What? Married With Him? (Chapter 3)

What? Married with him? [chapter 3]

author : M_SEO

gendre : romance, litle comedy
rating : 15
length : chapter
main cast : Oh sehun, Lee minjung oc
twitter : @megasaktie

Last chapter

Tepat saat aku berteriak pada sehun, dan pada saat itu pula lampu kamar hotelku, maksudku lebih tepatnya kami. MATI.

Chapter 3

Shit, kesialan macam apa ini? Kenapa sangat beruntun. Baiklah. Kali ini sepertinya bukan kesialan lagi. Tapi ini seperti takdir buruk yang harus kujalani. Menurutmu apa ini jika bukan takdir?.

“Kya!!!” teriakku refleks karena tak bisa melihat apapun disini.

“Ya!!” teriak Sehun geram. Entahlah, mungkin dia lelah mendengar aku berteriak. Atau mungkin dia juga takut karena lampunya mati. Tidak aku tidak takut, aku hanya refleks. Jadi mungkin dia takut karena lampunya mati. Atau bisa saja dia depresi karena netizen dan perjodohan itu.

“kenapa kau berteriak terus hah? Telingaku sakit mendengar kau berteriak. Dan bisa-bisanya lampu dihotel ini mati” geramnya. Baiklah aku akan menyimpulkan kalau dia mulai lelah dengan kehidupannya sekarang sama sepertiku.

“ponselku sekarang dimana? Dimana ponselku?” geram Sehun yang membuat pundakku sedikit gemetar karena takut. “kenapa kau marah marah hah? Kenapa tak kau cari saja ponselmu itu?”omelku pada sehun. Walaupun aku sedikit takut pada anak ini, setidaknya dia itu bukan manusia yang sudah mati karena tidak bisa ku tolong saat operasi.

Akhirnya Sehun pun memukan ponselnya yang ternyata ada disaku celananya sendiri.Bodoh. Itulah satu kata yang bisa mewakili Sehun saat ini dimataku.

Aku tak bisa bayangkan jika perjodohan ini akan benar benar terjadi. Jiwa ragaku masih belum siap menerima kenyataan kalau aku dijodohkan dengan namja bodoh sepertinya.

“Ya!!! Suho hyung kenapa lampu dihotelmu mati huh? Hotelmu ini mengalami kebangkrutan sampai tak sanggup membayar listrik” teriaknya bersungut-sungut.

Aku yang sekarang tengah terduduk diujung ranjang hanya bisa mendengarkan teriakan Sehun yang bersungut-sunggut dan sesekali menggelengkan kepalaku.

Dapat kusimpulkan kalau sehun menutupi sifat menyebalkannya itu di balik wajah malaikatnya itu. Aku bersumpah fans-fans nya buta menilai Sehun.

“Mbo? Appa dan eomma sudah menyewa hotelmu sebelum aku datang ke Hotelmu?” teriak Sehun histeris. Sebenarnya apa yang mereka bicarakan? Dan kenapa firasatku mengatakan jika sekarang aku tengah berada di posisi yang buruk.

“mbo? Ini salah satu rencana mereka?” teriak Sehun yang terdengar semakin histeris. Baiklah, firasatku kali ini sudah benar benar buruk.

Tanpa pikir panjang lagi aku berlari menghampiri pintu untuk keluar. Dan entah Dewa mana yang telah mengutuk hari ini menjadi hari paling sial untukku. Pintunya tak bisa terbuka. Dan hipotesaku mengatakan jika pintu ini terkunci dari luar.

“Sehun!!” teriakku Histeris karena pintu benar benar dikunci dari luar. “aish!! Shit!!” teriaknya geram. Aku tak bisa melihatnya dengan jelas, namun samar-samar kulihat dia mengacak rambutnya frustasi.

Hanya dua kata yang ada dikepalaku saat ini. AKU TAMAT.

