Devil Child (Chapter 6)

edit #28

Author : Z

Title : Devil Child (part 6)

Cast :

☆ Kim Jong In {Kai, nama aslinya di dunia iblis}

☆ Sung Ha Rim (OC)

☆ Oh Sehun

☆ Kim Tae Hyung

☆ Kim Min Ri (OC)

☆ Kim Seo Jin

Lenght : Chapter

Genre : Romance, Mistery, Supernatural, Action, Fantasy, Gore

Disclaimer : FF ini murni ide dan karangan author. No plagiat.

Author’s Note : Mian kalau ff ini tidak seperti ff yang lain(?) karena author memiliki imajinasinya sendiri(?) dan ini genrenya fantasy jadi ya gitu deh :v wkkk dan minta komennya ne ^^

。゚ °Devil Child °゚。

 

Sung Ha mengusap air matanya, ia menghela nafasnya, mencoba menenangkan diri. Tapi tetap tak bisa, air mata itu tetap mendesak keluar dan pada akhirnya ia kembali menangis.

 

Beberapa tetes air mata menetes membasahi tangan Jong In. “Jong In..”

 

。゚ °Devil Child °゚。

 

Jong In duduk terdiam di sebuah ruangan yang gelap gulita. Hanya sebuah api biru kecil yang ada di hadapannya yang menjadi penerang.

 

Ia terdiam mematung tak tau apa yang ada di pikirannya. Berulangkali ia mendengar seseorang memanggil namanya, tapi ia tetap terdiam dan lebih memilih memandangi api biru di depannya tanpa mengedip.

 

Tes

 

Jong In mengerjapkan matanya saat suara tetesan air tertangkap oleh indra pendengarannya. “Jong In..”

 

Namja itu kembali mendengar seseorang memanggil namanya, kali ini lebih jelas terdengar.

 

Tes

 

Perlahan Jong In menoleh ke kanan saat tetesan air itu kembali terdengar. Ia terdiam, tak ada yang bisa ia lihat, hanya kegelapan yang ada.

 

Api biru yang ada di hadapan Jong In mulai berkobar menjadi lebih besar. Bak api yang diberi minyak.

 

“Jong In..”

 

Jong In bangkit dari duduknya. Perlahan ia berjalan ke arah suara meninggalkan api yang mulai membesar itu.

 

Langkah demi langkah Jong In berjalan, api biru itu semakin membesar, memperjelas arah pandang Jong In.

 

Jong In menghentikan langkahnya saat melihat seorang yeoja mengulurkan tangannya padanya. Yeoja itu tersenyum pada Jong In.

 

Perlahan tangan Jong In mergerak meraih tangan yang terulur padanya. Seketika api biru yang sudah cukup jauh di belakang Jong In membesar dengan cepat dan memenuhi ruangan itu.

 

Jong In membuka matanya perlahan. Ia melihat kearah kanannya dan terdapat seorang yeoja yang sedang menangis menggengam tangannya. “Sung Ha..” panggil Jong In lirih yang bahkan sulit didengar oleh pemilik nama.

 

Tangan kanan Jong In yang sedari tadi Sung Ha genggam berubah menjadi Jong In menggengam tangan Sung Ha yang seketika membuat Sung Ha terkejut dan menoleh ke arah Jong In.

 

“Kau membasahi tanganku.” ucap Jong In cukup heras, setidaknya bisa didengar oleh Sung Ha.

 

Sung Ha masih terdiam. Apakah namja di hadapannya saat ini telah sadar? Apakah dia bermimpi? “Jong In..”

 

“Ne?”

 

Sung Ha segera memeluk Jong In yang masih berbaring di ranjang. Air matanya terus mengalir di pelukan Jong In. “Jong In.”

 

Jong In terkejut saat Sung Ha tiba-tiba memeluknya dan menangis. “Jangan tinggalkan aku..” ucap Sung Ha disela tangisannya.

 

Jong In mengelur kepala Sung Ha. “Aku tak akan meninggalkanmu. Sekarang bangunlah, kau membasahi bajuku.”

 

。゚ °Devil Child °゚。

 

Jong In mengambil sepotong daging dengan sumpitnya dan memasukkannya kedalam mulut.

 

Ia sedang duduk menikmati makanan yang ada dihadapannya. Jong In meenghentikan makannya dan menaruh sumpit itu di dekat mangkuk yang masih terisi banyak nasi. “Aku tak bisa makan jika kalian memandangiku seperti itu.” ucapnya pada ketiga pasang mata yang terus saja memandanginya.

 

Ketiga orang itu tersentak dan melanjutkan makan mereka yang belum tersentuh.

 

Setelah menghabiskan memakan makanannya, ketiga orang itu kembali menatap ke arah Jong In. Yang mereka inginkan hanyalah sebuah penjelasan dengan apa yang sebenarnya terjadi pada diri Jong In. Kenapa namja itu bisa kehilangan kekuatannya.

 

“Sudah ku bilang aku tak ingin membahasnya.” Jong In bangkit dari duduknya. “Ayo pergi.” ucapnya pada Sung Ha yang masih duduk di kursinya.

 

“Sekarang?”

 

“Ne.”

 

“Tapi..” Sung Ha menoleh ke arah Minri dan Seok Jin.

 

Seok Jin bangkit dari duduknya. “Pergilah.” ucapnya dan pergi meninggalkan meja makan. Minri yang melihatnya segera mengikuti Seok Jin masuk ke kamar namja itu.

 

Jong In dan Sung Ha keluar dari rumah itu. Dari lantai dua bisa dilihat Seok Jin dan Minri memandangi kedua sosok yang barusaja keluar dari rumah mereka.

 

“Apakah kita benar-benar akan melepaskannya?” tanya Minri.

 

“Minri, menurutmu kenapa kita harus membunuh Sung Ha?”

 

“Bukankah sudah jelas, karena Sung Ha adalah makhluk yang tidak di harapkan keberadaannya.”

 

“Apakah kau tau siapa ibu Sung Ha?”

 

Minri menatap namja di sampingnya bingung. “Apa maksudmu?”

 

“Kau taukan kita tak bisa melihat aura, itulah yang membuat kita tak menyadarinya.” Seok Jin menatap Minri dalam. “Dia adalah anak dari Ratu.”

 

Minri mengerutkan dahinya tak mengerti. Kenapa Seok Jin bisa berpikir seberti itu.

 

Seok Jin kembali mengarahkan pandangannya ke arah Sung Ha yang keluar dari area rumahnya. “Kau ingat saat aku melihat aura Jong In setelah ia sadar tadi? Secara tak sengaja aku melihat aura milik Sung Ha. Selain memiliki cahaya yang sama dengan yang dimiliki Ratu. Dia memiliki api yang sama dengan Jong In.”

