RAVENS THE CHINESE DANGER (Chapter 4)

Ravens-New-Poster

RAVENS THE CHINESE DANGER
Chapter 4

Author
@galaxysyf

Genre
Action, Crime, Multicultural, OOC

Cast
Kris Wu / Wu Yi Fan  吴亦凡 || Xi Lu Han 西鹿晗 || Huang Zi Tao 黄子韬 || Lay / Zhang Yi Xing 张艺兴 || Xia Zi Liu 侠字刘 (OC)

Disclaimer:
It’s all not mine but storyline and OC.

 

****

Kris kembali ke rumah megahnya secepat yang dia bisa. Setelah apa yang dilihatnya siang ini, dia merasa kalau ini adalah saat yang tepat untuk mewujudkan tujuannya selama 3 tahun ini. Tapi dia masih harus mencari lokasi pasti Yongguk dan The Hurricanes. Karena tidak mungkin untuknya tadi mengikuti Yongguk sampai ke markasnya.

Dia memarkirkan mobilnya sembarang di halaman rumahnya yang luas. Tak perduli kalau Liu nanti akan memarahinya karena parkir mobil sembarangan. Kakinya cepat melangkah mencapai pintu coklat besar. Setiap langkahnya yang terdengar tergesa-gesa membuat semua member—yang sedang bekumpul di ruang makan—dapat mendengar kalau ketua mereka sudah datang.

Kris melempar jaketnya ke kursi yang sudah disediakan untuknya. Dia membanting tubuhnya ke kursi dan duduk dengan perasaan yang campur aduk. Sebenarnya dia berniat untuk mendiskusikan apa yang dilihatnya tadi, namun perutnya yang terus berbunyi medorongnya untuk mengambil piring dan meletakkan berberapa potong daging diatasnya.

Baik Luhan, Liu, Tao ataupun Lay masih tidak mengerti dengan ketua mereka itu. Datang-datang dengan wajah tidak karuan dan langsung makan seperti orang yang tidak pernah makan selama bertahun-tahun. Tak ada yang bergerak, kecuali Kris yang sedang sibuk makan sekarang.

“Kris?” panggil Liu yang kegiatan makannya terhenti saat pria jangkung itu datang tadi.

“Hm,” sahut Kris dengan mulut yang masih sibuk mengunyah daging.

Kris mengambil segelas air dan menegguk air itu setelah seluruh daging yang dikunyahnya berhasil dia lumatkan. Dia memastikan kembali kalau di dalam mulutnya sudah tak ada makanan yang tersisa sebelum dia mulai bicara.

“Akhirnya..” gumam Kris setelah perutnya sudah cukup terisi.

“Kau bisa bicara sekarang,” kata Liu menunggu.

“Ah, iya,” kata Kris.

Dia menarik nafas panjang sebelum dia memulai. Dia mengambil posisi untuk serius karena pembicaraan ini memang akan serius dan member yang lain sudah menunggu.

“Aku melihat Yongguk hari ini.”

“WHAT?” teriak para member serentak. Bahkan Tao menyemburkan air yang ada di mulutnya. Luhan sampai tersedak daging yang seharusnya sudah ia telan hingga terbatuk-batuk. Mereka terkejut—tentu saja—setelah sekian lama memburu Yongguk lalu Kris melihatya begitu saja di tempat pelarian Ravens.

“I should know. Negara ini adalah negara asal The Hurricanes. Mereka pasti disini,” kata Kris menyesali kenapa Korea tidak pernah terpikirkan olehnya untuk mencari The Hurricanes.

Para member mencoba untuk tenang apalagi untuk Luhan yang baru saja tersedak daging. Dia harus minum segelas penuh air untuk membuatnya lebih baik. Tao juga harus mengelap bagian dari meja yang menjadi korban semburannya.

Tak pernah terbayangkan oleh mereka kalau Yongguk bisa terlihat muncul di Seoul. Meskipun The Hurricanes adalah kelompok yang berasal dari Korea, tapi mereka tidak pernah beraksi di Korea sekalipun. Incaran kelompok itu biasanya adalah negara di Asia Tenggara, berberapa negara di Eropa dan benua Amerika.

“Lalu, kau tahu dimana lokasi mereka?” tanya Lay cepat.

“Untuk saat ini belum. Karena tadi aku tidak sengaja melihatnya di jalan,” ujar Kris sedikit frustasi. “Lagi pula aku tidak bisa begitu saja mengikutinya. Aku tidak akan sebodoh itu.”

