I Like You (Chapter 2)

i-like-u

I LIKE YOU

Part: 2 “unlucky time”

Author: lilimissro

Cast     :

Kai (EXO)

Sehun (EXO)

Do kyung soo (D.O EXO)

Byun baekhyun (EXO)

OC (original caracter)

Sub cast :

Chanyeol (EXO)

Luhan (EXO)

Genre  : romance, friendship, school life.

Length : chapter.

Recommended song : Taylor swift – 22

‘its not about you, it’s not about love, but it’s about we’

Author POV

Yun yoo terdiam dengan pandangan kosong. Lensa kameranya masih bertengger di tangan kirinya dan layar itupun masih menunjukkan gambar yang sama dengan gambar terakhir ia ambil. Punggung namja itu. Yun yoo meluruskan pandangannya dan tanpa sengaja ia melihat Seol hwa sedang berbicara dengan seseorang yang berada di ruang seni. Jendela ruangan itu memang langsung menghadap ke halaman belakang sekolah dan berada di lantai satu.

‘baru kali ini aku melihat Seol hwa berbicara dengan namja.’ Gumam Yun yoo. Tapi Yun yoo sedang malas mencari tahu siapa namja itu dan kenapa dia bisa berbicara pada tiang listrik tukang makan bernama Seol hwa itu. Ia langsung beranjak pergi kembali kekelasnya.

Sesampainya di kelas Yun yoo mendapati Min seo dan Yun hee yang sedang serius memandangi katalog item fashion terbaru. Yun yoo penasaran dan menaruh lensanya di mejanya.

“Kenapa kalian terlihat begitu serius?” Tanya Yun yoo sambil berjalan kearah mereka.

“Woah, kau lihat, koleksi musim ini benar-benar daebak! Jika kau mau kau bisa ikut kami. Kami akan shoping hari ini.” jawab Yun hee spontan.

“Anio, tidak usah.” Yun yoo langsung menggeleng cepat. “Kau tahu hanya aku yang paling tidak menyukai hal-hal seperti itu. Lebih baik ajak yang lainnya saja.”

“Aigoo.. kau ini yeoja. Dan kau ini memangnya hidup di jaman apa? Hal-hal seperti ini wajar untuk yeoja seperti kita. Lebih baik kau ikut kami dari pada terus-terusan bergelut dengan lensamu.” Kesal Min seo yang selalu tak tahan dengan kebiasaaan Yun yoo yang selalu malas pergi ke mal atau shoping, atau melakukan hal apapun yang berkaitan dengan penampilan. Tapi hal itu sama sekali tidak mempengaruhi kepopulerannya, karna sekusut apapun dandanannya dia akan selalu terlihat cantik.

Yun yoo hanya mengangkat bahunya. “Aku benar-benar tak menyukai hal seperti itu. Lebih baik kau suruh aku berkeliling kebun binatang dan menciumi semua binatang yang ada disana dari pada melihat rok mini atau baju ketat itu.”

“Sangat sulit memberitahumu Yun yoo-ah. Jika seperti ini terus kapan kau bisa punya namchin?” ujar Yun hee disambut anggukan Min seo.

“Gwaenchana. Aku juga tak menginginkannya. Eh, tidak biasanya hanya kalian berdua disini. Mana Yang da dan Seol hwa? Tidak mungkin mereka pulang duluan. Kau kan selalu bersama Yang da.” Yun yoo memandang Yun hee bingung. “Aku menyuruh Seol hwa mencarimu dan Yang da. Hari ini dia berhasil membolos, tapi aku tak tahu dia ada dimana.” Jawab Yun hee seadanya.

“Amatiran itu pasti diatas pohon. Kalian ini, kenapa bisa lupa dengan kebiasaan Yang da saat bersembunyi?” tukas Yun yoo setengah mengejek. “Kalau begitu aku pulang dulu. Keluargaku sudah kembali ke California kemarin.”

“Kau ditinggal sendiri lagi?” Tanya Min seo saat Yun yoo tengah mengambil tasnya.

“yeah, I got my freedom. Finally~” ujar Yun yoo sambil bersenandung dan berlalu dari kelas itu.

Setelah beberapa saat setelah Yun yoo pergi, Seol hwa kembali dengan Yang da disampingnya. “Gadis ini ternyata berada diatas pohon.”