 

Mata Minri terbelak. “Maksudmu dia..”

 

“Ne. Dia juga keturunan iblis kerajaan.”

 

“Tapi jika dia anak Ratu kenapa Ratu memerintahkan kita untuk membunuhnya?”

 

“Sebaiknya kita kembali ke dunia malaikat.”

 

“Lalu bagaimana dengan misi kita? Bukankah kita tak diperbolehkan kembali sebelum menyelesaikan misi?”

 

“Untuk masalah itu biar aku yang mengurusnya.”

 

。゚ °Devil Child °゚。

 

Sung Ha berjalan mengikuti Jong In. Mata yeoja itu tak pernah luput dari sosok yang ada di depannya. Ia merasa sudah lama ia tidak berjalan berdua seperti ini.

 

Langkah Jong In terhenti tepat di bawah sebuah pohon maple berdaun orange. “Ada apa?” tanya Sung Ha yang ikut berhenti.

 

Jong In berbalik dan menatap Sung Ha. “Malam sebelum kau menemukanku apakah kau keluar dari rumah?”

 

Sung Ha berpikir sejenak. “Karena kau tak ada jadi aku keluar mencarimu. Wae?”

 

“Apakah malam itu kau terluka?”

 

Sung Ha kembali mengingat-ingat kejadian waktu itu. “Ne. Tapi itu hanya luka kecil, kau tak perlu khawatir.”

 

Dada Jong In terasa terpukul akan suatu benda. Bukan masalah kehawatiran yang Jong In perdebatkan, tapi masalah yeoja yang ia lihat terakhir kali sebelum ia tersadar di dunia iblis.

 

“Apakah kau yang berada di taman waktu itu?” tanyanya sekali lagi.

“Taman? Ne, malam itu aku juga ke taman. Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?”

 

“Jadi benar itu kau. Kenapa kau melakukannya? Apakah aku terlalu memaksamu hingga kau ingin membunuhku?”

 

Jong In menatap Sung Ha tajam. Tatapan yang sudah lama tak Sung Ha dapatkan sekarang kembali ia dapatkan. “Apa.. Apa maksudmu?” tubuh Sung Ha bergetar melihat tatapan yang diberikan Jong In padanya. Entah kenapa ia merasa bahwa Jong In sedang marah padanya.

 

“Kau pikir kau siapa? Anak dari kakakku? Ne, kau memang anak dari kakakku, tapi bukan berarti kau bisa berbuat sesukamu padaku!”

 

“Jong In..” panggil Sung Ha lirih. Mata Sung Ha mulai memerah menahan desakan air yang ingin keluar dari matanya.

 

“Kau. Sedari awal kau memang tak boleh terlahir di dunia manapun.”

 

Air mata Sung Ha yang sedari awal berusaha ia tahan akhirnya tumpah. Dada yeoja itu sesak mendengar kata demi kata yang diucapkan namja di depannya.

 

Jong In berbalik meninggalkan Sung Ha yang masih berdiri mematung.

 

Satu demi satu daun maple berwarna orang itu jatuh tertiup angin. Sung Ha hanya memandang kosong punggung namja yang berjalan meninggalkannya.

 

‘Sedari awal kau memang tak boleh terlahir di dunia manapun.’

 

Debu hitam tipis mulai menyelimuti tubuh Sung Ha yang masih berdiri mematung.

 

Dengan tatapan kosong Sung Ha mencoba membuka pintu di hadapannya. Tapi itu semua percuma karena Sung Ha tak membawa kunci pintu itu. Kunci itu sekarang berada di laci kamarnya di rumah Jong In.

 

Karena pintu itu tak bisa terbuka Sung Ha berjalan ke taman belakang rumahnya. Sudah lama ia tidak mengunjungi rumahnya.

 

Yeoja itu duduk di sebuah ayunan yang memang menjadi wahana kesukaannya dulu saat orang tuanya masih hidup.

 

Perlahan ayunan itu mulai mengayun. Sung Ha hanya menatap nanar sebuah pohon bunga cosmos yang tak jauh darinya. Bunga itu memiliki cukup banyak bunga berwarna pink tua.

 

Satu persatu bunga-bunga itu layu dan mengering diikuti tubuh Sung Ha yang semakin diselimuti oleh debu hitam.

 

。゚ °Devil Child °゚。

 

Jong In memejamkan matanya membiarkan air membasahi seluruh tubuhnya. Aroma sampo yang khas tercium di seluruh sudut ruangan yang tak terlalu besar itu.

 

Jong In mengacak rambutnya membersihkan sisa-sisa sampo yang masih tertinggal. Namja itu mematikan shower itu dan keluar hanya memakai handuk di lehernya dan tubuh bagian bawahnya.

 

Dengan kasar ia mengusap rambutnya dengan handuk. Dan mengambil air minum di kulkas. Dan meminumnya. Sorot mata namja itu beralih ke sebuah pintu di dekat kamarnya.

 

Perlahan pintu itu lenyal digantikan sebuah lukisan yang indah.

 

Jong In masuk ke kamarnya. Setelah memakai baju namja itu berbaring dan memejamkan matanya, berusahan menghilangkan perasaan aneh yang sedari tadi ia rasakan.

 

Di dalam hatinya, Jong In merasa sangat khawatir karena sedari tadi ia merasakan aura iblis Sung Ha.

 

Setengah jam sudah Jong In diam menatap langit-langitnya. Kehawatirannya sudah pada batasnya saat aura Sung Ha semakin kuat Jong In rasakan.

 

Dengan kasar namja itu mengambil jaketnya dan keluar dari rumahnya. Jantungnya tak berhenti berdetak cepat. Ia mengeluarkan sayapnya dan segera terbang ke tempat dimana aura itu berasal.

 

Jong In berhenti di depan sebuah bangunan yang tak lain adalah rumah milik Sung Ha.

 

Dalam perjalanan, Jong In menyadari bahwa dirinya telah keterlaluan terhadap Sung Ha. Tak seharusnya ia berbicara seperti itu pada Sung Ha.

 

Jong In melangkahkan kakinya ke sebuah jalan kecil menutu taman belakang. Kedua mata Jong In melebaw bendapati sosok yeoja yang duduk di ayunan dengan sayap hitam yang ada di punggungnya. Tampak api biru keunguan menghiasi sayap hitam itu.

 

Beberapa tanaman di sekitar yeoja itu mati mengering. “Sung Ha..” panggil Jong In.

 

Dengan tatapan kosongnya Sung Ha menoleh. Jong In berjalan mendekati Sung Ha tapi langkah namja itu terhalang oleh kobaran api yang tiba-tiba muncul di hadapannya seolah tak membiarkannya untuk mendekati Sung Ha.

