Get Well (Oneshot)

tumblr_nha5fcRTt81rfl6wvo1_1280

  • Get Well •

romance; PG; oneshot, 1.821 words; Byun Baekhyun/Kim Taeyeon – and others

written by Melanie Rosaria

This story is only for the ones that support BaekYeon. So if you’re against them, I suggest you to DO NOT read this.

[Ps: sorry if the poster doesn’t fit well. I tried so hard to find a perfect one but this one is the best. Thank you for your attention! xx.]

The storyline is purely mine. Please DO NOT plagiarize/copy-paste without my permission. comments and critics are very welcome. happy reading!

(poster credit to : heartxsone on tumblr)

~

Malam itu, dimana angin berhembus tenang, cuaca tampak bersahabat, dan jalanan Seoul tampak dipadati oleh kesibukan; Baekhyun malah mendapati dirinya melingkar dibawah selimut biru tebalnya. Mata pria itu terpejam lemas, namun masih dalam keadaan tersadar. Rambutnya terlihat kacau, tak berbeda jauh dengan penampilannya dalam piyama hijau itu. Tubuhnya bergetar, diiringi oleh suara gemertak giginya. Dan dalam keadaan seperti itupun, semua orang pasti sudah tahu jelas bahwa pria itu kini tengah sakit.

Semalam sebelumnya, saat sebuah upacara penghargaan tengah berlangsung, Baekhyun mengaku bahwa ia terserang sakit kepala kepada Suho. Pria yang beberapa tahun lebih dewasa darinya itu tentu cemas, mengingat ia tidak membawa persediaan obat apapun untuk acara penghargaan seperti ini. Lagipula kala itu jam telah menunjukan pukul setengah sebelas malam. Suho mencoba menyuruh Baekhyun untuk bersabar karena acara akan selesai dalam jangka waktu dekat.

Baekhyun menurut. Namun siapa sangka tepat seusai upacara itu, sakit kepala yang dirasakannya justru makin parah. Sepanjang perjalanan pulang menuju apartemen mereka, Baekhyun justru diam di dalam mobil. Memejamkan mata, dengan jari yang terus memijat-mijat pelipisnya, berharap dengan begitu sakitnya akan hilang. Atau setidaknya berkurang. Berbeda dari member lainnya, yang terlihat sibuk mengambil foto diri sendiri dengan piala penghargaan yang baru saja mereka raih.

Dan disinilah Baekhyun. Bergelung dibawah selimutnya, dengan tubuh gemetar dan kepala yang berdenyut ngilu. Tak peduli seberapa keras ia mencoba menahan, namun rasa dingin ngilu yang diterima oleh tubuhnya seakan tak tertahankan. Semacam ada beribu-ribu jarum es yang kini menusuknya, tembus melewati lapisan kulit dan daging, dengan ujung menyentuh tulangnya. Bahkan Baekhyun sendiri tak mampu menjabarkan rasa sakit yang dirasakannya itu. Sesekali pula ia mengeluarkan erangan pelan, kesakitan.

Ditambah lagi, disamping dari keadaan tubuhnya yang kini sedang tidak baik, selera makan Baekhyun pun menurun drastis. Kimchi pasta masakan Kyungsoo yang selama ini selalu ia perebutkan dengan member lainnya, kini justru samasekali tidak membuatnya tergiur.
Sementara itu, Kim Taeyeon tentu merasa gelisah di apartemennya. Kekasihnya sakit, dan pria itu samasekali tidak memberitahunya. Bodohnya, ia malah mengetahui hal itu dari Sehun. Adik termuda Baekhyun dalam grupnya. Rasa tidak percaya awalnya Taeyeon rasakan. Namun setelah Sehun mengoper ponselnya pada Suho saat itu, dan membiarkan sang leader berbicara, Taeyeon langsung gelagapan kaget.

Tidak. Ia samasekali tidak suka jika Baekhyun menyembunyikan sesuatu darinya seperti ini. Apalagi jika menyangkut hal yang penting. Kesehatan Baekhyun tentunya penting pula bagi Taeyeon. Karena biar bagaimana pun, Baekhyun telah mengambil peran penting dalam hidupnya. Bak penerang di dalam hari-harinya. Dan bila Baekhyun sakit, tentu Taeyeon tidak akan tinggal diam.

Berencana untuk mengunjungi apartemen Exo, Taeyeon mengemas beberapa bekal untuk ia berikan pada Baekhyun. Ia tidak yakin pria itu menyukainya, namun ia tetap memasakan sesuatu untuk dibawa. Dan tanpa gadis itu sadari, jika ia benar-benar memberikan masakannya itu pada Baekhyun, maka inilah kali pertama pria itu merasakan masakan kekasihnya.

