Seonsaengnim (Chapter 8)

Title: Seonsaengnim

 

Author: @diantrf

 

Main Cast:

Xiao Luhan, Park Chanyeol (Exo) | Park Cheonsa (OC)

Other Cast:

Kim Junmyeon/Suho, Oh Sehun, Kim Jongdae/Chen, Kim Minseok/Xiumin, Zhang Yixing/Lay, Wu Yifan/Kris (Exo) | Kim Myungsoo/L (Infinite) | Jung Jinyoung (B1A4) | Lee Gikwang (Beast)

 

Genre: Fantasy, Romance, Mystery, School-life | Rating: PG-17 | Length: Chaptered

 

Prev:

Part-1 | Part-2 | Part-3 | Part-4 | Part-5 | Part-6 | Part-7

0o0

 

Taman yang luas dan asri membentang tepat di hadapanku. Anggaplah aku gila, namun rasanya ini seperti berada di taman istana zaman dahulu, layaknya film lama yang pernah aku tonton. Di hadapanku pula berdiri tegak pagar besi tinggi yang menjulang dengan angkuh. Latar langit yang berwarna biru cerah pun semakin menambah rasa penasaranku. Aku di mana?

 

Hm, yang terakhir kali aku ingat adalah bahwa aku melihat Sehun yang menjerit kesakitan, Chanyeol yang menyuruh Luhan membawaku pergi dengan mobilnya, dan aku tertidur karena mantra yang Luhan ucapkan padaku. Namun mengapa sekarang aku malah berada di tempat kuno seperti ini?

 

Tapi, tunggu. Entah mengapa rasanya aku tak asing dengan suasana ini. Maksudku, demi Tuhan aku tak asing dengan semua ini. Taman yang indah ini, bunga-bunga mawar itu, kursi itu…

 

Oh, Tuhan….

 

Tak jauh di depanku, aku melihat seorang gadis muda yang memakai gaun panjang yang mengembung di bagian bawah, dengan leher tinggi serta bagian tangan yang mengkerut di bagian pergelangannya. Mungkin gadis itu mengenakan sejenis korset tulang yang sangat ketat sehingga membuat pinggangnya nampak kecil dan dadanya yang naik.

 

God, bukan pakaian kuno itu yang membuatku kaget, namun gadis yang memakai pakaian itu. Gadis itu adalah…

 

“înger, mengapa sendirian? Ke mana Păzitor?”

 

Oh Tuhan, terjunkan saja Cheonsa ke muara sungai. Gadis itu… Pria yang memanggilnya itu…

 

“Diavol? Bagaimana bisa kau kemari?” gadis yang dipanggil înger menunjukkan wajah khawatirnya, lain hal dengan Diavol yang tersenyum manis lalu segera mengambil tempat di samping gadis itu.

 

Oke, gadis itu adalah aku, dan sang pria… oh, Diavol adalah nama asli Junmyeon Seonsaeng. Namun, Tuhan, aku benar-benar tak mengerti. Junmyeon Seonsaeng di masa kini mengejarku seakan mau memakanku hidup-hidup, dan apa yang aku lihat sekarang? Uh, baru saja bertatap muka dan kini aku melihat mereka tengah… berciuman?

 

Apa hubunganku dengan Junmyeon Seonsaeng di masa lalu? Mengapa kalimat-kalimat dalam tulisan Junmyeon Seonsaeng masih terasa abu-abu bagiku? Apakah masih ada rahasia lain yang belum aku ketahui? Ya ampun segala hal ini membuat kepalaku sakit.

 

“Bagaimana katamu? Tentu saja aku mengkhawatirkanmu. Perang masih berlanjut, belum lagi perebutan takhta Strămoș yang sedang memanas. Kenapa nekat keluar istana sendirian?” Diavol menjabarkan semuanya sembari memainkan rambut panjang înger. Ini seperti adegan-adegan romantis film zaman hitam-putih, namun versi mencengangkan—untukku pribadi, mengingat pemerannya ialah diriku sendiri.

 

înger menunduk, air mukanya berubah dalam sekejap mata. “Aku hanya… Apakah kita benar-benar harus berpisah? Aku… Diavol, kumohon…”

 

Deg! A-apa katanya?!