 

“Pergi.” ucap Sung Ha dengan nada yang pertamakali Jong In dengar.

 

“Maafkan aku. Aku tak bermaksud berbicara seperti itu. Baiklah, sekarang tenangkanlah pikiranmu.”

 

“Aku bilang PERGI!” api yang ada di hadapan Jong In membesar membentuk sebuah dinding yang cukup tinggi.

 

Jong In mengeluarkan sayapnya. Dengan apinya ia membelah dinding api itu menjadi dua, membukakan jalan untuknya. “Dengarkan aku! Kendalikanlah kekuatanmu!”

 

“Apakah kau tau perasaanku?” air mata Sung Ha kembali menetes. “Apakah kau tau bagaimana rasanya menjadi malaikat setengah iblis sepertiku? Apakah kau tau bagaimana rasanya mengkhawatirkan orang yang bahkan tak ingin kau hidup?!”

 

Jong In kembali melangkahkan kakinya mendekati Sung Ha.

 

“Dan apakah kau tau bagaimana rasanya tidak diharapkan di dunia ini?”

 

Jong In berhenti. Ia menatap wajah Sung Ha yang sendu. “Mianhae.” ia benar-benar merasa bersalah kepada Sung Ha.

 

“Aku tak ingin melihatmu.”

 

Jong In kembali mendekat dan bersamaan api biru muncul membuat sebuah lingkaran yang mengelilingi tempat Sung Ha duduk. Jong In tak memedulikannya, sayap namja itu menghilang.

 

Namja itu menerobos api Sung Ha tanpa mengeluarkan kekuatan sedikitpun. Beberapa luka bakar bermunculan di tubuh Jong In.

 

Namja itu menarik tubuh Sung Ha kedalam dekapannya. Yeoja itu meronta tapi Jong In tetap memeluknya tanpa mau melepaskannya. “Tenanglah.”

 

Sung Ha terdiam ia menangis di pelukan Jong In. “Aku selalu bersyukur kau ada di dunia ini.” Jong In telah melupakan kejadian di taman. Bagaimanapun juga Sung Ha lebih penting baginya daripada kekuatannya.

 

Api yang ada di sekeliling mereka menghilang diikuti dengan menghilangnya sayap hitam Sung Ha.

 

。゚ °Devil Child °゚。

 

Jong In terus saja menatap wajah Sung Ha yang mengobati luka di tubuhnya. Tangan namja itu menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Sung Ha.

 

“Bisakah kau tak menatapku seperti itu?” sedari tadi Sung Ha tak berani mendongakkan kepalanya. Ia tak berani menatap Jong In.

 

“Aku hanya merindukan wajahmu.” ucapnya yang sukses membuat rona merah di pipi Sung Ha.

 

“Mianhae.. Kau terluka karena aku.”

 

“Ani, aku yang seharusnya minta maaf.”

 

Setelah selesai mengobati luka-luka itu, Sung Ha memberanikan diri mengangkat wajahnya, menatap Jong In.

 

“Sung Ha..” Jong In mendekatkan wajahnya ke wajah Sung Ha. “Jangan pernag tinggalkan aku sendiri.” Jong In menempelkan bibirnya lama pada bibir Sung Ha.

 

Sayap putih Sung Ha dan sayap hitam Jong In keluar bersamaan. Tanaman yang awalnya mengering berlahan kembali tumbuh menghiasi taman kecil di belakang rumah Sung Ha.

 

“Saranghaeyo..” ucap Jong In dan tersenyum.

 

。゚ °Devil Child °゚。

 

Sung Ha mengelilingi rumah Jong In. Beberapa interior tampak berubah. Yeoja itu menghampiri Jong In yang berada di dapur.

 

“Jong In dimana kamarku?”

 

Jong In menghentikan aktifitasnya membalut roti dengan selai saat menyadari sesuatu. “Kamar?” sebuah pintu muncul menggantikan sebuah lukisan. “Itu kemarmu.” Jong In menunjuk sebuah pintu yang ada di dekat kamarnya.

 

Sung Ha berbalik. Yeoja itu tampak bingung, sepertinya tadi di sana tak ada pintu. Sung Ha mengangkat bahunya, tak peduli apa yang terjadi.

 

Yeoja itu masuk kedalam kamarnya meninggalkan Jong In yang masih sibuk membalut roti dengan selai.

 

Sung Ha mengambil sebuah buku berwarna merah di mejanya. Ia membuka halaman yang masih bersih. Yeoja itu menuliskan kata demi kata yang saat ini ia rasakan.

 

Pintu kamar Sung Ha terbuka yang dengan reflek Sung Ha segera menutup buku merah itu.

 

Jong In berjalan mendekati Sung Ha dan menaruh piring berisi roti di atas meja. “Makanlah.”

 

“Ne.”

 

“Kau sedang apa?”

 

“Sedang mengerjakan tugas.” jawab Sung Ha berbohong. “Ahh Jong In, boleh aku minta sesuatu padamu?”

 

“Apa?”

 

Sung Ha mengambil kamera polar miliknya.

 

“Aku tidak mau.” ucap Jong In sesaat setelah Sung Ha mengeluarkan kamera miliknya. Ia tau apa yang Sung Ha inginkan.

 

“Ayolah..” Wajah Sung Ha memelas.

 

“Aku tak suka berfoto.”

 

“Hanya sekali.”

 

“Baiklah, hanya sekali.”

 

Sung Ha tersenyum menang. Ia berdiri dan menarik tangan Jong In. Sung Ha meninggikan kamera yang ada di tangan kirinya.

 

“Satu, dua, tiga.”

 

Cepret

 

Sung Ha segera menggambil lembaran foto yang barusaja keluar dari atas kamera. Yeoja itu mengibas-ngibaskannya pelan dan meniupnya.

 

“Lihat ini.” ucap Sung Ha saat gambar pada foto sudah muncul. Jong In mengambil foto itu, ia tersenyum tipis melihat fotonya dengan Sung Ha.

 

Cepret

 

Jong In menoleh saat mendengar suara cepretan kamera kembali terdengar. “Ya. Kenapa kau memfotoku?”

 

Sung Ha kembali mengambil foto yang baru saja keluar dari atas kamera. Ia melakukan hal yang sama pada foto itu. “Kau terlihat tampan di foto ini.” ucap Sung Ha setelah melihat hasil cepretannya.

 

Jong In merebut foto itu dan melihatnya. “Bukankah aku terlihat tampan setiap saat?” candanya dan menaruh kedua foto itu di meja. “Makan rotimu dan kembalikan piringnya di dapur.”

 

“Ne.”

