When The Key Of Problem Need A Solution [Chapter 3]

Author : Cherrykim18

Title : When The Key Of Problem Need A Solution [Chapter 3]

Cast : Song Eun Hyun (fiction), Byun Baekhyun, Kim Joon Myun, Kim Ji Hyun (fiction)

         Zhang Yi Xing , etc.

Genre: school-life, friendship, romance

Length: chapter

Rating: T

 

Halo semuaa~ ini udah chapter ke-3 When The Key Of Problem Need A Solution, aku sebagai author yang masih amatir amat sangat berterimakasih kepada readers yang udah like dan comment Fanfic buatanku yang masih abal-abal ini~ aku bener-bener butuh readers yang mau comment dan pastinya kritik sama saran karena karyaku ini masih jauh dari kata bagus karena aku masih pemula hehe^^ dan maaf juga karena update chapter ini lumayan lama karena tugas sekolahku masih numpuk hihi XD

Warning Typo Everywhere, and do not plagiarism!

 

Ia mengamati Yi Xing dari kejauhan dan menatapku tajam.

“kau menggambar Zhang Yi Xing, tetapi tidak menggambar pacarnya yang sedang berdiri di sampingnya?”

Aku semakin gugup, gadis ini benar-benar.

“a-ah, itu..aku..”

 

“Eun Hyun-ah!”

[Joon Myun PoV]

Pandanganku teralih kearah sumber teriakan itu. Teriakan memanggil orang yang tengah duduk di sampingku.

Itu Baekhyun.

“Baek, ada apa?” tanya Eun Hyun sambil menatap Baekhyun yang tengah memegangi lututnya sambil mengatur jejak-jejak napasnya yang terengah.

“ya, gadis bodoh! Kemana kau? Bukankah kusuruh kau tunggu aku di tempat biasa?” hardik teman sekelas yang duduk di depanku itu.

Eun Hyun menggaruk bagian belakang lehernya—yang kurasa tidak gatal- gadis itu mengernyitkan alisnya dan menegakkan posisi duduknya.

“eung—Baek, aku tak tahu apa makna dari kata ‘tempat biasa’mu itu.” Kata Eun Hyun, “ Kau tahu? Terlalu banyak tempat yang biasa kita kunjungi. Makanya, kalau mengirim pesan itu dengan bahasa yang jelas”

Lelaki di depanku menggaruk rambutnya kasar, aku sebagai orang ‘asing’ disini hanya dapat memalingkan wajahku. Berpura-pura tak mendengar perang sahabat di depanku ini. aku tak mau dengar apapun. Dan aku tak mengerti apapun disini. Menurutku jika aku mendengar celotehan kedua orang ini, malah akan menambah kesan sok ingin tahu urusan orang, dan—aku tak mau menjadi benalu pembuat suasana kaku disini.

Baekhyun menaikkan telunjuknya ke udara dan mengarahkannya ke atap sekolah yang berjarak 200 meter ke timur dari arahku, “lihat? Itu ‘tempat biasa’ yang kumaksud! Ah—kapan kau akan menggunakan otakmu itu sih?”

“jelas aku tak tahu karena kau tidak mengatakannya dengan jelas, Byun!”

“hei nona Song, tadi aku baru menyelesaikan kencan mesraku dengan dokumen-dokumen payah itu pukul 4 lebih 5 menit dan aku menunggumu di atap sana selama 45 menit tapi ternyata kau – tidak – datang. Aku mencoba menghubungi ponselmu tapi tidak diangkat. Sampai aku melihat ada sepasang manusia yang sedang duduk di bangku taman dengan sebuah kanvas persegi dan obrolan mesra yang terlihat menyenangkan. Oh aku sangat terkesan, kenapa sahabatku ini lebih memilih mendekati seorang Kim Joon Myun yang kaya dan tampan dibanding menunggu sahabat lelakinya yang sangat lelah karena menata berkas konyol guru Nam di atap? Oh, lebih baik aku menghabiskan waktuku di rumah dengan membaca majalah fashion keluaran terbaru daripada menunggumu”

Aku bangkit dari tempat dudukku dan merapikan alat menggambarku sekaligus memasukkan semuanya ke dalam tas ku sebagai muatan pulang sekolah sore ini. aku berjongkok di depan kanvas berdiriku dan melipat kayu-kayunya serta mengamankan lukisanku ke dalam sebuah box berbahan dasar karton berwarna silver pemberian ayahku dari Kanada. Kedua orang itu menatapku dengan dahi berkerut,

“mau pulang, Joon Myun-ah?” tanya Eun Hyun sambil mendongakkan kepalanya, menatapku.

Aku mengangguk, “baiklah kawan-kawan, selesaikan masalah kalian dan aku akan pulang”

“baguslah, pulang sana, tuan tampan. Dan terima kasih untuk pinjaman pulpennya” ujar Baekhyun sambil mendelikkan matanya dan melambaikan tangannya dengan semangat kearahku. Aku tahu, itu sindiran. Ia berpikir aku mencuri sahabatnya.

