Classmates (Chapter 1)

j9xfKTqKoxDar

Classmates (Chapter 1)
*The Homework*

Written by xyzWOLF

Stars: You (Yes, YOU!!); Sehun; Chanyeol; Kai
Supporting-Stars: Another EXO Members
Genres:
Romance; School-life; Friendship
Length: Series
Rating: Parent Guide

.

[Click here for Classmates Teaser]

..

Classmates

“…semua tentangmu dan dua belas teman sekelasmu…”

“Kau sudah mengerjakan tugas?”

Kau menatap pria yang bertanya dari kursi tempat duduk Luhan—yang sedang ditinggal empunya berbincang dengan ketua kelas, Joonmyeon—itu. “Tugas yang mana? Yang benar saja, aku tidak mengerjakan tugas apapun!”

Pria bernama Park Chanyeol itu tersenyum—lebih pantas disebut menyeringai.

“Tidak ada. Hanya ingin mengajakmu bercanda.”

“Tidak lucu,” kau mendengus.

Kau mengalihkan pandanganmu ke arah lain selain wajah pria yang seharusnya duduk di barisan belakang ujung kiri itu. Dan saat ini, kau melihat pria lain yang tak kalah good-looking dengan Chanyeol tadi. Tunggu dulu, bukankah pria di kelasmu memang semuanya tampan?

Kanan-kiri-depan-belakang. Semuanya.

Kau menghela napas panjang. Tak pernah sekalipun terlintas dibenakmu kau akan menjadi satu-satunya perempuan di dalam daftar anggota kelas, dan bahkan kau tak pernah bermimpi bertemu pria tampan seperti classmates-mu saat ini.

Setelah beberapa menit kau memikirkan kejadian yang menimpa dirimu, kau sadar ada tangan yang melambai-lambai tepat di depan wajahmu.

“Kau melamun, El?”

“Kurasa ia benar-benar melamun.”

“Apa yang kaulamunkan, El?”

Kau terus diserang pertanyaan bertubi-tubi. Iya, iya, sulit memang menjalani kehidupan di antara dua belas lelaki tampan dan setengah lebih dari mereka suka bertanya, memiliki keingintahuan yang besar, mencampuri urusan orang lain dan sok perhatian pada gadis.

Omong-omong tadi kukatakan lebih dari setengah ‘kan? Berarti ada sebagian lagi dari mereka lebih memilih berdiam diri dari pada melontarkan pertanyaan—yang sebenarnya jawabannya tak terlalu penting untuk didengar—padamu. Orang itu adalah Kim Jongin, pria yang duduk tepat di depanmu; Do Kyungsoo yang duduk tepat di belakangmu, dan; Kim Minseok yang duduk di pojok kanan baris depan.

Mereka terlihat tak tertarik sama sekali.

“Banyak sekali pertanyaan yang kalian lontarkan. Aku bingung harus menjawab yang mana lebih dulu,” celetukmu.

“Pertanyaan tadi tidak begitu banyak. IQ-mu seberapa rendah?”

Kalimat yang mengganggu telingamu itu dilontarkan oleh sosok jangkung yang berkulit putih susu dan berahang tegas. Namanya Oh Sehun. Menurut biodata yang kaubaca kemarin, dia adalah siswa termuda di kelas, umurnya masih lima belas tahun. Sedangkan umurmu dan sebelas orang lainnya sudah enam belas tahun.

“Jangan kurang ajar tuan Oh.”

“Dia tidak kurang ajar. Kau saja yang mudah tersinggung, El,” Jongdae menyahut ucapanmu dengan cepat.

Terdengar suara tawa yang tertahan dari seluruh penjuru kelas.

Kepalamu berdenyut.

***

Di saat-saat pelajaran terakhir kau bisa bernapas lega. Tak ada yang berat hari ini kecuali pria-pria pengganggu itu. Pelajaran sendiri sudah bisa kau pahami dengan baik, catatan sudah rapi dan tidak ada tugas untuk dibawa pulang—setidaknya belum untuk pelajaran terkahir ini. Tetapi kalau ada tugas pun sebenarnya tidak apa-apa. Toh, matematika. Kau rasa kau baik dalam matematika.

Namun tetap saja di dalam hati kau berdoa agar tak ada tugas yang diberikan. Enak saja, baru awal masuk sekolah sudah diberi tugas.

“Sekian pelajaran hari ini,” guru Min hendak keluar dari ruangan.

Namun Park Chanyeol mencegatnya dengan berkata, “Kita tidak ada tugas?”

Guru Min berbalik, “Ah, benar. Kerjakan semua soal dalam evaluasi bab pertama,” setelah itu beliau pergi berjalan keluar kelas.

Setelah terdengar desahan kecewa, kini semua mata kini menatap Chanyeol. Termasuk kau, tentu saja. Namun sepertinya tatapanmu tak seganas yang lain.

Orang yang duduk tepat di depan Chanyeol membalik badannya sehingga bertatapan langsung dengan pria bersuara berat itu, “Aish, Chanyeol-ah! Kau menyusahkan saja!” gerutu pria itu. Namanya… ah, Byun Baekhyun.

