Everything Won’t Be Perfect (Behind the Lies)

Everything Won’t Be Perfect

(Behind the Lies)

 Everything Won't Be Perfect

Disclaimer : FF ini murni dari otak author. Jika terjadi kesalahan penulisan dll mohon di maklumi._. Dimaklumi ff absurd tingkat tinggi /m\

Author :

Sherly Irawati(hikarisawadafanfiction.wordpress.com)

Cover by :

Sherly Irawati

Cast :

Sehun

Lee Haneul

Genre : Romance & Angst

Length: One-Shoot

Rating : PG-15

Summary :

 

“Seperti apa benih yang ditanam itulah hasil yang akan ia dapat. Kehidupan dan segala yang ada didunia ini tidak akan pernah sempurna. Kejujuran kunci utama kau bisa mengubah hidupmu.”

 

Song :

  • Fiona Fung – Forever Friends
  • Fiona Fung – Proud of You

 

Happy Reading!!!

 

~~~

 

Anak kecil ini tak sanggup melihat apa yang ayahnya lakukan. Hal yang sangat bodoh. Membunuh seorang lelaki yang umurnya mungkin sama dengan ayahnya.

 

“Appaaaaaa….” Anak kecil ini hanya bisa menangis.

“Diam kau! Aku melakukan ini demi menghidupimu mengerti!!” Bentak ayahnya.

 

“Haneull benci appaaaaa..hikss…Haneul tak pernah berharap appa menghidupi Haneul seperti ini…” Anak ini terus menangis. Ibunya yang sudah tenang di surga sana membuatnya tambah menangis.

 

Saat bunyi sirene berbunyi, Haneul merasa Tuhan mengabulkan doanya. Haneul berlari menuju gerombolan polisi, takut jika ayahnya akan membunuhnya juga.

 

“Ahju..siii..appaaa…memmbbuunnuuhh…sesee..oorraanngg…” Haneul melaporkan ayahnya sendiri. Polisi itu pun tersenyum.

“Berhentilah menangis. Apa yang membuatmu melaporkan ayahmu sendiri?” Polisi itu bertanya sembari menunggu kabar dari temannya yang akan membawa ayah dari anak ini.

“Appaaa…jahaatt..appaa bukaannn yaanngg duluu… “

“Lalu siapa namamu?”

“Haneul. Lee Haneul.”

“Baiklah Haneul berhentilah menangis… Kau akan menemui ayahmu di pengadilan setelah itu aku rasa aku akan merawatmu.”

“Tak perluu ahjussi.. Biarkan Haneul mati saja.. Haneul sudah tidak punya siapa-siapa… Eommaa sudah meninggal..”

“Kau masih punya masa depan Haneul. Aku tak mau masa depanmu rusak begitu saja karena ayahmu.. Buat ibumu bangga diatas sana Haneul-ah..”

“Gamshamida ahjussi…” Setidaknya perkataan polisi itu bisa memberhentikan tangis Haneul.

 

3 days later.

 

Haneul bersama polisi yang bermarga sama dengannya datang kepengadilan. Disana terdapat seorang wanita paruh baya bersama anak laki-lakinya yang berumur sama dengan Haneul. Haneul bisa melihat bahwa anak laki-laki itu memperhatikannya sedari tadi dengan tatapan membunuh.

 

Persidangan itu berjalan dengan lancar sampai akhirnya hakim memutuskan bahwa ayah Haneul di hukum seumur hidup. Haneul berteriak dan berlari kearah ayahnya. Saat ia akan memeluk ayahnya, naas lah nasib Haneul. Ayahnya mendorong anak itu dan berteriak.

 

“AKU TAKKKK PUUUNNNYYAAA ANAKK SEEPEERTTII KAUU!!!! PERGGGIII LAHHHH KAUUU AAAAAA!!!!” Saat itu juga para petugas langsung membawa ayah dari Haneul ke dalam sel atau biasanya disebut penjara.

 

Anak laki-laki itu Nampak terkejut melihat pria itu mendorong anak perempuan itu. Rasa iba itu sedikit muncul, tapi sayang kebencian yang menyelimuti hatinya. Haneul yang berumur 5 tahun itu hanya bisa menangis. Ayah angkatnya pun mendatanginya dan membawanya pulang. Anak ini manis tapi sayang kehidupannya tidak semanis wajahnya.

 

—-

 

12 years later.

 

Haneul sudah menginjak bangku SMA dan sebentar lagi ia akan naik ke jenjang perkuliahan. Ia belajar tentang hukum. Masa lalunya membuat ia ingin mempelajari dunia hukum. Ini lah mimpinya. Masa pahitnya sedikit terhapuskan ketika Tn. Lee menjadikan dirinya sebagai anak dan memberikannya fasilitas seperti menyekolahkannya. Ia sangat berhutang budi sungguh dan ia juga berhutang nyawa pada anggota keluarga yang salah satu anggotanya dibunuh oleh ayahnya. Lagi sebentar ia akan masuk ke bangku perkuliahan. Ia harap ia bisa mengejar mimpi terbesarnya. Seorang temannya yang akan masuk ke bidang hukum juga. Ia adalah Park Hana. Haneul bahagia karena Hana benar-benar menganggapnya teman. Dan hanya Hana yang tahu rahasia Haneul. Entah mengapa Haneul mempercayai Hana. Setelah kejadiannya di masa lalu, ia sulit untuk mempercayai orang lain. Hana tahu bahwa Haneul tidak bersalah secara hukum, hanya saja ia merupakan anak dari seorang pembunuh maka dari itu ia tetap akan disalahkan. Tapi Hana mengerti. Ia mengerti bahwa temannya ini membutuhkan seorang teman dan membutuhkan seseorang untuk menjadi pangkuan hidupnya jika suatu saat ia tiba-tiba akan jatuh. Karena lama-lama temannya pasti akan tahu siapa Haneul sebenarnya. Hana juga berfikir bahwa Haneul anak yang manis dan perhatian kepada teman-temannya.

 

