Hate or Love (Chapter 8)

HoL

Title : Hate or Love (Chapter 8)

Author : starLinn (@StellaW_)

Genger : Romance, family, …

Rating : G

Main cast : Yoon Hagun (OC), Oh Sehun, Kim Jongin

Sub cast : Yoon Joonmyeon, Yoon Bora, Xi Luhan, ……

Length : Chapter

Ini dia chapter 8 dari FF author yang hancur berantakan dan gak ada bagus-bagusnya ini -_- Maaf kalian harus menunggu lama, karena kesabaran kalian. Chapter di FF ini, author panjangkan.. ini udah 20 halaman loh readers -–“ author takut kalo panjang-panjang akan membuat readers jenuh, tapi tenang saja author akan selalu berkerja keras untuk readers-readers yang luarrrbiasa ini. Typo bertebaran dimana mana, harap dimaklumkan. Jangan lupa RCLnya ya readers!!! Kitakan satu ya gak?? *apa ini? Dan satu lagi, maaf chapter 8 ini muncul setelah chapter 9nya keluar, sepertinya ada kesalahan teknis. Maaf ya readers!!!

Selamat membaca~~~~~

PYONGG!!!

************

Hagun Pov

Aku melangkahkan kakiku menuju taman belakang, belum saja sampai aku sudah bisa mendengar tawa dari eomma, appa, dan Sehun. Aku berdiri di belakang pintu kaca, yang menghubungkan rumah dengan taman belakang. Ahhh, ternyata benar mereka menanam bunga tulip, bunga kesukaanku. Lebih tepatnya aku menyukai tulip putih walaupun mereka menanam tulip ungu, tapi tetap saja aku menyukainya. Bunga itu tampak indah di tengah-tengah mereka bertiga. Andai saja aku yang ada di sana. Pasti aku sangat bahagia. Tanpa kusadari air mataku keluar, membuat sungai kecil di pipiku. Tapi senyuman tak hilang dari wajahku. Entah apa yang membuatku tersenyum, di saat hatiku serasa diremas seperti ini. Mungkin tawa dari kedua orangtuaku, dan bunga tulip itu. Semakin lama sungai di pipku makin membesar dan menderas, senyumanpun mulai hilang dari wajahku. Sebelum mereka menyadari keberadaanku, lebih baik aku kembali ke kamar. Aku membalikan tubuhku dan melangkahkan kakiku kembali ke kamar, tempat semustinya aku berada. Oh Sehun, sebelumnya aku mulai menyukaimu tapi aku rasa, sekarang aku kembali membencimu..

Chapter 8

“Roo…. Apa yang harus kulakukan, eoh?” tanya Hagun sambil memandangi Roo, yang sedang berguling-guling tak jelas di lantai kamarnya. Hagun memutar otaknya, siapa tahu ada ide yang muncul di kepalanya.

“Aku rasa eomma dan appa sudah tak membutuhkanku lagi.. Bagaimana kalau kita kabur?” Hagun ber-smirk ria, Roo hanya memandang Hagun bingung.

“Setidaknya hanya untuk 5 hari kedepan.” Hagun mengemasi barang-barangnya. Ia mengambil beberapa gorden dan mengikatnya menjadi satu, dia akan menggunakan ini untuk turun dari jendela kamarnya. Tentu dia membawa Roo, setidaknya hanya dia yang setia saat ini. Ketika Hagun sudah duduk di jendela, seseorang menarik kerah baju belakangnya.

“Aishh.. Sial..” eluhnya kesal. Hagun menengok kebelakang dan wajah tampan Sehun menghiasi mata indahnya.

“Apa yang kau lakukan, hmm?” tanya Sehun.

“Bukan urusanmu, lepaskan!!” Hagun berusaha melepaskan tangan Sehun dari kerah belakangnya, dan berhasil. Tapi tanpa disengaja Hagun merenggangkan tangannya yang sedang menggendong Roo. Anjing kesayangannyapun terjun bebas, dan tergeletak lemas di pekarangan rumah Hagun. Dunia serasa berhenti berputar, sekujur tubuh Hagun membatu. Dia membutuhkan tenaga yang besar untuk menggerakan tubuhnya kembali, dan berlari ke tempat Roo tergeletak lemas. Menginggalkan Sehun yang masih membatu ditempatnya. Ketika sampai di pekarangan rumahnya, Hagun tak kuat menahan air matanya bahkan tubuhnyapun ia tak kuat.

“Roo…Ka-kau baik-baik sajakan?” Hagun menggendong Roo dengan perlahan, tapi Roo tak menunjukan kalau ia sedang baik-baik saja. Nafasnya terenah-engah, lebih tepatnya ia terlihat sangat sulit untuk bernafas.