 

“Sayang, tentu kamu masih ingat ketika aku hampir membunuhmu. Mengingat aku yang sering hilang kendali terhadapmu membuat hatiku sakit, kautahu? Aku tak sanggup melihatmu menderita—“

 

“Kau pengecut.”

 

Belum hilang rasa syok Diavol karena înger berani memotong ucapannya, dan ia harus dihadapi dengan perkataan menusuk gadis di hadapannya itu yang menurut feeling-ku sedang menahan tangis. Mata hijaunya—ternyata mataku berwarna hijau sejak dulu—berkaca-kaca, yang anehnya justru terlihat sangat menawan. Bangsawan berkelas memang beda.

 

Diavol mendengus pelan dan tersenyum miris. “Biarkanlah aku menjadi sang pengecut yang mencoba melindungi gadis yang kucintai dengan caraku sendiri.” Sekali lagi tersenyum, lalu dengan tiba-tiba Diavol memeluk înger, namun bukan sebuah pelukan biasa.

 

Aku merasa sangat mual ketika Diavol menancapkan taringnya di leher putih înger, membuat gadis itu menahan sakit dengan mencengkram ujung gaunnya dan tangan kanan Diavol. Uh, apakah ada kisah cinta segitiga yang tak kuketahui di sini?

 

“Cheonsa? Berhentilah melamun, kau terlihat seperti Barbie hidup yang mengerikan.”

 

Apa? Apa yang terjadi? Siapa yang melamun? Kurasakan sebuah sentakan aneh di dadaku saat menyadari keberadaanku sekarang. Tidak ada lagi taman luas yang asri dan penuh dengan bunga. Tak ada lagi pagar besi yang menjulang. Yang ada hanya sebuah ruangan mewah bergaya klasik dengan dominasi putih di segala sudutnya. Luhan berjalan ke arahku dengan membawa dua cangkir teh yang asapnya masih mengepul.

 

Ini gila. Maksudku, hello…. Apakah ini seperti melihat masa lalu dengan kekuatan ajaib layaknya fairytale? Tentu tidak, bukan? Lalu yang tadi itu apa? Aku yakin hal itu bukan semata hanya lamunan yang kubuat-buat dalam khayalanku. Atau mungkin itu adalah penggalan memoriku di masa lalu? Jika benar, mengapa memori itu hilang? Mengapa tiba-tiba ingatan itu kembali lagi? Dan yang terpenting, MENGAPA kenangan itu harus muncul sekarang di saat keadaan sedang kacau?

 

“Huh, apa? Melamun? Tidak—hei, kapan aku sadar dari tidurku?”

 

Melamun bukan berarti membuatku seketika amnesia. Aku mengingat jelas Luhan yang dengan kurang ajarnya merebut kesadaranku dengan mengucapkan salah satu mantranya. Tadi aku tertidur, kapan aku sadar dan mengapa aku bisa ada di sini?

 

Oh God, di mana aku sekarang?

 

“Ini tempat persembunyian Junmyeon—hey, Cheonsa tenanglah!”

 

Ini bukan waktu yang tepat untuk bersantai atau sekadar duduk manis sambil meminum teh. Pertama, anakku meronta tak karuan. Kedua, suamiku—entah mengapa—seperti menyembunyikan rahasia dariku. Ketiga, aku sangat penasaran dengan sejarah hidupku yang bisa-bisanya memiliki kenangan nostalgia bersama Junmyeon Seonsaeng. Tuhan, duniaku sudah jungkir balik tak jelas seperti ini. Baru saja aku bangkit dari duduk dan ingin kembali ke mansion untuk melihat keadaan Sehun, aku kembali dikagetkan dengan cengkraman cukup kuat di kedua bahuku.

 

Keadaan keempat, aku lupa jika Luhan adalah Vampire dan kami pernah bersama. Ya, setidaknya seperti itulah.

 

“Bisa hormati aku sebentar saja, Park Cheonsa? Atau perlu kupanggil, Putri înger?

