The Darkness (Chapter 1)

THE DARKNESS

ATT_1431653033513_1431587067098

Author : Chocoflawa

Tittle : THE DARKNESS #1

Genre : Family, Friendship, Kekerasan

Rating : PG-15

Length : Chaptered

Main Cast : -Xi Mei Han a.k.a Meihan

              -EXO’s Kai a.k.a Kai

Other Cast : Find by urself

FanFiction ini murni imajinasi author. Cast milik orang tua masing-masing (lol).

NO SIDERS (Silent Readers)!!!

NO PLAGIRISM!!!

RCL Please!

 

* * * * * *

 

Author’s POV

Seorang yeoja kini sedang berlari berusaha menghindari kejaran 3 orang namja. Wajah yeoja itu begitu menyiratkan rasa kerakutan yang begitu dalam. Ia bingung kemana dia harus berlindung dan bersembunyi. Yeoja itu terus berlari menyusuri gang-gang kecil yang gelap untuk mencari tempat persembunyian yang aman. Tapi, dewi fortuna tidak berpihak pada yeoja itu. Dinding besar terpampang jelas di hadapannya. Jalan ini buntu! Yeoja itu semakin ketakutan saat 3 orang namja yang sejak tadi mengejarnya semakin mendekat.

 

“3 tahun berlalu.. akhirnya aku menemukanmu Xi Mei Han” ujar salah satu namja. Yeoja bernama Xi Mei Han terus berjalan mundur untuk menghindari 3 namja itu. Namun kini punggungnya sudah menyentuh dinding besar jalan buntu ini. Ia sudah tidak bisa menghindar lagi. Kakinya bergemetar hebat dan keringat dingin mulai bercucuran di sekitar pelipisnya.

 

“Yifan! apa kau tak puas sudah menghancurkan keluargaku?” teriak Meihan sambil terisak. Namja bernama Yifan itu berjalan mendekati Meihan dan menampar pipinya keras hingga ia terjatuh. “KAU ADIK TAK TAHU DIUNTUNG!” gertak Yifan sambil menendang batu-batu di sekitarnya. Yifan berjongkok menyesuaikan posisinya dengan Meihan. Lalu, Ia menjambak keras rambut ikal milik Meihan. “Kau membuatku rugi besar karna kau kabur dari club 3 tahun lalu! Andai saja saat itu kau tidak kabur dan mau melayani para namja disana, saat ini aku sudah bisa melunasi hutang-hutang ayahmu yang brengsek itu!” ujar Yifan ketus sambil memperkeras jambakannya pada rambut Meihan.

 

Yifan adalah kakak tiri Meihan. Setelah meninggalnya ibu kandung dari Meihan, sang ayah kembali menikah dengan seorang janda beranak 1, dan ia adalah Yifan. Ibu Yifan ingin menikahi ayah Meihan bukan semata-mata karna cinta. Tapi atas dasar harta. Ayah Meihan adalah seorang konglomerat dan dermawan yang terkenal di Beijing. Ibu Yifan terus saja menghabisi harta milik ayah Meihan hingga beliau terjerat banyak hutang. Dan sifat materialistis ibu Yifan turut menurun pada anak laki-lakinya itu. 3 tahun lalu, ayah Meihan meninggal karna bunuh diri. Saat itu, beliau ditemukan dalam keadaan darah yang mengalir dari kepalanya dan pistol yang tergeletak di sebelahnya. Ia begitu stress karna keadaan perusahaan yang terus memburuk dan hutang-hutang yang semakin menggunung.

 

Sejak saat itu, Meihan dan kakaknya Xi Lu Han di perbudak oleh ibu Yifan dan Yifan. Meihan dan Lu Han bekerja part-time setiap hari untuk membayar hutang-hutang sang ayah, karna hartanya sudah habis di sita oleh bank. Sampai suatu hari, Yifan tega menjual Meihan ke sebuah club malam elit untuk menjadikannya sebagai pelacur dan menghasilkan uang banyak. Tapi Meihan selalu berusaha kabur dari kejaran Yifan dan 2 anak buahnya yang setia, yaitu Chen dan Zitao. Karna sudah tak tahan dengan semua perlakuan Yifan dan ibunya, Luhan mengajak Meihan kabur ke Korea untuk berlindung di rumah nenek dari ibunya yang tinggal di Daegu. Namun, saat sampai di Korea Meihan dan Luhan terpisah karna sesampainya mereka di bandara, anak buah Yifan menculik Luhan. Sejak saat itu, hidup Meihan selalu di hantui rasa takut dan was-was karna takut Yifan akan membawanya kembali ke Beijing.