 

。゚ °Devil Child °゚。

 

“Lepaskan aku! Aku bilang lepaskan aku!” Tae Hyung terus saja meronta saat dua iblis penjaga membawanya secara paksa. “Aku bisa jalan sendiri!” kedua iblis penjaga itu melepaskan Tae Hyung. Namja itu berjalan ke arah ruangan Raja dengan kedua iblis yang masih mengawasinya dari belakang.

 

Tae Hyung membuka pintu yang membawanya kehadapan Sehun. Kedua iblis penjaga itu membungkuk pada Sehun dan keluar untuk menjaga pintu agar tak ada yang masuk.

 

“Ada apa?”

 

“Kau tak lupa dengan yeoja itukan?”

 

“Aku sudah mencarinya tapi aku tetap tak menemukannya.” jawab Tae Hyung bohong. Jangankan mencari, namja itu bahkan tak pergi ke dunia manusia lagi setelah kejadian waktu itu.

 

“Lalu kau berani kembali dengan tangan kosong?” Sehun melangkahkan kakinya mendekati Tae Hyung. Namja itu berjalan memutari Tae Hyung. “Kau ingat, jika disini aku sama sakali tak membutuhkanmu.”

 

Sehun berhenti tepat di belakang Tae Hyung namja itu mengalungkan tangannya di pundak Tae Hyung. Ia membisikkan sesuatu di telingan Tae Hyung. “Kau tak bosan hidupkan?”

 

Tae Hyung masih memperlihatkan wajah sedatar mungkin seakan ia tak takut dengan ancaman yang dibelikan Sehun padanya.

 

“Kau tau? Aku sudah berbaik hati padamu. Apakah kau ingin berakhir sama seperti Kai?” Sehun menolehkan wajah Tae Hyun ke kanan, ke arah sebuah tabung biru yang ada di sudut ruangan.

 

Tae Hyung terbelak. Ia tau apa isi tabung itu, tapi bagaiman Sehun bisa mendapatkannya?

 

“Kau tau? Aku tak pernah bermain-main dengan apa yang aku katakan.”

 

“Bagaimana kau bisa mendapatkannya?”

 

Sehun tersenyum miring. Namja itu melangkah ke depan Tae Hyung. “Sudah kubilang jangan bermain-main denganku.”

 

Api biru melingkar mengelilingi Sehun dan Tae Hyung. “Kau mau bermain denganku sebentar? Terkadang aku bosan berdiam diri sendiri disini.”

 

。゚ °Devil Child °゚。

 

Sung Ha menempelkan foto dirinya dan Jong In di halaman tempatnya menulis tadi. Ia tersenyum bahagia melihat Jong In yang tersenyum dapam foto itu.

 

Sung Ha mengembalikan buku merah itu ketempat dimana ia mengambilnya. Yeoja itu mengambil foto Jong In dan menempelkannya di dinding. “Kurasa aku harus mengumpulkan foto Jong In lebih banyak.”

 

。゚ °Devil Child °゚。

 

Nafas Tae Hyung terengah-engah saat ia terus menghindari api biru yang selalu mengarah padanya. “Ya! Kenapa kau hanya berlari!” ucap Sehun yang bosan karena Tae Hyung hanya menghindari serangannya.

 

Sehun menarik seluruh api birunya berkumpul dibelakang tubuhnya. Ia memandang remeh Tae Hyung yang berdiri tak jauh darinya. “Bersenang-senanglah denganku!”

 

Secara serempak api biru Sehun menghujam ke arah Tae Hyung.

 

。゚ °Devil Child °゚。

 

Sung Ha mengelilingi rumah, mencari sosok Jong In. Dibukanya pintu kamar namja itu tapi tak juga memperlihatkan sosok yang sedang ia cari. “Apakah dia pergi?”

 

Sung Ha membaringkan tubuhnya di sofa. Tubuhnya terasa berat, ia begitu lelah. Ketika Sung Ha mengingat-ingat kejadian saat ia menjadi iblis ia sama sekali tak bisa mengingatnya.

 

Yang yeoja itu ingat hanyalah saat Jong In mengatakan saat ia benci padanya dan memeluknya di taman belakang rumahnya.

 

Tapi Sung Ha masih berasa bingung dengan ucapan Jong In tadi. Apa maksudnya dengan Sung Ha mencoba membunuhnya?

 

Apakah Sung Ha telah melakukan suatu hal yang bisa membunuh Jong In? Tapi apa?

 

Tak mau memikirkannya lebih jauh lagi Sung Ha akhirnya memejamkan matanya membiarkan tubuh dan pikirannya beristirahat.

 

。゚ °Devil Child °゚。

 

Tae Hyung menggerang saat kaki kanannya terkena kobaran api.

 

Sehun dan Tae Hyung mereka telah mengeluarkan sayap hitam mereka masing-masing. Terbang saling menyerang dan diserang di dalam ruangan Raja.

 

Sehun terbang menatap Tae Hyung yang terbang di bawahnya. “Kau mau mencoba kekuatan baruku?” tawar Sehun dengan smirknya.

 

“Kau.. Sebenarnya apa tujuanmu!”

 

“Tujuan? Kau mau tau tujuanku? Tujuanku adalah menguasai seluruh alam semesta.”

 

“Itu mestahil! Tak ada yang bisa menguasainy. Termasuk kau!”

 

Wuss

 

Tae Hyung menelan salivanya saat api biru melilit tubuhnya, bak ular piton yang melilit mangsanya.

 

“Seandainya kau bersikap seperti ayahmu, kau tak akan berakhir di tanganku.”

 

Tae Hyung menggerang saat api itu semakin melilit tubuhnya. “Aarrrgghh!” tubuh Tae Hyung terjatuh membentur lantai.

 

Sehun turung menghampiri Tae Hyung dan menjambak rambut namja itu, memaksanya untuk berdiri. “Kau pikir kau itu siapa berani berbicara seperti itu padaku?”

 

“Kau tak akan pernah menguasai alam semesta. Terutama dunia manusia, karena manusia lebih menakutkan daripada kau!”

 

Brak!

 

Tubuh Tae Hyung terhempas membentur dinding. Dengan cepat kilat Sehun sudah berada di depan Tae Hyung dan memukul perut namja itu hingga Tae Hyung semakin membentur dinding.

 

Darah keluar dari mulut Tae Hyung. Tangan Sehun meraih kepala Tae Hyung ia mencengkramnya, membuat Tae Hyung kesakitan.

 

Api biru muncul dari bawah tubuh Tae Hyung, membara mengenai kaki namja itu yang membuatnya kembali merintih kesakitan. “Iblis sepertimu tak pantas berada di sini!” Sehun menghempaskan tubuh Tae Hyung ke kanan. Membuat namja itu tersungkur di lantai.

