Chanyeol Appa! (Chapter 7)

Chanyeol Appa! (Chapter 7)

part 7

Tittle   : Chanyeol Appa!

Part 7 : “Destiny”

Lenght : Chaptered

Rating   : PG 13+

Genre : Comedy, Romance and Family

Author : deeFA (Dedek Faradilla)

Twitter : @JiRa_deeFA

Main Cast : ChanYeol EXO-K (Park Chan Yeol)

                  Hwayoung (Ryu Hwayoung)

                   Baek Hyun EXO-K (Byun Baek Hyun)

                  Ara Hello Venus (Yoo Ara)

                   Suho EXO (Kim Joon Myun)

                   Krystal f(x) (Kim Soo Jung)

                   Aleyna Yilmaz Ulzzang Baby (Park Shin Hye)

Annyeong readers. Maaf part ini lama selesainya. Maklum mahasiswa tingkat akhir, sibuk sama skripsi (curcol). Di part ini agak sedih gitu (gak tau sih sedih atau gak). Author amatiran ini ingin berterima kasih bagi yang sudah baca di part sebelumnya. Tinggalin jejak setelah baca ya ^^, baik itu berupa kritik maupun saran, atau yang lainnya. Don’t be Silent Reader. Thank you. *deep bow*

Read and Comment.

====================================================================

@Ara’s House

Pagi-pagi buta Ara sudah disibukkan dengan pekerjaan rumah. Kamarnya berada di tingkat dua, ia sedang menjemur bed cover yang baru saja dicuci di beranda kamarnya. Dari atas, ia seperti melihat seseorang yang mondar-mandir di depan pagar. Ia berusaha tidak memperdulikannya, namun ia dapat merasakan keberadaan seseorang di depan rumahnya.

“Stalker?” batinnya.

Karena penasaran ia turun ke bawah, ia membawa sebuah sapu di lengan kirinya, takut-takut bukan penguntit yang nge-fans dengannya melainkan seorang pencuri.

Ara memakai baju piyama tipis dan rambut panjang yang digerai. Angin pagi menusuk tulang hingga membuatnya menggigil. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, namun tidak ada apa-apa di sana. Saat ia memutuskan untuk kembali masuk ke dalam, ia melihat kepala seseorang dibalik tempat sampah.

“Sedang apa?” tanyanya pada pria yang menutup mukanya dengan kedua tangan.

Pria itu berdiri dan menatap Ara dengan salah tingkah. Betapa terkejutnya ia, ternyata pria itu adalah Baek Hyun.

“Byun Baekhyun-ssi?. Sedang apa disini?”

“A..a…ak..aku..mmm..itu, itu…”

Waeyo?. Salah minum obat?. Sudah ya, aku mau masuk”

Tiba-tiba, Baekhyun menyentuh pundak Ara untuk menghentikan langkahnya. Ia pun membuka jaketnya dan menaruhnya dipundak Ara.

“Hmm…pagi seperti ini, anginnya dingin. Lain kali pakai baju yang tebal. Nanti masuk angin” katanya terbata-bata lalu pergi dari hadapan Ara.

Ara menatap punggungnya yang semakin mengecil. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, lantaran bingung dengan maksud dan tujuan Baekhyun yang datang pagi-pagi hanya untuk memberikan jaket merah miliknya.

Gamsahae?. Cih!. Untuk apa aku berterima kasih. Aneh!” gumamnya.

***

Hidung dan telinga Baekhyun memerah, sesekali ditiup kedua tangannya agar merasa lebih hangat. Wajahnya sangat berseri-seri. Orang-orang yang sedang berolahraga pagi menatapnya aneh. Bagaimana tidak, ia menari-nari sepanjang jalan dan melambaikan tangan kepada siapapun yang lewat di hadapannya. Ditambah lagi, ia memakai sepatu yang berbeda warnanya.

