Werewolf (Chapter 10)

Title : Werewolf [Chapter 10]

Author : gabechan (@treshaaruu)

Genre : Fantasy, Tragedy, Thriller, and maybe Romance?

Length : Chapter (on going)

Rate : T

Main Cast : Park Chanyeol, Lee Hyejin, Wu Yifan (Kris), Oh Sehun

Support Cast : Ken (VIXX), Suho (Kim Junmyeon)

FF ini terinspirasi dari lagu VIXX “Hyde” dan EXO “Wolf”

HALOHAAA~~ Gabechan muncul lagi setelah hiatus berbulan-bulan hehe.. Apakah masih ada yang inget sama ff ini? Ada yang masih nungguin? Kalau masih ada aku sangat berterimakasih karena kalian nungguin kelanjutan ff ini J yaahh, hiatusku kali ini emang lama bangett. Maklumin yaa, soalnya aku sekarang udah kelas 1 SMA dan tugas-tugasnya astagaaa, banyak banget! Apalagi sekolahku udah pake kurikulum 2013 >.< Bahkan chap ini aku buat waktu libur natal, hohoho. Oya, semoga lanjutannya engga ngebosenin ya, soalnya aku sempet bingung mau masukin ide apa lagi buat jalan ceritanya L. Karena itu, bagi kalian yang mau ngasih usul ide cerita atau apa, silahkan kontak aku lewat twitter hehe.. Ohya, untuk jaga-jaga kalau kalian udah lupa sama cerita di chap sebelumnya, aku kasih link di sini supaya readers bisa langsung baca chap sebelumnya..

Silahkan berikan komen, saran, ataupun kritik setelah baca yaa. Kalau suka, silahkan berikan like! Happy reading, everyone~~

Chapters:

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 |

Chapter 8 | Chapter 9

 

NO PLAGIARISM, THIS IS PURE MINE!

 

 

 

Previous:

“Kris! Lihat itu!” seru Ken antusias, menarik perhatian Kris sepenuhnya.

Lelaki itu mengikuti arah pandang Ken. Salah satu sudut bibir Kris tertarik ke atas, membentuk senyum miring. Ternyata taktiknya berjalan dengan sangat baik.

“Mungkin kau harus belajar untuk mengontrol emosimu. Dan kusarankan kau menyimpan tenagamu karena kau akan memerlukannya sebentar lagi.” Kris mengangkat bahunya, “Tidak ada gunanya kau melampiaskan amarahmu padaku, Chanyeol. Karena kau akan selalu kalah.”

Sosok lelaki bertubuh tegap dengan pandangan dingin keluar dari persembunyiannya sesuai dengan isyarat yang ia dengar. Langkahnya perlahan, namun sukses membuat Hyejin tercekat. Api-api kecil yang muncul di dekat kaki Chanyeol seketika padam seiring dengan meningkatnya keterkejutan lelaki itu.

“Tidak mungkin….”

 

 

Sehun?

 

 

“Merindukanku, hm?

____

Semua orang menahan napas. Waktu terasa melambat bagi Hyejin. Tenggorokannya seolah tercekik, sehingga tidak ada oksigen yang masuk ke dalam tubuhnya.

Begitu pula Chanyeol.

Tidak mudah untuk menutupi rasa terkejutnya ketika lelaki pirang itu muncul begitu saja, entah darimana. Ia tahu Sehun memang mencurigakan, tetapi hampir tak terpikirkan bahwa lelaki itu akan bertindak nekat seperti ini. Walaupun Chanyeol sudah memprediksi bahwa hal seperti ini akan terjadi, kemunculannya di saat nyawa gadis itu sedang terancam membuatnya khawatir.

Chanyeol menoleh ke arah Hyejin, memastikan kalau gadis itu tidak pingsan. Kalau ya, semuanya bisa menjadi merepotkan. Bukan saat yang tepat untuk mengurusi orang pingsan ketika nyawamu dalam bahaya, benar kan?

Ketegangan menggantung di udara ketika Sehun mulai melangkah ke arah Chanyeol, lengkap dengan tatapan dingin yang selalu terpasang pada wajahnya.

“Sehun.” Kris memecah keheningan, mengucapkan nama itu dengan penuh penekanan. Sehun menoleh, menangkap aba-aba Kris untuk berhenti. Kris, lalu, mendekat pada Chanyeol, berdiri tepat di hadapannya, tersenyum, “Sangat mengejutkan, huh? Melihat seseorang yang mungkin telah kau anggap sebagai teman, mengkhianatimu?”

