Chanyeol Appa! (Chapter 9)

 Chanyeol Appa!

part 9

Tittle   : Chanyeol Appa!

Part 9 : “Orang Ketiga”

Lenght : Chaptered

Rating                                    : PG 13+

Genre : Comedy, Romance and Family

Author : deeFA (Dedek Faradilla)

Twitter : @deeFA_JiRA

Main Cast : ChanYeol EXO-K (Park Chan Yeol)

                  Hwayoung (Ryu Hwayoung)

                   Baek Hyun EXO-K (Byun Baek Hyun)

                  Ara Hello Venus (Yoo Ara)

                   Suho EXO (Kim Joon Myun)

                   Krystal f(x) (Kim Soo Jung)

                   Aleyna Yilmaz Ulzzang Baby (Park Shin Hye)

                   Kim Woo Bin

Annyeonghaseyo~ Balik lagi dengan chapter 9. Mudah-mudahan para readers suka dengan part ini. Author amatiran ini ingin berterima kasih bagi yang sudah baca di part sebelumnya. Tinggalin jejak setelah baca ya ^^, baik itu berupa kritik maupun saran, atau yang lainnya. Supaya ceritanya bisa jadi makin baik. Don’t be Silent Reader. Thank you. *deep bow*

Read and Comment.

====================================================================

Woo Bin keluar dari residen Baek Hyun dengan wajah mengerikan. Teman-teman club Baek Hyun yang lain juga merasa terhina diperlakukan seperti ini olehnya. Mereka pergi dari sana dan berkumpul di club yang biasanya mereka datangi.

Mobil-mobil mewah mereka terparkir di depannya. Woo Bin, Tae Woo, Hyung Sik, Ken, Aron dan Leo langsung menuju ke dalam. Suasana hati yang tidak pas membuat mereka menatap sinis setiap orang yang mereka lalui. Apalagi Woo Bin yang sempat memarahi pelayan yang tidak sengaja mengenai bahunya saat berjalan.

“Mana Baek Hyun?” tanya Lodella pada Woo Bin yang baru saja duduk.

“Kau masih menaruh hati padanya?” tanya Woo Bin dengan nada tinggi.

“Hei, ada apa denganmu?” Lodella heran melihat tingkah Woo Bin dan lalu duduk di sampingnya.

“Kau tahu Yoo Ara?”

“Aku pernah mendengar nama itu dari Baek Hyun. Sepertinya dia tertarik dengan gadis itu. Soalnya dia pernah menyiumku, lalu bertanya mengapa hatinya tidak berdetak. Ya, aku katakan saja kalau itu tandanya dia tidak suka denganku. Setelah itu, besok malamnya dia menelpoku dan menceritakan tentang gadis itu”

“Dia siapa?” tanya Woo Bin sambil mendekatkan wajahnya pada Lodella.

***

@Hwayoung & Chanyeol House

Chanyeol melepaskan pelukannya. Suasana menjadi canggung. Hwayoung tidak tahu harus berbuat apa. Ia memilih untuk masuk ke kamar dan bersembunyi di balik selimutnya. Sementara Chanyeol tak mampu bergerak dari tempatnya. Ia mengacak-ngacak rambutnya.

“Apa yang sudah aku lakukan?. Kau gila Chanyeol?”. Ia terus bergumam pada dirinya sendiri dan memukul-mukul jidatnya. Dirinya bahkan tidak memahami mengapa ada hasrat dari lubuk hatinya untuk memeluk Hwayoung.

Tiba-tiba angin menyebabkan jendela rumahnya terbuka. Ia lalu segera menutupnya. Namun, ia menoleh ke samping jendela itu. Foto dirinya bersama Hwayoung dan Shin Hye terpanjang disana. Foto di saat keluarga kecil mereka merayakan ulang tahun Shin Hye yang pertama.

Flashback

“Wuah, Shin Hye cantik sekali bajunya” kata Hwayoung yang baru siap mengganti baju di dalam kamarnya. Shin Hye yang memakai dress berwarna salem dan bando bunga di kepalanya berada di gendongan Chanyeol, asik membeo.

            “Siapa dulu yang belikan bajunya. Coba kalau eomma yang belikan. Seleranya seperti tahun 80-an” jawab Chanyeol yang memakai kemeja putih dan celana berwarna hitam.

            Mereka bertiga berada di kamar, sedang bersiap-siap untuk merayakan ulang tahun Shin Hye.

            “Kau tidak usah pakai lipstick. Aku tidak suka” kata Chanyeol yang melihat Hwayoung duduk di depan meja rias.

            “Wae oppa?. Tidak cantik?”

            “A…a…aniyo. Terlalu menor. Aku lebih suka apa adanya” jawabnya yang terbata-bata dan langsung keluar dari kamar.

