka. Setidaknya itu adalah salah satu yang bisa mereka lakukan untuk menutupi status keduanya. Bahkan tidak ada satupun sahabat mereka yang tahu mengenai status keduanya. Selama ini, baik kyungsoo maupun Naeri hanya terlihat sebagai teman ataupun sahabat biasa.

Bukan masalah sebenarnya bagi seorang Naeri untuk menutupi statusnya sebagai seorang istri Do Kyungsoo. Ia tidak terlalu mementingkan tentang banyaknya mahasiswi yang mengincar Kyungsoo ataupun rumor tentang kedekatan Kyungsoo dengan salah satu mahasiswi. Toh, pada kenyataannya Kyungsoo adalah suaminya, iya kan? Lagipula sejauh ini ia tidak pernah melihat Kyungsoo berdua dengan seorang wanita—atau mungkin belum.

“Lapar…”

Naeri mendongak saat langit mulai redup. Sepertinya sebentar lagi akan hujan namun bus yang ditunggunya tak kunjung datang. Naeri lalu memijat-mijat kakinya yang mulai pegal akibat hukuman dari dosen yang menyuruhnya untuk mengantarkan buku-buku tebal ke perpustakaan selama 5 kali. Perpustakaan kampus yang Naeri sendiri tidak mengerti kenapa perpustakaan itu dibangun terpisah dan berjarak 100 meter dari gedung kampusnya. Menyusahkan.

Perlahan, langit bergemuruh dan tetesan air hujan mulai menutupi jalan sekitar. Naeri menghela nafas. Ia merasa seolah penderitaannya hari ini begitu berat.

“Setelah ini apalagi…”

Pandangan Naeri menatap lurus keseberang jalan. Hujan hari ini turun begitu deras, dan itu cukup membuat sekujur tubuhnya menggigil saat ini. Dilihatnya pagar besar kampusnya yang sudah mulai sepi dari para mahasiswa yang berlalu lalang.

Naeri menguap lelah. Ia memejamkan mata sesaat sebelum akhirnya ia membelalak lebar kearah pagar kampusnya. Seorang laki-laki tengah berdiri bersama seorang wanita dengan setungkai payung yang dipakai bersama. Batin Naeri ingin membantah namun ia merasa kesadarannya masih penuh untuk mengatakan bahwa ia tidak sedang tertidur dan ini bukan mimpi.

Laki-laki di seberang sana adalah Kyungsoo dan wanita itu adalah Min Ah. Wanita yang selama ini menjadi rumor dengan Kyungsoo.

“Sejak kapan Min Ah menjadi seorang dosen?”

Kepala Naeri mendadak terasa pening, dan itu membuat ia memijat-mijat keningnya.

“Kurasa aku akan menjadi gila..”

Iklan

6 pemikiran pada “Choice

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s