Classmates (Chapter 3)

Classmates (Chapter 3)
*Sport Time*

1

Written by xyzWOLF

Stars: You (Yes, YOU!!); Sehun; Chanyeol; Kai
Supporting-Stars: Another EXO Members
Genres: Romance; School-life; Friendship
Length: Series
Rating: Parent Guide

.

[Teaser] [Chapter1] [Chapter2]

.

Classmates

“…semua tentangmu dan dua belas teman sekelasmu…”

.

.

“El, aku minta maaf.”

Suara bariton itu mengganggumu. Tepat setelah kau selesai bercerita pada mereka yang memasang wajah teramat-sangat-ingin-tahu tadi, Chanyeol datang ke kelas dengan raut muka cemas. Entah itu akting atau bukan, intinya, setelah sadar kau sudah menunggunya di kelas, ia bergegas mendekatimu dan minta maaf. Tak berhenti sampai saat ini.

Enak saja. Kau memintaku untuk memaafkanmu setelah kau menyiram air pada wajahku di hadapan banyak orang dan membuatku menjadi pusat perhatian karena memiliki rambut dan seragam yang basah!?, gerutumu dalam hati.

“El….”

Kau menatap tajam Chanyeol. Lalu menghembuskan napas pendek.

“Mungkin kau salah langkah Chanyeol,” entah sejak kapan Jongin sudah ada di sebelahmu.

“Kai, kau tidak tahu apa-apa,” sahut Chanyeol cepat.

Kau menghentikan langkahmu. “Tuan Park, kau sudah kumaafkan. Dan kalian berdua,” kau memutar pandanganmu kepada Chanyeol dan Jongin bergantian, “jangan berjarak terlalu dekat denganku. Sebelum fangirl kalian mengetahuinya.”

Chanyeol bergumam, “Apa maksudmu fangi… baiklah, aku mengerti. Kuharap kau membuka email-mu malam nanti.” Setelah itu Chanyeol bergegas pergi ke depan gerbang.

Ah, Jongin masih beriringan langkah denganmu.

“Apa? Mengapa kau melihatku seperti itu?” ujar Jongin saat kau menatapnya, “mobilku ada di parkiran yang sama dengan sepedamu.”

Kau memutar bola mata.

.

***

.

Kau menarik pedal rem pada sepedamu setelah itu memarkirkannya. Sambil berjalan di koridor, sesekali kau melihat jam tanganmu. Biasanya kau datang lebih lama dari kali ini. Ya, hari ini kau datang lebih pagi sedikit. Tetapi kaurasa, Joonmyeon, Yixing, Luhan, dan Minseok tetap lebih pagi darimu. Entah apa yang dipikirkan mereka sehingga datang ke sekolah pagi sekali.

“Hei, El!”

Kau tersenyum menampakan gigi pada seorang gadis yang memanggilmu itu.

“Hei! Kupikir kau sudah melupakanku.”

“Kupikir kau yang melupakanku.”

Jadi begini, pagi ini kau bernostalgia. Ada satu orang—dan satu-satunya—temanmu di sekolah menengah pertama. Dia gadis baik, tidak sombong dengan segala hal yang dimilikinya dan ia berparas manis. Sahabatmu? Emm… hanya teman dekat. Seumur-umur kau belum pernah punya sahabat.

“Ah, aku harus masuk ke kelas,” ucapmu setelah mendengar denting bel.

.

***

.

Untuk kedua kalinya guru Min selesai mengajar di kelasmu. Tugas beberapa waktu lalu diberi nilai sempurna. Baguslah. Oh iya, perkiraan Jongin mengenai siapa-dan-bagaimana waktu itu benar terjadi. Intinya, seluruh siswa mendapat nilai baik. Dan sekarang pelajaran… ah, olahraga.

TUNGGU! OLAHRAGA!

“El, kau melamun?” terdengar panggilan dari orang yang duduk di kursi belakangmu.

Kau menoleh padanya. “Ah, tidak,” kau memaksakan sebuah senyum.

“Kau bohong,” pikir Kyungsoo. “Katakan saja.”

Kau menyerah. “Sekarang pelajaran olahraga ‘kan?”