“waah.. Yun yoo tahu segalanya.” Ujar Min seo dengan kagum. Tebakan Yun yoo benar. Yun hee tanpa sadar bertepuk tangan melihat Yang da yang sedang mengemasi barangnya. Tapi, kini wajah Yang da berubah menjadi khawatir. “Apa jika aku membolos hari ini apa besok aku dihukum?”

“Molla. Aku tidak pernah melihat Yun yoo dihukum.” Jawab Yun hee spontan sambil mengangkat bahu.

“oh, syukurlah.” Yang da mengelus dadanya. “tapi, asal kalian tahu, Yun yoo tidak hanya tahu tentangku saja, sekalipun kita sangat sulit membuatnya diam, sebenarnya dia tahu seluk beluk tentang kalian juga. Segalanya.” Ujar Yang da sambil melebarkan matanya.

“jinjja? Yeoja itu ternyata menakutkan.” Min seo bergidik ngeri.

**

 

flashback

“Tunggu dulu. Shin seol hwa!”

Seol hwa berbalik dan menatap namja dihadapannya bingung. “Darimana kau tahu namaku?”

Namja itu bernametag Byun Baekhyun. Dia tersenyum kuda dan menunjuk blazer yang di kenakan Seol hwa. Beberapa saat Seol hwa sempat menatap garang Baekhyun karna yang namja itu tunjuk adalah dadanya, tapi beberapa saat kemudian ia sadar jika yang Baekhyun maksudkan bukanlah itu.

“Nametagmu. Aku punya kebiasaan membaca nametag murid yang tidak kukenal sebelum berbicara dengannya.”

“oh, aku pikir kau punya urusan denganku.”Seol hwa berdecak lalu berbalik sambil menggigit bibirnya dan menutup kedua matanya rapat. malu dengan pemikirannya barusan.

“Memang.” Baekhyun mencopy ucapan Seol hwa sambil mengangkat alis. Seol hwa berbalik dan memandang namja itu lagi dan merubah ekspresinya.

“Apa maumu?”

Baekhyun membongkar tasnya dan mengeluarkan benda kotak berwarna biru dan menyerahkannya pada Seolhwa.   Sebuah case handphone biru polos. Benda itu memang milik Seol hwa. Case phone yang di berikan Oppanya dua bulan yang lalu. Benda itu sudah hilang seminggu karna ulah Yun yoo yang menyuruh Seol hwa melepasnya karna kalah taruhan. Seol hwa memang selalu kalah berdebat dan bertaruh dengan Yun yoo maupun Min seo.

“Kau membutuhkannya kan?” Tanya Baekhyun sedikit ragu karna raut Seol hwa yang sama sekali tak ada ekspresinya. Namja berwajah imut itu lalu tersenyum geli melihat wajah cengo Seol hwa. “Kau lucu sekali..”

“Apanya?” tiba-tiba Seolhwa memandang Baekhyun tajam. Baekhyun memang tak tahu dengan tingkat kesensitifan Seolhwa yang sangat tinggi. Dalam artian, hal kecil saja bisa membuatnya tersinggung. Seol hwa menatap Baekhyun kesal selama sepersekian detik dan langsung pergi begitu saja.

“Tidak ada ucapan terimakasih? Baiklah. Aku akan menagihnya nanti.” Gumam Baekhyun.

**

Tap.. tap.. tap..

Yang da berjalan pelan sambil sesekali bersenandung di jalan menuju rumahnya. Kali ini ia pulang sendirian karna Yun hee ingin shoping bersama Min seo. Biasanya Yang da ikut mereka, tapi hari ini tubuhnya sedikit pegal. Bukan hanya karna berdiam diri diatas pohon untuk waktu yang lama, tapi karna ia bertubrukan dengan namja tidak sopan tadi. Rasanya pinggangnya sudah tak dapat digunakan lagi.

Drrtt..drrtt..

Ponsel Yang da tiba-tiba bergetar. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku almameter dan melihat sang penelfon. Rupannya Yun yoo menelponnya.

“yeoboseyo Yun yoo-ah.”

“Yang da-ah. Kau sudah pulang??”

“Ini dalam perjalanan.”

“kau baik-baik saja kan? Kau pasti pulang sendiri. Yun hee tadi sempat mengajakku untuk shoping. Dia tidak tahu ya jika berdiam diri di pohon itu membuat pinggang dan lutut sakit? Aigoo.. teman macam apa dia?”

“Sudahlah. Jangan terlalu cerewet. Aku baik-baik saja, sangat.”