            Mereka lalu duduk di ruang keluarga. Dan Hwayoung mengeluarkan birthday cake dari dalam kulkas. Ia juga menghidupkan lilin berangka satu di atasnya. Nyanyian selamat ulang tahunpun di lantunkan oleh Chanyeol dan Hwayoung. Shin Hye tampak bahagia di pangkuan appanya. Saat waktunya tiup lilin, Hwayoung memanjatkan doa untuk putrinya sambil menutup matanya dan menggenggam kedua tangannya di bawah dagu.

            “Tuhan, di ulang tahun putri kami yang berusia satu tahun. Aku mohon berikanlah ia selalu kesehatan. Berikanlah segala kebahagian padanya. Jadikanlah ia anak yang kuat dalam menghadapi segala cobaan. Dan ia dapat tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik dan disenangi banyak orang”

            Namun saat Hwayoung mengucapkan doanya, di dalam hati Chanyeol juga memanjatkan doa untuk putrinya.

            “Tuhan, jika aku diberi kesempatan. Tolong bantulah aku agar dapat membahagiakan Hwayoung dan malaikat kecilku, Shin Hye. Bimbinglah aku untuk menjadi ayah dan suami yang baik. Di hari ulang tahun malaikat yang kau titipkan padaku, walaupun dengan cara yang tidak dapat kupahami. Jadikanlah seluruh cinta yang aku miliki hanya untuk mereka berdua hingga aku mati”

            Setelah selesai berdoa. Hwayoung memotong kuenya. Dan mereka mengambil foto saat Hwayoung menyuapi Chanyeol.

Flashback End

            Senyuman tergambar di wajah Chanyeol yang kembali mengingat masa lalunya.

***

Pagi-pagi buta Hwayoung sudah sibuk di dapur. Ia sedang mempersiapkan bekal untuk makan siangnya dan sedikit cemilan untuk menemaninya bekerja. Ia tidak membangunkan Chanyeol. Takutnya ia malah canggung menghadapinya.

Waktu telah menunjukkan pukul tujuh pagi. Saat ingin memasukkan laptopnya ke dalam tas. Tiba-tiba ada suara klakson mobil di depan rumahnya. Ia tidak memperdulikannya. Mungkin saja mobil tetangganya. Namun, mobil itu mengklakson lagi, hingga membuat Chanyeol terbangun.

“Siapa sih pagi-pagi?” gerutunya yang mengucek-ngucek matanya.

Tak lama, bel pintu rumahnya yang berbunyi. Hwayoung menuju kedepan untuk mengecek siapa yang datang pagi-pagi ke rumahnya.

Annyeonghaseyo” sapa Joon Myun saat pintu terbuka.

Annyeonghaseyo. Ada apa sehingga anda datang ke rumah saya pagi-pagi, pak?”

“Bukankah kau juga akan ke kantor?. Jadi sekalian saja denganku”

“Apa tidak merepotkan?. Lagian saya bisa naik angkutan umum. Saya jadi merasa tidak enak”

“Emmm, gwaenchanayeo. Kalau begitu ayo berangkat”

Hwayoung lalu masuk ke dalam untuk mengambil tas dan menyusun bekalnya. Ternyata Chanyeol dari tadi melihat percakapan mereka dari jendela. Saat Hwayoung sedang bersiap-siap, ia keluar dan menghampiri Joon Myun.

“Baik sekali anda mau menjemput istri saya. Sepertinya anda perhatian sekali padanya” katanya dengan raut wajah tidak suka.

“Tentu saja saya perhatian padanya. Siapa tahu nanti saya yang akan memanggil ‘istri saya’ untuknya” jawab Joon Myun dengan senyuman penuh makna. Ia terlihat begitu tenang, tidak seperti Chanyeol.

“Kau suka pada istriku?”

“Apa tidak boleh aku mencintai seorang wanita yang telah menikah namun suaminya tidak memperdulikan dirinya dan harus berkorban untuk keluarganya?. Tidak ada larangankan?”

Saat Chanyeol ingin menjawab, tiba-tiba Hwayoung muncul.

“Saya sudah siap, pak”

“Kalau begitu saya permisi dulu ya” kata Joon Myun yang menatap Chanyeol penuh makna.

Saat Joon Myun sudah memasuki mobilnya, Hwayoung tiba-tiba berbalik, ia mengatakan bahwa ada barang yang ketinggalan. Padahal ia ingin mengatakan sesuatu pada Chanyeol.

“Um…mmm….umm…” Hwayoung terbata-bata di hadapan Chanyeol yang masih berada di depan pintu rumah.

“Kau kenapa?”

“Aku tidak menyuruh managerku untuk menjemputku. Dia tiba-tiba datang begitu saja. Dan…, dan aku tidak enak jika menolaknya”

“Siapa yang tanya?” kata Chanyeol yang lalu masuk ke dalam rumah.