Aku berjalan menjauh, dengan menenteng kotak silverku dan stand kanvasku, tentu saja. Berjalan menuju parkiran yang berada di sebelah kiri gerbang utama sekolah terasa amat sangat melelahkan bagiku. Tentu saja karena aku membawa barang yang lebih banyak sore ini. aku menemukan mobilku. Lamborgini hitam kado ulang tahunku yang ke-16 dari Nyonya Baek, kolega bisnis ibuku. Aku meletakkan semua bawaanku ke tanah dan merogoh saku untuk mencari kunci mobil. Ah—sial, dimana benda itu?

Aku membuka retsleting tasku dan mencari di semua kantung tasku. Aku mungkin lupa menaruhnya dimana.

Dan aku memutuskan untuk kembali ke kursi taman yang tadi.

Aku menghela napasku pelan, ‘sedikit berjalan kembali ke taman dan menemukan kunci mobilku dan semuanya selesai. Aku bisa pulang secepatnya

Aku berjalan terseok karena kelelahan. Aku memainkan ujung dasiku dan melepasnya asal. Aku segera sampai ke taman, sedikit lagi, 10 langkah lagi, 9..8..

“Ya ampun! Sial, pemandangan apa ini!” teriakku sambil memalingkan pandanganku. Aku ingin mencari kunci dan yang kudapat hanyalah ini, pemandangan mengejutkan.

Yi Xing sedang mencium kekasihnya.

Aku hendak berjalan menjauh dan suara Yi Xing tiba-tiba menghentikanku, sial.

“Joon Myun-ah, kenapa disini? Belum pulang?”

Aku kelu dan mau tidak mau membalikkan tubuhku kearahnya. Terlihat gadis itu, kekasih Yi Xing tengah berdiri berdempetan di sebelah kanan Yi Xing dan memeluk lengannya erat.

“kunci mobilku sepertinya ketinggalan di sekitar sini. Aku hanya mau mengambilnya” balasku. Kulihat Yi Xing mengelus rambut panjang kekasihnya dan menyuruhnya menunggu di dalam mobilnya. Dan gadis itu pergi dengan meninggalkan kecupan kecil di pipi Yi Xing. Sungguh, ini bukan pemandangan yang sering kulihat jadi aku merasa sedikit, uhm—aneh.

“kau melihatnya kan?” tanyanya sambil menyenggol sikuku. Aku mengangguk dan berjalan kearah kursi taman dan mengambil kunci mobilku yang ternyata tergeletak mengenaskan di dekat rerumputan.

“jangan iri sobat, berkencanlah. Dan kenalkan kekasihmu kepadaku”

Aku menatapnya datar dan membuang uap air dari mulutku, “aku sedang tidak tertarik berpacaran.”

Ia tertawa dan menepuk punggungku pelan dan berjalan menjauh, menyusul gadisnya. Aku menggelengkan kepalaku heran. seingatku, dulu Yi Xing tak seperti ini. apalagi saat pertama kali ia pindah ke korea. Ia sangat lugu dan polos. Tak tau apa-apa, mengeja huruf korea saja salah. Tapi sekarang, ia sudah sangat terkenal, nakal, dan terlihat agak liar jika berurusan dengan gadis-gadis. Aku mulai tak nyaman.

Aku ingin pulang.

[Joon Myun PoV End]

[Author PoV]

Suasana bus sangat amat ramai, tetapi berbeda dengan sepasang sahabat yang tengah berdiri bersampingan dengan wajah yang sama-sama dipalingkan ke arah yang berbeda. Dan bertolak belakang, tentunya.

Eun Hyun dan Baekhyun masih berperang dingin karena insiden ‘tempat biasa’ yang mereka debatkan tadi. Eun Hyun berpegang pada pendapatnya bahwa terlalu banyak tempat yang biasa mereka kunjungi. Sedangkan Baekhyun tak bergeming dari prinsipnya, bahwa Eun Hyun memang melupakannya untuk menunggu di atap.

Bus berhenti. Eun Hyun berjalan cepat kearah pintu keluar dan mengeluarkan beberapa lembar uang yang sudah terlipat-lipat kepada supir bus dan meninggalkan bus tersebut. Ia menghentakkan kakinya kesal selama perjalanannya menuju tempat tinggalnya.

“ah sial, aku lupa. Seharusnya aku tidak bertengkar lagi dengan Baekhyun! Aku masih ada urusan dengannya dan mantan istri cantiknya itu. Ah, bodoh!” jerit Eun Hyun sambil menendangi kerikil di depannya. Ia masih harus melewati 2 belokan dan 3 persimpangan jalan lagi untuk sampai ke rumahnya. Ah—tepatnya ke toko bunga keluarganya. Karena setelah ini ia masih harus membantu pekerjaan ibunya untuk merangkai bunga pesanan seorang pengusaha muda.