“Jinjja? Geureom, aku tutup dulu ya,”

“eoh.” Yang da mengangguk dan memasukkan ponselnya kembali. Ia berjalan lagi sambil bersiul tak jelas untuk menghilangkan rasa bosannya. Saat tak sengaja melewati sebuah kedai kopi, tubuhnya tertarik oleh suara sesorang yang menurutnya sangat indah. Tanpa ia sadari ia masuk kedalam café itu dan mendengarkan senandung yang orang itu nyanyikan.

I can’t believe, yes it’s true
Nega gyeote eobseoseo modeun ge neoro kkeutnabeoryeo
Beoseonaryeo halsurok neoege jibaedoen haru..

 

Yang da menutup matanya mendengar suara merdu ditambah petikan gitar yang membuatnya seolah bisa lupa dengan segalanya. Lupa dengan punggungnya yang sakit, lupa dengan kekesalannya terhadap namja kurang ajar tadi, dan lupa jika dia ingin pergi kerumah Yun yoo siang ini. tapi apa boleh buat, ia sudah terlanjur nyaman. Lagipula ia bisa pergi kerumah Yun yoo sewaktu-waktu bukan?

Tiba-tiba lagu itu berhenti. Yang da membuka matanya dan mengerucutkan bibirnya. namja yang bermain gitar itu sudah tidak ada, penyanyinya juga. Ah, padahal mereka belum sempat berkenalan. Yang da menyesal menutup matanya dan tidak sempat melihat wajah kedua namja itu. Ia berjalan keluar dengan kesal dan melanjutkan perjalanannya kerumah.

Eh, tapi kenapa ia ingin kerumah Yun yoo sementara punggungnya sakit? Ada-ada saja kau ini Yang da, pikirnya. Lebih baik siang ini dia tidur sepuasnya atau menyuruh eonninya, Soon kyu untuk memijitnya. Tapi itu tak mungkin, yang mungkin malah dia di lempar sepatu oleh yeoja itu.

**

Keesokan paginya Yang da tidak masuk sekolah. Satu-satunya orang yang tidak heran dengan itu hanyalah Yun yoo, teman sebangku yeoja itu. Semua orang bingung kemana perginya murid teladan itu hingga tak masuk sekolah. Tapi, hanya Yun yoo dan Yang da sendiri yang tahu jika yeoja itu punggungnya sakit.

“Ya~ kemana Yang da?” bisik Yun hee yang duduk di belakang Yun yoo saat pelajaran berlangsung. Sedangkan Seol hwa disampingnya hanya diam. Yun yoo mengendikkan bahunya tanpa menjawab pertanyaan Yun hee yang menurutnya tak penting itu dan berusaha focus dengan apa yang seonsaengnimnya katakan.

Bel istirahat berbunyi setelah beberapa jam mereka berkutat dengan beberapa macam pelajaran. Yun hee yang sangat benci dengan teori-teori yang membuatnya mengantuk sedari tadi sudah menggerutu tak jelas. Min seo disampingnya sibuk dengan handphonenya, Seol hwa dan Yun yoo yang berjalan berdampingan di depan mereka berdua hanya diam sambil berjalan.*gaje banget.

Yun yoo yang melihat meja kosong di kantin langsung memasang mata elangnya. Ia melirik kesana-kemari dan langsung menempati tempat duduk itu dan mengutak atik lensanya. Min seo dan Yun hee mengikuti sementara Seol hwa bertugas memesan makanan. Semua orang menyuruh Seol hwa memesan makanan karna jika yeoja itu berada diantrian makanan, semua orang akan menyingkir karna takut dengan tatapan maupun ucapan tajamnya. Dan itu sangat memudahkan mereka mendapatkan makanan dengan cepat.

“Aku tak habis pikir, kenapa lee seonsaengnim itu tidak bisa berhenti mengoceh? Kau lihat, bibirnya itu sudah terlalu tebal.. apa dia tidak takut bibirnya malah bengkak?” gerutu Yun hee tak ada habisnya sekalipun sudah berada di kantin dan malah menjadi-jadi.

“Aissh.. diamlah..” ujar Min seo frustasi sambil memegangi sebelah kepalanya. “Kau tahu, gara-gara kau aku bertengkar dengan namchinku..”

“Mwo? Kenapa aku?” Tanya Yun hee tak terima.