 

Sehun menatap Tae Hyung tajam. Namja itu berbalik keluar dari ruangannya dan seketika ruangan itu di penuhi api biru milik Sehun.

 

Dengan mengerahkan kekuatannya Tae Hyung menulis sesuatu di lantai menggunakan jarinya. Tubuh namja itu tertelan ke dalam lantai dan lantai tempatnya berbaring tadi telah terpenuhi oleh api berwarna biru.

 

。゚ °Devil Child °゚。

 

Jong In berjalan menuju ke gang tempat biasa dia masuk kedalam rumahnya dengan sebuah kantong belanja di tangannya.

 

“Kai..” langkahnya terhenti saat ia mendengar seseorang memanggilnya dengan lirih.

 

“Kai..” namja itu membalikkan badannya mendekati sebuah gang yang barusaja ia lewati.

 

Dilihatnya seorang namja duduk bersandar di sudut gang. Namja itu tampak begitu mengenaskan dengan luka bakar dimana-mana.

 

Jong In hanya menatap namja itu datar karena ia tau siapa namja itu, Tae Hyung, iblis yang pernah membawa Sung Ha ke dunia iblis.

 

“Kai.. Kau harus kembali ke dunia iblis.” wajah Tae Hyung jelas terlihat bahwa namja itu menahan rasa sakit di sekujut tubuhnya. “Sehun, dia telah menghianatimu.”

 

Jong In tersenyum sinis. Omong kosong macam apa yang di katakan iblis api hijau di depannya ini. Sehun menghianatinya? Yang benar saja. Saudaranya yang satu itu tak mungkin menghianatinya.

 

“Dia.. Uhuk! Uhuk!” Tae Hyung terbatuk dan darah keluar dari mulutnya. “Dia berusaha menguasai seluruh alam semesta. Dan aku dengar dalam waktu dekat ini, dia akan menyerang dunia malaikat.”

 

“Berhentilah menjelekkan Sehun didepanku.” ucap Jong In dingin.

 

“Jika kau tak percaya. Aku baru saja melihat tabung berisi kekuatanmu di ruangannya.”

 

“Apa maksudmu?”

 

“Lindungilah Sung Ha darinya. Jangan biarkan dia tau siapa Sung Ha sebenarnya.”

 

“Kau kira aku akan percaya dengan omongkosong seperti itu?” Jong In mengeluarkan sayapnya. “Ayahmulah yang telah mengambil kekuatanku. Kau tau betapa sakitnya itu?” sayap Jong In mulai terselimuti api birunya.

 

“Kai.. Untuk kali ini percayalah padaku.”

 

“Tak ada alasan untuk mempercayaimu.”

 

Tae Hyung menjerit saat kobaran api biru menyambar tubuhnya. “Ka..i..” Tae Hyung berusaha meraih Jong In namun semakin ia melakukannya api yang ada di tubuhnya semakin membara lebih besar hingga tubuh itu berubah menjadi abu dan lenyap tertiup angin.

 

Sayap Jong In menghilang perlahan. Namja itu memutuskan untuk menulis namanya di dinting sebelahnya, menggunakan dinding itu sebagai pintu menuju rumahnya.

 

Jong In menaruh kantong belanjaan itu di atas meja di dekat sofa dimana Sung Ha tertidur.

 

Namja itu memandangi wajah Sung Ha yang tertidur tanpa beban. ‘Lindungilah Sung Ha. Jangan biarkan Sehun tau siapa Sung Ha sebenarnya.’

 

Kata-kata itu kembali terlintas di pikiran Jong In. Sebenarnya apa yang diinginkan Tae Hyung hingga namja itu membuat kebohongan seperti itu?

 

Jong In memasukkan tangan kirinya ke punggung Sung Ha dan tangan kanannya ke lutut Sung Ha. Namja itu mengendong Sung Ha untuk tidur di kamar. Yeoja itu menggeliat pelan saat Jong In menaruh tubuhnya di ranjang dan menyelimutinya.

 

。゚ °Devil Child °゚。

 

Setiap hari Jong In dan Sung Ha selalu berangkat sekolah bersama dan setiap haru pula mereka menjadi pusat berhatian. Bagaimanapun juga sifat dingin dan brutal Jong In masih melekat pada dirinya dan itu akan sulit di hilangkan.

 

Sung Ha duduk di bangku di samping Jong In. Itulah bangku yang sekarang menjadi tempat duduknya.

 

“Lempar kemari!” seorang namja sedang asik melempas sebuah bola kertas dari depan kelas ke namja di belakang. Di tengah mereka terdapat seorang namja yang Sung Ha tau sedang apa dia berdiri di tengah-tengah kedua namja tadi. Apa lagi jika bukan mengejar kertas yang terlempar melewatinya.

 

“Kembalikan!” teriak namja yang masih melompat mencoba mengambil kertas yang terus saja di lempar ke depan dan ke belakang.

 

Kedua namja itu tertawa, Dong Jun, namja yang ada di belakang menghentikan aksinya dan membuka bola kertas itu. “Ya! Shin Guk lihat ini, surat cinta untuk Sung Ha.” ucapnya pada namja di depan saat membaca kalimat pertama yang tertulis di surat itu.

 

Mendengar namanya di panggil Sung Ha segera menoleh ke belakang, menatap Dong Jun terkejut. “Apa maksudmu? Surat cinta apa?” tantanya penasaran.

 

“Kau mau membacanya?” Dong Jun memberika kertas itu kepada Sung Ha yang membuat namja pemilik kertas itu membelakkan matanya.

 

“Ya! Jangan dibaca!” ucapnya dan berlari mendekati Sung Ha. Dengan cepat ia merebut kertas itu dan meremasnya jadi kecil.

 

“Ya! Aku mau membacanya!”

 

“Ani. Kau tidak boleh membacanya.” namja itu memasukan bola kerta itu ke dalam mulutnya. Tak akan membiarkan Sung Ha membaca apa yang barusaja ia tulis.

 

Dong Jun dan Shin Guk tertawa bersama melihat Won Sik memasukkan kertas itu ke dalam mulutnya. Dong Jun yang ada di samping Won Sik menepuk punggung namja itu cekup keras, membuat kertas yang ada dimulut Won Sik terlempat mengenai Jong In.

 

“Oh tidak.” ucap Dong Jun saat melihat kertas itu mengenai Jong In. Ia segera memberi isarat pada Shin Guk untuk pergi. Mengerti maksud Dong Jun. Shin Guk pun pergi di ikuti Dong Jun yang berlari keluar kelas.

