Seonsaengnim (Chapter 7)

Title: Seonsaengnim

Author: @diantrf

Main Cast:

Xiao Luhan, Park Chanyeol (Exo) | Park Cheonsa (OC)

Other Cast:

Kim Junmyeon/Suho, Oh Sehun, Kim Jongdae/Chen, Kim Minseok/Xiumin, Zhang Yixing/Lay, Wu Yifan/Kris (Exo) | Kim Myungsoo/L (Infinite) | Jung Jinyoung (B1A4) | Lee Gikwang (Beast)

Genre: Fantasy, Romance, Mystery, School-life | Rating: PG-17 | Length: Chaptered

Prev:

Part-1 | Part-2 | Part-3 | Part-4 | Part-5 | Part-6

0o0

Tidak seperti biasanya, aku mengikat rambut panjangku ini menjadi satu ekor kuda yang cukup tinggi. Entah, hanya ingin mencoba gaya baru saja. Setelah merapikan poni di kedua sisi wajah, aku mengambil tas di atas ranjang dan bergegas keluar kamar. Seperti biasa, suasana sepi menyambutku pagi ini. Aku menyusuri lorong, biasanya Kakek sudah bangun dan sedang berjalan-jalan di lorong. Tapi aku bahkan tak melihat siapapun pagi ini.

Setelah menuruni anak tangga terakhir, kakiku melangkah menuju ruang makan. Oke, ini semakin aneh. Ke mana semua maid yang biasanya kulihat sedang bekerja? Rumah ini benar-benar sepi. Tetapi aku seperti mendengar pelan suara dentingan piring. Apa mungkin Kakek?

“Sudah bangun?” Hanya ia yang terlihat sedang duduk dengan sebuah gelas berwarna merah pekat di sampingnya. Chanyeol, kini ia hanya memainkan piringnya dengan sebuah pisau makan sambil menatapku dengan senyum mempesona.

Aku menghampirinya, mengambil duduk berhadapan dengannya dan meminum susu putih hangat yang telah tersedia di meja. Kami masih sama-sama terdiam, dan bahkan aku tidak menjawab pertanyaannya—tentu saja jika aku sudah berada di hadapannya berarti aku sudah bangun, bukan? Semacam pertanyaan retoris yang tak berguna untuk kujawab.

Entah kenapa aku tak bisa bersikap biasa di hadapan Chanyeol saat ini. Perasaan segan dan hormat timbul dengan sendirinya dalam diriku. Apa mungkin karena ia sekarang telah kembali menjadi Strămoș? Bisa jadi, tapi aku tidak peduli. Ia tetaplah Chanyeol yang kukenal, walaupun telah berubah status dengan sendirinya menjadi suamiku. Tentunya aku tidak perlu menikah ulang dengannya, ‘kan?

“Chanyeol tidak memakai seragam sekolah?” tanyaku sambil mengolesi selai cokelat di rotiku. Aku terlalu sibuk untuk bercanggung ria dengannya sampai tidak sadar jika Chanyeol tidak memakai seragam sekolah seperti biasanya. Ini hari sekolah, ‘kan? Aku tidak mungkin mengigau di pagi hari bahwa sekarang sebenarnya hari libur dan aku dengan bodohnya mengenakan seragam sekolah.

Omong-omong tidak memakai seragam sekolah, Chanyeol hari ini memakai pakaian serba hitam, dari mulai celana panjangnya sampai kemeja hitam dengan dua kancing teratasnya yang terbuka juga lengan panjang yang digulung sebatas siku. Rambut kemerahannya menambah kesan liar yang benar-benar akan membuat teman-teman di sekolah menjerit karena kagum.

Chanyeol yang biasanya memakai seragam acak-acakan, atau hanya mengenakan baju seadanya di rumah. Kini ia bukan lagi Chanyeol sang manusia dengan aura pelindung. Kini ia salah satu dari iblis yang selalu membuat tubuhku sakit, namun entah mengapa justru takdir menyatukan kami selama hidupku dan hidupnya berjalan ratusan tahun ini.

Bicara soal tubuhku yang sakit, sensasi kesakitan semalam masih benar-benar terasa dalam tubuhku. Bayangkan saja, bekas Vampire-print yang Luhan berikan padaku masih sering berdenyut sakit selama tidurku tadi malam. Oh, dan jangan lupakan bekas luka—atau bisa dibilang Vampireprint juga—yang Junmyeon Seonsaeng berikan. Tidurku sangat tidak berkualitas tadi malam karena rasa sakit sialan itu.

