Friendship Become Friendsex

Friendship become Friendsex

kai

Title :: Friendship become Friendsex

Author :: Lee SeNa

Cast :: Kim Jongin (Kai) . Jung SooRa, Kim Yura

Genre :: Yadong, NC 21, Friendship

Length :: One Shoot

Rating :: NC 21

POV : Shin SooRa

Jika tubuhku bisa membuatmu jatuh cinta denganku, aku akan memberikannya padamu kapanpun dan dimanapun.Shin SooRa.

Tangan kekar itu merangkulku erat dengan tangan lainnya yang mengacak-acak rambut halusku. “Ya! Hentikan! Seseorang akan salah paham jika kau terus menggangguku seperti ini!” Aku mendorongnya dengan setengah hati.

“Siapa? Kim Yura? Oh ayolah, mana mungkin dia cemburu padamu!” Tangan itu kembali mengapit kepalaku disela lengan kekarnya.

“Itulah kenyataannya! Dia takut aku merebutmu, Kim Jongin… Aku duluan… Aku rasa aku belum mengerjakan tugas matematika.” Aku berjalan cepat mendahului sahabatku yang hampir hidup denganku selama lima belas tahun ini.

Tangan kekar itu masih saja mendarat dibahuku. Aku sangat kesal, harus memperingatinya berkali-kali, tapi aku menyukainya. Aku sangat menyukai saat ia menyentuhku. Aku sangat menyukai semua sentuhannya. Kim Jongin atau Kai, sahabat yang aku cintai namun sudah memeiliki seorang kekasih yang selalu cemburu padaku.

“Jadi kau tidak mau menyontek padaku? Aku akan memberimu tugas matematikaku, bagaimana?” Dengan santai ia merengkulku diantara puluhan pasang mata yang memperhatikan kami.

“Terserah kau, aku sudah memperingatimu…” Aku berusaha terlihat pasrah, dan menyembunyikan perasaanku yang menikmatinya.

“Nah… Baiklah, aku akan memberimu contek nanti, tapi aku harus bertemu Yura. Dia ada didepan sana, aku akan menunggumu dikelas, bye.” Kai mengecup pipiku singkat lalu berlari menghampiri Yura. Sementara aku berusaha menutupi wajahku karena malu saat ciuman Kai dipipiku disaksikan banyak orang.

Kai selalu melakukan skinship bodoh yang membuat semua orang beranggapan bahwa aku adalah kekasihnya. Aku senang dan bangga, tapi semenjak ia berpacaran dengan Yura, aku tidak menyukainya. Yura selalu melarang Kai menghabiskan waktu denganku. Walau terkadang Kai menolak permintaan aneh Yeoja itu, tapi akhir-akhir ini Kai melakukannya karena ia bilang ia sudah bosan dengan ocehan Yura.

***

Jam istirahat telah berakhir, aku belum melihat Kai disampingku. Ya kami duduk sebangku, dan kami selalu menempel satu sama lain. Itulah yang membuat kekasihnya selalu cemburu padaku. Padahal aku yang lebih pantas cemburu dengannya karena aku terjebak friendzone dan harus menutupi perasaanku setengah mati.

“Aku mengantuk…” Kurasakan sebuah kepala menindih bahuku. Siapa lagi pemilik kepala itu jika bukan Kai? Tentu saja laki-laki yang selalu seenaknya menempel padaku.

“Wajahmu terlihat aneh. Apakah sesuatu terjadi?” Aku menatap wajah lelah dan frustasi yang terlukis diwajah laki-laki tampan dengan senyum khasnya. Senyum uniknya yang selalu menampilkan gigi-gigi putihnya.

“Kau benar, dia benar-benar marah padaku. Aku pikir membuatnya cemburu akan menjadi kemajuan untuk hubungan kami, dia malah merajuk dan meminta putus dariku.” Kai masih memejamkan matanya. Dan aku mulai mendorong kepalanya dengan jemarr-jemari lentikku.

“Karena itu berhentilah bersikap seperti ini…” Aku menggeser kursiku agar sedikit berjauhan dengan kursinya.

“Jika dia cemburu seharusnya dia lebih banyak melakukan skinship denganku… Menciumnya saja butuh waktu tiga bulan! Benar-benar membosankan!” Kai meletakkan kepalanya diatas meja dan mulai memejamkan matanya.

“Dasar mesum! Berhentilah bermimpi berpacaran seperti di kumpulan komik yadongmu…” Aku menarik hidungnya gemas.

“Ya, seharusnya aku berhenti terobsesi…” Sahutnya lemas.

“Tunggu! Bagaimana kau tahu tentang komik itu?” Kai mengangkat kepalanya dan menatapku dengan mata membulat.

“Tentu saja aku tahu, aku sering main di kamarmu dank au menyembunyikannya dibawah bantalmu. Bodoh…” Sahutku cuek.