 

Sung Ha hanya membulatkan mulutnya melihat kertas yang mengenai Jong In. “J-jong In.. M-maafkan aku..” Won Sik tampak begitu takut karena ia tau perbuatannya telah mengganggu Jong In.

 

Jong In memejamkan matanya menahan emosi yang mendesak keluar. Ingin rasanya ia memukul namja yang melempari kertas menjijikkan itu padanya.

 

Jong In bangkit dan mencengkram kerah namja bernama Won Sik, membuat murid di sekitarnya menjauh karena takut. “Kau mau mati?” ancamnya.

 

Sung Ha hanya bisa menghela nafas melihat pertengkaran yang ada di belakang bangkunya. “Jong In, hentikan.” Sung Ha bangkit dan melerai pertengkaran itu. Ia menurunkan lengan Jong In yang mencengkram kerah baju Won Sik.

 

Kejadian itu tak luput dari setiap mata yang ada di dalam kelas. Apakah mereka tak salah lihat? Bagaimana bisa seorang Jong In dilunakkan oleh seorang Sung Ha?

 

“Mian-hae.” Won Sik membungkuk beberapa kali pada Jong In, walaupun ini tak sepenuhnya salahnya tapi ia merasa bersalah pada Jong In.

 

“Aaiishh!” Jong In mengacak rambutnya frustasi. Ia menarik bangkunya kasar dan duduk di bangku itu.

 

“Kau tidak papa kan?” Sung Ha membantu Won Sik merapikan bajunya yang sedikit berantakan karena ulah Jong in.

 

Won Sik menatap wajah Sung Ha, ia tak pernah menatap yeoja itu sedekan ini sebelumnya. “Ne. Gwaenchana.”

 

Dari belakang Sung Ha jelas terlihat Jong In yang melirik tajam apa yang barusaja Sung Ha lakukan pada namja itu. Namja itu pergi, kembali ke bangkunya yang terletak di depan, sedangkan Sung Ha kembali duduk di bangkunya.

 

“Sudah kubilang jangan lakukan itu lagi.” ucap Sung Ha pelan tanpa melihat ke arah Jong In. Namja itu hanya mendengus kesal. Ia kesal bukan hanya karena kertas itu, tapi juga karena isi kertas itu. Surat cinta untuk Sung Ha? Apa dia tak tau Sung Ha adalah milik Jong In sekarang?

 

Bagaimana mereka bisa tau jika Jong In tak pernah membicarakannya pada mereka. Dengan malas Jong In mengalihkan pandangannya ke arah jendela di samping kirinya.

 

Pandangannya tertuju pada sebuah aosok namja yang ada di sebrang sekolahnya, tengah berdiri memandangi sekolah. “Sehun?” Jong In bangkita dari duduknya seketika setelah ia menyadari siapa namja itu.

 

Tanpa basa-basi Jong In berlari meninggalkan kelas. Ia tak peduli berulangkali Sung Ha meneriaki namanya karena sebentarlagi Jam pelajaran dimulai.

 

Sehun mengedarkan pandangannya menatal gedung yang menusia menyebutnya dengan sekolah. “Apa bagusnya tempat seperti ini.”

 

Sehun menghentikan langkahnya ketika ia hendak pergi. Ia dapat merasakan sesuatu mendekat, tak salah lagi itu adalah Kai. Namja itu kembali menghadapa ke sekolah, menunggu sosok pemilik aura yang ia rasakan.

 

Tak lama mata Sehun disambut oleh kehadiran sosok namja di sebrang, Kai. Sehun tersenyum, jadi seperti ini Kai ketika di dunia manusia. Batin Sehun.

 

Kai menyebrang dan menghampiri Sehun. “Kenapa kau kemari? Bukankah kau tak suka pergi meninggalkan dunia iblis?”

 

“Aku? Aku hanya jalan-jalan.”

 

“Kau punya rencana kembali ke dunia iblis?” tanya Sehun yang sukses membuat Jong In terdiam.

 

“Aku tak pernah memikirkannya.”

 

“Kau tinggal dimana? Apakah kau tinggal disana?” Sehun menunjuk gedung yang belum lama Jong In tinggalkan. Sontak Jong In tertawa karenanya.

 

“Aniya.. Itu bukan rumah. Ahh kau mau berkunjung?” Jong In meraih tangan Sehun dan menuliskan sesuatu di tangan itu. “Kau tinggal menuliskan ‘Kai’ di manapun kau mau.”

 

Sehun tertawa tipis. “Kau tak berubah. Suka tinggal di tempat yang tak di temukan.”

 

“Sepertinya aku harus segera kembali sebelum ada yang mengoceh.”

 

“Ne, aku akan ke rumahmu setelah berjalan-jalan.”

 

Jong In menepuk bahu Sehun dan kembali ke dalam sekolah, namja itu tampak senang saudatanya mau berkunjung. Tapi bukankah dia sedah menjadi Raja, lalu siapa yang menggurus dunia iblis jika dia disini? Entahlah Jong In tak begitu peduli dengan itu, Sehun pasti menyuruh iblis yang ia percayai untuk menggantikannya sementara.

 

Jong In membuka pintu kelasnya yang membuat seluruh murid termasuk guru Jang menoleh ke arah pintu.

 

Tanpa menghiraukannya ia berjalan, kembali ke bangkunya. Guru Jang pun kembali meneruskan pembahasannya.

 

Sung Ha melemparkan kertas ke meja Jong In. Yeoja itu memberi kode untuk membukanya dan Jong In pun membukanya.

 

‘Kau darimana?’

 

Jong In meras kertas itu dan menyingkirkannya dan itu membuat Sung Ha geram, ia kembali menuliskan hal yang sama dengan tambahan kata ‘Jawab segera!’ lalu memberikannya ke meja Jong In.

 

Dengan malas Jong In membukanya. Ia mengambil bolpoinnya dan membalas pesan itu. Sung Ha melirik Jong In dan saat itu juga namja itu melemparkan kertas ke meja Sung Ha. Dengan cepa ia segera mengambilnya dan membukanya.

 

‘Aku menemui Sehun.’

 

Sung Ha mengerutkan alisnya. Sehun? Apakah dia dari dunia iblis? Dengan cepat Sung Ha mengambil bolpoinnya. Ia memberikan kertas yang sudah ia balas kepada Jong In.

 

‘Kau ke dunia iblis?!’

 

Jong In kembali membalasnya.

 

‘Ani. Sudah perhatikan guru.’

 

Jong In menaruh kertas itu di meja Sung Ha. Yeoja itu membacanya dan kembali membalasnya tapi Jong In mengacuhkannya dan tak membalas surat itu lagi. Namja itu menyibukan dirinya dengan memperhatikan guru Jang yang menerangkan di depan dan itu sukses membuat Sung Ha tak suka.