Saat menginjak bangku perkuliahan nanti Haneul akan tinggal sendiri dan menyewa apartemen. Selama ini ia bekerja untuk membiayai hidupnya nanti. Dan saat ia kuliahlah saatnya. Ia belajar untuk mengejar beasiswa di universitas yang akan menjadi tempat ia mengejar mimpinya nanti. Dan setelah ia bisa mengejar mimpinya, ia akan mengganti seluruh biaya yang pernah Tn. Lee keluarkan untuknya. Ia tidak mau anak kandung dari Tn. Lee membencinya karena ayahnya mengeluarkan biaya untuk anak yang bukan dari darah ayahnya sendiri, Tn. Lee.

 

Beberapa bulan ia sudah menjalani masa-masa terakhirnya di SMA dan libur kelulusannya pun sudah didepan mata. Inilah saatnya ia akan meninggalkan keluarga yang sangat berarti buatnya. Ny. Lee yang memberikannya perhatian. Tn. Lee yang membiayai hidupnya. Dan anak laki-lakinya Lee Jonghyun yang selalu memberikannya semangat.

 

“Appa, Eomma..”

“Ne? Waeyo Haneul?” Tanya Ny. Lee.

“Terimakasih sudah merawatku sampai sebesar ini….”

“Ada apa dengan kau Haneul?” Saat ini Tn. Lee angkat bicara.

“Aku akan tinggal sendiri mulai saat ini. Aku akan hidup dengan diriku sebenarnya…”

“Wae? Apa kau tidak suka dengan keluarga ini Haneul?” Tanya Ny. Lee.

“Bukan seperti itu eomma… Aku sangat-sangat bahagia bisa menjadi bagian dari keluarga ini. Tapi aku sudah dewasa. Dan selama ini aku merasa berhutang budi pada kalian. Kalian membiayai sekolahku, merawatku dan membiayai segala kebutuhanku. Aku berjanji akan mengganti uang kalian dan aku akan berjanji aku akan menjadi seorang pengacara yang sukses.”

“Kau tak perlu mengganti seluruh biaya yang pernah aku keluarkan. Aku membiarkanmu hidup seperti yang kau mau. Aku tahu kau sudah bisa menjalani hidupmu. Aku tak mau memaksamu untuk terus hidup bersama kami. Aku akan membayar apartemenmu selama 2 tahun. Kalau kau tidak mau maka kau harus tinggal bersama kami lagi.” Ujar Tn. Lee yang dibalas anggukan oleh Ny. Lee.

“Tapii… Baiklah.. Gamshamida appa.. eommaa.. Neo saranghae.. Terimakasih sudah merawatku dan terimakasih untuk segalanya. Aku akan terus menghubungi kalian atau mengunjungi kalian…” Haneul mengucapkan kata-katanya dengan air mata. Ia sedih akan meninggalkan keluarga ini tapi ia juga bahagia tidak akan membebani Tn dan Ny. Lee lagi.

“Aku akan menunggu janjimu. Menjadi seorang pengacara. Saat kau wisuda, kami akan datang untukmu. Ingat jangan lupa pada kami.”

“Tentu saja. Haneul selalu mengingat kalian.. Eomma, appaa Haneul rasa Haneul harus pergi sebelum Jonghyun datang. Sampaikan salam Haneul padanya. Saranghae. Anyeong..”

 

——-

 

Beberapa bulan ia menjalani kehidupannya tanpa Tn dan Ny. Lee dan beberapa bulan pula ia menginjak jenjang sekolah tinggi. Selama ini ia menjalaninya biasa-biasa saja. Tapi inilah kisah baru yang akan Haneul temukan. Selama ini Haneul yang Hana kenal tak pernah namanya jatuh cinta pada seseorang malah mencintai seseorang yang terkenal dingin dan tak bersahabat. Tetapi Hana tetap mendukung pilihan Haneul. Hanya saja Haneul tahu ia tak pantas bersanding dengan pria itu. Anak dari seorang pembunuh tak akan pantas memiliki pria yang tampan dan mapan sepertinya. Pria itu adalah Oh Sehun. Pria yang terkenal dengan sifatnya yang dingin dan ditakuti oleh para wanita, tetapi juga mencintainya.

 

Sebuah kejadian yang tak diharapkan oleh Haneul terjadi. Ia menabrak pria itu. Seketika ia mengambil barang-barangnya yang jatuh dan membungkuk 90 derajat sambil mengatakan maaf. Pria itu seperti menatapnya.

 

“Haneul. Lee Haneul.”

“Ne?”

“Nama yang cantik.”

“Eee?” Haneul bengong dengan perkataan pria ini. Ia berusaha mencerna kata-kata itu. Saat Haneul masih bingung dengan apa yang terjadi. Pria itu mengambil ponsel Haneul dari tangan wanita itu dan menuliskan nomornya, lalu memberikan panggilan ke nomornya itu. Saat sudah selesai, pria itu mengembalikan ponsel Haneul ke tangan pemiliknya.

 

“Nomor yang tadi itu milikku. Oh Sehun.”