“Psstt! Rahasiakan itu dari Yura… Aku akan malu setengah mati jika ketahuan Yura bahwa aku terobsesi dengan hubungan sex dikomik koleksiku. Mengerti? Aku sudah menciumnya dan biarkan aku melanjutkan tahap berikutnya hehehe…” Kai menarik leherku dan menempelkan bibirnya pada telingaku untuk berbisik ditelingaku.

“Arra… Dasar mesum…” Sahutku sambil menjauhkannya dariku. Aku hanya menarik napas ringan mendengar ucapannya. Sangat menyakitkan saat tahu ciuman pertamanya bukanlah milikku. Siapa aku dan siapa yang peduli jika aku tak mendapatkan ciumannya. Itu hanya fantasiku saja, fantasi yang jauh dari kenyataan.

***

Siang ini aku sudah selesai merapihkan rumah yang besar ini sendiria. Ya aku hanya tinggal sendirian. Sedangkan Kai sahabat yang juga tetanggaku itu tinggal dengan keluarga bahagianya dan keluarga Kai lah yang mengurusku selama ini. Eomma Kai yang membuatku ahli dalam memasak. Saat sedang asik menonton acara televisi sambil menyantap saladku, tiba-tiba saja ponselku bordering.

“Bisakah kau ke rumahku? Aku lapar dan hanya ada bahan masakan mentah yang tidak aku tahu cara mengolahnya… Eomma dan Appaku belum pulang sampai dua hari kedepan.” Kai merengek saat meneleponku. Oh ayolah dia bisa menetuk pintu rumahku yang tepat disebelahnya kenapa harus menghabiskan pulsa untuk menelepon?

“Apakah aku pesuruhmu? Masak saja ramen!” Sahutku ketus dan berniat menutup telepon.

“Kau berubah! Kenapa kau selalu menjauh?!” Suara Kai menghentikan niatku untuk mematikan telepon.

“Ingat, kau sudah punya kekasih, kau bisa memintanya memasak untukmu…” Sahutku dengan asal.

“Baiklah!” Setelah mendengar suara yang terdengar kesal itu telepon terputus. Aku menjadi kepikiran tentang nada suara itu. Aku berniat memasak untuknya di rumahku dan mengirim makanan itu setelah matang ke rumah Kai.

Setelah selesai memasak, saat aku akan berjalan ke rumah tetangga sebelah, aku melihat seorang wanita yang lima senti lebih tinggi dariku itu masuk ke rumah Kai. Ya, siapa lagi jika bukan kekasihnya, Kim Yura. Aku mengurungkan niatku untuk mengantar makanan yang ku masak untuk Kai dan kembali ke rumah.

Aku memandang spaghetti yang baru saja aku buat dengan sendu. Aku rindu saat aku bisa bersamanya tanpa punya rasa apapun. Entah sejak kapan rasa ini muncul, perasaan suka yang tak bisa aku kendalikan. Aku mulai cemburu saat ia mempunyai kekasih di sekolah menengah atas ini, ya umur kami sudah tujuh belas tahun saat ini, itu berarti kami sudah berteman selama lima belas tahun. Aku pindah ke Korea dari Amerika sejak aku berumur dua tahun. Kai lah yang mengajariku bahasa korea, dan sejak saat itu aku berteman. Mulai sekolah dasar, menengah pertama hingga sekolah menengah atas saat ini. Kai selalu disampingku, duduk sebangku pergi dan pulang bersama setiap sekolah dan itu sama sekali tidak membuatku bosan. Hanya saja ada yang berubah sejak berjalannya waktu. Perasaanku padanya berubah menjadi perasaan wanita terhadap seorang pria. Tetapi tidak demikian dengan Kai. Itulah yang aku sesali.

Aku menatap kesal spaghetti itu dan membuangnya ke tempat sampah dengan kesal. “Baiklah kau punya Yura sekarang dan berhentilah membuatku terus bersikap patuh padamu!” Teriakku seakan berbicara pada spaghetti yang ada di tempat sampah sekarang.

Saat akan kembali menyaksikan acara televisi,bel rumahku tiba-tiba saja terdengar. Aku membuka pintu dan terkejut melihat siapa yang sedang berdiri dengan lipstick yang sudah jauh dari kata rapih, terlihat beberapa kissmark dilehernya.

“Apakah kau juga melakukannya dengan Kai? Kenapa dia selalu membandingkanku denganmu! Silahkan ambil laki-laki brengsek itu!” Wanita yang aku kenal pacar Kai itu menyebut Kai-ku brengsek? Tidak, maksudnya Kai-nya Brengsek? Apa maksudnya?

“Apa maksudmu?!” Aku masih belum bisa mencerna maksud wanita aneh yang berdiri dihadapanku dengan muka memerah yang menahan amarahnya.

“Aku putus dengan Kai!” Setelah kata-kata melegakan itu keluar dari bibirnya yang terlihat aneh itu.