Seluruh pasang mata beralih pada lelaki berwajah pucat itu, menunggu respon yang kelihatannya akan membuat peristiwa ini semakin menarik. Beberapa diantaranya menyeringai, sebagian mulai bergerak-gerak gelisah.

Chanyeol menyadari ada penekanan pada kata ‘mungkin’ yang Kris ucapkan. Lelaki itu mengoreksi sendiri dalam pikirannya, bahwa ia memang sudah menganggap Sehun sebagai teman. Teman dengan makna tersendiri, yaitu fakta bahwa Sehun pernah berada di pihaknya. Sayangnya, Chanyeol lagi-lagi salah memilih orang lain untuk dipercaya. Ia lupa bahwa sebelumnya Sehun sudah mengatakan kalau ia tidak berada pada pihak manapun. Tidak mendukung siapapun. Nyatanya, ia kembali pada Kris.

Chanyeol menarik napas dengan berat. Ia terpojokkan lagi. Namun, satu sisi dirinya memintanya untuk segera pergi dari tempat ini. Ia harus meloloskan diri, lagi. Firasatnya mengatakan akan terjadi hal buruk seperti yang sudah-sudah dan Chanyeol tidak ingin hal buruk itu menimpanya dan Hyejin. Tidak, tidak sekarang. Walaupun ia yakin setelah ini mereka akan terlibat dalam hal buruk lainnya.

Setelah bergelut selama beberapa menit dengan pikirannya yang mulai kelelahan (karena ia selalu memaksakan otaknya yang kecil untuk berpikir keras tentang bagaimana caranya melarikan diri yang baik), Chanyeol tersenyum. Entah karena apa, tetapi lelaki itu yakin ia bisa membawa keluar Hyejin dari tempat ini, tanpa ada yang terluka.

Setidaknya, itu yang otaknya bisa perkirakan.

Well, aku suka kejutan kecilmu. Aku terkejut, sungguh. Aku bahkan tidak berpikir bahwa kau akan bertindak sejauh ini hanya untuk membunuhku dan gadis ini.” Chanyeol menyeringai, “Tapi, kau tahu, semua orang bisa membuat rencana. Rencana utama, rencana cadangan. Yah, aku sudah menggunakan hampir semua rencana utamaku, setelah kau gagalkan.”

Kris mengerutkan dahinya, “Apa maksudmu?”

Chanyeol tidak langsung menjawab. Ia kehabisan kata-kata. Lelaki itu harus mengalihkan perhatian semua orang padanya, sehingga ia punya banyak waktu untuk memikirkan bagaimana agar ia bisa keluar hidup-hidup dari tempat busuk ini. Ia butuh waktu lebih.

“Tidak ada maksud apapun. Kau ingin mendengar tanggapanku terhadap kejutan kecilmu? Aku sedang mengutarakannya.” Di samping Ken, Sehun mengepalkan tangannya. Chanyeol yang melihat hal itu tersenyum puas. “Bagaimana kalau aku memberimu kejutan?”

Sehun berlari ke arah Chanyeol sambil menghunus pedangnya yang entah darimana ia dapatkan. Chanyeol ingat pedang itu, pedang yang hampir melumpuhkannya saat pertemuan pertamanya dengan lelaki pirang itu. Chanyeol menahan napasnya sekuat tenaga, kemudian memejamkan mata. Beberapa detik kemudian, ia masih merasakan paru-parunya berfungsi. Tanpa Chanyeol sadari, ia menghela napas lega. Ia masih hidup.

Yang artinya, waktunya tinggal sedikit.

Chanyeol bersyukur Kris menghentikan tindakan Sehun. Ia mematahkan pedang itu hanya dengan sebuah pukulan tangan dan berteriak pada Sehun untuk kembali pada posisinya. Sebelum kembali, Sehun memberikan tatapan membunuh pada Chanyeol, yang ia abaikan sepenuhnya karena tiap orang yang berada di sana sudah memberikan tatapan itu padanya sampai membuatnya mual.

Selamat dari pedang Sehun, Chanyeol hampir tidak selamat dari makian-makian Hyejin. Suara gadis itu menggema keras sekali dalam kepalanya membuatnya tambah pusing. Chanyeol tahu, gadis itu mulai kelelahan. Kakinya sudah selunak agar-agar, sehingga hampir tak mampu lagi menopang tubuhnya. Tapi lelaki itu masih belum menemukan jalan keluar.