“YA! Apa yang kau lakukan dengan ponselku eoh?!”

“Anyeongg..” Sehun berlalu begitu saja tanpa mempedulikan pertanyaan bodoh yang di lontarkan oleh Haneul.

 

Sungguh. Haneul tak menyangka bahwa seorang Oh Sehun akan melakukan hal seperti tadi. Benar-benar gila.

 

“YAA!! NAPPEEUUNN NAMJAA!!”

 

Sehun yang mendegar perkataan Haneul hanya menoleh dan tersenyum sinis lalu meninggalkannya. Hana yang baru saja datang langsung meng-introgasi Haneul.

 

“Apa sudah ada perkembangan Haneul-ah?” Dengan mata berbinar-binarnya.

“YA!! Pria itu sudah gila.”

“Wae? Walaupun begitu tapi kau tetap suka kan?”

 

Haneul tidak mengubris pertanyaan Hana. Ia berjalan menuju kelasnya yang disusul oleh Hana. Saat ia berjalan, ia merasakan ponselnya bergetar. Ia melihat nama appa disana.

 

“Ne appa? Waeyo?”

“…” Serasa petir-petir menyambar hatinya. Hancur. Tak terasa air matanya jatuh membasahi pipinya.

“…”

“Ah ne.. Aku akaann segera kesana..”

 

Kaku. Seluruh badannya kaku serasa tak bisa bergerak.

 

“Ya! Haneul-ah? Neo gwenchana?”

“Nan angwenchana.. Bilang ke dosen hari ini aku tak bisa mengikuti pelajaran. Ada sesuatu yang harus aku utamakan. Anyeong..” Hana hanya menjawab dengan anggukan. Dan Haneul sudah berlari menuju luar sekolah.

 

——

 

“APPAAAAAA…” Haneul menangis melihat apa yang ada dihadapannya. Sedangkan Tn. Lee memegang tubuh Haneul agar ia tidak jatuh tiba-tiba.

“Aku bahkann tak pernahhh bertemu denganmu…me..nggaa..ppaaa kauu tiiinnnggaalllkkaannn akkkuu…” Dan kini mayat pria yang merupakan ayah kandung Haneul pun sudah tertutup dengan tanah. Ia memeluk Tn. Lee yang kini statusnya menjadi ayah angkat dari Haneul.

“Haneul-ah, sudahlah.. Ayahmu sudah tenang diatas sana bersama dengan ibumu…”

“Tapii.. aku belum pernah bertemu dengannya untuk terakhir kalinya….”

“Ini sudah takdir dari appamu… dan mungkin juga hukuman sebenarnya karena ayahmu pernah membunuh seorang presdir.”

“Mungkin kau benar appa..”

“Kalau begitu biarkan aku mengantarmu pulang dan membelikanmu makanan…”

“Gamshamida appa..”

 

—-

2 days later

 

Haneul berdoa disebuah gereja. Ia mendoakan agar dosa-dosa ayahnya dimaafkan. Saat perjalanan pulang ia bertemu dengan Sehun.

 

“Ahh sepertinya kau ada dimana-mana eoh?” Ucap Sehun sambil melihat Haneul dari ujung kaki sampai ujung kepala.

“Kau fikir aku mahluk halus apa.” Haneul langsung meninggalkan Sehun. Ia tak mau mencintai pria itu lebih dalam lagi. Tetapi tangannya langsung ditahan oleh Sehun.

“Ya! Jangan kabur kau. Temani aku makan siang eoh.”

“Kau fikir aku orang yang tak punya kerjaan selain menunggumu makan?”

“Sudahlah tak usah banyak bicara.” Sehun langsung menarik Haneul masuk kesebuah restoran mewah dikawasan Seoul itu.

 

Isi hati Haneul yang sebenarnya adalah bahagia. Ia bahagia bisa bersama Sehun tapi ia tak mau jika Sehun berteman dengan seorang anak pembunuh.

 

“Mengapa kau menatapku seperti itu?”

“Anni..” dengan senyumnya yang bermakna itu. “Ah ye, mengapa kau bisa terkenal sekali dikampus eoh?” Pertanyaan itu keluar dengan sendirinya dari mulut Haneul.

“Kau bisa lihat kan, wajahku tampan dan keluargaku dari keluarga berkepunyaan lebih.”

“Ah ne.. Mian..”

“Tapi satu yang membuatku tidak bahagia dengan apa yang aku punya.”

“Apa itu?”

“Appaku. Ia meninggal karena dibunuh. Kejadian itu sudah 12 tahun yang lalu.”

“Eee?” Haneul terasa ditusuk beribu-ribu pisau.

“Saat ini aku memikirkan anak dari orang yang membunuh appaku. Aku tak menyangka bahwa dia melaporkan ayahnya sendiri sampai ayahnya pun tak mau mengakuinya sebagai anak lagi. Saat aku bertemu dengan perempuan itu lagi aku ingin bertanya sesuatu padanya. Mengapa ia rela melihat ayahnya tinggal di sebuah penjara. Aku iba pada perempuan itu walaupun aku juga benci padanya. Walaupun seharusnya aku tak membenci perempuan itu karena ia tidak bersalah. Tapi bagaimanapun ia juga anak dari orang yang membunuh appaku. Mian aku jadi cerita panjang lebar seperti ini padamu.”

“Ah ye.. Gwenchana Sehun-ah.” Ucap Haneul berusaha untuk tersenyum. “Maaf… Aku benar-benar minta maaf atas kesalahan yang ayahku perbuat sehingga kau kehilangan orang yang telah berharga dihidupmu. Kau benar.. Aku anak pembunuh. Sudah sepantasnya kau membenciku. Aku akan jauh lebih bahagia jika kau tidak bersikap baik padaku lain kali.” Batin Haneul. “Semoga kau dimaafkan di alam sana appa.. Dan jika kau dilahirkan kembali jangan kau ulang kesalahanmu lagi untuk menyakiti mahluk-mahluk didunia ini.” Lanjut Haneul.

