When The Key Of Problem Need A Solution (Chapter 4)

PicsArt_1430036026894

Author : Cherrykim18

Title : When The Key Of Problem Need A Solution [Chapter 4]

Cast : Song Eun Hyun (fiction), Byun Baekhyun, Kim Joon Myun, Kim Ji Hyun (fiction)

          Park Chan Yeol, etc.

Genre: school-life, friendship, romance

Length: chapter

Rating: T

 

Hai hai hai~ ketemu lagi sama aku author abal-abal(?)

Ini udah chapter ke-4 Fanfic pemulaku~ mianhae karena aku update dan nulis chapter 4 ini agak lama karena aku berniat untuk bikin alur fanfic ini gak kecepetan biar feel-nya tuh dapet^^ terimakasih buat yang udah jadi readers fanfic ini, aku seneng banget karena ada reader yang udah mau comment dan like fanfic ini. jujur aja, aku jadi semakin semangat buat ngelanjutin fanfic ini hihi~ maaf kalo di chapter chapter sebelumnya belum memuaskan karena konfliknya masih gak begitu keliatan. Dan aku udah coba bikin poster baru karena yang lama masih banyak blur-nya~

Warning Typo! RCL please~

 

[previous story]

“untuk menghilangkan perasaanku yang tidak normal ini sepenuhnya, aku butuh bantuanmu” ucapnya. Itu membuatku kesal, bahasanya terlalu rumit dan bertele-tele membuatku tak sabar mengetahui titik pusat ucapannya.

“Joon Myun-ah, tak usah bertele-tele, deh. Langsung saja ke maksud utamamu. Apa yang harus kubantu?”

Tiba-tiba ia memelukku erat, sangat erat. Ia melingkarkan lengannya di sekitar tubuhku, ia menumpukan dagunya di bahuku. tentu saja aku kaget. Aku tak bisa berhenti membelalakkan mataku. Badanku menegang, pipiku akan memerah setelah ini.

 

“jadi pacarku, Song Eun Hyun”

[Eun Hyun PoV]

 

Apa dia gila?

Dia memintaku untuk jadi pacarnya? Ini gila, gila, gila! Kenapa hidupku jadi rumit seperti ini, tuhan? Aku dan Joon Myun baru mengobrol sedikit akrab pada sore hari ini, dan beberapa detik yang lalu kita baru berbicara secara pribadi dengan peranku sebagai konsultan dan dia klienku. Dan detik ini, dia memintaku untuk menjadi pacarnya? Sebenarnya otak cerdasnya sedang berkelana kemana, sih?

“jawab aku, Eun Hyun-ah” ucapnya mengagetkanku.

Aku menjerit histeris menyadari bahwa pria ini masih berdiri di belakangku dengan lengannya yang masih melingkar di sekitar tubuhku, “yak! Yak! Pergi dari sini! Lepaskan aku cepat!”

Ia melepaskan pelukannya dan berjalan menjauh sambil bersungut-sungut, “ya, Song Eun Hyun! Sebenarnya ini rumah siapa sih? Kenapa kau yang mengusirku?”

Aku menatapnya datar dan berjalan menjauh saat ia hampir saja menghantam kepalaku dengan kepalannya yang keras itu.

“siapa suruh memelukku? Memang kau pikir kau ini siapa, eoh?” pekikku sambil menunjuk wajahnya dengan jari telunjukku dari jauh.

okay, okay. This is my fault. But, don’t pointed at me like this, okay?” ucapnya sambil mengangkat tangan tanda menyerah, ia menunduk tak ingin melihat wajahku. Baguslah, jadi ia tak mengetahui bahwa wajahku sedang memerah saat ini.

Aku mencibir, sungguh aku tak menyukai aksen bahasa inggrisnya. Apalagi pada saat ia berpidato dalam bahasa inggris saat mempromosikan dirinya sendiri di acara besar pencalonan divisi kesiswaan sekolah. Aku ingat sekali, saat itu aku dan Baekhyun yang duduk di barisan bangku deretan tengah menjadi mengoceh dan mengejek pidato Joon Myun seharian. Ya, kami berdua sangat membenci logat bahasa inggrisnya. ‘british rich guy’ itu lah sebutan yang Baekhyun buat saat mendengar pidato bahasa inggrisnya.

“dengar ya, Song Eun Hyun. Aku hanya berpura-pura mengajakmu pacaran. Sekedar menghilangkan ketakutanku terhadap sebuah syndrome yang bernama ‘gay’. Aku hanya ingin meyakinkan kepada diriku sendiri bahwa aku bukan gay. Aku-hanya-ingin-berlatih-berpacaran-dengan-seorang-gadis. Jadi jangan terlalu percaya diri. Jangan berpikir kalau aku menyukaimu, bodoh” Tuturnya sambil mengangkat tangannya dan membentuk postur tubuh seorang gadis di udara. Aku bergidik melihatnya.

“oke, oke. Aku mengerti. Hanya pura-pura kan? Lalu apa tugasku sebagai ‘pacar’mu?” tanya sambil menekankan nada suaraku pada kata pacar.

“hanya menjadi pacar. Itu saja. Bayangkan saja kau menjadi pacar seorang pria tampan yang kau sukai. Apa yang akan kau lakukan? bersikaplah sebagai seorang gadis yang manis kepadaku di depan semua orang. ”

Aku menatap langit-langit, mulai larut dengan khayalanku. Bayangan wajah Ok Taec Yeon dari grup idola 2PM sedang tersenyum dihadapanku. Oh—dan itu dia! Ada wajah Kim Woo Bin, Lee Jong Suk, dan—apa ini?! kenapa ada wajah Baekhyun?!

Aku segera keluar dari zona imajinasiku dan kembali pada dunia nyata sambil terengah karena mengingat wajah Baekhyun, “baiklah, aku akan jadi pacarmu. Tapi, hanya sampai kau yakin bahwa kau normal” ucapku kepada Joon Myun. Ia malah menatapku dengan tampang jijik dan terlihat ingin muntah.

“tentu saja. Siapa juga yang mau berpacaran lama-lama dengan seorang gadis yang tersenyum-senyum menjijikan hanya karena membayangkan wajah lelaki tampan? Dasar gadis gila”

Apa katanya? Gadis gila? Apa maksudnya? Hey, dia pikir dia itu normal? Dasar klien tidak tahu terima kasih!