Hanya satu hal yang mungkin sangat aku syukuri tidak terjadi. Entah ini hanya diriku yang terlalu parno dan ketakutan, tapi semalam Chanyeol menatapku seolah aku adalah makan malam baginya. Bukan, bukan jenis makan malam seperti aku-ingin-minum-darahnya, tapi lebih seperti aku-sangat-ingin-tubuhnya. Mengerti? Lalu mungkin karena aku yang terus menangis semalaman karena kesakitan membuat Chanyeol iba dan akhirnya tidak melakukan apa-apa padaku, ia hanya memelukku sampai aku tertidur.

Oke, aku ini istrinya, ada kemungkinan Chanyeol akan menyerangku tadi malam. Tapi jika dipikir lagi, aku masihlah Cheonsa si manusia, Chanyeol belum membangkitkan naluri Vampire-ku lagi. Atau ia tak akan pernah mengembalikannya? Aku tak peduli dengan hal itu.

“Berhentilah berpikir yang tidak-tidak. Aku tidak akan menidurimu selama kau masih menjadi manusia.”

Sial, aku lupa Chanyeol bisa membaca pikiranku. Aku pura-pura tidak mendengar dan melihat ekspresinya yang mesum itu. Seingatku, terakhir kali aku melihat tatapan mesum Chanyeol saat ia baru saja menonton blue film bersama temannya. Itu pengalaman pertamanya, dan ia dengan polosnya menceritakan hal itu padaku. “Aku ingin menikahi Miyabi suatu hari nanti,” katanya waktu itu, dan aku langsung memukulnya dan melarangnya menonton film-film aneh itu lagi.

“Chanyeol tidak menjawab pertanyaan Cheonsa. Kenapa tidak memakai seragam?” Pintar, aku mencoba mengalihkan pembicaraan. Membahas hal memalukan seperti itu membuatku seakan tidak memiliki muka di hadapan orang lain.

Kurasakan Chanyeol mendekat ke arahku. Aku masih fokus memakan rotiku yang ketiga. Padahal aku tidak terlalu lapar, namun jika aku berhenti makan maka suasana akan semakin aneh di antara kami. Ia duduk di sampingku, memutar kursinya agar menghadapku. Tuhan, jantungku akan keluar dari tempatnya sekarang. “Mengalihkan pembicaraan, hm?” Chanyeol tersenyum kecil sambil mencubit pipiku. Jadi Strămoș ternyata tak merubah kelakuan menyebalkannya satu itu.

“Sekolah kita sedang mengadakan kemah selama satu minggu. Kau terlalu sering diculik atau kabur sehingga tidak mengetahui perkembangan sekolah. Beberapa Vampire di sekolah membuat surat keterangan tidak ikut serta karena Kakek memilih tempat yang kurang cocok dengan tubuh Vampire. Juga, sebelum Cheonsa bertanya lagi, Kakek sekarang sedang mengurusi suatu hal di Swiss. Aku tak tahu hal apa itu, yang jelas ia akan lama di sana.”

Aku hanya mengangguk mengerti. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di otakku. “Kakek sudah tahu jika Chanyeol..eum..jadi Vampire? Eh? Bahkan kau adalah Strămoș.”

Chanyeol kembali bercerita panjang lebar, bahwa Kakek—Alexander Park—adalah cucu dari Vampire ciptaannya di zaman dulu. Chanyeol menyadari perang besar akan kembali terjadi dan itu sangat membahayakan bagiku. Jadilah Chanyeol dengan meminta izin padaku—ia bilang jika aku sempat tak setuju jika dipisahkan dengannya—akhirnya aku bersedia untuk mengikuti peluruhan darah.

Sebenarnya aku agak mual mendengar sisi cerita satu ini. Setelah mengucapkan mantra padaku, aku tertidur seperti orang mati. Chanyeol mengambil darahku dan menempatkannya di beberapa wadah, katanya sebagai asupan energinya untuk menghadapi perang. Jika kalian bertanya perang apa itu, ternyata menjadi Strămoș bukanlah hal yang mudah. Para Vampire saling membunuh untuk menjadi Strămoș, dan siapa Vampire yang berhasil membunuh Strămoș pada zaman itu, maka ia akan menjadi Strămoș selanjutnya.