“Aku rasa ini sudah sore. Mari aku antar kau pulang.”

“Ah terima kasih tapi aku bisa pulang sendiri kok..”

“Tidak, aku tidak mungkin membiarkan seorang wanita pulang sendiri.”

“Ah tidak apa-apa, aku sudah biasa pulang sendiri.” Sehun yang mendengar tolakan dari Haneul langsung menariknya untuk masuk kedalam mobilnya.

“Dimana rumahmu?”

“Aku tinggal disebuah apartemen.”

“Dimana apartemenmu?”

“Apartemen di daerah kampus.”

“Baiklah.”

“Kau tidak perlu berbuat baik seperti ini. Semakin kau berbuat baik padaku semakin besar rasa bersalahku padamu.” Batin Haneul.

“Ah ye.. Aku lihat kau orangnya sangat tertutup sekali eoh.”

“Ah begitulah.. Aku tidak terlalu suka untuk mengumbar privasiku kepada banyak teman. Aku rasa sendiri atau berdua itu lebih baik. Seperti temanku Hana yang selalu ada disaat aku membutuhkannya sebagai peganganku.”

“Ah iya.. Orang tuamu?”

“Mereka dirumah..”

“Lalu kenapa kau ingin tinggal di apartemen?”

“Aku rasa aku perlu hidup mandiri.”

 

Bohong. Semua kata-kata yang keluar dari mulut Haneul semua hanyalah kebohongan.

 

“Maaf aku berbohong padamu Sehun. Aku tahu kau benci padaku. Tapi aku tak mau kau tahu sekarang. Kau akan tahu nanti disaat yang tepat. Aku pasti akan memberitahumu siapa aku sebenarnya.”

——

 

Karena hidup tak sepenuhnya indah. Hidup setiap orang pasti akan menghadapi masalah dan mereka juga membuat sebuah kebohongan. Karena itu manusia hidup seperti apa mereka dilahirkan dan ditakdirkan. Sama halnya denganku, hidup dengan seorang ayah yang sering membunuh orang dan tanpa seorang ibu disampingku, tapi aku masih beruntung. Aku mau dianggap seorang anak oleh keluarga Lee atau keluarga angkatku. Mungkin keberuntungan itu tidak akan berlangsung lama karena Oh Sehun hadir dihidupku. Dan ia akan tahu siapa aku sebenarnya. Seorang anak dari orang yang membunuh ayahnya.

Beberapa hari ini aku tidak melihat Oh Sehun. Tidak biasanya. Atau… Jangan berfikiran yang tidak-tidak Haneul. Apa aku harus mengatakannya? Tapi apa keberanianku sudah cukup untuk menghadapinya? Aku rasa tidak. Menatapnya saja aku tidak kuat apalagi untuk mengatakannya. Hari ini aku pulang sendiri. Aku berjalan sambil memikirkan hal yang terjadi di masa lalu. Mengingatnya saja membuatku takut. Seperti phobia akan kenangan masa laluku sendiri. Karena terlalu lama tenggelam pada lamunanku sendiri, aku tidak menyadari bahwa Sehun sudah berada disampingku sekarang. Entah kapan ia datang, aku sendiri tak tahu.

 

“Saranghae…”

Kata-kata yang membuatku cukup kaget. “Ne?” Aku memastikan ucapannya.

“Saranghae Lee Haneul.”

Diam. Hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini. “Sehun-ah.. Kau pikirkan baik-baik ucapanmu. Aku rasa kau salah. Kita baru saja kenal mana mungkin kau mencintaiku.” Ucapku membuat Sehun yakin.

“Aku sudah yakin dengan perasaanku sendiri. Percayalah.”

Aku berusaha memikirkan semua resiko yang akan terjadi jika aku menerima cintanya seorang Sehun. “Aku juga mencintaimu Sehun. Tapi maaf aku tidak bisa menerima cintamu.”

Aku lihat Sehun sedikit heran dengan jawabanku. Tapi setelah itu Sehun tersenyum. “Aku menerima jawabanmu. Tapi aku akan membuatmu menerima cintaku.” Aku tersenyum dan menjawabnya, “Aku tak yakin. Sampai kapanpun aku rasa aku tidak bisa menerimamu.”

Sehun membalas ucapanku yang membuatku tidak bisa membalasnya lagi, “Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi nanti. Mungkin kau bilang tidak akan menerimaku sampai kapanpun sekarang. Tapi, siapa yang tahu bahwa Tuhan akan mempersatukan kita nanti? Kita jalani saja apa yang akan terjadi.”

Sehun berjalan meninggalkanku tapi langkahnya terhenti ketika mendengar ucapanku, “Sehun-ah, apa kau akan tetap mencintai wanita itu walaupun ia sudah menghancurkan hidupmu?”

Sehun terlihat bingung dengan ucapanku, “Maksudmu?”

Aku hanya tersenyum dan berjalan meninggalkannya.

“YA!! Pertanyaanku belum kau jawab!” Sehun berteriak kepadaku. Aku hanya membalikan badan dan menunduk 90 derajat dan meninggalkannya yang bingung dengan sikap dan perkataanku.

 