***

Kudengar suara teriakan yang sangat kukenali. Itu seperti suara eomma. Dengan sangat perlahan kubuka mataku. Aku masih takut dengan mimpi burukku tadi malam. Aku harap itu hanya mimpi konyol yang tidak akan pernah terjadi.

“Lee Minjung !!! Oh Sehun!!” teriaknya yang membuatku secara paksa membuka mataku. “kalian ini pasangan yang malas” ujar eomma sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

Kulihat juga disebelahnya ada seorang ahjumma yang kuyakini dia adalah eommanya Sehun. Karena sedari tadi sehun menatapnya tanpa berkedip.

Aish, aku sampai lupa dengan pertengkaranku dan sehun untuk mendapatkan ranjang ini. Dan berakhir kami harus berbagi ranjang.

“Oh sehun, eomma tidak pernah mengajarimu untuk meniduri seorang gadis” ujar eomma sehun dengan ekspresi wajah yang tak dapat kumengerti. “untung saja kau meniduri gadis yang tepat. Jika saja yeoja itu bukan Minjung. Sudah eomma pecat kau sebagai anak”ujar eomma sehun bersungut-sungut.

Baiklah, sekarang aku tahu alasan kenapa sehun cerewet dan sering bersungut-sungut jika bicara. Karena sudah bisa kupastikan kalau itu adalah turunan dari eommanya.

“eommanim, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku bisa menjelaskannya” ujarku. Aku tidak sedang membela sehun. Tapi aku sedang membela diriku, mana mungkin aku merelaka mereka menuduh tubuh suciku ini direnggut oleh namja seperti Sehun.

“Sudahlah kalian berdua segera mandi. Karena jam 1 nanti acara tunangan kalian akan dimulai” ujar eommaku.

Akhirnya eomma dan eomma sehun meninggalkan kami berdua. Kulirik mataku kearah sehun.

Bagaimana bisa dia sedari tadi tak membuka suaranya.

Dan sekarang dapat kulihat dia masih mengedip kedipkan matanya. Baiklah, dapat kusimpulkan kalau sedari tadi otaknya masih belum berjalan dengan lancar.

Baiklah, apa jadinya nanti otak anakku jika aku benar-benar menikah dengan namja ini. Betapa malangnya dia jika harus mempunyai appa sepertinya ini. Aku sangat tidak sanggup jika anakku menanggung penderitaan semacan itu.

Oh, andaikan saja ada sebuah miracle yang tiba-tiba menghinggapi kehidupanku. Andaikan ada makhluk yang bisa membawa-ku ke mesin waktu. Aku akan memilih hidup dimana aku hidup dengan damai.

“Ya Oh Sehun! Sadarlah!” seruku yang mulai menggoyang-goyangkan badannya Sehun agar segera sadar dari mimpi buruk ini.

“apa aku bermimpi?” tanya sehun padaku dengan tatapan yang kosong. Sepertinya jiwa Sehun belum sepenuhnya kembali.

“sehun kita sedang berada di dunia nyata sekarang” jawabku dengan malas pada sehun, anak ini benar-benar menyebalkan. “JADI CEPATLAH SADAR!” seruku pada sehun yang sedari tadi tidak sadar.

Dunia sekarang memang sangat kejam.

***

Dan sekarang disinilah aku dengan kesadaran penuh bersama sehun dan jangan lupa dengan sepasang cincin yang melingkar indah di salah satu jemari kami sekarang.

Ini gila. Benar-benar gila. Aku baru saja bertunangan dengan sehun. Apa aku memang harus dirawat oleh musuhku sendiri di rumah sakit jiwa karena kejadian ini?

Kulihat keluarga-ku maupun keluarga sehun terlihat bahagia atas pertunangan ini. Apa hanya aku dan sehun saja yang tak bahagia atas pertunangan ini? Kurasa iya hanya kami berdua yang menderita atas pertunangan ini.