“Laki-laki itu. Aish….”

***

Tidak biasa memakai high heels membuat Ara susah untuk berdiri dengan normal. Hari ini adalah pernikahan sahabatnya, mau tidak mau pagi-pagi ia sudah direpotkan untuk berdandan seperti permintaan sahabatnya. Ara menunggu Baek Hyun di depan rumahnya. Sebenarnya sangat terpaksa ia meminta bantuan Baek Hyun untuk mengantarnya. Namun, apa boleh buat, tidak ada yang bisa mengantarnya. Semua orang dirumah sudah pergi pagi-pagi sekali membawa Shin Hye jalan-jalan.

Mobil merah Baek Hyun berhenti di hadapannya. Ia memencet tombol dan atap mobilnya terbuka, lalu ia melepaskan kacamatanya.

“Kaja!” ajak Baek Hyun.

“Buat apa berlebihan?, aku kan hanya memintamu untuk mengantarku, bukan untuk menemaniku” protes Ara saat melihat pakaian Baek Hyun.

Geurae?, kalau begitu apa di kontak handphonemu hanya ada namaku?”

“A…a..ani…aniyo. Banyak yang lainnya!” Ara terbata-bata dengan wajahnya yang memerah.

Geurae?. Alasanmu menelponku karena kau yakin kalau aku akan mengantarmu kan?. Iya kan?”

“Jadi mau mengantarku atau mau terus mengoceh?. Aku bisa naik taksi!”

“Ya, Yoo Ara. Kau jatuh cinta padaku” batinnya.

Baek Hyun menahan tawanya. Ia turun dari mobilnya dan menarik tangan Ara untuk masuk ke mobilnya. Sepanjang perjalanan menuju tempat acara, orang-orang di jalanan bertepuk tangan melihat ke arah mereka.

“Mengapa mereka melihat kita?”

Jari-jari Baek Hyun menari di atas setir mobil. Ia pura-pura tidak mendengar perkataan Ara. Tatapan mencurigakan terus dipancarkan dari wajah Ara. Ia semakin bingung dibuat olehnya. Sebenarnya Baek Hyun menempel bunga dan tulisan ‘We Got Married’ di belakang mobilnya untuk menarik perhatian orang. Ia tidak mampu membayangkan jika Ara tahu perbuatannya ini.

***

Beberapa orang mulai datang memenuhi coffee shop tempat Chanyeol bekerja. Ia mulai menyiapkan pesanan. Soo Jung, manager coffee shop ini turun dari lantai atas untuk melihat karyawannya. Disebelah tangan kanannya ia membawa sebuah buku gambar dan beberapa pensil. Ia duduk di tangga dan mulai menggambar sesuatu. Matanya tertuju pada Chanyeol yang sedang menaruh cream dan choco ice cream di atas waffle.

“Park Chanyeol…” panggil Soo Jung.

“Ne!. Ada yang bisa saya bantu?” Chanyeol menghampirinya.

“Benarkah kau kuliah di jurusan arsitek?”

Chanyeol mengangguk sambil tersenyum bingung.

“Ini…” Soo Jung memberikan sebuah tiket pada Chanyeol.

“Pameran design arsitektur. Siapa tahu dapat membantumu untuk menyelesaikan skripsimu. Hari minggu pukul sepuluh, aku jemput di depan apartemenmu”

Belum sempat menjawab apapun, Soo Jung sudah jalan menuju mobilnya. Yang ada di pikiran Chanyeol saat ini adalah bagaimana dia tahu alamat rumahnya. Tiba-tiba suara tepuk tangan terdengar olehnya. Teman-teman rekan kerjanya memberikan selamat padanya.

Chukkahaeyo, manager mengajakmu pergi berdua. Chanyeol Jjang!!”

Kakinya lemas, ia terduduk di tangga. Masalah apalagi yang akan dia hadapi. Di saat-saat hubungannya dengan Hwayoung sedang di ambang kehancuran seperti ini, harus datang seorang gadis yang mendekatinya.

“Ah…michigene…” batinnya.

***

Dikantornya Hwayoung sedang galau. Ia memegang handphone dan mengetik sms, lalu menghapusnya lagi, begitu seterusnya. Ia mengacak-ngacak rambutnya. Bener-benar bimbang, ia merasa serba salah. Jika tidak dikirim maka akan memperburuk hubungannya dengan Chanyeol, jika tidak maka Chanyeol akan semakin yakin bahwa ia selingkuh. Ia tidak ingin Chanyeol salah paham.

“Ah…telpon saja!” batinnya.

Ia keluar dari ruangannya untuk keluar dari kantor. Ia berdiri di depan kantornya sambil menarik napas panjang, lalu menyentuh tulisan call pada nama ‘Nampyeon (suami)’.