Tidak akan kau menerimaku Sehun. Aku sudah menghancurkan kehidupanmu. Bagaimanapun juga, aku yang bertanggung jawab atas semua perlakuan ayahku kepada ayahmu. Aku juga berdoa agar ayahku dan ayahmu nanti bisa bersahabat di alam sana dan tidak melakukan hal yang sama di kehidupan mereka selanjutnya. You have a bright future Sehun. Don’t fall in love with the wrong person. The person who make your life broken.(Kau mempunyai masa depan yang cerah Sehun. Jangan jatuh cinta pada orang yang salah. Orang yang sudah membuat hidupmu hancur.)

 

—–

 

Perempuan itu. Apa maksud dari ucapannya. Mengapa rasanya kata-kata tersebut tertuju benar-benar untukku. Seketika masa lalu itu datang kembali di ingatanku. Mata itu. Mata perempuan yang menangis di hari ayahnya di adili. Atau hanya ilusiku semata? Tapi aku benar-benar mengingat mata itu. Apa Haneul perempuan itu? Apa aku mencintai orang yang kubenci? Rencana apa lagi yang kau berikan kepadaku Tuhan. Memaafkan seseorang mungkin mudah tapi tak akan bisa menghilangkan luka tersebut. Mengingat kenangan pahit itu membuatku jarang bergaul dengan teman-teman. Aku selalu berfikir bahwa semua manusia itu jahat. Tapi ialah yang mengubah segalanya. Entah kenapa, berada disamping perempuan itu membuat perasaan dendamku hilang begitu saja. Siapa dia sebenarnya? Akhirnya aku memutuskan untuk menemuinya esok setelah kelas selesai.

 

*The Next Day*

 

Saat aku masuk kedalam kelas, aku melihat sosok perempuan itu. Entah kenapa hari ini ia di kerumuni oleh teman-teman sekelasnya atau satu angkatannya.

 

“Haneul, jujur saja sama kita. Siapa kau sebenarnya eoh? Mengapa aku melihat anak kecil yang di internet saat kejadian pembunuhan itu mirip denganmu eoh?”

“Apa susahnya kau jujur eoh?”

“Memangnya apa gunanya kau berbohong disaat semua orang sudah mengetahuinya?”

 

Pertanyaan itu… Sama seperti pertanyaan yang ingin aku tanyakan pada Haneul.

 

“Kalian semua diam. Bagaimana bisa Haneul menjawab perkataan kalian semua sedangkan kalian memberikannya pertanyaan tanpa henti.” Hana membantu Haneul. “Haneul-ah, aku rasa ini waktunya untuk kau jujur. Jelaskan sejelas-jelasnya pada mereka. Jangan membuat mereka salah paham dengan ucapanmu.” Kulihat Haneul berusaha untuk mengatakan sesuatu sampai akhirnya pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku. “Haneul.. Apa ayahmu yang membunuh ayahku?” Seketika semua mata tertuju padaku dan Haneul. Haneul maju kedepan kelas.

 

“Maafkan aku telah membuat kekacauan ini. Memang benar anak kecil itu diriku. Mungkin kalian tak menyangka atau memang sudah menyangkanya. Maaf aku selama ini menyembunyikannya. Aku berusaha untuk tidak mengingat masa laluku yang cukup pahit dan membuatku phobia. Aku bahkan nyaris dibunuh oleh ayahku sendiri. Aku sedikit menyesali masa lalu itu. Ibuku juga sudah tiada. Saat itu aku hanya memiliki seorang ayah. Tapi tak ku sangka ternyata ayahku melakukan hal bodoh seperti itu. Sampai akhirnya Tuhan membuatku melaporkan perbuatan ayahku sendiri. Saat itu aku berumur 5 tahun. Aku merasa sedikit beruntung karena kepala kepolisian di Seoul mau merawatku sampai masa SMA-ku. Tentu saja aku masih mengingat ayahku sendiri, tetapi ia sudah tenang disana. Aku bahkan tak pernah menemuinya sejak 12 tahun lalu. Karena masa laluku itulah yang membawaku ingin menjadi seorang pengacara atau hakim. Aku tahu kalian tak akan mau berteman denganku lagi. Mian. Sehun-ah, inilah alasan mengapa aku tak mau kau jatuh cinta padaku. Ayahku telah membunuh ayahmu itu memang benar. Aku merasa berhutang nyawa denganmu. Maafkan semua kesalahan ayahku, walaupun aku tahu maafku itu sangat tidak berarti dengan nyawa ayahmu. Silahkan jika kau ingin membenciku, aku siap.” Aku cukup kaget dengan penuturan Haneul. Perempuan itu menangis dengan menundukan kepalanya. Aku melihat teman-temanku semua berbicara seperti menyampaikan pendapat mereka dan Hana berusaha menenangkan Haneul. Apa yang aku dengar ini semuanya benar?

 

“Haneul.. Kami tidak marah padamu. Kau mau jujur dengan kami. Padahal yang kau lakukan itu cukup benar, tetapi mengapa kau tidak mau menceritakannya pada kami agar kami tidak salah paham padamu?”

“Karena mau bagaimanapun aku anak dari seorang pembunuh.”

