Unlogical Married (Chapter 2)

Unlogical Married

CoverUnlogical

Title : Unlogical Married (Chapter 2)

Main Cast :

  • Oh Se Hun
  • Seo Young Ji (OC)

Other :

  • Do Kyung Soo
  • Park Chan Yeol
  • Byun Baek Hyun
  • Baek Dam Bi (OC)
  • Oh Dong Hoon (OC)
  • Hong Jang Mi (OC)
  • Son Na Ra (OC)
  • etc

Genre : Comedy-Romance, Marriage-life

Author : Lee Young

Lenght : Multichapter

Rate : PG-19

Summary : Let’s make it more logic

Note : tuh kan, emang fanfiksinya nggak logis. Satu sisi kasihan Se Hun yang harus nikah sama cewek yang beda usia 8 tahun, tapi satu sisi, saya termakan ego untuk tetap melanjutkan cerita hhaha. Wow, banget kan ya? Author suka banget cari sensasi, jadi pada ke-inget sama lagu yang kira-kira gini deh liriknya : sekarang atau lima puluh tahun lagi~~, kan? Hhahha *nggak sebut nama, piss. Daaaan.. terimakasih banyak atas respon yang kalian berikan. Kalian luar biasa…. author hanya butiran debu tanpa kalian 😀

 

(Chapter 2)

Na Ra ternganga lebar setelah mendengar seluruh cerita Young Ji tentang pertemuan gadis itu dengan keluarga Oh Dong Hoon. Na Ra pun tak percaya jika laki-laki baik yang dimaksud Dong Hoon untuk dikenalkan kepada Young Ji masih berstatus sebagai seorang siswa SMA berusia 19 tahun.

“Kau tidak sedang membohongiku, kan?,” tanya Na Ra tak percaya.

Young Ji yang tengah melihat desain usulan pegawainya, mengangguk singkat. Gadis itu menoleh kearah Na Ra. “Apa tampangku tampang pembohong?”

“Tidak juga sih”

“Memang,” Young Ji beranjak untuk keluar dari ruang pribadinya. Na Ra yang masih mengerutkan kening tampak mengikuti dari belakang. “Tapi… kau menerimanya?,” tanya Na Ra.

“Tentu saja tidak. Pria dengan seabrek talenta, gaji berjuta-juta won, dan tampang yang lebih dari laki-laki itu pun aku tolak. Apalagi dia yang hanya seorang pelajar. Harga diriku dipertaruhkan, kau tahu?,” jawab Young Ji.

Gadis itu berhenti di gulungan-gulungan kain di sudut ruang. Mempertimbangkan motif yang cocok untuk desain yang baru saja dilihatnya. Mencocokkannya dengan warna kain lain, hingga mengangguk-angguk–setuju dengan pendapatnya sendiri.

“Tapi bukannya kau hanya menginginkan seorang pria yang bersedia menjadi suamimu? Dan tadi kau bilang, putra Oh Dong Hoon tidak menuntut banyak untuk calon istrinya. Cukup seseorang yang mau menikah dengannya. Titik. Sesuai sekali denganmu, Young Ji-a”

Young Ji menghela napas. Gadis itu menghentikan gerakan tangannya di gulungan kain-kain mahal, lalu menatap Na Ra yang sudah melipat tangan di depan dada.

“Tapi tidak dengan yang se-ekstrim itu,” jawab Young Ji. Na Ra malah menaikkan satu alisnya. Young Ji mendengus. Well, rasanya seluruh argumen Young Ji tak bernilai di telinga Na Ra.

“Dia belum bisa apa-apa, makanya dia tidak menuntut banyak. Tapi aku yang tidak bisa menerimanya, Na Ra. Sekarang…. apa yang bisa dilakukan oleh seorang laki-laki berusia 19 tahun sebagai suami, eoh?” lanjut Young Ji.

Na Ra mengetuk-ketukkan jemarinya di dagu. Pura-pura berpikir. “Mungkin… membuatmu hamil dan melahirkan?”

“Menjijikan! Lagipula menikah tidak hanya sebatas itu. Kau pikir aku kucing? Yang asal dikawinkan begitu saja? Aigoo…jinjja… gadis ini benar-benar…” omel Young Ji.

Na Ra menghela napas, “Kemarin kau bilang, kau tak mau diatur-atur, tapi sekarang kau mau suami yang dewasa. Sebenarnya apa sih maumu?,” cibir Na Ra. Young Ji memutar bola matanya jengah.

Kriiing….. Kriiing…..

Ponsel Young Ji berdering. Young Ji yang ingin membalas cibiran Na Ra mengurungkan niat. Gadis itu merogoh ponsel di saku blazer. Nomor asing. Tapi Young Ji tidak peduli. Gadis itu memang sering mendapat telepon dari nomor asing–biasanya pelanggan butik dari kalangan atas.

“Yoboseyo?,” sapa Young Ji.

“Seo Young Ji-ssi,” suara di seberang langsung menyebut namanya.

Kening Young Ji berkerut, heran. Gadis itu bahkan menatap Na Ra yang ikut mengerutkan kening–ada apa?–wajah Na Ra terbaca demikian.