Kembali lagi ke peluruhan darah. Setelah dirasa cukup mengambil darahku, Chanyeol memberiku racun Vampire-nya dan membakar tubuhku sampai tidak meninggalkan apa pun—bahkan abunya pun tidak. Lalu Chanyeol kabur ke tempat persembunyian kami saat ia rasa perang semakin menjadi-jadi. Ia mendatangi Sehun yang waktu itu dititipkan kepada saudara kami. Chanyeol memberikan kekuatan Strămoș-nya pada Sehun, dan ia meninggal.

Aku jadi teringat kata-kata Sehun, bahwa aku dibunuh oleh Chanyeol saat ia masih berusia belasan tahun dan masih sangat butuh kasih sayang seorang ibu, dan Chanyeol yang seenaknya menjadikan ia Strămoș. Tiba-tiba aku merindukan Sehun. Bagaimanapun juga aku ini ibunya dan tentu saja ada perasaan sayang yang tidak akan pernah bisa hilang.

“Jadi Cheonsa mengerti ‘kan kenapa orangtua kita jarang sekali pulang ke rumah? Karena mereka tahu bahwa kita bukanlah manusia yang ditakdirkan sebagai anak mereka. Kita hanya makhluk yang menumpang lahir dari rahim wanita yang kita panggil Eomma selama ini. Aku sudah bertemu orangtua kita, dan mereka bilang tak akan pernah kembali lagi ke Korea. Mereka terlalu sedih, bahkan tidak mau menemuimu karena terlalu takut kehilangan. Mereka hanya titip salam agar kita selalu sehat, dan mereka mulai menjalani kehidupan baru mereka. Oh, kudengar mereka telah mempunyai anak lagi.”

Season cerita kali ini benar-benar membuatku menangis—masih sambil memakan rotiku yang keempat ini. Aku jadi teringat masa kecilku saat bersama mereka. Aku rindu mereka, karena bagaimanapun juga mereka adalah orangtuaku.

“Oh ya, dan ini fakta terakhir yang harus Cheonsa ingat kembali. Kautahu ‘kan kalau ada delapan Strămoș yang merajai dunia Vampire? Tiga di antara kami adalah Strămoș tertua yang mampu bertahan sampai sekarang, dan sisanya adalah para Strămoș baru yang mampu membunuh dan mengambil kekuatan Strămoș yang lama.”

Tiga Strămoș tertua itu ialah Kris Seonsaeng, Junmyeon Seonsaeng dan Chanyeol sendiri. Perang dingin memperebutkan tahta Strămoș itu telah berlangsung lima kali dalam sejarah kehidupan Bumi. Jinyoung Sunbae menjadi Strămoș pada perang pertama, Minseok Seonsaeng pada perang ketiga, Gikwang Oppa dan Dokter Zhang pada perang keempat dan yang terakhir Myungsoo di perang kelima.

“Lalu bagaimana sejarahnya bisa ada Strămoș di dunia ini?” tanyaku setelah meminum sedikit susu yang tinggal separuh di gelasnya. Hal paling menyebalkan adalah, Chanyeol kembali mencubit pipiku. “Strămoș adalah Vampire terkuat, berarti ada delapan Vampire terkuat sejak zaman dulu dan kami bersatu untuk bertahan. Kami bersatu, tapi kami harus bertahan secara individu. Kami bekerja sama, namun tidak saling membantu. Juga di saat bersamaan bisa saling menyerang, menjadi musuh dalam selimut. Kami satu, namun harus tetap menjaga ego dan kewarasan kami masing-masing agar dapat bertahan menjadi penguasa. Ya, seperti itulah.”

Mendengar Chanyeol berbicara panjang lebar seperti ini membuatku terpaksa harus memakan rotiku yang kelima. Huh, sepertinya aku tidak akan makan lagi sampai nanti malam. Kini aku semakin gugup karena Chanyeol berada lebih dekat denganku, dan memandangku dalam diam. “Jangan melihat Cheonsa seperti itu. Chanyeol belum makan? Mau Cheonsa buatkan roti?”

Hihi, satu lagi pengalihan perhatian yang kubuat. Park Cheonsa memang terlahir cerdas. “Tidak usah. Sudah selesai makannya? Ayo kita pergi.” Chanyeol menarik tanganku, namun aku masih tetap diam di tempat. “Pergi? Ke mana?”