 

“kau kemanakan kakakku Luhan huh?” tanya Meihan yang masih terisak. Mendengar pertanyaan Meihan, Yifan tertawa sombong seraya mengambil sebatang rokok yang ia taruh di dalam saku jaket kulitnya. “Kakakmu itu sama tidak bergunanya denganmu.. Ia kabur dari markas kami di Incheon. Kami juga sudah membunuh nenekmu di Daegu agar kau tidak bisa menghindar lagi dari kami” jelas Yifan. Penjelasan Yifan tadi membuat nafas Meihan tercekat. Satu-satunya keluarga dari ibunya yang bisa ia jadikan tempat berlindung mati di tangan keji seorang Wu Yi Fan.

 

“KAU JAHAT WU YI FAN!! KAU BRENGSEK!!” teriak Meihan sambil melempar batu bata yang ada di dekatnya hingga mengenai pelipis Yifan sampai berdarah. “AYAH KAU LEBIH BRENGSEK XI MEI HAN!! DIA MATI MENINGGALKAN BANYAK HUTANG DAN MENYUSAHKANKU DAN IBUKU” gertak Yifan sambil menampar Meihan hingga menimbulkan bercak ungu di pipinya. Kemudian, Yifan berjalan meninggalkan Meihan yang tergeletak lemah sambil membisikan kedua anak buahnya (read: Chen & Zitao). “Sebagai hukuman, kau akan menjadi santapan bagi kedua anak buahku. Setelah ini, aku akan membawamu kembali ke Beijing” ucap Yifan sambil menghisap rokoknya. Chen & Zitao segera menyergap(?) Meihan yang sudah tak berdaya.

 

“ternyata kau sexy juga nona Xi” bisik Zitao seduktif yang membuat bulu kuduk Meihan merinding. Kemudian, Chen merobek paksa seragam sekolah Meihan hingga tak berbentuk. Kini hanya menyisakan bra dan rok sekolah yang masih menempel pada tubuh Meihan. “sepertinya ini akan menjadi malam yang indah nona” gumam Chen sambil mengelus pipi Meihan. Chen mulai meremas kasar payudara Meihan yang sintal sambil mencari pengait bra milik Meihan. Sementara Zitao, ia mulai menyentuh bagian sensitive Meihan sambil menekan-nekannya. Ia juga merobek paksa celana dalam Meihan dan memasukan ketiga jarinya sekaligus. Meihan tak kuasa menahan desahannya. “h-hentikaaann.. aaaah” desah Meihan berusaha melepaskan tangan Zitao yang berada di bagian sensitivenya. Bukannya melepaskan, Zitao malah semakin mengocok ketiga jarinya dengan agresif. “mendesahlah nona” ucap Chen di sela-sela kegiatannta melumat niple payudara Meihan.

 

BUGHHH!!

 

Kai’s POV

Kulirik arloji milikku dan jam sudah menunjukkan pukul 09:30 malam. Akupun meninggalkan area Kim Corporation dengan mengendarai mobil Audi R8 milikku. Sesekali, aku melirik ke daerah sekitar untuk menghilangkan rasa bosanku. Tak lama, aku menemukan sebuah objek yang sangat aku sukai. Ya! pedangang sate baso ikan! camilan favoritku sejak aku masih kecil. Akupun meminggirkan mobilku dan menghampiri pedagang itu. Kemudian aku mengambil 10 tusuk sate baso ikan yang bari saja selesai di bakar. Karna kebetulan perutku sudah memberontak ingin di isi makanan sejak tadi. Aku mengambil 2 lembar uang dari dompetku dan membayarkannya pada pedagang tersebut. Saat aku hendak kembali masuk ke dalam mobilku, di seberang aku melihat seorang yeoja sedang di kejar oleh 3 orang namja. Entah, seperti ada yang menarikku untuk mengikuti mereka. Akhirnya, aku mengikuti mereka dan tak lupa, aku menjaga jarak agar tidak ketahuan.