Gerutuan Baekhyun tadi disambut dan terus ditimpali oleh siswa lain. Kaulihat orang yang duduk di depanmu, Kim Jongin. Dia tampak menggerutu juga. Padahal tadinya kaupikir dia orang yang pendiam, cuek, dingin dan tidak peduli. Tapi sekarang ia nampak mengeluarkan suara seribut Baekhyun.

Mungkin tadi mood-nya sedang tidak baik.

“Sudahlah,” ucapmu menghentikan omelan-omelan mereka, “sebentar lagi bel pulang. Berkemaslah dan diam, apa yang mau disesalkan, semua sudah terjadi. Tinggal kerjakan saja.”

Sekarang, kau yang ditatap semua siswa di kelas.

“Seperti kau pandai dalam matematika saja!” dumel pria Cina yang duduk di pojok kanan belakang. Kau memutar badan dan menatapnya. Hei! Kau memang ahli dalam matematika.

“Kris, kurasa ia ahli matematika. Kau tidak lihat betapa aktifnya ia saat guru Min menjelaskan,” kometar Kyungsoo dengan tampak serius.

Oh, jadi pria manis ini orang yang serius, pikirmu.

‘Ting… Ting’

Semua siswa berhamburan keluar kelas. Kau berjalan keluar kelas sambil menenteng tas punggungmu. Setelah beberapa langkah dari pintu kelas, pundakmu ditepuk seseorang. Kau menoleh ke arahnya. Dan harus mendongak untuk menatap wajahnya. Chanyeol.

“El, bisakah kau membantuku untuk mengerjakan tugas-tugas tadi?”

Kau memutar bola matamu, “Kalau sudah tahu akan merasa kesulitan, lalu mengapa kau masih menagih tugas pada guru Min?”

Chanyeol mengusap tengkuknya. Kau tahu ia hanya keceplosan saat itu, ia tidak benar-benar meminta tugas. Chanyeol harus belajar mengendalikan perkataannya. Benar jika Baekhyun dan Jongdae yang paling cerewet tetapi soal keceplosan, hanya ada Chanyeol.

“Kerjakan dulu sendiri! Kalau benar-benar tidak bisa baru hubungi aku.”

Kau berjalan cepat mendahuluinya. Kau harus pulang sendiri ke rumah dengan sepeda. Yap, sendirian, tidak ada teman.

Omong-omong kau tak mengenal banyak siswa di sekolah ini. Lagi pula, ini masih tahun ajaran baru. Terlebih lagi kau bukanlah tipe gadis populer yang bisa membuat iri gadis lain di sekolah. Kau juga tidak berminat menjadi gadis populer yang penuh dengan gosip, gaya hidup ba’ sosialita, dan make up untuk disanjung para pria.

Tunggu make up? Teman-temanmu menggunakan benda itu? Yep. Versi tipisnya. Foundation, lipgloss, pensil alis, mascara dan eyeliner. Hanya itu. Tetap saja bagimu itu sudah menyulitkan karena kau bukan gadis pesolek—kau hanya menggunakan BB Cream. Apakah mereka melanggar peraturan dengan menggunakan make up? Jawabannya tidak, tidak masalah jika tidak mencolok.

Kau memandangi gadis-gadis yang menggunakan make up itu dengan centilnya tertawa. Ada yang mencari-cari perhatian para pria, bahkan Sehun termasuk dalam daftar pria itu.

Tunggu! Sehun!?

Pupilmu melebar ketika melihat para Sunbae menggodanya. Sehun sendiri hanya tersenyum-senyum. Entah jenis senyum apa yang dikeluarkannya itu.

“Kenapa kau menatap Sehun seperti itu?”

“Oh, Yixing?”

“Panggil saja ‘Lay’. Kau belum menjawab pertanyaanku.”

Kau mengangkat bahu, “Ia diganggu para Sunbae.”

Lay mengangguk, “Sepertinya ia menikmatinya. Lihat itu!” telunjuk Lay mengarah ke Sehun yang masih tersenyum-senyum, “memang dari dulu Sehun senang diperlakukan begitu. Lagi pula, dia yang suka menebar pesona.”

“‘Dari dulu’ katamu? Kau mengenalnya sejak kapan?” kau mengangkat sebelah alismu.

“Sudah lama. Seluruh teman sekelasmu sudah saling mengenal sejak lama….”

“Tapi bukankah kau, Luhan, Tao dan Yifan—yang kalian panggil Kris—itu berasal dari Cina? Lagi pula kulihat daerah asal kalian semua berbeda-beda,” tanyamu.

“Ah, aku pulang dulu. Annyeong!”

***

Ketika telah sampai di rumah dengan keadaan perut lapar dan beratus pertanyaan di kepala, kau merebahkan diri di kasur. Hanya untuk menghilangkan pegal di punggung dan kakimu sebentar. Sehabis itu kau melakukan rutinitas yang kau lakukan setelah pulang sekolah.

‘Kring-kring’

Setelah ada nada itu, ada nada yang lebih panjang lagi dari ponselmu. Kau beranjak mengambilnya. Ketika benda itu sudah berada di genggamanmu kau membaca tulisan di layarnya. Ada panggilan masuk dari nomor yang tak kaukenal.