“Ye, dengan saya sendiri. Seo Young Ji”

“Arayo. Ini aku, Oh Se Hun”

“Ne?” pekik Young Ji. Mata gadis itu membulat sempurna. Baru saja mereka membicarakan laki-laki itu. Dan sekarang dia menelepon?! Se Hun seperti punya indra ke-enam. Mengerikan.

“Ah.. mak..maksudku… kenapa? Kenapa kau meneleponku?”

“Sudah sejak tiga hari yang lalu kita bertemu, apa kau masih ingat topik pembicaraan kita waktu itu?”

Young Ji menelan ludah. Tentu saja dia ingat. Apalagi jika bukan pernikahan?

“Y…ye.. ”

“Aku ingin membicarakannya. Hanya kita berdua,” jawab Se Hun ringan.

Young Ji semakin membelalakkan matanya. Gadis itu ternganga, tak percaya jika Se Hun menghubunginya hanya untuk membicarakan pernikahan.

“Apa? Kau ingin–”

“Aku tahu jika ini begitu mengejutkanmu. Tapi, aku memaksa. Aku tunggu nanti sore di taman kota. Aku tutup teleponnya…”

Tuut.. tuut… tuut

Telepon ditutup secara sepihak. Young Ji semakin ternganga lebar. Apa-apaan tadi? Se Hun ingin membicarakan masalah pernikahan bersama dengannya?

“Young Ji-a.. kau tidak apa-apa?” tanya Na Ra menyadari perubahan sikap Young Ji.

Young Ji menggeleng gamang. Gadis itu menatap Na Ra di sampingnya, “Oh Se Hun…. dia ingin membicarakan pernikahan itu lagi. Denganku”

“Omo….”

***

Se Hun menurunkan ponsel dari telinga. Laki-laki itu menghela napas, lalu menatap kearah jendela besar ruang ICU yang bernuansa serba biru. Oh Dong Hoon terbaring lemah di dalam sana, dengan segala perlengkapan penunjang hidup yang menempel di seluruh bagian tubuhnya.

Hari ini, Se Hun tahu sebuah rahasia besar dalam kehidupan ayahnya.

Flashback, 3 days ago.

“Usiaku, 19 tahun dan aku harus menikah,” Se Hun mengulang perkenalan dirinya. Dia ingin membuat Seo Young Ji merasa risih hingga tidak mau menikahinya. Karena Se Hun tahu, tidak ada wanita normal yang menerima pelajar menjadi seorang suami.

Wajah Young Ji tampak pias. Mata gadis itu membulat sempurna. Se Hun tahu, pasti Young Ji tidak pernah menyangka jika calon suaminya masih berusia 19 tahun dan berstatus sebagai seorang pelajar-bukan pengusaha muda atau pegawai tingkat atas.

Diam-diam, Se Hun tersenyum miring. Sepertinya rencana Se Hun untuk membuat para gadis kabur, berhasil. Dia berjanji akan melakukan hal serupa kepada seluruh gadis yang dibawa Dong Hoon ke rumah.

Dong Hoon berdehem. Pria itu berusaha mencairkan suasana yang langsung berubah canggung sesaat setelah Se Hun memperkenalkan dirinya. Pria itu tersenyum, “Ah, maafkan aku. Sepertinya aku lupa memberi tahumu, Young Ji,” Dong Hoon terkekeh. Young Ji yang berwajah pias menoleh kearahnya.

“Anakku memang masih 19 tahun. Mengejutkan, ya?,” lanjut Dong Hoon.

Se Hun tidak berekspresi apapun ketika Young Ji terkekeh aneh dengan wajah bingung. Se Hun tahu, Young Ji bingung harus menanggapi Dong Hoon dengan cara apa. Karena semua ini memang mengejutkan.

“Ah, Ne..” balas Young Ji singkat. Gadis itu masih terkekeh sebelum meneguk minumannya lagi.

Se Hun melirik sekilas, sebelum melanjutkan aktivitas makannya. Kini, dia bisa sedikit lebih santai. Akhir dari acara makan siang ini pun sudah bisa Se Hun tebak-Young Ji berakhir diam dan tidak berniat membicarakan tentang masalah pernikahan. Kabar yang baik, bukan? Setidaknya bagi Oh Se Hun.

Lengang. Tidak ada satu pun yang membuka pembicaraan, hingga kekehan Dong Hoon terdengar, “Aigoo… sepertinya kita harus mengucapkan selamat kepada seseorang,” ucap Dong Hoon pura-pura riang. Pria itu melirik Jang Mi.

Suasana berubah. Kemampuan Dong Hoon membelokkan arah pembicaraan membuat kecanggungan yang sempat menggantung di langit-langit ruang, terlupakan. Bahkan Se Hun sempat tertawa, menggoda ibunya yang semakin cantik di ulang tahun ke-53. Begitu pula Seo Young Ji. Mereka tenggelam dalam perbincangan hangat seputar ulang tahun, hingga Seo Young Ji berpamitan pulang.