 

* * * * * *

 

Akupun terus mengikuti mereka (read: Meihan & Yifan, Chen, Zitao), hingga akhirnya mereka memasuki gang yang sempit dan gelap gulita. Kulihat yeoja yang dikejar tadi menemukan jalan buntu, dan sepertinya ia begitu ketakutan dan panik. Kuputuskan untuk bersembunyi di balik tembok agar tidak ketahuan dan terus memperhatikan apa yang akan mereka lakukan pada yeoja itu. Salah satu namja dari 3 namja tadi terus saja berlaku kasar pada yeoja itu. Mulai dari membentaknya, menamparnya bahkan menjambaknya. Ingin sekali aku menolong yeoja itu, tapi aku harus menunggu waktu yang tepat. Atau aku akan ikut dihabisi oleh ketiga namja itu. Ternyata dugaanku benar, 2/3 namja itu mulai memperkosa yeoja itu dengan kasar dan secara paksa. Aku semakin tak tega melihat yeoja itu yang terkulai begitu lemas.

 

Akupun mempersiapkan diriku dan menghampiri namja yang sedang merokok sekarang. BUGHHH!! Aku meninju namja yang sedang merokok tadi hingga tersungkur. Tak lama ia bangkit dan hendak meninjuku balik. Tapi, ia kalah cepat dariku yang berhasil memukul kepalanya dengan kayu yang aku temukan. Belum habis sampai sini, aku kembali meninju kedua namja yang memperkosa yeoja itu tadi hingga mereka tak sadarkan diri. Setelah membereskan ketiga namja tersebut, aku segera menghampiri yeoja itu. Keadaanya begitu kacau dan pakaiannya sudah tak karuan. Bahkan ia hanya mengenakan bra dan rok sekolahnya. Terlihat bercak memar di pipinya, darah yang mengalir dari sudut bibirnya, beberapa goresan di bagian tubuhnya dan kini ia tengah terisak. Satu kata yang dapat mendeskripsikan yeoja itu saat ini. Mengenaskan.

 

Akupun melepaskan mantel yang kupakai dan memekaikannya pada yeoja itu. Aku juga membantu memunguti blazer dan ranselnya yang tergeletak begitu saja. Lalu aku memangku yeoja itu ala bridal style. Karna aku tau, pasti keadaanya saat ini sangat jauh dari kata baik. “kau tenang saja, sekarang kau aman” ucapku sambil berjalan menuju mobilku. Kudengar ia masih terus terisak dalam pangkuanku. Setelah sampai di mobilku, aku segera mendudukannya di kursi sebelah kursi pengemudi dan menurunkan senderannya. Setelah aku memasuki mobil dan hendak menyalakannya, tangan yeoja itu menarik tanganku dan menggengamnya erat. “gomawo, aku sangat takut” gumamnya lemas. Kasihan sekali yeoja ini.

 

“gwechanha” ucapku. Tak lama, aku menyalakan mobilku dan pergi meninggalkan tempat tadi. Sebaiknya aku membawa yeoja ini ke apartemenku dan membiarkannya untuk tinggal di apartemenku sementara waktu. Setelah 30 menit perjalanan, akhirnya kami sampai di area apartemenku. Kulirik yeoja di sebelahku, kini ia tertidur pulas. Wajahnya sangat polos tanpa dosa. Akupun memperhatikan wajah yeoja ini secara detail. Sepertinya dia bukan orang Korea. Kuambil blazer yang tadi aku pungut saat menolongnya tadi. “Xi Mei Han” gumamku pelan sambil mengeja huruf-huruf yang tertera di name tag yang terpasang pada blazernya. Dari namanya, pasti dia orang Cina. Kutaruh kembali blazer milik Meihan dan mengambil ponselku. Aku mengetikkan beberapa digit nomor dan menempelkan ponselku pada telingaku.

 

“Sekretaris Hwang, tolong sediakan pakaian-pakaian untuk wanita dan segera kirim ke apartemenku”

 

* * * * * *

 

Meihan’s POV

Sinar matahari mulai menerpa wajahku. Akupun mengerjapkan mata berusaha menyesuaikan penglihatanku. “ini dimana?” gumamku. Kuperhatikan pakaianku sudah diganti dengan kemeja putih berukuran besar. Kuedarkan pandanganku ke seluruh ruangan ini dan menghirup oksigen sebanyak yang aku bisa. Wangi parfum khas laki-laki langsung menyambar indra penciumanku. Kulihat di meja nakas sebelah ranjang, disana terdapat semangkuk bubur dan secangkir teh. “apa disini tidak ada seorangpun?” gumamku sambil terus memandang seisi ruangan ini. Sebaiknya aku mengecek keluar kamar ini untuk memastikan apa ada orang disini. Saat aku sudah berdiri, keseimbanganku tiba-tiba saja hilang. Kakiku rasanya lemas sekali. Saat akan jatuh, aku tak merasakan tubuhku menghantam lantai kamar ini. Kubuka mataku dan kulihat kini seorang namja tengah menahan tubuhku.