Yeoboseo?”

Terdengar suara pria dari ujung sana berkata, “Hai, El! Ini aku, Kai.”

“Kai?”

“Maksudku, Kim Jongin.”

Kau mengangguk-angguk. Ah, sepertinya mereka memanggil Jongin dengan sebutan Kai.

“Iya, iya. Ada apa Kai?”

“…. Maukah kau mengajariku mengenai tugas matematika tadi?”

Kau berpikir sejenak sebelum berkata, “Iya. Baru saja aku hendak mengerjakannya. Kapan kau minta diajari?”

“Hari ini. Aku sudah berada di depan rumahmu.”

Kau mematung beberapa saat. Mencoba mencerna perkataan Jongin. Dia-ada-di-depan-rumahmu-sekarang. Seketika itu kakimu melesat keluar dari kamar dan berlari menuju pintu depan. Sebelum membuka pintu itu, kau melihat sosok yang tampak masih menggenggam ponsel di depan pintu melalui jendela. Jongin tidak berbohong.

“Kenapa tiba-tiba begini?” tanyamu ketika sudah membuka pintu dan menyuruh Jongin masuk ke dalam rumah.

Jongin mengangkat bahu dan tersenyum, “entahlah. Tiba-tiba saja aku ingin berkunjung ke rumahmu.”

“Kau sendirian? Dan darimana kau mengetahui alamat rumahku?”

“Yap, tetapi mungkin yang lain akan datang juga, mengingat kemampuan kami dalam matematika tidak terlalu tinggi. Dan alamatmu ada di biodata anggota kelas.”

Kau terkejut mendengarnya. Bukan, bukan bagian ‘kemampuan’ dan di bagian ‘alamat’ tetapi bagian ‘yang lain akan datang juga’. Kau bertanya lagi pada Jongin, “jadi sebagian dari kalian akan ke rumahku hari ini? Tanpa pemberitahuan? Dan, hei, lagi pula rumahku bukan tempat penitipan pria!”

Jongin mencondongkan tubuhnya ke arahmu, wajahnya hanya berjarak lima centimeter dari wajahmu, “Siapa yang bilang rumahmu adalah penitipan pria, nona?”

Karena merasa agak risih dan ada perasaan yang—omong-omong—aneh, kau mendorong sedikit tubuh Jongin dan memperlebar jarak di antara kalian.

“Omong-omong, dimana orang tuamu?” Jongin bertanya sembari menduduki sofa.

“Tadi pagi mereka bilang akan pulang larut malam. Jadi kurasa mereka sedang sibuk di kantor sekarang.”

Jongin mengangguk-angguk.

“Tadinya kupikir kau orang yang pendiam, Kai,” komentarmu, “oh iya, tunggu sebentar, aku akan mengambil peralatan belajar. Jika yang lain datang, suruh saja masuk.”

Dengan langkah yang sedikit cepat, kau berjalan menuju kamarmu. Setelah mengumpulkan barang yang kau anggap perlu untuk mengerjakan tugas, kau menggendong barang-barang itu dan kembali ke ruang depan dimana Jongin berada. Semakin cepat kau melangkahkan kakimu. Namun sialnya ketika sudah hampir sampai, barang bawaanmu berjatuhan.

Oh, God!

Jongin yang tadinya memandangi isi ruangan kini berlari ke arahmu. Ia membantumu memungut barang-barang itu. Tetapi ia tampak beda dari sebelum kau masuk ke kamar. Kau akhirnya sadar, ia melepas jaket yang dipakainya. Slaveless. Dan lengannya itu….

Apa-apaan ini? Kenapa ia bergitu… err, seksi.

Saat ia mengumpulkan barang-barang, enah disengaja atau tidak olehnya, ia bertemu pandang denganmu. Ketika itu ia mengeluarkan smirk. Astaga. Kau tak pernah bertemu pria se-hot ini.

Kai! Kau ini hendak mengerjakan tugas atau malah flirting?, jeritmu dalam hati.

Yakinlah, kau akan menjadi tidak fokus selama mengerjakan tugas.

TBC

19 April 2014

A/N : Akhirnya Chapter1 selesai juga, dan ditutup dengan Jongin^^. Sebelumnya author mau ngucapin terimakasih banyak untuk readers yang udah nyempetin diri untuk ikut vote dan kasih respon untuk Teaser-nya. Author seneng banget responnya bagus-bagus.

Karena banyak yang minta Sehun, Chanyeol dan Kai yang jadi pernan utama, jadi, author pake mereka. Yang bias-nya belum kepake, maaf ya, mungkin di series berikutnya^^

Sekarang author minta pendapat, kritik dan saran untuk Chapter1 ini. Semakin banyak respon, semakin cepat author sambung ceritanya.^^ Dan buat yang mau baca ff lain dari xyzWOLF atau pingin ngobrol dan nambah temen EXO-L bisa langsung ke blog http://xyzwolf.wordpress.com dan twitter @xyzWOLVES

xoxo

71 pemikiran pada “Classmates (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s