Brainhacker (Prologue)

Brainhacker (Prologue)

 

brainhacker –who she is.

meet the potato; lol.skylar

starring; emma roberts –jordan, kris wu –camden, jake abel –shane, luhan xiu –lee

just random passing people; amanda seyfried –liz, taehyung kim –hongwan, chaerin lee –the waitress, ben bowers –dylan

genre; humor—no, dark humor –teen fiction, sadistic, psycho, blah.

duration; chaptered, incomplete. believe me.

rating; let’s see how long i can keep it PG :p lol.

Extented summary;

“Aku bisa merampokmu, nona.”

Jordan mengangkat sebelah alisnya. Bagaimana bisa—ia yang tenang-tenang duduk di bangku taman kota itu menunggu temannya, menikmati sinar mentari di balik tank top putihnya, tiba-tiba terganggu kenyamanannya oleh seorang pria berambut pirang yang mengaku-ngaku sebagai peretas otak.

Masalahnya adalah; sejak kapan otak diretas?

Gadis itu mendengus, menertawakan pria itu.

“Jangan konyol, aku tidak percaya kamu,” sahutnya, menggelengkan kepala dan meraih tasnya.

Namun pria itu menyunggingkan senyum kejam, dan berkata; “Jordan Hale, duduklah kembali dan ikuti perintahku.”

Jordan mematung.

I hate to say this, but;

This freaking story is mine. So don’t you dare to think about stealing my idea, or i will hack your brain like mister jude does.

Who the fuck is mister jude? Figure it out. 😀

So yeah, please leave comment, or at least; like, and share, if you are a kind-hearted folks… just read it already!

Prologue; who she is.

{st. vincent – digital witness}

Jordan menelan cairan yang terasa familiar itu.

Oh, some cheap vodka i will miss.

Dalam waktu dekat, ibunya akan mengirim gadis itu ke sebuah kota yang bahkan tidak ia tahu namanya—bersama Shane tentunya.

Kalau milyarder itu peduli, ia pasti tahu Jordan sudah berumur 18 tahun. Gadis itu bisa mengurus dirinya sendiri tanpa dampingan Shane. Lagipula, Shane sudah punya pekerjaan—pastinya sibuk. Shane tidak akan punya waktu untuk memandikan Jordan atau mengantarnya ke Taman Kanak-Kanak lagi.

Dalam waktu dekat juga, ia akan meninggalkan Dylan—sahabatnya sewaktu ia masih pup di popok.

Ia menelan vodka dari gelas plastik itu.

Untuk terakhir kalinya ia meminum vodka Amerika dan pergi berjalan menuju lantai dansa.

Ah, betapa rindunya aku nanti.

Hanya malam ini saja, ia melupakan paspor dan tiketnya untuk mabuk di bar itu.

***

“Batalkan saja bu, aku masih mau hidup disini!”

Gadis itu melempar tubuh kecilnya ke sofa di ruang tamu. Ia menatap wanita berambut pirang—tentu saja, tertata rapi –yang berdiri di ambang pintu.

“Dan kalau mau mengirimku kau tidak perlu mengikut sertakan Shane! Kau tahu dia sibuk!”

“Shane bahkan tidak bekerja apa-apa, dia bebas, sayang.”

“Tentu saja dia bekerja—“

“Dia hanya menjual narkotika—Demi Tuhan! Biarkan ibu mengirimmu dan Shane untuk belajar disana, dimana jumlah mabuk-mabukan dan penjualan narkotika lebih sedikit dibandingkan disini!”

Jordan memutar bola matanya kesal. “Persetan! Sama saja!”

“Jordan! Perhatikan nada bicaramu—“

“Bu, mau ibu mengirimku ke Inggris sekalipun ibu juga masih menemukan botol whiskey disana!”

***

Shane menghela nafasnya. “Sayangnya, Jordan-ku sayang, aku tidak kenal siapapun disini.”

Kedua remaja itu menatap ruang penuh dengan orang-orang sibuk itu dengan perasaan yang tercampur aduk; marah, kecewa, sedih, lelah, ingin tahu; dan sebagainya. Ketika sang adik masih mengalami jet-lag, sang kakak berjinjit mencari-cari pintu keluarnya.

Dan, ketemu.

“Shane,”

Pemuda itu menunduk. “Apa?”

“Sepertinya—“

“Tahan dulu, Dan. Biarkan aku memasang headsetku dulu.”

Shane mengeluarkan seutas kabel putih dan memasang kedua ujungnya di masing-masing lubang telinganya. Ia menyalakan playlist iPod-nya dan menghela nafas sembari menarik Jordan ke pintu keluar sementara gadis itu mengomel—sepertinya, kebiasaan buruknya berbicara aneh saat jetlag belum sembuh juga.

“—dan kau tahu? Sepertinya bandara ini bagus. Haruskah aku memotretnya dan mengirimnya di DM Instagram? Untuk siapa? Pengikutku atau hanya Dylan? Ah, kita harus mencari Starbucks disini. Aku juga harus memotretnya untuk random feeds Instagramku. Oh! Kau harus memotret pakaianku dari jauh, akan kumasukkan ke Polyvore. Dan tweet foto itu di Twitter. Ah—“

Jordan menelan air liurnya dan mulai mengoceh lagi. Sedangkan Shane melepas kedua headsetnya begitu ia melihat pemuda tengil datang padanya dan berkata;

“Shane dan Jordan Hale? Aku Lee, senior Jordan di Cavillan High. Selamat datang di Queensland.”

===

the potato’s buble; that is what i called prologue. right. there’s no existence of the dearest kris wu—yet. so yeah, you should listen to St. Vincent’s song. somehow it’s matched to the theme of this story.

another potato’s buble; i’m using emma roberts as the female maincast here. is it okay for you? or you can imagine you as jordan hale lol.

some of the potato’s explaination; jordan hale is a depressed high school girl, who once dyed her hair pastel blue and getting high from her brother’s coke—no, not diet coke, i mean cocaine –and hate her mother’s gut. somehow, her family’s filthy rich, that’s why i call her mom as ‘a billioner’. i hope you understand.

I do hope you like this crappy thing somehow, although there aren’t much of korean/chinese people here.

love, lol.skylar

Satu pemikiran pada “Brainhacker (Prologue)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s