Wave Find Beach [Chapter 4]

mm

Wave Find Beach (Chapter 4)

“Kau tahu, kehidupan kita umpama ombak yang mencari tempat berlabuh.

“Dan kupikir kita sekarang sebagai ombak telah menemukan pantai yang tepat. Ya, kita bahagia berada di sini, berlabuh di nirwana ini”.

Author                      :   –     Ayse_Lyn
Main Cast                :   –     EXO’s member and OC

                                               (Please read and you will know ^^ *pasangevilsmirk*)

Genre   :   –     Friendship, Romance, Gaje, dll, dsb, dst

Length                      :   –     Chaptered

Rating                       :   –     (+13)


Pesan & Saran       :

-ff ini adalah ff ketiga saya yang berani saya publish xD. Please don’t be plagiator, soalnya ff ni murni buatan saya dengan inspirasi dari berbagai sumber, dan tolong jangan dianggep serius soalnya ni ff cuma buat hiburan semata, mengingat imajinasi saya yang emang absurd horor nggak karu-karuan. Makasih banget buat readers yang udah nyempetin baca. Mian klw banyak typo-nya, soalnya –lagi- saya nulis ni ff sambil mikirin suami-suami(?) saya *ngelirik EXO -digantung EXO-L*. Well, langsung saja ke TKP……
Eh… ada yang nyelip,

Warning!! DON’T LIKE, DON’T READ…….

<EXO ♥ JJANG>

Preview

Iya, eomma. Aku sakit. Maeume neomu appa. Jeongmal appayo, Jinhwa terisak pelan sembari menggigit selimutnya. Dia tak menyangka rasanya akan sepedih ini.

“Aaaahh. Neomu appayo”, lirih Chanyeol saat berdiri, dia memegangi perutnya yang kram dengan sedikit membungkuk.

“Apa kau ingat? Mereka sangat menderita ketika menjadi ulat. Buruk rupanya hingga mereka mendapat banyak hinaan. Dibasmi karena mereka membuat rusak dedaunan. Hanya mereka yang kuat yang mampu bertahan. Bertahan menerima rasa sakit. Dan kau lihat kan? Penderitaan itu terbalas dengan kebahagiaan. Rupa mereka menjelma indah hingga mendapat banyak pujian. Selain itu mereka juga menjadi bermanfaat karena membantu penyerbukan bunga-bunga”, jelas Chanyeol kemudian tersenyum menatap Jinhwa.

“Dia seperti menjauhiku”, ujar Soonji dengan murung. Dia berusaha mengingat kesalahan apa yang dia perbuat hingga membuat Jinhwa jadi begini padanya, sayang Soonji tak menemukan kesalahan fatal tersebut.

“Katakan kalau sudah tidak butuh bantuanku lagi, jangan membuatku terlihat seperti orang idiot. Aku tidak suka itu”, Chanyeol terkesiap akan untai kalimat sarat sindiran yang kulontarkan. Tanpa menunggu balasan darinya, aku berbalik meninggalkan mereka berdua dengan hati sesak yang sukar kugambarkan.

Apa aku tadi sangat keterlaluan ya?

Kenapa rasanya sakit sekali?

<EXO ♥ JJANG>

            Chapter 4

            05.02 pm KST.

Kuarungi jalan pulang sembari menuntun sepeda yang rodanya kempes. Aku benar-benar kesal pada anonymous yang dengan teganya melakukan hal tercela tersebut pada sepeda manisku ini. Apalagi cuaca tidak sedang memihakku, angin terlalu sering berlalu lalang hingga dingin terasa menusuk kulitku walau sudah dibalut blazer. Kuusap salah satu lengan atasku guna meminimalisir rasa dingin meski kegiatan itu tak berarti sama sekali, selanjutnya pupilku melebar karena mendapati sebuah bengkel yang jaraknya beberapa meter di depan sana. Dengan mengembangkan senyum, kupercepat langkahku menuju bengkel tersebut. Selama menunggu antrian, kuamati bangunan kafe di seberang bengkel.