“kurasa catatan yang ku buat semasa kuliah sekarang sudah tak berguna” gumam-ku dengan tatapan mataku yang jauh menerawang. “catatan apa?” tanya sehun yang entah sejak kapan ada disebelahku. “catatan type namja ideal-ku” jawabku dengan santai pada sehun tanpa melepaskan pandangan mataku untuk terus menerawang jauh kedepan.

Dan setelah itu aku mendengar gelak tawa dari namja yang sekarang berstatus tunangan-ku ini. Kulirik Sehun dengan death glare-ku. Tapi sehun terus saja tertawa, padahal aku sudah menatapnya dengan death glare-ku setidaknya kurang lebih tiga puluh detik.

Lalu  sehun akhirnya melirik kearah-ku tanpa menghentikan tawanya. “kitakan baru tunangan belum menikah” ujarnya sembari terus tertawa.

Sedangkan aku hanya mengedipkan mataku, dan belum mau merespon sebelum sehun berhenti tertawa. Setelah sekian lama aku memamerkan foker face-ku akhirnya sehun menghentikan tawanya dan mulai berdeham.

“kita bisa membatalkan pertunangan ini” ujar Sehun yang membuatku mengerutkan dahi-ku, bukan karena aku tak mengerti melainkan aku sangat mengerti. Apa anak ini sudah gila? Apa katanya? Membatalkan? . tapi idenya cukup jenius untuk orang bodoh plus idiot sepertinya.

“kita buat kekacauan” ujar sehun dengan antusias yang bisa kulihat dari binaran matanya. Tapi kenapa pirasatku mengatakan kalau ini malah akan membawa kita ke dalam lubang yang semakin dalam. Entahlah. Apa ini hanya perasaanku saja.

“kau yakin akan membuat kekacauan?” tanyaku pada sehun karena aku tak yakin dengan gagasan namja bernama oh sehun ini.

“aku yakin 100%” ujar sehun dengan sangat yakin. “kau tidak akan membuat kekacauan seperti rencana serampanganmu kemarin kan?” tanyaku lagi pada sehun. Sebenarnya hati kecilku ini mengatakan kalau kita jangan melakukan apapun. Kita hanya perlu mengalir seperti air.

“percayalah padaku” ujar sehun dengan nada yang entahlah aku sedikit mual mendengarnya mengatakan itu. Atau mungkin perutku ini memang terlalu sensitif jika mendengar kata-kata yang menjijikan.

Sekarang dapat kulihat senyum merekah di wajahnya yang tampan itu. Oh tidak, apa aku sudah gila mengatakannya tampan. Pasti salah satu sel otak-ku mengalami kesalahan.

Tapi sehun memang tampan, namun sayang otak dan kepribadiannya itu tidak sesuai dengan wajah tampan seperti malaikatnya. Sungguh Tuhan itu terlalu baik pada namja aneh plus menyebalkan ini.

“Ya! Tersenyumlah!” serunya padaku dan langsung menyentuh sudut sudut bibirku untuk bisa mengukir senyum di wajahku. Akupun akhirnya tersenyum tulus pada sehun. Untuk pertama kalinya aku tersenyum dengan tulus di hadapan sehun sejak pertama kali  aku bertemu dengannya dipulau ini.

“Mr. Minjung ternyata wajahmu lumayan jika sedang tersenyum” ujarnya sembari terus menelisik wajahku. Sedangkan aku yang awalnya tersenyum, sekarang senyumku sudah luntur dan digantikan oleh wajah sebalku.

“kau sedang memuji kecantikanku tapi kenapa menggunakan kata Mr hah?” desisku sebal. “ya ampun uri Minjung marah” ledek sehun padaku yang membuat hatiku semakin dongkol saja.

Dia memang sangat menyebalkan sebagai seorang namja. Jika aku benar-benar menikah dengan namja ini, mungkin kehidupanku tidak akan mengenal yang namanya romantic.

