When The Key Of Problem Need A Solution [Chapter 2]

w

Author : Cherrykim18

Title : When The Key Of Problem Need A Solution [Chapter 2]

Cast : Song Eun Hyun (fiction), Byun Baekhyun, Kim Joon Myun, Kim Ji Hyun (fiction)

Genre: school-life, friendship, romance

Length: chapter

Rating: T

 

Hi! Aku Author baru disini. Terima kasih banyak buat readers yang udah bersedia baca Fanfic buatanku, dan tolong di comment, kritik, atau saran ya!^^ karena semua komentar kalian sangat aku harapkan, untuk memotivasi aku lanjutin Fanfic ini supaya makin berkualitas dan lebih menarik buat dibacaJ warning Typo everywhere!

 

[previous story]

“dia mantan–”

“mantan? Oh Byun Baekhyun yang bodoh, jangan terlalu tinggi berimajinasi. Kau tahu? Semakin sering kau berimajinasi maka kadar kegilaanmu semakin tinggi! Dia mantan pacarmu? Cih, berkaca lah Baek. Dia gadis baik-baik, cantik, hidupnya sempurna dan ia mantan pacarmu? Jangan membuatku pening dan muntah di depanmu, Baek.”

‘mantan pacar? Cih’

“berisik. Dia bukan mantan pacarku” elak Baekhyun sambil mengacak rambutnya kesal.

Eun Hyun berhenti melakukan kegilaan bicaranya. Bukan mantan kekasih? Lantas?

.

.

“dia—mantan istriku”

 

[Author PoV]

“a-apa? Jangan bercanda kau, Byun”.

Eun Hyun menanggapi omongan Baekhyun dengan sedikit terkekeh, yang benar saja. Istri? Bahkan lelaki itu tak pernah terlihat berdekatan dengan gadis selain dirinya.

Baekhyun mendengus kasar, membuat uap-uap tanda udara sekitar dingin keluar dari mulutnya.

“serius, kalau tidak percaya ya itu sih urusanmu”

Eun Hyun menggertakkan giginya dan menggenggam tiang pembatas dengan kuat hingga buku-buku tangannya memutih. Baekhyun yang biasanya cerewet bisa menjadi sekalem ini? gadis itu menatap wajah sahabat lelakinya itu dari samping dengan tatapan menyelidik, penuh arti. Dan apa yang dicarinya tak ditemukan. Baekhyun memang sepertinya tidak berbohong.

“terdengar mustahil, bocah ingusan yang masih seumur kita mempunyai istri.” Balas Eun Hyun sambil memandang lurus ke pemandangan kota di bawah sana. Baekhyun menatap Eun Hyun dengan tatapan risih, tidak suka, dan seperti berkata “dia mantan istri, bukan istriku” lewat tatapan kesalnya. Eun Hyun yang merasakan perubahan air wajah Baekhyun hanya menyengir polos.

“ah—maksudku, mantan istri”

Baekhyun mengangguk pelan dan menghembuskan nafasnya pelan. Seakan lega saat Eun Hyun meralat perkataannya, dari istri menjadi mantan istri.

“pernah berpikir untuk mengatasi masalah sahabatmu sendiri, Eun Hyun-ssi? Mungkin, aku akan mencabut kata-kataku tentang ‘konsultan kelas teri’ yang tadi. Aku mungkin membutuhkanmu, setidaknya untuk sekedar mendengar ceritaku.” Ucap Baekhyun terdengar lebih santai dari sebelumnya. Dan dibalas oleh pukulan pelan di lengan lelaki itu. Pelakunya adalah, siapa lagi kalau bukan Eun Hyun?

“tak perlu berbahasa formal, Baek. Datang saja padaku kapanpun kau butuh. Aku ini kan memang seorang konsultan, ya..meskipun tidak memiliki izin praktek apapun” ujar gadis itu sambil tertawa renyah.

“meskipun konsultan picisan dan menyebalkan, kau memang kadang berguna juga” kata Baekhyun sambil menyampirkan sebelah tangannya ke pundak gadis di sampingnya itu, biasa lah rangkulan persahabatan.

“ya, Byun! Aku bukan kadang berguna, tapi memang selalu berguna. Dasar sok keren. Bahasamu itu terlalu rumit.” Omel lawan bicara Baekhyun itu sambil menginjak ujung sepatu pria Byun itu.

“ya! Bodoh! Ini sepatu baruku, kau tahu ini sangat mahal? Bahkan uang tabunganku selama 2 tahun tidak cukup untuk beli sepatu ini, oh tuhan—”

Mulai kembali lagi menjadi Baekhyun yang semula.