“Seharusnya kalian berpacaran jika kalian sudah melakukannya? Persahabatan gila! Sejak awal aku tak pernah percaya kalian hanya bersahabat! Kau sama brengseknnya dengan Kai!” Bentak Yura yang langsung pergi meninggalkanku dengan sebuah taxi yang ternyata sudah ia pesan..

“Putus?! Baguslah… Aku harus menanyakannya langsung pada Kai … Terutama maksudnya mengatakan aku dan Kai brengsek. Aneh…” Aku berlari menuju rumah Kai. Rumah yang tidak dikunci.

“Kai…” Aku berteriak menuju ruang tamu dan langsung mengentikan langkahku saat melihat apa yang ada diatas sofa.

Seorang Kim Jongin alias Kai sedang tidak berbusana. Tidak ada satupun benang yang menutupi tubuhnya, termasuk ehm batangnya yang terlihat ereksi itu.

“OMO! Kau gila?!” Aku berbalik memunggungi Kai.

“Keluarlah jika kau hanya ingin mengoceh. Aku tidak dalam mood yang bagus.” Suaranya terdengar lirih.

“Apakah kalian putus? Apakah ini ada hubungannya denganku?” Aku masih memunggungi Kai.

“Aku bilang keluar jika kau tidak ingin aku makan!” Aku langsung menoleh mendengar ucapan Kai.

Kini ia sedang berdiri menatapku dengan mata yang sayu. Aku hanya menggunakan sweater yang menutupi hot pantsku. Aku berusaha menutup kedua mataku saat melihat juniornya dengan sangat jelas.

“Kau…” Aku tidak bisa menyelesaikan ucapanku ketika aku rasakan sepasang lengan menghantam tubuhku hingga tersudut ketembok.

“Apakah kau tuli? Ya aku putus dan bahkan kami belum menyelesaikan seks kami! Dia membuatku ereksi dan bernafsu tetapi meninggalkanku begitu saja hanya karena aku membandingkannya denganmu. Aku membandingkan sifat tegangnya saat aku sentuh berbeda dengamu yang cuek saat aku sentuh. Aku memintanya bersikap rileks sepertimu dan dia salah paham menganggapku sudah bercinta denganmu! Sudah puas? Pergilah!” Wajah Kai terlihat sangat frustasi. Aku berusaha menahan air mataku saat mendengar suara bentakkannya padaku.

“Ayo lakukan… Aku akan menggantikannya… Aku akan melakukannya untukmu…” Lirihku tertahan. Aku sendiri masih berusaha mencerna perkataanku. Aku tidak sadar dengan apa yang aku katakan.

“Apa maksudm…” Aku langsung mengunci bibir Kai dengan bibirku. Aku melumat bibir itu lembut. Kai masih terdiam, sedetik kemudian ia membalas lumatanku pada bibirnya. Kini lidah kami beradu, aku berusaha menyesap lidahnya, ia tak mau kalah dan menyesap lidahku. Sesekali ia memagut bibir bawah hingga daguku. Ini pertama kalinya aku mengalami sensasi yang membuat seluruh tubuhku lemas. Kai semakin menyudutkanku ke dinding. Ciuman kami semakin memanas dan mendalam, aku hampir kehabisan napas. Kai yang menyadarinya melepaskan ciumannya padaku. Benar-benar ciuman pertama yang tidak akan aku lupakan, walaupun ini bukan ciuman pertamanya.

“Kau tidak bisa menarik perkataanmu kembali, ingat. Aku tidak suka dipermainkan.” Kai kembali menciumku, melumat bibir atas dan bawahku. Aku mengerti dengan sifat jeleknya yang tak pernah ingin dipermainkan dan selalu menagih semua hal yang dijanjikan padanya. Tetapi aku tidak tahu dia adalah seorang yang penuh nafsu seperti ini.  Aku tahu dia adalah seorang laki-laki mesum, tapi aku tak pernah terbayang untuk melakukannya langsung tanpa persiapan seperti ini. Tapi aku menikmatinya. Semuanya. Sentuhan dan ciumannya.

Kai mulai membuka sweater putih rajutku dan melepaskan ciumannya sejenak. Setelah sweaterku terlepas, ia kembali melumat habis bbirku, tak memberiku kesempatan untuk bergantian memonopoli permainan ini. Kai membuka hot pantsku dengan tergesa-gesa dan tangannya mulai kembali merayap kepunggungku. Ciumannya turun keleherku, memberikan beberapa kissmark disana, sama seperti milik Yura tadi dilehernya. Aku bahkan tak membayangkan kissmark yang entah akan hilang dalam berapa lama ini, aku hanya menikmatinya. Tanganku mulai ku lingkarkan pada lehernya. Kai tellah berhasil melepas pengait bra-ku. Ciumannya semakin turun. Ia menatap payudaraku sejenak dan menelan ludah.