Kyungsoo mengangguk. “Mengapa?”. Kau tidak menyahut dan kembali ke posisi semula.

“Oh Tuhan, dia tidak peka. Bagaimana bisa. Yang benar saja. Aku seorang gadis satu-satunya di kelas ini, tak mungkin aku akan berolahraga sendiri. Tapi bagaimana bisa aku bermain satu tim dengan para pria. Sepak bola? Tidak. Basket? Jadi, aku harus berebut bola dengan mereka? Hei, pasti akan ada insiden, semua orang tahu apa yang kumaksud,” kau bergumam di dalam hati. Tanpa sadar kau bahkan mengacak-acak rambutmu sendiri.

Krek.

Kau mengangkat kepalamu. Melihat Sehun sedang menutup pintu kelas.

“Ada apa ini?” tanyamu.

“Tidakkah tadi kau mendengar pimbicaraan kami?” Tao balik bertanya.

“Pembicaraan apa?” Aku terlalu sibuk melamun.

“Pembicaraan mengenai berganti pakaian olahraga di dalam kelas,” sahut Sehun dengan smirk sambil berjalan ke lokernya.

“Tu-tunggu dulu!” kau bangkit dari tempat duduk, “bukankah di sekolah ini ada ruangan khusus ganti pakaian? Kenapa tidak kesana saja?”

“Terlalu jauh!” sambar beberapa orang secara serentak. “Lebih baik di sini saja.”

“Tapi, hei, ada seorang gadis di dalam sini, tuan-tuan! Owh, baiklah, aku pergi ke ruang ganti pakaian.”

Kau beranjak ke loker dan mengambil pakaian. Ketika kau memutar badan hendak melangkah keluar kelas, Sehun mencegat tanganmu. “Jangan keluar! Jika ketahuan kau berganti pakaian, sedangkan tak ada siswa lain dari kelasmu yang berganti pakaian, guru-guru akan curiga. Jika ketahuan, kami bisa dihukum.”

“Salah sendiri mengapa berganti pakaian di dalam kelas!” protesmu.

Kau memutar pandangan ke seluruh penjuru kelas dengan malas. Aish! Mereka sudah mulai berganti pakaian. Setelah itu pandanganmu kembali pada Sehun. Ia memberikan tatapan awas-saja-kau-kalau-berani-keluar-dari-kelas.

Setelah itu kau kembali memandang isi kelas dan matamu bertemu dengan mata Luhan.

“Menurut saja, El,” kata pria cantik itu.

“Tidak akan terjadi apa-apa selama kau disini,” Yixing menambahkan.

Setelah itu Sehun melepaskan genggamannya. Ia berjalan menjauh dari mu dan meletakan pakaian olahraganya di meja setelah mengibas-kibaskan benda itu. Kau sendiri memilih duduk di kursi guru dan menelungkupkan kepala ke meja. Kau menunggu waktu cepat berlalu.

Kau menggerutu sepanjangan.

“El, kau sudah bisa mengangkat kepalamu,” suara yang kau hafal sebagai suara Yifan itu terdengar. Kau mengangkat kepalamu.

YA!” jeritmu ketika melihat teman-teman sekelasmu belum berganti atasan. Reflek kau menundukan kepalamu. Kau yakin wajahmu semerah udang rebus sekarang.

Terdengar suara tawa Yifan. Sedangkan Baekhyun berteriak, “Ya! Yang benar saja, ada seorang gadis yang melihat tubuhku. Ini memalukan mengingat aku tidak punya abs.”

“Tenang, Baek,” hibur Sehun. “El, tidak melihatmu. Ia melihatku. Lihat, sekarang ia menunduk, karena jika tidak, ia pasti sudah mimisan.”

“DALAM MIMPIMU, TUAN OH!”

.

***

.

“Aku ingat sekali, tadi wajahmu semerah udang.”

Kau menoleh. Mata Sehun fokus pada bola voli yang memantul ke atas itu. Tetapi mulutnya masih saja komat-kamit mengenai hal di kelas tadi. Jika saja tidak ada guru yang mengawasi, kau pasti sudah memukul wajahnya dengan keras.

Lagi pula! Mengapa guru olahraga meminta kau satu tim dengannya! Kenapa tidak dengan pria manis dan baik hati seperti Luhan, Yixing, Joonmyeon dan Kyungsoo (dan juga Minseok, barang kali)!? Kenapa!?