Eun Hyun hanya membalas ocehan Baekhyun dengan menarik salah satu sudut bibirnya dan berlari menjauhi pria itu yang pasti sebentar lagi akan mengejarnya dan melakukan pembalasan atas ‘pelecehan’ di sepatu barunya. Mereka berdua meski jarang akur tetap saja masih memiliki hubungan resmi sebagai sahabat, aneh memang, karena keduanya pun tak pernah mengaku jika mereka bersahabat baik.

Mereka berdua tertawa terbahak-bahak sambil memulai aksi ‘Tom and Jerry” versi mereka sendiri. Berlarian mengelilingi atap sekolah, menuruni tangga yang menghubungkan atap sekolah dengan lantai 3 sekolah mereka.

Eun Hyun dan Baekhyun akhirnya menginjakkan kakinya kembali ke dalam kelas, dan di sana sudah terdapat seorang gadis yang tengah menekuk habis wajahnya. Oh tidak, ternyata karena terlalu asyik berlarian seperti orang idiot bersama Baekhyun, Eun Hyun sampai melupakan janjinya dengan klien cantiknya.

Gadis bermarga Kim itu terus mengoceh selama menanti kedatangan Eun Hyun. Saat Eun Hyun sudah kembali menampakkan batang hidungnya, Ji Hyun langsung menyemburnya dengan berbagai sumpah serapah—kalimat kekesalan yang bertubi-tubi. Eun Hyun memutar bola matanya malas,

‘hanya menunggu sebentar saja. Kenapa harus marah marah?’

meskipun sedang tidak mood meladeni gadis yang menjadi kliennya itu, Eun Hyun tetap harus profesional. Eun Hyun mengikat rambutnya menjadi ikatan kuncir kuda asal—yang penting tidak menghalangi wajah—

“baiklah, maaf telah membuatmu menunggu.sudah sampai mana pembahasan kita tadi pagi?” ucap Eun hyun sambil duduk diatas kursinya, menghadap Ji Hyun.

“tak ingat, karena kau terlalu lama membuatku menunggu” gerutu Ji Hyun sambil mengeratkan gigi bawahnya ke gigi atasnya. Rahangnya mengeras, marah.

“baiklah, baiklah. Aku minta maaf. Kau bisa mengurangi bayaranku kalau kau benar-benar kecewa atas keterlambatanku, Ji Hyun-ssi.”

‘kurasa aku tahu kenapa Baekhyun begitu tak tertarik dengan orang ini. tampang memang tidak dapat diragukan. Tapi sikap sabarnya nol besar’

“tak perlu, aku bahkan bisa membayarmu lebih. Asal Baekhyun dan aku bisa bersama dan ia menyukaiku”

‘benar-benar. Gadis arogan, sombong

“baik, tapi tak bisa sekarang. Aku juga butuh waktu untuk mendiskusikan ini dengan Baekhyun. Beri aku waktu seminggu dan kuusahakan semuanya akan selesai” tawar Eun Hyun sambil bersiasat. Ia harus mengatur pembicaraan antara konsultan – pasien dengan Baekhyun secepatnya, agar ia tak terus menerus dihantui oleh belenggu gadis tidak sabaran yang sedang duduk dengan anggun dan berkelas di depannya.

Ji Hyun bangkit dari kursi yang didudukinya dan menggebrak meja Eun Hyun, meski tak keras, tetapi itu cukup membuat Eun Hyun terkejut dan harus melakukan spot jantung. Sebenarnya gadis ini maunya apa?

“seminggu. Kalau tidak, kau benar-benar akan menyesali telah melanggar janjimu” ujar Ji Hyun penuh penekanan—tepatnya mengintimidasi. Ji Hyun berjalan keluar kelas Eun Hyun dan menghilang begitu saja di tikungan yang berjarak beberapa meter dari pintu kelas Eun Hyun. Eun Hyun menghela napasnya berat, menghasilkan getaran kecil di pita suaranya.

Eun Hyun membenturkan kepalanya ke atas meja berkali-kali, merasa pusing dengan klien terbarunya. Baekhyun memeriksa keadaan di luar kelas, jaga-jaga jika mantan istrinya masih menguping dengan berada di sekitar kelasnya. Lelaki Byun itu mendekati sahabatnya dan duduk di meja gadis itu.

“bagaimana?” tanyanya. “sekarang kau tahu kan, kenapa aku amat sangat tak tertarik kepadanya?”