[Eun Hyun PoV END]

[author PoV]

Eun Hyun melempar pulpen yang tengah digenggamnya kearah Joon Myun yang baru saja mengatainya gadis gila.

“yak! Apa maksudmu dengan gadis gila, eoh?”  pekik Eun Hyun sambil menoyor kepala Joon Myun sampai lelaki itu melangkah mundur ke belakang beberapa langkah.

“wow, hebat juga kau. Dasar gadis tenaga badak” ejek lelaki itu sambil berjalan menjauh membuat lawan bicaranya mendengus kesal.

Joon Myun duduk di sofanya, bersantai-santai ria tanpa memedulikan pintu ruangan lukisnya diketuk dari luar. Eun Hyun yang mendengar suara ketukan itu langsung berlari ketakutan dan meringsut di belakang punggung Joon Myun.

“Joon Myun-ah, buka pintunya” teriak sebuah suara dari luar sana. Joon Myun yang masih asyik bersantai dengan kedua earphone yang menyumbat telinganya hanya melirik sekilas dan kembali mengatur musik yang didengar lewat ponselnya.

“ya! Kim Joon Myun, cepat buka pintunya.” Ucap Eun Hyun sambil menarik earphone yang menyumbat telinga kanan pria itu. Joon Myun melengos malas.

“kau saja yang buka, Hyun”

Eun Hyun langsung menggeleng cepat-cepat, apa kata orang rumah ini jika ia ketahuan bermain-main di ruang pribadi anak bungsu keluarga Kim pada kunjungan pertamanya? Dan siapa tahu yang mengetuk itu penjaga-penjaga rumah nan megah keluarga ini? ah, gadis itu terlalu takut untuk sekedar membuka pintu.

Joon Myun pasrah, ia berjalan membuka pintu ruangan itu dengan malas. Sementara Eun Hyun membenarkan posisi duduknya dengan menegakkan punggungnya dan menurunkan kakinya yang tadi ia naikkan ke sofa.

“ada apa, Hyung?” tanya Joon Myun kepada si pengetuk pintu, yang tidak lain tidak bukan adalah kakaknya sendiri, Kim Joon Hyung.

“dimana calon adik iparku?” tanya Joon Hyung sambil menatap adiknya yang tengah menyenderkan salah satu tangannya ke bingkai pintu. Joon Myun mendengus,

‘apanya yang adik ipar.’

Joon Myun menatap kakaknya kesal, “jadi kau mengetuk pintu ruanganku karena hanya ingin menanyakan keberadaan calon adik iparmu? Kau mengganggu waktu santaiku, Hyung” balas Joon Myun cuek sambil sedikit menaikkan salah satu sudut bibirnya, membentuk sebuah seringaian kecil.

“ya, tentu. Ini perintah nuna yang amat sangat tertarik pada gadis itu” jelas Joon Hyung sambil meringsek masuk ke dalam ruangan lukis adiknya, Joon Myun hanya menghela napasnya perlahan dan mengekor di belakang punggung kakaknya.

Joon Hyung membulatkan matanya mengetahui seseorang yang dicarinya tengah duduk dengan sopan di atas sofa sambil tersenyum kikuk kearahnya. Eun Hyun benar-benar mirip dengan Eun Jung, calon istrinya.

“baiklah, Hyung. Ini dia yang kau cari. Ta-da! Ini dia Song Eun Jung. Calon adik iparmu.”  kata Joon Myun berlaga mengikuti gaya bicara pembawa acara musik zaman dahulu kemudian mengubah raut wajahnya menjadi datar lagi dan membawa tubuhnya untuk duduk bersantai di samping Eun Hyun.

“anyeonghaseyo, Joon Hyung-oppa” sapa Eun Hyun sambil berdiri dan membungkukan badannya sopan kearah Joon Hyung yang masih mematung. Pria itu mengulaskan senyum kaku sambil terkekeh pelan.

“ye, annyeonghaseyo. Ah—Eun Hyun-ssi, nunaku menyuruhku untuk mengantarmu pulang karena ia tidak sempat mengantarmu pulang sekarang.” Jawab Joon Hyung sambil menunjukkan kunci mobil di tangan kanannya.

“arraseo, opp—”

Tiba-tiba suara ponsel bergetar mengusik pembicaraan kikuk kedua orang tersebut, Joon Hyung yang menyadari suara gemetar itu berasal dari ponsel di sakunya langsung melangkah cepat mendekati ambang pintu.

“ah tunggu sebentar—yeoboseo? Ah, ye..baiklah pimpinan Hwang. Aku akan segera kesana.”

Pria itu memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku dan berjalan kembali menghampiri Eun Hyun yang masih berdiri di depan sofa.

“Eun Hyun-ssi, sepertinya aku tak bisa mengantarmu. Rapat tiba-tiba diadakan karena ada masalah kerja di lapangan. Tak apa kan kalau diantar Joon Myun? Tenang saja, meskipun belum menginjak usia 17 tahun dan belum punya lisensi mengemudi resmi, ia bisa menyetir kok” tutur Joon Hyung sambil terus saja memeriksa pesan masuk di ponselnya. Tanda orang sibuk.

“a—ah, bukankah itu terlalu merepotkan Joon Myun? Aku bisa pulang sendiri, kok” tolak Eun Hyun halus sambil terbata.

Joon Hyung menggeleng, “tidak boleh. Nuna sangat menyukaimu dan dia tidak akan membiarkanmu pulang sendiri. Apalagi kau ini gadis, tidak aman bila pulang sendiri malam-malam begini”

Joon Myun yang mendengar obrolan kaku itu langsung berdiri dari duduk santainya dan berjalan gontai mendekati ambang pintu seraya melirik Eun Hyun dengan ekor matanya, “ayo pulang. Jangan sok berani pulang sendiri.”

Eun Hyun menggertakkan giginya kesal karena nada suara Joon Myun yang terdengar angkuh. Sementara Joon Hyung hanya menggelengkan kepalanya heran melihat kelakuan anak bungsu keluarga Kim tersebut lalu kembali larut dengan telepon masuk dari kolega kerjanya dan terlebih dahulu meninggalkan ruangan lukis Joon Myun.