 

“gwechanhayo?” tanyanya dengan tatapan cemas. Iapun membantuku untuk duduk di tepi ranjang. “Meihan-ssi? gwenchanhayo?” tanya namja itu lagi dengan lembut. Apa ini hanya sebuah mimpi? mengapa aku bisa bersama namja tampan ini? dan darimana ia mengetahui namaku?

 

“tenang saja, aku tidak menyentuhmu sedikitpun. Yang mengganti bajumu adalah sekretarisku. Sementara, kau pakai saja dulu bajuku. Mungkin sebentar lagi sekretarisku akan mengirimkan pakaian baru untukmu” jelasnya sambil mengambil mangkuk yang terletak di bawah ranjang. Mangkuk itu berisi air hangat dan handuk kecil. Namja itu memeras handuk itu pelan dan mengarahkannya ke wajahku. “biarkan aku obati lukamu” gumamnya sambil menempelkan handuk itu pada sudut bibirku dengan hati-hati. Ia juga menempelkan hansaplast pada batang hidungku yang luka karna tamparan Yifan kemarin. Kuperhatikan wajahnya detil. Kulitnya yang eksotis, hidung yang tak terlalu mancung dan bibirnya yang sexy. Namja ini benar-benar seperti tokoh film disney yang selalu ku tonton saat kecil dulu. “ah selesai…” Namja itu merapikan kotak obat dan menaruh mangkuk berisi air ke bawah ranjang. Ia mengambil mangkuk berisi bubur dan menyodorkan sesendok bubur padaku. “sekarang kau makan dulu, ayo aaaaa..” ucapnya sambil menyodorkan sesendok bubur padaku. Berhubung perutku sudah minta diisi, jadi aku terima saja suapannya. Setelah aku menghabiskan semangkuk bubur yang namja itu sediakan, ia pergi meninggalkan kamar ini.

 

“hey kau, maaf aku tidak tau namamu” aku memanggil namja itu. Lalu, ia berbalik sambil tersenyum hangat padaku. “oh ya aku lupa.. namaku Kim Jong In. Tapi kau bisa memanggilku Kai” jelasnya. “Oh.. darimana kau mengetahui namaku?” tanyaku. Lalu Kai menunjuk sebuah blazer dan sepertinya itu milikku. ‘Jadi dia mengetahui namaku dari nametag yang terpasang pada blazer milikku’ gumamku dalam hati. “Kai-ssi.. terima kasih sudah menolongku” aku berterima kasih pada Kai. Ia hanya menjawabnya dengan tersenyum lalu meninggalkanku sendirian disini.

 

* * * * * *

 

Setelah aku membersihkan diriku, aku segera mengambil ransel dan blazerku yang terletak di atas rak buku. Kulangkahkan kakiku keluar dari kamar ini, saat melewati ruang tv, aku menemukan Kai sedang tertidur pulas di atas sofa. Wajahnya begitu polos dan berlipat-lipat lebih tampan ketika tertidur. Akupun kembali ke kamar untuk mengambil selimut dan menyelimutinya. Kuperhatikan dia dari ujung kaki hingga ujung kepala. “Aku kira semua orang Korea berkulit putih” gumamku. Tak lama, kutinggalkan Kai yang sedang tertidur pulas dan membuka pintu. Setelah aku berada diluar, kututup pintunya perlahan. Saat aku sudah sampai di depan lift, tiba-tiba seseorang memegang bahuku dari belakang. “kau mau kemana eoh?” Kai tiba-tiba saja muncul dengan muka bantal yang masih melekat. Akupun terlonjak saat menyadari bahwa dia adalah Kai. “Te-tentu aku mau pulang” jawabku terbata-bata. Lalu, Kai pergi begitu saja kembali ke apartemennya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Namja yang aneh.