Eun Hyun mengangguk pelan tanpa mengangkat wajahnya yang ia rundukkan. Ia terlalu pusing memikirkan ancaman Ji Hyun barusan. Bagaimana bisa gadis yang selama ini terlihat anggun dan cantik mengancamnya dengan kata-kata tajam seperti itu. Tak lupa dengan gebrakan kasar di mejanya. Itu cukup membuat menyimpan dendam kecil di lubuk hatinya.

“kukira dia gadis sempurna luar dalam, Baek.” Keluh Eun Hyun sambil mengangkat wajahnya seraya memijat pelipisnya pelan.

“ya, semua orang punya kekurangan masing-masing”

Eun Hyun mengambil ponsel layar sentuh yang ia simpan di laci mejanya. Dengan cepat ia menyusun sederet angka untuk membobol sandi yang dipasangnya. Ia membuka agenda yang telah disusunnya di aplikasi kalender ponselnya.

“Eun Hyun-ah, kapan aku bisa mengatur pertemuan denganmu sebagai seorang klien?” tanya Baekhyun sambil menaikkan salah satu kakinya ke meja dan mengikat tali sepatunya yang sudah terlepas sejak tadi.

“yang jelas bukan sore ini, karena kau akan berkencan dengan berkas-berkas guru Nam kan?” ledek Eun Hyun sambil terkekeh geli membuat pria di depannya melengos malas.

“harusnya jangan kau ingatkan aku tentang pasangan kencanku sore ini” balas Baekhyun lesu. Ia memperhatikan keluar jendela kelas yang langsung menampilkan pemandangan lapangan sekolah mereka yang sedikit licin karena hujan sempat mengguyur Seoul beberapa jam yang lalu.

“aku punya waktu kosong hari selasa pada jam 3 pulang sekolah. Sempatkan lah. Ini masalah mantan istrimu yang sempurna itu.” Eun Hyun sedikit menekankan nada bicaranya saat mengatakan ‘mantan istri yang sempurna’. Hanya sindiran.

Baekhyun menimang-nimang tawaran waktu pertemuan yang diajukan Eun Hyun. Seingatnya, pria itu memiliki jadwal dengan anggota ekstrakulikuler penyiar radio sekolahnya. Tapi, bukankah lebih penting menyelesaikan masalah mantan istrinya dahulu daripada ekstrakulikuler sekolahnya yang hanya sebuah kegiatan pengayaan tambahan? Tetapi, selasa itu adalah hari siaran eksklusifnya, jadi tak mungkin kan ia meninggalkan siarannya dengan alasan ‘menyelesaikan masalah dengan mantan istri’ oh—apa yang akan dikatakan seisi sekolah jika mengetahui bahwa Byun Baekhyun, adik dari Byun Baek Beom, alumni super duper tampan sudah menjadi seorang duda? Baekhyun menghela napasnya kasar.

“Eun Hyun-ah, bisakah kita mengadakan pertemuan dengan waktu yang dimundurkan sedikit? Misalnya pada pukul 4? Aku harus melakukan siaran dulu”

Eun Hyun kembali memeriksa jadwalnya, kemudian ia mengangguk pelan.

“baiklah jam 4, kutunggu di sini. Di kelas ini. di mejaku”

***

Eun Hyun PoV-

Aku akhirnya mengikuti keinginan Baekhyun untuk mengadakan pertemuan pada hari selasa pukul 4. Meskipun harus menunggu lebih lama di sekolah, setidaknya masalahku dengan Ji Hyun tuntas. Aku mengambil tas ranselku dan memasukkan semua barang yang harus kubawa pulang sekarang. Kutarik retsleting tasku dan kusampirkan keatas kedua bahuku.

Aku sengaja berjalan lewat kooridor sepi yang jarang dilewati oleh kebanyakan murid di sini. Selain karena jaraknya lebih dekat dengan gerbang keluar sekolah, aku juga ingin memeriksa kegiatan yang sedang Baekhyun lakukan, karena kooridor ini langsung terhubung dengan ruangan Guru Nam.

Aku berjalan santai, tentu saja supaya niatku untuk mengintip ruangan guru Nam tidak diketahui oleh beberapa guru yang memang sering melewati kooridor ini. sampai di depan pintu besi bercat silver, aku berhenti sebentar untuk menata napasku yang sedikit tersengal karena terlalu gugup melewati kooridor tadi. Aku mengintip melalui sela-sela anyaman rotan yang menutupi kaca pintu ruangan guru Nam.

Baekhyun disana, tentu saja.

Wajahnya terlihat murung dan seragam putihnya pun kumal dan berantakan. Sesekali Baekhyun meregangkan tubuhnya dan menekan beberapa persendian di jemarinya. Aku tadinya berniat untuk mengajak Baekhyun pulang bersama, karena akan sangat membosankan jika pulang sendiri ke rumah.