“Aku keren sekali tadi. ‘Pagi seperti ini, anginnya dingin. Lain kali pakai baju yang tebal. Nanti masuk angin’. Oh my god, seperti di drama-drama. Pasti Yoo Ara sangat tersentuh. Dan lalu menelponku untuk mengembalikan jaketnya sambil bilang ‘gamsahamnida oppa’. Lalu wajahnya memerah. Nah, saat itulah aku akan bilang ‘Saranghae Ara-ya!’, kemudian bagian paling pentingnya adalah KISS. Daebak!”

Baekhyun terus saja mengoceh, ia membayangkan hal yang belum pasti terjadi, seolah-olah semua itu telah terjadi.

***

@Chanyeol’s Apartement

Insiden ‘morning kiss’ yang seharusnya romantis, ini malah sebaliknya. Hwayoung secara refleks langsung melepasnya dan membersihkan mulutnya. Ia menatap Chanyeol dengan mulut yang berkomat-kamit. Shin Hye terkekeh melihat kedua orang tuanya. Tidak ingin merusak kebahagian putrinya, Chanyeol bersikap seolah-seolah insiden tadi adalah hal biasa.

“Terima kasih istriku sayang” dengan kaku ia memeluknya. Hwayoung pun jadi terpaksa tersenyum.

“Shin Hye sekarang makan ya. Eomma dan appa ingin membeli sesuatu dulu. Shin Hye bisakan tunggu di sini sendirian sebentar saja kan?” tanya Hwayoung.

Shin Hye menggangguk. Tanpa ragu Hwayoung menarik tangan Chanyeol yang baru saja bangun dan bahkan belum sempat mencuci mukanya. Ia menariknya ke taman belakang apartemen. Ia sudah tidak tahan lagi dengan suaminya itu.

“YA!!!.” Ia meneriaki Chanyeol.

“Seharusnya aku yang demikian. YA!!. Kenapa kau menciumku?”

“Park Chanyeol!. Kau kira aku sudi menciummu?. Aku sudah tau, dari tadi kau sudah bangun. Jangan membuat hubungan ini semakin kacau!. Aku mau kita bersikap manis di depan Shin Hye. Bersikap seolah-olah, kita orang tua yang akur. Aku mohon kerjasamanya!”

Setelah menumpahkan uneg-unegnya, Hwayoung langsung menuju kembali ke apartemen milik Chanyeol. Namun, langkahnya terhenti saat suaminya itu memanggil namanya.

“Ada apa lagi?” tanyanya malas.

“Jangan membuat hubungan ini semakin kacau?. Memangnya hubungan kita seperti apa?. Suami-istri?. Atau hanya hubungan hukum, dimana nama belakangmu yang dulu Ryu kini berubah menjadi Park. Kerjasama?. Kerjasama untuk menipu seorang gadis kecil berumur lima tahun?”

Chanyeol meninggalkan Hwayoung yang terdiam. Ia berjalan menuju apartemennya. Sementara Hwayoung mengepalkan tangannya erat. Air matanya ingin keluar dari pelupuk matanya. Namun, ia berusaha untuk menahannya.

Shin Hye menghampiri ayahnya yang kembali sendirian.

“Appa, Eomma mana?. Kenapa tidak balik sama-sama?”

“Sekarang Shin Hye mandi dulu ya. Appa antarkan ke rumah halmeoni dan harabeoji. Soalnya eomma mau bekerja”

“Hari libur seperti ini?”

Chanyeol mengangguk. Ia lalu membuka baju putrinya dan mengantarnya ke kamar mandi. Ia lalu menuju ke kamar dan menyiapkan baju untuk putrinya. Di lubuk hatinya, ia merasa bersalah pada Shin Hye yang tidak tahu apa-apa.

Hwayoung lalu kembali ke apartemen. Ia mengambil tas dan bajunya, lalu pergi tanpa pamitan dengan putrinya dan juga Chanyeol.