‘Krucuk…krucuk’, reflek kupegang perutku yang barusan menyuarakan protes sebab sedari pagi memang belum kuisi makanan dan hanya diganjal dengan sekotak kecil susu rasa original. Salahku karena lupa sarapan dan mengabaikan keinginan hati untuk membeli roti tadi di kantin. Akhirnya kuperhatikan antrian yang lumayan menguji kesabaran ini. Pasti akan memakan waktu lama sampai tiba giliranku, dan kuyakin perutku bertambah sakit jika tak diberi asupan hingga sepuluh menit kedepan. Kemudian kukumpulkan keberanian untuk melangkah menghampiri salah satu pekerja.

“Ahjussi, aku ingin ke kafe di seberang dulu, jadi kutitip sepedaku dan tolong pompa rodanya sampai penuh, otthe?”

“Ya, ya. Nanti biar kuurus sepedamu”, sahut pekerja itu tanpa basa-basi.

“Khamsahamnida, ahjussi”, aku membungkuk lalu segera menuju kafe.

At Kafka Caffé.

“Em….”, kuamati papan menu di meja pemesanan sambil memikirkan pilihan.

“Satu porsi cheese burger dan segelas caramel mochachiato”, putusku kemudian.

Pelayan yang menangani dengan sigap mencatat pesanan, “Tunggu sebentar ya, agassi”, ucapnya ramah dan bergegas menyampaikan pesanan ke dapur.

Aku mengangguk dan mengisi waktu dengan melihat-lihat seisi café beserta para pelayan yang tampak sibuk mengerjakan tugasnya masing-masing.

“Ha..ha..ha..”. Sebuah suara yang tak asing mengambil alih indera pendengaranku, membuatku berhenti melihat-lihat dan fokus pada suara. Dengan spontan aku pun berbalik badan, seketika tubuhku menegang melihat siapa yang berada di luar sana. Ya, ternyata di luar sana ada Chanyeol dan Soonji yang sedang memarkirkan sepeda mereka lalu melangkah menuju kafe sambil saling mengobrol. Benar saja, suara tawa tadi memang familiar karena suara itu milik Park Chanyeol, lelaki tak tahu diri yang menyebalkan namun dengan bodohnya malah kusukai, bukan, tapi sangat kusukai. Sungguh sulit bangkit setelah jatuh terlalu dalam pada pesonanya.

Aku membenarkan posisiku dan memanggil seorang pelayan muda yang mulai mengisi sebuah cangkir dengan kopi menggunakan mesin kopi.

“Ada apa, agassi?” tanyanya heran sebab aku memanggilnya dengan setengah berbisik.

“Apa kau punya kresek?” tanyaku balik.

“Memangnya kenapa?” dan dia ikut bertanya balik.

“Sudahlah, kau punya tidak?” tanyaku tak sabar.

“Hm… sepertinya ada”, jawabnya tanpa beranjak dari posisinya untuk mencari barang yang kuminta.

“Kalau begitu cepat ambillah”, perintahku seenaknya, aku sangat panik sekarang.

“Baiklah”, dan dia melesat dengan benak yang masih penuh tanda tanya.

“Omo, eotthokke? Kenapa mereka harus ke mari, sih? Hissh… “, desisku semakin panik saat Chanyeol dan Soonji mendorong pintu kafe.

Cepat-cepat kuubah posisi tasku ke depan lantas mengeluarkan mantel tas, berikutnya kubalut tasku dengan mantel tersebut.

“Ini, agassi”.

“Pelayan!”

Pelayan tadi kembali lalu menyodorkan sebuah kresek putih bertepatan dengan Chanyeol yang memanggil pelayan untuk memesan.

“Khamsahamnida”, tanpa pikir panjang kuterima kresek itu dan memakainya untuk menutupi seluruh kepalaku. Yeah, aku sedang tak ingin bertatap muka denga kedua-remaja-yang-tengah-kasmaran itu. Apalagi perpaduan suara mereka yang asyik tertawa kini menyebabkan telingaku bertambah panas.