“Sayang, apa yang kau lakukan di sana?” Bora yang hendak membuang sampah datang menghampiri Hagun.

“OMO! Roo?!!! Apa yang terjadi padanya??” Bora terkejut melihat Roo yang kesulitan bernapas digendongan Hagun. Tanpa menjawab ataupun memandang Bora, Hagun berlari keluar rumah. Dia berlari sekuat tenaga menuju rumah sakit hewan terdekat dari rumahnya.

Sehun Pov

Setelah menanam bunga tulip, aku masuk kembali ke dalam rumah. Apa Hagun belum bangun?

“Ahjumma, apa Hagun sudah bangun?” tanyaku pada ahjumma yang sedang berjalan menuju kamarnya.

“Sudah, bahkan dia tadi sedang memakan sarapannya.” Jawab ahjumma. Aku hanya membulatkan mulutku menjadi bentuk “o” , dan mengganguk-anggukan kepala. Aku melangkahkan kakiku menuju meja makan, tak ada Hagun di sana. Yang aku lihat hanya piring kotor dan gelas berisi susu. Aku memutuskan untuk melihat ke kamar Hagun, dan tanpa menimbulkan suara apapun aku berhasil masuk ke kamarnya. Aku sempat terkejut melihat Hagun yang sedang duduk di jendela kamarnya. Apa dia mau bunuh diri? Dengan cepat aku menarik kerah belakang bajunya.

“Aishh.. Sial..” eluhnya kesal. Hagun menengok kebelakang menatap wajahku.

“Apa yang kau lakukan, hmm?” tanyaku dan membalas tatapannya.

“Bukan urusanmu, lepaskan!!” Hagun berusaha melepaskan tanganku dari kerah belakangnya, karena tak tega aku lepaskan. Tapi entah kenapa Hagun terlihat kaget dan membatu, kenapa? Aku memajukan badanku sedikit untuk melihat keluar, dan betapa terkejutnya aku saat melihat Roo terkapar di pekarangan rumah. Hagun turun dari jendela dan berlari keluar kamar. Aku membatu di tempat, apa ini karenaku? Aku mendekat ke jendela dan tak lama Hagun sudah bersama Roo. Dadaku serasa diremas saat melihat Hagun meneteskan air matanya. Kenapa selalu aku yang membuat Hagun menangis? Kenapa selalu aku yang membuat Hagun terluka? Kenapa aku tak bisa membuat Hagun tertawa atau sekedar tersenyum? Kenapa…Kenapa aku tak bisa menjadi laki-laki yang sempurna untuk Hagun? Ahh.. Aku rasa dia yang terlalu sempurna untukku. Tapi aku mencintainya, aku ingin memilikinya. Ya Tuhan apa yang harus kulakukan? Aku memperhatikan setiap gerak gerik Hagun, dan saat dia berlari keluar rumah bersama Roo. Aku memutuskan untuk mengikutinya. Semoga hal buruk tak terjadi pada Roo.

Hagun Pov

Aku berlari dan terus berlari, tak perduli selelah apapun kaki ini. Aku hanya ingin Roo tetap hidup.

“Bertahanlah Roo…” ucapku sambil terus berlari. Saat melewati tikungan, aku melihat rumah sakit hewan. Tanpa memperdulikan  orang-orang di depanku. Aku menerobos dan segera masuk ke rumah sakit itu. Dengan lemas aku menyerahkan Roo ke tangan dokter yang ada di depanku.

“Apa yang terjadi pada anjingmu, nona?” tanya seorang perawat yang tiba-tiba muncul.

“Dia…Dia…Tolong apapun akan aku lakukan, asal Roo tetap hidup.” Ucapku yang tak menjawab pertanyaan perawat itu sama sekali.

“Maaf, tapi ini sudah terlambat, nona.” Dokter yang membawa Roo pergi, datang menghampiriku.

“A-apa maksudnya?” tanyaku.

“Anjingmu sudah tak bernapas lagi.”

“Mak-maksudmu, Roo ma-mati?” tanyaku lagi. Otakku tak bisa bekerja dengan baik untuk mencerna setiap kata-kata dokter di depanku. Dan dokter itu hanya mengangguk menjawab pertanyaanku.

“Dimana Roo?” tanyaku dengan tatapan kosong. Dokter itu kembali ke ruangannya dan keluar dengan Roo di tangannya.

“Ini anjingmu, nona.” Dokter itu memberikan Roo yang sudah tak bernyawa lagi ketanganku. Air mataku kembali menetas, tapi aku tetep mencoba tersenyum.

