Eternal Sunshine

Original Work : @vanelisamey

 

Eternal Sunshine

Title              :   Eternal Sunshine

Author          :   MaybeeMay

Genre            :   True Love,Romance,Sad

Rating           :    G

Main Cast      :   1. Titania Kim (OC)

  1.    Wu Yi Fan / Kris
  2. Grace Shin (OC)

Backsong        :   Kyuhyun – Eternal Sunshine

      Proclaimer      :  Eternal Sunshine adalah  sebuah Fanfiction hasil kerja rodi neuron-neuron otak kanan Author. Oleh karena itu,Author tidak akan menoleransi adanya plagiarisme. Kecuali, ada yang mau mengganti otak Author. Peace.

No matter what has happened.

No matter what you’ve done.

No matter what you will do.

I will always love you.

 I swear it.

       

 

        Titania

East Village Hospital,Manhattan – New York

22nd July 2013

 

            Kilasan-kilasan memori tentang kejadian itu muncul lagi dalam kepalaku. Kali ini bahkan jauh lebih jelas dari sebelumnya. Dan rasanya kepalaku mau pecah.

Tiba-tiba,sebuah cahaya yang menyilaukan memasuki pikiranku. Sedetik berlalu dan aku kira seorang malaikat pencabut nyawa dengan berwajah seram dan jubah hitam akan keluar dari cahaya itu untuk menjemputku. Tapi ternyata tidak. Malah,seorang anak kecil muncul dihadapanku.

Entah itu hanya halusinasiku atau apa,tapi wajahnya bercahaya. Dengan luar biasa terang. Sampai-sampai aku harus menghalangi kedua mataku dari sinarnya . Tiba-tiba, aku mendengar anak itu berujar pelan,

“Sudah waktunya kau bangun. Selamat pagi.” Untuk sesaat aku melongo bingung. Apa maksudnya perkataan anak ini? Apa aku akan mati?

Aku baru saja akan mengalami serangan panik tapi tubuhku sudah terlanjur terjun bebas dalam lubang yang terbuka di bawah kakiku. Aku berteriak sekuat tenaga tapi teriakanku yang seharusnya sangat cempreng itu pun tidak terdengar sama sekali. Seakan-akan aku tertelan di dalamnya.Tertelan dalam kegelapan lubang tanpa akhir.

Perlahan kurasakan kesadaranku menghilang,dan hal terakhir yang kuingat adalah rasa sakit hebat yang menyerang kedua kakiku.

***

Layaknya Snow White, aku terbangun dari tidur panjang.Hanya saja bedanya aku bangun dari koma setelah dikunjungi anak kecil dalam mimpi bukan dicium pangeran tampan. Hah.

Kubuka mataku perlahan,berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya di sekitar. Tapi sinar matahari pagi yang menyeruak melewati kaca-kaca transparan tepat di sebelah tempat tidurku, membuatku memejamkan mata lagi karena silau.

Hal pertama yang kulihat saat aku sadar adalah wajah kedua orangtuaku yang lelah dan kuyu. Mata ibu yang sembap dan bengkak dan wajah ayah yang serius membuatku langsung berasumsi. Sesuatu yang buruk telah terjadi padaku. Dan aku tahu itu. Aku memang sepantasnya sudah mati.

Flashback

“ Lupakan saja. Aku tidak butuh kau mengantarku” Suaraku yang sedingin es memecahkan keheningan yang menggantung di udara malam itu. Satpam kampus yang sedang sibuk menonton drama malam di dalam posnya pun menengok keluar.Penasaran dengan suara gadis marah-marah di tengah malam seperti ini. Yang tak lain dan tak bukan adalah suaraku sendiri.

 

Laki-laki didepanku mengerutkan kedua keningnya dengan tidak suka. Ditahannya pergelangan tanganku dengan halus.“ Jangan berlaku bodoh,Titania. Sekarang sudah malam. Dan harusnya kau jauh lebih mengerti ketidakmampuanmu untuk menyetir malam-malam begini” Nadanya yang menyindir langsung membuatku tersinggung. Kutarik tanganku darinya dengan kasar.

 

Kutatap matanya dengan emosi.“ Aku tidak ingin bicara denganmu. Pulang saja sana” Balasku sinis. Laki-laki itu menatapku sejenak. Dan hampir saja aku menangis. Hampir saja.

 

Dengan cepat,kualihkan pandanganku darinya,takut hatiku akan luluh lagi. Perlahan ia mundur.