Kuhembuskan napas lega di kala pesananku yang terbungkus rapi tiba, segera saja aku membayar, menerima kembalian, menyambar pesananku di meja, lalu melenggang pergi dengan terburu-buru sampai lupa mengucapkan terimakasih pada pelayan yang biasanya kulakukan. Untunglah yang melekat di kepalaku adalah kresek putih, jadi mataku masih dapat melihat jalan walau samar. Sialnya, karena sadar ditatap aneh banyak pasang mata –termasuk Chanyeol dan Soonji- aku menjadi gugup dan malah menabrak pintu kafe.

‘Brak’.

“Appo…”, lirihku dengan kepala nyut-nyutan.

Lamat-lamat dapat kudengar beberapa pengunjung terkikik geli karena ulah bodohku. Dengan amat malu yang tiada terkira, aku mendorong pintu kafe dan berlari kencang menjauhi kafe. Tanpa kutahu, dahi Chanyeol mengeryit dan tak lepas memandang sosokku yang semakin tak terjangkau matanya.

Sepertinya aku kenal.

Ketika telah berada di jarak hampir 500 meter, aku berjalan pelan karena napasku tersengal setelah berlari, dadaku sesak dan bagian lambungku terasa nyeri.

Tunggu! Aku berhenti lama akibat instingku berkata ada yang tertinggal. Dan sekian menit kemudian………

“Si manis!” seruku kaget begitu ingat sepedaku yang masih mendekam di bengkel.

Kutelan ludahku dengan susah payah lalu berbalik badan. Kutatap horor jalan lurus yang baru saja kulewati.

Bagaimana mungkin aku masih punya muka kembali ke sana? Ke bengkel yang berseberangan dengan kafe –terlaknat- itu?

“Hisshhh… jinjja!” umpatku dengan kekesalan yang meledak-ledak.

<EXO ♥ JJANG>

Author P.O.V

Seungri of Middle School, 09.45 am KST.

Dengan mata sayu akibat terjangkit insomnia mendadak, Jinhwa memilah-milah buku paket matematika jilid 3 di salah satu rak yang tandanya dia kini tengah berada di perpustakaan. Sesekali Jinhwa menguap dan berusaha menahan kantuknya yang sudah timbul sejak jam pertama pelajaran. Namun matanya berubah awas ketika menyadari ada sosok lain yang sedang memperhatikannya di ujung rak tempatnya memilah. Jinhwa pura-pura tak tahu dan tetap berkutat sok sibuk, dan saat mata lain itu mencuri pandang ke arahnya, dengan gesit Jinhwa memusatkan matanya menangkap basah sosok tersebut yang disambut belalakan mata si sosok dan secepat kilat dia menyembunyikan diri di balik rak.

“Fiuhhh”, si sosok menghela napas.

“Hampir saja”, lanjutnya.

Di saat si sosok menoleh, dia terkejut setengah mati dan reflek menampar seseorang yang secara ajaib berdiri di sebelahnya tanpa dia sadari.

‘PLAK!’.

Tamparan yang menggema di ruang kedap suara tersebut menarik banyak pasang mata yang semula fokus pada bacaannya. Mereka menganga tak percaya akan kejadian yang baru saja terpampang nyata di depan mata mereka sendiri.

“Su..sun…sunbaenim”, cicit sosok itu gemetar ketakutan.

Selang beberapa detik gosip yang jauh dari fakta pun menyebar dengan cepat umpama virus ebola yang terlambat ditangani. Banyak murid yang kasak-kusuk memperbincangkan insiden penamparan yang bertempat di perpustakaan. Waktu itu Chanyeol dan Soonji tengah jalan berdampingan sembari membahas soal kimia di buku paket yang Soonji bawa.

“Kalau kalor netralisasi adalah 120 kkal/mol, maka kalor netralisasi 100 mL HCl 0.1 M dengan 150 mL NaOH 0.075 M adalah…. Hm… mol HCl berarti 100 dikali 0,1 hasilnya 10 mmol sama dengan 0,01 mol. Lalu mol NaOH dari 150 dikali 0,075 sama dengan 11,25 mmol sama dengan 0,01125”, gumam Soonji serius.