“Terima kasih atas bantuan kalian.” Aku membungkukan sedikit tubuhku sebelum meninggalkan rumah sakit ini. Aku melangkahkan kakiku tak tentu arah, tak perduli orang-orang yang memandangku aneh. Aku hanya ingin Rooku kembali hidup, apa itu mungkin? Aku rasa tidak. Dan sekarang di sinilah aku, di depan rumah Jongin. Dengan perlahan aku mengetuk pintu rumahnya. Tak lama, sudah ada Jongin di depanku. Aku menatapnya dan lagi-lagi air mataku menetes kembali. Dia terlihat terkejut,

“Kau ke-kenapa?” tanyanya. Aku hanya menunduk memandangi Roo yang ada di tanganku.

“Roo? Hmm, ayo masuklah dulu.” Ucap Jongin lalu menuntunku masuk, menuju kamarnya.

“Apa yang terjadi?” tanya Jongin saat mengetahui Roo sudah tak bernyawa. Aku bignung harus menjawab apa. Kalau aku menceritakan semuanya, Jongin akan mengetahui kalau Sehun tinggal di rumahku. Dan kalau dia bertanya kenapa Sehun tinggal di rumahku, aku harus menjawab apa? Sedangkan sampai saat ini aku belum bertanya pada eomma. Bodohnya diriku, membiarkan seorang masuk dan menghancurkan hidupku tanpa tahu alasannya. Aku memutuskan untuk menutup mulutku dan hanya diam.

“Ya sudah kalau kau tak mau menceritakannya, bagaimana kalau sekarang kita mengubur Roo?” Jongin menepuk bahuku lalu mengelusnya. Kau memang sahabat terbaikku, Jongin. Aku mengangguk dan menatapnya,

“Tapi.. kita menguburnya dimana?” tanyaku dengan suara serak akibat terlalu banyak menangis.

“Di taman dekat rumahmu, bagaimana?” usul Jongin dan aku setuju.

“Baiklah…”

************

Normal Pov

Jongin merangkul Hagun sepanjang perjalanan. Dan dia semakin mengeratkan rangkulannya, saat ia menyadari ada seseorang yang mengikuti mereka berdua, dengan tatapan tak suka. Dan orang itu tak lain adalah Oh Sehun. Jongin ingin membalas dendamnya pada namja yang telah merebut ‘sahabatnya’. Dia tak akan dengan mudah menyerahkan perempuan yang sudah lama mengisi hatinya. Dia akan berusaha untuk menjaga apa yang sudah dianggap, ‘miliknya’.

“Jong, sesak…” ucap Hagun saat Jongin lebih mengeratkan rangkulannya.

“Ahh.. Ma-maaf.” Jongin tersenyum menunjukan deretan giginya lalu merenggangkan rangkulannya. Tak lama, mereka berdua sudah sampai di taman yang akan menjadi tempat peristirahatan terakhir untuk Roo. Hagun memilih tempat di bawah pohon yang besar dan teduh, ia tak mau Roo merasa kepanasan. Aneh memang, seekor anjing yang sudah mati tak akan merasakan panas bukan? Tapi mau bagaimana lagi, itu tempat yang diingini Hagun. Jongin menggali cukup dalam. Dan saat dirasanya pas untuk mengubur Roo. Jongin memanggil Hagun, yang duduk tak jauh dari tempat ia berada.

“Sudah ya?” tanya Hagun yang mendekati Jongin.

“Hmm! silahkan kau letakan di sana.” Jongin menunjuk tanah yang sudah digali olehnya. Dengan perlahan Hagun berlutut dan mengelus Roo dengan sangat hati-hati.

“Roo, berjanjilah di manapun kau berada, aku mohon jangan lupakan aku. Dan aku juga berjanji untuk tidak melupakanmu. Aku.. menyayangimu, Roo, sangat.” Bisik Hagun sebelum meletakan Roo di tempat peristirahatannya. Hagun ingin menangis, tapi sepertinya air matanya sudah habis. Dia hanya bisa menatap sedih, saat Jongin mulai menutup galiannya. Dia menjauh, dan memetik bungan berwarna putih, sama seperti bulu Roo. Setelah galian Jongin tertutup kembali, Hagun meletakan bunga yang ia petik, tepat di atas kuburan Roo.

“Aku.. lelah.” Ucap Hagun pada Jongin.

“Baiklah, aku akan mengantarmu pulang.” Hagun menggeleng mendengar ucapan Jongin.

“Hmm? Lalu kau mau kemana?”

“Ke rumahmu, boleh?” Hagun menatap Jongin penuh harap.

“Bukannya aku tak membolehkanmu, tapi ahjumma dan ahjussi pasti mencarimu.”

“Tinggal kau katakan kalau aku berada di rumahmu.”

“Tak semudah itu Hagun.” Jongin mengelus rambut Hagun.