***

Tidak ada ekspresi di wajahnya Hwayoung, pikirannya terus melayang pada pertanyaan Chanyeol tadi. Sepanjang perjalanan, ia hanya duduk termenung di dalam bus. Ia merasa begitu banyak beban dalam hidupnya. Sejak menikah, tidak ada sama sekali hal yang benar-benar membuat dirinya bahagia selain Shin Hye.

Ia turun dari pemberhentian bus, dan menemukan sebuah kedai ddeokboki. Ia lalu memesan dua botol soju dan seporsi ddeokboki.

Sungguh aneh, pagi-pagi sudah memesan soju. Pikirannya kacau. Ia baru sadar, bahwa selama ini yang dilakukan hanyalah menanam kesakitan dan kebohongan pada Shin Hye. Segelas demi segelas, ia terus meneguk soju. Yang tadinya ia hanya memesan dua botol, kini telah habis empat botol. Ia benar-benar mabuk berat.

Mianhaemianhaemianhae Shin Hye-ya….” Ia terus bergumam demikian sambil menangis dalam keadaan mabuk.

Grettt…grett….handphone di sakunya bergetar. Nama Kim Joon Myun tertera di layar.

“Annyeonghaseyo. Maaf mengganggu akhir pekan anda. Tapi, file yang kemarin kenapa belum dikirim sampai sekarang?. Deadline nya minggu ini. Hwayoung-ssi, anda sudah lupa?” suara Joon Myun yang sedang berkutat di depan laptopnya.

Mianhae….mianhae…Shin Hye-ya..” gumam Hwayoung dengan suara yang begetar dan disertai isakan.

“Hwayoung-ssi, ada apa?” tanyanya panik.

“Tidak bisakah kau bawa aku pergi?. Aku lelah dengan hidup ini.”

“Dimana anda sekarang?. Hwayoung-ssi…Hwayoung-ssi…”

Handphone milik Hwayoung sudah jatuh ke tanah. Ia melipat kedua tangannya dan menangis terisak-isak.

Joon Myun yang setangah mati khawatir dengan Hwayoung, langsung mengambil sweater dan kunci mobil. Berulang-ulang kali ia menelpon kembali, namun tidak di angkat. Ia melacak keberadaan Hwayoung dengan smartphonenya.

Tanda merah di handphonenya telah berbunyi. Tanda bahwa Hwayoung tidak berada jauh dari tempatnya sekarang. Ia memarkir mobilnya asal, dan melihat sekeliling untuk mencari keberadaan Hwayoung. Ia kembali menelpon nomor Hwayoung. Ia mendengar deringan suara handphone di belakangnya, ia menoleh dan melihat punggung Hwayoung. Ia mengambil handphone miliknya dan duduk di hadapannya.

“Hwayoung-ssi, anda baik-baik saja kan?”

Hwayoung mengangkat kepalanya yang dibenamkan di dalam lipatan kedua tangannya. Ia menangis sejadi-jadinya.

“Kenapa tidak anda saja yang menghamili saya. Kenapa harus laki-laki itu. Kenapa orang seperti anda tidak hadir di pernikahanku, lalu membawaku pergi dari sana. Kasihan Shin Hye, harus lahir dari orang tua yang salah. Semua kebahagianku hilang. Aku harus jadi ibu, di saat semua teman sekelasku sibuk dengan artis idolanya, sibuk dengan kencan buta, pergi ke mall, jalan-jalan untuk membeli baju. Bahkan aku lupa kapan terakhir kalinya aku membeli baju baru. Tidak ada kebahagian untukku sejak semua ini terjadi. Aku menanggung malu ini sendiri, dengan tinggal terpisah dari ibuku”

Joon Myun lalu pindah dan duduk di sebalah Hwayoung yang menangis hebat. Saat itu juga, air matanya jatuh.