Eun Hyun mendengus, bagaimana bisa ia menyetujui tawaran Joon Myun menjadi pacar pura-puranya? Sementara, gadis itu mengetahui dengan jelas bahwa Joon Myun memang terkesan sedikit angkuh dan pandai membanggakan diri sendiri.

“mau pulang atau terus melamun dan menginap disini?” tanya pria berumur hampir 17 tahun itu sambil berdecak tak sabar. Eun Hyun bangun dari duduknya dan berjalan mengekori lelaki itu.

Joon Myun melangkah kearah pintu keluar, tepat dimana penjaga-penjaga rumah yang Eun Hyun takuti berjagal. Eun Hyun bergidik ngeri jika mengingat wajah penjaga-penjaga itu apalagi dengan rahang mereka yang tegas dan badan yang tinggi tegak, seakan siap membunuh siapapun orang asing tak dikenal yang masuk ke rumah megah keluarga Kim. untung saja dewi Fortuna sedang memihak Eun Hyun yang pada kunjungan pertamanya di rumah ini sudah berjalan bersama putri sulung keluarga Kim.

“kenapa? Kau terlihat ketakutan” tanya Joon Myun yang ternyata sedari tadi mengamati gerak-gerik Eun Hyun yang terlihat ketakutan karena bahunya terus bergetar dan tubuhnya disembunyikan di belakang punggung pria itu.

“aku takut dengan—penjaga rumahmu. Ia terlihat begitu seram, Joon Myun-ah. Ia seakan ingin mencekalku jika aku berbuat setitik saja kesalahan disini. Di rumah ini” bisik Eun Hyun sambil menggerakan tangannya melingkar di udara menggambarkan rumah Joon Myun yang amat sangat megah.

“namanya Kim Jong Kook dan yang satunya lagi namanya Han Sung Kyung. Tak apa, mereka baik”

Joon Myun terus saja melangkah dan membuka pintu utama rumah keluarga Kim. dan benar saja disana masih berdiri dua orang penjaga yang ditakuti oleh Eun Hyun. Meskipun Joon Myun sudah mengatakan bahwa mereka tak berbahaya, tetap saja tidak menghilangkan semua rasa takut Eun Hyun. Joon Myun yang melihat Eun Hyun masih ketakutan, langsung merangkul bahu gadis itu dan menepuknya pelan.

“tuan Kim, Tuan Han—kurasa kau menakuti pacarku.” Ujar Joon Myun sambil mengeratkan rangkulannya membuat dua orang penjaga rumah dan tentu saja Eun Hyun menganga. Seorang Kim Joon Myun mengklaim dirinya sebagai pacar di depan orang lain?

“maafkan kami tuan muda” ujar dua pengawal itu serempak dan melangkah mundur membuka jalan untuk Joon Myun dan Eun Hyun. Di depan garasi sudah terlihat seorang pria berumur sekitar 40 tahunan sedang menata kunci-kunci mobil yang tergantung rapi di sebuah rak kayu.

“ahjussi, kunciku” ujar Joon Myun yang tanpa sadar tidak melepaskan rangkulannya pada Eun Hyun. Dengan sigap, lelaki yang dipanggil ahjussi itu mengambilkan sebuah kunci mobil berwarna silver dan menyerahkannya kepada Joon Myun. Lelaki setengah baya itu terkekeh, “kekasihmu tuan?”

Joon Myun hanya tersenyum dan mengangguk, “panggil saja Song Eun Hyun. Ia cantik kan?”  jawab Joon Myun disambut dengan senyuman hangat dari lelaki paruh baya itu. alih-alih Eun Hyun mengerutkan wajahnya masam mendengar gombalan naif Joon Myun.

“aku berangkat dulu, Han-ahjussi” kata Joon Myun sambil menekan salah satu tombol pada kunci tersebut untuk membuka pintu mobil yang masih terkunci. Lelaki yang dipanggil Han-ahjussi itu kemudian berlari ke depan rumah nan megah itu untuk mendorong pagar besi, dan tentunya memberi jalan bagi mobil Joon Myun.

Joon Myun menekan klakson mobilnya seraya tersenyum guna berpamitan kepada Han-ahjussi dan siapapun orang yang mendiami rumah megah itu. Joon Myun menginjak pedal gas, melajukan mobil itu pada kecepatan penuh, membelah jalanan kota Seoul yang terlihat sepi karena hari sudah mulai larut. Lelaki berusia hampir 17 tahun itu menatap jalanan mulus di depannya sambil sesekali mengalihkan pandangannya pada kaca spion di sisi kiri dan kanan lamborgini-nya.

“ngomong-ngomong, eonni-mu cantik juga” ujar lelaki itu memulai percakapan seraya memandangi gadis di sebelahnya sekilas dengan ekor mata kecilnya. Eun Hyun menatap Joon Myun sambil mengulum senyum, “tentu saja, dia kakakku” .

“aku suka wanita yang memiliki rambut pendek dan lurus” ucap Joon Myun sambil memperlambat laju mengemudinya di sebuah persimpangan jalan.

“dan aku berambut panjang serta sedikit berombak”

Joon Myun tergelak sambil memegangi perutnya, tak dapat menahan tawanya,

“bodoh, makanya aku tak menyukaimu”

Eun Hyun cemberut, memberikan banyak umpatan kepada lelaki di sebelahnya. Dan tanpa sadar, ternyata Joon Myun membelokkan stir kemudinya kearah pusat kota. Eun Hyun hanya menatap jalanan di sekelilingnya dengan pancaran mata yang bingung, seakan ada sebuah kejanggalan pada jalan menuju rumahnya.

“rumahku bukan kearah sini. Harusnya kau belok kanan di persimpangan jalan tadi. Dan sekarang kita mau kemana? Hey—kau sedang melakukan misi penculikan gadis ya?!” pekik Eun Hyun sambil menempelkan sebelah sisi pipinya ke jendela sambil mengetuk-ketuk permukaan kaca film tersebut.