“Sudahlah, ikut saja,” ucapnya lalu bangkit dari duduk. Aku mengikutiya dari belakang, masa bodoh jika aku masih mengenakan seragam sekolah.

“Chanyeol, kita naik mobil, atau?” Sebelum benar-benar pergi, ada baiknya aku bertanya padanya terlebih dahulu, hitung-hitung mengusir keheningan di antara kami. Namun Chanyeol justru berbalik dan berjalan ke arahku. Tuhan, apa yang akan ia lakukan..

Ia memeluk pinggangku, mendekatkan wajahnya dan menciumku dengan lembut. Aku yang semula membulatkan mata mulai mengerti dan akhirnya menutup kedua mataku. Bisa kurasakan Chanyeol melepaskan ikat rambutku sehingga gelombang rambutku kembali turun hingga menyentuh pinggangku. Tunggu, aku merasa pusing untuk sesaat. Jangan bilang jika..

“Kita sampai. Tentunya Cheonsa tahu ‘kan kenapa aku melepas ikat rambutmu? Ayo, kita naik menemui yang lain.”

Ternyata kami ber-teleport menuju mansion tempat para Strămoș berada. Oh, alasan Chanyeol melepas ikat rambutku adalah agar leherku tidak terekspos sehingga membuat harum darahku lebih mudah tercium oleh hidung Vampire. Bisa gawat kalau itu terjadi.

Aku baru sadar kalau ternyata tadi aku dan Chanyeol ber-teleport menuju ruang tengah. Tidak ada orang di sepanjang jalan ini. Namun keanehan selanjutnya adalah, Chanyeol langsung menggenggam tanganku begitu ia melihat Jinyoung Sunbae di ujung lorong sana. Apakah dia berbahaya? Tidak mungkin, Jinyoung Sunbae adalah yang paling baik padaku.

“Di mana yang lain?” tanya Chanyeol saat kami tepat berhadapan dengan Jinyoung Sunbae yang sepertinya terlihat lelah. Apa Vampire bisa sakit juga?

“Kris dan Junmyeon ikut ke perkemahan, Yixing bekerja di rumah sakit, Gikwang harus mengambil beberapa rancangannya di butik. Yang ada di sini tinggal Myungsoo, Jongdae, Minseok, Sehun, Luhan dan aku. Kau ingin menemui Sehun?”

Jongdae Sunbae tiba-tiba datang dari balik lorong. Ia agak kaget begitu melihatku dan Chanyeol namun langsung tersenyum pada kami. “Sepertinya tubuhmu sedang lemah, Jinyoung?” tanya Chanyeol dengan pandangan menelisik. Ternyata bukan hanya aku yang merasakan bahwa Jinyoung Sunbae tidak dalam kondisi yang baik.

“Dia belum minum darah untuk waktu yang lama. Jinyoung memang keras kepala.” Justru Jongdae Sunbae yang menjawab pertanyaan Chanyeol. Jinyoung Sunbae hanya tersenyum lemah mendengarnya, dan sebenarnya aku masih belum mengerti dengan apa yang mereka bicarakan.

“Aku hanya tak ingin merepotkan Jongdae. Ia terlalu banyak memberikan darahnya padaku. Sudahlah, lebih baik kau cepat menemui Sehun. Ia ada di kamarnya.” Jinyoung Sunbae langsung pergi, diikuti Jongdae Sunbae di belakangnya. “Aku tidak mengerti dengan maksud mereka tadi. Bisa tolong jelaskan?” tanyaku pada Chanyeol.

Tanpa menoleh, ia menjelaskan semuanya padaku. “Vampire mempunyai beberapa pilihan untuk dapat bertahan hidup. Bisa dengan meminum darah manusia, dengan memakan makanan manusia dan yang terakhir meminum darah sesama Vampire. Jinyoung sama sepertiku, kami tak ingin mencampur darah dalam tubuh kami dengan asupan asing dari luar. Kami hanya minum darah sesama Vampire karena itu lebih menjanjikan. Jinyoung pintar karena menciptakan Vampire miliknya sendiri untuk bertahan hidup. Jinyoung bertahan hidup dengan meminum darah Jongdae sebagai ciptaannya,”

Aku mengangguk mengerti, dan sepertinya Chanyeol ingin melanjutkan omongannya. “Membicarakan makanan membuatku rindu dengan makanan manusia yang kumakan selama ini. Sekarang aku tak akan bisa memakan semua itu lagi.” Chanyeol tertawa kecil, lalu keheningan kembali menyelimuti kami.