Aku berinisiatif untuk mengirim pesan kepadanya melalui jejaring sosial pribadiku. Tentu saja untuk menanyakan, dia butuh kutunggu atau tidak.

Aku kembali mengintip, melihat Baekhyun yang baru menyadari bahwa ponselnya bergetar. Ia melongok keluar, melihat kearahku dan menuliskan beberapa kata di ponselnya.

Ponselku berbunyi.

Sial, aku lupa untuk mematikan nada tanda pesan pada ponselku. Aku segera memeriksa sebuah notifikasi yang muncul di ponselku.

‘tunggu saja di tempat biasa. Sebentar lagi aku keluar dari neraka dunia ini’

Aku terkikik pelan dan berjalan menjauh dari depan ruangan guru Nam. Aku segera berlari ke halaman depan sekolah.

tunggu, tapi apa maksudnya tempat biasa? Atap kah? Lapangan atletik kah? Lapangan basket? Atau jangan-jangan kafetaria depan sekolah? Terlalu banyak tempat yang sering kami jadikan tempat untuk bersantai.

Aku mengedarkan pandanganku, disini tak ada apa-apa kecuali beberapa pohon mapel, ujung kubah perpustakaan sekolah, dan—bangku taman dengan seseorang yang sedang duduk diatasnya sambil menggoreskan cat di ujung kuas lukisnya pada kanvas ukuran 30 cm x 30 cm.

Jujur saja, aku ini tipe orang yang mudah merasa ingin tahu. Dan seseorang dengan kanvas itu cukup menarik untuk mengobati rasa keingintahuanku sekarang. Aku menarik diri mendekati kursi itu.

“aku tak tahu objek di sekitar sini membuatmu terinspirasi untuk melukis” ujarku sambil melongokkan kepalaku ke samping kanvasnya.

“Ya! Siapa kau?! Pergi pergi cepat!”

Orang itu memelototiku dan tiba-tiba berteriak. Lalu memalingkan wajahnya dan menutup matanya dengan kedua belah tangannya. Dan—hey, kurasa aku mengenal siluet orang ini.

“Kim Joon Myun?”

Lelaki itu membuka matanya dan memalingkan wajahnya kearahku lambat-lambat. Kulit super putih, mata yang kecil, alis tebal berwarna kecokelatan, rambut yang sisirannya sudah tak berbentuk lagi berwarna cokelat tua, dasi yang sudah dikendurkan, kemeja putih sekolah yang dikeluarkan dari dalam celana serta tangan kiri yang sudah banyak terkena cat kering.

Benar-benar bukan Kim Joon Myun yang biasa di kelas.

Ia merengut dan melempar kuas catnya ke samping. Ia menatapku datar –dan setengah marah- lalu menghempaskan badannya kasar ke senderan bangku taman, membenturkan punggungnya ke belakang.

“ada apa tiba-tiba muncul seperti makhluk astral?” tanyanya dengan nada dingin dan lebih mengarah ke tidak suka.

Aku duduk di sebelahnya dan memutarkan bola mataku asal,

“aku tahu aku mengagetkanmu. Tapi tak perlu meneriakiku seakan-akan aku ini maling yang baru tertangkap basah mencuri elektronik super mahal di rumah megahmu, tahu?” protesku sambil meliriknya sinis.

“ya, ya. Maaf. Aku memang sulit menerima kehadiran seseorang yang suka muncul dengan tidak wajar. Jadi, ada apa?”

Aku melirik kanvas di depannya, belum selesai dilukis memang, namun menurutku itu, keren.

“melihat gambarmu. Itu menarik perhatianku, jaman sekarang ada anak sekolahan yang mendirikan kanvas dengan kaki kayu di bangku taman dan melukis dengan pemandangan sekitar yang ya—menurutku tidak menarik. Sama sekali.” Jawabku lancar.

Joon Myun tersenyum tipis dan menoleh kearahku. Matanya yang kecil terlihat mengkilat di bagian putihnya, ia menatapku penuh arti.

“kau menyukai gambaranku?” tanyanya antusias. Oh—yang benar saja, aku bahkan belum melihat gambarnya secara teliti. Saat aku datang saja ia malah mengusirku dengan tidak beretika.

“tidak. Aku hanya tertarik dengan gayamu menggambar” balasku sekenanya. Ia cemberut lagi.

“padahal kukira kau menyukai gambarku.”

“kau mengusirku sebelum aku mengamati karyamu. Kau tahu itu kan?” sindirku sambil menyilangkan kaki kananku.