“Jangan bergurau, buat apa aku menculikmu? Jika kuculik juga aku bingung mau menjualmu kemana. Aku tak yakin kau akan laku di pasaran” jawab Joon Myun yang dibalas oleh amukan Eun Hyun yang sempat sesekali menggoyangkan mobil Joon Myun. Gadis itu sibuk menarik kerah kaos Joon Myun serta tangannya yang lain menjambak kasar rambut lelaki itu.

“Ya! Kim Joon Myun bodoh! Apa kau bilang? Aku tidak laku? Wah, berkaca lah wahai lelaki sok tampan, sampai saat ini kau juga belum memiliki kekasih! Pergi saja enyah dari hadapanku!” geram Eun Hyun sambil terus menjambak rambut cokelat lelaki itu. sedangkan sang ‘korban’ hanya berteriak dan memekik kesakitan sampai tak bisa mengontrol gerakan tangannya pada stir kemudi sehingga menyebabkan laju mobilnya bergerak tak karuan. Klakson dari mobil lain yang terganggu sudah mulai terdengar mengaung di belakang mobil pribadi Joon Myun.

“Song Eun Hyun! Baiklah, maafkan aku. Aku hanya iseng berbicara seperti itu, tapi tolong berhenti menjambakku karena itu sakit dan mengganggu konsentrasi mengemudiku!” jerit Joon Myun sambil mendorong Eun Hyun dengan sebelah tangannya membuat Eun Hyun menghentikan aksi jambak-menjambaknya dan duduk lemas dengan melipatkan tangannya di depan dada diiringi dengan berbagai sumpah serapahnya kepada Joon Myun.

“awas saja kau. Hanya karena kau sedang mengemudi, aku melepaskanmu. Tunggu saja nanti.” Cibir Eun Hyun sambil mengerutkan alisnya kesal. Sementara Joon Myun hanya membalasnya dengan kekehan kecil lalu kembali larut dalam fokus kemudinya.

Mobil Joon Myun berhenti di lapangan parkir sebuah pusat perbelanjaan di tengah kota. Joon Myun mengeratkan mantelnya karena udara sekitar terasa semakin dingin seakan menusuk kulit, sedangkan Eun Hyun yang tidak membawa mantel mulai menggigil kedinginan bahkan permukaan bibirnya mulai terlihat biru memucat. Joon Myun yang menyadari getaran tubuh Eun Hyun yang kedinginan mendengus pelan.

“kau—tunggu disini.” Ucap Joon Myun sambil membuka pintu mobil membiarkan hembusan angin malam menembus permukaan kulit Eun Hyun yang masih terduduk kedinginan dengan seragam sekolah yang masih dikenakannya dari siang hari tadi. Joon Myun terlihat berlari kecil memasuki pusat perbelanjaan melalui lobi utama dan menghilang di balik simpangan pertokoan.

“ya ampun, apa maksudnya ini? mengajakku ke pusat perbelanjaan dan membiarkanku kedinginan di dalam mobil dengan temperatur penghangat ruangan yang tak seberapa. Setidaknya ajak aku ke dalam dan belikan aku minuman hangat atau jangan mengajakku kesini saja sekalian!” gerutu Eun Hyun sambil terus saja meniupkan telapak tangannya dan menggosok-gosokkannya untuk menghantarkan energi panas yang sekiranya dapat sedikit membantu menghangatkan tubuhnya.

Beberapa waktu kemudian, pintu mobil terbuka. Joon Myun datang dengan membuka sebuah tas tentengan dengan segelas kopi panas yang uapnya masih mengepul di udara. Eun Hyun yang tidak melihat tampang bersalah dari wajah Joon Myun sama sekali mulai menggerutu lagi, “ya! Dimana otakmu, huh? Aku duduk disini sendirian dengan tampang mengenaskan dan kau malah meninggalkanku karena berbelanja ria dan menikmati kopi musim dinginmu? Oh, bagus sekali Kim Joon Myun”.

Joon Myun memasuki mobil dan menaikkan temperatur penghangat ruangan yang tersedia di mobilnya setelah itu melepaskan mantelnya yang terlihat telah penuh dengan gumpalan salju yang hampir mencair di bagian kerahnya. Tangan lelaki itu menyodorkan tas tentengan yang dibawanya kepada Eun Hyun.

“untukmu” ujarnya lalu menggosokkan wajahnya yang terasa dingin. Eun Hyun yang penasaran dengan isi tas tersebut langsung membuka perekat yang menutup tas itu.

“ini—sweater, mantel, syal, dan celana panjang?” tanya Eun Hyun sambil menatap beberapa benda pemberian Joon Myun itu lekat-lekat.

“mungkin tak seberapa. Tapi lumayan, kan. Ya—sekedar menghangatkan badanmu yang menggigil kedinginan. Seragam sekolah penuh keringat dan rok pendek tidak terlihat bersahabat dengan suhu musim dingin. Dan, kopinya jangan lupa diminum ya” kata Joon Myun. Eun Hyun melihat Joon Myun dengan tatapan yang sulit diartikan, entah heran atau terkejut. Yang jelas matanya terlihat membelalak.

“jadi, ini semua untukku? Terima kasih, Joon Myun-ah. Aku tak tahu harus berkata apa—ah tumben kau baik padaku” balas Eun Hyun sambil menyimpulkan sunggingan di bibirnya, menatap Joon Myun lekat-lekat.

“jangan terlalu percaya diri. Jangan mengira aku menyukaimu hanya dengan kubelikan mantel dan perangkat musim dingin itu. aku hanya tak mau ada bangkai beku di dalam mobilku”

.

.

“Yak! Kim Joon Myun!”

“sudah cepat pakai pakaian hangat yang sudah kubelikan. Setelah itu kita makan, aku lapar” titah Joon Myun kepada Eun Hyun yang masih saja menatap tas belanja berisi berbagai macam pakaian tersebut.

“baiklah. Keluar sana.” Usir Eun Hyun. Tapi usiran itu tak membuat Joon Myun bergeming dari tempatnya.

“Yak, Kim Joon Myun cepat keluar!” usir Eun Hyun sekali lagi. Sedangkan Joon Myun hanya menatapnya dengan tenang, “kenapa aku harus keluar?”.

.

Sunyi.

.

“aku ingin berganti baju, bodoh!”