“Kau tidak punya kejutan dan rencana, Chanyeol. Kau hanya berusaha mengulur waktu. Aku tidak bodoh, kau tahu.” Kris merogoh saku celananya. Tangannya menggenggam sebuah kalung. Lelaki itu tersenyum seraya mengangkat tangannya di depan wajah Chanyeol. “Lihat, bagaimana dengan kejutan kedua?”

Baik Chanyeol maupun Hyejin melotot ketika kalung berliontin kepala serigala itu berada pada genggaman Kris. Hyejin ingat, terakhir kali ia berbincang panjang dengan Sehun, lelaki itu mengatakan bahwa kalung itu ada padanya. Entah di mana lelaki itu menyimpannya, Hyejin yakin tidak ada yang tahu keberadaan kalung itu selain Sehun.

Kalau ada, berarti mereka dalam bahaya. Bahaya yang lebih membahayakan nyawa.

Sebelum bisa dihentikan, Sehun mencengkeram kuat pergelangan tangan Kris. Hyejin bahkan bisa merasakan kemarahan luar biasa menguar dari tubuh atletis itu.

Sehun berteriak, “DARIMANA KAU DAPATKAN INI?!”

“Wah, lihat reaksimu, Oh Sehun. Jadi, benar kau menyembunyikan kalung ini?”

Cengkeraman Sehun mengendur. Terlihat keraguan di matanya. Sehun ingin menjawab dengan gertakan, namun bibirnya terasa kelu.

“Aku memintamu datang ke tempat ini bukan untuk membuatmu menjadi pengkhianat. Bahkan aku sedang berbaik hati.”

Well, ‘berbaik hati’ dilihat dari sudut pandang Kris memiliki makna konotasi yang berarti aku-akan-membunuhmu atau kita-lihat-apakah-kau-masih-layak-untuk-dipertahankan. Baik Chanyeol maupun Hyejin sepertinya sudah paham betul dengan kosakata dan kata kiasan ala Kris.

Di tengah-tengah ketegangan, Hyejin menyempatkan diri melirik lelaki kurus di sebelah kanannya yang terpaut jarak 2 meter. Gadis itu sudah mencoba berulangkali menggunakan telepati untuk mengajak Chanyeol berkomunikasi (baca: memaki) secara rahasia. Yah, kalau itu bisa dibilang rahasia. Saat ini mereka terjebak dengan dua manusia serigala yang bisa membaca pikiran dan hendak membunuh mereka. Dan jika ia memaksa menggunakan telepati, Kris mungkin akan membunuhnya sebelum ia sempat berteriak.

Ugh, Hyejin benar-benar merasa seperti buronan yang selalu berhasil kabur. Kabur beberapa hari saja, Kris dan komplotan busuknya berhasil menemukan mereka, lagi. Seolah lelaki itu memiliki mata supernatural berukuran super besar yang selalu terbuka untuk mencari keberadaan mereka. Dan BOOM! Disinilah mereka, kembali menjadi tawanan. Kehabisan akal dan hampir mati.

Sementara Hyejin menikmati drama hidup-mati yang sedang berlangsung di hadapannya dengan sangat antusias, Chanyeol sedang menimbang-nimbang tindakan apa lagi yang akan Kris dan Sehun ambil. Tidak mudah melakukan hal itu, memang. Pikirannya bisa saja sedang diawasi oleh tiap manusia serigala lainnya yang sejak tadi telah siap siaga kapanpun Chanyeol melakukan tindakan mencurigakan.

Belum lagi, dua manusia serigala keparat itu. Oh, maksud Chanyeol, Suho dan Ken. Mereka tidak boleh dianggap remeh. Dan.. wanita itu. Astaga. Chanyeol benci mengatakannya tapi wanita cantik itu terlalu menarik perhatian. Ia tahu bahwa wanita cantik dengan make-up tebal itulah yang menculik Hyejin. Kalau wanita itu bisa mengubah wujudnya menjadi anak kecil, ia mungkin akan menjadi senjata terkuat Kris disini untuk mengelabuinya dan Hyejin.

 

Cukup. Sekarang fokuslah.

Chanyeol menarik napas dan mengalihkan pandangan pada Sehun. Kedua matanya memancarkan rasa takut, Chanyeol bisa melihatnya dengan jelas. Ia mungkin akan bersyukur kalau-kalau Kris berubah pikiran dan menghabisi Sehun, tetapi setelah apa yang diperbuat lelaki itu untuk menyamarkan keberadaannya dan Hyejin, Chanyeol merasa berutang nyawa padanya.