“Tenang saja kami akan tetap berteman denganmu, kecuali….” Semua mata melihatku. Mata itu juga melihatku. Aku benar-benar tak menyangka. Aku mengambil ransel dan kunci mobilku. Segera aku pergi dari kelas itu dan berencana untuk tidak mengikuti pelajaran. Aku masih tak menyangka bahwa Haneul merupakan perempuan itu. Apa yang aku harus lanjutkan sekarang? Berusaha untuk membuang jauh-jauh perasaan ini? Aku rasa tidak mungkin. Perasaan ini sulit untuk dihilangkan. Aku sudah terlanjur nyaman bersamanya. Mungkin saat ini emosiku sudah tak bisa dikendalikan lagi. Aku lihat ia berlari keluar kelas. Aku mengejarnya dan menahannya. Emosi ini sudah menjalar keseluruh tubuhku.

 

“YA! KAU PIKIR AKU APA SELAMA INI KAU BOHONGI EOH?! TERUTAMA SOAL NYAWA AYAHKU! KENAPA KAU TAK PERNAH MENCERITAKANNYA PADAKU!!!!!!!!!!!! AKU TAHU KAU HANYA SEORANG ANAK PEMBUNUH YANG SUKA BERBOHONG!!!!!!!!!! DASAR WANITA LICIK! KAU SAMA SAJA DENGAN AYAHMU! ANAK SEORANG PEMBUNUH TETAPLAH ANAK SEORANG PEMBUNUH!”

 

—–

 

“YA! KAU PIKIR AKU APA SELAMA INI KAU BOHONGI EOH?! TERUTAMA SOAL NYAWA AYAHKU! KENAPA KAU TAK PERNAH MENCERITAKANNYA PADAKU!!!!!!!!!!!! AKU TAHU KAU HANYA SEORANG ANAK PEMBUNUH YANG SUKA BERBOHONG!!!!!!!!!! DASAR WANITA LICIK! KAU SAMA SAJA DENGAN AYAHMU! ANAK SEORANG PEMBUNUH TETAPLAH ANAK SEORANG PEMBUNUH!”

Haneul terlihat shock dan kaget dengan bentakan Sehun. Semua mata tertuju padanya, kecuali anak-anak dari jurusan hukum yang sudah tau kehidupan Haneul sebenarnya.

 

“Aku memang anak seorang pembunuh. Lalu maumu apa?! Kalau kau berpikir bahwa aku ingin hartamu silahkan! Asalkan itu buat kau bahagia. APAAA AKUU HARUUSS MATII JUGAA AGAR NYAWA AYAHMU BISA TERBAYARKAN HAH???!!!!!! JAWAAABBBB AKUU SEHUNNN!!!!”

 

Sehun yang juga tidak kalah kagetnya hanya bisa diam. Setelah itu Haneul mengambil langkah cepat atau bisa dibilang berlari. Ingin menyembunyikan rasa malunya setelah dipermalukan oleh Sehun. Hana sahabat Haneul yang melihat kejadian tadi menyusul Haneul. Sebelumnya ia berkata sesuatu kepada Sehun.

 

“Jernihkan dan control emosimu! Emosimu hanya bisa menyakiti Haneul! Dasar pria pengecut!”

 

Hana kemudian berlari ingin mengejar langkah Haneul. Ia melihat Haneul sudah mendekati jalan raya. Haneul tak peduli dengan kendaraan yang berlalu-lalang. Ia tetap berlari sampai ia tidak menyadari bahwa sebuah mobil menuju kearahnya.

 

“Haneul awaass!!!!!!” Hana berteriak. Tapi telat sudah. Mobil tersebut sudah dekat dengan Haneul.

 

“AAAAAA…” Haneul terjatuh dengan darah yang berceceran dijalan. Hana berlari kearah Haneul.

“Haneul-ah!! Palli ireonaaa!!!” Hana menangis melihat sahabatnya yang malang ini. Ia meminta tolong kepada teman-temannya yang akan pulang. Untung saja temannya berbaik hati mengijinkan Hana membawa Haneul kerumah sakit dengan kendaraannya. Setelah 15 menit perjalanan dengan kecepatan tinggi, mereka sampai dirumah sakit. Haneul langsung dilarikan ke ruang operasi. Keadaan Haneul sangat kritis. Hana meraih ponselnya. Ia menelpon seseorang. Lee ahjussi. Ayah angkat dari Haneul. Selang waktu Hana menelpon ayah dari Haneul. Tn. Lee datang bersama dengan Ny. Lee. Tampak raut wajah panic dan takut tampak pada wajah Ny. Lee. Tn. Lee berusaha menenangkan istrinya. Haneul sangat disayang oleh kedua orang tua angkatnya. Hana menelpon seseorang lagi, tetapi ia menelpon di tempat yang jauh dari Tn. & Ny. Lee.

 

“YA! OH SEHUN!!”

 

Seseorang yang ditelpon oleh Hana adalah Sehun. Awal dari kejadian ini terjadi.

 

“Lihat lah akibat dari kecerobohanmu! Haneul sedang menjalani masa kritisnya saat ini!”

 

Saat itu pula Tn. Lee muncul dihadapan Hana.

 

“Hana.” Hana yang kaget atas kehadiran Tn. Lee pun tak dapat berkata-kata lagi.

“Ne ahjussi.”

“Katakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku mendengar kau menuduh seseorang. Ada apa? Aku ingin kau jujur padaku. Aku tahu kau sahabat Haneul, kau pasti tahu segalanya tentang kejadian ini.”

“Eee… Se – sebenernya – “

“Cepat katakan Hana.”

“Tadi disekolah teman-teman satu jurusan kami sudah tahu seorang Haneul sebenarnya. Lalu… Sehun. Anak dari ayah yang dibunuh oleh ayah kandung Haneul mengetahuinya. Saat Haneul berjalan keluar dan sudah berada dikoridor. Sehun menahannya dan membentaknya dengan mengatakannya anak dari seorang pembunuh. Jadi orang-orang sudah mengetahui siapa Haneul sebenarnya. Mungkin karena Haneul merasa sakit hati, maka ia berlari tanpa memperhatikan jalan. Aku sudah berusaha mengejar Haneul. Tapi sudah terlambat..”