“Kau tahu?. Chanyeol itu?. Selalu saja berdebat denganku. Selalu saja tidak mau mengalah. Apa yang salah kalau aku memarahinya!. Dia kuliah dan sewa apartemen dari uang hasil jerih payahku. Tapi aku tidak pernah mengungki-ngungkitnya. Dan aku tidak pernah memberi tahunya. Aku tidak ingin harga dirinya sebagai laki-laki tersakiti. Tapi apa, pagi ini dia malah menanyakan apa hubungan kami. Aku sungguh-sungguh menganggapnya sebagai suamiku. Bahkan tidak terbersit niat di hatiku untuk menyukai laki-laki lain. Namun tidak dengan sekarang!. Tolong! Tolong bawa aku dan Shin Hye pergi denganmu!. Jebal!. Jebal!”

Hwayoung terlihat sangat frustasi, Joon Myun berusaha mengehentikannya yang terus berbicara dan menangis. Ia mendekap tubuhnya dengan erat dan mengelus-elus punggung dan kepalanya. Ia menarik napas panjang. Ada perasaan lega yang berbeda di dalam benaknya. Pertama ia lega Hwayoung dapat menumpahkan seluruh emosinya, dan yang kedua ia lega bahwa pertanyaan yang timbul tentangnya terjawab sudah. Persaan suka yang timbul terhadapnya, awalnya ingin di kubur saja. Namun, sekarang tidak ada alasan untuknya untuk tidak memperjuangkan perasaannya. Ia menggendong tubuh Hwayoung ke dalam mobilnya.

“Mulai sekarang, biarkan aku yang membahagiakanmu” batin Joon Myun.

Ia menaruhnya di kursi depan di samping kemudi. Seat-belt juga dipasangkan di tubuhnya, sambil menatap wajahnya yang sendu, Joon Myun berpikir bahwa sudah lama hatinya tidak pernah bergetar seperti ini lagi. Terakhir kalinya adalah ketika dia berada di bangku SMA kelas 2. Dua tahun jatuh cinta pada teman sekelasnya tanpa berani untuk membuat pengakuan. Dan saat perasaannya ingin diungkapkan sebelum ia pergi ke London untuk meneruskan kuliah disana, ternyata sebuah cincin dari emas putih melingkat manis di jari tengahnya.

“Joon Myun, uri chingu. Chukkaeyo!, atas beasiswa full yang kau dapat di London. Sekarang giliranmu memberikan selamat padaku”

“Waeyo?”

“Aku akan menikah. Aku tidak berniat untuk meneruskan ke perguruan tinggi. Kau harus datang. Arachi?”

Ingatan akan Yoora terus terbersit di benaknya saat melihat wajah Hwayoung yang tertidur. Air mata Hwayoung mengalir membahasahi pipi.

Gwaenchanayo…gwaenchanayo…” gumamnya sambil mengusap air mata Hwayoung.

***

Raut wajah masam terpasang di muka putri semata wayang Chanyeol. Ia begitu kesal, lantaran ibunya tidak berpamitan pulang padanya. Padahal Chanyeol sudah berusaha menjelaskan dengan alasan yang logis, bahwa Hwayoung tiba-tiba mendapatkan telpon di kantornya. Shin Hye merasa kesal karena hari ini adalah akhir pekan. Ia ingin mengajak ayah dan ibunya jalan-jalan bersama.

“Aku tidak mau ke rumah harabeoji dan halmeoni. Aku mau sama Ara imo saja” pintanya.

Andwae Shin Hye-ya. Kamu sama harabeoji dan halmeoni saja, ya?” bujuk Chanyeol. Ia tidak ingin Shin Hye berada di rumah orang tua Hwayoung. Ia tidak ingin di anggap ayah yang tidak becus dan semakin dibenci oleh mertuanya.

“Kalau gitu aku ikut appa saja. Tidak boleh juga?”

“Shin Hye-ya, kau kan sudah besar sekarang. Appa harus bekerja. Kau akan bosan di sana. Lagian, di sana bukan tempat untuk anak seusiamu”

“Kalau begitu, aku mau bersama Ara imo. Titik!”