“Suho, Ken.” Suara Kris menyadarkan Chanyeol dari lamunannya. Kris mulai membuat isyarat dengan menganggukkan kepalanya…  dan itu artinya pertanda buruk.

“Mau apa kau?!”

Kris tersenyum remeh, “Bukankah Suho sudah mengatakannya padamu? Aku akan memberimu tugas baru, Sehun.”

Lalu, terdengarlah bunyi ikatan tali yang terputus, diikuti dengan suara debuman keras ke tanah. Sehun yang tengah melihat apa yang dilakukan Suho dan Ken terhadap kedua ‘tahanan’ Kris, mengepalkan tangan kuat-kuat.

“Tugas barumu, Oh Sehun…” Kris melepas cengkeraman Sehun dengan mudah, lalu balik mencengkeram pergelangan tangan lelaki itu dan membuka telapak tangannya dengan paksa, “…ambil jantung penuh darah mereka.”

 

Matilah kita, batin Hyejin.

“Oh, kau tidak punya pilihan, kurasa. Jadi, yah, begitulah. Bunuh mereka.”

______

“Baiklah. Kau harus mendengarkanku baik-baik.”

Bagaimana bisa Hyejin memfokuskan seluruh pandangannya ketika iris merah terang itu menatap garang bola matanya, menusuk seperti belati yang mengiris kulit?

“Oke, kuusahakan yang terbaik.”

“Aku tidak bercanda, Nona Lee.”

“Baiklah. Apa kau tidak bisa langsung mengatakan intinya saja? Kau hanya diberi waktu lima menit.”

Sehun menatapnya dingin, “Aku bahkan belum menjelaskan apapun.”

Hyejin menjawab ‘oke, lanjutkan’ dengan terbata-bata seolah seluruh kosakata yang ia pelajari sejak dalam kandungan telah mengabur dari memori dalam otaknya. Gadis itu menuruti perintah Sehun untuk memperbaiki ekspresi wajahnya yang terlihat aneh, menjadi ekspresi ketakutan. Sehun bilang, untuk menunjukkan pada Kris dan yang lainnya bahwa ia sedang mengancam gadis itu atau semacamnya. Hyejin hanya mengangguk dan melakukan apa yang diperintahkan.

“Lalu?”

“Sekarang, dengar. Kau harus melakukan apapun yang kukatakan padamu nanti. Berjanjilah.”

Hyejin mengerutkan dahi, “Aku ingin melarikan diri, sungguh. Tapi jika rencanamu lebih baik dari rencana Chanyeol yang kadang membahayakan, aku berjanji akan melakukan yang kau katakan asalkan kau memastikan keselamatanku. Dan Chanyeol, tentunya.”

Sulit membaca raut wajah seorang Oh Sehun. Terkadang keseriusannya membuat Hyejin ketakutan, seakan-akan lelaki pirang itu sedang memikirkan sesuatu yang sangat jahat sampai-sampai tidak sempat berekspresi.

Sehun menghela napas, “Aku sudah memutuskan …”

Hyejin menunggu.

“Aku sudah memutuskan untuk memihak kalian. Maksudku, sudah terlalu banyak perbuatan jahat yang kulakukan sampai-sampai aku tidak sadar bahwa Kris hanya memandangku sebagai alatnya untuk melakukan berbagai pekerjaan kotor. Dan setelah membunuh, penyesalan selalu berakhir melingkupi seluruh benakku, sedangkan Kris bersantai menikmati kekuatan baru yang didapatkannya. Tidak, aku tidak akan membiarkan makhluk brengsek itu memanfaatkan segala kemampuan yang kumiliki.” Kedua matanya menatap teduh Hyejin, “Karena itu, aku akan melakukan apapun untuk menyelamatkanmu. Aku akan melindungimu dan menyingkirkan Kris. Bagaimanapun caranya, sampai semuanya kembali normal. Setidaknya, kehidupanmu yang kembali normal. Aku tidak peduli dengan apa yang akan terjadi selanjutnya padaku dan Chanyeol.”

Hyejin berdeham, “Eh, jadi…apa intinya? Kris mendapat kekuatan baru? Kau akan melindungiku? Lalu, tadi kau menyebut-nyebut kata ‘normal’?”

Iris mata Sehun bertambah terang. Hyejin bisa merasakan aura jahat menguar dari tubuh lelaki di hadapannya. Jadi, gadis itu memutuskan untuk menutup mulutnya dan kembali menjadi pendengar setia curhatan hati sang manusia serigala.