“Hah.. aku tak mau pulang ke rumah.” Hagun melangkahkan kakinya menuju anyunan dan duduk di sana. Jongin hanya mengikuti Hagun lalu berjongkok di depan gadis yang dicintainya. Sebenarnya dia sangat senang kalau Hagun ingin menginap di rumahnya. Tapi setiap kali ia melihat bibir kecil Hagun, Jongin selalu teringat kejadian yang tak akan pernah dilupakannya. Kejadian yang membuatnya semakin ingin memiliki gadis yang ada di depannya. Kejadian yang membuatnya semakin membenci, Oh Sehun.

Flashback~

 

 

Setelah keluar dari kamarnya untuk mengejar Hagun, Jongin turun dan hendak membuka pintu rumahnya. Tapi sebelum ia keluar, Jongin mengintip melalui jendela yang berada tepat di samping pintu rumahnya.

DEG!

Jongin merasa jantungnya berhenti bekerja, udara serasa menipis. Sulit rasanya untuk bernapas. Tak terasa matanya mulai memburam, oleh air mata yang memenuhi kelopak matanya. Sekuat tenaga ia menahan air matanya agar tak keluar, untuknya seorang laki-laki tak pantas untuk menangis. Tapi apa dayanya, air mata itu tetap keluar menyaksikan gadis yang dicintainya dicium oleh orang lain. Hagun, dia dicium oleh Sehun.

Flashback End~

“Aku tak tahu apa yang menjadi penyebabmu tak mau pulang. Tapi kau harus menghadapinya, Hagun. Jangan pernah berlari menjauhinya, atau kau tak akan menang mengalahkannya. Kau bukan anak kecil lagi, kau sudah menjadi seorang gadis yang cantik.” Ujar Jongin lalu tersenyum hangat. Hagun merasa mendapat kekuatan baru dari senyum dan ucapan Jongin.

“Baiklah aku akan pulang, tapi sebelumnya… Belikan aku es krim, yaa??” pinta Hagun dengan aegyonya. Jongin hanya menatap Hagun aneh.

‘Dengan mudah ia mengubah sikapnya, sungguh gadis yang menggemaskan.’ Batin Jongin.

Sehun Pov

Aku mengikuti kemanapun Hagun pergi, dan hatiku serasa kembali diremas, saat mengetahui Hagun melangkahkan kakinya menuju rumah Jongin. Aku menarik napas dan menghembuskannya kembali,

“Kau harus bersabar, Oh Sehun” ucapku pelan pada diriku sendiri. Aku memutuskan untuk menunggu Hagun di depan rumah Jongin. Aku tak mau sampai kehilangan jejak Hagun. Aku menunggu cukup lama, sampai akhirnya Hagun keluar bersama dengan Jongin. Tak lupa juga dengan Roo di tangan Hagun. Aku segera berlari menjauh dari rumah Jongin. Dan ketika keadaan aman, aku mulai mendekati mereka kembali. Untuk kesekian kalinya hatiku menjadi korban siksaan, Jongin merangkul Hagun dan Hagun sama sekali tak menolaknya. Apa dia lupa, kalau sebentar lagi dia akan menjadi istriku? Ahh.. aku lupa, kalau cintaku ini bertepuk sebelah tangan. Miris bukan? Tapi, kalau aku tak bisa mendapatkan Hagun. Makhluk hitam itu juga tak akan mendapatkannya. Tanpa sadar aku menghentakan kakiku ke jalanan dan menyebabkan Jongin mengetahui keberadaanku. Kalian tahu apa yang ia lakukan? Makhluk hitam itu mengeratkan rangkulannya pada Hagun. Sial! Apa dia mau balas dendam? Sunggu keanak-anakan sekali. Aku terus mengikuti Hagun dan Jongin, mereka berhenti tepat di depan sebuah taman yang tak jauh dari rumah Hagun. Aku memutuskan untuk bersembunyi di balik semak-semak, dan memperhatikan mereka. Jongin mulai menggali tanah, aku rasa itu untuk Roo. Ahh.. jadi Roo mati? Aku sampai lupa penyebab Hagun lari dari rumah. Roo, maafkan aku. Saat aku mulai bersedih ria, ponselku bergetar.

DRTT DRTT

 

Bora Ahjumma is Calling~~

“Yeoboseyo?” ucapku setelah menempelkan ponselku ke telinga.

“Ahh.. Sehun-ah, kau sudah bertemu dengan Hagun?” tanya ahjumma dengan nada yang terdengar kuatir.

“Sudah ahjumma, ada apa?”

“Syukurlah, begini.. secepat mungkin bawa Hagun pulang. Orangtuamu sebentar lagi akan sampai.”

“Ne?! Tapi ini masih jam 1 siang, Ahjumma.”

