Medical In Love (Part 2)

Medical in Love

 medical-in-love1

Author : Shim Na Na

Genre : Romance

Rating : General, Teenager

Length : Multichapter (3.467 words)

Cast :

Park In Jung (OC)

Kim Jongin (EXO – Kai)

Oh Sehun (EXO – Sehun)

Do Kyung Soo (EXO – D.O)

Etc…

 

Part 2

Sore ini hari sabtu, hari kegiatan bebas di penitipan anak tempat In jung bekerja. Anak-anak bisa melakukan apapun, bisa ikut kelas seni, bisa bermain di halaman depan, bisa ikut kelas merajut dan lainnya. In jung duduk di halaman depan, menjaga anak-anak yang sedang bermain bola. Sang jun sudah bisa bermain seperti biasa, lukanya bekas operasinya sudah sembuh walaupun terkadang masih terasa sakit. In jung duduk di ayunan, menggerakkan kakinya ke depan belakang agar ayunannya bergerak.

“Nona Park, nona Park !” Sang jun berteriak memanggil In jung. Dia berlari ke arah In jung.

“Ya, ada apa Sang jun. Jangan berlari, nanti kau terjatuh.” Sang jun menghampirinya sambil tersenyum.

“Lihat itu, ada Dokter Kim datang kesini.” Sang jun menunjuk ke lelaki yang berjalan ke arahnya. In jung secara spontan langsung berdiri, merapikan rambutnya yang tergerai bebas.

“Oh, dokter Kim, apa yang membuat anda kemari ?” In Jung berusaha untuk bersikap tenang.

“Ah tidak, hanya saja aku kebetulan lewat sini. Aku teringat dengan Sang jun, jadi kupikir tidak ada salahnya kemari. Apa kau sehat-sehat saja Sang jun ?”

“Sangat sehat dokter, apakah dokter mau ikut bermain bola bersama kami, masih ada tempat untuk satu orang, dokter bisa masuk ke dalam tim ku kalau dokter mau.”

“Ah, sepertinya lain waktu saja. Aku baru pulang dinas, lain kali aku pasti mencetak gol bersama timmu.” Dokter Kim tersenyum kepada Sang jun, meskipun Sang jun sedikit kecewa, dia tetap menerimanya. Ia kembali bermain, meninggalkan In jung dan Dokter Kim berdua.

“Eerr.. Apakah dokter mau masuk ke dalam ?” In jung menawarkan tempat duduk yang lebih nyaman daripada hanya berdiri di sini.

“Ah tidak usah, aku hanya sebentar. Boleh aku duduk di ayunan ini ? Sepertinya ayunan ini cukup kuat untuk orang dewasa kan ? Oh dan lagi, jangan memanggilku dokter Kim. Panggil saja aku Kai, aku lebih nyaman dipanggil dengan nama itu.” Kai duduk di ayunan disamping In jung duduk tadi. In jung hanya melihatnya, ia merasa canggung, apa dia harus ikut duduk di samping Kai ?

“Wah nona Park, apa kau hanya akan berdiri terus disini ? Kenapa tidak duduk ? Nanti bisa-bisa kakimu keram.” In jung hanya menuruti perkataan Kai. Dia duduk di sebelahnya, ayunan itu terlihat begitu kecil saat Kai mendudukinya. Kai terlihat menikmatinya.

“Permisi dokter Kim, ah maksudku Kai, apa yang sedang kau lakukan disini, bukankah rumah sakit cukup jauh dari sini ?” In jung memberanikan diri untuk memulai percakapan karena tidak mungkin mereka hanya diam-diam saja.

“Ah tidak, kebetulan hari ini aku sedang menemani temanku berbelanja di supermarket di seberang jalan, karena aku melihat palang penitipan anak jadi aku pikir aku bisa bertemu dengan Sang jun, setidaknya untuk menanyakan kabarnya. Lagi pula aku tidak betah berlama-lama di dalam supermarket, aku tidak begitu suka berbelanja. Apakah aku menganggumu bekerja, nona Park ?”