“Setelah ini, situasi akan sangat berbahaya. Kau harus mencari tempat aman untuk bersembunyi. Tidak perlu mengkhawatirkan kemampuan penciuman tajam Kris karena aku sudah menyelubungimu dengan semacam selubung transparan dari udara sehingga keberadaanmu akan sulit dideteksi untuk saat ini. Chanyeol sudah memperkirakan semuanya sejak awal, jadi kau tak perlu khawatir. Ia akan memberi kejutan yang menyenangkan untuk menyediakan waktu bagimu memikirkan cara melarikan diri yang lebih baik.”

Sekilas, Hyejin melihat senyum tipis muncul di bibir Sehun selagi ia mengatakan tentang kejutan yang menyenangkan. Oh, yeah, pasti sangat menyenangkan.

“Lalu, apa yang akan kau lakukan?” tanya Hyejin, khawatir Sehun akan melakukan hal-hal supernatural secara tiba-tiba.

Kali ini, Sehun benar-benar melayangkan senyum penuh arti. “Aku akan melindungimu, sudah kubilang, kan?”

Saat itu, degupan jantung Hyejin hampir membuat dadanya bolong.

______

Setelah mendapat hikmah dan peneguhan dari mulut seorang manusia serigala, Hyejin memantapkan diri. Ia yakin kali ini Sehun akan bertindak sesuai dengan apa yang ia katakan, sehingga ia tak perlu meragukan kesetiaannya sebagai pihak baru yang mendukung usaha Chanyeol. Gadis itu sudah cukup ketakutan ketika Suho menjambak rambutnya dan menyuruhnya untuk menatap kedua mata elang Sehun, selagi lelaki pirang itu galau dengan pilihan yang Kris berikan.

“Bunuh dan kau akan mendapatkan apa yang kau cari selama ini. Atau berkhianat dan napas hidupmu berakhir dengan tragis.”

Intinya begitu.

Sesaat yang lalu, Sehun memberitahunya rencana yang akan mereka lakukan. Dan untuk saat ini yang perlu ia lakukan adalah berakting dengan baik. Well, Hyejin tak perlu berakting ketakutan karena hidup berhari-hari di tengah-tengah dua manusia serigala selalu mengaktifkan saraf rasa takutnya. Dan sekarang kepalanya terasa sangat pusing. Penuh dengan pertanyaan dan tekanan luar biasa dari dalam dirinya untuk melarikan diri.

“Aku sudah membuat keputusan,” seru Sehun.

“Kau tidak mau meminta persetujuannya?” Kris melirik Chanyeol yang sedang berusaha menahan sakit pada kepalanya karena jambakan tangan Ken pada rambutnya.

Tanpa perlu diberitahu pun, Chanyeol tahu apa yang akan Sehun lakukan demi keselamatan dirinya sendiri. Persetan dengannya, makinya.

Sehun berdeham dan melangkah menjauhi Hyejin, dengan kedua tangan pada masing-masing saku celananya. Ia berdiri di belakang Kris dengan senyum mengejek, “Kau mungkin tak tahu hal ini karena, yah.. kau tipikal orang yang egois. Tapi yang perlu kau pelajari di sini adalah fakta bahwa semua orang dihadapkan pada pilihan. Dan tentu saja, semua orang punya pilihannya masing-masing dengan segala konsekuensi.” Lelaki itu melanjutkan langkahnya dan berhenti di hadapan Kris. “Aku tidak ingin menceramahimu, sungguh. Kau yang memaksaku berpikir.”

“Bagus. Setidaknya kau menggunakan otakmu.” Timpal Kris.

Tawa kecil lolos dari bibir Sehun, namun tak mengurangi keseriusan yang terpancar dari matanya. “Aku tidak akan memilih pilihan yang kau beri. Aku memilih pilihanku sendiri; menghabisimu.”

“HYEJIN! MENJAUHLAH!”

Seruan itu segera menyadarkan Hyejin dari segala rasa takutnya. Gadis itu mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong Suho dan melepaskan diri. Ia berlari sekuat tenaga, mengabaikan tatapan lapar di kiri-kanannya.

Sehun ternyata bersungguh-sungguh dengan tiap ucapan yang dikatakannya pada Hyejin. Tidak ada yang memperhatikan gadis itu selama berlari seperti banteng kesetanan. Selubung transparan yang menyelimutinya membuatnya selamat. Di belakangnya, suara geraman dan lolongan nyaring terdengar. Hyejin tidak mau melihat ke belakang. Ia sudah pernah melakukan hal itu sebelumnya dan membuatnya tertimpa nasib buruk. Tidak, ia harus tetap berlari, mencari tempat aman untuk berpikir.