“Mereka terlalu senang bisa bertemu dengan Hagun. Sudah cepat bawa Hagun kembali, eoh?”

“Baiklah..” setelah mengucapkan kata itu, panggilan terputus. Aneh, seharusnya mereka marah dengan kejadian ini. Tapi kenapa mereka malah senang? Ahhh.. aku tak mau memikirkan hal ini. Aku kembali memperhatikan Hagun dan Jongin. Cepat sekali mereka mengubur Roo. Sekarang Hagun sudah duduk di ayunan dan Jongin berjongkok di depannya. Aishh.. seharusnya aku yang di sana, bukan kau makhluk hitam! Aku memutuskan untuk menghampiri mereka, tapi gagal karena mereka telah pergi keluar taman. Sebelum kembali mengikuti mereka, aku menghampiri kuburan Roo.

“Apa kau pergi karenaku? Kalau iya, maafkan aku. Tapi, kenapa kau lemah begitu, eoh? Seharusnya kau menjadi anjing penjaga Hagun yang kuat. Ahhh.. apa kau mau memberi peluang yang lebih besar untukku? Kau memang anjing yang baik, Roo. Begini saja… aku, Oh Sehun, berjanji akan menjaga dan mencintai majikanmu yang mengerikan itu. Bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk selamanya.” Aku mengelus gundukan tanah di depanku dan memperbaiki letak bunga putih, yang ada di atasnya. Selamat jalan Roo..

Normal Pov

PLAK!!

“Akhh!!” ringis seseorang yang mendapat pukulan di kepalanya. Dan dia adalah Oh Sehun

“Apa yang kau lakukan di sini, HAH?!” terlihat jelas amara di wajah, orang yang memukul kepala Sehun.

“Ha-hagun? A-aku.., apa kau mendengar ucapanku?” Sehun malah bertanya balik dan sama sekali tak menjawab pertanyaan orang yang memukulnya. Yang tak lain adalah Hagun. Saat mendengar pertanyaan dari Sehun, wajah Hagun seketika memerah.

‘Apa namja ini benar-benar mencintaiku?’ batin Hagun, tapi ia secepat mungkin mengubah ekspersinya menjadi kesal.

“U-ucapanmu yang mana?? Suaramu terlalu hancur untuk masuk ke pendengaranku!” ucap Hagun berbohong. Terlihat ekspresi lega di wajah Sehun.

“Begitukan? Tapi setidaknya kau akan selalu mendengar suaraku ini.” Sehun bangkit dan menatap orang lain yang ada di belakang Hagun, Kim Jongin.

“Aishh.. terserah kau mau berbicara apa. Yang penting, menjauhlah dari makan Roo!” Hagun menarik Sehun menjauh dari gundukan tanah, tempat peristirahatan terakhir Roo. Jongin yang sebelumnya menunggu Hagun di depan taman, menghampirinya dengan tatapan tak suka. Sedangkan Sehun sedang menikmati sentuhan Hagun di tangannya.

“Hagun, jangan menyentuhnya, tanganmu bisa terkontaminasi!” Jongin menarik tangan Hagun tapi sebelum Hagun menjauh dari Sehun. Sehun juga menarik tangan Hagun yang masih bebas.

“Kau pikir aku ini apa, eoh?” tanya Sehun tak senang.

“Virus berbahaya.” Jawab Jongin santai.

‘Baiklah… peperangan akan segera dimulai.’ Batin Hagun dan membuang napasnya kasar.

“Kalau kalian ingin berkelahi, lepaskanlah tanganku! Aku tak mau menjadi saksi dari perkelahian kalian lagi!” ucap Hagun menatap Sehun dan Jongin bergantian. Tapi ke-dua namja tampan ini, malah semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Hagun.

“AISHHH.. Le-pas-KAN!” ucap Hagun penuh penekanan dan volume suara yang semakin lama semakin meninggi. Tak lupa dengan tendangan yang tepat mengenai bagian ‘terpenting’ hidup Sehun dan Jongin. Kalian tahu maksudnya bukan? Dan karena tendangan itu, Hagun terbebas dari jeratan namja-namja gila yang tak pernah bisa keluar dari kehidupannya.

‘Aku tak mau menjadi gadis yang plin-plan. Tapi kenapa setelah mendengar janji Sehun yang akan selalu menjaga dan mencintaiku, aku mulai menyukainya kembali? Bukan hanya karena janjinya, tapi tatapan matanya dan juga wajahnya. Apa benar, cinta dan benci itu hanya sebatas membalikan tangan?’ Batin Hagun, setelah meledek Jongin dan Sehun yang sedang kesakitan di belakangnya.

