Time and Love

ffuwo

Time and Love

Author             : @zhayrapiverz (follow twitternya yak xexexeJ)

Cast                 : Oh Sehun, Kim Yura

Support Cast   : Kris Wu, Kim Suho, Park Chanyeol, Taemin SHINee, Jongkook BTS

Genre              : Romance, Hurt

Length             : Twoshoot

Rating             :T, G

Disclaimer       : Zay butuhin like ama coment yang banyak XexexeJ. Setiap FF yang Zay post disini, juga Zay post di fb pribadi (Zayy Cardova), exofanfiction.wordpress.com dan beberapa grup EXO fanfic dengan nama author yang sama. Happy reading *bow.

Aku tetap  ingin mencintaimu walau rasanya kau lebih sering menyakitiku_-Kim  Yu Ra

Aku tak tahu bagaimana mengekspresikan apa yang kurasa. Kumohon ulanglah waktu-_Oh Sehun

Yura tersenyum kala berpapasan dengan dia yang semalam menjadi objek mimpinya, sosok yang hampir tiap hari ia rindukan, menjadi sebuah candu yang memabukkan Yura. Ia sadar tak boleh seperti ini ‘Mencintai seseorang melebihi dirinya sendiri’ ‘Mencintai tanpa perlu merasa dicintai’ dan ‘Mencintai lebih dari apapun’

Sesuatu yang berlebihan bukanlah hal yang baik, termasuk mencintai seseorang. Yura tahu hal itu, tapi ia tak tahu bagaimana cara kerja hatinya tiap kali bertemu Oh Sehun. Walaupun Yura tahu Oh Sehun kekasihmya, kadar cintanya takkan pernah berkurang bahkan semakin menambah volumenya.

Yura menyapa dengan riang ketika berpapasan dengan Sehun di dekat kantin “Hay Sehun..”

Sehun menoleh sebentar ke arahnya lalu kembali berjalan menuju kantin bersama Kai,Chanyeol, Baekhyun dan Suho. Jinri menepuk pundak Yura, “Kau sudah senang?”

Kilat mata almond Yura mengembang “Yeah tentu saja Jinri-ya hehe”

“Aneh sekali kau Yura-ya, padahal sifat Sehun seperti tak mengenalmu di sekolah, dia begitu dingin. Apa kalian masih berhubungan?”

Yura duduk di bangku panjang di depan koridor sesampai di kelasnya, Jinri mengekor di sampingnya “Tentu saja Jinri-ya. Sudahlah Sehun memang begitu orangnya, selalu dingin. Tidak usah dipikirkan”

Jinri menghela “Aku memikirkan hatimu Yura-ya”

]]]

Yura tersenyum kala Sehun memenuhi janjinya sore  itu, menemuinya di taman dekat rumahnya. Pria itu duduk di sebelah Yura, sedikit memberikan jarak padanya. Sayangnya Yura tak begitu menyadarinya karena terlalu senang. “Kau sudah makan?”

Sehun menggumam “Humm”

“Sehun-ah ayo kita menonton film. Kris oppa bilang ada film bagus di bioskop”

Sehun menoleh ke arah Yura, “kapan?”

Yura meletakkan telunjuknya di dagu, layaknya orang berpikir “Bagaimana jika lusa?”

Sehun menggeleng pelan. Oh pasti ada acara atau ia sedang sibuk. Yura tersenyum padanya, berharap ia bisa “Bagaimana jika akhir pekan?”

“Baiklah”

Yura memekik gembira “Pukul lima sore. Aku tunggu disana”

]]]

Sore itu Yura sibuk memilih pakaian yang pas untuk dikenakan nanti. Namun bahkan dari dua jam lalu ia hanya mengeluarkan isi  lemarinya semua, menyampirkan pakaian di depannya lalu menaruhnya asal karena tak cocok. Yura melirik jam dinding lalu terkaget

“Eomeo..sudah jam segini” gumanya ketika jarum panjang jam menunjuk ke angka empat. Tanpa aba-aba lagi ia segera menerjang kamar mandi dan membubuhkan riasan natural setelahnya.

“Kau akan pergi Yura-ya?” Ucap Kris oppa yang tengah menonton film

“Ne” Yura terburu-buru memasang sepatunya

Kris nampak khawatir “Tapi diluar badai salju akan segera muncul?!”