“aku turut prihatin atas kehidupan istrimu dimasa depan” desisku dengan wajah prihatinku pada sehun. “terserah padamu” ujar sehun dengan wajah yang terlihat masa bodo yang membuatku semakin saja dongkol.

Dia adalah namja yang sangat menyebalkan yang pernah kutemui.

***

Sudah hampir seminggu namaku terus saja disebut-sebut di media masa. Aku merasa menjadi seorang Idol. Padahal aku hanya bertunangan dengan namja yang bernama Oh Sehun. Apalagi jika aku bertunangan dengan seorang pangeran.

Aku berjalan di  lorong rumah sakit bersama asistent baruku yang bernama Han Wendy. Sebenarnya kami sudah saling mengenal cukup lama. Dulu rumah wendy eonni ada disebelah rumahku. Tapi saat eonni hampir selesai kuliah keperawatan, keluarganya memutuskan untuk pindah rumah.

“eonni, pekerjaanmu di rumah sakit ini masih sama seperti pekerjaanmu dirumah sakit yang lama” jelasku pada wendy eonni. Tapi bukanya memberi senyum wendy eonni malah memberiku death glare.

“baiklah baiklah suster Han” ujarku karna malas melihat death glare milik Wendy eonni yang sangat tidak cocok dengan wajah cantiknya itu.

“jika waktunya bekerja kau harus memanggil eonni dengan sebutan suster Han. Mengerti?” jelasnya padaku, sedangkan aku hanya membalasnya dengan anggukan malas ala kadarnya.

“sekarang waktunya makan siang. Lebih baik kita makan siang terlebih dahulu” ujarku pada wendy eonni, dan aku berjalan memimpinnya didepan. Ini selalu terjadi, dimana aku selalu yang memimpin jalan. Aku jadi merasa kalau aku lah yang paling mengetahui jalan.

Sekarang aku tengah makan berdua dengan wendy eonni. Aku sibuk sekali dengan makanan, sampai aku lupa kalau dihadapanku ada wendy eonni.

“kau benar-benar tunangan dengan Idol yang bernama Oh Sehun?” tanya Wendy eonni secara tiba-tiba padaku yang hampir saja membuat-ku menyemburkan semua makanan yang ada dalam mulutku.

Aku melihat kearah Wendy eonni dengan wajah sebalku. “iya” jawabku seadanya pada Wendy eonni. Menyebalkan jika harus membicarakan soal tunangan itu saat makan.

“aku dijodohkan oleh appa dengan sehun” ujarku pada Wendy eonni. Kulihat wendy eonni mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.

“apa kau bahagia?” tanya Wendy eonni padaku. Aku sungguh tak mengerti maksud dari pertanyaan eonni. Maksudku kenapa eonni bertanya apa kau bahagia?. Dan entah kenapa hati kecilku mengatakan kalau dibalik pertanyaan itu ada sesuatu yang ingin dikatakan eonni padaku.

“entahlah” jawabku ambigu pada eonni. Aku yakin, dibalik pertanyaan itu ada sesuatu yang eonni coba untuk bisa diketahuinya dan untuk bisa mengatakan sesuatu.

“apa ingatanmu sudah mulai membaik?” tanya eonni lagi padaku dengan ekspresi wajah yang tak bisa ku terjemahkan. Aku yakin, eonni pasti menyembunyikan sesuatu dariku.

“sama sekali tak ada perkembangan” dengusku karena otakku sama sekali tak pulih. Dan sebagian ingatanku juga tak bisa kembali ku ingat. Aku hanya mengetahui kejadian yang kulupakan jika ada seseorang yang menceritakannya padaku, itu juga belum tentu aku mengingat kejadian itu. Menjengkelkan memang. Padahal aku seorang dokter, tapi aku tak bisa menyembuhkan kembali sebagian ingatanku.