Chanyeol berusaha untuk bersabar. Sifat Shin Hye yang satu ini membuatnya selalu teringat dengan Hwayoung dan membuatnya semakin kesal dengannya. Ia pun menelpon Ara dan meminta Ara untuk menjaga Shin Hye sampai jam 8 malam.

@Lolly Cake Shop

Ara menyuruh Chanyeol dan Shin Hye untuk menunggu di sana. Tidak berapa lama, sosok Ara pun muncul dan langsung membungkuk hormat pada Chanyeol, lalu memeluk Shin Hye.

“Tolong jaga dia ya!. Aku akan menjemput dia. Tapi…tolong jangan bilang pada eomma, harabeoji dan halmeoni kalau aku menitipkan Shin Hye padamu”

“Iya. Tidak akan aku bilang ke siapapun”

Chanyeol lalu meninggalkan Shin Hye dan Ara di sana. Ara sebenarnya aneh dengan raut wajahnya. Apalagi harus rahasia segala tentang ia yang menjaga Shin Hye.

“Imo, kita jalan-jalan yuk!” ajak Shin Hye.

“Kaja!. Tapi imo harus bertemu seseorang dulu. Ok!”

***

Secara kebetulan Ara memakai baju yang hampir mirip dengan Shin Hye. Sama-sama memakai rok selutut bergelombang berwarna dongker dan baju tidak berlengan berwarna putih dengan motif polkadot. Yang berbeda hanyalah sepatunya. Shin Hye memakai flat shoes berwarna putih dengan hiasan bunga. Sedangkan Ara memakai sneakers berwarna putih polos.

Shin Hye dan Ara menunggu di sebuah taman kota. Mereka duduk di sebuah bangku di samping air mancur. Banyak anak-anak yang bermain bersama keluarganya di sana. Ara mengerti sekali tatapan dari Shin Hye.

“Pokoknya Shin Hye tenang aja. Hari ini kita pergi main sepuasanya” kata Ara membangkitkan suasana.

Sudah hampir setengah jam mereka menunggu. Shin Hye sudah tidak tahan lagi.

Imo tunggu siapa sih?” tanyanya jengkel.

Ara kesal dengan Baek Hyun. Ia mengirim pesan hinggal lebih 30 kali yang isinya ‘Aku sibuk!. Cepat!’. Memang benar, Ara sedang menunggu Baek Hyun. Ia ingin mengembalikan jaket yang diberinya.

Sementara itu, di rumahnya Baek Hyun baru saja siap memakai baju. Butuh lebih dari sejam ia memilih baju yang cocok. Akhirnya jatuh pada celana panjang berwarna dongker dan kaos putih polos berlengan pendek dan berkerah. Dan memilih sepatu sneaker putih kesayangannya.

Imo, ayo kita pergi!. Panas nih!. Ayolah imo!” rengek Shin Hye.

“Oke, ayo pergi Shin Hye”

Saat mereka ingin pergi, Baek Hyun sampai di sana. Ia langsung berteriak memanggil nama Ara. Wajahnya tersenyum saat Ara berbalik, ia langsung berlari menghampirinya.

“Annyeonghaseyo!. Maaf terlambat!”

Ara dan Shin Hye memasang wajah masam.

“Eh?. Shin Hye?. Annyeong!”

Ara lalu menyerahkan kantung berwarna putih padanya.

“Apa ini?” tanya Baek Hyun.

“Jaket yang kemarin. Sudah ya. Aku mau pergi!” ketusnya.

Namun Baek Hyun menahan Ara dengan berdiri di hadapannya.

“A…emm…mmm, kalian mau kemana?” tanyanya.

“Mau jalan-jalan samchon” jawab Shin Hye.

Jinja?. Kalau begitu ayo kita pergi sama-sama. Kaja!”

Mata Shin Hye menatap Ara yang berada di sebelah kirinya, dan kemudian menatap Baek Hyun yang berdiri di depannya. Ia menatap mereka secara bergantian.

“Kalian janjian ya?” tanya Shin Hye curiga.