           

“Jika itu yang kau mau.”Ia berbalik dan berjalan pergi. Aku terdiam di tempat. Menatap punggungnya yang perlahan menjauh. Dialah sahabatku.

 

Yang aku cintai dengan sepenuh hati.

 

Dialah Kris.

 

Laki–laki yang sampai matipun tak akan pernah kumengerti.

 

Laki-laki yang hidupnya se-misterius penciptaan manusia. Dan sekaku es Kutub Utara. Laki-laki yang selamanya akan kucintai. Sampai mati sekalipun.

 

Ia tidak berbalik sama sekali. Sedikitpun tidak. Kecewa,aku berbalik dan sekujur tubuhku tiba-tiba disinari oleh cahaya yang sangat terang. Beberapa detik berlalu dan aku baru sadar bahwa itu adalah lampu truk supplier makanan di Kampus. Kutolehkan kepalaku ke samping mencari satpam yang bertugas. Truk supplier makanan sebesar itu tidak seharusnya lewat koridor depan kampus. Tapi bukannya melambat atau malah berhenti karena salah  jalan, kendaraan beroda empat itu malah terus melaju dengan kecepatan tinggi mendekatiku. Dan tiba-tiba kurasakan kedua lututku melemas. Aku tidak bisa bergerak.

 

Sepersekian detik kemudian saat otakku sudah berhenti bekerja,kilasan kemeja berwarna biru muda dan bau cologne yang familier menarikku ke samping dengan kekuatan yang besar. Tapi aku tahu itu sudah terlambat. Karena aku bisa mendengar teriakan mengerikan yang keluar dari mulutku sendiri.

 

Ayah menatapku sambil tersenyum lebar.Dengan susah payah,ia berusaha tidak menunjukkan kesedihannya. Tapi aku sudah terlanjur melihatnya. Dan perlahan air mata mengalir menuruni pipiku bagaikan hujan musim gugur. Ibu meraih tanganku yang menggantung di samping tempat tidur dan mengelusnya pelan.

“Maafkan ayah, Tita. Maafkan ayah” Ayahku tak pernah minta maaf padaku. Atau  pada siapapun. Tak pernah. Dan walaupun ia tidak menyinggung alasannya , dalam hati aku sudah tahu. Tidak hanya aku yang terluka. Laki-laki yang aku cintai juga. Dan sejak aku menyadarinya,tangisku semakin keras.

Kris

Aku tidak tahu dimana aku berada. Semuanya hitam. Tidak ada cahaya. Tidak ada suara. Yang terdengar hanya desahan napasku sendiri. Aku berdiri di tengah ketiadaan. Dan tiba-tiba,wajah ceria gadis itu muncul dalam kepalaku.Tanpa kusadari aku termenung sesaat. Saat itulah aku mengingat apa yang terjadi dengan jelas. Aku ditabrak truk.

Lalu sekarang aku apa? Roh? Kuletakkan tanganku di dada. Jantungku masih berdetak. Apa roh jantungnya masih berdetak sepertiku?

Atau apa aku sudah mati?

Lalu bagaimana dengan Titania?

Mulai letih,kuputuskan untuk duduk. Aku sempat meloncat beberapa kali hanya untuk memastikan kalau tidak ada lubang terbuka atau jebakan tersembunyi diatas dataran seperti lantai ini. Jelas aku harus hati-hati, melihat saja aku tidak bisa saking gelapnya. Aku bahkan tidak tahu apa aku duduk diatas lantai atau bukan. Yah bodoh amat.

Saat aku sedang sibuk mengetuk-ngetukkan jariku diatas dataran keras mirip lantai yang kududuki itu,entah dari mana ada sinar yang menyinari.

Barulah aku bisa melihat apa yang kududuki. Dan saat aku melihatnya,rasanya rohku langsung melayang keluar meninggalkan tubuhku. Karena ternyata yang kududuki adalah udara kosong. Dan sayangnya aku phobia ketinggian.

Menjengit kaget aku berdiri dari posisi duduk dan melihat lantai udara yang transparan di bawah kakiku. Hampir saja aku pingsan.

“ Kau takut ketinggian ya?”Suara anak kecil berbicara membuatku mendongak terkejut. Berdiri di hadapanku seorang gadis kecil. Ia tiduran di atas lantai udara itu dan menatapku sambil menyangga dagunya dengan kepalan tangan.

“Dulu aku juga begitu. Waktu pertama kali sampai di sini” Ia memandangku sambil mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.