Mendengar bentakan Eun Hyun, Joon Myun buru-buru keluar dari mobil dan berdiri membelakangi mobil. Sesekali ia menggosokkan tangannya untuk membuat sumber kehangatan. Joon Myun melihat keadaan disekitar lapangan parkir guna mengatasi kebosanannya. Hingga pintu mobil disamping Eun Hyun terbuka, menampilkan Eun Hyun yang sudah berbalutkan pakaian yang sekiranya jauh lebih hangat daripada hanya seragam sekolah yang sudah penuh keringat.

“Joon Myun-ah, ayo mak—appo!”

Joon Myun yang mendengar jeritan Eun Hyun segera meringsut mendekati Eun Hyun. Memeriksa keadaan gadis itu dan mencari sebab Eun Hyun berteriak kesakitan.

“ada apa? Kenapa berteriak? Apa yang sakit?

Eun Hyun mengangkat tangannya, memperlihatkan jari telunjuk dan jari tengahnya yang sudah bengkak dan membiru di bagian sudut kukunya,

“ini memar, kukumu terjepit pintu ya?” tanya Joon Myun sambil mengamati tangan bengkak Eun Hyun. Gadis itu mengangguk sambil mengernyit kesakitan saat Joon Myun menyentuh jemarinya.

“ini—tidak bisa digerakkan” keluh Eun Hyun membuat Joon Myun ikut meringis membayangan betapa sakitnya jari Eun Hyun.

“baiklah, kita harus makan malam dulu. Baru nanti kubelikan obat pengurang rasa sakit”. Eun Hyun mengangguk, ia tak pantas melawan lagi untuk ajakan Joon Myun. Karena ia memang membutuhkan obat dan—ya, ia lapar.

Joon Myun dan Eun Hyun memasuki pusat perbelanjaan tersebut dan berjalan menyusuri bagian depan beberapa toko dan mereka memasuki sebuah toko berdinding putih dengan berbagai macam obat yang disusun rapi di rak-rak yang berdiri kokoh disana. Joon Myun yang memang sudah hapal obat apa yang harus dibelinya, langsung menyambar sebuah botol berwarna kemasan merah dan membayarnya di loket pembayaran.

“kita akan makan dimana?” tanya Eun Hyun sambil terus saja meregangkan tangan kanannya yang masih terasa berdenyut.

“disini ada toko kue yang enak. Langganan keluargaku.” Jawab Joon Myun cepat. Eun Hyun mengernyit, itu toko langganan keluarga Joon Myun? Ia meringis takut. Gadis itu tahu, itu toko kue yang pasti harga makanannya jauh dari kata murah.

“jangan takut, aku yang traktir” ucap Joon Myun yang sudah menyadari perubahan raut wajah Eun Hyun. Gadis itu akhirnya tersenyum riang mengetahui dirinya tidak perlu menahan lapar untuk menjaga uang sakunya yang memang sudah menipis.

Mereka berdua akhirnya memasuki toko kue itu. Eun Hyun diperintahkan Joon Myun untuk duduk terlebih dahulu di sebuah meja yang terletak di pojok toko. Sangat nyaman, karena suhu disana lebih hangat daripada tempat duduk yang lainnya.

Joon Myun terlihat sedang berdiri di depan counter pemesanan. Tangannya diangkat dan menunjuk beberapa jenis kue yang diinginkannya. Setelah membayar semua pesanannya, Joon Myun berjalan mendekati Eun Hyun. Membuat gadis yang tengah kelaparan itu tersenyum girang. Joon Myun meletakkan sepotong kue dengan buah stroberi utuh diatasnya di meja. Baru saja Eun Hyun ingin mengangkat tangannya untuk menggenggam garpu, ia langsung meringis merasakan tangannya yang makin berdenyut. Sakit kembali menjalari tangan kanannya.

“tanganmu masih sakit? Baiklah, biar aku yang menyuapimu”

.

[Author PoV End]

[Baek Hyun PoV]

Aku masih duduk di kamarku. Menyenderkan punggungku di kepala ranjang dengan Chan Yeol -sahabatku- yang masih asyik dengan stik Playstation dan beberapa kemasan keripik kentang di sebelahnya.

“Baek, kau benar-benar tak berniat menyatakan perasaan padanya ya?” tanya si pemain playstation tiba-tiba.

Aku tertohok dengan pertanyaan yang tiba-tiba Chan Yeol ajukan padaku. Menyatakan perasaan? Ah—bahkan hubungan percintaanku dengannya sudah terlanjur tidak baik. Mengingat sikapnya yang datar-datar saja kepadaku, benar-benar tidak tepat jika aku mengatakannya sekarang.

“tidak. Belum tepat waktunya” jawabku sambil berusaha bersikap normal dan santai. Chan Yeol menghempaskan stik playstation-nya ke karpet yang berada tepat di sebelahnya. Belum tepat waktunya? Sebenarnya itu memang alasan yang bodoh, karena aku sudah lama mengenal gadis itu meskipun tidak begitu dekat. Dan begitu banyak waktu untuk menyatakan perasaanku kepadanya.

“hati-hati. Banyak yang menginginkan menjadi pacarnya, kau tahu itu. aku pun pernah berpikir untuk memacarinya, Baek. Hanya saja, mengingat kau sahabatku. Aku memilih merelakannya untukmu. Kejar dia, Sobat” . aku menyetujui nasihat sahabatku kali ini. gadis yang kusukai memang banyak  disukai orang. Bahkan mereka menunjukkannya secara terang-terangan. Dan, aku masih tetap bersyukur karena ia tak pernah menanggapi tawaran untuk berpacaran dengan banyak lelaki yang mengejarnya. Ia bahkan hanya sedikit tertawa dan menolak tawaran berpacaran dengan tegas.

Aku mengangguk dan tersenyum, Chan Yeol menatapku heran. kedua alisnya bertaut.

“aku bingung kenapa kau tersenyum tiba-tiba” ucapnya sambil terus menerus menatapku. Aku yang risih dengan tatapannya segera melempar bantalku dengan kasar tepat mendarat di depan wajahnya.

“aku mempunyai rencana” jawabku. Aku segera mengambil ponselku dan menunjukkannya kepada Chan Yeol.

“apa ini?” tanya Chan Yeol sambil merebut ponselku dan mulai membuka-buka daftar kontak dalam ponselku. Aku menunjuk sebuah nama di dalam daftar kontak ponselku.