“Kemudian dari reaksi HCl ditambah NaOH menghasilkan NaCl ditambah H2O, yang habis adalah mol milik HCl, berarti dimasukkan ke rumus delta H yang sama dengan 0,01 dikali 120 kkal menghasilkan 1,2 kkal. Oke, ini masih soal sederhana. Tapi kalau tidak teliti ya tetap salah juga nantinya”, lanjut Chanyeol sambil memandang ke arah Soonji yang blushing sebab mata Chanyeol menebarkan sejuta pesona yang tak bisa ditolak.

“Soonji –ya, bukankah itu materi di kelas sebelas SMA? Kita kan masih SMP, jadi soal seperti itu tak akan keluar di ujian. Lalu… kenapa kau malah mempelajarinya?” Chanyeol mendekatkan wajahnya dengan penasaran, membuat Soonji memalingkan muka sebab kadar groginya meningkat.

“It..itu…”, Soonji merutuk dalam hati sebab tak mampu menyembunyikan rasa nervousnya.

“Kau sudah tahu tentang penamparan di perpus?”

“Ne. Tadi biang gosip di kelas pada beraksi. Kalau kau tahu dari mana?”

“Sama. Paparazzi gadungan di kelasku berceloteh ria mirip burung beo yang kupelihara di rumah”.

“Ha..ha… Oh ya, yang kudengar sih pelakunya adalah siswi seangkatan kita”.

“Dan yang kudengar pula korbannya merupakan murid tingkat akhir. Katanya penamparan itu terjadi karena perbedaan status sosial”.

“Memang dari mana mereka menyimpulkan itu karena status sosial?”

“Sssttt… tak sengaja kudengar kalau para biang gosip itu hanya mengarang agar ceritanya bertambah seru, namanya juga gosip”.

“Jinjja… Lalu apa kau tahu siapa nama senior yang ditampar itu?

“Entahlah. Katanya korban sangat anti sosial, yang mencolok ya sepatu model lamanya dengan merek Buenos *ngarang lu, thor*emang iya*”.

Buenos? Bukankah itu sepatu limited edition yang telah punah(?) sekarang?”

“Betul. Menurut narasumber orangtuanya cukup bergelimang harta”.

“Daebak, heol!”

Yeah, tanpa sengaja Chanyeol menguping pembicaraan dua siswi tingkat pertama –dilihat dari blazernya- hingga mengabaikan ocehan Soonji. Dengan cekatan prosesornya bekerja mengolah informasi begitu mendengar kalimat ‘sepatu lama merek Buenos’.

Tunggu, batin Chanyeol, dia memejamkan mata sejenak. Pikirannya berputar ke kafe yang dikunjunginya kemarin. Ya, merek sepatu itu sama dengan milik gadis yang kemarin memakai kresek dikepalanya.

Sontak Chanyeol membuka mata karena baru menyadari siapa pemilik sepatu tersebut. Ah, dia merasa bodoh sekarang. Seolah melupakan Soonji, Chanyeol mengayunkan kaki panjangnya menuju perpustakaan. Sementara Soonji tak menyadari lenyapnya Chanyeol dari sisinya.

“Jadi, yah… begitulah. Ini demi tes di SMA favorit itu. Kalau kau sendiri? Bagaimana bisa kau menjawabnya dengan benar? Apa kau juga mempelajarinya?” Soonji menoleh ke arah –semula- Chanyeol berada. Dia terkejut karena sosok Chanyeol telah hilang entah ke mana.

Kenapa dia pergi begitu saja? Apa dia bosan selalu bersamaku? batin Soonji kecewa sekaligus merasa sedih.

“Su..sun..sunbaenim”.

Jinhwa mengarahkan pandangan pada seorang yeoja berkacamata di hadapannya sambil memegang pipinya yang memerah serta memanas akibat efek tamparan.

“Apa-apaan kau, hah?” tuntut Jinhwa meredam amarah yang sudah sampai ubun-ubun.

“Ige…ige…”, tiba-tiba yeoja itu berlutut sembari menangkupkan kedua telapak tangannya, memohon ampunan agar terbebas dari hukuman.

“Mianhamnida, sunbaenim. Aku tak bermaksud menamparmu, jeongmal. Tolong maafkan aku. Kalau perlu aku bersedia mencium kakimu”.