“Aku pergi.” Pamit gadis itu setelah bersiap dalam waktu sesingkat mungkin. Meninggalkan adik-adiknya yang kebingungan kemana tujuannya. Taeyeon hanya tersenyum pada Tiffany, seakan menjelaskan bahwa ia akan menceritakannya nanti. Dan Tiffany menurut, demikian pula dengan member lain.

Tak cukup lama, sampai disinilah Taeyeon. Di lorong kamar apartemen Exo, tepat berhadapan dengan pintu kamar Baekhyun yang tertutup rapat. Sedikit ragu, entah untuk mengetuk terlebih dahulu, atau langsung melangkah masuk dan menyerangnya dengan beribu pertanyaan. Namun tentu pilihan pertamalah yang gadis itu pilih, kemudian mulai mengetukkan ujung jarinya pada pintu putih itu.

“Ngh… Masuk saja!” Erang suara serak dari dalam. Pasti Baekhyun. Cukup membuat Taeyeon agak terkejut dengan suara khas orang sakitnya itu. Suara husky Baekhyun kesukaannya bahkan seakan menghilang, membuat Taeyeon semakin khawatir.

Pelan, Taeyeon mulai membuka pintunya. Dan mendapati Baekhyun yang tergelung dalam selimutnya, mata terpejam, rambut berantakan. Rasa khawatir menyelimuti Taeyeon, namun ternyata gadis itu juga menemukan fakta bahwa Baekhyun terlihat menggemaskan. Senyum tipis terulas di bibirnya yang dilapisi pengilap bibir, namun segera hilang ketika ia berusaha berwajah datar. Sedikit deheman ia keluarkan, dan refleks membuat Baekhyun membuka mata dan menoleh kaget.

“Bagaimana- akh!” Baekhyun mencoba bangkit dari tidurnya serta merapikan rambut, membuat Taeyeon mati-matian menahan hasratnya untuk tertawa. “Bagaimana kau bisa ada disini!?”

“Sederhana saja. Kau sakit, dan samasekali tidak mengabari. Sehun bahkan baru memberitahuku sore tadi. Aku khawatir.” ucap gadis itu pelan sembari duduk ditepi kasur Baekhyun. Manik matanya menelusuri penampilan Baekhyun dengan seksama, kemudian tertawa pelan.

“Jangan begitu. Aku tahu penampilanku buruk. Maka itu aku kaget saat kau tiba-tiba muncul,” gerutu Baekhyun kesal. “Kalau kau setidaknya memberi kabar akan kesini, kan aku setidaknya akan berusaha mempersiapkan diriku. Mungkin juga membereskan apartemen kami yang menjijikan berantakannya ini. Kemudian-”

“Kau terlalu banyak bicara untuk ukuran orang sakit, Baek. Tenanglah sedikit.” Ceplos Taeyeon begitu saja, sangat bertolak belakang dengan batinnya yang diam-diam bersyukur Baekhyun-nya masih sama. Tidak bisa diam.

“Maaf. Aku terlalu bersemangat akan kedatanganmu.” Sahut pria itu sambil menunjukan cengiran khasnya. “Ngomong-ngomong, apa itu yang kau bawa?” Tanya Baekhyun ketika melihat sebuah tas kain berwarna biru yang dibawakan gadisnya.

“Oh? Ini? Bekal untukmu. Makanlah,” jawab gadis itu canggung sambil menyerahkan kantungnya. Namun dijawab oleh gelengan Baekhyun dengan senyum jail. “Kenapa tidak mau makan?”

“Suapi aku.”

Mata Taeyeon terbelalak, seakan ingin keluar saat itu juga saking terkejutnya ia dengan dua patah kata yang baru saja dilontarkan Baekhyun-nya. Seketika suasana kamar bernuansa putih biru itu hening. Hening kosong, tak berarti apa-apa. Dengan tatapan Taeyeon yang seakan menusuk manik mata Baekhyun tajam, penuh dengan keterkejutan.

“Apa?” Tanya Baekhyun sok tidak berdosa. “Kau mau aku makan, kan? Kalau begitu suapi aku.”

“Tapi bukankah kau bisa makan sendiri!?”

“Akh! Kepalaku sakit! Jangan berteriak begitu, Taeng!” Erang pria itu bohong, sambil memijat kedua pelipisnya dengan jari. Setidaknya, Baekhyun tidak seratus persen berbohong. Kepalanya memang sudah sakit daritadi, bahkan sejak kemarin. Namun itu samasekali tidak ada hubungannya dengan pekikan Taeyeon barusan.