 

* * * * * *

 

Author’s POV

“Kau bersekolah di SOPA?” tanya Kai yang masih fokus memandang jalanan padat kota Seoul. Meihan yang sedang meminum susu pisangnya segera menoleh pada Kai dan mengangguk. “Aku adalah seniormu. Aku lulus 4 tahun yang lalu. Dan aku adalah salah satu lulusan tersukses” ucap Kai bangga. Tapi Meihan tidak menggubrisnya karna menurutnya itu tidak menarik. Ia masih saja asyik meminum susu pisangnya. Kai yang tidak mendengar tanggapan apapun dari Meihan mengerucutkan bibirnya. “Aku sudah tau kau adalah alumni sekolahku. Tadi aku melihat piagam kelulusanmu di kamar” ucap Meihan datar. Kai memasang wajah malasnya karna ia gagal menyombongkan pada Meihan bahwa dia adalah salah satu lulusan SOPA tersukses.

 

Tak lama, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah makan tradisional Korea. Meihan melangkahkan kakinya keluar dari mobil Kai dan berjalan di depan Kai yang mengikutinya dari belakang. Mereka menuruni tangga yang panjang hingga menemukan sebuah rumah kecil yang terletak di pojok jalan ini. Rumah berukuran kecil yang hanya terdiri dari kamar mandi dan sebuah ruangan multifungsi yang digunakan sebagai kamar, dapur dan ruang tamu. Menurut Kai, rumah ini hanya sebesar gudang wine yang berada di villanya di Daegu. “Jadi… ini rumahmu?” ucap Kai melongo. Meihan menghembuskan nafasnya pelan sambil berusaha membuka kunci rumahnya. Lalu ia membuka pintunya dan mempersilahkan Kai masuk. Saat di dalam, Kai terkejut melihat keadaan rumah Meihan. “nona Xi, apa di dalam sini habis terjadi topan badai?”. Meihan yang saat itu sedang merapikan pot bunga yang berantakan segera menghampiri Kai dan menerobos masuk ke dalam. “ASTAGA!! SIAPA YANG BERANI MENGHANCURKAN RUMAHKU?” Meihan begitu terkejut melihat keadaan rumahnya itu. Pecahan kaca jendela yang bertebaran dimana-mana, pigura yang tergeletak di lantai, kulkas kecilnya yang terbuka, kasur kecilnya yang sudah sobek-sobek, meja yang terbalik dan baju-baju milik Meihan tercecer begitu saja. Rumah Meihan saat ini tidak bisa dikatakan sebagai Rumah, melainkan Kapal Pecah.

 

Meihan berjalan dan menyusuri isi rumahnya. Lalu ia jatuh terduduk dan menenggelamkan kepalanya diantara kedua kakinya. Perasaannya bercampur aduk. Antara sedih, marah dan bingung. Ia terus berfikir siapa yang tega melakukan ini. Kai berjalan menghampiri dan menyesuaikan posisinya dengan Meihan. “gwechanha?” tanya Kai sambil mengelus bahu Meihan. Meihan mendongakkannya kepala sambil menangis. Ia menyerahkan sebuah sticky note yang tadi ia temukan di dekat pigura fotonya dengan kakaknya saat masih kecil, Luhan. Kai membaca sticky note itu dengan wajah bingung, “Meihan-ssi, aku tidak bisa membacanya”. Meihan merutuki kebodohannya bahwa Kai tidak bisa membaca tulisan Cina. “kau ingat 3 pria yang kemarin kau hajar? merekalah yang melakukan ini semua” ujar Meihan yang masih terisak. Kai mengangguk, ia masih sangat ingat dengan wajah 3 namja itu. Rasanya, Kai ingin sekali kembali menghajar ketiga namja itu lagi. “salah satu dari mereka adalah kakak tiriku. Ia ingin menjualku ke sebuah club malam demi mendapatkan uang. 3 tahun lalu, aku kabur ke Korea dari Beijing berasama kakak kandungku. Tapi kami terpisah karna kakak tiriku, Yifan menculiknya” jelas Meihan. Tangisannya semakin pecah saat menyebutkan nama kakaknya, Luhan.

 

Kai sungguh merasa kasihan mendengar cerita Meihan. Ternyata nasibnya masih lebih beruntung dibandingkan Meihan. Kai patut mensyukuri itu. Kaipun mendekap Meihan erat, kali saja dapat menenangkan Meihan. “Kau bisa tinggal di apartemenku untuk sementara waktu, jika kau mau” Kai menawarkan. Bukannya menjawab, tangis Meihan malah semakin menjadi saja dalam dekapan Kai. Iapun mengajak Meihan keluar dari rumahnya dan pergi ke suatu tempat yang sangat Kai sukai. Tak lupa, ia menelfon anak buahnya untuk mengemasi barang-barang Meihan dan membawanya ke apartemennya.