Aku perlahan berjongkok. Dan dengan terbata-bata mencoba bertanya pada anak ini.” Apa aku sudah mati?” Ia terkejut dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

“Jangan ucapkan kata itu.”Anak perempuan itu bangkit dari posisi duduknya dan menjulurkan tangannya di hadapanku. Aku mendongak menatap tangannya dengan tak ada minat sama sekali. Tapi akhirnya kupegang juga. Aku sudah cukup phobia ketinggian. Aku bisa benar-benar pingsan kalau tidak ada yang menemaniku.

Ia menarikku pelan.“Belum. Kau belum ‘meninggalkan dunia ini’.Tapi kau juga tidak hidup. Tempat ini adalah perbatasan antara kehidupan dan kematian. Dan aku,adalah malaikat kematianmu.” Aku tiba-tiba kehabisan kata-kata. Aku tidak tahu ingin menjawab apa.

Gadis kecil itu berhenti berjalan dan mendongak menatapku.“Kau tahu tidak? Aku akan memberimu kesempatan. Satu kali lagi.”

“Untuk apa?” Bukankah malaikat kematian seharusnya langsung mengambil nyawa orang tanpa menunggu ? Tapi kenapa dia mau memberiku kesempatan?. Aku tidak punya keluarga. Tidak punya Kerabat. Teman apalagi. Lupakan saja.

Lalu muncullah wajah Titania terproyeksi  didalam kepalaku. Apa ia masih hidup? Ataukah ia di  dalam tempat yang sama denganku?.

“Untuk mengucapkan hal yang belum sempat kau utarakan.” Hal yang belum sempat kuutarakan? Ya aku punya. Tapi…

“Aku berikan kau waktu 1 jam. Tapi setelah waktu itu berlalu ,kau akan kujemput. Dan tidak akan ada lagi kesempatan untukmu.”Anak itu melepaskan pegangan tangannya dan mendorongku kebelakang. Lalu aku jatuh.

Bukan.

Aku tenggelam.

Dengan susah payah,aku berusaha bernapas. Napasku tersengal-sengal seakan aku baru berlari marathon 10 km. Tapi memang itu yang kurasakan. Jantungku berpacu cepat. Mataku terbuka dan kurasakan dingin AC menusuk kulitku. Aku tak bisa berkonsentrasi. Mungkin aku sudah gila,tapi di tengah semua kepanikanku saat itu yang terpikir dalam kepalaku hanyalah Titania. Aku tidak tahu dia masih hidup atau tidak. Aku tidak peduli.

Kucabut jarum infus tanpa ragu walau perihnya kurasakan pada tubuhku yang perlahan kehilangan energi yang tersisa. Aku meloncat turun dari tempat tidur,dan berlari keluar. Aku tidak tahu dimana Titania berada. Tapi untuk sekali ini. Sekali ini saja. Kubiarkan hatiku menuntun.

***

Titania

Kusandarkan tubuhku dengan perlahan pada bantalan kursi roda. Kedua kakiku patah dengan parah. Tapi aku tidak peduli. Aku harus melihat Kris saat ini juga. Keadaannya jauh lebih parah dariku dan karena akulah dia ikut tertabrak. Ini semua kesalahanku. Kalau saja waktu itu aku tidak cemburu layaknya gadis bodoh dan menolak diantarnya pulang,mungkin ini semua tidak akan pernah terjadi. Dia pasti masih ada disampingku dengan senyum sok cool-nya yang menyebalkan itu. Senyum yang berhasil membuatku jatuh cinta setengah mati.

“Kau yakin bisa sendiri?”Ibu melihatku dengan wajah sayang. Kuanggukkan kepalaku pelan dan mulai memutar roda kursi roda itu sebisaku menuju kamar perawatan Kris.

Selama perjalanan pendek yang terasa seperti selamanya itu,aku mulai memikirkan semua kemungkinan. Bagaimana jika Kris dalam keadaan koma sepertiku? Bagaimana jika ternyata dia mengalami kelumpuhan? Bagaimana jika Kris sudah meninggal? Memikirkannya saja hatiku sakit.

Dengan sekuat tenaga kuputar kedua roda itu. Di depan kamar 217 aku berhenti. Kamar Kris.