Setelah menghela nafas beberapa kali, Taeyeon akhirnya mengaku kalah akan Baekhyun. Pria ini terlalu menguasai dirinya, sampai-sampai ia tak bisa mengelak. Sedikit menggumamkan kata ‘baiklah’, Taeyeon mulai mengeluarkan tempat makan yang ia bawa. Membukakan tutupnya, dan membiarkan bau masakannya menyeruak memenuhi kamar Baekhyun. Pria itu pun tak diam. Ia menatap makanan itu kagum, kemudian menatap gadisnya dengan jauh lebih kagum. Baekhyun yakin bahwa itu pasti masakan Taeyeon, dan entah kenapa ia merasa lidahnya sudah benar-benar tak sabar untuk menyicipinya. Mungkin sugesti masakan Taeyeon mempengaruhinya. Tapi biar bagaimana pun, Baekhyun yakin pasti makanan itu terasa enak. Tak peduli seberapa jauh selera makannya menurun.

Suapan pertama, Baekhyun merasakan semacam surga pada lidahnya. Atau mungkin itu hanya menjabaran berlebihan pria itu akan masakan Taeyeon. Bahkan kata ‘luar biasa enak’ pun tak mampu menjelaskan rasa masakan itu. Dengan tingkat kematangan yang pas, bumbu yang tak berlebih, dan tekstur lembut, seakan membuat Baekhyun meleleh dalam setiap suapan.

“Hmm,” gumam Baekhyun. Mendapatkan tatapan was-was penuh harap oleh kekasihnya, khawatir akan komentar pria itu mengenai masakannya. “Aaaa~”

Taeyeon tertawa ketika Baekhyun meminta lebih. Cukup menjelaskan bahwa masakannya dinikmati oleh yang orang yang kini tengah memakannya. Diam-diam saat Baekhyun sedang mengunyah sambil memejamkan mata, entah masih menahan rasa sakit atau menikmati, Taeyeon tersenyum menatapnya. Poni pria itu kini terturun menutupi sebagian dahinya. Pipinya membulat berisikan makanan, dengan ujung bibir sedikit melengkung keatas membentuk senyuman. Sedikit niat untuk memotret mulai muncul dibenak Taeyeon. Namun seketika ia abaikan, ketika ia memutuskan hanya akan menyimpan memori wajah lucu pria itu di dalam hatinya. Cukup ia saja yang bisa menikmati pemandangan seperti ini. Tidak dengan gadis lain.

“Kenapa menatapku begitu?” Ketus Baekhyun menyeret kembali Taeyeon ke dunia nyata. “Mulutku sudah kosong. Aaaa~”

Suapan demi suapan Taeyeon berikan, sampai bekal yang dibawanya pun habis. Puas, Taeyeon kembali memberes-bereskan makanannya. Bermaksud untuk pulang. Namun Baekhyun menggenggam pergelangannya dan tak melepaskan, seakan ingin Taeyeon menemaninya terlebih dahulu.

“Kau seperti bayi, Baek.” Gumam gadis itu sambil menatap Baekhyun. Pria yang bergelar sebagai kekasihnya selama kurang lebih baru sebulan ini.

“Baguslah. Setidaknya kau sudah terlatih untuk mengurus bayiku nanti.”

“Bayimu!?”

“Anak kita di masa depan, Taeng.”

Blush. Rona merah mulai mewarnai pipi Taeyeon yang dilapisi bedak tipis itu. Dengan malu, ia mengambil bantal yang terdekat dengannya, lantas memukul Baekhyun pelan.

“Kau memalukan!”

“HEY! Memangnya apa yang salah dengan berencana mempunyai anak denganmu? Tentunya harus menikah dulu. Nanti aku akan melamarmu, tenang saja. Tunggu aku dengan sabar, ya?”
Taeyeon diam. Menatap Baekhyun ngeri sambil kembali menggebuknya dengan bantal. Baekhyun tertawa lantang. Sangat lantang sampai-sampai ia tak merasakan sakit yang menderanya tadi.

“Lalu,” pria itu memulai lagi. Siap dengan kalimat-kalimat renyahnya. “Setelah aku melamarmu nanti, kita akan menikah. Aku memakai setelan putih, dan kau memakai gaun panjang senada. Ah, pasti cantik. Kemudian kita pindah rumah, dan memulai keluarga kecil bahagia disana. Bagaimana? Kau mau, kan?”

“Kau terlalu banyak membaca buku romansa, Baek.” Hanya itu komentar yang terlontar dari mulut Taeyeon. Padahal jauh di dalam hatinya, ia benar-benar tidak bisa bersikap normal. Hanya dengan mendengar kalimat Baekhyun saja, seakan sudah melumpuhkan akal sehatnya seketika. Pria ini benar-benar sebuah candu tersendiri.