Wae?” jawab Chanyeol dengan nada malas yang membuat Hwayoung hilang mood.

“Sedang apa?” tanya Hwayoung kaku.

“Main dirumah teman” Chanyeol berbohong. Ia tidak ingin Hwayoung tahu kalau ia sedang kerja part-time.

“Apa tidak ada kerjaan lain?. Makan, tidur, main, makan, tidur, main saja kerjamu!”

“Tidak ada waktu berdebat denganmu. Aku tutup!”

Chakkamanchakkaman…kalau waktu untuk makan malam ada tidak?. Malam ini”

Chanyeol menampar kedua pipinya, takut-takut bahwa dia sedang mimpi di siang bolong. Terasa sakit di pipinya. Ia lalu menyuruh rekan kerjanya untuk menendang kakinya. Alhasil, ia meraung keras membuat Hwayoung yang diseberang telpon khawatir.

“Bi-bi-sa.., kau ulangi lagi?” pinta Chanyeol terbata-bata.

“Kalau kau tidak punya waktu juga tidak masalah. Aku hanya basa-basi saja”

Ani, Aniyo!. Akan aku usahakan datang. Dimana?”

“Akan aku sms alamatnya. Kalau tidak datang, lihat saja!”

Hwayoung langsung mematikan telponnya. Ia memegang jantungnya yang berdegup kencang. Ditempat yang berbeda, Chanyeol memandang layar handphonenya dengan pikiran yang berkecamuk. Mengapa tiba-tiba Hwayoung meminta makan malam dengannya. Apa ini sebuah kabar baik atau malah menjadi pertanda buruk?.

Waeyo?. Em…, apa dia merindukanku?. Atau apa jangan-jangan dia minta cerai?. Mwoya?” batinnya.

***

Konsep pernikahan garden party yang sangat indah membuat Ara berdecak kagum saat mobil Baek Hyun berhenti ditempat tujuannya. Baek Hyun menoleh ke samping melihat Ara yang asik memotret.

“Ayo turun!” ajak Baek Hyun yang membuka pintu untuk Ara.

“Aku hanya memintamu untuk mengantarku saja. Bukan memintamu untuk menemaniku masuk ke dalam” kata Ara sambil melihat wajahnya di spion mobil Baek Hyun.

“Benarkah?. Sayangnya aku juga diundang. Calon pengantin prianya adalah anak dari teman ibuku. Aku hanya menggantikan ibuku yang tidak dapat hadir hari ini. Jadi, bagaimana kalau aku memintamu untuk menemaniku?”

“Terserah!” jawab Ara dengan muka masam. Namun, tiba-tiba saat berjalan masuk, tubuhnya menjadi tidak seimbang karena tidak biasa memakai heels, untunglah ia tidak sempat jatuh, ada Baek Hyun yang menangkapnya.

“Kualat sih” kata Baek Hyun yang tersenyum di hadapan wajah Ara yang sudah memerah. Tanpa ragu ia menggenggam tangan Ara erat dan masuk ke dalam.

Memang Ara risih, dilihat oleh para tamu yang hadir. Apalagi di sana banyak kolega kerja ibunya. Teman-teman Ara juga memandangnya dengan penuh makna. Namun di sisi lain, di dalam pikirannya…

Pikiran Ara

Semua orang menatapnya yang begandengan dengan Baek Hyun dengan decak kagum. Baek Hyun lalu menghampiri salah seorang rekan kerja ibunya.

“Siapa disampingmu?”

“Oh, dia Yoo Ara. Calon istriku. Wajahnya cantik kan?. Sama seperti hatinya”

“Omo, kalian sangat serasi. Segeralah menikah”

End

Ara tertawa sendiri, ia seperti orang tidak waras.

“Hei, kau kenapa?” tanya Baek Hyun di hadapannya.

Tiba-tiba Ara melihat ke sekelilingnya, ia berada di depan toilet.

“Kenapa aku bisa berada disini?” tanyanya.

“Aku yang seharusnya tanya. Kenapa tadi kau tiba-tiba tertawa terbahak-bahak lalu pergi kesini. Kau tidak sadar?”

Ara baru sadar, bahwa tadi ia hanya berkhayal, bukan kenyataan.

“Ayo, acaranya akan segera dimulai”

Ara memukul-mukul jidatnya.

Altarnya sangat indah, para tamu berdiri. Saatnya kedua mempelai berciuman. Para tamu berdiri dan memberikan tepuk tangan, begitu juga Ara dan Baek Hyun.

“Kau mau menikah dengan konsep apa?” bisik Baek Hyun di telinga Ara.

“Flower Blossom”

“Kau ingin menikah dimana?” tanyanya lagi masih berbisik.