************

Ting Tong…

“Nee.. tunggu sebentar!” Bora melepas celemek yang terpasang di tubuhnya. Dia melangkahkan kakinya menuju pintu rumah dan membukanya. Dia sempat terkejut melihat siapa yang menekan bel rumahnya. Dua orang yang sudah dinanti-nati oleh Bora dan juga Junmyeon, akhirnya datang.

“Dasom!! YiFan!!” ujar Bora dan langsung memeluk Dasom dan Yifan bergantian. Mereka adalah orangtua dari Oh Sehun

“Aku merindukan kalian!” lanjut Bora dan yang menjadi lawan bicaranya hanya tersenyum.

“Ahh.. dimana suamimu?” tanya Yifan sambil menengok ke dalam rumah keluarga Yoon.

“Dia ada di kamar, akan kupanggilkan. Tapi sebelumnya silakan masuk.” Bora mempersilakan tamu istimewanya masuk dan segera berlari ke kamarnya.

“Junmyeon!!! Junmyeon!!!” panggil Bora histeris.

“Wae?! Kau kenapa, eoh? Ada yang sakit? Kepalamu terbentur? Tanganmu teriris? Atau… Sehun menghamili Hagun?” tanya Junmyeon bertubi-tubi. Bora memukul kepala Junmyeon kesal.

“Aishh.. kenapa ada kata menghamili, eoh? Mereka bahkan belum menikah., sabarlah sedikit.” Ujar Bora bijak. Padahaln dirinya sendiri tak sabar untuk menimang cucu dari Sehun dan Hagun.

“Arasso, jadi ada apa kau memanggilku sampai histeris begitu?” tanya Junmyeon sambil mengelus kepalanya.

“Ahh.. aku sampai lupa, tamu kita sudah datang!” jawab Bora senang. Setelah mendapat jawaban dari Bora, Junmyeon keluar dari kamarnya meninggalkan Bora sendirian.

“Aishh.. seenaknya meninggalkanku.” eluh Bora, lalu mengikuti jejak Junmyeon menuju ruang tamu.

“KRIS!” panggil Junmyeon saat mendapati sahabatnya sedang duduk manis di ruang tamu.

“SUHO!” Yifan yang memiliki nama panggilan Kris, langsung bangkit berdiri ketika mendengar sahabatnya memanggil namanya.

“Lama kita tak bertemu..” ujar Kris lalu memeluk Junmyeon. Mereka terlihat seperti ayah dan anak. Itu semua karena tinggi mereka yang berbeda jauh.

“Suho? Siapa Suho? Dan Kris?” tanya Bora yang baru menunjukan batang hidungnya kembali.

“Itu panggilanku dan Junmyeon saat sekolah dulu.” Jawab Yifan

“Ahh.. Kalau begitu, mulai sekarang aku akan memanggilmu Suho, dan kau Kris!” Bora menunjuk Junmyeon dan Yifan bergantian. Sedangkan yang ditunjuk hanya menatap satu sama lain dan menghiraukan Bora.

“Eonni! Aku membawakan ini untukmu.” Dasom angkat bicara dan berjalan mendekati Bora dengan kantong yang ada di tangannya.

“Wahh.. gomawo!” Bora menerima pemberian Dasom dengan senyum lebar.

“Boleh aku buka?” tanya Bora antusias dan dijawab anggukan serta senyum manis Dasom. Para appa sedang melakukan perbincangan tentang kedua anak mereka. Dan para eomma sedang ber-smirk ria, saat pakaian yang dibelikan Dasom ada di tangan mereka.

“Kau memang yang terbaik dalam memilih barang seperti ini.” Bora memuji Dasom dan mereka segera berlari menuju kamar Hagun.

“Hey, kalian berdua! Ingat, mereka belum menikah!” ujar Kris disertai anggukan kepala Junmyeon. Sedetik kemudian, Bora dan Dasom mendekati suaminya dengan bibir yang mengerucut.

“Baiklah..Tapi sekedar baju transparan tak boleh?” tanya Dasom dengan poutnya. Kris hanya menggelangkan kepalanya, istrinya terlalu yadong untuk ukuran yeoja.

“Kris…” panggil Dasom manja lalu duduk di samping suaminya. Sedangkan Bora dan Suho hanya menatap bingung pasangan yang tak ada cocok-cocoknya. Sang suami yang memiliki sifat dingin dan sang istri yang memiliki otak yadong. Semuanya terkumpul dan menghasilkan seorang Oh Sehun.

“Aku tak mau kalah..” ujar Bora pelan lalu berjalan mendekati Suho dengan senyum manisnya.

‘Ohh.. kenapa harus aku?’ batin Suho saat Bora mendekatinya.

“Jun…ani! Suho-ahh..” panggil Bora tak kalah manja dari Dasom. Suho dan Kris menatap satu sama lain. Ya.. mereka menyerah.