“aku ingin menelponnya, bagaimana menurutmu?” tanyaku. Chan Yeol mengibaskan tangannya kuat di hadapanku. Ia mendengus kasar, membuatku terlihat seperti orang dungi karena tidak dapat mengerti bahasa tubuh Chan Yeol.

“jangan bodoh. Ini sudah malam dan kau ingin menelponnya? Berpikirlah sedikit, Hyun. Ia tak akan menjawab teleponmu” Katanya.

“aku harus menelponnya sekarang dan menemuinya secepatnya, Yeol. Ini bersangkutan dengan kehidupan percintaanku!”

Meskipun Chan Yeol terus menggelengkan kepalanya, tidak menyetujui rencanaku, aku tetap bersikukuh untuk menelponnya. Tak masalah, hanya menelpon. Aku mulai menelponnya. Masih terdengar nada panggil disana.

Tak dijawab.

Kusambungkan kembali panggilan ke ponselnya, namun kali ini malah diputus sepihak olehnya.

“baiklah, ini yang terakhir.” Ucapku sambil kembali menelponnya.

“ya—bodoh, sudah kubilang dia tak akan—”

.

“Yeoboseyo?”

Dia Mengangkatnya!

“Eun Hyun-ah!” teriakku membuat Chan Yeol yang duduk di sampingku menutup telinganya dan menendang punggungku membuatku hampir tersungkur ke bawah tempat tidur.

“jangan berteriak, Bodoh.” Balas Eun Hyun. Aku tersenyum, mulai melancarkan rencanaku. Chan Yeol menatapku aneh. Aku tak mempedulikannya, tentu saja.

“baiklah, baiklah. Ngomong-ngomong aku mau minta maaf soal yang sore tadi—aku yang salah.” Ujarku. Eun Hyun berdehem singkat di seberang sana.  Membuatku memutarkan bola mataku kesal. Bisa tidak sih gadis ini bersikap baik padaku sekali-sekali? Memangnya dia kira enak jika menelpon orang yang sinis seperti dia? Dasar gadis kejam.

“bagaimana jika pertemuan konsultasiku dimajukan jadi besok sore?” tawarku. Ya, ini salah satu rencanaku. Eun Hyun tak berbicara apapun untuk menjawab tawaranku. Hening masih kurasakan untuk 10 detik pertama,

“hm—bagaimana ya?” balasnya lagi. Hening kembali menyelimuti suasana percakapan kami, membuat aku mendengus gusar sedikit tak sabar. “baiklah, besok. Di kelas ya”

Aku melonjak gembira. Membuat kasur yang kududuki ikut melambung, menjatuhkan Chan Yeol yang tengah duduk di pinggir kasur, menguping pembicaraanku dengan Eun Hyun.

“oke, kau dimana sekarang? Di rumah?” tanyaku setengah berbasa-basi. Namun, tiba-tiba ada sebuah suara di seberang sana menginterupsiku, itu suara laki-laki.

.

“Eun Hyun-ah, ayo dicoba. Wah, pasti enak”

.

Sepertinya aku mengenal suara itu. itu terasa amat sangat familiar di telingaku. Dan apa-apaan maksud kalimat itu? ‘ayo dicoba’ , ‘pasti enak’?  wah, ini tidak beres.

“Baek, aku sedang tidak di rumah. Nanti kutelepon lagi ya” ucapnya.

“tapi—Eun Hyun! Song Eun—”

Ah sial, sambungan teleponku ditutup sepihak. Ini aneh, selama aku mengenal Eun Hyun, setauku ia tak pernah keluar rumah selarut ini, dan—bersama laki-laki.

Chan Yeol menatapku harap-harap cemas. Bola mata bulatnya bergerak kesana kemari sembari memperhatikan gerak-gerikku. Aku gusar, tentu saja. Eun Hyun yang jelas-jelas tak pernah keluar rumah pada malam hari, kini hilang dari rumahnya dan sedang bersama seorang lelaki? Sedang apa ia bersama laki-laki malam-malam begini?

Hahh—”, aku menghela napas dan melempar ponselku ke atas tumpukan majalah otomotif milik Chan Yeol. Chan Yeol memang tinggal di rumahku. Ah—tepatnya di paviliun kecil depan rumahku. Ya, istilahnya menyewa lah. Awalnya, Baek Beom-Hyung memang tidak mengizinkanku untuk mengajak Chan Yeol tinggal disini, karena katanya hanya akan menambah pengeluaran keluarga. Kedua orangtuanya tinggal di bagian selatan Filipina sedangkan Park Yoo Ra, yaitu kakak satu-satunya lebih memilih tinggal di apartemen suaminya. Dan, beginilah akhir nasib mengenaskan Chan Yeol, tinggal sendirian di paviliun depan rumahku dengan tarif sewaan setara dengan kantung anak sekolahan yang bekerja paruh waktu di sebuah kafe kopi.

“bagaimana? Dia mau diajak bertemu?” tanyanya sambil melipat kedua kakinya sambil menegakkan punggungnya.

Aku mengangguk malas, masih terpikir suara lelaki yang menyusup di sambungan teleponku dengan Eun Hyun tadi. Klien-nya kah? Tapi, bukankah Eun Hyun tidak membuka jam praktek di malam hari? Dan, suara itu terasa sangat familiar di telingaku.

“dia mau diajak bertemu, tapi kau terlihat gusar. Kenapa lagi?” tanya Chan Yeol sambil membuka sebuah bungkus keripik ubi kemasan yang memang baru ia beli di minimarket dekat rumahku.

“ah, tidak ada kok” jawabku dan buru-buru mengubah raut wajahku yang sedari tadi menampakkan kegusaranku.

Chan Yeol mengangguk. Baguslah, sepertinya kali ini ia tak akan ingin bertanya lebih jauh lagi.  Aku merebahkan tubuhku di atas kasur sambil menatap langit-langit. Benar-benar masih membayangkan suara lelaki yang sedang berpergian dengan Eun Hyun selarut ini.