“Jeju”

“Kau ingin menikah dengan Byun Baek Hyun?”

“Ne!”

“MWO???” Ara berteriak, ia baru sadar dengan pertanyaan Baek Hyun. Dan membuat tamu yang hadir menjadi kaget, begitu juga pengantin pria dan wanita yang sedang memotong wedding cake. Ia menjadi pusat perhatian. Dengan wajah yang sangat malu ia berlari meninggalkan tempat itu. Baek Hyun yang mengejarnya dari belakang yang menuju parkiran.

“Mau kemana?” Baek Hyun menarik tangannya.

“Kau sudah menerima lamaranku. Mulai sekarang kau adalah calon istriku” sambungnya.

M-M-Mwo?. Ya!. Aku tidak jelas mendengar pertanyaamu tadi. Lagian aku lagi fokus, kau sibuk menanyai ini itu” protesnya.

“Kalau begitu akan aku perjelas sekarang. Kau ingin menikah dengan Byun Baek Hyun?”

“Kau gila?. Umurku masih muda” Ara lalu menuju jalan untuk mencari sebuah taksi.

“Kalau begitu bagaimana kalau kau menjadi kekasihku?” tanya Baek Hyun yang membuat Ara berbalik.

Ara menatapnya. Ia sangat ingin berkata ‘ia aku mau’. Cuma sepertinya mudah sekali bagi Baek Hyun untuk mendapatkan cintanya.

“Kalau kau bisa menaklukan kakekku, aku akan menerimamu”

Sebuah taksipun berhenti, Ara masuk ke dalamnya. Baek Hyun yang ditinggal sendiri tersenyum sangat lebar.

“Cih!. Kau mau menerimakukan?. Hanya saja kau takut kakekmu akan menolakku. Untuk itu kau minta aku untuk menaklukan kakekmu. Aigoo…dia benar-benar gadis lugu yang imut” batinnya sambil melambaikan tangan pada taksi Ara yang sudah menjauh dengan senyum lebar.

***

Laki-laki bertubuh model dengan handuk di pinggang dan rambut basah sedang sibuk memilih baju untuk di pakai. Ia memilih untuk memakai kemeja panjang berwarna putih. Wajah tirus dan mata tajamnya menjadi daya pikat para wanita. Dia adalah Kim Woo Bin, model yang dulunya ulzzang seperti Baek Hyun. Ayahnya adalah seorang CEO dari perusahaan asuransi terbesar di Asia dan juga berteman baik dengan ayahnya Baek Hyun.

Ketika sedang memilih parfum yang ingin dipakai. Masuklah laki-laki yang memakai jas, dengan membawa sebuah amplop. Ia membungkuk hormat setelah menyerahkannya. Woo Bin membuka amplop tersebut. Dari sekian banyak kertas yang berisikan tulisan, ia menemukan sebuah foto di dalamnya.

“Yoo Ara?” gumamnya yang memegang foto Ara yang menaiki sepeda dengan costum minnie mouse serta menggembungkan pipinya dan membuat ‘v sign’ dengan tangan kanannya.

Sorotan mata Woo Bin berubah dari tajam menjadi mata yang penuh pertanyaan. Tiba-tiba handphonenya berbunyi. Ia mengambil handphonenya yang terletak di atas kasur. Tangan kirinya masih memegang foto milik Ara, sedangkan yang satunya lagi mengecek handphonenya. Ada sebuah video yang dikirim oleh temannya. Saat di klik ternyata video tersebut berisikan Baek Hyun dan Ara yang menaiki mobil dengan tulisan ‘We Got Married’ di belakangnya.

Mwoya!”

***

Jantung Hwayoung masih berdegup kencang, bertemu berdua seperti ini adalah pertama kalinya. Sebelumnya ia tidak pernah menelpon Chanyeol, selain untuk keperluan Shin Hye. Apalagi setelah Chanyeol kembali ke Seoul, mereka sangat jarang menghubungi satu sama lain, paling hanya keperluan yang mendesak.

Saat ingin masuk ke dalam, ia berpapasan dengan Joon Myun yang baru saja membeli sesuatu di luar.

Annyeonghaseyo” sapanya sambil membungkuk hormat.

Annyeonghaseyo!. Hwayoung-ssi, kau sudah makan siang?” tanya Joon Myun.

“Belum. Tapi, saya bawa bekal dari rumah pak”

“Bagaimana kalau tukaran?. Saya yang makan bekalmu, kau memakan makanan yang ini” kata sambil mengangkat makanan yang dibelinya.

Hwayoung hanya dapat mengangguk. Mereka lalu menuju rooftop kantor. Pemandangan di atas sana sangat indah. Mereka duduk di sebuah kursi yang saling berhadapan. Hwayoung meletakkan bekalnya di atas meja, ia membukanya satu per satu. Sementara Joon Myun membuka jasnya dan mengendurkan dasinya serta melipat lengan kemejanya.