“Aniyo…” jawab Ara marah.

Lalu wajah Shin Hye tersenyum.

“Berarti takdir!. Lihat saja, kalian memakai baju yang sama”

Ara dan Baek Hyun saling bertatapan satu sama lain. Mereka baru sadar, mereka memakai baju yang sama. Ara sama sekali tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Apalagi saat ia menoleh ke Shin Hye, ia juga baru sadar mereka bertiga memakai baju yang hampir persis sama. Ia tidak ingin jalan-jalan dengan Baek Hyun. Ia takut orang-orang akan salah sangka. Apalagi kalau sampai bertemu dengan teman-temannya. Pastinya, sekampusnya bakalan heboh. Namun tidak dengan Baek Hyun. Ia malah senyam-senyum sendiri saat mendengat kata Shin Hye tadi, bahwa mereka adalah ‘takdir’.

“Ayo samchon!” Shin Hye menarik tangan Baek Hyun. Dan Baek Hyun menarik tangan Ara sambil berkata ‘Kaja!’ dengan senyuman mautnya.

***

@Neverland Park

Setelah memarkir mobilnya. Mereka menuju tempat pembelian karcis untuk masuk. Baek Hyun memegang Shin Hye di tangan kanannya dan Ara di tangan kirinya. Sebenarnya Ara sangat tidak ingin tangannya di pegang olehnya. Namun, saat melihat di sekelilingnya, semua orang pergi dengan pasangannya, untuk itu ia tidak menolaknya.

Baek Hyun akan mengajak Ara untuk menaiki roller coaster. Seperti di drama, Ara akan menggenggam tangannya. Senjata selanjutnya adalah pergi ke rumah hantu. Dan di sana ia akan mendapatkan pelukan Ara yang ketakutan. Ia sudah tidak sabar lagi.

Imo ingin sekali naik itu” kata Ara yang menunjuk pada Shin Hye. Baek Hyun tersenyum, ‘ini dia!’ batinnya berkata.

“Kalau gitu, ayo naik!” kata Baek Hyun.

“Lalu Shin Hye dengan siapa di sini?”

“Sudahlah imo, aku tunggu di sini. Janji, aku tidak kemana-mana” kata Shin Hye sambil mengedipkan matanya pada Baek Hyun.

Baek Hyun lalu pergi dengan Ara untuk naik roller coaster.

“Takut?” tanyanya.

“Sedikit. Sudah lama tidak naik ini soalnya” papar Ara.

Tibalah waktu mereka untuk naik. Setelah pengaman semua di pasang. Roda-rodanya mulai berjalan sedikit-demi sedikit. Dan sekarang roller coaster mereka sudah berada di puncak, dan sekarang klimaksnya. Roller coasternya menuruni puncak dan melaju dengan kecepatan tinggi. Ara berteriak karena senang. Ia sama sekali tidak takut.

“Kereeeeeeeen….wuaaaaaaah…..coooool…..daebaaaaaaaaak…..” kata-kata yang keluar di mulut Ara.

Ia sangat menikmati. Baek Hyun yang menunggu Ara memegang tangannya jadi kecewa. Misinya gagal. Sudah hampir ratusan kali ke sini bersama gadis. Baru kali ini Ara yang memasang raut wajah senang dan tidak takut. Cara ini padahal selalu berhasil.

Setelah istirahat selama 10 menit dan menikmati ice cream sundae. Baek Hyun mengajak Ara untuk masuk ke dalam rumah hantu. Sampai di sana lagi-lagi…

“Jinja?. Begini hantunya?. Apaan yang takut!” gumam Ara.

Tiba-tiba datang seorang hantu yang memakai baju serba hitam dan wajah yang berdarah di hadapan Ara.

“Annyeonghaseyo…” kata Ara pada hantu tersebut.