Jika Chanyeol sama seperti Jinyoung Sunbae yang hanya meminum darah sesama Vampire, lalu darah siapa yang selama ini Chanyeol minum?

“Aku meminum darahmu, tentu saja. Itulah kenapa aku memutuskan untuk melindungimu dengan menjadikanmu istriku. Aku tidak sebodoh Vampire lain yang memburumu hanya untuk kepuasan sesaat. Vampire terkuat tentunya harus tetap dibiarkan hidup agar berguna bagi yang lain, bukannya untuk dibunuh secara keji dan mati sia-sia. Ah, apa aku terlalu jujur padamu?”

Iya, Chanyeol, kau terlalu jujur padaku. Secara tak langsung Chanyeol seolah berucap aku-menikahimu-agar-bisa-bertahan-hidup-dengan-darahmu. Pandanganku meredup sesaat. Apakah itu artinya Chanyeol tidak benar-benar.. mencintaiku?

“Sayang, tentu saja aku sangat mencintaimu. Jika tidak, mungkin kita tak akan pernah mempunyai anak. Mungkin aku akan langsung membunuhmu di malam pertama kita karena terlalu bernafsu dengan darahmu. Namun pada kenyataannya aku tidak mampu membunuhmu dan meminum habis darahmu. Aku terlalu mencintaimu. Sehun adalah bukti nyata betapa aku sangat menahan nafsuku saat itu.”

Chanyeol mencium keningku lalu akhinya kembali fokus menatap ke depan. Ternyata lorong mansion ini sangat panjang. Buktinya aku dan Chanyeol mengobrol panjang lebar dan belum sampai juga di kamar Sehun. Oh, omong-omong, aku punya satu pertanyaan untuk Chanyeol, “Kita akan menemui Sehun?”

Kali ini ia tidak menjawab dan terus saja berjalan, masih sambil menggenggam erat tanganku. Hingga akhirnya kami berhenti tepat di depan sebuah pintu kayu berwarna hazeld dengan ukiran beraksen emas di sisinya. Aku seperti mengenal pintu ini. Ini benar kamar Sehun, tempat di mana terdapat lukisan keluarga kami. Chanyeol membuka pintu dan nampaklah Minseok Seonsaeng yang sedang duduk di samping ranjang, dan.. Oh, Tuhan..

Aku terlonjak kaget melihat keadaan Sehun. Kedua tangannya diikat di tiang sisi ranjang. Matanya berkilat merah dan wajahnya semakin pucat. Rasanya ingin menangis, apa yang terjadi dengan anakku?

“Chanyeol, untunglah kau datang hari ini. Sehun—“

“Aku tahu, jangan ceritakan di sini.”

Apa? Apa yang seharusnya tidak Minseok Seonsaeng ceritakan? Chanyeol melepaskan genggamannya dariku, berjalan menuju Sehun yang dapat kulihat memandangnya dengan tatapan benci. Oh, sepertinya aku mengerti dengan apa yang terjadi!

Dulu Chanyeol memberikan kekuatan Strămoș-nya pada Sehun hingga ia terbunuh. Lalu sekarang Chanyeol telah mengambil kekuatannya lagi, dan itu berarti..

“Chanyeol, jangan sakiti Sehun!” Aku refleks berteriak karena panik. Tidak, aku tak ingin melihat Sehun kesakitan seperti itu. Chanyeol menoleh sebentar ke arahku, lalu setelahnya menatap Minseok Seonsaeng. “Tolong panggil Luhan.”

Aku membulatkan mataku. Kenapa..Luhan? Apa hubungan semua ini dengan kehadiran Luhan? Hanya berselang sebentar, pintu kamar terbuka dan nampak Luhan yang berjalan memasuki kamar. Ia menunduk hormat pada Minseok dan Chanyeol. Huh, bahkan ia tidak menghiraukan kehadiranku. Apa ia lupa bahwa kami pernah hampir menikah sebelum kegilaan dan segala fakta mengejutkan ini terbongkar?

“Luhan, tolong jaga Cheonsa sebentar,” pinta Chanyeol dengan suara rendah. Luhan hanya mengangguk dan setelahnya menoleh ke arahku. “Hai Cheonsa, rasanya baru kemarin aku menolongmu.”