Yura selesai memasang tali sepatunya “Aku berangkat dulu oppa” tanpa mendengarkan Kris berbicara

]]]

Bioskop sore itu lumayan ramai, kebanyakan dari mereka memang pasangan remaja seperti Yura. Gadis itu berdiri di depan Megaplex bioskop sembari menunggu kedatangan Sehun, sesekali menggosok-gosokkan badannya yang sedikit kedinginan demi menyalurkan kehangatan, Yura melirik jam kecil di pergelangan tangannya “17.15” Yura tersenyum kecil, mungkin saja Sehun terjebak macet, batin Yura

Angin musim dingin berhembus cukup kencang, menerbangkan kertas-kertas sampah, dedaunan kering maupun benda kecil di sekitarnya. Yura sedikit menggigil dan takut karena Sehun tak kunjung datang

“Semoga kau baik-baik saja Sehun”

]]]

Pria berambut coklat itu tengah bermain play station di rumah JongIn, beradu dengan Chanyeol yang tengah serius memutar ala bridal remote controlnya “Ya! Kau curang Sehun-ah” Chanyeol berteriak saat  Sehun menyalip motornya. Sehun hanya terkekeh pelan

Lalu Sehun berteriak tak kalah heboh saat ia memenangkan pertandingan ketiganya “Winner..Yey. kau payah sekali Park Chanyeol!”

“Ya! Kau saja yang curang” kata Chanyeol dengan raut kesal

Sehun melirik arlojinya, tak mengindahkan rajukan Chanyeol. “Hyung. Apa yang terjadi di luar sana?”

Suho yang duduk paling mendekati jendela, melihat ke arah luar, menggeleng lalu kembali ke asal “Diluar sepertinya akan terjadi badai salju”

Sehun mengeluarkan ponselnya, memencet nama yang sudah tak asing, menunggu cukup lama namun tak ada jawaban hingga ia melakukannya lima kali berturut-turut. Sehun mulai gelisah “Kau dimana Yura?”

Jongin menyadari kegelisahan Sehun sedari tadi “YA! Kau ada janji dengan kim Yura itu?”

Sehun menggumam, mengambil contac motornya dan pergi dari rumah Kai.

]]]

Yura masih bertahan di tempatnya, belum beranjak barang sejengkal. Beberapa kali petugas megaplex memperingatkan agar ia berteduh di dalam, namun ia menolak. Yura terlalu naif. Ia lebih memilih menunggu di luar, tak mempedulikan kesehatannya sendiri dikala suhu udara mulai mendekati minus. Ia takut Sehun tersesat dan akhirnya pulang karena tak menemukannya. Tapi sekuat-kuatnya Yura, ia hanyalah manusia biasa yang akan tetap merasakan dinginnya angin bercampur salju, menggigil bahkan sesekali bersin.

“Dasar pabo! Kalau kau tahu akan ada badai, kenapa masih datang eoh?”

Suara Sehun membuyarkan lamunan panjangnya ia menoleh pada Sehun senang “Oh Sehun..”

Sehun diam sembari menyampirkan jaketnya pada Yura dan memeluk bahu gadis itu “Kita pulang”

Yura menahan langkahnya  “Bagaimana dengan filmnya sehun-ah?”

“Kita sudah terlambat. Sebaiknya kita pulang atau akan semakin lama terjebak disini” ucapnya datar

Yura hanya mengangguk, seketika rasa sedih dan kesalnya hilang. Sungguh ia senang saat Sehun datang, menyampirkannya jaket, memeluk bahunya dan mengantarkannya pulang. Ini bayaran yang sebanding dengan pengorbanannya menunggu lama, setidaknya bagi Yura

]]]

Siang telah berganti malam, diluar hujan salju masih turun walau dengan intensitas ringan. Sehun menatap langit-langit biru kamarnya, pikirannya menerawang pada satu yeoja yang terus  mengganggu pikirannya -Kim Yura-.  Sehun tak tahu bagaimana perasaannya sendiri pada gadis itu, Yura begitu baik dan perhatian dari hal yang paling kecil sekalipun, menanyakannya makan atau sudahkah Sehun mengerjakan pr fisikanya -Pelajaran yang dibenci Sehun-. Sedangkan Sehun, ia tak pernah sekalipun membalas perasaan itu, hanya berusaha ada untuknya walau sesungguhnya Sehun justru merasa terbebani karena sikap Yura yang tulus kepadanya.