Kuambil napas pelan,memantapkan hatiku sebelum menghadapi realita yang mungkin akan sangat menyakitkan. Kuketuk pintu beberapa kali tapi tidak ada yang menjawab. Akhirnya kuputuskan untuk membuka pintunya. Saat aku berhadapan hanya dengan tempat tidur kosong,hatiku langsung menciut. Apa Kris sudah meninggal ? Air mata mengambang di pelupuk mataku. Kutatap tempat tidurnya lama, sambil menangis dalam diam. Kutengok kembali nomor kamar dan ternyata aku tidak salah.

Tiba-tiba suara seseorang mengaggetkanku.Aku menoleh ke belakang.

“Titania” Seorang gadis cantik berdiri di depan pintu. Gadis yang memulai pertengkaranku dengan Kris hari itu. Grace Shin. Ia melihatku yang tersedu-sedu dan langsung terkejut. Matanya mulai berkaca-kaca.

Ia menahan air matanya dan berusaha berbicara denganku. “A- apa Kris sudah meninggal?” Katanya terbata-bata. Dan rasanya aku tidak mampu menjawab pertanyaannya. Lidahku kelu.

Tiba-tiba ia menarik rambutku kasar. “Seharusnya kau yang mati! Dasar perempuan jalang! Aku tidak pernah bisa mengerti kenapa Kris menyukaimu! Harusnya kau yang mati! Bukan Kris!” Hatiku serasa baru dirobek-robek sampai tinggal ampasnya saja. Aku tidak tahu lagi apa yang harus kurasakan.

Haruskah aku bahagia?

Haruskah aku menangis?

Atau malah tertawa diatas semua ironi ini?

Rasanya Tuhan tidak adil.

Sungguh tidak adil.

Grace melemparkan buket bunga yang dibawanya untuk Kris ke wajahku dan berjalan pergi sambil tersedu-sedu. Biasanya aku pasti sudah menamparnya. Tapi hari ini aku memang pantas dilempari. Aku membalikkan posisi kursi rodaku dengan susah payah sambil menahan air mataku. Setelah beberapa menit berusaha,aku berhenti dan tangisku pun pecah.

Hampir setengah jam aku menangis.Tapi air mataku seakan belum ada habisnya. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari kamar Kris. Kutinggalkan buket bunga milik Grace di atas tempat tidurnya. Aku tidak mau menoleh lagi.

“Titania!” Aku pasti sudah gila. Tidak mungkin itu suaranya.

“Titania!” Aku berhenti bergerak. Apa ada orang yang punya suara semirip itu dengannya?

“Tania!” Hanya Kris yang memanggilku begitu.Hanya dia seorang. Perlahan aku berbalik.

“Kris? “ Aku menatapnya tak percaya. Kris masih hidup.Ia memegang pipiku lembut dan berlutut di hadapanku.

“Aku kira kau sudah mati”Kataku sambil terisak di depannya. Kupegang lengannya dengan kuat,tak ingin membiarkan dia pergi lagi.

“Aku memang sudah mati. Tapi aku kembali. Untuk mengatakan sesuatu padamu,Tania. Sesuatu yang tak pernah berani kuucapkan dari dulu.” Kris meraih kedua tanganku dan menggenggamnya erat.

“Aku selalu mencintaimu. Sejak dulu saat kau memukul kepalaku karena mengambil lollipop-mu waktu TK sampai sekarang saat kita tertabrak truk di depan parkiran Kampus. Dan sampai mati sekalipun,aku akan selalu mencintaimu.”

“Aku hanya ingin kau tahu itu. Hiduplah bahagia dengan orang lain. Lupakan aku.” Kris berdiri dan mundur perlahan .

“Apa maksudmu?” Kelabakan,aku menahan tangannya.

“Aku harus pergi. Sudah waktunya.” Ia melepaskan tanganku dan berdiri sambil terus menatapku. Kris tersenyum. Dan tiba-tiba ia jatuh ke tanah.

Sepersekian detik kemudian, para perawat sudah mengelilingi tubuh Kris yang tak berdaya dan membawanya ke UGD. Aku tak lagi bisa mengingat rentetan kejadian yang terjadi setelahnya.

Laki-laki yang kucintai pergi meninggalkanku. Dia bilang padaku untuk hidup bahagia dengan orang lain. Tapi pernahkah ia berpikir bahwa aku tak akan bisa bahagia dengan siapapun kecuali dia? Pernahkah?

THE END

4 pemikiran pada “Eternal Sunshine

  1. Ini FFnya keren, sumpah…..walaupun sad ending. Konfliknya udah kerasa dari awal, bikin penasaran. Suka! 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s