“Kau menyebalkan.” Ucap Baekhyun sambil cemberut, Taeyeon tertawa. Beribu es yang dirasakan Baekhyun menusuk tubuhnya, sepertinya telah melebur akan kehangatan yang Taeyeon ciptakan bila berada di dekatnya. Tubuhnya tak lagi gemetar, hanya jantungnya saja yang terus berdetak tak karuan. Untungnya, Baekhyun sudah cukup terbiasa dengan itu. Karena ia mengalaminya, setiap kali ia melakukan hal yang ada sangkut pautnya dengan Taeyeon. Memikirkan sosok gadis itu saja, bisa membuatnya berbunga-bunga. Menjijikan memang, tapi begitulah yang Baekhyun rasakan.

Hingga tak terasa, jarum jam telah menunjukan pukul setengah sembilan malam. Taeyeon berpamit pulang, dan kali ini Baekhyun mengizinkan. Keselamatan Taeyeon tentunya lebih penting dibanding keinginannya untuk menahan gadis itu disini. Menemaninya. Menghangatkannya.
Sejenak setelah Taeyeon mengambil beberapa langkah untuk meninggalkan kamar Baekhyun, pria itu memanggilnya.

“Ya?” Sahut gadis itu lembut.

“Apa tidak ada ciuman-lekas-sembuh untukku?” Baekhyun memelas dengan wajah lucu andalannya. Taeyeon hanya tersenyum tipis kemudian menghampirinya lagi. Bermaksud untuk mencium pipi pria itu walau ragu. Beberapa saat ketika Taeyeon mulai mendekatkan bibirnya pada pipi Baekhyun, tahu-tahu Baekhyun menoleh dengan sengaja dan menekan bibirnya pada bibir Taeyeon. Pengilap bibir segar gadis itu, bisa dirasakan olehnya. Membuatnya ketagihan, namun sayangnya tiba-tiba pintu kamar itu terbuka. Menunjukan Jongin dengan wajah polos disana.

“YAAHHH! KALIAN INI BERBUAT APA!?” Seru pria berkulit gelap itu kaget. Disusul dengan kedatangan Sehun yang mengintip ingin tahu, membuat Taeyeon otomatis melepas bibirnya yang sempat terkait dengan bibir Baekhyun. “Hyung! Kalian tidak melakukan sesuatu yang aneh, kan!?”

“TENTU SAJA TIDAK, aish. Kalian anak kecil!” Elak Baekhyun kesal, namun juga malu. Berbeda dengan Taeyeon yang hanya bisa berdiri tegak sambil menunduk dalam, menyembunyikan pipinya yang pasti sudah merah. Ah, tidak-tidak. Tidak hanya pipinya. Mungkin seluruh wajahnya, kini sudah memerah.

“Lantas apa itu barusan!?” Tanya Jongin keras kepala. Masih penasaran akan yang dilakukan kedua kakaknya ini. Ia masih tidak percaya akan kedua matanya, yang jelas-jelas menangkap adegan Baekhyun dan Taeyeon berciuman. Dan andai saja sang leader Suho tidak menyuruhnya untuk mengantarkan obat Baekhyun, pasti ia tidak akan menangkap pemandangan seperti tadi.

“Aish, sudahlah! Kau mau apa kesini!?”

“Aku… Ng… Ingin mengantar obat.” Jawab Jongin canggung. Merasakan tetesan keringat mulai membanjiri pelipisnya.

“A-ah, baiklah. Baek, jangan lupa minum obatmu, lekaslah sembuh. Sehun-ah, Jongin-ah, aku pamit pulang, ya. Aku permisi.” Dan dengan itu, Taeyeon pun melangkahkan kakinya untuk beranjak dari apartemen itu. Bermaksud untuk pulang.

Hyung, kau baru saja berciuman dengan Taeyeon noona!?” Jongin masih tidak percaya. Tak kunjung puas karena belum mendapatkan jawaban yang diharapkannya.

“DIAM KAU! Memalukan!”

– FIN.

© Melanie Rosaria | July 2014

5 pemikiran pada “Get Well (Oneshot)

  1. bagus banget critany..
    gak kebayang gimana lucunya wajah baekhyun wkt makan di suapin taeyeon..
    Ahahaha…. Jongin ngerusak suasana banget itu.. tapi gak papa, drpd ntar malah lanjut yg gak gak *eh
    Suka banget sama couple ini…
    thanks y udah bikin ff ttg mereka… 😀
    Keep Writing chingu.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s