“Kau tumbuh sangat baik, SooRaa-ku…” Kai mengucapkannya sambil mengelus dan meremas lembut kedua payudaraku. Ya dia bicara pada payudaraku, bukan diriku. Kai langsung mencium ganas belahan payudaraku. Aku sedikit tersenyum saat mendengarnya bergumam bagai menemukan hal yang menyenangkan. Aku hanya bisa mengikuti permainannya sambil berusaha menahan desahanku yang sedari tadi mendesak keluar dari bibirku karena permainan nikmat bersama Kai.

“Ahh… Kai… mmhh…” Aku tak bisa menahan desahanku lagi saat ujung lidah Kai menyentuh putingku dan menjilatnya memutar dengan cepat dibagian payudara kiriku. Sungguh sangat geli dan nikmat. Tanpa sadar, aku sudah meremas rambutnya.

Mendengar desahanku membuatnya melakukan hal yang sama dengan payudara kananku. Tangan kiri Kai sibuk meremas payudara kiriku yang tak terjamah lidahnya lagi. Sementara tangan kanannya sibuk membelai lembut vaginaku dan menekankan jari telunjuknya tepat dibelahan vaginaku.

“Ohh… Kai.. Ahh…” Aku semakin tak tahan saat telunjuknya naik turun mengikuti garis belahan vaginaku, dan bibirnya masih aktif menjilat dan mengulum putingku.

Kai mempercepat gesekkan jari telunjuknya pada bibir vaginaku, dan lidahnya terus berputar disekitar putingku, membuat remasanku pada rambutnya semakin menggila. Aku kembali mengerang nikmat sambil menengadah kepalaku keatas menatap langit-langit.

“Aaaahhh…” Aku melenguh panjang pertanda pelepasan orgasmeku. Kakiku melemas, rasanya tubuhku akan jatuh. Kai yang menyadarinya menahan tubuhku.

“Apakah kau perlu waktu untuk mengembalikan tenagamu?” Kai berbisik sambil menciumi telingaku, membuatku kembali pada nafsuku.

“Nappeun Namja… Darimana kau mempelajarinya? Oh?…” Sahutku masih dengan napas yang terengah-engah.

“Aku rasa kita butuh tempat yang lebih baik…” Kai yang tak menjawab pertanyaanku itu malah menggendongku menuju kamarnya. Aku menatap wajahnya yang berubah menjadi bersemangat, dan aku senang bisa melihatnya tersenyum lagi, walaupun tersenyum dengan penuh nafsu. Setidaknya aku tidak melihatnya tertekan.

Kai menidurkanku diatas kasurnya. Aku tahu kemana arah permainan ini, walaupun masih merasa ragu, tapi aku ingin melanjutkannya. Kai membuka cd-ku dan kembali melumat bibirku. Aku tahu Kai pasti sudah tak bisa dihentikan, ia terus mencumbuku dari leher hingga kembali bermain di payudaraku. Aku rasa ia sangat menyukainya. Ia berhenti lama disana untuk memainkan lidahnya, mengulum dan menjilat putting hingga seluruh permukaan payudaraku yang sampai mengkilat karena air liurnya. Cumbuannya turun ke purutku, namun kedua tangannya masih sibuk meremas lembut payudaraku sambil sesekali memilin putingku. Aku hanya bisa mendesah dan melenguh nikmat karena sangat menikmati permainannya.

Kai sampai didepan vaginaku, ia melepaskan cengkraman tangannya pada kedua payudaraku, dan kini ia menggunakan kedua tangannya untuk mengangkangkan kakiku melebar.

“Apa yang kau lakukan… Hmm?” Aku berusaha merapatkan kakiku karena merasa malu saat ia menatap vaginaku begitu intens.

“Hanya memandanginya sebelum aku memakannya…” Goda Kai yang kembali melebarkan kedua kakiku.

Kai mula menciumi permukaan vaginaku, dan menggunakan jemarinya untuk membuka belahan vaginaku. Ia memasukkan lidahnya dan memainkan lidahnya didalam lubang vaginaku. Aku hanya bisa mendesah nikmat dan meremas rambutnya sebagai pelampiasan.

“Kai.. Aaaahhh…” Aku melenguh panjang sambil menjambak rambutnya. Tubuhku menegang dan melemas. Sial, aku sudah orgasme lagi. Kai benar-benar mempermainkan aku.

“Giliranku…” Kai bergumam sambil bangkit dari selangkanganku dan menindih tubuhku. Ia tersenyum bahagia seperti seorang yang kelaparan saat menemukan makanannya.

Aku merasakan sesuatu mendesak masuk kedalam lubang vaginaku. Dengan malas aku sedikit melirik kebawah kearah vaginaku dan menemukan Kai yang sedang berusaha memasukkan penisnya yang sudah ereksi itu kedalam lubang vaginaku.

“Akh!” Aku mengerang pilu karena merasakan sakit saat penis Kai mulai memasuki vaginaku.