Tapi kumohon jangan suruh aku melakukannya. Aku hanya asal bicara, lanjut yeoja berkacamata dalam hati.

Merasa tak nyaman dengan situasi ini plus tatapan sulit diartikan yang dilemparkan para pengunjung perpustakaan pada mereka berdua, Jinhwa memaksa gadis yang berlutut itu untuk berdiri lagi.

“Jangan bicara di sini”, bisik Jinhwa yang peka dengan hadirnya para ratu mulut berbisa yang sedang memasang topeng innocent mereka.

“Kenapa?”

Bukannya memberi jawaban, Jinhwa malah menarik pergelangan tangan si gadis keluar perpustakaan menuju tempat yang lebih cocok guna berbicara empat mata.

Di koridor sepi yang mengarah ke gudang belakang, Jinhwa berhenti lalu menghempas tangan gadis berkacamata begitu saja.

“Akh…”, rintih gadis berkacamata kemudian mengibas-ibaskan tangannya yang teraniaya.

“Sekarang jelaskan padaku semuanya! Kenapa kau menguntitku? Kenapa kau menamparku? Dan kenapa kau berlutut layaknya rakyat jelata di hadapan rajanya?” cerca Jinhwa sekali tarikan napas sambil menunjuk gadis berkacamata tepat di depan hidungnya.

“Itu……..”

‘Tap…tap…tap…’, laju kaki yang kencang tersebut berhenti di depan pintu perpustakaan yang terbuka.

“Di mana Jinhwa?” tanya si pemilik kaki dengan napas sedikit ngos-ngosan yang ditujukan untuk para pengunjung di dalam sana.

Namun, suasana tetap hening dengan para pengunjung yang sebagian besar bengong menatapnya, atau lebih tepatnya mereka tengah terpana. Bagaimana tidak? Seorang lelaki jangkung berparas tampan bonus rambutnya yang kini basah akibat ulah keringat, berdiri dengan sangat cool. Siapa yang tidak terpana akan pemandangan indah anugerah Tuhan ini?

Mengira mereka tak menjawab mungkin karena tak mengenal Jinhwa, pemilik kaki meralat pertanyaannya, “Maksudku gadis yang menjadi korban penamparan. Di mana dia?”

Krik~krik~krik~…………

“Ya! Aku bertanya pada kalian!” kesabaran pemilik kaki pun habis juga.

“Haaiishh…”, merasa waktu berharganya terbuang tanpa makna, pemilik kaki akhirnya hengkang mencari Jinhwa.

“Aigooo…. Apakah seorang pangeran baru saja tersesat di bumi?” seorang murid tingkat pertama memecah keheningan, yang disambut gelengan kepala dari kawan di sebelahnya.

“Ckckck…. Berlebihan, eoh. Dia itu sunbae kita”.

“Jinjja? Siapa namanya?”

“Kalau tidak salah Park Chanyeol, ya namanya Park Chanyeol”.

“Park Chanyeol? Bagus juga namanya”.

“Hei, jangan bilang kau tertarik padanya”.

‘Pletak’.

“Appoya….”

“Aku masih waras, babo!”

“Habis kau tadi mengaguminya”.

“Apakah nada suaraku yang datar tadi menyiratkan kekaguman? Aku hanya menyindir para yeoja di sini yang seakan meleleh karena melihat namja tadi”.

“Tapi kau tadi tak menjawab pertanyaannya”.

“Itu karena aku malas mengeluarkan suara berhargaku ini”.

“Dan tadi kau juga mengatakan kalau namanya bagus”.

“Tentu saja namanya lebih bagus dari namamu, Kim Jongin. Apa itu Kim Jongin? Kau itu pantasnya dipanggil Kkamjong”.

“Yaa!!”

“Ya kalian berdua! Bisa diam tidak sih?!” tegur senior lelaki bertubuh gendut yang wajahnya terlihat mengerikan di mata kedua junior tersebut. Nametag senior tersebut adalah ‘Shin Donghe’.

“N…ne…”, sahut Jongin agak takut. Sontak kedua junior itu berkutat pada bacaan masing-masing.

“Awas kau, Do Kyungsoo”, ancam Jongin tertahan.