 

Sial, dadaku rasanya nyeri mendengar panggilan itu. Panggilan yang seperti sangat familiar di telingaku namun sangat buram dalam pilinan ingatanku. Sontak aku terdiam dan entah mengapa kembali duduk. Andai saja aku sedang tidak berada dalam kondisi aneh yang membingungkan ini, mungkin aku dengan senang hati akan kembali merebahkan diri di ranjang empuk yang tengah kududuki ini.

 

Luhan tersenyum kecil karena aku menuruti keinginannya. Lantas aku menerima cangkir teh yang ia berikan padaku, meminumnya sedikit dan kembali terdiam. Ini sangat membingungkan dan sulit menurutku, aku seperti kehilangan arah. Buntu.

 

“Luhan, aku ingin tahu sejelas-sejelasnya apa yang terjadi—“ ucapanku tertahan karena menyadari sesuatu yang aneh. Wajahku dan wajah Luhan yang berada dalam jarak sedekat ini. Kapan terakhir kali kami berada dalam momen seperti ini? Secara tak langsung mungkin pernikahan kami itu telah batal dengan sendirinya. Namun tetap saja, kami pernah memiliki memori itu. Sebuah kebersamaan.

 

“Kapan terakhir kali kita sedekat ini?” ucap Luhan sambil memandang mataku intens. Tepat, itulah yang sedang aku pikirkan.

 

Membuang muka, aku lebih memilih menatap lantai marmer yang mengkilat di samping ranjang ini. “Eum, entahlah, aku lupa,” bodoh, hanya itu yang bisa kukatakan sebagai jawaban. Cheonsa, kau sangatlah konyol.

 

Aku merutuki posisiku yang terduduk menyandar kepala ranjang saat ini, karena Luhan dengan seenaknya duduk di sampingku dan memerangkap tubuhku denga kedua lengannya. “Bodoh, seharusnya aku sadar diri. Seharusnya aku tahu bahwa ini salah. Kautahu, Putri? Aku sungguh tak bisa.” Luhan ini kenapa? Berbicara sendiri sambil menatapku dengan pandangan sayu.

 

Hey, aku dibawa ke sini untuk dilindungi dan diberi penjelasan, bukannya—

 

“Maaf,”

 

Aku membulatkan mata saat monologku yang sangat keren ini terputus akibat pergerakan Luhan yang tiba-tiba menciumku, membungkam bibirku yang entah mengapa ikut menikmati tiap pagutannya dengan milik Luhan. Ini gila, aku tengah gundah memikirkan anak dan suamiku namun malah memadu kasih dengan orang lain—yang adalah mantan calon suamiku sendiri. Sekali lagi kutegaskan, duniaku memang sudah gila.

 

Kini tangan Luhan mulai bergerak dari posisi semulanya yang memegangi bahuku. Tangan kirinya mengusap rambutku yang terurai dan yang satunya lagi memegangi tengkukku, menekannya hingga ciuman kami semakin dalam dan… penuh nafsu?

 

Atau lebih tepatnya ciuman ‘Luhan’ bukan ‘kami’, karena aku kewalahan mengimbangi pergerakan Luhan. Luhan itu Vampire, dan Vampire tidak bernapas pun tak masalah. Aku manusia, dan sedari tadi menahan napas layaknya sedang bermusuhan dengan oksigen.

 

Eh, eh?! Tangan Luhan bergerak turun dari rambutku, menarik tubuhku agar berbaring dengan Luhan yang menindihku di sisi kiri. A-apa yang akan ia lakukan padaku?!

 

Aku mencoba mendorong Luhan saat tangannya mulai bergerak liar membuka kancing kemeja sekolahku dengan perlahan. Ini gila! Aku tak bisa! Dengan sekuat tenaga aku mendorong tubuh Luhan. Namun di luar dugaanku…

 

Bruk!

 

“Ah! Luhan, maaf—“

 

“Maaf, Tuan.”

 

Tidak mungkin tenagaku yang kecil ini mampu membuat Luhan terpental sampai membentur dinding seperti itu. Tapi, eh? Sejak kapan Luhan memanggilku ‘Tuan’? Ah, matanya tak melihat padaku. Pandangan Luhan menerawang pada dinding di belakangku.

 

“Demi Tuhan, setan!—Eh?” Aku mengikuti arah pandang Luhan dan mendapati bayangan hitam yang menyerupai tubuh pria. Um, mungkinkah itu Sehun?