Sudahlah, setidaknya kau bisa bersyukur hari ini adalah olahraga voli. Bukan sepakbola yang kau tidak bisa melakukannya, dan basket yang akan awkward jika terjadi.

“Aku tahu, El. Kau terpesona padaku. Itulah sebabnya kau memandangiku.”

“Kurang ajar.”

Bugg. Badanmu terhuyung ke belakang. Kau sadar kepalamu terkena pukulan bola. Sekarang kau tidak bisa menjaga keseimbangan hingga kau terjatuh. Matamu berkunang-kunang. Tetapi ada hal yang aneh, disaat kau sibuk menikmati rasa sakit, kau masih sempat melihat Jongin di seberang net. Wajahnya seketika panik, ia hendak melangkah mendekatimu, tetapi seakan-akan ada hal yang melarangnya melakukan itu.

Lalu, kau merasakan ada yang mengusap kepalamu pelan sebelum pandanganmu gelap.

.

***

.

Kau duduk di dalam mobil. Memandang kosong ke depan. Yang ada dipikiranmu adalah takdir. Kau datang terlalu pagi adalah takdir. Kau mengobrol dengan teman lama adalah takdir. Kau menerima pelajaran olahraga adalah takdir. Kau melihat badan teman sekelasmu adalah takdir. Kau satu tim dengan Sehun adalah takdir. Kau tertimpa bola adalah takdir.

Dan lagi, kau duduk di mobil milik Oh Sehun saat ini, adalah takdir.

“Aku benci hidupku.”

“Apa?”

“Tidak ada. Lanjutkan menyetir. Aku ingin cepat pulang.”

“Kau marah?” nada bicara Sehun berubah. Kau mengemut udara yang ada di dalam mulutmu sebagai respon dari pertanyaannya.

“Apa kau tidak suka jika aku mengantarmu pulang?”

“Siapa yang suka bila dipaksa?”

“Kondisimu masih belum stabil. Tadi kau tidak fokus pada pelajaran apapun setelah olahraga, tetapi tidak mau dibawa ke UKS. Berbahaya jika kau mengayuh sepeda di saat-saat seperti ini. Lagi pula sepedamu juga ikut pulang, dia ada di dalam bagasi.”

“Chanyeol yang melempar bola saja tidak peduli, mengapa kau peduli?”

“Chanyeol peduli. Tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, ia saja pulang dengan kereta bawah tanah. Dan, aku juga salah padamu. Seandainya aku tak membuatmu kesal, kau mungkin tidak kehilangan fokus pada bola hingga bola itu mengenaimu.”

“Terserah.”

Setelah sekitar lima ratus meter sebelum mencapai rumahmu, tiba-tiba kau teringat sesuatu dan itu membuatmu membuka mulut. “Oh, kau tahu apa yang terjadi dengan Kai? Aku baru sadar bahwa dia tidak banyak bicara hari ini.”

“Mengapa tiba-tiba menyambung pada Kai? Tapi, ya, kau benar ia tidak banyak bicara.”

“Apa mood-nya selalu berubah-ubah?”

“Kurasa. Ia begitu semejak beberapa tahun yang lalu.”

Ah, ini mengingatkanmu pada perbincanganmu dengan Yixing waktu itu. “Jadi kalian sudah saling mengenal sejak kapan?”

“Kita sudah sampai, ayo turun.”

TBC

05 Mei 2015

A/N : Haii!! Chap3 ini sebenarnya sudah di pos di blog pribadi author, tapi dikirim lagi EXOFF biar chapter di blog ini nggak kelang-kelang. Chap4-nya lagi OnGoing, sering-sering aja cek blog http://xyzwolf.wordpress.com siapa tau nanti langsung di pos disana.
.
Oh iya, cuman mau ngingetin: GUE PUNYA KEHIDUPAN DAN KEHIDUPAN GUE BUKAN CUMA UNTUK NULIS FANFIC. *maaf, capslock tiba-tiba jebol^^
Jadi, author minta readers untuk sabar menunggu Chap selanjutnya^^

14 pemikiran pada “Classmates (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s