“Aigoo, tentu saja tidak. Dan tolong panggil aku In jung, rasanya ganjil mendengar anda mengatakan nona Park tiap kali bertemu.” In jung menundukkan wajahnya yang mulai memerah, rambutnya sengaja digerai menutupi wajahnya. Untuk beberapa saat, In jung dan Kai tidak mengeluarkan satu kata pun, yang terdengar hanya gesekan kaki Kai untuk menggerakkan ayunan. Lalu terdengar Kai menghela napas.

“Sepertinya aku sudah lama sekali tidak merasakan hal seperti ini, tempat ini ternyata begitu bagus ya. Rasanya seperti ingin menjadi anak kecil lagi, bebas bermain sepuasnya, tidak perlu memikirkan hal lain.”

In jung melihat ke arah Kai. Kai terlihat berbeda dari yang sebelumnya pernah In jung temui, Kai tersenyum sambil memperhatikan anak-anak yang tengah bermain bola. Sikap dingin yang biasa ditunjukkannya tidak terlihat, dia lebih terlihat seperti seorang laki-laki biasa. Siapa yang menyangka dia seorang dokter yang biasanya bersikap dingin. In jung terus melihat ke arah Kai, tanpa sadar dia menopangkan kepalanya dan terus memperhatikan Kai sambil tersenyum. Kai menoleh ke arah In jung yang sedang memperhatikannya, In jung langsung mengalihkan perhatiannya. Dia baru saja tertangkap basah sedang memandangi Kai sambil tersenyum, wajahnya langsung berubah merah. Kai hanya tersenyum.

“Wah, apa yang sedang kau lihat ? Kenapa mukamu berubah semerah tomat ?”

“Ya ? Ah tidak, iniii.. hanya sajaa.. cuacanya panas sekali, benarkan ?” In jung tidak bisa lagi berkata-kata.

“Umm.. mungkin akan menyenangkan kalau suatu saat aku bisa bermain disini. Rumahmu dimana In jung-ssi ?” Apakah kau tinggal di daerah ini ?”

“Ah, iya. Rumahku di daerah ini, di sekitar perempatan ujung jalan, rumah coklat yang kecil itu. Mungkin kalau anda lewat dan ingin singgah. Ah ! tidak. Maa..maaksudkuu.. kalau hanya lewat saja. Ha..haa.haa..” Aduh, apa yang aku pikirkan, kenapa aku lepas bicara, bodoh sekali, umpat In jung.

“Hahahaha.. kau ini lucu sekali. Baiklah, kalau aku melewati rumahmu, aku akan mampir, bila kau punya waktu senggang. Aku rasa aku akan punya banyak waktu melewati rumahmu, karena apartemenku arah yang sama dengan rumahmu.”

“Apa? Maaf, maksudmu apartemen tempat anda tinggal ? Arah yang sama ? Berarti anda biasa melawati daerah ini ?”

“Tentu saja, setiap hari aku melewati jalan ini. Makanya aku langsung tau tempat ini ketika Sang jun bilang ikut tempat penitipan daerah ini. Memangnya kenapa ?”

“Ah tidaaak. Aku hanya bertanya.” kenapa dia tidak pernah melihat Kai sebelumnya, apa mata In jung sudah rusak, masa ada lelaki tampan seperti Kai yang tinggal di daerah yang sama luput dari perhatiannya.

“Ngomong-ngomong, apa kau lihat apartemen yang berwarna biru putih yang disana ? Aku tinggal disana, kalau kau kebetulan lewat mungkin kau bisa memanggilku, barangkali kita bisa bertemu.” Kai tersenyum kepada In jung, rasanya angin langsung berhembus, persis seperti drama Korea. Kali ini In jung tidak dapat berbohong, rasanya jantungnya akan meledak, wajahnya semakin memanas bahkan bisa memasak telur di dahinya. Rasanya Kai dikelilingi cahaya matahari, khayalan In jung melewati batas.

“KAAAAII… !” tiba-tiba seseorang memanggilnya. Kai menoleh ke seberang jalan, terlihat seorang laki-laki sedang memegang banyak bungkusan belanjaan.