 

Tunggu!

 

Itu… Sehun?

 

“Sehun?!” teriakku bersamaan dengan hilangnya bayangan hitam itu. Kini Luhan memandangku dengan sayu. Aku sungguh tak terima dengan semua ini. Apa yang terjadi sebenarnya?!

 

“Jelaskan padaku semuanya atau aku akan kabur sekarang juga!”

 

Tak sadar, aku menangis setelah meneriakkan kegundahanku pada Luhan. Kurasa Luhan semakin iba melihatku yang bagaikan anak kecil. Ia mendekatiku lagi. Awalnya aku menolak, takut Luhan akan melakukan tindakan yang aneh lagi. Namun aku salah.

 

Luhan mengusap kepalaku, mengaitkan kembali kancing kemejaku yang sudah terbuka tiga buah. Ia menatapku dengan pandangan yang lebih lembut, namun ada kesan ragu. Mungkin sebenarnya ia tak ingin menceritakan semuanya padaku?

 

“Perebutan takhta Strămoș, pembunuhan keji, pembangkitan înger, penggantian Strămoș besar-besaran, pengungkapan jati diri,” ucap Luhan dengan suara lemah.

 

Hell sekali karena aku tak menangkap sama sekali apa maksud Luhan. Aku menatapnya bingung dengan wajah polosku. Hey, aku masih anak-anak jika mereka mengingat hal itu. Aku masih enam belas tahun di kehidupanku yang sekarang. Apa yang para Vampire tua itu harapkan dari bocah ingusan semacamku?

 

Eum, apa tadi? Perebutan takhta Strămoș… pembunuhan keji… pembangkitan înger… penggantian Strămoș besar-besaran… pengungkapan jati diri… Apakah itu adalah berbagai kejadian yang akan terjadi nanti?

 

Kejadian…

 

Yang akan terjadi…

 

Nanti…

 

NANTI?!

 

“Tolong jelaskan padaku!” teriakku tak sabar. Kurasa ini merupakan sebuah ketidakadilan mengingat aku adalah tokoh wanita berwujud anak kecil polos yang sangat tertekan dengan peran hidupku yang menyebalkan ini. Perlu diingat juga, bahwa pembangkitan înger menjadi salah satu agenda yang—

 

Tunggu, apa yang aku katakan barusan? Apa yang Luhan KATAKAN barusan? Pembangkitan înger? Aku, dibangkitkan? Apa maksudnya?

 

Luhan menghela napas dalam. Sebenarnya itu tidak perlu karena Vampire bisa hidup tanpa bernapas ataupun dengan bernapas. Ia menatapku, kali ini dengan wajah serius yang terlihat lelah. Faktor umur kah?

 

“Baiklah, aku akan menceritakan padamu semuanya. Tapi kumohon, jangan kaget, jangan menangis, dan yang terpenting, jangan memandang sebuah peristiwa hanya dari satu sudut pandang. Ingat pesanku ini baik-baik.” Oke, jika Luhan telah bicara serius seperti itu berarti masalah yang akan aku hadapi sangatlah riskan.

 

Aku mengangguk sebelum Luhan memulai penjelasanya. “Perang keenam perebutan takhta Strămoș telah dimulai sejak dibangkitkannya lagi Anhel, atau Chanyeol. Ini baru permulaan mengingat Chanyeol memberikan darahmu pada Sehun yang mengakibatkan ia—“

 

“Maaf menyela, tapi mengingat hal itu membuatku ingin bertanya,” potongku karena aku benar-benar kaget. Ini dia pertanyaanku. Pertama, siapa yang membangkitkan Chanyeol? Kedua, memangnya darahku mengandung apa sehingga membuat Sehun seperti orang kehilangan kontrol? Ketiga, memangnya apa hubungan semua ini dengan Sehun?

 

Mungkin wajahku terlampau polos sehingga Luhan mencubit pelan pipiku sebelum melanjutkan, “Strămoș yang membangkitkan Chanyeol adalah orang yang sama dengan Vampire yang telah melenyapkannya dahulu. Kau ingin tahu siapa orangnya?” tanya Luhan dengan suara pelan, membuatku tak menjawab dan lebih memilih untuk mengangguk kecil.