 

。゚ °Devil Child °゚。

 

Setelah berkeliling melihat bagaimana dunia yang menjadi tempat tinggal saudaranya itu Sehun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah Jong In.

 

Pertamakali melihatnya, namja itu terdiam. Rumah Jong In tak seperti yang Sehun bayangkan, bahkan ini sangat jauh berbeda dengan di dunia iblis.

 

Sehun mengelilingi rumah itu, ia membuka satu persatu ruangan yang ada disana. Dari mulai dapur, kamar mandi, kamar Jong In dan kamar Sung Ha. Namja itu melihat setiap benda yang ada di sana, tak terkecuali buku merah yang tertata rapi di meja Sung Ha.

 

Dibukanya halaman pertama yang tertulis nama ‘Rim Sung Ha’. Namja itu kembali membuka lembar demi lembar hingga tangannya berhenti membuka pada sebuah halaman yang tertempel foto namja yang ia kenal.

 

Sehun lebih tertarik dengan seorang yeoja yang ada di sebelah Jong In. “Apakah dia yeoja yang dibawa Tae Hyung ke dunia iblis?” tanyanya pada dirinya sendiri.

 

Sehun membaca sebuah tulisan yang ada di bawah foto itu.

 

‘Walaupun kita berbeda, tapi aku ingin tetap bersamanya, selamanya. Karena aku mencintainya.’

 

Sehun membuka halaman yang berada di depan halaman tadi. Di halaman itu terdapat foto Sung Ha yang lebih terlihat jelas. Namja itu menutup buku berwarna merah itu dan mengembalikannya.

 

Ia kembali mengelilingi kamar Sung Ha. “Apakah Kai benar-benar membawa yeoja itutinggal di rumahnya? Sebegitu percayakah dia dengan yeoja itu?” ucap Sehun setelah melihat lembari berisi pakaian.

 

。゚ °Devil Child °゚。

 

Jauh di tempat yang sangat telihat bersih dan tenang Seok Jin dan Minri memasuki istana yang sangat terlihat megah.

 

Kedua malaikat itu masuk ke ruangan Ratu yang bernama Savaredia. “Kalian telah kembali?” tanya sesosok yeoja yang tengah duduk di kursi yang telihat sangat mewah.

 

Seok Jin dan Minri membungkuk bersamaan, memberi hormat kepada sang Ratu. “Ratu, maafkan kami karena telah lancang bertanya seperti ini. Tapi kenapa anda ingin memusnahkan anak anda sendiri?” tanya Seok Jin yang menatap Ratunya.

 

Savaredia hanya terdiam. Ia ingin menjawab tapi disisi lain ia tak ingin membocorkan rahasianya sendiri. “Apakah kau mengetahuinya?”

 

Seok Jin mengangguk, ia tau maksud pertanyaan itu. “Maafkan kami, kami tak sengaja melihat aura milik Sung Ha.”

 

Savaredia menghela nafasnya. “Ne, Sung Ha adalah anakku dengan pangeran Armour. Awalnya memang berat untuk mengutus malaikat untuk membunuhnya. Dia sudah tumbuh dewasa.” yeoja itu mengingat-ingat bagaimana wajah Sung Ha dulu setelah lahir, wajah polos itu sangat menggemaskan. “Dan jiwa iblis yang ada di tubuhnya mulai bangkit. Kalian tau? Iblis yang ada di dalam tubuh anak itu sangat mengerikan. Dia bahkan bisa menghancurkan apapun tanpa ia menyadarinya.”

 

“Maksud anda, saat menjadi iblis ia tak bisa mengontrol kekuatannya?”

 

“Ne, aku mulai menyesali keputusan Armour menyegel kekuatan yang ia miliki pada tubuh Sung Ha. Walaupun aku tak ingin melakukannya, tapi ini demi seluruh bangsa, malaikat maupun iblis.”

 

“Saat kami bertemu dengannya, kami juga melihat pangeran iblis bersamanya.”

 

Savaredia tampak terkejut dengan apa yang barusaja Seok Jin katakan. “Pangeran iblis?”

 

“Ne. Dia terlihat sangat akrab dengan Sung Ha. Namanya adalah Jong In. Bahkan ketika Jong In sekarat Sung Ha tampak begitu khawatir.”

 

Tidak mungkin itu Armour, Armour telah mati di tangan Raja iblis. Batin Savaredia. Sung Ha tak boleh berhubungan dengan iblis manapun.

 

Hingga saat ini Savaredia masih tak tau penyebab bangkitnya kekuatan malaikat dan iblis Sung Ha. Dan itulah yang membuat Savaredia mengambil keputusan untuk melenyapkan anaknya sendiri, walaupun itu sangat berat. Karena jika di biarkan terlalu lama. Karena tubuhnya tak akan bisa menahan kekuatan dari cahaya malaikat dan api biru yang ia miliki. Itu artinya jika kekuatan itu semakin sering berbenturan makan Sung Ha akan lenyap.

 

Satu-satunya jalan Sung Ha adalah memilih hidup menjadi malaikat atau iblis, jika ia memilih malaikat maka ia akan bisa berpikir normal seperti biasa. Namun jika ia memilih iblis makan ia akan hidup dengan pikiran barunya.

 

Kenapa kekuatan itu bisa bengit dalam waktu yang hampir bersamaan? Savaredia memejamkan matanya berpikir tetntang apa yang akan ia lakukan sekarang.

 

“Sekarang aku merubah misi kalian. Lindungi dia dan jangan biarkan kekuatan iblisnya muncul. Bawa dia kemari setelah berusia 18 tahun. Aku akan membuatnya menjadi malaikat.”

 

“Apa?” ucap Seok Jin dan Minri bersama. Mereka saling bertukar pandangan satu sama lain.

 

“Sekarang pergi-lah.”

 

“Ne.” Seok Jin dan Minri membungkuk sebelum pergi meninggalkan Savaredia di ruangannya.

 

Savaredia menyandarkan tubuhnya di kursi yang ia duduki. Pada akhirnya ia harus melakukannya. Ritual yang hanya bisa dilakukan Sung Ha setelah berusia 18 tahun, pengubahan jiwa yang bisa membahayakan Savaredia sendiri.

 

。゚ °Devil Child °゚。

 

Jong In dan Sung Ha masuk ke dalam rumah. Jong In mengedarkan pandangannya mencari sesosok namja yang ia temui pagi tadi. Tak ada siapapun di sana, hanya Jong In dan Sung Ha.

 

“Aaaaaaa!!” Jong In segera masuk ke kamar Sung Ha sesaat setelah mendengar jeritan.