“Aku sudah menduga. Aku ingin kau melarang Sehun untuk berhubungan lagi dengan Haneul. Aku takut phobianya akan kumat kembali. Dulu saat umur 7 tahun ia sering sekali merasa despresi karena terus kebayang dengan masa lalunya. Aku berusaha membuat phobianya hilang. Akhirnya keajaiban datang dan pada umur 8 tahun phobianya tak ada lagi. Aku takut ini akan terulang lagi.”

“Aku bahkan tak menyangka bahwa masa kecilnya mengenaskan.”

“Kalau begitu kau pulang saja. Nanti aku akan mengabarimu keadaan Haneul.”

“Ne ahjussi.. Aku akan kembali.” Hana membungkukan badannya dan pergi meninggalkan Tn. Lee. Tn. Lee kembali kedepan ruang operasi.

 

Beberapa saat kemudian, dokter yang menangani Haneul keluar.

 

“Bagaimana keadaan anak saya, uissa-nim?” Dokter itu hanya menghempaskan nafasnya.

“Ia baik-baik saja kan?” Tanya Ny. Lee.

“Maaf Tn, Ny. Keadaan Haneul sangat parah. Mobil itu melaju sangat tinggi sehingga benturan yang mengenai otak dan beberapa tubuhnya cukup keras. Terutama dibagian otaknya. Kemungkinan ia untuk hidup cukup kecil. Berdoa saja untuk kesembuhannya. Kami akan memindahkannya keruang perawatan intensif. Kami permisi dulu.”

 

Perkataan dokter itu cukup membuat tangis Ny. Lee pecah. Walaupun Ny. Lee bukan ibu kandung dari Haneul, tapi ia sangat menyayangi Haneul. Dulu, apa yang Haneul ingin selalu dikabulkan oleh Ny. Lee. Saat dirumah, Haneul lah yang membuat suasana menjadi hangat. Tapi apakah suasana itu akan lenyap? Apakah Haneul akan pergi? Apakah Haneul yang harus membayar dosa-dosa ayahnya? Iya, sepertinya itu yang akan terjadi.

 

Sudah 1 minggu Haneul dirawat, tetapi ia belum sadar juga sampai sekarang. Sampai saat itu juga Sehun ingin menemui Haneul tetapi dilarang oleh Tn. Lee.

 

“Kau belum cukup dewasa untuk mengontrol emosimu nak.”

“Maaf ahjussi tapi berikan aku kesempatan untuk berbicara dengan Haneul.”

“Saat ini aku takut ia akan pergi dan aku takut jika ia sadar ia akan hilang ingatan. Saat ini juga aku ingin menjaganya dari seseorang yang tak bertanggung jawab.”

“Ahjussi aku cukup dewasa untuk mengerti arti cinta. Saat ini aku ingin berada disampingnya, menjadi seseorang yang bertanggung jawab. Seseorang yang akan berusaha untuk menghapus dendam yang ada selama ini.”

“Tapi tetap. Keputusanku sudah bulat. Jauhkan Haneul. Biarkan ia bahagia dengan jalannya sendiri.”

“Tetapi bagaimana jika ia bahagia bersamaku?”

“Aku tak tahu.. Tapi pulanglah.. Walaupun kau bilang ibumu dan kau sudah memaafkannya tapi aku tetap tidak bisa.”

“Untuk mendapatkan orang yang kita cintai butuh perjuangan yang keras tentunya. Disitu pula aku akan berjuang untuk mendapatkan cinta Haneul.”

“Oh Sehun pulanglah! Jangan ganggu sahabatku lagi. Sudah cukup kau menyakitinya. Sudah cukup banyak sakit yang dia rasakan. Hiduplah dengan bahagia tanpa Haneul.” Ucap Hana yang mendengar setiap perkataan dari Oh Sehun dan Tn. Lee.

“Hana! Apa yang kau lakukan jika kau melihat Lu Han didalam sana dalam keadaan kritis, sedangkan kau tak diberikan ijin untuk menemuinya lagi. Apa yang kau lakukan? Eoh? APAAAAA!!!” Sehun mengacak rambutnya. Matanya sudah memerah saat ini. Keadaannya sangat kacau.

“Haneul mencintaimu sejak kau tidak mengenalnya. Ia menyimpan perasaannya sampai saat ini. Ia bertahan sampai saat ini dengan statusnya yang sangat kau benci. Tapi apa yang kau lakukan padanya?”

“AAARRRRRGGGHHH!” Sehun menutup matanya. Air matanya turun. Ini pertama kalinya Hana melihat Sehun menangis.

 

 

Tapi…..

 

Sebuah teriakan terdengar dari arah ruang perawatan Haneul.

 

“HANEEEUULLL!!!!! JANGGAANN TINGGALKAN EOMMAAAAA!!”

 

Sehun, Hana dan Tn. Lee yang mendengar teriakan tersebut langsung masuk kedalam ruangan tersebut dan Hana hanya melihat garis lurus pada detak jantung Haneul.

 

“Apa artinya Haneul akan pergi?” Hana menangis hingga air matanya membasahi wajah Haneul.

 

——–

 

Aku merasa asing dengan tempat ini. Padang yang penuh dengan bunga-bunga. Aku melihat tubuhku seperti sebuah bayangan. Aku mendengar eomma meneriakiku. Tapi darimana asal suara itu. Aku tak melihat seseorang disana. Aku berpakaian putih dan aku sendiri tak bisa menyentuh diriku sendiri. Apa saat ini aku hanya bersama jiwaku. Sedangkan tubuhku tergeletak dirumah sakit. Apa aku sudah mati? Saat aku menemukan sosok eomma. Aku mencoba meraihnya. Tetapi angin-angin ini mendorongku semakin jauh, mendekati gerbang kebahagian.

 