“Kalau begitu, kita harus mulai mencari sebelum mereka pindah tempat lagi,” kata Tao begitu berambisi.

Namun Kris diam sejenak. Otaknya harus kembali bekerja keras untuk memikirkan langkah tepat yang harus dia ambil untuk saat ini. Saat seperti ini yang selalu Kris benci. Saat dia sedang lengah, musuh malah muncul tanpa terduga dan pada saat itu Kris tidak punya rencana sama sekali.

“Kita butuh informan yang tepat kali ini. Jangan sampai seperti biasanya,” usul Luhan, yang keadaanya sudah jauh membaik.

“Tapi masih ada polisi-polisi Korea itu. Kita harus hati-hati kalau tidak mau sampai ketahuan lagi,” tambahnya.

“Itulah yang sedang coba kupikirkan. Gerak kita jadi lebih terbatas gara-gara polisi itu,” kata Kris.

Selama tiga tahun, baru kali ini Kris merasa dibuat pusing. Pertama oleh polisi dan yang kedua oleh The Hurricanes. Untuk masalah Hurricanes mungkin bukan yang pertama kali. Tapi jika ditambah dengan masalah polisi, yang baru pertama kali dia hadapi, perkara terasa semakin rumin dan butuh penyelesaian yang tepat.

“Apa ini saatnya kita minta bantuan dia?” tanya Lay tentang seseorang.

“Ini bukan waktu yang bagus kurasa. Kita tidak bisa minta bantuannya kalau bukan dalam keadaan terdesak,” tolak Kris.

Orang yang dibicarakan oleh Kris bukan solusi yang tepat bagi Kris. Entah apa alasannya, tapi menurut Kris saat ini bukan keadaan yang mendesar. Orang itu hanya dibutuhkan pada saat-saat genting dan saat yang sangat terdesak. Jika sudah begitu, Kris harus berpikir lebih keras untuk mencari cara untuk menemukan The Hurricanes.

“Aku kenal seseorang,” ucap Tao spontan. “Kurasa orang ini akan berguna untuk kita.”

“Siapa? Apa kau yakin?” tanya Kris seperti meragukan.

“Shindong,” kata Tao menyeringai. “And I’m absolutely sure.”

****
Night Club, Myeongdong

Musik keras memenuhi setiap sudut bar yang penuh maksiat. Aroma alkohol dan asap rokok menusuk indera penciuman. Semakin malam, tempat ini akan semakin ramai oleh orang-orang yang datang untuk bersenang-senang dengan cara mereka.

Wanita-wanita berpakaian minim menari di atas panggung menghibur para lelaki hidung belang yang selalu menganggap mereka butuh hiburan. Dengan tarian mereka yang terus memamerkan lekuk tubuh mereka, otak para lelaki bejat semakin berpikiran melayang.

Di sudut lain, tidak sedikit orang yang sedang mabuk-mabukan dengan berberapa botol alkohol yang sudah kosong di atas meja. Seakan tak puas minum satu atau dua botol sampai mereka sendiri tidak sadar dan menjadi tidak waras. Berberapa lelaki yang mabuk bahkan dilayani oleh wanita murahan yang rela dibayar untuk menjadi teman minum.

.

.

.

BRAKK…

Pintu barterbuka keras. Meski suaranya tak bisa mengalahkan musik yang meramaikan seisi bar, namun semua pengunjung bisa menyadari kalau ada yang datang. Lima orang berdiri di ambang pintu, berpakaian serba hitam sebagai ciri khas mereka. Empat orang pria—berpakaian nyaris sama dengan kemeja hitam, jas hitam dan celana hitam yang terlihat sedikit formal dan hanya sepatu mereka saja yang berbeda—dan seorang wanita yang pakaiannya lebih santai dengan kaos oblong hitam, jaket kulit dan jeans hitam, ditambah dengan kacamata hitam yang menutupi sebagian wajahnya.

Orang pertama yang merasa terganggu dengan keadaan di bar itu adalah Lay yang selalu membenci hal yang berkaitan dengan alkohol dan rokok. Aroma menyengat alkohol langsung menusuk alat penciumannya yang akan sangat peka.

Kris melihat salah satu anggota sudah merasa tidak nyaman dengan tempat seperti ini. Kalau begitu dia tidak bisa membuang waktu lebih banyak lagi. Semakin cepat akan semakin bagus.