“Oh, Hyung. Tunggu sebentar, aku kesana. Maaf In jung-ssi, sepertinya temanku sudah selesai memborong seluruh isi supermarket itu. Lain waktu aku akan kesini lagi. Kalau aku lewat lagi di depan rumahmu, aku akan menyempatkan waktu berkunjung. Terimakasih untuk sorenya.”

Kai segera berbalik dan menuju laki-laki yang sudah menunggunya di seberang jalan. Dia mengambil belanjaan yang banyak, lalu berjalan bersama, dia terlihat tersenyum bahkan tertawa bersama laki-laki itu dan sepertinya mereka akrab sekali. In jung memperhatikannya dari jauh, sepertinya dia pernah melihat laki-laki itu, tapi dimana ya. Sambil memperhatikan Kai dari kejauhan, In jung tersenyum. Apakah tadi Kai bilang akan mengunjunginya suatu saat ? Apa ini hanya mimpi ? Belum pernah seorang lelaki pun yang mengatakan itu kepada In jung, apa dia benar-benar berniat mengunjungi atau hanya basa-basi ya ?

***

Keesokan harinya, In jung beraktivitas seperti biasa. In jung memulai hari dengan membersihkan rumah, memasak lalu berangkat ke tempat penitipan anak. Selama di tempat penitipan anak, ia mengajar di kelas seni atau terkadang membantu ibu kepala mengawasi anak-anak di kelas keterampilan. In jung lebih betah berlama-lama di penitipan karena dia dapat bermain bersama anak-anak, walaupun kalau dirumah terkadang ada Eun gi kecil yang sering datang berkunjung (Eun gi itu tetangga rumah). Setelah kelas selesai, In jung bersiap-siap untuk pulang. Dia telah membereskan kelasnya, saat keluar kelas Sang jun sudah menununggunya di depan pintu.

“Nona Park, apa kau akan pulang ? Aku ingin memberi ini. Ibuku bilang ini tanda terimakasih untukmu karena sudah menemaniku selama di rumah sakit. Kotak berwarna merah itu untuk anda.” Sang jun menyerahkan dua kotak kepada In jung.

“Aigo, terima kasih Sang jun, beritahu ibumu aku sangat berterima kasih. Tapi bagaimana dengan kotak yang satunya, apa ini untukku juga ?”

“Aniyaa.. itu untuk dokter Kim. Kemarin aku mengatakan kalau dokter Kim berkunjung ke sini untuk menemui nona Park, jadi ibuku langsung membuatkan kue beras itu untukmu dan dokter Kim. Kue beras buatan ibuku sangat enak loh, jarang-jarang ibu memasaknya.”

“Omo ! Apakah kau mau mengatakan aku yang akan mengantarkan kue ini kepada dokter Kim ?”

“Tentu saja, kau dekat dengan dokter Kim kan nona ? Kemarin saja kau mengobrol dengannya dan dia datang kesini untuk menemuimu, kau pasti dekat dengannya. Ah, aku harus pulang sebelum ibu memarahiku. Selamat tinggal nona Park.” Sang jun berlari sambil melambaikan tangan ke arah In jung yang masih berdiri di depan pintu sambil memegang dua kotak kue beras.

Apa yang harus dilakukan In jung, apakah dia harus mengantarkan kue beras ini kepada Kai, dia kan tidak tau dimana Kai tinggal. Oh benar, kan kemarin Kai sempat memberitahu apartemen tempatnya tinggal, tapi masa harus In jung yang mengantarkan kue ini. Aduh kenapa ibu Sang jun memberikan ini kepadanya, apa dia tidak usah memberikan kue ini ya, lumayan dapat dua kotak kue beras. Aduh, tapi ibu Sang jun mempercayakannya untuk mengantarkan tanda terimakasih ini. Bagaimana kalau Kai menganggapnya wanita yang mengejar-ngejarnya, padahal kan tidak, tapi kalau dia tidak mengantarkan kue ini keburu dingin, lebih enak kalau dimakan hangat. In jung benar-benar kebingungan hanya karena sekotak kue beras.