Ia tak tega jika Yura terus bersikap seperti ini, jadi setelah merenung cukup lama, mempertimbangkan beberapa hal, ia mengambil satu keputusan “Mulai Menjauhi Yura dan membiarkan ia menemukan kebahagiaan sendiri tanpaku”

]]]

Sejak insiden Yura menunggu di Megaplex hampir dua jam, ia tak masuk sekolah selama tiga hari karena demam tinggi. Sehun memandangi dua bangku didepannya yang kosong, bangku milik Kim Yura. Sehun ingin menjenguknya, namun ego kembali menahannya “Mulai Menjauhi Yura dan membiarkan ia menemukan kebahagiaan sendiri tanpaku” Sehun mengucapkan janji bodohnya berkali-kali.

Ketika Yura sudah  kembali bersekolah, Sehun berpura-pura tak melihat ketika berpapasan dengannya di koridor sekolah, kantin ataupun di perpustakaan. Sebisa mungkin Sehun menyibukkan diri dengan kegiatan basketnya, melupakan Yura sejenak. Tidak menjawab pesan singkatnya ataupun sapaannya, Toh gadis itu akan bosan dan akhirnya memutuskan Sehun, begitu batinnya berkata.

Dilain sisi, Yura menganggap perlakuan Sehun yang seperti itu sudah biasa ia dapatkan. Bahkan gadis itu tak mau ambil pusing, “Mungkin saja Sehun sibuk latihan basket”

Atau “Mungkin saja ia lupa membawa ponsel atau baterainya lowbat”

]]]

Malam itu hujan kembali turun deras mengguyur kota Seoul, kilat petir bertalu-talu seakan saling berlomba menciptakan suara gemuruh paling keras. Yura duduk di meja belajarnya yang menghadap jendela, wajahnya di topang oleh tangan kirinya sedangkan tangan kanannya menulis suatu rangkaian tulisan.

Sejenak kemudian Yura menghentikan aktifitas menulisnya, mengecek ponsel dengan semangat siapa tahu Sehun mengirim sesuatu. Namun Perlahan tapi pasti senyum Yura luntur. Tak ada notifikasi apapun, tak ada pesan apapun apalagi panggilan dari Sehun yang dirindukannya.

Yura merindukan suara Sehun sejak terakhir kali mereka bertemu, di Megaplex. Tapi itu sudah terlalu lama dan kadar rindu Yura semakin besar kepada Sehun. Kapan Sehun akan peduli kepada Yura, walau hanya mengucapkan ‘Selamat Malam’?

Beberapa menit berlalu, Ponsel Yura berdering nyaring, sebuah panggilan masuk membuyarkan lamunannya. Gadis itu segera mengangkatnya ketika mendapati nama Sehun “Yoboseyo…”

]]]

Yura memandangi jalanan kota Seoul yang lengang sehabis diguyur hujan lebat dari balik taxi, kini tinggal gerimis yang masih membasahi kota,  Yura tahu pukul sepuluh malam  sudah cukup larut malam terutama bagi gadis sekolahan  sepertinya. Namun hatinya berkecamuk hebat, gelisah dan sekaligus sedih.

Mengingat telepon tadi membuatnya sakit. Ia tahu itu nomer Sehun, yang berbicara bukan kekasihnya namun wanita lain yang tak Yura kenal “Apa kau Kim Yura? Kim Yura gadis kesepian yang begitu naif menginginkan Oh Sehun. Ya! Sehun tak pernah mencintaimu!  sekarang ia telah bahagia  bersamaku. Menghabiskan malam berdua-“ yura tak sanggup melanjutkannya lagi, ia tak sanggup lagi menampung segala pemikiran buruknya yang berdifusi dipikirannya menciptakan suasana buruk.

Yura tiba ditempat nyentrik bertuliskan “Paradise Club”, diskotik yang JongIn  bilang tempat berkumpul mereka termasuk Sehun. JongIn  awalnya tak ingin memberitahukan Yura jika saja gadis ini tak menelponnya, merengek dan menangis tentunya.

Kaki Yura bergetar hebat begitu memasuki tempat itu, perempuan-perempuan berpakaian serba minim, sexi dan memperlihatkan lekukan tubuh mereka lebih mendominasi tempat ini bahkan beberapa dari mereka melihat Yura aneh. Yura takut, ia menundukkan kepalanya sambil terus memasuki lorong  tempat itu, meremas ujung jaketnya kuat-kuat.