“Tahan sebentar, Lay,” kata Kris. “Alright, Tao. Show me that man.”

Tao berjalan lebih dulu karena dialah yang kenal dengan calon informan The Ravens kali ini. Sebagian besar pengunjung bar terdiam dan memperhatikan saat The Ravens berjalan seperti sekelompok pembunuh berdarah dingin. Mungkin berberapa dari mereka tahu siapa The Ravens sampai tidak berani untuk bergerak sedikitpun.

Langsung saja dua orang pria bertubuh besar mencegat jalan The Ravens, terlebih saat Tao sudah sampai di ujung tangga menuju lantai dua.

“Mau apa kalian?” tanya salah satu pria besar dengan suara beratnya.

“Katakan pada bos kalian, ada tamu yang ingin bertemu,” ucap Tao sinis.

“Shindong tidak bisa diganggu saat ini. Kalian pergilah!” sekarang penjaga itu mulai berniat mengusir The Ravens.

Tak ada yang bisa mengusir The Ravens kecuali itu adalah keinginan The Ravens sendiri. Dan tak ada orang yang bisa menolak kedatangan The Ravens. Itulah prinsip yang dibuat oleh Kris.

“Begini,” kata Tao. “Bilang pada bosmu, jika dia menolak kedatangan para gagak maka dia akan kehabisan semua jagungnya.”

Pria-pria besar itu mulai berpikir dan berdiskusi kecil satu sama lain. Sampai seorang dari mereka pergi menaiki tangga dan meninggalkan The Ravens bersama dengan penjaga yang lainnya.

“Tunggu disini!” kata penjaga yang lain.

Mereka menunggu. Namun insting wanita bisa lebih kuat dari pria. Liu seperti tahu kalau kali ini tidak akan berjalan mulus. Perasaan wanita lebih peka dan itu membuatnya yakin kalau cara tenang tidak akan berguna.

“Aku tidak akan yakin kita bisa bertemu informan ini begitu saja,” ujar Liu dengan nada berbisik.

“I know. That’s why..” kata Kris. “Meminta bukalah gayaku.”

Penjaga tadi pada akhirya turun. Dari tampangnya, mungkin dugaan Liu benar. Badannya yang besar sekarang justru menutupi jalan menuju tangga.

“Shindong tidak ingin diganggu, termasuk oleh kalian. Sebaiknya kalian pergi karena kami tidak akan segan-segan menggunakan cara kekerasan untuk membuat kalian pergi.”

Benar, kan?

“You are in trouble, Giant!” hujat Tao.

Dia melayangkan tendangannya tepat di wajah pria besar itu. Berkat kemampuan bela diri yang dimilikinya, pria itu seketika jatuh dengan hidung yang patah dan bersimbah darah di wajahnya. Satu penjaga berhasil dilumpuhkan namun ada penjaga yang lain mencoba untuk menyerang Tao. Melihat hal itu, Liu menangkis gerakan tangan penjaga itu dan berhasil mengunci gerakkannya. Lengan pria itu kini sudah dalam kendali Liu yang dengan sekali gerakkan mampu mematahkan lengan itu.

Tak cukup hanya dua penjaga, penjaga-penjaga lain mulai berdatangan menyerang lima orang yang datang membuat kerusuhan. Kris melirik ke arah kirinya, dimana ada berberapa botol minuman di atas meja. Dia menyambar botol minuman di dekatnya. Dalam sekali ayunan dia memukul kepala salah satu penjaga yang berlari ke arahnya. Sisa pecahan kaca yang masih ada ditangannya ia tusukan ke penjaga lain yang juga berusaha menyerangnya. Seorang lainnya mencoba menyerang Kris. Kris berhasil mehindar dan ini saatnya untuk membalas serangan. Kaki Kris melayang tepat ke wajah lawannya dengan kekuatan yang besar. Pria itu kesakitan dan hal itu dimanfaatkan Kris lagi untuk menyerang. Kris mengayunkan kakinya lebih tinggi dan menjatuhkannya di tengkuk pria tubuh besar. Seketika pria itu jatuh tak sadarkan diri oleh tendangan maut Kris.

Luhan mengambil kursi kayu dan memukul seorang penjaga sampai kursi itu hancur. Merasa sisa kursi yang ada masih bisa digunakan, dia memukul pria lain berkali-kali. Pria besar itu mencoba melawan, tapi pukulan Luhan terlalu membabi-buta sampai akhirnya pria itu pingsan.