Eun Hyun berjalan lesu. Ia melewati jalan-jalan perumahan dengan wajah ditekuk. Beberapa orang menyapanya namun hanya dibalas oleh bungkukan malas dari gadis cantik berkuncir kuda itu. Sekedar simbol kehormatan saja.

“eomma, aku pulang” ujar Eun Hyun saat sampai di depan sebuah bangunan berdinding putih dengan berbagai rangkaian bunga hias disana-sini. Rupanya kedatangan gadis itu disambut oleh seorang wanita setengah baya dengan sarung tangan karet yang membalut kedua belah telapak tangannya yang kulitnya sudah mulai mengkerut karena terlalu banyak berkutat dengan air di tong cadangan air untuk menyiram berbagai bunga dagangannya.

“Song Eun Hyun, kesayanganku” pekik wanita itu sambil tersenyum keibuan. Ia memeluk tubuh anaknya erat seakan tak ada hari esok untuk memeluk anak bungsunya itu. Eun Hyun melihat sepasang sepatu ber-hak stiletto setinggi 7 centimeter terparkir di depan toko bunga ibu Eun Hyun itu.

Alis Eun Hyun mengerut, “Eun Jung eonnie pulang?”

Ibu Eun Hyun menggeleng sambil kembali berjalan ke dalam bangunan toko bunganya. Ia segera melanjutkan penyiraman bunga-bunganya. Wanita itu menjawab, “itu bukan Eun Jung. Kau tahu sendiri, kakak sulungmu itu selalu sibuk di Hongkong. Bahkan untuk menghubungi rumah pun rasanya sangat sulit”

Eun Hyun mengangguk, menurutnya jawabannya ibunya belum mengatasi rasa ingin tahunya tentang pemilik sepatu itu.

“jadi, itu sepatu mahal milik siapa, eomma?”

Ibu Eun Hyun tersenyum lagi, kali ini lebih cerah dari sebelumnya.

“itu milik nona muda Kim Hyun Joo, pembeli rangkaian bunga terbanyak bulan ini.”

Eun Hyun mengangguk lagi. ia paham, ibunya begitu senang dengan pesanan wanita itu.

“boleh kutemui nona Kim Hyun Joo itu, eomma? Ya, sekedar berterima kasih atas pesanannya” tanya Eun Hyun sambil melepas sepatu sekolahnya dan meletakkannya teratur di atas rak kayu buatan ayah Eun Hyun 2 tahun yang lalu.

“boleh saja”

Eun Hyun tersenyum girang. Ia segera berjalan memasuki toko bunga ibunya dan mulai melangkah sopan. Mata cokelat Eun Hyun menemukan seorang wanita berbalutkan mantel panjang berwarna merah muda dengan sedikit garis garis putih silver di bagian kerahnya, wanita itu terlihat sangat cantik dan berkelas. Rambut cokelat tua wanita itu ditata rapi khas konglomerat dengan dandanan natural yang memoles wajahnya, menunjukkan betapa anggun dan bagusnya selera wanita itu.

“selamat sore, nona Kim” sapa Eun Hyun sambil membungkukkan badannya hingga membentuk 90 derajat. Wanita itu menoleh kearah Eun Hyun dan menyunggingkan senyum simpulnya, “Song Eun Hyun, benar?”

Eun Hyun mengangguk semangat, ia sangat senang wanita sekelas Kim Hyun Joo mengetahui namanya.

“ah—aku mengetahui namamu dari ibumu yang sangat baik itu. Duduklah, Eun Hyun-ssi.” Titah wanita itu seperti menjawab pertanyaan di otak Eun Hyun,

Dari mana Kim Hyun Joo mengenal namaku?

“ehm—terima kasih atas pesanan bunganya, Nona” ucap Eun Hyun terbata. Ia tak terbiasa duduk berhadapan dengan seseorang sekelas Kim Hyun Joo. Gadis itu berkali-kali menelan air liurnya, membasahkan tenggorokannya yang terasa kering karena terlalu gugup.

Wanita itu –Kim Hyun Joo- tertawa pelan dengan sebelah tangannya menutup mulut, “sepertinya ibumu salah, Eun Hyun-ssi. Bukan aku yang membeli rangkaian bunga sebanyak itu” katanya.

Eun Hyun memiringkan kepalanya dan menggaruk rambutnya yang mungkin saja tidak gatal. Dari gelagatnya semakin terlihat bahwa gadis itu sedang dibuat bingung oleh Kim Hyun Joo.

“adikku yang membelinya. Namanya Kim Joon Hyung. Ia menyuruhku memilihkan bunga-bunga untuk rangkaian yang akan dikirimnya kepada calon istrinya.” Tutur wanita itu sambil menyeruput teh rosella yang disajikan hangat khusus untuk setiap tamu yang datang ke toko bunga ibu Eun Hyun.

Eun Hyun hanya manggut-manggut tanda mengerti.