Kai masih sibuk menenggelamkan seluruh batang penisnya kedalam vaginaku, sementara aku hanya bisa meremas sprei dan memejamkan mata. Air mataku keluar begitu saja. Sementara dibawah sana Kai sudah berhasil memasukkan setengah batang penisnya, sedangkan aku benar-benar tersiksa dan hanya bisa menahan isak tangisku agar tidak mengganggunya dibawah sana.

“SooRa… Kau berdarah… Apakah aku yang pertama melakukannya?” Kai melihat cairan merah yang mengaliri penisnya. Aku masih menangis dengan mata terpejam menahan sakit yang ku rasakan saat ini.

“Soora… Mianhae… Aku akan menghentikannya jika ini menyiksamu…” Kurasakan tangan kekar itu membelai pipiku dan mengusap air mataku. Ya, tangan kekar yang kini mulai gemetar milik Kai.

“Anio… Lakukanlah… Aku akan menahannya…” Perlahan aku membuka mataku, wajah khawatir Kai tepat berada dihadapanku. Aku menarik lehernya hingga bibirnya menyentuh bibirku. Sedikit melumatnya dengan mata yang ku pejamkan kembali.

“Lakukanlah… Kau akan tersiksa jika tidak melanjutkannya… Aku sudah berjanji padamu, bukan?” Aku langsung kembali melumat bibir Kai. Menciumnya dengan bergairah untuk menghentikan suasana canggung ini dan kembali membuatnya bernafsu agar permainan ini cepat selesai.

Kai akhirnya membalas ciumanku dan mulai menggerakan penisnya dan semakin  lama semakin cepat genjotan penisnya pada vaginaku. Bibirnya masih belum melepaskan tautan kami. Kini tangannya mulai membelai payudaraku dan meremasnya lembut. Rasa sakit itu mulai hilang, aku mulai merasakan nikmat atas genjotan penis Kai dan mulai ikut bergairah mengikuti permainan ini. Aku ikut menggoyangkan pinggulku, sementara ciuman Kai turun dileherku.

“Ahhh… Kai… Ahh…” Aku terus mengerang nikmat, semetara Kai terus mempercepat gerakannya saat aku mulai mendesah.

“Kai… Ahh… Aku… Aku rasa… Ahh… Aku akan orgasme lagi… Ahhh…” Vaginaku berkedut, cairanku membanjiri rahimku yang kini penuh sesak oleh penis Kai. Tubuhku kembali melemas, kurasakan Kai melepas penisnya dari lubangku

“Aaahh…” Kai melenguh nikmat untuk pertama kalinya dan kurasakan cairan hangat dan kental membanjiri perutku. Kai mengeluarkan cairan orgasmenya diatas perutku. Ia ambruk disebelahku dengan nafas yang terengah-engah.

Tak butuh waktu lama untuk beristirahat, Kai bangkit dan mengambil tisu lalu membersihkan cairannya yang membanjiri perutku. Lalu ia berjalan dengan tubuh telanjangnya dan penis yang mulai layu itu kearah lemari. Mengambil sesuatu dari sana, setelah ia mendekat kearahku, aku baru menyadari ia membawa selimut. Ia menghampiriku dan menyelimuti tubuh telanjangku yang benar-benar masih terasa lemas.

“Tidurlah… Ada yang ingin aku bicarakan nanti…” Kai merapihkan posisi tidurku.

“Kenapa tidak sekarang?” Lirihku dengan suara yang sedikit serak dan tentu saja nafas yang masih terengah-engah.

“Aku ingin kau beristirahat…” Kai berbaring disebelahku dan mendekatkan tubuhnya pada tubuhku. Kurasakan tangannya memeluk pinggangku dan tubuhnya merapat dengan tubuhku.

“Aku juga butuh istirahat…” Kai menariku tenggelam dalam dada bidangnya dan ia tertidur diatas kepalaku.

Aku tak menjawab sepatah katapun dan mulai memejamkan mataku. Entah apa yang akan terjadi setelah ini, aku hanya ingin menikmati saat-saat ini. Saat Kai bersikap lembut padaku saat menyentuhku, tidak seperti biasanya yang bersikap seenaknya dan asal menyentuhku tanpa bersikap lembut.

***

Aku merasakan dingin disekujur tubuhku, aku membuka mataku dan tak menemukan Kai disebelahku. Aku memandang sekeliling kamar Kai namun tidak menemukannya. Aku melirik jam dinding yang menunjukkan pukul dua tengah malam. Aku tersadar dan teringat tentang permainan kami siang bolong saat itu, hingga membuatku tertidur disore hari dan terbangun tengah malam karena lapar dan kedinginan. Aku melirik kearah jendela dan benar saja sedang hujan ditambah Kai yang tak lagi memelukku. Aku berusaha bangkit namun selangkanganku terasa sangat ngilu.