“Luhan bodoh, kau memang baru kemarin menolongku!” umpatku padanya. Tentu saja ia mendengarnya, dan ia mendekat ke arahku lalu mengacak poniku yang berharga. “Hihi, iya. Nah, apa pun yang akan kaulihat nanti dapat kupastikan itu akan membuatmu menangis. Jadi, kau ingin aku temani keluar dari kamar ini atau—“

“Aku ingin tetap di sini. Aku khawatir dengan Sehun,” potongku cepat. Aku ingin tahu apa yang akan Chanyeol lakukan pada Sehun. Aku tak ingin Sehun terluka atau apa pun yang membuatnya menderita.”

Luhan tersenyum kecil lalu berucap, “Baiklah, tapi aku telah memperingatkanmu, Nona.”

“Chanyeol, aku akan melihat keadaan Myungsoo di kamarnya. Silahkan lakukan dengan hati-hati,” ujar Minseok Seonsaeng pada Chanyeol, dan ia mengangguk tanda paham. “Dan Luhan, tolong tutup mata Cheonsa jika ia tak kuat melihat.” Luhan juga ikut mengangguk. Minseok Seonsaeng benar-benar keluar kamar, meninggalkan kami semua. Memangnya apa yang akan Chanyeol lakukan?

“Sehun, jangan tatap Ayah seperti itu. Di mana sopan santunmu?”

Chanyeol saat bicara dengan Sehun sangat berbeda dengan Chanyeol yang biasanya kulihat. Ia terkesan tegas dan tak terbantah. Bola matanya kembali berubah menjadi emerald, sangat berbanding terbalik dengan tatapan merah pekat Sehun padanya. Apa mungkin.. Sehun sedang sekarat?

“Sopan santunku hilang seiring waktu yang mengembalikanmu. Kau ingin darahku, bukan begitu? Silahkan ambil sampai tak bersisa, aku tak peduli,” ucap Sehun dingin, dan kini pandangannya meredup. Aku tahu, Chanyeol belum bisa meminum darahku karena aku masih tersegel menjadi manusia, dan Vampire selain aku yang bisa memberinya darah hanyalah Sehun, anak kandungnya.

“Luhan, Chanyeol tak akan benar-benar meminum habis darah Sehun, ‘kan?” tanyaku dengan suara tercekat di tenggorokan. Sepertinya aku akan menangis sebentar lagi.

Luhan menatapku miris, sepertinya merasa kasihan dengan diriku yang lemah dan tak tahu apa-apa. “Tentu saja tidak. Sehun terlalu berharga untuk mati, percaya padaku.” Ia mengusap rambutku—dan entah kenapa aku merindukan momen seperti ini bersama Luhan. Ah, sekarang bukan waktunya untuk memikirkan perasaanku pada Luhan.

Chanyeol duduk di samping ranjang. Aku dan Luhan berada beberapa meter dari posisi Chanyeol dan Sehun, sungguh aku takut terjadi sesuatu pada Sehun.

“AKH!”

Mendengar jerit kesakitan itu refleks membuatku menutup mataku. Air mataku pun melesak turun begitu saja. Aku nekat membuka sedikit mataku dan melihat bagaimana Chanyeol menggigit leher Sehun sebelum akhirnya sesuatu menghalangi pandanganku. Luhan memeluk pinggangku, membawaku ternggelam dalam hawa tubuhnya—yang walaupun masih tetap menyakitkan namun seakan ada perasaan rindu terhadapnya.

“Jangan dilihat jika tak bisa,” ucapnya pelan, berusaha menenangkanku. Luhan mengusap rambutku dengan lembut. Suara jeritan Sehun semakin kencang, dan aku benar-benar merutuki keputusanku untuk tetap berada di sini. Seharusnya aku mengikuti ajakan Luhan untuk meninggalkan kamar ini jika akan begini jadinya.

Tangisku benar-benar pecah, mungkin pakaian serba hitam yang Luhan kenakan menjadi basah karena air mataku yang banyak keluar. Aku memang cengeng, terlebih lagi aku tak bisa menerima kenyataan di hadapanku. Bagaimana rasanya taring itu menancap langsung di leherku nantinya? Apakah aku juga akan menjerit seperti Sehun?

“Apa aku bilang, sebaiknya kita keluar. Cheonsa itu cengeng, pasti menangis mendengar jeritan kesakitan orang lain. Lihat, Sehun semakin kesakitan dan darahnya—“

“Luhan..hiks..hentikan!” tangisku semakin menjadi-jadi, dan pelukanku pada Luhan semakin erat. Aku tak mau melihat keadaan Sehun sekarang, tidak sebelum ia berhenti berteriak.