Seorang penjaga datang denga sebuah shotgun di tangannya. Dia mencoba membidik Liu yang menurutnya paling lemah karena dia wanita. Namun jika penjaga itu berpikir demikian, artinya dia salah.

DOR…

Penjaga itu melepas tembakan. Dengan dramatis, Liu mengelak peluru yang datang padanya bersamaan dengan kibasan rambutnya yang panjang. Peluru itu meluncur tepat di depan wajah Liu, melewati ribuan rambutnya. Butuh ketepatan waktu untuk menghindar dari peluru yang meluncur cepat jika ingin lolos dari peluru itu. Jika waktu bisa dilambatkan, adegan seperti ini akan menjadi adegan keren yang biasa dilihat di film action Hollywood.

Amarah Liu memuncak. Tak ada yang boleh mengarahkan senjata padanya, bahkan sampai menekan pelatuk untuk menembaknya.

Liu menarik sebuah pisau yang teersembunyi di balik jaketnya. Dia melempar pisau itu lurus selayaknya seorang profesional. Lemparannya tidak meleset. Tepat pada jantung penjaga yang menurutnya sudah kurangajar itu.

“Lemparan bagus,” puji Lay. “Kau bisa a—“

Belum selesai bicara, seseorang melingkarkan lengannya di leher Lay. Hal itu membuat Lay sulit bernafas. Tangan itu cukup besar hingga mampu mencekik leher Lay. Lay berusaha berontak namun usahanya gagal. Dia hampir tidak bisa berafas. Dia harus melakukan sesuatu.

Lay mengulurkan tangannya, mencoba meraih botol minuman yang letaknya detak. Lay hampir tidak dapat meraihnya. Jangkauannya terlalu jauh. Dengan sisa kekuatannya, Lay menarik tubuhnya berasama orang yang mencoba membunuhnya itu supaya dia bisa mengabil botol incarannya.

Dapat!

Langsung saja Lay memukulkan botol itu ke kepala orang yang dari tadi terus mencekiknya. Pecahan kaca berhasil menumpuhkan orang itu sampai dia melepaskan Lay begitu saja. Memanfaatkan keadaan, Lay menendang keras dada orang itu sebagai penutup.

All clear now. Semua halangan sudah bisa dihadapi. Bukan hal yang sulit untuk masalah begini. Bahkan penjaga-penjaga itu tidak mampu membuat luka kecil sekalipun pada The Ravens.

“Let’s go!” seru Tao.

Masing-masing dari mereka mulai meninggalkan musuh mereka yang sudah terkapar. Liu dengan santainya mencabut pisau miliknya yang menancap di tubuh penjaga yang berniat menembaknya tadi.

“Euwh..” ucapnya jijik melihat pisau miliknya penuh dengan darah.

Dia mengambil sebuah jaket yang tergeletak di atas lantai. Menggunakan jaket itu, dia membersihkan pisaunya yang kotor karena darah. Memastikan kalau pisaunya sudah bersih, dia memasukan kembali pisau itu ke tempatnya yang tersembunyi di balik jaket kulit hitam yang dikenakannya.

Tao memimpin para member dan ketuanya menaiki tangga kayu. Tak perlu buru-buru untuk Ravens kali ini. Karena—seperti biasa—mereka akan mendapatkan apa yang mereka mau. Tepat di ujung tangga, mereka langsung berhadapan dengan sebuah pintu. Pintu merah bertuliskan Manager.

“Apa aku perlu mengetuk dulu?” tanya Tao dengan seringai tanda tidak serius.

“Jika kau ingin menjadi anak yang baik, kau harus mengetuk dulu,” ledek Liu meladeni diiringin dengan tawa kecil manisnya.

“Come on, guys! I want make it quick,” ucap Kris mengeluh.

Tao tidak bisa berbuat banyak jika Kris sudah berbicara. Dia menurut untuk melakukan semuanya cepat. Tangannya sudah siap di kenop pintu.

“Kupikir kita bisa lebih santai kali ini,” gumam Tao sangat pelan supaya tidak ada siapapun yang bisa mendengarnya, termasuk Kris.

Pintu itu akhirnya terbuka oleh Tao yang membukannya. Pandangan mereka langsung berarah pada seorang laki-laki berbtubuh sedikit gemuk yang kelihatan panik dan ketakutan saat melihat siapa yang datang ke kantornya. Bisa dilihat dari wajah pria itu yang berkeringat dingin.