“Eun Hyun-ah, kemarilah” panggil ibu Eun Hyun sambil memasukkan beberapa rangkaian bunga ke dalam kemasan plastik berkilau pesanan keluarga Kim. Karena dipanggil oleh ibunya, Eun Hyun membungkukkan badannya kepada Kim Hyun Joo dan segera berjalan menuju tempat ibunya mengemas bunga pesanan itu.

“ada apa, eomma?”

Ibu Eun Hyun menunjuk semua rangkaian bunga pesanan keluarga Kim dengan menaikkan dagunya, “antarkan semua bunga itu ke kediaman keluarga Kim, Eun Hyun-ah. Berhati-hatilah, di dalam rangkaian bunga paling besar terdapat sebuah cincin mahal dengan permata swarovski berwarna biru sapphire yang super duper mahal”

Eun Hyun mengerutkan alisnya bingung, “lalu aku mengantarnya menggunakan apa, eomma? Pesanannya tidak sedikit kan? Ini tak bisa diantar menggunakan mobil apalagi sepeda pengantar bunga”

“pinjam saja mobil muatan milik tuan Byun” .

Eun Hyun tersedak mendengar perintah ibunya. Faktanya, tuan Byun adalah ayah Baekhyun. Ya, siapa yang tak tahu? Ia dan Baekhyun berperang hebat tadi. Bahkan hampir semua penumpang di bus menatap mereka saat mereka saat saling melempar tatapan dingin di bus tadi. Apa kata Baekhyun, jika mengetahui bahwa gadis yang berperan menjadi lawan perangnya meminjam mobil muatan ayahnya?

Oh, it’s A Big No!

“Aniyo, Eomma!” pekik gadis itu sambil mengibaskan tangan di depan wajahnya. Ia benar-benar tak ingin bertemu Baekhyun dulu saat ini.

“ehm—nyonya Song, begini saja, aku bisa memanggil orang suruhanku untuk membawakan mobil muatan. Kira-kira jika kutelepon sekarang, akan sampai sekitar 15 menit lagi” ujar Kim Hyun Joo sambil sedikit meninggikan frekuensi suaranya agar terdengar oleh ibu dan anak yang tengah berada di dalam ruangan tempat mengemas rangkaian bunga itu.

Ibu Eun Hyun segera berjalan mendekati Kim Hyun Joo lalu membungkuk sopan, tak ingin mengobrol jarak jauh.

“tidak kah itu terlalu merepotkanmu, nona?”

Wanita muda itu menggeleng cepat, “tidak sama sekali, kok.”

***

[Eun Hyun PoV]

Sudah sekitar 12 menit aku berdiri di depan toko bunga ibuku, menunggu mobil muatan pesanan nona Kim Hyun Joo. Ya, eomma menyetujui tawarannya mengenai mobil muatan itu. Dan sesaat setelah eomma menyetujuinya, wanita itu langsung mengeluarkan ponsel mahalnya yang dihiasi dengan balutan case berwarna silver dengan beberapa taburan glitter berkilau, dari tas Dolce Gabanna-nya dan menelpon orang suruhannya untuk mengirimkan mobil muatan itu kesini. Ke toko bunga eomma.

“mereka bilang akan sampai dalam 5 menit, Eun Hyun-ssi”

Aku langsung memalingkan wajahku ke belakang, mendapati nona Kim Hyun Joo sudah berdiri di belakangku sambil menatap arlojinya. Aku mengangguk dan tersenyum lalu kembali menatap jalanan depan toko bunga ibuku, dan itu dia yang kutunggu

Deru mesin mobil muatan itu terdengar halus di telingaku, mobil itu berhenti tepat di depanku. Aku segera bergegas memasukkan 5 rangkaian bunga aster terlebih dahulu, lalu 3 rangkaian bunga mawar dicampur bunga lili, dan terakhir 12 rangkaian bunga campuran ke atas mobil muatan itu.

Nona Kim Hyun Joo berjalan mendekati mobil mewah pribadinya sambil menggenggam kunci dari mobil itu.

“Eun Hyun-ssi, naiklah ke mobilku. Tidak pantas rasanya kau ikut mobil muatan itu sementara aku duduk sendirian di mobilku” ajak wanita itu, oh—dia benar-benar wanita baik. Aku tersenyum dan menuruti permintaannya. Aku melangkahkan kakiku mendekat kearah mobil pribadinya. Aku merundukkan tubuhku sedikit untuk menyamakan tinggi badanku dengan jendela mobilnya.

“boleh kah, nona?” tanyaku sambil mengetuk pelan kaca mobilnya, ia mengangguk sambil tersenyum membalas pertanyaanku. Aku menyentuh gagang pintu mobil mahalnya dan membukanya perlahan, takut-takut mobil itu akan kotor dan rusak karenaku. Oke—berhenti berkhayal Song Eun Hyun, mobil mahal ini kualitasnya pasti sangat baik dan tak mudah rusak hanya karena tangan seorang Song Eun Hyun.

Aku duduk di jok mobilnya, di samping kursi kemudi yang diduduki oleh nona Kim Hyun Joo. Ujung kakinya yang jenjang menginjak pedal gas perlahan, ia melajukan mobilnya.