“Ah… Aku lupa rasa sakitnya…” Aku memukul kepalaku sendiri karena kesal. Aku tetap berusaha bangkit dan berjalan dengan kaki yang mengangkang dengan berbalut selimut. Aku bingung harus mencari kemana pakaianku. Aku berjalan keluar kamar Kai dengan perlahan dan langkah kaki yang sedikit mengangkang. Aku melihat Kai sedang duduk di sofa dan menonton televisi.

“OMO! Kau mengagetkanku! Bersuaralah jangan diam dan datang seperti itu!” Kai bersikap kasar lagi padaku. Ya aku tak sengaja membuatnya terkejut dengan kehadiranku yang tanpa suara dan tubuh dengan selimut putih tebal ini.

“Mian… Aku lapar…” Aku duduk dengan sangat perlahan diujung sofa berlawanan dengan Kai.

“Baiklah, aku akan memaskanmu ramen. Tunggu disini.” Kai bangkit dan menuju dapur. Aku mengalihkan pandanganku pada televisi. Ternyata Kai tidak sedang menonton televisi, melainkan menonton dvd. Lebih tepatnya adalah drama musical kami saat sekolah menengah pertama. Dimana aku dan Kai mendapat peran sebagai sepasang pasangan culun disana.

Lima belas menit kemudian Kai datang dengan sepanci ramen, sementara film telah selesai. Ia mematikan televisi dan duduk disebelahku. “Makanlah…” Ucapnya datar.

“Ah… Kai… Dimana bajuku… Aku bisa mati kedinginan disini… Dan sulit memakan ramen dengan keadaan seperti ini.

“Aku sedang mencucinya, saat akan menjemur hujan turun sangat deras. Bajumu masih basah. Mian…” Sahut Kai gugup.

“Aku akan membawakanmu bajuku. Tunggulah sebentar.” Kai berjalan cepat menuju kamarnya. Tak lama ia datang dengan membawa Kaos putih dan boxer miliknya.

“Tapi aku tak mempunyai celana pendek, aku hanya punya boxer. Apakah kau mau memakai boxerku?” Kai mengulurkan kaos putih dan boxernya.

“Ku rasa ini cukup… Ini cukup panjang hingga sepahaku. Aku tidak mau memakai dalaman pria!” Aku mengambil kaos milik Kai dan berusaha bangkit dari dudukku.

Baru saja akan bangkit dari duduk, tanpa sadar aku memekik perih “Akh… Aku lupa…” Aku lupa kalau vaginaku masih terasa sakit, dan masih harus hati-hati saat berjalan, duduk maupun bangun dari duduk.

“Gwaencanha?” Kai mendekat dan memegangi bahuku.

“Gwancanha…” Aku menepis tangannya dan berjalan perlahan menuju kamarnya. Aku memakai kaos putih Kai dan baru menyadari bahwa aku juga kehilangan braku. Aku berusaha menutupi bagian dadaku, namun karena cuaca sangat dingin, putingku mengeras dan membuatnya menyembul.

“Aishhh… Kenapa dikamar ini sangat dingin… Huh pantas saja, AC nya masih menyala…” Aku mematikan AC di kamar Kai dan berusaha menetralkan diriku.

“SooRa… Gwancanha?” Kai masuk menyusulku ke dalam kamar. Aku terkejut dan langsung menutupi bagian dadaku.

“Jangan kesini… Kau tak boleh melihatnya..” Aku membelakangi Kai.

“Apa? Payudaramu? Vaginamu? Aku sudah melihat semuanya, apa lagi yang ingin kau tutupi?” Kai terkekeh dan kurasakan ia mendekat.

“Cepat makan sebelum ramennya dingin.” Kai menutupi tubuhku dengan handuk kering dan keluar setelah mengucpkan kalimat itu.

Bodoh! Kau mempermalukan dirimu sendiri didepannya, Soora!” Aku memukuli kepalaku dengan kesal, dan dengan perlahan berjalan menuju ruang televisi.

Aku pun menyantap ramenku dengan tergesa-gesa karena sangat kelaparan, sementara Kai hanya tersenyum menatapku. Aku merasa malu saat menemukannya tersenyum melihatku, dan tak lama aku pun selesai menyantao ramenku. Aku meminum segelas the hangat lalu menyandarkan tubuhku di sofa.

“Apakah kau menyesal?” Kai membuka pembicaraan.

“Menyesal?” Aku mengulangi pertanyaannya.

“Menyerahkan tubuhmu padaku… Apakaah kau menyesal?” Kai kini beralih menatapku.

“Ekhem… Aku… Tidak menyesal… Jadi.. Jangan merasa bersalah…” Aku memalingkan wajahku kearah televisi yang mati.

Ku rasakan Kai menggeser duduknya mendekatiku dan menarik kepalaku hingga menatapnya. “Tatap aku saat kau bicara denganku!” Kai terlihat kesal.

“Aku tidak menyesal sama sekali, Kai… Jadi kau kenapa?!” Aku menatapnya lebih dekat dan menatapnya serius.