“Baiklah, lakukan apapun yang kalian mau. Tapi jangan berlebihan, ingat mereka masih di bawah umur dan belum tentu mereka saling mencintai.” Ujar kris

“Dan kalian harus tahu, kalau baju transparan itu berlebihan.” Suho menambahkan. Senyum mengembang di wajah Bora dan Dasom. Setidaknya mereka masih bisa menjalankan ide gilanya walaupun tak sesuai rencana. Mereka mencium bibir suaminya masing-masing, lalu berlari ke kamar Hagun.

“Hah…. sampai di mana kita tadi? Ahh aku ingat! Ehem.. Kris, aku tak menyangka rencana kita berhasil.” Junmyeon yang mulai sekarang akan dipanggil Suho, kembali melanjutkan perbincangan yang sempat terputus.

“Hmm.. Dan ini terbilang cukup cepat. Aku pikir membutuhkan waktu satu atau dua tahun untuk menikahkan mereka.” Balas Kris.

“Ini semua karena otak yadong yang dimiliki Sehun, dan tentu saja kepolosan anakku!” ujar Suho bangga sambil memukul-mukul pelan dadanya.

“Enak saja, anakku tak yadong. Anakmu saja yang memberi kesempatan.” Kris sedikit naik darah mendengar anaknya diberi gelas ‘yadong’ oleh Suho.

“Kesempatan apa maksudmu? Anakku itu pasti dijebak oleh anakmu.” Suho tak mau kalah.
“Dijebak?! Anakku tak selicik itu! Dan lagi Sehun adalah anak yang dingin. Anakmu mungkin yang terlalu panas.” Ujar Kris tak masuk akal.

“Panas? Kau pikir anakku itu kompor, eoh?”

“Dan kau pikir anakku itu es?”

“Aku tak bilang kalau anakmu es.”

“Dan aku juga tak bilang kalau anakmu itu kompor.”

“……..” keheningan terjadi di antara Suho dan kris. Mereka saling menatap dan,

“MEREKA SALING MELANGKAPI, HAHAHA!” ujar Suho dan Kris kompak diiringi tawa yang menggelegar di rumah keluarga Yoon.

“BERISIK!!!” terdengar teriakan para istri dari lantai dua. Sang suamipun segera menutup mulut mereka dan tertawa dalam diam.

“Aishh.. mereka sangat berisik kalau sudah bersatu seperti itu.” Dasom memasang wajah kesalnya dan disetujui oleh anggukan dari Bora.

“Bahkan kita tak seberisik mereka.” Ujar Bora bangga.

“Tapi kalian tak serapi kami.” Tiba-tiba sang suami sudah ada di depan pintu kamar Hagun. Memandang istiri mereka masing-masing. Kondisi kamar Hagun sangat berantakan, semua baju yang semula ada di lemarinya dikeluarkan.

“YA! Apa yang kalian lakukan? Kembali ke kediaman kalian! Kami merasa terganggu!” Bora mendorong Suho dan Kris keluar lalu menutup pintu kamar Hagun rapat-rapat.

“Apa yang sedang mereka lakukan? Mencurigakan.” Ucap Kris dan Suho hanya menatap pintu di depannya. Tiba-tiba,

“Aku pulang!” ujar Hagun  dan Sehun saat memasuki rumah keluarga Yoon. Kris dan Suho menatap satu sama lain.

“Kris! Masuk ke dalam kamar, bantu Bora dan Dasom menyelesaikan ide gila mereka. Aku akan menahan anak kita di bawah. Cepat, sebelum mereka mengetahui kalau kita yang merencanakan agar mereka menikah.” Ujar Suho panjang lebar dengan volume yang kecil, Kris mengangguk dan segera masuk ke kamar Hagun. Suho turun dan mengajak Sehun dan Hagun duduk di ruang keluarga. Hagun sempat menolak tapi saat Suho mengeluarkan tatapan mengerikannya, Hagun langsung duduk dan menatap wajah ayahnya malas.

************

 

 

“Apa?!! Mereka sudah pulang? Gawat! Dasom cepat rapikan ini semua!” perintah Bora, Dasom mengambil selimut besar yang sebelumnya tertata rapi di ranjang Hagun. Meletakan semua baju Hagun ke selimut, membungkusnya, lalu memberikan semuanya pada Kris. Sedangkan Bora menyediakan kemeja putih ukuran XL dengan short pants hitam di lemari Hagun yang sudah tak berisi.

“Hey, dimana selimutnya?” tanya Bora saat melihat ranjang Hagun yang polos/?