“Eun Hyun-ssi, apa kah kau memiliki saudara kandung? Atau—kau anak tunggal?” tanyanya membantai kesunyian yang sedari tadi tercipta di dalam mobil ini. aku terlalu takut untuk memulai pembicaraan, takut salah mengeluarkan kalimat, takut—ah, repotnya!

Aku mengangguk, “ya, aku punya seorang kakak. Song Eun Jung namanya”

Nona Kim Hyun Joo menginjak pedal rem untuk memberhentikan mobilnya di depan persimpangan dengan lampu merah. Ia menoleh kearahku, “ah—sepertinya aku familiar dengan nama itu. Dia ada dimana sekarang? Sepertinya saat di toko bunga ibumu, aku tak pernah melihat seorang wanita pun.”

Aku mendengus pelan, tersenyum tipis. Mengingat Eun Jung eonni memang jarang sekali pulang ke korea, ia terlalu sibuk dengan pekerjaan dan cabang perusahaan tempatnya dinaungi di Hong Kong. Aku merindukan kakakku.

“dia, di Hongkong. Bekerja sepanjang waktu, sampai susah sekali kembali pulang ke rumah”

Wanita itu mengernyitkan alisnya dan mengusap dagunya, ia bingung.

“Hongkong?” katanya. Aku mengangguk membalas pertanyaannya, ia seakan tak percaya tentang keberadaan kakakku, “memang ada apa, nona? Ada kah sesuatu yang ganjil dengan keberadaan Eun Jung eonni?”

Wanita itu kembali menginjak pedal gas dan mulai melaju dengan kecepatan yang lebih tinggi dari sebelumnya. Ia begitu fokus dengan jalanan kota Seoul yang menghampar di hadapannya. Jari lentiknya menekan sebuah tombol untuk membuka jendela mobilnya, membiarkan angin malam berseliweran di sekitar telinganya dan menerbangkan anak rambutnya.

“begini Eun Hyun-ssi, aku tak tahu ini kebetulan atau apa. Adikku belum pernah mengenalkan calon istrinya kepadaku, kakak sulungnya. Ia bilang, calonnya sibuk bekerja. Di Hong Kong. Dan di dalam rangkaian bunga pesanan adikku, tertulis surat untuk seseorang bernama Song Eun Jung” tuturnya lembut.

Aku menganga, kurasa ini bukan sebuah kebetulan atau hanya tentang kesamaan nama. Itu memang Eun Jung eonni. Dan dia akan segera menikah dengan seorang pengusaha muda yang kaya raya dan super duper berkelas. Dari mana ia mengenal seorang Kim Joon Hyung? Pasalnya terakhir kali ia menghubungiku, ia sempat bercerita bahwa ia bertemu seorang pebisnis muda dari korea yang menguasai perusahaan elektronik besar di Korea. Benar—yang dimaksudnya adalah Kim Joon Hyung

Aku mengangguk, “ya, benar nona. Itu kakakku”

Kim Hyun Joo terkikik geli, “sial, dunia sempit sekali ya”

Aku lagi-lagi mengangguk. Kurasa hari ini aku terlalu banyak mengangguk dan menggelengkan kepalaku.

“kalau kau nona? Apakah nona memiliki saudara selain tuan muda Kim Joon Hyung?” tanyaku gugup, takut aku menyinggung perasaannya.

“panggil aku eonni dan panggil Joon Hyung oppa, baru aku akan menjawabmu” titahnya. Pikiranku seketika kosong dan pandanganku tertuju padanya, pada wanita di depanku. Bagaimana bisa seorang sekelas Kim Hyun Joo menyuruhku untuk memanggilnya dan adiknya dengan sebutan akrab seperti, eonni dan—oppa?

“Eun Hyun-ah?” oh—bahkan dia memanggilku dengan sapaan sehari-hari! Dia tak bercanda—benar benar..

“ye, Hyun Joo-eonni?” balasku sedikit tergagap, aku tak bisa berbicara seakrab ini dengan orang sekaya keluarga Kim.

Wanita itu malah terkekeh pelan, mengabaikan kekakuanku saat memanggil namanya.

“bagus, berlatih lah sebanyak mungkin untuk memanggilku eonni, calon adik ipar”

Aku tersenyum kaku, dan menampar wajahku pelan, ia kini memanggilku dengan sebutan calon adik ipar!

“baiklah—kini waktunya aku menjawab pertanyaanmu. Aku tidak hanya memiliki 1 adik, tetapi ada 1 lagi. Dia—” wanita itu mengamatiku, dari ujung kaki hingga ujung kepala, dan pandangan menyelidiknya terhenti pada logo sekolah pada saku blazer seragamku.

“kau kelas berapa Eun Hyun-ah?” tanyanya.

“ehm—11, eonni” jawabku, ada apa dengan kelasku?