Ia menunduk dan memainkan kerikil di depan sepatunya. Lihat, sepatu sekolahnya bahkan sebuah sepatu bermerek terkenal keluaran terbaru dan belum dipasarkan di Korea Selatan. Dia benar-benar orang kaya.

“Song Eun Hun-ssi” panggilnya sopan. Gaya khas orang kaya, berkelas.

“eum?”

“kau teman sekelasku dan aku kurang mengenalmu. Tapi, asal kau tahu saja, kau lumayan populer di kalangan bahan pembicaraan teman-temanku. Hanya karena satu hal, kau adalah seorang konsultan tanpa lisensi dan izin membuka praktek konsultasi di kelas. Aku bahkan kadang penasaran, apa kau benar berbakat?”

Aku tertawa terbahak tanpa dapat mengontrolnya lagi. Bahuku sampai terguncang dan Joon Myun menatapku heran. Ya, tentu saja aku menertawakan pertanyaan konyolnya.

“kenapa tertawa? Apa pertanyaanku cukup lucu untuk ditertawakan? Atau kau seorang pengidap Bipolar yang emosinya dapat berubah secara ekstrem?” tanyanya sambil menatapku heran. alisnya bertaut. Seperti seorang profesor yang tengah mengamati percobaan pertamanya.

“tentu saja aku tertawa karena pertanyaan bodohmu. kau tanya apa aku benar-benar berbakat? Jawabannya tentu saja tidak, bagiku. Bahkan aku tak mengetahui bahwa aku mempunyai bakat. Menurut sudut pandangmu bagaimana? Apakah aku terlihat berbakat secara kasat mata?”

Joon Myun menggeleng, “tidak, sampai aku melihat langsung cara kerjamu dalam membuka praktek” .

Aku menyengir lebar, lalu sedikit memainkan kuku-kukuku, “datanglah sebagai klien, kapanpun. Kau bisa atur janji denganku”.

“dasar bodoh, tak perlu kau undang juga aku akan datang jika membutuhkan jasamu” balasnya sambil terkekeh perlahan.

-Joon Myun PoV-

Aku tak percaya.

Aku berbicara, bahkan tertawa dengan gadis ini.

Dia berbeda, tidak sok pintar, membicarakan kekayaan, dan tak juga memujiku.

Dia hanya tertarik dengan gaya menggambarku.

“Joon Myun-ah, lukisanmu lumayan juga. Meskipun belum selesai” ujarnya sambil mengarahkan ujung telunjuknya ke atas permukaan kanvasku.

Aku menarik tangannya dan menoyor kepalanya dengan ujung tangkai kuasku,

“bodoh, ini catnya masih basah. Kau tahu? Jika masih basah dan kau sentuh sedikit saja, maka lukisannya akan tergores, dan akan susah membersihkannya”

Ia menarik kembali jarinya dan manggut-manggut asal.

“apa yang kau gambar sebenarnya? Di kanvasmu hanya ada gambar pohon mapel, kubah perpustakaan, gedung sekolah, dan—oh, Zhang Yi Xing!” pekiknya.

Tubuhku menegang dan telapak tanganku berkeringat, jangan sampai ia menyadari bahwa Yi Xing lah fokus lukisanku.

“a—ah ya, dia sahabatku. Kau tahu lah.” Ujarku seadanya.

Ia mengerutkan keningnya, “aku tak tahu ada pria di sekolah ini yang masih tertarik melukis sahabat lelakinya, itu aneh. Menurutku”

“aku hanya ingin melukis keadaan sekolah pada sore hari, dan kebetulan Yi Xing masih berdiri di depan kelasnya dan otomatis ia menjadi objek gambarku.” Elakku sambil menggigit bibir bawah bagian dalamku. Aku gugup.

Ia mengamati Yi Xing dari kejauhan dan menatapku tajam.

“kau menggambar Zhang Yi Xing, tetapi tidak menggambar pacarnya yang sedang berdiri di sampingnya?”

Aku semakin gugup, gadis ini benar-benar.

“a-ah, itu..aku..”

“Eun Hyun-ah!”

TBC

Iklan

4 pemikiran pada “When The Key Of Problem Need A Solution [Chapter 2]

  1. What? Su Ho kamu kenapa, mas? Jangan-jangan dia suka Yixing… aduuuh.. jangan lah author-nim. Mending dia suka Eun Hyun aja…. Dan aku pun bingung dengan Baek Hyun.. masa 16 tahun punya mantan istri? Aduh.. aku menunggu kejelasan pokoknya.
    Next Chapter ditunggu pokoknya. Jangan patah semangat!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s