Baek Hyun di belakang makin tambah kesal. Bagaimana bisa reaksi Ara hanya ‘Annyeonghaseyo’. Biasanya reaksi dari gadis-gadis yang dikencaninya adalah berteriak lalu memeluknya secara refleks. Gagal sudah rencananya. Tidak ada rencana cadangan untuk dapat mendekati Ara.

Imo, lapar….” rengek Shin Hye yang menarik-narik Ara untuk makan di sebuah restoran bertema teddy bear.

Mereka bertigapun menuju restoran yang di tunjuk Shin Hye tadi. Baek Hyun berjalan lemas di belakang, mengikuti Shin Hye dan Ara.

Saat pelayannya membuka pintu, isi di dalam tempat tersebut adalah para orang tua dan anak-anaknya. Ara ingin keluar dan mencari tempat lain, namun Shin Hye sudah duduk duluan.

Imo cantikkan tempatnya?”

Ara hanya mengangguk pada Shin Hye yang duduk di sampingnya.

Datanglah seorang pelayan yang membawa buku menu.

“Annyeonghaseyo!. Selamat datang di Teddy Beary Resto Family and Kid. Hari ini kita ada menu baru. Anda bisa pesan menu keluarga untuk bertiga. Ada beberapa pilihan, dan biasanya anak-anak lebih suka menu yang ke lima ini. Bagaimana?. Apa pilihan menu anda?”

Setelah berdiskusi dengan Shin Hye, Ara menjawab oke.

“Kalau begitu, untuk orang tua yang berusia di bawah 30 tahun, hari ini kita ada diskon 20 persen. Bisa tunjukkan kartu ID anda pak?” ia bertanya pada Baek Hyun.

Baek Hyun terkejut ketika pelayan berkata demikian, dengan raut wajah bingung ia mengeluarkan IDnya.

“Terima kasih!. Ingin di bayar dengan cash atau card, pak?”

“Card saja!” kata Baek Hyun lalu menyerahkan kartu atmnya.

“Silahkan tunggu 20 menit. Kami akan mengantarkan pesanan anda. Untuk menunggu, anda bisa mengajak anak anda bermain di ruang yang kiri di sebelah sana. Gamsahamnida!”

Baek Hyun menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Ia tersenyum kegirangan lantaran di sangka mereka bertiga adalah keluarga.

Tiba-tiba ada seorang anak kecil kira-kira berusia 2 tahun yang berlari ke arah Ara.

“Annyeong…” Sapa Ara dan mengelus pipinya.

“Aigoo, mianhae. Dia sedikit nakal. Karena baru bisa jalan” kata ibunya yang langsung menggendongnya.

“Aniyo. Gwaenchanayo!” Ara berkata dengan tersenyum.

“Aigoo, jadi cemburu melihat anda. Masih muda tapi sudah punya putri yang cantik. Bagaimana tubuh anda masih bagus seperti ini setelah melahirkan?. Saya setelah melahirkan naik 10 kg. Turunnya cuma 3 kg. Dan sekarang tidak mau turun-turun lagi. Anda diet dengan dokter atau ikut olah raga apa?”

Ara tidak tahu harus menjawab apa, saat ia ingin menjelaskan bahwa Shin Hye bukan anaknya dan Baek Hyun bukan suaminya, ibu terus saja mengoceh tanpa berhenti.

“Anda harus berterima kasih dengan istri anda. Sudah punya anak tapi masih cantik”

“Ah…iya. Iya.” Jawab Baek Hyun.

Shin Hye tersenyum penuh makna. Semenatara itu, Baek Hyun senyum kegirangan. Namun Ara senyum penuh keterpaksaan.

“Sepertinya Baek Hyun samchon menyukai Ara imo. Harus aku apakan ya?. Apa aku kerjai saja?” batin Shin Hye berkata.

***

Chanyeol memilih untuk menenangkan dirinya dari pada menyelesaikan skripsinya yang seharusnya di kerjakan di akhir pekan. Ia memilih sebuah taman yang tidak jauh dari apartemennya. Ia duduk di bawah pohon besar, lalu mengeluarkan buku polos panjang dan sebuah pensil. Sambil melihat sekeliling, ia mulai melukis taman dan couple yang duduk tak jauh darinya. Ia tidak puas dengan gambarnya. Dirobeknya kertas tadi dan mulai menggambar lagi.