“Baekhyun-ah!” teriak sebuah suara dari luar. Ah—pasti Baek Beom Hyung. Ia berkali-kali menggedor pintu kamarku. Bahkan membuat Chan Yeol menutup telinganya dengan balutan bantal busaku. Chan Yeol menunjuk kearah pintu kamarku sambil meringis karena nampaknya suara ketukan pintu –tepatnya gedoran- kamarku sudah membengkakkan gendang telinganya. Aku menggeleng malas membuatnya makin mengerutkan wajahnya kesal.

“ya, Byun Baek Hyun! Buka saja pintunya. Pintumu akan rusak jika terus digedor seperti itu” perintah Chan Yeol sambil mendorong punggungku menggunakan sikunya. Membuatku mendengus kasar dan menyerah. Aku membuka pintu kamarku membuat wajah Baek Beom Hyung yang sedang merengut terlihat di depanku.

“ada apa, Hyung?” tanyaku sambil memasang wajah datar. Terlalu malas berinteraksi dengan Baek Beom Hyung. Pasti dia akan menyuruhku melakukan sesuatu. Entah membelikan sabun di minimarket, mencucikan mobil, merapikan paviliun, sampai mengantarkan istrinya ke rumah sakit untuk kontrol kehamilan. Ah, bodoh sekali. Itu kan tugasnya, kenapa aku yang harus melakukan? aku bisa mengadukan ini semua kepada ayahku, pasti dia diusir dari rumah ini. tapi aku tak akan pernah mengadukan perbuatannya karena ia telah mengancamku.

“boleh saja kau mengadukannya pada appa, tapi itu juga jika kau bersedia cincin pernikahanmu kubuang ke tengah sungai Han” itu yang ia katakan sekitar 5 bulan yang lalu. Pernah sekali aku hampir mengadukannya pada ayahku, keesokan harinya cincin pernikahanku dengan Ji Hyun sudah raib di dalam laci nakasku. Ia tak pernah main-main dalam ucapannya. Dan itu membuatku tak pernah berani melawan perintahnya.

“istriku mengidam green tea cheesecake yang dijual di toko kue yang ada di pusat perbelanjaan Seoul. Cepat belikan” titahnya dengan nada sedikit memaksa. Lihat kan? Dia memang terbiasa menyuruh adiknya yang tampan ini untuk memenuhi keinginan istrinya yang sedang mengandung 3 bulan. Hey, sebenarnya yang suaminya itu dia atau aku? Aku mengangguk malas mengiyakan suruhannya.

“membeli green tea cheesecake, membeli buah mangga tengah malam, mencarikan es krim pada musim dingin, nanti apa lagi? Hah—lebih baik aku yang menjadi suaminya, hyung” Sindirku sambil memasukkan ponselku ke saku dan memutarkan kunci motorku dengan jari telunjuk.

“Byun Baek Hyun! Kau itu adikku, jangan sembarangan—” cacinya namun langsung kuredam suaranya dengan cara menguncinya di dalam kamar bersama Chan Yeol yang tidak tahu apa-apa.

.

Poor Chan Yeol

.

***

Aku menaikkan laju kecepatan motor yang kutunggangi membiarkan dengungan mesin menderu di telingaku. Sial, kenapa angin malam sedingin ini? padahal tadi siang matahari sangat terik membuat keringat selalu mengucur di pelipisku. Aku sampai di lapangan parkir gedung pusat perbelanjaan Seoul. Aku segera melepas helm yang sedari tadi menekan kedua pipiku dan sedikit membuat rambutku berantakan. Ya ampun, sudah berapa lama sih Baek Beom hyung tidak membersihkan bagian dalam helmnya? Baunya tengik membuat rambutku yang wangi karena baru saja dikeramas menjadi berbau tidak sedap lagi. Ck!

Aku melangkah gontai masuk ke dalam lobi utama bangunan tersebut dan disambut oleh dua orang security yang membungkuk hormat. Kubalas dengan senyuman sekilas dan tak memperdulikannya lagi. Ah sial, aku belum pernah menjelajahi tempat ini sendirian sebelumnya. Aku hanya pernah mencari beberapa jenis pakaian keluaran terbaru di departement store ini, itu juga ditemani Chan Yeol dan Eun Hyun. Dan waktu itu aku juga pernah kesini untuk merawat kuku-kukuku di sebuah salon kecantikan bersama Eun Hyun. Aku duduk bersantai di salon kecantikan itu dengan seorang karyawan yang menangani kuku-kuku cantikku dan Eun Hyun yang selalu merengut hingga membentakku di depan semua pengunjung mall karena seharian penuh aku melakukan perawatan kuku. Ah, baiklah lupakan kejadian itu. lagipula, itu juga bukan salahku. Siapapun berhak mengurus dan mempercantik kukunya masing-masing kan?

Lalu, dimana toko kue yang dimaksud Hyung? Disini banyak toko kue dan toko roti, tapi jika aku membeli di tempat yang salah dan Baek Beom hyung menyadarinya, aku pasti mati di tangannya dalam sekejap. Dasar suami istri merepotkan.

Aku melewati beberapa toko kue dan semua pramusajinya mengatakan mereka tidak lagi menjual greentea cheesecake karena kurang laku terjual. Karena belum juga menemukan toko yang tepat, akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi ponsel Baek Beom hyung.

Tidak diangkat.

Baiklah, aku bisa saja menghubungi ponsel Chan Yeol karena ia masih terkunci di dalam kamarku bersama dengan Baek Beom hyung. Memikirkannya saja membuatku terkikik geli. Bagaimana bisa dua orang yang tidak pernah akur dikunci di dalam satu kamar yang sama?

Aku menghubungi ponsel Chan Yeol dan mulai terdengar nada sambung, ini lagu Linkin Park, Band kesukaan Chan Yeol.

“Yeoboseo?” ucapku saat Chan Yeol mengangkat panggilanku.

“Ya, Byun Bodoh! Bagaimana bisa kau mengunciku bersama dengan Hyung-mu yang sangat menyeramkan, huh? Kau tahu? Aku seperti dalam satu ruangan bersama dengan seorang pembunuh bayaran yang profesional. Aku seperti sedang dieksekusi! Mati kau besok, Byun!” cecar Chan Yeol begitu mendengar suaraku membuat aku tertawa terbahak-bahak hingga ditatap sinis oleh beberapa pengunjung yang lewat di sekitarku. Aku sempat mendengar dengusan kesal Chan Yeol diujung telepon sana.