 

“Diavol. Junmyeon.”

 

Deg! Junmyeon Seonsaeng? Tapi, kenapa?

 

“Untuk masalah darahmu. Jika diibaratkan manusia, darahmu adalah heroin bagi kami. Zat adiktif yang pekat, sangat menggoda dan tak akan pernah dapat kami tolak—“

 

“Tapi waktu itu kau menolak meminum darahku bahkan saat aku telah melukai tanganku sendiri,” sanggahku cepat mengingat penggalan memori itu. Saat aku menawarkan darahku pada Luhan namun malah Vampire lain yang terpancing.

 

Namun anehnya, di saat aku keheranan, Luhan justru terkikik kecil, “Dan untuk masalah Sehun,” aku terlalu serius mendengarkan Luhan sampai tak menggubris lagi alasan mengapa Luhan tidak menjawab sanggahanku barusan, “ini memang ramalannya. Percaya atau tidak, Sehun akan menjadi kunci dari pembunuhan keji yang nantinya akan terjadi. Eits, sebelum Cheonsa memotong ucapanku, aku tak tahu apa maksudnya, jadi jangan bertanya.”

 

Sial, memangnya wajahku saat ingin bertanya kentara sekali dilihatnya, ya? Buktinya baru saja aku hendak memotong lagi ucapan Luhan, ia langsung dengan sigap mencegahku.

 

Luhan kembali bercerita panjang lebar. Yang intinya adalah, dalam perang kali ini, akan terjadi beberapa peristiwa seperti yang telah disebutkan oleh Luhan. Saat aku dibangkitkan nanti—mungkin lebih tepatnya naluri Vampire-ku yang dibangkitkan—setelahnya akan ada pertumpahan darah. Dari kedelapan Strămoș yang ada sekarang, mungkin setengahnya akan digantikan oleh sang perebut takhta yang baru. Juga, yang lebih mencengangkan lagi, akan terjadi juga pengungkapan jati diri yang sebenarnya.

 

Oke, jangan tanya aku karena aku juga tak mengerti arti dari pengungkapan jati diri ini.

 

“Oh ya, apa Cheonsa tahu tentang status darah dari Strămoș yang sekarang?” Setelah hening cukup lama, Luhan kembali membuka pembicaraan. Sebenarnya bukan apa-apa, aku hanya sedang mencerna segalanya dan mengingatnya baik-baik agar kejadian yang nantinya akan terjadi dapat terkait jelas dalam benakku.

 

Aku hanya menggeleng, karena memang aku tak tahu. “Status darah adalah keadaan garis keturunan Vampire, apakah ia darah murni—hasil pernikahan sesama Vampire—atau merupakan Karya seorang Master,” jelas Luhan dengan tenang.

 

Mari kita luruskan. Dari delapan Strămoș yang aku tahu saat ini, tiga di antaranya merupakan Karya sang Master. Pertama adalah Minseok Seonsaeng, Kris Seonsaeng adalah Master­-nya dan berkat pemberian dari Kris Seonsaeng, maka Minseok Seonsaeng kini dapat berdiri sendiri sebagai seorang Vampire bangsawan. Dengan kata lain, Minseok Seonsaeng dulunya adalah manusia biasa yang diubah menjadi Vampire dan pada akhirnya memiliki kekuatan layaknya Vampire darah murni.

 

Kedua, ada Gikwang Oppa. Ia juga dahulunya adalah manusia biasa. Ia merupakan putra angkat Raja Romawi yang waktu itu mengadakan penyerangan besar-besaran ke Vatikan. Sang Raja yang merupakan Vampire-lah Master dari Gikwang Oppa. Sampai akhirnya Tentara Romawi menyerah dan Gikwang Oppa—atau yang dikenal sebagai Vladimir—menyerah di hadapan Myungsoo yang menyamar sebagai panglima tinggi pasukan Vatikan. Peristiwa itu terjadi sebelum Gikwang Oppa merebut takhta Strămoș sebelumnya—yang merupakan ayah dari Myungsoo. Rumit sekali, bukan?