“oh ya, adikku sepertinya sebaya denganmu. Dia juga bersekolah di sekolah yang sama denganmu.” Jelas Hyun joo-eonni.

“sebaya? Kalau boleh tahu siapa namanya?” tanyaku penasaran. Lagi-lagi aku dibuat penasaran dengan wanita yang sedang memarkirkan mobilnya di garasi megah—apa? Sudah sampai? Kenapa perjalanannya cepat sekali?

Hyun Joo-eonni, mencabut kunci mobilnya dan memberikannya kepada seorang lelaki setengah baya berpakaian serba hitam yang sedang berdiri di sebelah mobilnya, “simpan dengan baik kunci itu, Han-ahjussi” ujarnya.

“ayo turun, Eun Hyun-ah. Cepat atau lambat kau akan mengetahui adik bungsuku. Tapi ya—aku tak tahu apakah dia sudah sampai di rumah atau belum. Ia sering pulang telat” ajaknya sambil berjalan memasuki rumah megahnya, pintunya saja sudah dijaga oleh dua orang bertubuh tinggi tegak dengan pakaian serba hitam, rambut disisir rapi, dan kacamata hitam yang membingkai wajah dengan rahang tegasnya.

Aku mengikuti Hyun Joo-eonni, sejujurnya aku sedikit takut dengan kedua orang penjaga rumah ini yang sedari tadi menatapku penuh selidik.

Aku duduk di sofa panjang super empuk di ruang tamu rumah ini, mengamati orang-orang suruhan Hyun Joo-eonni meletakkan rangkaian-rangkaian bunga itu di atas sebuah meja kaca.

“Eun Hyun-ah, tunggu sebentar, oke? Aku akan ke dapur dulu meminta bibi Jung membuatkan minuman untukmu. Silahkan menjelajahi rumah ini jika kau penasaran”

Aku mengangguk mendengar penjelasan Hyun Joo-eonni. Oke, sebenarnya aku masih penasaran dengan anak bungsu keluarga Kim. Kim Jongin kah? Ia memang terkenal kaya, dapat dibuktikan dari setiap motor harley yang dibawanya ke sekolah, dan aku tak melihat satu pun motor harley disini, jadi sepertinya bukan. Atau, Kim Min Seok? Kapten dari tim sepak bola sekolah? Ah—bodoh, Kim Min Seok itu satu angkatan diatasku dan Hyun Joo-eonni bilang dia sebaya denganku. Atau—Kim Jong Dae? Anggota kelompok paduan suara sekolah. Hm—bisa jadi. Tapi, setahuku ia hanya memiliki 1 adik perempuan. Berarti bukan dia. Lalu siapa? Siapa lagi orang yang kukenal yang bermarga Kim?

Aku berjalan menyusuri lorong-lorong rumah ini, sepertinya setiap lorong memiliki fungsi masing-masing. Setiap lorong juga memiliki atap cembung berlapiskan kaca transparan yang langsung menghubungkan dengan langit diatasnya. Aku tak tahu—sepertinya tak semua lorong memiliki kaca cembung. Karena lorong terakhir yang berada di depanku ini hanya menggunakan atap keramik marmer biasa, meskipun juga sama mewahnya. Tetapi ini berbeda. Jika pada umumnya lorong di rumah ini memiliki beberapa ruangan, lorong ini tidak. Ini hanya memiliki satu ruangan. Dan di dindingnya terpasang banyak lukisan yang telah dibingkai. Sangat menarik.

“maaf, kau siapa, nona?”

Aku tersentak. Apakah orang yang barusan memanggilku adalah salah satu penjaga rumah ini? aku siap-siap menunjukkan tampang memelasku dan menghadap kebelakang.

“aku Song Eun—Kim Joon Myun?”

Ini benar Kim Joon Myun kan? Teman sekelasku? Yang tadi sore kutemukan tengah melukis pemandangan sekolah sore hari?

“ya, aku. Jadi ini yang dimaksud Nuna? Anak bungsu keluarga Song yang bersedia datang kesini untuk mengantarkan pesanan bunga Hyung?” tanyanya sambil menatapku malas. Penampilannya tak jauh beda dengan yang kulihat di sekolah tadi sore, hanya saja sekarang sudah tidak memakai seragam lagi. Ia sekarang menggunakan kaos oblong berwarna biru tua dengan tulisan ‘Berlin’ pada bagian depannya dan celana jeans panjang. Dan—tangannya masih sama, masih banyak cat kering di sana. Kutebak, ia sedang melukis.

“ikut aku” titahnya sambil berjalan mendahuluiku, membuka pintu dari satu-satunya ruangan di lorong ini. aku mengikuti langkahnya, memasuki ruangan berpintu putih itu, dan—

Bravo!

Ini ruangan melukis pri-ba-di. Ingat, pribadi!