“Ta—Tao,” ucapnya gugup melihat salah satu dari orang yang datang padanya adalah Tao. Orang yang pernah bermasalah padanya. “La—lama tak jumpa, ya?”

Luhan manarik sebuah kursi ke tengah-tengah ruangan dengan kasar. Ini sebuah prosedur interograsi yang selalu digunakan oleh The Ravens. Kini giliran pria itu yang ditarik untuk duduk di kursi oleh Tao dan Lay. Tubuh pria itu terhempas di atas kursi sampai pria itu tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah akan nasibnya.

“Kau tahu, kan kenapa kami kesini?” kata Tao dingin.

Pria—yang namanya Shindong—hanya terdiam. Dia seperti tahu harus menjawab apa, tapi dia tidak yakin. Jangan sampai dia salah ucap jika tidak ingin sesuatu terjadi pada dirinya.

“A—aku tidak punya apa-apa sekarang ini. Percayalah!” Shindong terdengar memohon dengan alibinya yang tidak punya apa-apa. Dia mungkin mengira kalau Ravens datang untuk meminta sesuatu padanya.

“Apa kau tahu The Hurricanes?” tanya Kris yang langsung pada pointnya.

Shindong terdiam daat mendengar nama The Hurricanes. Nama itu seperti tidak pernah boleh disebut.

“Hu—Hurricanes?” ulang Shindong.

“Kau tahu?” tanya Kris.

“Kau tidak akan ingin berurusan dengan mereka. Mereka menguasai seluruh distrik ini,” ujar Shindong mengingatkan tentang kekuatan The Hurricanes.

“Kau tahu dimana mereka?” tanya Kris lagi.

“Emm.. Tidak. Aku tidak tahu,” jawab Shindong cepat.

Kris bisa menangkap ada kebohongan disini. Dia bisa menduga kalau hal seperti ini tidak akan pernah mudah. Tidak pernah ada yang mau langsung jujur jika sudah ditanya soal The Hurricanes.

Kris melempar pandangan pada Liu. Saat itu juga, Liu tahu apa yang maksudkan Kris saat pria jangkung itu menganggukkan kepalanya. Wanita itu kembali mengeluarkan pisaunya, namun kali ini bukan hanya pisau yang akan dibutuhkannya. Dia melihat ada sebuah pematik api di atas meja Shindong.

Liu memberi isyarat pada Tao dan Luhan berupa gerakkan kepala dan langsung setelahnya, mereka berdua—Tao dan Luhan—memegangi kedua tangan Shindong ke belakang kursi supaya pria itu tidak bisa bergerak atau bahkan melawan.

Shindong semakin panik karena sekarang dia tidak bergerak dan Liu mulai menyalakan pematik api miliknya. Liu menyalakan pematik itu tepat di bawah pisau miliknya, membiarkan panasnya berkonduksi ke seluruh bagian logam tanjam itu. Dia juga membalik-balikkan pisaunya, menggeser-geser pematik supaya panasnya bisa menjalar rata.

“You better talk now,” kata Lay dengan nada yang menakut-nakuti.

Liu selesai dengan pisaunya yang menurutnya sudah cukup panas untuk prosedur ini. Dia berjalan ke arah Shindong yang sudah berkeringat dingin dan ketakutan. Pakaian rapih Shindong—kemeja dan jas mahal—membuat Liu berpikir itu akan menganggu.

“Aku tidak tahu. Tolong…” Shindong memohon namun hal itu tidak menghenti langkah Liu yang bagaikan langkah malaikat kematian baginya.

“Itu bukan jawaban yang ingin ku dengar,” ucap Kris dingin. Kris memberikan isyarat lagi pada Liu untuk melanjutkan prosedur ini.

Lay membuka kemeja Shindong hanya dengan sekali tarikan dari dua sisi. Kalau sudah begitu, akan mudah untuk Liu sekarang. Perlahan dengan gerakkan menakuti, Liu meletakkan pisaunya yang sudah panas itu ke dada Shindong.

“AAAAAAH!!! GOD!! AAAAH!!” Shindong berteriak saat logam panas itu menyentuh kulit dadanya.

“Begini saja sudah sakit, kan? Bagaimana kalau sampai pisau menembus kulit, hah?” Liu mengancam lebih keras kali ini. Amarah wanita tidak bisa dikendalikan oleh pria tangguh sekalipun.