In jung berjalan pulang, dia telah menetapkan dan menguatkan tekad. Dia akan pergi ke apartemen tempat Kai tinggal untuk mengantarkan sekotak kue beras. Tenang, ini hanya karena ibu Sang jun mempercayai In jung untuk memberikan kue kepada Kai. In jung berharap Kai tidak sedang disana sehingga dia bisa menyangkutkan kue beras di depan pintu tanpa bertemu Kai. Setelah pulang sebentar untuk menaruh kotak kue miliknya, In jung pergi ke apartemen Kai menaiki sepeda, cukup jauh kalau dia berjalan kaki, cukup dia berjalan kaki dari tempat penitipan anak ke rumahnya.

Sesampainya di depan apartemen, In jung memarkirkan sepedanya. Apartemen itu benar-benar besar dan bagus, In jung menebak yang tinggal disini pasti orang-orang yang kaya.

“Permisi, aku ingin bertanya, apakah dokter yang bernama Kim Jong in tinggal disini ? Aku ingin mengantarkan kue ini kepadanya.” In jung bertanya kepada seorang laki-laki dari bagian informasi.

“Oh, dokter Kim Jong In maksudmu? Kamarnya ada di apartemen nomer 1012, kau bisa naik lift disana.” laki-laki itu mengarahkan In jung untuk menggunakan lift, sepertinya kalau naik tangga kakinya akan patah. In jung segera pergi menuju lift setelah mengucapkan terimakasih kepada laki-laki itu.

Setelah sampai di lantai dengan nomor depan 10, In jung keluar dari lift. In jung melewati koridor, mencari pintu dengan nomor 1012 di atasnya. Akhirnya dia menemukannya, kamar di ujung koridor. In jung berdiri persis di depan pintu, apakah dia harus memencet belnya ? Apakah Kai ada di dalam ? In jung akhirnya memencet bel, bel petama terdengar tapi tidak terjadi apa apa. In jung memencet bel untuk kedua kali tetapi pintu tetap tidak terbuka. Kalau ketiga kalinya dia memencet bel tetapi pintu tidak terbuka, dia akan meninggalkan kotak kue itu di depan pintu. In jung menunggu sebentar setelah dia memencet bel ketiga kalinya, sepertinya tidak ada orang di dalam. Baiklah, dia akan menaruh kotak ini di depan pintu saja, semoga tidak ada orang yang melarikannya nanti. In jung berjongkok untuk meletakkan kotak di depan pintu, saat itulah pintu terbuka. In jung melihat sepasang sendal rumahan, seseorang memakainya. In jung menengadah perlahan melihat orang itu, betapa terkejutnya melihat orang yang berdiri di depannya.

Seseorang berdiri di depan In jung, memakai celemek dengan lengan baju yang digulung. In jung masih menengadah melihatnya, dia menelan ludah. Dia pernah melihat orang ini sebelumnya, ia dia pernah melihatnya beberapa kali, orang ini… Dokter Do! Dokter Do melihat In jung dengan pandangan seperti sedang mengkritisi, keningnya berkerut.

“Maaf, apa yang sedang kau lakukan di depan pintu apartemenku ?”

“Oh ?! Maaf, aku sepertinya salah kamar, aku ingin mengantarkan barang.” In jung segera berdiri, menutup mulutnya dengan rapat. Tunggu sebentar, bukankan ini apartemen nomor 1012 ? Mestinya ini apartemen Kai, kenapa malah dokter Do ? Apa dia salah kamar ? In jung berkali kali melihat nomor kamar apartemen itu, benar kok nomor 1012. Dokter Do masih memperhatikan In jung yang terlihat kebingungan.

“Nona, kau mencari apartemen siapa ?” pertanyaan dokter Do membuat In jung terdiam.

“Ah, akuu.. aku mencari apartemen Dokter Kim, Kim Jong in. Bagian informasi bilang kamarnya nomor 1012, bukankah ini nomor 1012 ?”

“Iya, ini nomor 1012. Ada perlu apa dengan Kai ?”