“kau harus semangat. Suatu hari nanti kau pasti mengingat semua kejadian yang kau lupakan.” Ujar eonni padaku dengan senyumnya. Ah, senyumnya memang yang terbaik. Pantas saja banyak namja yang memujanya. Tapi aku tak mengerti dengan pikiran wendy eonni. Karena sampai sekarang dia terus saja sendiri.

Mungkin aku akan memberikan hipotesa jika wendy eonni menyukai seseorang. Tapi aku tak yakin dengan siapa yang eonni suka.

“uri Minjung!” seru seseorang didepan pintu kantin rumah sakit, yang hampir saja membuatku dan Wendy eonni terjungkal. Orang orang yang ada dikantin juga langsung mengalihkan pandagannya pada makhluk yang berteriak meneriakan namaku di kantin.

“Minjung!” serunya lagi sembari berlari kearahku. Gaya larinya tak pernah berubah dan selalu saja aneh. Aku harus maklum padanya, menurutku gaya anehnya ini sudah paling normal jika dibandingkan dengan teman-temannya yang ada di klub otaku seoul.

Sekarang Minho oppa sudah memelukku dengan erat, yang membuatku sesak nafas. “oppa lepaskan. Aku bisa mati jika kau memeluku seperti itu!” seruku pada Minho oppa sembari memukul-mukul punggung Minho oppa dengan punggung sendok yang sedang kupegang.

“Ya!” serunya dengan manja padaku, namun akhirnya Minho oppa melepaskan pelukannya padaku. “kau tidak rindu padaku huh?” godanya padaku dengan wajah tampan nan rupawannya itu. “aku memang rindu pada oppa” ujarku dengan senyumku. “TAPI TAK MALUKAH OPPA MEMELUKKU SEPERTI ITU!” seruku histeris pada Minho oppa, sedangkan Minho oppa hanya tersenyum bodoh dengan deretan gigi putihnya.

Tiba-tiba Wendy eonni berdeham keras. Ah, aku sampai lupa kalau ada Wendy eonni. Minho oppa melirik Wendy eonni dengan wajah sebal. Aku tahu pasti yang dipikirkan oleh Minho Oppa. Pasti dia sedang berpikir siapa yang berani-beraninya menghancurkan moment saling rindu kakak beradik.

Dan dapat kulihat wajah Minho oppa berubah drastis saat sudah melihat Wendy eonni, sedangkan Wendy eonni hanya menyeringai puas pada Minho oppa.

“Tsundere!!!” seru Minho oppa dengan histeris sembari menunjuk-nunjuk wajah Wendy eonni. Ah, aku sampai lupa kalau mereka bertemu pasti selalu berkelahi. Dan diantara mereka tidak pernah ada yang mau mengalah. Mereka berdua memang sangat egois dan sama sama keras kepala. Tapi setidaknya mereka itu memiliki otak yang cerdas, tidak seperti sehun yang sepertinya tidak pernah menggunakan otaknya untuk berpikir. Aku tak yakin dia bisa menjadi president yang baik untuk perusahaan aboeji. Kenapa aku jadi memikirkan sehun. Otakku sepertinya sudah mulai bermasalah.

Tapi Wendy eonni dan Minho oppa itu sangat cocok. Jika mereka bersama pasti akan menyenangkan. Dan dirumahnya juga pasti akan sering ada piring terbang alias perang dunia ketiga. Tapi sayangnya Minho oppa sudah mempunyai pacar yaitu musuh bebuyutanku yang bernama Shin Nara.

Kenapa aku membencinya? Karena dia sudah memacari Minho oppa. Padahal aku sudah melarangnya untuk memacari Minho Oppa. Tapi dia terus saja keras kepala untuk memacari Minho Oppa.

Jangan salah sangka dulu. Aku tak mencintai Minho oppa. Dulu, aku sangat berobsesi untuk menyatukan Wendy eonni dan Minho oppa. Tapi gagal karena kedatangan Shin Nara. Dasar Shin Nara menyebalkan. Dia tidak pantas untuk bersanding dengan Minho Oppa.