“Apa kau akan meninggalkanku begitu saja!!! Ini aku Haneul. Aku Sehun!! Sadarlah aku mohon!!”

 

Serasa angin itu berhenti meniupku lebih jauh. Aku berhenti dan merasakan jiwaku akan kembali kedalam tubuhku.

 

Jiwaku kembali. Aku pasti bisa bertahan hidup. Aku percaya.

 

——

 

“Maafkan aku Haneul. Aku berjanji untuk lebih dewasa dan bisa mengontrol emosiku. Aku harap kau sadar. Aku harap kau memaafkanku dan aku ingin kau menjadi pendamping hidupku. Sadarlah Haneul. Aku mohonnn..”

 

Tn. Lee hanya ingin melihat kebenaran Sehun. Perasaan tanpa emosinya. Inilah yang ingin Tn. Lee lihat. Hana juga sedikit tersenyum melihat kesungguhan Sehun.

 

Saat itu juga mata dan jari manis Haneul mulai bergerak.

 

“Se – Sehun..” Sehun menghapus air matanya dan tersenyum. Semua orang yang berada diruangan itu tersenyum.

“Aku disini. Maafkan aku Haneul.”

“Aku tak marah padamu tapi aku marah pada diriku sendiri.”

“Aku juga meminta maaf, karena aku kau seperti ini. Aku sadar dengan perasaanku saat ini. Saranghae..”

“Apa itu benar?”

“Tentu saja…” Sehun mengecup bibir Haneul sekilas.

“YA! Bisakah kalian tidak melakukan hal itu didepan banyak orang?” Ucap Hana dengan bibir manyunp-nya. Haneul dan Sehun hanya bisa tersenyum.

“Hana.. Terimakasih kau mau menjadi temanku. Mau menjadi tempat aku berbagi cerita dan menjadi pelindungku disaat orang-orang ingin menyakitiku. Eomma.. Appa.. Terimakasih kalian mau merawatku dan menyayangiku.”

“Tentu saja. Aku kan teman terbaikmu Haneul.” Ucap Hana.

“Eomma sama appa juga sayang padamu Haneul. Jika kau sudah diperbolehkan pulang. Kau tinggal dirumah lagi ne? Eomma tidak ingin mendengar penolakan darimu.”

“Baiklah eomma..”

“Tenang saja eommoni.. Tak lama lagi Haneul akan menjadi istriku.”

 

Ruangan yang awalnya berisi tangisan menjadi sebuah tawa yang sangat berarti.

 

—–

 

Sudah 1 minggu setelah Haneul sadar dan ia diperbolehkan untuk pulang. Saat ini, ia duduk di halaman belakang rumah keluarga Lee. Duduk di atas rerumputan sambil menulis sesuatu pada buku hariannya.

 

“Aku belajar banyak dari kehidupanku. Berawal dari masa laluku yang buruk berubah menjadi kehidupan yang jauh lebih baik. Tak selamanya menjadi anak dari seorang pembunuh dibenci oleh teman-temannya. Hanya saja orang itu tidak ingin jika derajatnya turun. Hanya teman yang benar-benar tulus akan berteman denganku dan orang yang memiliki cinta yang besar yang akan menjadi suamiku 3 hari lagi. Di masa kritisku, ayah dan ibu angkatku berada disampingku. Di saat jiwaku akan menjauh, Tuhan menghentikannya. Aku bisa hidup jika aku tak menyerah pada hidupku. Dan jika aku menyerah, mungkin saja aku tak akan bisa menulis diatas buku ini. Rencana Tuhan memang indah.”

 

“Eomma. Appa. Baik-baiklah kalian diatas sana. Aku juga akan selalu berterimakasih pada Appa dan Eomma Lee yang merawatku dari aku kecil hingga saat ini. Dan aku harap kalian bahagia melihat aku yang akan menjadi calon istri dari Sehun.” Haneul tersenyum saat mengucapkan kata-kata tersebut. Ia mengucapkannya sambil memandang langit, sehingga ia tidak tahu keberadaan Sehun yang akan berjalan kearahnya.

 

Sehun melingkarkan tangannya dan mencium bibir manis Haneul.

 

-The End-

 

“Percayalah rencana Tuhan itu indah. Janganlah menyerah pada hidupmu yang awalnya hancur dan tak berarti sama sekali.” – Lee Haneul.

“Emosi tak akan menyelesaikan masalah. Kau hanya akan menghancurkan segalanya termasuk kau akan menghancurkan hidup seseorang yang kau cintai.” – Oh Sehun.

“Jangan sampai kau melepaskan seorang sahabat/ orang yang kau cintai yang selalu ada untukmu.” – Park Hana.

 

“Berbahagialah dengan jalanmu sendiri. Hanya dirimu sendiri yang bisa menemukan kebahagian itu.” – Author, Sherly.

 

 

Iklan

9 pemikiran pada “Everything Won’t Be Perfect (Behind the Lies)

  1. 😭😭😭 gk tau mau komen apa2 soalnya kreen bgt kta2nya thor, mknanya dalemm bgt bkin sesak nafas soalny nhan2 airmta biar gk kluar haha*lebay, ttep smngt y thor bkin ff kren lainnya,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s