“tenang, tenang. Sekarang, jika kau ingin cepat bebas, berikan ponselmu ke Baek Beom Hyung” perintahku. Tak ada balasan lagi dari Chan Yeol. Kutebak, ia pasti sedang mengoper ponselnya ke Baek Beom Hyung.

.

“Byun Baek Hyun, neo michin—”

“santai hyung, aku hanya ingin bertanya, toko kue mana yang kau maksud? Disini terlalu banyak toko kue”

“dasar adik durhaka! Cepat kembali ke rumah dan bukakan pintunya! Kau tahu? Istriku sudah merengek meminta kuenya dan ia menungguku di depan pintu ka-mar-mu!” hardik Baek Beom Hyung membuatku makin terkekeh geli.

“ya, maka dari itu, cepat beritahu dimana toko yang kau maksud”

“sekarang kau sedang berada dimana, huh?” tanyanya. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling, disini ada sebuah toko roti dengan desain toko yang terlihat klasik, sebuah toko sepatu olahraga, sebuah meja pusat informasi dan sebuah toko perlengkapan bayi.

“aku berdiri di lantai 2. Di tengah persimpangan antara toko sepatu olahraga, meja pusat informasi, dan di dekatku juga ada toko perlengkapan bayi.” Jelasku sambil terus mengamati sekelilingku.

“baiklah, itu sudah dekat. Hanya tinggal jalan lurus sedikit lalu belok kanan pada persimpangan pertama di dekat toko topi. Dan— cepat kembali ke rumah dalam 30 menit!”

Aku langsung memutuskan sambungan teleponku. Sangat menyebalkan berbicara dengan Baek Beom hyung. Selalu saja menggertakku dan berteriak dengan nada tinggi.

Aku mengikuti perintah Baek Beom Hyung, hanya sedikit berjalan lurus, dan ah—itu dia toko topi di dekat persimpangan. Aku membelokkan langkahku ke kanan dan mulai tercium aroma semerbak kue-kue kering dan roti-roti manis yang baru dikeluarkan dari oven. Ah, jadi ini toko yang dimaksud hyung. Bagus juga, desainnya terlihat modern. Ada beberapa lukisan abstrak yang dipajang di tembok marmer toko tersebut. Banyak juga replika piring dan garpu yang ditempel di sebagian sudut dinding toko ini. toko ini lumayan banyak juga pengunjungnya, dari anak-anak, keluarga, orang tua, dan sepasang kekasih. Ah lucunya sepasang kekasih itu, sang lelaki menyuapi gadisnya, tersenyum, tertaw—tunggu, sepertinya aku mengenal mereka.

.

Astaga, Kim Joon Myun! Dan..Eun Hyun?

.

Tidak, tidak mungkin mereka duduk berdua disini selarut ini. tapi, itu benar-benar mirip dengan Eun Hyun dan Joon Myun. Lalu, kenapa mereka bisa begitu akrab? Saling menyuapi, bahkan memeluk. Ck, sahabatku sudah dewasa rupanya. Jadi ini yang dimaksud ‘ayo dicoba’ dan ‘pasti enak’ rupanya mereka sedang memakan kue bersama. Aku menyunggingkan salah satu sudut bibirku, membentuk sebuah seringai usil. Kurogoh sakuku mengambil benda elektronik berbentuk persegi panjang dan mulai menelpon Eun Hyun.

Kulihat dari kejauhan, Eun Hyun yang sedang mengunyah kuenya dengan semangat menjadi kebingungan mengambil ponselnya. Aku terkikik geli.

“yeoboseo, Eun Hyun-ah” ujarku.

“ada apa, Baek?” tanyanya. Aku kembali menatap mereka berdua dari kejauhan sambil meredam tawaku. Berusaha berbicara seserius mungkin.

“kau sedang bersama siapa?”

Kulihat Joon Myun yang sedang menyuapi sesendok kue kepada Eun Hyun menatap gadis itu penuh tanda tanya dan dibalas oleh gelengan Eun Hyun. Kurasa mereka sedang berinteraksi menggunakan bahasa tubuh.

“aku—sendirian, tentu saja”. Dasar tukang bohong, sudah jelas sedang berduaan dengan laki-laki kaya itu.

“kuberitahu, Song Eun Hyun..” ucapku sengaja kulambatkan.

“apa? Hei, Baek—kenapa tiba-tiba serius seperti ini, huh?” suara Eun Hyun terdengar menegang. Membuat aku makin terkikik geli dalam diam.

.

“kalau sedang di tempat umum—jangan mengumbar kemesraan dengan saling menyuapi”

.

2 detik..

3 detik..

Hening.

Tiba-tiba suara teriakan memenuhi seisi toko kue, tentu saja berasal dari seorang gadis yang sedang menggebrak meja dan menunjuk kearahku.

.

.

“Byun Baek Hyun!”

TBC

Nah, readers~ gimana? Pada chapter ini aku udah perpanjang ceritanya dan udah ku buat poster, ya meskipun hasilnya jelek karena aku belum profesional hihi^^ terimakasih sudah membaca!

 

 

 

 

5 pemikiran pada “When The Key Of Problem Need A Solution (Chapter 4)

  1. Baek gak cemburu ‘kan? trus Eun Hyun juga suka ma Baek ‘kan ?
    please Eun Hyun jangan ma Su Ho…

    ditunggu nextnya…
    Fighting !

  2. Hiyaaa… akhirnya.. keluar juga lol
    saya bawaannya ngakaaak aja. Apalagi pas bagian Eun Hyun ngebayangi cowok idolanya, dari Taecyeon ampe Baek Hyun. heol banget sumpah. Joon Myeon juga lawak banget, masa ngajak belajar, tapi belajar pacaran. Ta’aruf-an aja sekalian, trus nikah *apaan coba
    Dan, Kim Jong Kook jadi penjaga rumah? hha-haa
    Btw, ceritanya baek hyun dg Jihyun gimana sih author nim? Saya pengen tahu.. kok bisa mereka nikah tapi udah cerai diusia semuda itu? 16 tahun meeen..
    Ditunggu kelanjutannya yaaa….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s