“Ya! Apa yang kau lakukan dengan uri minjung” cercah minho oppa yang sekarang sudah duduk disebelah Wendy eonni. “menurutmu apa yang ku lakukan disini. Tentu saja aku sedang makan siang dengan minjung” ledek wendy eonni sembari menoyor kepala Minho oppa.

Sudah kukatakan jika mereka itu selalu saja berkelahi. “sudahlah jangan bertengkar” ujarku yang menengahi Minho oppa dan Wendy eonni.

Kucondongkan kepalaku mendekati mereka berdua yang berada di hadapanku. “kalian tahu? Kalian seperti pasangan yang baru menikah lalu bertengkar. Dan aku disini sebagai yeoja yang membuat eonni cemburu” godaku dengan cengiranku, sebelum mereka memukul kepalaku, aku segera menjauhkan kepalaku dari mereka berdua dan berada di posisi semula.

“YA!!” seru Minho oppa dan Wendy eonni dengan kompak, sedangkan aku hanya tersenyum aneh kearah mereka berdua.

“Minjung, kapan kita bisa mengadakan double date?” tanya Minhoo oppa yang membuatku tersedak oleh salivaku sendiri.

“entahlah, aku tak yakin. Lagi pula kenapa kita harus melakukan double date? Lebih baik kencan dengan pasangan masing-masing kan” jelasku padaMinho Oppa. Sebenarnya, itu yang disebut mengelak dengan sangat halus. Menggantung lebih baikkan.

“hey, orang lain juga melakukan hal itu” ujar Minhooppa padaku. Baiklah memang seharusnya kita melakukan itu. Tapi masalahnya adalah, memangnya sehun mau melakukan double date konyol ini? Akan sangat memalukan bukan jika aku yang memintanya.

“aku tak janji” ujarku pada Minho oppa yang sedari tadi  menampilkan wajah berharapnya itu.

“kalian menganggapku apa disini huh?” tanya Wendy eonni yang menyindirku dan Minho oppa. “kau kan tidak mempunyai pasangan” ledek minho oppa pada eonni dengan bangga.

“aku akan mendapatkannya” ujar Wendy eonni dengan tegas. Sudah kukatakan mereka berdua itu sama sama keras kepala dan tidak pernah ada yang mau mengalah.

“kami akan menunggu!” ledek Minho oppa pada eonni dengan senang. Aku tahu mereka itu sama sama baik, tapi yang ku bingungkan adalah kenapa setiap mereka bertemu mereka selalu saja bertengkar.

Kulihat Wendy eonni mendelik kesal kearah Minho oppa. Dan aku yang selalu menjadi pihak tengah diantara mereka berdua hanya bisa menghembuskan nafas kasarku.

Sepertinya dulu aku sudah gila karena terobsesi untuk menjadikan mereka pasangan.

***

Sekarang aku tengah berada disebuah restoran prancis. Aku dan sehun sudah memutuskan untuk bertemu disini.

Tolong diingat, kami disini bukan untuk berkencan. Tapi untuk mendiskusikan masa depan kami berdua.

Maksudku masa depan yang masih kami harapkan untuk tidak menjadi sepasang suami istri. Maka dari itu kami akan membuat perjanjian dan akan membuat banyak rencana yang akan menghancurkan tunangan kami.

“jadi sekarang apa rencanamu?” tanyaku sehun tanpa basa basi. Aku malas berlama-lama bersama dengan sehun.  Sepertinya sekarang aku sudah tak terlalu membencinya. Hanya saja aku malas melihat wajah malaikatnya itu. Jika aku menjadi psikolog akan kuoperasi kepribadiannya itu agar seimbang dengan wajah tampannya itu.