 

* * * * * *

 

Setelah hampir 1 jam perjalanan, Kai & Meihan sampai di sebuah pantai di daerah Incheon. Pantai itu bernama Eurwangni. Kai sangat menyukai pantai ini karna pemandangan matahari terbenamnya yang sangat indah. Kai akan mengunjungi pantai ini jika ia merasa bosan atau lelah dengan pekerjaannya di kantor. “sebenarnya aku ingin mengajakmu ke sebuah air terjun di Gangwon-do. Tapi itu terlalu jauh..” gumam Kai sambil membukakan pintu mobil untuk Meihan. Meihan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru pantai. Ia menghirup udara segar sebanyak yang ia bisa dan menghembuskannya perlahan. “mengapa kau mengajakku kesini?”. Kai melepas sepatunya dan berjalan menuju pesisir meninggalkan Meihan. “aku pikir, kau bisa menenangkan dirimu disini”. Tak lama, Meihan menghampiri Kai dan berdiri di sebelahnya. Ia membiarkan jemari kakinya yang kecil tersapu ombak sambil menatap kosong kedepan. Tanpa sadar, Kai tengah memperhatikannya intens. Ia merasakan sesuatu yang berbeda saat berada disisinya. Sesuatu yang sulit di deskripsikan.

 

“Meihan-ssi, maaf jika aku terlalu lancang untuk menanyakan hal ini” Kai bertanya dengan suara yang sangat pelan namun masih bisa di dengar oleh Meihan. Kemudian Meihan menoleh dan menatap Kai –‘tanyakan saja’. “Apa alasan kakak tirimu untuk menjualmu ke sebuah club malam?” . Meihan duduk di atas pasir putih sambil memainkan pasir-pasir putih telapak tangannya. “lebih baik aku jelaskan detailnya. Ayahku menikahi ibu Yifan tak lama setelah ibuku meninggal. Ibu Yifan yang selalu aku panggil mama Wu, dia menghabiskan semua harta ayahku untuknya berfoya-foya. Yifan juga begitu. Sampai akhirnya ayahku bangkrut dan meninggal karna bunuh diri. Beliau terlalu stress untuk menghadapi semua masalah dan hutangnya” jelas Meihan yang kini sedang menahan tangisnya. “lalu apa hubungannya dengan menjualmu ke club malam?” Kai bertanya dengan hati-hati. Meihan tersenyum pahit mengingat bagaimana ia di paksa oleh Yifan 3 tahun lalu untuk menjadi pelacur dan melayani para pejabat yang sudah tua.

 

“oh itu.. Ia menjualku demi mendapatkan uang banyak dari setiap service yang aku berikan. Uang itu nantinya akan ia gunakan untuk ia dan ibunya berfoya-foya. Sementara kakakku, ia bekerja part-time demi melunasi semua hutang ayahku”. Gurat wajah Meihan begitu menunjukkan kebencian dan kesedihan yang sangat dalam. Ia merutuki dirinya yang dulu menerima mama Wu untuk menjadi ibu tirinya. Ternyata semua kasih sayang yang mama Wu beri pada Luhan dan Meihan sebelum ayahnya meninggal hanyalah sebuah topeng. “ah. maaf aku terlalu banyak bertanya” Kai meminta maaf sambil mengusap tengkuknya yang tak gatal. Meihan hanya menjawabnya dengan senyum tipis yang ia suguhkan pada Kai.

 

* * * * * *

 

Jam sudah menunjukan pukul 00:30 dini hari. Hampir semua orang pada jam segini sudah bergelayut pada ranjang, bantal dan guling di kamar masing-masing. Tapi tidak untuk Meihan. Matanya terbuka lebar tanpa menunjukan tanda-tanda akan terlelap sedikitpun. Ia kesulitan untuk tidur karna berbagai macam pikiran terus berkecamuk dalam pikirannya. Iapun memutuskan mengambil segelas air putih ke pantry untuk menenangkan pikirannya. Saat melewati ruang TV, ia melihat Kai tengah terlelap dengan posisi duduk. Tak lupan dengan sebuah laptop di pakuannya dan beberapa dokumen yang tergelat begitu saja di meja. Iapun membatalkan niatannya untuk meminum air putih dan menidurkan posisi Kai agar ia tak sakit badan saat bangun besok. Kemudian ia pergi ke kamar Kai untuk mengambil selimut dan bantal. Setelah itu, ia segera memberi bantal pada kepala Kai dan menyelimutinya agar tak kedinginan. Ia menyelimutinya hingga sebatas leher.