Sementara itu, di antara semak setinggi pinggang, Chanyeol menggeram dan membiarkan makhluk buas dalam dirinya mengambil alih. Mengabaikan fakta bahwa keadaan tubuhnya yang tidak memungkinkan untuk bertarung, lelaki itu menerjang Ken, mencakarnya, lalu melempar lelaki malang itu sembarang. Begitu seterusnya sampai empat orang telah Chanyeol habisi.

Namun keadaan berbalik tak berlangsung cukup lama. Waktunya habis. Chanyeol kehabisan waktu dan seharusnya sekarang Hyejin sudah menemukan cara untuk melarikan diri.

Lelaki jangkung itu tersudut, setelah sebelumnya berusaha sekuat tenaga menghindar dari cambuk air milik Suho. Sehun yang melihat keadaannya, berusaha menolong, namun ketika hendak membuat topan di sekitarnya, pergelangan tangannya dicengkeram begitu kuat oleh tangan sedingin es.

“Aaargghh!!”

Suho tersenyum, “Bagus. Julurkan tanganmu.” Lelaki yang Suho ajak bicara, menurut, lalu menjulurkan tangan kirinya. Jemari keduanya bertemu dan sekonyong-konyong, udara mendingin dengan drastis, rumput dan batang-batang pohon terselingkupi oleh es. “Xiumin, lakukan.”

Sehun yang tak sempat menghindar, harus merasakan sakit luar biasa pada perut bagian kanannya. Tusukan itu terasa sangat menyakitkan ditambah rasa dingin yang merasuki seluruh tulang dalam tubuhnya. Lelaki pirang itu berteriak dengan suara serak, namun beberapa detik kemudian, ia menarik tombak es itu, lalu beralih menyerang lelaki bernama Xiumin.

“Sehun, tidak ada waktu lagi. Kita harus pergi.”

“Tidak. Aku harus merebut kalung itu terlebih dulu.”

“Itu bukan bagian dari rencana! Cepat menjauh! Bawa Hyejin pergi ke tempat aman!”

Sehun mendecih, “Aku bukan pesuruhmu, bodoh. Hanya kali ini saja kau kuperbolehkan menjajah kepalaku.”

Keduanya kembali pada kegiatan ‘menyenangkan’ masing-masing. Bayang-bayang pepohonan seolah memayungi mereka dari sinar mentari, memberikan kesan tak bersahabat di sekeliling mereka. Sehun yang sudah memulihkan diri dari lukanya dan Chanyeol yang mulai memahami irama pergerakan lawan, lengah dengan bahaya berikutnya yang sejak tadi hanya menjadi penonton.

Sudut mata Sehun menangkap sosok wanita dengan paras cantik tengah melangkah dengan anggun namun tegas, tepat ke arahnya. Lengkap dengan kuku-kuku tajam pada jemari tangannya, serta taring yang memenuhi mulutnya, wanita itu siap menyerang Sehun kapan saja.

Seperti gerakan angin, wanita itu menerjang Sehun.

Satu detik. Dua detik.

Waktu terasa melambat di sekelilingnya. Ia bisa mendengar suara teriakan Chanyeol, namun suara itu terdengar jauh sekali. Ia membuka mata dan hal pertama yang dilihatnya adalah debu keperakan yang perlahan-lahan jatuh ke tanah disertai suara teriakan parau seorang wanita.

“Apa.. apa yang terjadi…?”

Ia menangkap kedua mata Chanyeol.

“Kau membunuhnya? Tapi..bagaimana…?”

Chanyeol berjalan dengan tergesa, namun masih menatap dalam-dalam kedua mata Sehun, seolah memperingatkannya untuk segera pergi dari tempat itu.

Ketika hawa panas terasa di kulitnya, barulah Sehun tahu maksud tatapan mata itu. Chanyeol telah membuat keputusan. Dan ia siap menerima konsekuensinya. Tepat saat Sehun mulai bangkit dan berlari, di belakangnya ledakan api menggelegar begitu dahsyat.

Dan Sehun tahu, semua berjalan sesuai rencananya. Meskipun harus mengorbankan nyawa.

[To be Continued]

Iklan

15 pemikiran pada “Werewolf (Chapter 10)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s