“kupikir, kita harus memulainya dari menandatangani kontrak terlebih dahulu.” Ujar sehun yang memberiku beberapa lembar kertas yang sudah memakai materai dibagian akhir. Ku baca satu persatu isi kontrak itu secara mendetail.

Kontrak ini berisi kontrak jika kami menikah. Mulai dari berapa lama kami menikah sampai tugas masing-masing. Apa sehun takut jika semua rencananya gagal. Lalu untuk apa dia melakukannya jika takut gagal. Terserahlah, aku hanya mengikutinya seperti air saja yang mengalir.

Ku tandangani saja kontrak itu tanpa berpikir panjang. “Ya! Kenapa kau dengan mudahnya menandatangani kontrak itu?” seru sehun dengan bersungut sungut, sedangkan aku hanya mengernyitkan alisku karena aku tak tahu harus melakukan apa.

“cepat atau lambat, aku memang harus menadatangani kontrak ini kan” jawabku acuh. “lagi pula aku tak keberatan melakukan itu semua” ujarku dengan santai. Memang benar, aku tak keberatan melakukan itu semua.

Sehun akan selalu memberiku uang untuk kebutuhan rumah tangga dan kebutuhanku. Lalu aku juga mempunyai gaji sendiri dari pekerjaanku. Soal bersih bersih aku akan meminta bantuan asistent rumah tangga. Itu bukan masalahkan, lagi pula di dalam kontraknya tak tertulis harus menggunakan tenagaku sendirikan.

“kau yakin?” tanya sehun padaku. “tentu, selama tak ada hubungan intim suami istri aku tak keberatan” ujarku pada sehun dengan santai.

“Mr. Minjung sifat anehmu masih ada sampai sekarang? Tak kusangka” decak sehun padaku. Entahlah, sudah ku katakan jika sebagian ingatanku hilang setelah kecelakaan itu. Jadi aku tak mengingat apa saja yang ku lakukan dengan sehun semasa SMA dulu.

“sehun” panggilku pada sehun. Ini saatnya aku mengatakan tentang permintaan minho oppa padaku tempo hari. “kenapa kau memanggilku?” tanya sehun dengan cuek sembari memainkan ponselnya.

“ini jika kau mau dan tak keberatan. Tidak ada unsur pemaksaan disini” ujarku dengan hati-hati pada sehun, tapi malah membuat sehun mendongakan kepalanya kearahku. Jika dia melihat wajahku, aku akan malu mengatakannya. Dimana image wanita berkelasku?

“kenapa? Apa kau akan mengakui ketampanan dan kebaikanku?” tanya sehun dengan tingkat kenarsisan yang mungkin setara dengan taehyung. Akhirnya taehyung mendapatkan makhluk yang tingkat kenarsisannya sama.

Dan saat aku mendengar kenarsisannya itu, mulutku dengan refleks menganga karena shok dengan apa yang kudengar. “oh, apa jangan jangan kau akan menyatakan cinta padaku?” tanyanya padaku dengan ekspresi wajah yang tak dapat ku jelaskan karena terlalu aneh. Dan sekarang aku sudah kehabisan akal karena kelakuan sehun si calon suami yang sepertinya tidak akan menjadi suami idaman.

“jangan mimpi di jam segini” dengusku pada sehun karena sebal dengan kelakuan narsisnya itu. “lalu?”  tanya sehun dengan wajah bingungnya yang terlihat seperti anak kecil. Ah, lucunya. Tapi sayang dia menyebalkan.

“ehm, Minho oppa meminta kita untuk kencan bersama”

TBC

Iklan

28 pemikiran pada “What? Married With Him? (Chapter 3)

  1. *sehun memang tampan, namun sayang otak dan kepribadiannya itu tidak sesuai dengan wajah tampan seperti malaikatnya.* LOL ngakak baca bagian ini wkwkw

    Aku bca chap selanjutnya ya
    Hwaiting^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s