“Suaramu itu bisa lebih kecil tidak? aish benar-benar kau ini.” sekarang giliran Yun yoo yang memarahi Yun hee. yeoja itu diam sambil memanyunkan bibirnya lalu mencibir tanpa suara. Tiba-tiba meja mereka bergetar. Seseorang duduk ditempat mereka. Dan itu bukan Seol hwa karna yeoja itu sedang memesan makanan. Tepatnya seorang namja tengah duduk sambil tersenyum bodoh.

“Siapa ini?!” Tanya Yun hee yang masih kesal dengan ketus.

“Perkenalkan.” Namja itu berdiri dan membungkuk seperti seseorang yang memperkenalkan dirinya secara resmi. Min seo dan Yun hee memerhatikannya dengan seksama sementara Yun yoo sama sekali tak terlihat peduli. “Aku Byun baek hyun. Aku tahu kalian tak mungkin mengenalku karna kelasku berada paling ujung sementara kelas kalian ada di ujung satunya. Tapi, aku harap kita bisa lebih akrab setelah ini.”

“Memangnya kau taruhan berapa huh?” Tanya Yun yoo dari balik lensanya. Ucapan yeoja itu seolah menyudutkan Baekhyun yang sedang tersenyum ceria. Senyum namja itu memudar tapi tetap memancarkan sinar keramahan. Ia lalu beranjak duduk.

“Aku tidak taruhan kok. Apa kalian sering didekati namja karna taruhan?”

“iya. Sampai bosan.” Tiba-tiba Seol hwa berada di belakang Baekhyun. Ia menaruh makanan yang ia pesan hingga memenuhi meja itu. Raut Baekhyun terlihat kagum dengan keahlian Seol hwa yang bisa membawa makanan banyak sekali bawa.

“Biasa saja, jangan berlebihan. Selain cantik kami memang punya kelebihan yang tak dimiliki orang lain.” Ujar Yun hee mulai ramah. Yeoja itu memang cukup sulit untuk menjadi penggerutu ataupun manusia dingin karna pada dasarnya sifatnya itu ramah.

Seol hwa duduk dan mulai makan begitupun yang lainnya. Baekhyun yang merasa canggung berada di situasi tersebut hanya bisa menggaruk tengkuk. Para yeoja itu benar-benar dingin. Lebih dari yang ia bayangkan. Lalu muncullah inisiatif untuk memanggil kawannya yang lain agar ia tak merasa canggung. Ia mengambil handphonenya dan menelfon Luhan.

“Luhan-ah. Kesinilah. Aku di kantin. Carilah namja yang duduk di tengah-tengah yeoja. Arraseo..” bisiknya di telfon. Ia hanya bisa mengajak Luhan. Jika dia mengajak Kyung soo tidak mungkin karna namja itu tak akan mau. Kai, dia sedang sakit cacar hari ini. Sehun dan Chanyeol pasti sibuk mengumbar ketampanannya. Biasanya dia sibuk membuat keributan, tapi hari ini dia malas.

Beberapa saat kemudian Luhan datang. Luhan tiba-tiba saja terlihat begitu memukau di mata Baekhyun hari ini. apa yang namja itu makan hingga bisa terlihat begitu bersinar? Ia melihat dirinya sendiri dan menelan ludah. Satu kata untuk mendeskripsikan dirinya. Kumal.

“Annyeong. Luhan imnida.” Luhan tersenyum sekenanya dan duduk di samping Seol hwa. Urutan mereka sekarang Min seo, Yun hee, dan Yun yoo duduk berhadapan dengan Seol hwa yang diapit Luhan dan Baekhyun.

“cih.” Baekhyun mendengus tanpa sadar.

“ada apa?” Tanya Luhan bingung. Baekhyun malah mengerucutkan bibirnya. ia sangat menyesal menyuruh Luhan kesana karna pada akhirnya ia hanya terlihat seperti namja yang tidak menarik. Berbanding terbalik dengan Luhan yang tampak bersinar. Lihat saja, Min seo si playgirl bahkan tidak berkedip menatap namja itu.

Seol hwa.. dia sangat tenang dan memakan makanannya seolah tak terganggu dengan ulahnya. Baekhyunpun semakin kesal. Ia berdiri dan menarik tangan Seol hwa. “Ikut aku.”

“Menyusahkan saja.” ujar Seol hwa sedikit kesal dan langsung menuruti saja kemana Baekhyun akan membawanya. Bagaimanapun ia masih merasa berterimakasih karena namja itu.