 

Terakhir adalah Dokter Zhang. Ia adalah Karya dari Junmyeon Seonsaeng. Sama seperti Minseok Seonsaeng, Dokter Zhang diberi kekuatan oleh Sang Master sehingga kini memiliki kekuatan hebat layaknya Vampire darah murni.

 

“Jadi, itulah sebabnya mengapa Minseok lebih berpihak pada bagian Kris dan Yixing lebih berpihak di bagian Junmyeon, karena bagaimanapun juga mereka adalah Karya yang akan selalu mengikuti Master-nya, walaupun mereka kini bisa berdiri sendiri bahkan tidak sependapat dengan Sang Master. Ya, kurang lebih sama seperti Jinyoung dan Jongdae, itulah alasan mengapa Jongdae yang bukan Strămoș diperbolehkan tinggal di mansion mereka,” tambah Luhan untuk mengakhiri ceritanya. Wah, aku benar-benar tak habis pikir bahwa fakta yang terbentang di hadapanku seakan tak memiliki ujung.

 

Hm, aku mulai mengerti mengapa sewaktu pertama datang ke mansion hanya ada lima Strămoș yang kutemui. Di bagian Kris Seonsaeng, terdapan Myungsoo yang mungkin dendam dengan Gikwang Oppa atas kematian ayahnya, lalu di bagian Junmyeon Seonsaeng terdapat Gikwang Oppa. Masuk akal memang. Namun, apa yang membuat Junmyeon Seonsaeng dan Kris Seonsaeng berbeda pendapat?

 

Suasana di sekeliling kami menjadi hening. Hanya beberapa fakta itulah yang dapat Luhan jelaskan. Yang jelas, urutan peristiwa yang Luhan katakan itu tak dapat dihindari lagi, cepat atau lambat segalanya akan terjadi.

 

Uh, aku ingin tahu bagaimana rasanya dibangkitkan dan menjadi Vampire. Di satu sisi, aku penasaran. Namun di sisi lainnya, aku ketakutan setengah mati.

 

0o0

 

Setelah perbincangan seru dengan Luhan beberapa jam lalu, aku memang memutuskan untuk tidur dan Luhan meninggalkanku dalam kamar sendirian. Aku bangun sekitar dua menit yang lalu dan mata ini rasanya ingin kembali terpejam. Sial, sepertinya Luhan menaruh obat tidur dalam tehku.

 

Bayangan tentang masa lalu yang kulihat tadi juga masih terngiang, membuatku bergidik namun penasaran. Apa hubunganku dengan Junmyeon Seonsaeng di masa lalu? Mengapa kami terlihat lebih dari akrab sampai ada adegan berciuman seperti itu, dan juga adegan mengigit… Iyuh, aku tak ingin mengingat hal itu lagi.

 

“Kenapa kau mengkhianatiku seperti itu?!”

 

“Tuan, ini tidak seperti yang kau kira!”

 

BRUK!

 

Ah, suara apa itu? Teriakan itu seperti suara Luhan. Oh Tuhan, apa yang terjadi di luar sana? Apa yang terjadi dengan Luhan?! Aku sebisa mungkin memaksakan tubuh ini untuk bangkit dan berjalan keluar kamar walau dengan langkah gontai. Melihat ke arah sumber suara di ruang tengah, aku tercengang bukan main.

 

Luhan, bersimbah darah di dinding dan terlihat sangat tak berdaya. Sementara Sehun…

 

Iya, Sehun anakku, siapa lagi?! Sehun masih terus memainkan jemarinya—menyihir Luhan agar terpental beberapa kali di dinding. Tak jarang Luhan berteriak kesakitan dan keadaannya sungguh mengenaskan. Sehun, kenapa dia seperti itu.

 

“Sehun, hentikan!”

 

Pilihan yang salah untuk berteriak, karena saat Sehun menoleh ke arahku, aku melihat kilat merah dalam mata rubinya. Itu bukan Sehun, itu iblis! Sehun menyeringai dan berjalan pelan ke arahku. Walaupun pelan, kakiku rasanya mati rasa dan tak bisa berbuat apa-apa selain diam dan balas menatap matanya. Aku terkunci dalam ruang waktuku sendiri.

 

“Sehun, jangan dekati Cheonsa—akh!” Uh, bahkan walaupun sedang menatapku, Sehun masih bisa menyiksa Luhan seperti itu.