“SEKARANG JAWAB! DIMANA THE HURRICANES??”

“AKU TIDAK TAHU!” Shindong berteriak balik ke arah Liu dan itu membuatnya marah.

Liu mengayunkan tangannya tinggi dan…

“AAAAAAAAAH!!”

Shindong menjerit lebih kencang saat pisau panas itu menusuk bahunya. Liu tidak akan segan-segan menyiksa Shindong bahkan sampai membunuh pria itu jika dia tidak buka mulut soal The Hurricanes. Cairan merah yang disebut darah mengalir deras dari luka ciptaan Liu.

“Masih mau bohong? SEKARANG, DIMANA THE HURRICANES??” bentak Liu lebih keras lagi. Tangannya masih terus memegangi pisaunya yang menancap melukai pria yang terus menjerit kesakitan. Bahkan Liu terus menekan pisaunya supaya memberikan rasa sakit yang lebih, yang akan terus dirasakan Shindong jika tidak ingin berkata jujur.

“Mungkin itu tidak akan membuatnya bicara,” ujar Kris. Dia menarik sesuatu dari balik jasnya. Sebuah pistol semi otomatis dia acungkan ke dahi Shindong. “Ku beri 5 detik untuk menjawab dengan jujur atau akan kupastikan otakmu berceceran keluar dari tenggorak kepalamu itu. Dimana aku bisa menemukan The Hurricanes?”

“Lima..”

Shindong masih saja bungkam. Dia tetap tidak ingin mengatakan apapun soal The Hurricanes. Masih berlaga tidak tahu apa-apa.

“Empat..”

“Aku.. Aku.. Aku tidak tahu,” kata Shindong mengelak. Namun bukan itu jawaban yang dicari Kris.

Posisi Kris masih tetap sama; menondongkan sebuah pistol tepat ke arah dahi Shindong sampai jawaban yang ingin didengarnya diberikan.

“Tiga..”

“Tunggu!”

Shindong kembali berontak, namun gerakkannya terkunci oleh Tao dan Luhan. Tak ada pilihan lain untuk Shindong jika ingin terus hidup.

“Kau akan kehabisan waktu, kawan,” kata Tao ikut menekan supaya Shindong mau angkat bicara.

“Dua—”

“STOP!! Oke… Aku akan memberitahu kalian,” ucap Shindong akhirnya menyerah. “Aku… akan memberitahu kalian.”

Kris menyingkirkan mulut pistolnya dari hadapan Shindong—memberi kesempatan untuk pria itu tetap hidup. Dia menunggu Shindong untuk mengatakan apa yang ingin dia dengar dari tadi.

“Kau bisa cabut ini dulu?” tanya Shindong menunjuk pisau yang masih menancap di bahunya.

“Hati-hati! Jangan sampai—AAAAAAH!”

Baru saja Shindong ingin memperingatkan Liu untuk hati-hati saat mencabut pisau itu, Liu menarik pisaunya begitu saja. Sakit yang ditimbulkan bahkan lebih sakit saat pisau itu ditanamkan.

“Sekarang kau bisa bicara,” kata Kris dingin.

Shindong berusaha keras untuk menahan sakit di bahunya yang terus menyerang seperti ribuan jarum yang menusuk setiap bagian di bahunya. Nafasnya tidak beraturan akibat dari keadaan ini.

“Ada.. sebuah klub di tengah kota. Namanya TUPE Club. Setiap ada pertemuan, The Hurricanes selalu memintaku untuk kesana. Bang Yongguk juga sering kesana bersama pria bernama Himchan. Hanya itu yang ku tahu. Aku berani sumpah dengan kalian”

Kris tersenyum sinis. Akhirnya dia mendapatkan apa yang dia mau. Dengan begitu dia tidak perlu repot-repot mengotori tangannya untuk membunuh orang yang satu ini. Dan semoga saja informasi kali ini bisa menuntun Kris lebih dekat kepada Bang Yongguk, bukan bullshit seperti yang sering ia dapat.

“Baiklah,” kata Kris. “Kita sudah dapatkan yang kita cari. Tempat itu tak jauh dari lokasi dimana aku melihat Yongguk kemarin.”

To be continue

Iklan

3 pemikiran pada “RAVENS THE CHINESE DANGER (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan ke Ravens: The Chinese Danger (Chapter 6) | EXO Fanfiction Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s