“Aku tidak bisa berhenti menyalahkan diriku karena melakukannya padamu. Aku tidak berniat sejauh itu… Tapi aku terlalu bergairah untuk melakukannya… Kalaupun aku melakukannya dengan Yura, pasti tidak akan sejauh ini… Karena Yura pasti menolaknya…” Lirih Kai.

“Tapi kenapa kau mau melakukannya?” Kai kembali menatapku.

“Kapan Eomm dan Appamu pulang?” Aku berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Jawab aku, SooRa.” Kurasakan Kai kembali mendekat.

“Aku hanya membantumu menuntaskan nafsumu… Ya… Hanya itu…” Sahutku gugup.

“Tidak masuk akal… Mana mungkin seorang sahabat mau memberikan tubuhnya pada sahabatny. Bodoh.” Kai kembali menatapku kesal.

“Apakah kau tidak ingin jujur padaku?” Kai mendekat dan menyudutkanku dipegangan sofa.

“A… Apa maksudmu?” Aku masih berusaha mengindari kedua matanya yang menatapku penuh rasa penasaran.

“Perasaanmu… Apakah kau juga menyukaiku?” Kai masih diposisi yang sama sementara aku hampir saja mendorongnya saat mendengar pertanyaannya.

“Juga? Apa maksudmu dengan kata juga? Kau?” Aku menatap kedua matanya yang menatap lurus kearahku.

“Aku sempat suka padamu, tapi kau tak pernah menghiraukan perasaanku. Aku berusaha mencintai wanita lain tapi kau juga tak sedikitpun cemburu. Jadi aku memutuskan untuk melupakanmu… Tapi setelah kejadian kemarin…” Kai terhenti. Matanya yang menatapku beralih menuju payudaraku yang tercetak di kaosku.

“Baiklah, aku akan jujur…” Aku mendorong tubuh Kai menjauh, aku tidak ingin manusia mesum ini terangsang lagi melihat keadaanku saat ini.

“Ya, aku menyukaimu… Karena itu aku…” Belum selesai aku mengungkapkan perasaanku, Kai langung menarik tengkukku dan mencium bibirku lembut. Sangat lembut dan perlahan. Aku butuh beberapa detik untuk akhirnya membalas ciumannya.

Ciuman Kai yang lembut berubah menjadi memanas, kini ia mulai melumat bibirku. Lidahnya perlahan namun pasti menyeruak masuk kedalam rongga mulutku. Kai mulai menindih tubuhku. Aku tahu kemana arah ciuman ini dan menghentikannya dengan mendorong dada bidangnya.

“Kai… Aku masih sakit…” Lirihku.

“Mian… Aku hanya ingin menciummu…” Kai mengecup keningku. Lalu tiba-tiba saja ia tertawa saat menatap wajahku.

“Waeyo?” Aku menatap Kai curiga.

“Anio… Hanya saja terasa aneh saat menatapmu setelah melakukannya. Aku jadi merasa mudah bergairah saat bersamamu…” Kai kembali tertawa.

“Ya! Mesum!” Aku menyilangkan tanganku menutupi tubuhku.

“Tapi, kenapa kau tidak pernah memberitahuku?” Aku melirik Kai yang kini balik melirikku.

“Apa?” Kai menyandarkan tubuhnya di sofa, masih dengan jarak yang sama.

“Perasaanmu… Aku berpikir kau tidak pernah menyukaiku. Lagipula kau bersikap kasar padaku.” Aku menatapnya kesal.

“Itu adalah tanda perasaanku. Tak bisa bersikap apa adanya didepan orang lain kecuali denganmu. aku mencoba menghindarimu dan membuang jauh perasaanku saat aku mulai menyadari perasaanku dengan berpacaran dengan Yura. Aku mulai menyukainya tapi ia selalu membandingkan sikapku padanya dengan sikapku padamu. Aku selalu menjadi diriku sendiri saat bersamamu dan selalu berusaha menyesuaikan diriku saat dengannya, dan ia menyadari hal itu dan selalu saja mempermasalahkannya. Dan seperti kemarin saat aku ingin melakukannya dengan Yura, dan aku tak bermaksud untuk membandingkannya denganmu. tapi yura salah paham, dan aku sudah lelah. Yura tak bisa membuatku jatuh cinta padanya, jadi aku menyerah” Ungkap Kai.

“Aku masih belum mengerti maksud kalian yang membandingkanku, kemarin Yura datang ke rumahku marah-marah karena kau membandingkannya denganku. Sebenarnya apa yang membuat kalian bertengkar?” Aku menatap dalam mata Kai yang menerawang entah kemana.