 

Ia semakin dekat, hingga akhirnya aku bisa menggerakkan kedua kakiku untuk berputar arah—sebelum aku menabrak seonggok daging yang membuatku tak kalah terkejut.

 

Junmyeon Seonsaeng.

 

Tubuhku kembali kaku merasakan hawa kehadiran Junmyeon Seonsaeng yang lebih dingin dari biasanya. Ini membuatku semakin tak bisa berkutik saat Junmyeon Seonsaeng mendekapku dengan lmbut dan berucap pada Sehun, “Belum waktunya, Sehun. Lebih baik kau urusi dulu Luhan.”

 

Oke, aku terlalu kalut sampai melewatkan beberapa bagian penting. Pertama, Junmyeon Seonsaeng mendekapku dengan LEMBUT. Kedua, mengapa Sehun dengan mudahnya menurut padanya? Dan apa yang membuat Luhan diperlakukan seperti itu? Yang ketiga adalah, kepalaku pusing dan pandanganku buyar. Yang dapat kutangkap oleh mataku untuk tiga detik setelahnya adalah aku yang sedang berdiri diam di dalam kamar dengan lukisan keluarga—aku-Chanyeol-Sehun. Bulan menelusup masuk ke dalam kamar melalui celah jendela. Oh, sekarang sudah malam.

 

Sebenarnya aku masih bingung dengan semua ini. Apakah ini mimpi? Aku dibawa ke sini oleh Junmyeon Seonsaeng dan sekarang justru ia tidak ada di hadapanku. Aku sangat penasaran dengan bagaimana keadaan Luhan dan apa yang membuat Sehun seperti orang kerasukan.

 

Baiklah, aku tidak pura-pura bodoh mengatakan bahwa tak tahu penyebab Sehun seperti itu. Aku hanya bingung, bagaimana bisa darahku mengubah Sehun seperti itu? Aku mulai penasaran dengan tubuhku sendiri. Seperti yang telah kubilang sebelumnya, aku tak sabar ingin tahu bagaimana nanti keadaanku sebagai Vampire, tapi aku juga takut menghadapi fakta bahwa aku sebenarnya adalah Vampire.

 

Maksudku, hey, hello! Aku telah hidup sebagai manusia selama enam belas tahun dengan kasih sayang dari kedua orangtua dan seorang kakek tua yang sangat perhatian, juga seorang kembaran konyol yang menyebalkan namun sangat aku sayangi. Hanya saja, aku sulit mendapati fakta bahwa hidupku enam belas tahun ini ternyata hanya sebuah hal semu belaka, bahwa aku ini sebenarnya adalah Vampire. Oh Tuhan, bunuh Cheonsa di muara sungai sekarang juga.

 

Di luar konteks pikiranku yang kacau, aku mendengar suara pintu dibuka. Dalam keadaanku yang kini sedang menatap jendela yang diterangi rembulan, aku malas menoleh ke belakang. Entah apa atau siapa yang masuk itu, rasanya aku tak peduli lagi. Aku ingin mati saja dan tenang di surga.

 

Sampai aku merasakan sebuah lengan dingin melingkari pinggangku, barulah aku sadar siapa yang datang. Orang yang tak bisa aku abaikan kehadirannya. Seseorang yang entah sejak kapan aku selalu berlutut di hadapannya dengan segala rasa hormatku.

 

Dia adalah Chanyeol, yang kini tengah menciumi leherku lembut dengan bibirnya yang kelewat dingin itu.

 

 

 

TBC

 

 

Next chapter will be protected! Next chapter dijamin bakalan seru unyu tegang semua jadi satu, wkwk. Happy reading^^

Iklan

273 pemikiran pada “Seonsaengnim (Chapter 8)

  1. Hello kak.. Ceritanya makin seru aja😂 vampir sehun oke juga. New readers :3 minta password chap9 boleh kan? Kirim email aja ne: keziaputri73@gmail.com kalau nggak libe id aja gimana? Invite id ku ya kak. Sekali kali nambah kpopers. @keziakpb . gomawo keep writing kak😊

Tinggalkan Balasan ke ichaaa Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s