Beberapa kali Yura mendengar suara lelaki-lelaki yang menggodanya, menawarkan uang kepadanya bila memenuhi nafsu  pria-pria itu. Sungguh Yura sangat muak, apa sebegitu rendahnya harga diri seseorang? jika saja ini tidak menyangkut Sehun, Yura tak akan sudi menginjakkan kakinya disini.

Tempat ini begitu Remang-remang dengan pencahayaan super minim, mengandalkan sebuah lampu berbentu bola di atasnya, selebihnya hanya lampu berwatt kecil disudut ruang, tak lupa suara musik disco  berdentum-dentum keras hingga Yura tak kuasa menutup telinga, melindungi gendang telinganya, masih dengan pandangan mencari-cari hingga seseorang menepuk pundaknya, ia sudah menyiapkan sneakersnya  kalau-kalau lelaki hidung belang lagi yang menggodanya. Ternyata itu JongIn  yang menepuknya, ia bernafas lega

Yura  menanyakan “Sehun dimana?”

JongIn menunjuk ke arah kirinya . Yura mengangguk dan berjalan  kesana.

namun Tak lama, lutut Yura terasa lemas dan ia hampir roboh kalau saja tak berpegangan pada kursi disampingnya, mata almond  Yura memanas dan perih seakan ada yang menjejalinya cabai, merica dan air cuka sekaligus. Oh Sehun, orang yang begitu ia cintai dan rindukan setengah mati tengah berciuman dengan seorang yeoja yang tak dikenalnya

“S..Se..sehun-ah” ia tak kuasa mengucapkan nama Sehun, sakit melihat pemandangan seperti itu hingga Tanpa disadari ekor mata Sehun melirik ke arah Yura yang tengah menangis, menatapnya dengan parau dan terluka. Sehun tahu, mungkin dengan cara seperti ini Yura bisa membenci bahkan jijik padanya jadi Sehun semakin menunjukkan kemesraannya pada Gyuri hingga Yura tak sanggup lagi dan pergi meninggalkannya tanpa sepatah katapun

]]]

Yura terus berlari, ia muak. Benar-benar muak jika terus  menyaksikan Sehun, pemandangan itu masih saja berputar di pikirannya, bagaimana Sehun mencium bibir gadis itu mesra ,menautkan tangan mereka layaknya sepasang kekasih. Lalu bagaimana Yura? Bagaimana posisi Yura di hati Sehun? Adakah Yura di hati Sehun?

‘Mencintai seseorang melebihi dirinya sendiri”

Mencintai tanpa perlu merasa dicintai’ dan ‘Mencintai lebih dari apapun’

‘Sesuatu yang berlebihan bukanlah hal yang baik, termasuk mencintai seseorang’

Kata-kata itu terus terngiang di pikiran Yura, membuatnya pening dan kini Yura sadar jika ia tak ada sama sekali di hati Sehun. Yura hanya memaksakan Sehun agar singgah di hatinya.

JongIn memanggil  Yura sesampainya ia berada di pintu keluar diskotik “Sudah ku duga kau akan begini” sambil memandang iba Yura

“Gomawo..s..setidaknya a..aku sudah sadar. Gomawo JongIn-ah” lalu Yura tak tahan lagi menatap JongIn, ia berlari tak tentu arah di bawah rintik hujan, hingga kakinya terasa membeku, sebuah lampu berpuluh-puluh watt neon memburamkan penglihatannya, membuatnya seakan melayang dan dihempaskannya begitu saja seperti debu. Samar-samar ia mendengar suara orang yang begitu dicintainya, orang yang juga membuatnya seperti ini “Yura…” nafas Yura memburu tak teratur hingga ia menutup mata

]]]

Iklan

9 pemikiran pada “Time and Love

  1. Kok endingnya gantung thor, lanjut dong… Ini tbc atau end thor? Please lanjut y ceritanya udh menarik tapi endingnya gantung thor
    hwaiting ^^

  2. Alu baru nemu ff ini krn ada lanjutannya hehe jd baca yg ini duli buar afdol-_- jahat bgt sih sehun padahal yura udah cinta sama sehun melebihi dirinya sendiri semoga aja chapter selanjutnya sehun dapet hidayah(?) Hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s