**

Yang da POV

Aku menggeliat diatas kasurku. Pagi ini benar-benar pagi yang buruk, pinggangku ternyata semakin pegal pada pagi harinya. Eonniku pergi bekerja bersama appa sementara eomma sedang sibuk memasak didapur. Aku hanya bisa berkutat di kamar ini sambil sesekali melihat keluar jendela. Ada pemandangan asing diluar. Aku baru menyadari jika rumah kosong di depan rumahku sudah ada yang menghuni. Aku terhenyak dan turun kebawah sambil memegangi pinggangku.

“Eomma. Apa kita punya tetangga baru?” tanyaku begitu melihat siluetnya didapur.

“hm. Hari ini rencananya eomma dan istri tuan Kim, tetangga baru kita itu akan memasak bersama disini. Aku dengar anak laki-lakinya juga sakit hari ini dan tidak masuk. Katanya dari pada tak punya pekerjaan lebih baik mengajak anak itu kesini sekaligus sosialisasi. jadi dia mungkin akan mengajak anaknya juga kesini.”

“Mana ada eomma yang mengajak anaknya keluar saat sakit?” gumam Yang da sambil menggeleng-geleng.

“Ada. eomma juga akan mengajakmu. Tenang saja. kita berempat akan memasak bersama hari ini dengan bahagia.” Ujarnya sambil memeluk spatula kesayangannya itu. Aku bergidik ngeri melihat ulah ajumma itu dan langsung beranjak kembali kekamarku.

Kira-kira apa yang sedang teman-temanku lakukan ya? aku jadi penasaran. Sekalipun mereka tak melakukan apa-apa dan sibuk dengan urusan masing-masing. Aku jadi penasaran, mungkin ada sesuatu yang tak kutahu. Satu-satunya jalan aku bisa menghubungi mereka adalah Min seo, yeoja itu selalu membawa ponselnya dalam keadaan apapun dan akan selalu menjawab pesan dalam keadaan apapun juga.

<Min seo-ya. sedang apa kau?>

Beberapa detik kemudian dia membalas pesanku. Benar apa kubilang.

<tidak ada. kenapa kau tidak masuk?>

<pinggangku sakit. Appaku bilang akan membawaku kedokter jika aku belum sembuh. Eh, ada hal terbaru tidak?>

<aku tidak tahu. Hanya saja seorang namja gila bernama byun Baekhyun menggeret Seol hwa entah kemana dan sekarang belum kembali.>

<kenapa Seol hwa bisa bersama namja?>

<molla. Tanya saja sendiri.> aissh aku mengacak rambutku sendiri saking kesalnya dengan jawaban Min seo.

Tiba-tiba bel rumah berbunyi. Aku meninggalkan ponselku di kasur dan melihat siapa yang datang. Oh, ternyata ajummeoni tetangga baruku. Dia datang bersama anak laki-lakinya, yang menurut eomma tampan itu. Aku duduk di depan TV dan sesekali melirik namja itu. Sepertinya aku ingat pernah bertemu dengan namja itu. Tapi dimana ya?

Aku mendekat pada namja itu. Ternyata dia sakit cacar. Tapi, bukankah itu menular? Aku menjaga jarak dari namja itu sambil berusaha meneliti wajahnya. “Chogiyo.. apa kita pernah bertemu sebelumnya?”

Namja itu memandangku bingung lalu mengerutkan alisnya. “Sepertinya pernah.”

“Tapi dimana ya?” aku ikut mengerutkan alisku bingung.

“Eh, bukannya kau itu yang menabrakku kemarin??” tiba-tiba namja itu menunjukku dengan kesal. Oh, ya namja ini yang menabrakku kemarin saat aku berusaha kabur saat pelajaran kimia. Benar namja ini. namja tak tahu sopan itu!!

**

To be continue

 

Iklan

2 pemikiran pada “I Like You (Chapter 2)

  1. Hihi… saya ketawa mulu bacanya….
    Lucuuu…. tingkah si cewek-cewek pada gaje tapi lucu. Kok bisa sih ada gerombolan begitu? saya yang baca ngebayanginnya si cewek-cewek kayak versi ceweknya (?) Baek hyun cs. Nogomong-ngomong masalah Baek Hyun yang kalah pamor sama Lu Han, salah sendiri dia ngajak Lu Han, ngajak tuh Jong In, pasti deh Baek Hyun… kalah juga lol.

    FFnya lucuuuu.. hihi.. Keep writing ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s