Joon Myun duduk di atas kursi berkaki besi di depan stand kanvasnya. Aku menatap ruangan ini, tepatnya mengagumi. Disini banyak sekali lukisan yang benar-benar indah dan memiliki nilai seni tinggi dan tentu saja ada deretan kanvas polos yang belum diolesi cat sama sekali. ada gambar sungai Colorado, menara miring Pisa, menara Eiffel, dan—oh, lukisan seorang wanita paruh baya yang amat sangat cantik. Kurasa itu nyonya Kim. Ibunya.

“ini semua lukisanmu, Joon Myun-ah?” tanyaku sambil meraba beberapa lukisan yang sudah dibingkai dan dilapisi dengan kaca mengkilap.

Joon Myun mengangguk, “ya, dan semua lukisan yang menarik perhatianmu di lorong tadi.”

Aku tersenyum dan menunduk malu. bagaimana bisa ia mengetahui bahwa lukisan-lukisan yang dipajang itu sangat menarik perhatianku?

“baiklah, Song Eun Hyun. Jangan sok malu seperti itu, oke? Itu menjijikkan”

Aku merengut dan mendorong pelan punggungnya lalu membanting tubuhku di salah satu sofa di pojok ruangan, “hey, kurasa dunia begitu sempit” ucapku mengalihkan topik pembicaraan. Joon Myun yang baru saja selesai mencampurkan beberapa warna di palet catnya menatapku.

“apa?” tanyanya.

Aku menyenderkan punggungku ke lengan sofa dan memperhatikan lantai, yang seribu kali lebih tidak menarik dibanding lukisan-lukisan yang dibuatnya.

“kakakku, Eun Jung-eonni, adalah calon istri kakakmu”

Joon Myun berdecak kesal, “yang itu sih aku sudah tahu. Dasar tidak update

Aku membulatkan mataku, bagaimana pria ini sudah tahu tentang berita panas ini? bahkan Hyun Joo-eonni baru mengetahuinya barusan.

“sejak kapan kau tahu?” tanyaku sambil memainkan ujung-ujung kuku panjangku.

“sejak pertama kali aku diajak Hyung ke Hong Kong. Ia mengenalkan kakakmu kepadaku. ya, sekitar—” Joon Myun berjalan kearah kalender yang terpajang di dinding ruangan, menghitung beberapa tanggal dan bulan. “2 tahun yang lalu” lanjutnya.

“Ya! Kim Joon Myun! Kau sudah mengetahuinya selama itu dan tidak memberitahuku? Setidaknya kau beritahu kakak sulungmu” pekikku sambil mengacak rambutku, mengusap wajahku dan menekuk wajahku rapi-rapi. Aku sungguh seperti kambing dungu disini.

“kupikir kau sudah tahu. Dan lagipula aku tak begitu dekat denganmu. Aku terlalu sibuk dengan lukisan dan teman-temanku. Aku bingung mau memulai dari mana. Kan akan sangat aneh, jika tiba-tiba aku berjalan kearahmu dan mengatakan bahwa kakakmu adalah pacar kakakku. Lagipula aku jarang bertemu nuna” jelasnya sambil mengendikkan bahu asal, lalu kembali menggoreskan ujung kuasnya diatas kanvasnya.

Aku mencibir, “dasar sok sibuk”. Ia meletakkan kuasnya di dalam sebuah gelas bening berisi air.

Ia duduk di sampingku dan menaikkan kedua kakinya keatas sofa. Aku mendelikkan mataku kesal

“mau apa kau? Belum cukup membuatku seperti kambing dungu?”

Ia menghembuskan napasnya pelan dan membenarkan posisi duduknya, “baiklah nona Song, aku ingin berkonsultasi”

Aku meliriknya, ia terlihat gugup mengutarakan masalahnya di depanku.

“ini praktek dadakan dan aku tak ada persiapan apapun. Bisa pinjam selembar kertas dan pulpen?” tanyaku. Ia mengangguk dan bergegas keluar ruangan ini.

Ia kembali dengan tergesa dan dengan menggenggam selembar kertas berwarna putih gading serta sebuah pulpen bertinta hitam. Ia menyerahkannya kepadaku.

“oke, jangan gugup. Anggap saja aku sebagai orang asing yang hanya berperan sebagai konsultanmu dan kau klienku. Aku tak akan membeberkan masalah klienku pada siapapun, itu prinsipku”

Ia mengangguk dan menarik napas dalam-dalam, “aku—menyukai Yi Xing”

Aku menatapnya dalam. Tidak, aku yakin Joon Myun bukan seorang gay.

“aku tak tahu bahwa aku bisa menjadi seorang gay” ucapnya parau, ia terlihat putus asa. Aku mencatat setiap permasalahan yang menjeratnya diatas kertas putih gading itu.

“biar kupastikan dulu. Apa yang kau sukai dari Yi Xing?” tanyaku dan memasukkan pertanyaan pertamaku itu di dalam list pertanyaan yang barusan kubuat.

Ia menunduk, “sifatnya. Aku yakin aku merasa nyaman bersamanya.”

Aku mencatat lagi. “ah, selain itu?”