Bukannya merasa bersalah, Luhan malah tertawa garing kepadaku. Demi Tuhan, ini tidak lucu! Anakku sedang menjerit kesakitan dan Luhan dengan tanpa dosa menertawaiku yang menangis. Dunia memang sudah gila.

“Sehun, minumlah ini.” Mendengar suara Chanyeol, aku segera membuka mataku. Luhan melepaskan pelukannya agar aku bisa melihat apa yang terjadi. Mata Sehun berubah normal menjadi hazeld, dan ia dalam keadaan tenang sekarang. Dapat kulihat bercak darah masih menempel di bibir Chanyeol, dan ia memegang gelas dengan cairan merah pekat yang tadi pagi kulihat di meja makan.

Sehun memandang datar gelas itu, “Darah siapa itu?” tanya Sehun pelan. Chanyeol kembali duduk setelah sebelumnya berdiri untuk memunculkan gelas itu. “Darah ibumu, tentu saja.”

Bagai memiliki ikatan batin yang kuat, aku dan Sehun sama-sama terlonjak karena kaget. Itu..darahku? Tapi, kapan Chanyeol..

“Ayah kau gila, Ibu masih menjadi manusia dan kau mengambil—“

“Bukan. Ini darah lama miliknya yang masih Ayah simpan. Minumlah.”

Chanyeol kembali menyerahkan gelas itu pada Sehun. Dengan ragu, ia mengambil gelas berkaki tinggi itu dan membauinya. Warna matanya berubah menjadi emerald seperti milik Chanyeol. Sehun meminum darah itu sampai tak bersisa.

Oh Tuhan, Sehun justru memberontak dengan bringas. Matanya semakin berkilat dan aku tak ingin melihat apa yang selanjutnya terjadi.

“Luhan, bawa Cheonsa pergi dari sini, ke manapun terserah. Lindungi dia untuk sementara, dan tolong hubungi Junmyeon agar ia segera pulang.” Chanyeol memerintah dengan suara pelan, namun sarat akan ketegasan. Justru aku yang menjadi bingung. Mengapa dengan meminum darahku Sehun jadi kehilangan dirinya seperti itu?

“Tapi, Chanyeol—“

“Sayang, baik-baiklah dengan Luhan untuk sementara,” ia menatapku lembut. “Satu lagi,” Chanyeol melemparkan satu kantung berwarna merah pekat—yang kuyakin adalah darah—pada Luhan, “Itu darah Sehun, jika kau membutuhkannya nanti. Bilang pada Junmyeon bahwa tugasnya menanti di sini.”

Luhan mengangguk lalu segera menarik tanganku untuk keluar dari kamar. Sehun masih berteriak tidak jelas, dan tangisku kembali pecah sepanjang jalan menyusuri lorong untuk keluar dari mansion.

Kami sudah keluar dan Luhan langsung menarikku untuk memasuki mobilnya yang terparkir di halaman. Kami melesat dengan cepat, entah ke mana mobil ini melaju. Aku masih terdiam karena syok, dan sepertinya luhan menyadarinya. Lampu merah membuat Luhan menghentikan mobilnya. Ia menatapku dengan pandangan khawatir.

“Sepertinya Cheonsa butuh tidur,” ucapnya pelan sembari memegang keningku. Sial, aku tidak sempat menghindari sentuhannya. Pasti ia mencoba membuatku tertidur.

Benar saja, mataku memberat. Mungkin beberapa detik lagi aku akan tertidur, dengan segala pikiran yang bergentayangan dalam benakku.

TBC

Maaf kalo lamaaaaa banget. Lagi sibuk-sibuknya hehe klasik banget alesannya. Semoga suka^^

77 pemikiran pada “Seonsaengnim (Chapter 7)

  1. Duh duh duh cheonsa chanyeol mkn mesra bingitz dah, hmmmm berarti luhan bkl dibuang begitu ajj yaa oleh cheonsa..sehun maknae yg unyu2 diapain itu, jgn sakitin sehun chanyeol, dy kan ngga sepenuhnya salah krn melakukan hal2 yg ngga bener…sehun melakukan hal itu hny krn kau memisahkan dia waktu kecil dg cheonsa…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s