“Kami sedang berciuman, sambil berjalan menuju kamarku… Dan aku tak sengaja membuat kepalanya terbentur pintu kamarku karena aku lupa membuka pintunya. Kami sudah tak berpakaian dan aku sudah bernafsu tetapi dia menghentikannya dan marah kepadaku. Aku sudah membujuknya, tapi ia terus marah-marah dan menyalahkan ketidak sengajaanku. Bukankah sangat menyebalkan? Aku mengatakan padanya kalau dia adalah gadis yang tidak pengertian dan berbeda denganmu. dia ingin berhenti melakukannya hanya  karena kesalahan kecilku, benar-benar menyebalkan. Aku sudah sering tidak sengaja melukaimu, tapi kau selalu memaafkanku dan tidak mempermasalahkannya. Dan masalah semakin besar karena Yura merasa kesal aku membandingkannya denganmu. ia memakai kembali pakaiannya dan pergi. Aku sudah menahannya tapi ia malah minta putus mulai saat itu.” Jelas Kai.

“Tapi, kenapa Yura bertanya hal aneh? Dia bertanya apakah kalian berdua juga melakukannya? Aku tidak mengerti maksudnya karena itu aku langsung menemuimu.” Aku mengingat kembali ucapan Yura.

“Melakukannya?” Kai mengulang kembali kalimat itu.

“Ya… Aku rasa Yura salah paham saat kau bilang aku berbeda dengannya. Mungkin Yura membayangkan kondisi aku ang pengertian berbeda dengannya saat melakukannya denganmu. karena itu dia menganggapku sudah melakukannya denganmu. aishh ada-ada saja…” Aku kini menyadari maksud dan inti permasalahannya.

“Melakukan apa? Bisakah kau jelaskan?” Kai tiba-tiba mendekat kesisiku dengan wajah yang tepat berada dihadapanku.

“Menjauhlah mesum!” Aku mendorong wajahnya dan bangkit dari sofa dan berjalan hati-hati menuju kamar.

Saat berjalan, aku merasa tubuhku goyah dan digendong oleh seseorang yang tidak lain tidak bukan adalah Kai yang menggendongku ala bridal. “Turunkan aku bodoh. Aku tidak akan melakukannya untukmu hari ini!” Aku menjambak-jambak rambutnya sambil berteriak kencang.

“Aku tidak akan melakukan apapun, aku hanya membantumu menuju kamar. Kau yang berpikiran mesum!” Kai mengulurkan lidahnya.

Aku langsung terdiam dan mengalungkan tanganku dileher Kai. Setelah sampai di kamarnya, ia langsung menidurkanku diatas ranjangnya. Dan menyelimutiku dengan selimutnya.

“Kau matikan ACnya?” Kai menyalahkan AC kembali. Sementara aku masih menatap jendela yang menunjukkan hujan yang masih turun deras.

“Apakah kau tidak kedinginan? Aku tahu kau tidak bisa tidur tanpa AC, tapi aku sangat kedinginan bodoh!”  Aku memunggunginya karena kesal.

“Kau bisa memelukku jika kedinginan…” Kai ikut berbaring diatas ranjang.

“Mesum!” Lirihku.

“Apakah kau tidak menyukaiku lagi awtwlah tahu aku sangat mesum?” Suara Kai terdengar lirih.

“Tidak, bukan begitu maksudku…” Aku memutar tubuhku dan menghadapnya.

“Apakah kau tega melihatku tidur gelisah tanpa AC?” Kai mengeluarkan aegyo menyebalkannya. Sangat menyebalkan karena aku tidak tahan ingin memeluknya sekarang.

“Terserah kau…” Aku kembali memunggunginya.

“Sudah aku bilang peluklah aku… Atau aku yang memelukmu. Aku janji tidak akan melakukan hal apapun selain memelukmu…” Kurasakan tangan Kai melingkar dipinggulku, ia juga menyandarkan kepalanya dibahuku. Aneh, tubuhnya kenapa terasa biasa saja, tak terasa dingin sama sekali.

“Kau sangat dingin. Aku rasa aku yang harus mengalah sekarang…” Kai akan melepaskan pelukkannya pada pinggulku, tetapi aku menahannya.

“Tidak perlu, tetaplah seperti ini…” Aku menarik tangannya kembali untuk semakin mempererat pelukkanya.

“SooRa… Kau bilang tidak akan melakukannya hari ini, jadi hari lain apakah boleh?” Kai berbisik tepat ditelingaku.

“Berhenti berpikiran yang macam-macam…” Sahutku malas dan mulai memejamkan mataku.

Aku akan melakukannya jika itu bisa membuatmu menjadi milikku…” Batinku.

***

Gimana readers?

Kira-kira ada yang minta sequel gak ya?

Kalo respon dari EXO-L bagus aku akan buat lanjutannya secepatnya untuk Kai version ini, karena ini FF NC Pertamaku. Jadi mohon komentarnya 😀

Sebelumnya aku pernah post ini dengan cast lain, tapi untuk versi Kai ini aku akan lebih memfokuskan ke Kai dan SooRa, kalau satu lagi ke keluarga tokoh utama dan Soora J

Lee SeNa

 

Iklan

111 thoughts on “Friendship Become Friendsex

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s