“Oh, ini. Aku mau mengantarkan ini. Ini kue beras, tanda terima kasih.” In jung menyerahkan kotak kue beras pada Dokter Do.

“Tanda terima kasih ? Kenapa ? Apakah kau berhutang budi pada Kai ?” Dokter Do menghujani In jung dengan pertanyaan, membuat In jung panik.

“Aah. Bukan begitu, hanya saja kenalanku yang berterima kasih kepada dokter Kim, tapi dia menitipkan ini kepadaku untuk memberikannya kepada dokter Kim.”

“Oh, benarkah ? Kai sedang tidak ada, nanti kalau dia sudah pulang akan aku sampaikan tanda terima kasih ini.” Dokter Do mengambil kotak kue beras yang diserahkan In jung. In jung segera merunduk dan segera berbalik, dia tidak ingin sesuatu yang lebih memalukan terjadi. In jung beranjak dari tempatnya, saat itulah Dokter Do kembali bertanya.

“Tunggu, sepertinya aku pernah melihatmu. Bukankah kau Ibu dari anak yang terkena usus buntu beberapa waktu yang lalu ?” pertanyaan dokter Do langsung menghentikan langkah In jung.

“Oh ? Aku ? Ah bukan. Benar aku yang bersama anak itu, tapi aku bukan ibunya, aku hanya gurunya di tempat penitipan anak.”

“Benarkah ? Pantas saja aku rasa pernah melihatmu, ternyata aku benar. Terima kasih untuk kuenya, nanti akan aku sampaikan pada Kai.” Dokter Do melihat ke arah In jung, membuat In jung salah tingkah, beberapa kali dia membungkukkan badan, menandakan ia pamit kepada Dokter Do. Dokter Do tidak bergerak sedikitpun sampai In jung masuk ke dalam lift.

In jung keluar dari dalam lift. Dia berjalan seperti zombie, sangat lambat. Pandangannya ke depan tapi pikirannya entah melayang kemana. Dia memikirkan kejadian tadi, kenapa dokter Do ada di apartemen Kai ? Dia tidak salah kan melihat dokter Do memakai celemek seperti itu ? Apa dokter Do kebetulan sedang disana, tapi dengan celemek berarti dia sedang memasak. Kenapa dia memasak di apartemen Kai ? Memangnya Dokter Do tidak punya tempat tinggal, tidak mungkin kan, masa seorang dokter begitu tuna wisma. Atau jangan-jangan mereka tinggal bersama ? Ha ! Tinggal bersama ?! Tidak mungkin, mereka bukan kakak-adik, marga mereka berbeda. Atau saudara tiri? Tapi kalau mereka memang serumah, berarti selama ini mereka tinggal berdua di apartemen yang sama. Berarti mereka bisa bertemu setiap hari kan, kalau tidak bertemu di rumah sakit, mereka bisa bertemu di apartemen. Aaaaah !!! Tidak mungkin.

In jung berjalan sambil terus menghayalkan dokter Do dan Kai. Mereka makan berdua, sarapan berdua, tinggal bersama, apa mereka tidur bersama ? Huaaa ! tidak mungkin, tidak adil sekali. Keduanya adalah laki-laki tampan, dokter pula, apa mereka tidak punya pacar ? In jung benar-benar merasa frustasi. Karena dia terus membayangkan yang berlebihan, dia tidak menyadari ada orang yang sebentar lagi akan menabraknya.

BRUK ! In jung terjatuh menabrak orang di depannya.

“Aish ! Ya ! Sakit !” In jung berteriak kepada orang yang menabraknya.

“Ah, maafkan aku. Aku terburu-buru. Aku sudah memintamu minggir, tapi sepertinya kau tidak mendengarku berteriak Apakah kau baik-baik saja ?”

In jung melihat ke orang yang menabraknya, ternyata seorang laki-laki. In jung masih terduduk, dia memperhatikan laki-laki itu sedang membereskan barangnya yang sepertinya berserakan, dia terus memperhatikan tanpa tau kalau semua isi tasnya pun ikut berserakan.

“Permisi nona, apakah kau tidak membereskan barangmu ? Sepertinya isi tasmu juga terjatuh.”