“Wuah, mashiketta” kata Joon Myun.

Mianhamnida, saya terburu-buru jadi hanya sempat membuat makanan yang seperti ini”

Gwaenchanayo, eumm…mashita, nomu mashisseoyo

Jinja?. Chanyeol oppa paling tidak suka eggroll buatanku. Katanya seperti sedang makan lendir. Untunglah anda suka. Dia juga bilang makanan seperti ini tidak layak untuk di makan. Padahal, kalau disuruhpun, dia tidak bisa membuatnya. Pak manager sama seperti Shin Hye, putriku” cerita Hwayoung dengan semangat.

Mendengar nama Chanyeol membuat Joon Myun kehilangan nafsu makannya. Ia hanya tersenyum tipis dengan rasa terpaksa pada Hwayoung. Sementara Hwayoung asik menyantap beef bibimbap yang dibeli Joon Myun.

“Sepertinya Chanyeol adalah orang yang menarik” pancing Joon Myun dengan maksud lain.

Aniyo!. Aigoo, Pak manager jangan melihat luarnya saja. Dia orang yang paling menyebalkan yang pernah aku temui. Mulutnya seperti perempuan. Selalu saja cari gara-gara. Kalau aku tidak hamil, aku….” kata Hwayoung terputus tiba-tiba ketika ia sedang semangatnya bercerita. Joon Myun mendelik, ia heran mengapa Hwayoung tidak menyambung kalimatnya.

“Hahaha, tapi dia orang yang baik” sambung Hwayoung canggung. Ia hampir saja keceplosan tentang dirinya yang hamil sebelum menikah dengan Chanyeol. Padahal Joon Myun sudah tau segalanya.

Suasana menjadi canggung. Hwayoung tidak tahu harus berkata apa. Joon Myun di hadapannya juga tidak tahu harus berbuat apa. Ia menatap wajah Hwayoung dan kembali mengingat kata-katanya.

“Kenapa tidak anda saja yang menghamili saya. Kenapa harus laki-laki itu. Kenapa orang seperti anda tidak hadir di pernikahanku, lalu membawaku pergi dari sana. Kasihan Shin Hye, harus lahir dari orang tua yang salah. Semua kebahagianku hilang. Aku harus jadi ibu, di saat semua teman sekelasku sibuk dengan artis idolanya, sibuk dengan kencan buta, pergi ke mall, jalan-jalan untuk membeli baju. Bahkan aku lupa kapan terakhir kalinya aku membeli baju baru. Tidak ada kebahagian untukku sejak semua ini terjadi. Aku menanggung malu ini sendiri, dengan tinggal terpisah dari ibuku”

“Kau pasti bahagia menikah dengannya” kata Joon Myun.

Hwayoung hanya tersenyum tipis dan menghela napas panjang. Saat itu Joon Myun ingin sekali memeluknya dan mengeluarkannya dari penderitaan ini, namun dia juga tidak ingin tambah menyakitinya dengan memaksanya untuk meninggalkan Chanyeol. Bagaimana dengan Shin Hye nantinya. Banyak sekali yang berkecamuk di pikirannya.

***

Woo Bin mengendarai mobil mewahnya menuju hotel milik ayahnya, kini ia bekerja menjadi manager disana. Setelah sampai, ia langsung menuju ruangannya. Yang pertama kali dicarinya adalah laptop. Ia membuka kotak email dan melihat sebuah email masuk. Sebuah nomor handphone tertera diisi email tersebut. Woo Bin menghubungi nomor tersebut dengan ponselnya.

“Saya Kim Woo Bin, pemilik Lotte Hotel Seoul. Bisakan anda menjumpai saya sekarang alamatnya akan saya kirim.”

***

Warna langit mulai kemerahan senja telah datang. Hwayoung beberapa kali melihat jam tangannya, entah mengapa jantungnya berdegup kencang mengingat pertemuannya malam ini dengan Chanyeol. Rasanya seperti seorang senior akan mengenalkan laki-laki padanya dan sudah tidak sabaran untuk Blind Date.

Chanyeol yang sedang membuat café latte sesekali mendelik jam dinding. Dia khawatir, lantaran tidak mungkin Hwayoung menemuinya karena merindukannya. Handphone di sakunya bergetar, ada sebuah pesan yang masuk.

From : Shin Hye Eomma

            Jyoti Restaurant Chungmuro, pukul 19.30.

            PALLI!.

            Mata Chanyeol mendelik membaca nama Jyoti Restaurant Chungmuro. Jyoti Restaurant Chungmuro salah satu restoran terkenal dan mahal di Seoul.