 

Meihanpun meninggalkan Kai yang sudah terlelap dan melanjutkan niatannya untuk meminum air putih. Saat ia sedang membuka kulkas, ia mendengar lenguhan yang tak lain berasal dari bibir tebal Kai. Iapun segera menghampiri Kai yang terbaring di sofa. Keringat dingin bercucuran di sekitar pelipisnya dan wajahnya tampak gelisah. Meihan menyentuh dahi Kai yang terasa panas di tangannya. “ommoo.. panas sekali” gumam Meihan khawatir. Kemudian, iapun segera mengambil semangkuk air dan handuk kecil untuk mengompres. Setelah itu, ia segera menempelkan handuk kecil yang sudah di rendam dan di peras di air hangat pada dahi Kai. Ia juga mengelap peluh yang terus saja mengalir di sekitar pelipis Kai. Setelah selesai, ia segera pergi ke kamar tamu yang ia tempati dan tidur.

 

* * * * * *

 

Hangatnya mentari menyinari kota Seoul pada jam 06:30 pagi. Meihan sudah siap dengan seragam barunya yang kemarin di belikan oleh Kai (dikirim oleh sekretaris Hwang). Karna seragam lamanya sudah rusak karna ulah Yifan dan 2 anak buahnya. Meihan membuatkan 2 kotak bekal yang berisi sandwich dan salad untuknya dan Kai. Hitung-hitung sebagai tanda terima kasih. Iapun memasukkan kotak bekalnya ke dalam ransel biru tuanya dan yang satu ia pegang untuk ia berikan pada Kai. Tak lama Kai keluar dari kamarnya dengan setelan jas berwarna abu-abu yang dipadankan dengan kemeja putih bergaris hitam di kancingnya. “sudah siap?” tanya Kai sambil memperbaiki dasinya. Meihan yang menyadari Kai sudah berada di hadapannya segera memberikan kotak bekalnya.

 

“ini, untuk makan siangmu nanti di kantor” Meihan menyerahkan kotak makanannya pada Kai. Ia tersenyum hangat sembari menerima kotak bekal itu dan memasukannya pada tas kerjanya. “gomawo”. Akhirnya, mereka berjalan beriringan menuju lift sembari bersenandung kecil yang keluar dari bibir manis Meihan. Merekapun menunggu pintu lift terbuka sambil berbincang-bincang tentang hal yang menarik. Tak lama pintu lift pun terbuka. Di dalam sana tengah berdiri seorang namja denga wajah cantik yang sedang memainkan gadgetnya. Tampaknya Meihan tak asing dengan namja itu. Ia memasang wajah terkejut, bahkan sangat terkejut.

 

“Hey sekretaris Xi!!”

“Luhan oppa?!”

 

 

To Be Continued . . .

 

Gimana chapter pertamanya?

Penasaran ga gimana hubungan Meihan sama Kai?

Left ur comment after reading guys ^^

Don’t be silent reader!!!

 

 

10 pemikiran pada “The Darkness (Chapter 1)

  1. WWuuiihh seru thoorrr daaebbak
    JADi luhan itu jadi sekretaris??
    penasaran bangettt
    Next thor jgn lama lama gak sabar nunggunya fightinnggg

  2. WIHHH KEREN BANGETTTT :”V YIFAN DIRIMU JAHAT!!!
    :’V *seret kris ke kamar *plakk :’V
    THOR LANJUT THORR.PUNYA FB?? :’VPLISS ADD FB KU JENNIFER YABEZ *-*)
    biar klo Next chap udh luncur aku bisa nanya ke lu thor *-* add thorr

    :’vcerita lu ngena bgt

  3. ahhh jinja!! seneng banget ama cerita ini. astagfiirr yifan jahat banget ya. tekanan batin banget tuh meihan. 😀
    thorr lanjuut lagi ya!!! hwaiting. awal yang bagus koq.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s