“Huh ? Tasku ?” In jung baru melihat tasnya yang mulai terasa ringan. Barang-barang di dalam tasnya sudah berserakan.

“Omo ! Kenapa semuanya berserakan ?” In jung baru melihat ke sekelilingnya, barang-barang berserakan, belum lagi orang-orang di lobby yang berkumpul melihat mereka berdua. In jung tidak bisa mengenali mana barang miliknya dan mana milik laki-laki itu. In jung mulai memasukkan barang-barang ke dalam tasnya, dia sudah tidak nyaman dilihat oleh orang banyak.

Setelah selesai memasukkan semua barangnya ke dalam tas, In jung bangun dari duduknya. Laki-laki yang tadi menabraknya lebih dulu selesai memasukkan barang-barang ke dalam tas, ia membantu In jung berdiri.

“Maafkan aku, aku tidak bermaksud menabrakmu. Apakah kau baik-baik saja nona ? Apa kau terluka ?” laki-laki itu meminta maaf sambil mengulurkan tangannya untuk membantu In jung berdiri. In jung hanya diam, perhatiannya tertuju pada wajah laki-laki itu. Laki-laki itu tinggi sekali, mungkin tingginya sekitar 180 cm. Wajah laki-laki itu manis sekali, apa mungkin dia lebih muda dari In jung ya. Pakaian laki-laki itu begitu rapi, In jung langsung melihat dirinya sendiri yang masih belum berganti pakaian sepulang dari tempat penitipan anak. Laki-laki itu masih memandangi In jung, membuat wajah In jung berubah merah (lagi).

“Oh maafkan aku, aku yang salah, aku tidak melihat jalan dengan baik. Maafkan aku.” In jung buru-buru berlari keluar lobby tanpa melihat laki-laki itu lagi.

In jung sampai di depan rumahnya, napasnya terngengah-engah. Dia menggayuh sepeda secepat mungkin, dia harus menjauh dari apartemen yang baru didatanginya. Setelah memarkirkan sepedanya, dia langsung masuk ke rumah dan berlari ke dapur, membuka kulkas mencari minuman dingin. Tenggorokannya terasa kering sekali dan badannya terasa sangat panas. Dia merebahkan dirinya di sofa, memejamkan matanya. Sekilas kejadian yang barusan terbayang di benaknya. Kenapa rasanya akhir-akhir ini kejadian yang dialaminya selalu membuatnya malu, mulai dari tertangkap basah sedang mengintip toko tempat Baekhyun bekerja, tertangkap basah sedang memperhatikan Kai sambil tersenyum, belum lagi kejadian Dokter Do dan tabrakan di lobby dengan entah siapa lelaki itu.

Sedang asik menghayal, tiba-tiba ponsel In jung bergetar dari dalam tasnya. Dia merogoh isi tasnya, tetapi tidak menemukannya, akhirnya dia mengguncangkan tasnya agar semua barang di dalam tas keluar. Akhirnya dia menemukannya, dia mengambil dan melihat ponselnya. Yah, ternyata hanya sms pemberitahuan tagihan. In jung melemparkan ponselnya ke meja di depannya, ketika itu lah dia kembali melihat barang-barang yang berserakan di sekitar tasnya, ada sesuatu yang rasanya bukan miliknya. Ada sebuah name tag di antara barang-barang yang berserakan. In jung mengambil name tag tersebut.

“Oh Sehun ?” In jung melihat name tag itu, ini milik siapa ? Perasaan dia tidak mengenal seseorang dengan nama Oh Sehun. In jung membolak-balikkan name tag itu, terdapat lambang rumah sakit Gangnam di name tag nya, di bawah nama Oh Sehun terdapat keterangan : Dokter Ahli Saraf. In jung melihat foto name tag itu, bukankah ini laki-laki yang tadi menabraknya di lobby apartemen ? In jung mengucek matanya, barangkali dia salah lihat, tetapi benar kok, ini pria yang tadi, kenapa bisa In jung memegang name tag milik laki-laki itu? Ah iya ! tadi kan barang-barang In jung dan laki-laki itu berserakan, pasti karena dia tidak memperhatikan dengan baik dia salah memasukkannya ke dalam tas miliknya.