 

“Ada apa?” tanya Jong In yang khawatir karena Sung Ha tiba-tiba berteriak.

 

Sung Ha berlari mendekati Jong In yang masih berdiri di ambang pintu. “Itu..” Sung Ha menunjuk ranjangnya yang terdapat seorang namja yang sedang terlelap.

 

Jong In mendekati namja itu, dan membangunkannya.

 

Sehun mengerjapkan matanya saat ada seseorang yang membangunkannya. Ia bangkit dan mendudukkan dirinya. “Kenapa kau tidur disini?” tanya Jong In pada Sehun.

 

Sehun menoleh kearah Jong In. Tapi sedetik kemudian sorot mata Sehun beralih ke sosok yeoja yang ada di belakang Jong In.

 

Aura ini.. Sangat berbeda, begitu kuat.. Pikir Sehun.

 

Mengerti arah pandang Sehun, Jong In akhirnya ikut menoleh ke arah Sung Ha yang ternyata juga sedang memandang Sehun. “Dia adalah pemilik kamar ini. Jadi pergilah.” ucap Jong In membuyarkan pikiran Sehun.

 

“Siapa dia?” tanya Sehun sembari bangkit dari ranjang.

 

“Dia-”

 

“Nama saya Rim Sung Ha. Anda bisa memanggil saya dengan Sung Ha.” Sung Ha membungkuk memberi hormat, ia ingat betul siapa namja di hadapannya, Raja iblis.

 

“Sung Ha, kau tak perlu seformal itu.” Jong In menarik baju Sung Ha supaya tidak membungkuk kepada Sehun. Walaupun sekarang Sehun adalah Raja iblis tapi tetap saja Jong In tak akan memperlakukannya seperti Raja, melainkan seperti saudara biasa.

 

Sehun tertawa melihat tingkah Sung Ha.”Kau tak usah seperti itu. Bersikap biasalah kepadaku.”

 

Obrolan itu berlanjut di ruang tamu. Sung Ha membawakan tiga soda kaleng. Pada awalnya Sung Ha ingin memberikan yang lain tapi hanya tersisi lima kaleng soda di kulkas.

 

Sung Ha menaruh kaleng pertama di meja depan Sehun, kaleng ke dua di depan Jong In dan kaleng ke tiga di dekat kaleng soda milik Jong In.

 

Sung Ha duduk di samping Jong In ia tampak sedikit banyak mengerti tentang pembicaraan ini.

 

“Jadi apa yang membawamu kemari?” tanya Jong In.

 

“Bukankah aku sudah bilang ingin berjalan-jalan? Aku hanya penasaran kenapa kau betah hidup di dunia ini.”

 

“Kapan kau kembali ke dunia iblis?”

 

“Memang kenapa? Kau mengusirku?”

 

“Bukankah kau harus mengurusi kerajaan?”

 

“Aku sudah membereskannya, kau tenang saja.”

 

“Sehun, apakah tinggal di dunia iblis menyenangkan?” tanya Sung Ha yang sukses membuat Jong In melirik ke arahnya.

 

“Emm, di sanalah aku lahir dan di sanalah aku tumbuh. Jadi menurutku di sana adalah dunia yang menyenangkan.” Sehun mengambil soda kaleng yang ada di depannya dan meminumnya. “Ah, sedari tadi aku penasaran kenapa kau bisa dekat dengan Kai. Kau tau dia itu iblis yang menyeramkan.”

 

Sung Ha tertawa. “Kau benar. Dia memang sangat menyeramkan.”

 

“Tapi Kai, kenapa kau membiarkan manusia tinggal bersamamu?”

 

“Aku bu-” ucapan Sung Ha terpotong saat Jong In ikut menjawab pertanyaan dari Sehun.

 

“Memang kenapa? Apakah kau kesepian tak ada yeoja yang tinggal bersamamu?”

 

“Aishh kau ini.” Sehun kembali neguk soda itu. Ia tau ada sesuatu yang berbeda dari yeoja itu. Dan sepertinya ini semakin menyenangkan.

 

“Apakah kau masih mengingat Tae Hyung?” tanya Jong In tiba-tiba. Sung Ha menundukkan kepalanya menatap soda kaleng yang belum ia minum. Mendengar namanya saja mengingatkannya pada kejadian yang dulu pernah menimpanya.

 

“Iblis api hijau itu?”

 

“Ne. Kemarin aku bertemu dengannya.”

 

“Kemarin?” jika di ingat sepertinya ia telah membunuh Tae Hyung, apakah dia masih hidup?

 

“Tidak. Aku telah melenyapkannya.”

 

Dengan cepat Sung Ha menoleh ke arah Jong In. “Kau melenyapkannya?” Sung Ha terkejut mendengarnya. Apakah benar Jong In melenyapkan Tae Hyung?

 

“Aku melakukannya karena dia telah bersikap keterlaluan padamu. Dan aku tak ingin dia muncul dan mengganggumu lagi.”

 

Sehun tersenyum tipis, ia tak menyangka saudaranya-lah yang membunuh Tae Hyung. “Memang apa yang telah Tae Hyung perbuat pada Sung Ha?”

 

“Dia telah membunuh orang tuaku.”

 

“Apa?” Sehun mengerutkan dahinya. “Kenapa dia melakukannya?”

 

“Yang aku tau karena dia begitu menginginkanku. Tapi setidaknya aku lebih merasa tenang karena dia sudah tiada.”

 

Sehun bisa menebak kenapa Tae Hyung menginginkan Sung Ha. Dan kenapa namja itu tak pernah mau membawa Sung Ha kehadapannya. Itu semua karena Sung Ha memiliki aura yang tak dimiliki makhluk lain. Aura yang sangat Sehun sukai.

 

Bersambung…

 

\(^o^)/ part 6 selesai.. Gimana masih bisa ngebayangin bagaimana si cast melakukan pertarungan dan mengeluarkan kekuatannya kan? Ff ini emang banyak konflik karena zi suka konflik(?) tapi tenang, suatu ketika pasti ada penyelesaiannya. So? Tunggu next part! See you.,

 

7 pemikiran pada “Devil Child (Chapter 6)

  1. Aku udh bisa bayangin gerak-gerik tokohnya 😀 Kamsahamnida sudah diperjelas 😀
    Semakin seru, tapi aku jadi penasaran gimana bentuk dan suasana dunia iblis dan dunia malaikat, kalau bisa tolong diberi gambarannya ya ^o^

  2. aku sediih sehun jadi sosok yg jahat luar biasa disinii. sehun udah kaya musuhnya power rangers yg pengen nguasain dunia. iikkhh.
    jong in bener2 percaya sama sehun, dan itu bener2 membahayakan. aduuhhhh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s