“Ahh.. di sana.” Dasom menunjuk Kris yang tertutup oleh gundukan baju yang terlapisi selimut Hagun. Bora menaikan sebelah alisnya,

“Aku rasa hari ini mereka akan sedikit panas, selimut mungkin tak berguna untuk mereka.” Ujar Bora santai lalu menggandeng Dasom keluar kamar Hagun. Sedangkan Kris mati-matian mengangkat tumpukan baju Hagun. Sungguh Kris yang malang…

************
“Appa?! Eomma?! Sejak kapan kalian tiba di sini?” Sehun bangkit berdiri saat melihat Kris dan Dasom turun dari tangga dengan Bora.

“Sejak tadi.” Jawab Dasom seadanya. Kris sama sekali tak memandang anaknya, Sehun. Sekarang keluarga Oh dan Yoon sudah berkumpul. Keheningan menyeliputi dua keluarga yang sebentar lagi akan bersatu. Hagun dan Sehun yang duduk bersebelahan, serasa sedang diadili oleh empat jaksa mengerikan.

“Baiklah.. Kami sudah mendengar kelakuanmu yang sangat tak bermoral, Oh Sehun.” Kris memecah keheningan, ia menatap marah Sehun.

“Ahh.. Tapi-“ ucapan Sehun terpotong,

“Tak ada tapi-tapian! Kau sudah bersalah masih mau mengelak, eoh?!!” Kris naik darah menghadapi anak satu-satunya. Hagun hanya menundukan kepalanya, ia merasa sedikit kasihan melihat Sehun dimarahi.

‘Aihh.. sejak kapan kau merasa kasihan padanya?’ batin Hagun sambil memainkan tangannya.

“Hagun.. ahjumma dan ahjussi meminta maaf atas kelakuan Oh Sehun. Kau mau memaafkan kami bukan?” Dasom menampakan wajah memelasnya.

“I-iya ahjumma, ta-tak apa.. aku memaafkan kalian.” Merasa dipanggil Hagun menaikan kepalanya dan memandang Dasom. Dia membalas ucapan Dasom dengan gugup dan senyuman yang bisa dibilang, terpaksa.

“Kau memang anak yang baik, beruntung sekali eomma dan appamu memiliki anak sepertimu. Dan aku menyesal telah membuatmu, Oh Sehun.” Kris menatap tajam anaknya saat mengucapkan kalimat yang menusuk hati Sehun. Bora dan Suho sempat terkejut mendengar perkataan Kris. Sedangkan Dasom menahan tawanya. Kenapa? Karena mereka sedang ber-akting. Kris tak benar-benar marah pada anaknya. Ini semua hanya tuntutan tugas/?.

‘Kris.. kau terlalu berlebihan.’ Batin Suho.

‘Terima kasih Tuhan, aku menjadi bagian dari rencana ini. Kalau aku yang menjadi sasaran mereka. Tamatlah rimayatku.’ Batin Bora.

‘kkkkk~ Oh Yifan, kau memang yang terbaik!’ batin Dasom.

“Ahjussi, jangan seperti itu. Ini bukan salah namja- ahh.. maksudku bukan salah.. Se-Sehun…” ucap Hagun, Sehun terkejut. Ini pertama kalinya seorang Yoon Hagun menyebut namanya. Dan ini membuat Sehun sangat senang. Ucapan Kris yang sempat melukai hatinya, telah diobati oleh Hagun. Sehun menatap Hagun tak percaya, sedangkan Hagun menghiraukan tatapan Sehun.

“Walaupun menurutmu ini bukan salah Sehun, ingat! Pernikahan akan tetap berjalan sesuai rencana. Untuk seminggu kedepan, kalian tak akan bersekolah. Kalian harus menyiapkan semua kebutuhan menikah kalian. Jangan harap kami yang akan mengurusnya. Kalian yang harus mengurusnya sendiri.” Ujar Suho panjang lebar. Hagun menatap appanya tak percaya. Sejak kapan sosok malaikat yang singgah di appanya berubah menjadi tak berperasaan seperti itu?

‘Hagun.. jangan menatap appa seperti itu, sungguh ini menyakitkan.’ Batin Suho lalu mengalihkan pandangannya dari Hagun.

“Sudah-sudah.. perjalanan pasti membuat kalian lelah. Istirahatlah terlebih dahulu. Untuk saat ini, kalian bisa menggunakan kamar Sehun.” ujar Bora kepada Kris dan Dasom.

“Sehun, kau bisa tidur di kamar Hagun. Dan Hagun, kau akan tetap tidur di kamarmu.” Lanjut Bora lalu para orangtua mulai meninggalkan ruang keluarga. Sehun dan Hagun membeku di tempat.

“Aku benci kehidupan ini..” ucap Hagun pelan lalu membuang napasnya kasar.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continue kawan~

2 pemikiran pada “Hate or Love (Chapter 8)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s