“Dia akan ke sini?. Wae?. Aneh!. Ada sesuatu yang aneh!” gumamnya.

Sesaat setelah membaca sms yang membuat hatinya berdegup sangat kencang, ia pun membuka apronnya dan menuju ke ruangan manager. Waktunya selesai bekerja part-time yaitu pukul delapan malam. Namun, untuk malam ini ia meminta agar diberi izin untuk pulang satu setengah jam lebih awal. Alasannya adalah ibunya datang dari desa. Soo Jung, memberi izin dengan syarat, gajinya akan dipotong. Chanyeol tak mempermasalahkan hal tersebut. Masalahnya dengan Hwayoung lebih berat dari gajinya yang akan dipotong.

Chanyeol buru-buru keluar dari tempatnya bekerja. Ia menuju apartemennya untuk mengganti baju. Sesampainya, ia langsung menyerbu lemarinya.

“Ah, ini sepertinya cocok” gumamnya saat melihat kemeja putih berlengan panjang dan sweater berwarna sapphire blue dan celana jeans berwarna hitam.

Tidak lupa ia mandi terlebih dahulu sebelum memakai bajunya. Serta menyemprotkan parfum yang banyak. Ia berharap dengan penampilannya yang rapi dan harum, membuat hati Hwayoung senang. Ia juga memakai gelang jimat pemberian seorang biksu ketika ia berlibur ke China saat SMA. Biksu itu berkata bahwa gelang tersebut adalah gelang penolak kesialan dan selalu membawa keberuntungan bagi siapa yang memakainya.

“Tolong, bantu aku!. Jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk malam ini. Jebal!. Jebal!. Bantu aku!. Hanya kau yang bisa kau andalkan. Arachi?” kata Chanyeol pada gelang di tangannya.

Hwayoung di kantornya meminta izin untuk pulang lebih awal. Waktu yang diperlukan 1,5 jam saja dari Ilsan menuju Seoul jika menggunakan subway. Tetapi akan membutuhkan waktu 2 jam dengan bus. Ia tidak ingin telat, walau ia sudah tahu ia akan telat. Bagaimana tidak, sekarang sudah pukul 18.20 namun ia masih di kantornya. Joon Myun memberinya izin, karena alasan Hwayoung adalah ingin bertemu dengan putrinya.

***

@Jyoti Restaurant Chungmuro

            Mata Chanyeol terbelalak saat memasuki restaurant ini, hatinya semakin takut akan terjadi sesuatu yang buruk. Seorang pelayan yang memakai jas mengahmpiri Chanyeol.

“Ada yang bisa saya bantu?. Apa sudah di reservasi sebelumnya?, atau mau reservasi sekarang?”

“Saya juga tidak tahu, tapi, coba dilihat apakah ada reservasi atas nama Ryu Hwayoung?”

Chamkanman Gildariseyo

Tak lama setelah pelayan tersebut menuju layar komputer ia kembali menemui Chanyeol.

Ne!. Isseoyo. Reservasi atas nama Ryu Hwayoung dibuat untuk dua orang. Kalau begitu silahkan, akan saya antar”

Mwoya?. Dua orang?. Dia membuat reservasi?” Chanyeol berbicara dalam hatinya.

Ia telah duduk, pelayan datang membawa menu, namun ia menolak. Ia akan menunggu Hwayoung terlebih dahulu. Ia sengaja datang lebih awal, agar Hwayoung tidak emosi. Ia menghindari hal-hal yang dapat memperburuk suasana hatinya.

Chanyeol menumpang dagu dengan kedua tangannya. Waktu telah menunjukkan pukul 19.45, akan tetapi Hwayoung belum tampak. Tanpa terasa kini sudah kelima kalinya Chanyeol meminta agar air di gelasnya diisi dan jam di dinding menunjukkan pukul 20.20. Hampir satu jam Hwayoung telambat. Chanyeol melipat kedua tangannya, ia mulai berpikir, apakah ia harus menunggunya lagi?. Atau langsung keluar. Atau malah jangan-jangan Hwayoung sedang mengerjainya. Lalu, Chanyeol mengambil keputusan untuk menunggunya 20 menit lagi. Jika ia belum datang, maka ia akan pulang saja.

Orang silih berganti datang, pelayan juga sudah lebih dari sepuluh kali datang ke tempatnya untuk memberi menu makanan.

“Ah, aku pulang saja” katanya yang segera keluar dari restaurant.

Ia merasa sedang dipermainkan oleh Hwayoung.

Babo!. Jinja babo!. Bagaimana bisa aku percaya begitu saja dengannya. Jyoti restaurant chungmuro?, seharusnya aku sudah sadar sejak awal. Mana mungkin gadis seperti dia mengajakku makan di tempat seperti ini. Auuhh!!”