“aku menyukai caranya memperlakukanku sebagai sahabatnya”

Aku terkekeh, “begini Joon Myun-ah, sepertinya kau bukan seorang gay. Kau hanya merasa nyaman bersahabat dengannya. Jika saja Zhang Yi Xing seorang gadis, kau pasti akan menyukainya juga kan? Hanya sayangnya, Zhang Yi Xing yang kau lihat sekarang ini dalam wujud laki-laki. Kau bukan seorang gay, kau bahkan tak menyebutkan kau menyukainya dari segi wajah atau wujudnya kan? Percayalah, kau itu normal, kok. Cobalah menyukai seorang gadis. Carilah seorang gadis yang membuatmu nyaman seperti yang kau rasakan saat bersama Zhang Yi Xing”

Ia tertegun. Ia menatapku lamat-lamat, aku tersenyum menenangkannya, “kau hanya tak bisa mengekspresikan kesukaanmu. Kau belum mengerti apa artinya menyukai. Apalagi cinta. Kau masih belum mengerti itu, Joon Myun-ah”

“tapi aku merasa tak suka saat melihatnya berciuman bersama gadisnya”

Aku tertawa lagi, “nah, itu lah yang dirasakan Baekhyun saat aku sedang bersamamu tadi sore. Ia hanya cemburu karena sahabatnya bersama orang lain. Tidak lebih. Tidak ada rasa suka disana”

Ia melemaskan otot-otot tubuhnya yang sedari tadi terlihat menegang karena gugup. Joon Myun mengusap wajahnya kasar dan tertawa pelan, “haha..lucu sekali. Padahal aku berencana ke psikiater besok untuk menghilangkan kelainanku. Tapi ternyata kau bilang aku bukan gay. Terima kasih Eun Hyun-ah”

Ia beringsut duduk di lantai dan menumpukan dagunya diatas meja. Aku tersenyum. Aku senang membuat seseorang kembali tenang tanpa dihantui oleh masalah. Dia sudah tidak kaku berbicara denganku. Bahkan ia menyebutku dengan panggilan nama informal.

“makanya jangan mengklaim dirimu seenak jidatmu sendiri, Kim Joon Myun” ejekku sambil memukul pundaknya pelan. Aku berjalan kearah sebuah jendela besar yang tralisnya dibuka, membuat angin malam meniup wajahku. Sejuk sekali rasanya.

“ehm—Eun Hyun-ah”

Aku menoleh ke belakangku, dimana tempat suara itu berasal. Joon Myun sudah berdiri di belakangku sambil melihatku takut-takut.

“ya?”

“bisa bantu aku?”

Alisku bertaut, “apa yang bisa kubantu?”

“untuk menghilangkan perasaanku yang tidak normal ini sepenuhnya, aku butuh bantuanmu” ucapnya. Itu membuatku kesal, bahasanya terlalu rumit dan bertele-tele membuatku tak sabar mengetahui titik pusat ucapannya.

“Joon Myun-ah, tak usah bertele-tele, deh. Langsung saja ke maksud utamamu. Apa yang harus kubantu?”

Tiba-tiba ia memelukku erat, sangat erat. Ia melingkarkan lengannya di sekitar tubuhku, ia menumpukan dagunya di bahuku. tentu saja aku kaget. Aku tak bisa berhenti membelalakkan mataku. Badanku menegang, pipiku akan memerah setelah ini.

“jadi pacarku, Song Eun Hyun”

TBC

Gimana nih, readers? Aku udah mulai memperpanjang ceritanya di chapter ini, karena kalau kuliat dari chapter sebelumnya, itu kurang panjang dan gak menarik. mohon kritik dan sarannya~ kamsahamnidaa;)

4 pemikiran pada “When The Key Of Problem Need A Solution [Chapter 3]

  1. what the hell ?!
    jangan terima Eun Hyun ! masa Baek harus sama mantan istrinya lagi sih ?

    menurutku udah lumayan panjang, tapi tetap ngegantung, Thor !
    udah itu aja…
    ditunggu lanjutannya…

    Fighting !

  2. what the hell ?!
    mudah-mudahan Eun Hyun gak nerima, deh…
    entar gimana ma Baek kalau Eun Hyun nerima Su Ho ? masa Baek jadi ma mantan istrinya lagi ?
    udah lumayan panjang sih, cuman masih tetap ngegantung…
    itu aja…
    ditunggu lanjutannya…

    Fighting !

  3. Aduh, Joon Myeon, ulang tahun ke-16 dapet Lamborgini dari orang lain pula. Dan… dan…. kenapa langsung nembak Eun Hyun gitu aja? Ah, Joon Myeon di ff manapun gampang banget suka sama cewek *di ff saya juga gitu -_-v
    Ditunggu kelanjutannya ya author… semangaaaatt……. dan, saya masih penasaran dengan misteri mantan istri Baek Hyun lol. Eun Hyun dikelilingi orang-orang bermasalah (?)

Tinggalkan Balasan ke Ulya aulia29 Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s