Murid bernama Do Kyungsoo itu tersenyum meremehkan.

“Kau mengancam orang yang salah, Kkamjong –ssi”, ujarnya dingin.

“Sombong sekali, huh!” dengus Jongin pelan.

Back to Jinhwa and The Girl.

“Itu apa, hah?!” seloroh Jinhwa tak sabar.

Gadis itu menatap Jinhwa dengan mata yang menyiratkan kesedihan, membuat Jinhwa sedikit bersalah karena telah membentaknya.

FLASHBACK

Kemarin saat jam istirahat kedua, seorang murid populer dari tingkat dua merangkul penuh intimidasi si gadis berkacamata. Murid tingkat dua itu bernama Nana yang terkenal sering menindas murid-murid nerd. Gadis berkacamata itu digiring ke tempat parkir.

“Kau lihat sepeda warna biru tua itu kan?” tanya Nana dengan nada sedikit galak.

“N..ne…”, gagap si gadis berkacamata.

“Buat rodanya kempes!” perintah Nana.

“Ta..tapi…”

“Apa?!” bentak Nana.

“Kalau kau tak ingin kukunci lagi di kamar mandi tua maka turuti saja perkataanku!”

“Tapi kenapa?”

“Kenapa? Jelas saja karena aku tak suka dengan pemiliknya. Ma Jinhwa si jelek itu. Hah… aku benci melihat dia selalu dekat-dekat dengan Chanyeol. Padahal dulu saat SD Chanyeol sangat menyukaiku. Sebenarnya aku ingin si Soonji miskin itu juga mendapat getahnya, tapi di mana ada dia, di situ pasti ada Chanyeol. Kalau aku membuat roda sepeda Soonji kempes juga, bisa-bisa dia pulang dibonceng Chanyeol. Hishhh…. aku tak akan membiarkan hal itu terjadi. Si miskin dan si jelek itu, jinjja!” geram Nana menahan murka yang membuat tangannya terkepal kuat.

“Jadi kau mau mengempeskan rodanya atau kukurung di gudang bekas kamar mandi?!”

Gadis berkacamata itu terang tak sudi memilih dikurung di gudang yang katanya angker sebab banyak makhluk astral yang bersemayam di dalamnya, apalagi tempat itu pernah menjadi saksi bisu bunuh dirinya seorang siswi karena tidak kuat jadi sasaran bully teman-temannya. Akhirnya dengan rasa bersalah karena akan membuat orang lain merugi, gadis itu terpaksa mematuhi perintah Nana.

Maafkan aku. Ini bukan mauku.

END FLASHBACK

“Nana?” ucap Jinhwa tak percaya. Selama ini Nana bertingkah baik di depannya, tapi ternyata rupa asli gadis itu lebih menyeramkan dari medusa.

“Sekali lagi aku minta maaf, sunbaenim. Aku tak punya kuasa menolak titah Nana sunbae”, gadis berkacamata tersebut membungkuk dalam-dalam.

“Jujur, aku sangat kecewa dengan sikap pengecutmu”.

“Arraseo, kau boleh menghukumku sesukamu, sunbaenim”, pasrah gadis itu.

“Tapi aku paham bagaimana posisimu. Benar-benar tak berdaya melawan kekuatan jahat, maka dari itu aku……..”, Jinhwa menggantung kalimatnya.

“Tegapkan badanmu”, suruh Jinhwa agak melembut. Perlahan gadis itu mengakhiri aksi membungkuknya, dia pun menunduk.

“Maka dari itu kurasa lebih baik kita berteman saja”, putus Jinhwa di luar dugaan.

“Ne?” kontan gadis berkacamata itu mendongak dan menatap Jinhwa heran.

Aku tak salah dengar kan?

“Hei, aku ini bukan orang yang mudah menghukum orang lain, disamping itu kau tak sepenuhnya bersalah atas kasus pengempesan roda sepedaku. Jadi, anggap saja aku menghapus dosamu asal kau bersedia berteman denganku”, tawar Jinhwa.

“Ta..tapi kenapa?”

“Untuk memberi Nana pelajaran”.

“Ap..apa aku harus menjahilinya juga?”