In jung segera memeriksa barang miliknya, ada beberapa barang yang rasanya bukan miliknya. Ada sebuah ponsel, buku catatan dan ya sebuah name tag. Kalau bukan punya In jung berarti ini kepunyaan laki-laki tadi, bagaimana ini ? In jung memegang ponsel milik laki-laki itu, lampu ponsel itu berkedip-kedip. In jung sebenarnya tidak berniat membukanya, tapi karena ponsel itu beberapa kali bergetar saat In jung memegangnya, In jung akhirnya menyalakan layar ponsel itu. Ketika In jung membuka ponsel itu, sudah ada 36 missed call dan 5 pesan. In jung memberanikan diri untuk membuka sms ponsel itu, semoga saja pemiliknya tidak marah, lagi pula mungkin ini keadaan darurat. In jung melihat 5 pesan dengan pengirim yang sama. Isi sms nya:

Pesan pertama:

“Maaf, apakah kau sedang membaca pesan ini. Aku minta tolong, apakah kita bisa bertemu, aku membutuhkan ponsel. Apakah kau bisa menemuiku di rumah sakit Gangnam ?”

Pesan kedua:

“Maaf sebelumnya, namaku Oh Sehun, aku pemilik ponsel ini. Kalau kau sedang membaca pesan ini, bisakah aku meminta tolong untuk mengantarkan ponsel ini padaku ? Aku bekerja di rumah sakit Gangnam.

Pesan ketiga:

“Besok sore aku tidak ada jadwal, apakah kau bersedia menemuiku ? Aku akan memberikan hadiah untukmu, tapi tolong bisakah kau mengembalikan ponsel ini ? Aku sangat membutuhkannya.”

Pesan Keempat:

“Aku yakin kau akan datang besok kan ? Aku berharap sekali bisa bertemu denganmu. Aku sangat berterima kasih jika kau bersedia menemuiku besok sore. Aku menunggumu J.”

(Bahkan laki-laki ini memberi tanda senyum di pesannya)

Pesan Kelima:

“Sampai jumpa besok ya, aku menunggumu.”

In jung selesai membaca pesan yang dikirimkan laki-laki itu, pikirannya malah semakin kacau. Laki-laki ini berpikir apa tentang In jung ? Apa dia tau, In jung yang tidak sengaja membawa ponselnya ? Kenapa dia menambahkan tanda senyum di akhir pesannya ? In jung masih memegang ponsel laki-laki itu, tiba-tiba ponsel itu bergetar. Layar ponsel itu menyala, seseorang mencoba menelpon. Layar itu menampilkan nama si penelpon : “Do Kyungsoo hyung”. Hah ?! Bukankah ini dokter Do ?!

TBC…

See you on next chapter ^^

Poster: redbaby

Author’s Note:

Akhirnya part 2 selesai juga #lapkeringat

Gimana ceritanya?? Hehehehe…ceritanya emang masih slow banget ya…konfliknya sendiri author belum bisa mastiin bakal muncul dimana, tapi pengerjaannya sekarang udah masuk chapter 5. Author harap semuanya suka sama nih ff, pas baca 6 comment kemarin itu rasanya udah senaaaaang banget, bawaannya senyum terus J jadi author harap buat para readers agar meninggalkan comment, boleh juga ngasih saran, yang penting semuanya dalam bentuk positif ^o^

Jangan lupa comment ya…

 

 

 

 

 

Iklan

10 pemikiran pada “Medical In Love (Part 2)

  1. WOoww ceritanya seru keren walaupun agak ngebingungin hubungan antara kai, d.o sama sehun??
    tapi daebak kok..penasaran sama lanjutannya
    Next ya thor fightingg

  2. Sehun dokter juga?? Wah sempurna banget cowo2 yang ketemu ma In Jung tapi apa hubungan y sehun ma D.o? terus kenapa D.o ada di apartement kai? Makin seru aja nih ff keren thor!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s