“Appaa…..” sebuah suara membuatnya menoleh mencari sumber suaranya.

Saat menoleh ke belakangnya, ternyata seorang gadis kecil kira-kira berusia kurang dari dua tahun memanggil sosok laki-laki di hadapannya. Chanyeol tersenyum, ia kembali teringat saat Shin Hye pertama kali dapat bicara.

Flashback

Rumah sederhana yang di beli oleh orang tua Hwayoung telah berubah menjadi rumah yang sangat indah. Chanyeol menyulapnya dengan melakukan beberapa dekorasi di beberapa tempat. Ia menunjukkan kemampuannya sebagai arsitek pada Hwayoung.

Hari itu, Chanyeol sedang belajar kembali untuk masuk ke perguruan tinggi dan untuk kembali mendapatkan jurusan arsitek di Universitas ternama di Korea Selatan.

“Sudah cukup belajarnya. Sekarang pijit aku. Palli!” Hwayoung berkata dari depan pintu kamar.

“Kau buta?. Tidak bisa melihat?. Aku sedang sibuk belajar. Lusa adalah ujian masuk universitas. Jangan ganggu aku. Sekarang tutup pintunya. Aku mau fokus!”

“Ya!. Dari tadi aku menjaga Shin Hye dan membuatmu makan siang. Kau mau aku adukan dengan ibumu?. Ya!. Park Chanyeol!. Aku hitung sampai tiga, kalau kau tidak bangun dari dudukmu, akan aku patahkan kakimu!”

“Wuah…, Kau berani membentakku?. Kau kira aku takut?. Berani kau menyentuh kakiku, kau mati!. Dan satu lagi, jangan teriak-teriak. Shin Hye sedang tidur siang”

Mata Hwayoung terbelalak, ia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Seharusnya dia yang berkata demikian. Lebih dari 2 jam ia berusaha menidurkan Shin Hye.

“Ppa..ppa…appaa…appa…”

Mendengar sebuah suara dari kamar sebelah, Hwayoung dan Chanyeol saling bertatapan. Mereka buru-buru ke kamar sebelah. Dan melihat Shin Hye kecil yang berusia 13 bulan duduk di tempat tidur

“Ppa…ppa…appa…appa…” Shin Hye terus berkata demikian.

“Shin Hye-ya. Eomma…eomma…” Hwayoung menyuruh Shin Hye mengikuti kata-katanya.

“Mma..eomma…eomma…”

Mulut Chanyeol dan Hwayoung terbuka. Mereka bertatapan satu sama lain.

“Kau lihat?” kata Hwayoung. Chanyeol mengangguk.

“Shin Hye bicara!. Manse!. Manse!” Gumam Hwayoung.

Chanyeol langsung menggendong Shin Hye dan berkata, “Manse!. Shin Hye-ya Manse!”. Berkali-kali ia mencium pipinya. Mereka melompat kegirangan. Seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan baru.

Flashback End

Mengingat hari itu, membuat Chanyeol tersenyum sendiri.

Manse!” gumamnya.

To Be Continued…

 

 

12 pemikiran pada “Chanyeol Appa! (Chapter 7)

  1. yey publish jg ni ff kangen bgt ..
    Sumpeh ya thor bagian tentang Hwayoung curcol bnr” nguras air mata gue thor 😥 #sedih bgt kasian hwayoung thor ..hwayoung ninggalin massa remaja untuk chanyeol & shinhye #stronghwayoung .apa Hwayoung udah jatuh cinta dg Chanyeol ..ga rela klo hwayoung dg junmyeon gue lebih respect hwayoung dg chanyeol thor ya walaupun mereka hrs bertengkar …
    cie baekhyun semangat terus gue dukung lo baek #fighting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s