“Ani, bukan begitu maksudku. Jadi, supaya Nana berhenti mengganggumu maka kau harus berteman denganku. Lagi pula aku juga sedang tak punya teman curhat”, suara Jinhwa berubah murung, dia merasa kehilangan Soonji akhir-akhir ini.

“Tapi… benarkah sunbae mau berteman denganku?”

“Ne”, balas Jinhwa singkat.

“Berteman dengan orang sepertiku?”

“Memang apa yang salah darimu?”

“Aku sangat tertutup, sunbaenim. Aku dikucilkan semua orang”.

“Siapa bilang kau dikucilkan?”

“Itu kenyataannya”.

“Mulai sekarang berhenti terlalu rendah diri, aku benar-benar ingin menjadi temanmu”.

“Lalu bagaimana dengan kesalahanku kemarin?” tanya gadis berkacamata terlampau polos.

“Ha..ha… hei, bukankah sudah kubilang? Kau harus berjanji dulu mau jadi temanku, baru aku akan memaafkan seluruh kesalahanmu”.

“Itu….”

“Yaksok?” Jinhwa menyodorkan kelingkingnya.

Gadis itu menelan salivanya gugup. Dengan bergetar dan sedikit ragu, dia pun menautkan kelingkingnya ke kelingking Jinhwa.

“Deal!” putus Jinhwa.

“Baiklah, hobaeku. Mulai sekarang kita berteman. Nuguya?”

“Kim…Kim Saeron imnida”.

“Nah, Saeron –ah, panggil aku eonni saja. Dari detik ini jangan lagi menuruti kata-kata busuk Nana, dan adukan padaku jika gilanya kumat lagi, arrachi?”

“N..ne…, sun eh.. eon..eonni”.

Jinhwa pun tersenyum tulus kepada Saeron, belum genap sehari dia mengenal Saeron, namun Jinhwa sudah menganggap Saeron sebagai adiknya.

Aku jadi rindu pada Minhwa, batin Jinhwa mengingat adiknya yang telah berpulang ke Sang Pencipta ketika usianya masih empat tahun akibat penyakit kelumpuhan saraf otak. Bila adiknya masih hidup, mungkin dia sebaya Saeron sekarang.

Saeron sendiri terkesan dengan perlakuan Jinhwa yang ternyata sangat baik padanya. Dalam hati dia amat bahagia karena akhirnya punya seorang teman walau itu sunbaenya. Saeron bertekad untuk menghilangkan sifat pengecutnya demi Jinhwa sang pelangi yang kini mewarnai harinya.

Jeongmal gumapseumnida, sunbaenim, ah ani, Jinhwa eonni…. J

<EXO ♥ JJANG>

TBC ^^

 

 

Iklan

9 pemikiran pada “Wave Find Beach [Chapter 4]

  1. Si sehun kok ga keluar keluar sih thor?
    Zay sudah nungguin dari saban ari XExexe
    Makin penasaran dgn kelanjutan selanytnya, kira2 ceritanya mau dibawa kemana*eeaak lu pikir lagu armada zay?
    Fighting thor

  2. Kenapa chanyeol gak peka peka sih??
    jinhwa kasian bgt udah dikempesin bannya di tampar ya ampunn
    Sehun mana??kenapa gak banyak main dicerita??
    next ya thor penasaran fightingg

  3. Waaah, saya baru nemu ff ini dan langsung ngebut badai baca 1 ampe 4, dan saya minta ijin ya komentarnya di-4 hhehe.
    Aduh, ceritanya lucu banget, suka deh sama kehidupan mereka yang mengalir bagai air, kisah konyol persahabatan, percintaan, permusuhan di masa sekolah terangkum dengan apik disini. Pokoknya ini school life bangeeeeet… hahaha.. menarik….
    Dan ngomong-ngomong, saya pasti ngakak setiap baca scene mereka, ada imajinasi-imajinasi-nya lol, dan yang paling bikin saya ngakak itu sehun sebenernya. Dia cuma lewat, telat, dihukum, lewat, telat, dihukum, masuk BK, gitu-gitu aja hahaha
    Keep writiiing 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s