Chanyeol berjalan meninggalkan restaurant dengan perasaan kecewa. Sesekali ia membalikkan wajahnya, berharap ada sosok Hwayoung yang memanggilnya dari belakang.

“Park Chanyeol…. Chanyeol….” sebuah suara di hadapannya memanggil namanya.

Baru saja ia berharap ada suara yang memanggilnya, kini ia sudah mendengarnya.

Seseorang yang terengah-engah mendekatinya.

“Hwayoung?”

Sosok yang memanggilnya adalah Hwayoung. Ia berlari cukup kencang untuk menghampiri dirinya. Pikirannya semakin bingung, bagaimana Hwayoung bisa tahu sosoknya dari jauh?.

Chanyeol menatap Hwayoung dalam-dalam, pipi dan hidungnya begitu merah.

Gamsahamnida. Jeongmal gamsahamnida” Hwayoung membungkuk hormat padanya, hingga membuat Chanyeol bingung.

Waeyo?. Mengapa tiba-tiba terima kasih?. Ada apa?”

“Telah menungguku. Itu sebabnya aku berterima kasih. Handphoneku mati karena low battery, makanya aku tidak bisa mengabarinya. Ini…” Hwayoung menyerahkan sebuah sebuah kotak yang telah terbungkus rapi.

Mianhaeyo, telah membuatmu menunggu. Ini sebagai ucapan terima kasihku”

Chanyeol membuka kotak tersebut. Isinya adalah jam tangan.

“Sejak menikah, aku selalu melihat kau memakai jam tangan yang sama. Em…jadi…ya…begitulah”

“Apa terjadi sesuatu?” tanya Chanyeol hati-hati.

Aniyo, wae?”

“Isanghae!. Dia kenapa?. Membuat jantungku berdegup saja” batin Chanyeol.

Pab Mogosseo?” tanya Hwayoung.

Micheoso?”

Geurae?. Keurom kaja!!”

Saat Hwayoung dan Chanyeol masuk kembali ke dalam restaurant itu ternyata tempatnya sudah penuh. Terpaksa mereka makan di restaurant yang tidak jauh dari sana.

“Kau sakit jiwa?. Mengapa memesan makanan begitu banyak?. Siapa yang akan memakannya?” tanya Chanyeol.

“Ya!. Dari sejak aku sampai, kau sama sekali tidak bersikap manis sedikit saja. Aku hanya mau mentraktirmu, ini uangku, terserah mau aku habiskan bagaimana”

“Baru kerja begitu saja sudah sombong!”

Pelayan mengatur satu persatu makanan di atas meja. Chanyeol tidak sabar lagi ingin menyantap semua seafood yang dihidangkan. Walaupun bukan restaurant bintang lima, tetapi rasanya tidak kalah dengan restaurant bintang lima. Terbukti dari banyak yang datang ke tempat ini.

Hwayoung dan Chanyeol sedang menikmati makanan yang telah disajikan. Tetapi, Chanyeol sama sekali tidak merasakan makanannya, pikirannya masih berkecamuk tentang maksud ajakan makan malam istrinya.

Mashisseoyo?” tanya Hwayoung.

Marhaebwa!. Apa maksudmu?. Katakan sejujurnya. Tidak ada masalah bagiku”

Hwayoung lalu menghentikan makannya. Ia meletakkan sumpitnya dan meneguk segelas air.

Nan-nan, naneun oerounde. (Aku kesepian)” jawabnya.

Ungkapan Hwayoung membuatnya tak percaya. Sama sekali tidak terfikirkan olehnya bahwa ia merasa kesepian. Seakan terjaga dari tidurnya, Chanyeol tersadar, Hwayoung tinggal sendirian di Ilsan. Keluarganya semua berada di Seoul. Apalagi Shin Hye kini tinggal dengannya.

“Kenapa tidak ajak manager kau saja. Buat apa repot-repot ke sini. Lagian lebih enak jalan dengannya, uangmu tidak perlu keluar sebanyak ini”

“YA!. Dia managerku. Kau kira dia pacarku?. Siapa aku?, sehingga bisa mengajakknya”

“Kalau begitu pindah saja ke Seoul. Tinggal di apartemenku. Supaya kau tidak kesepian lagi”

Mwo?. Kau lupa?. Aku harus kerja di sana!. Kau menyuruhku pindah?. Lalu apakah kau bisa cari kerja?. Anak yang lahir dari gudang uang sepertimu memangnya bisa kerja apa?”

Sangking emosinya, Hwayoung mengambil dompetnya dan menaruh sejumlah uang di atas meja.

“Menyesal aku bertemu denganmu!” katanya pada Chanyeol dan keluar dari restaurant

To Be Continued….

 

 

 

 

 

 

Iklan

28 pemikiran pada “Chanyeol Appa! (Chapter 9)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s