Dong Hoon segera berbalik sesaat setelah mobil Young Ji berbelok ke arah jalan. Pria paruh baya itu sama sekali tidak menoleh kearah Se Hun atau pun Jang Mi, melainkan berjalan ke kamar dengan langkah pelan.

“Yeobo…” panggil Jang Mi. Wanita paruh baya itu menyusul, sedikit berlari. Se Hun yang melihat hanya menghela napas. Dia menoleh, menatap kedua orang tuanya yang berjalan menjauh.

Apakah dia salah? Bukankah Se Hun hanya mengatakan yang sebenarnya? Usianya memang 19 tahun. Se Hun sampai tidak habis pikir kenapa ayahnya bisa sebegitu kecewa. Toh, pada akhirnya Seo Young Ji juga akan tahu siapa Oh Se Hun.

Se Hun mendongak, lalu membuang napasnya kasar. Se Hun pikir, setelah membuat Young Ji tidak berminat dengan-nya, semua akan baik-baik saja. Se Hun akan langsung bebas dari tuntutan menikah belia. Tapi laki-laki itu salah. Lihatlah! Bahkan pintu kamar kedua orang tuanya langsung tertutup dengan begitu rapat.

***

Dong Hoon memejamkan mata dengan wajahnya yang berkerut. Keringat dingin mengucur deras di seluruh wajah. Pria paruh baya itu duduk di tepi ranjang sebari meremas dada kirinya. Menahan rasa sakit yang selama ini masih bisa dia kuasai. Bibirnya biru. Kakinya dingin.

Jang Mi tampak khawatir sebari menyiapkan obat untuk suaminya. Wanita paruh baya itu menyerahkan kapsul dengan tangan bergetar. Wajahnya pias. Gusar.

“Pelan-pelan…” bisik Jang Mi ketika Dong Hoon gemetar hebat menerima obatnya. Pria itu menelan obat dengan gerakan kasar. Air muncrat kemana-mana.

“Lebih baik kau istirahat, yeobo…” lanjut Jang Mi. Wanita itu menuntun Dong Hoon agar berbaring di ranjang. Dong Hoon menurut. Napas pria itu tersengal.

Hening.

Hanya suara napas Dong Hoon yang terdengar memenuhi ruang kamar. Pria itu menerawang langit-langit kamar dengan pandangan nanar. Seharusnya, dia sudah tahu jika hal ini akan terjadi.

Jang Mi mengelus dada suaminya lembut. Berulang kali. Wanita itu mati-matian menahan dirinya untuk tidak menangis. Dong Hoon tersenyum diantara napasnya yang tersengal.

“Seharusnya… aku..sudah tahu…” ucap Dong Hoon lirih.

“Kau benar… menikah di usia 19 tahun bukan sebuah hal mudah,” lanjut Dong Hoon sebari menatap istrinya, lemah.

Jang Mi menggeleng. Dong Hoon tidak seharusnya memikirkan semua itu!

“Apa yang kau katakan, eoh? Jangan berpikir yang macam-macam. Se Hun bisa memperbaiki semuanya. Lagipula ini salahnya. Anak itu memang harus diberi pelajaran, yeobo,” Jang Mi berusaha menenangkan Dong Hoon. Jang Mi tahu, kondisi suaminya akan semakin memburuk jika dia tengah tertekan.

Dong Hoon menggeleng. “Aniya…Se Hun benar. Aku yang salah”

“Aku yang terlalu memaksakan kehendakku. Bagaimana pun juga, seorang laki-laki tidak mungkin menikah ketika dia masih SMA,” Dong Hoon mengerutkan wajahnya keras. Dadanya sakit sekali. Napasnya pun sesak sekali. “Dan tidak seharusnya aku memaksa ingin melihat Se Hun menikah. Aku yang egois…uhuk…” kini Dong Hoon malah terbatuk.

“uhuk…uhuk…”

“Aigooo… kau tidak seharusnya memikirkan hal itu…. ” gumam Jang Mi sebari bingung mencari sesuatu untuk meredakan batuk suaminya yang bertambah parah. Wanita itu berakhir hanya mengelus dada Dong Hoon, sebari menatap gelisah. Matanya sudah berkaca.

“Tolong…uhuk.. tolong sampaikan maafku pada Se Hun, Jang Mi..uhuk…uhuk…”

Suara batuk Dong Hoon semakin terdengar memekakkan telinga.

Se Hun yang berada di balik pintu, membulatkan mata. Ya, Se Hun mendengar semuanya. Dia sudah berdiri di balik pintu kamar Dong Hoon jauh sebelum Dong Hoon berbicara.

Se Hun menyibak anak rambutnya ke belakang. Well, dia memang belum sepenuhnya mengerti arah pembicaraan Dong Hoon. Tapi dia merasa jika ada begitu banyak hal yang Dong Hoon sembunyikan darinya. Ada begitu banyak hal yang menjadi latar belakang kenapa Dong Hoon menginginkannya untuk segera menikah.

Flashback end

***

Young Ji menutup pintu mobilnya pelan. Gadis itu mengendap-endap, dengan tangan yang menaik-turunkan kacamata hitam di wajahnya. Hanya ada orang-orang tak dikenal.

Young Ji menurunkan kacamata hitam hingga sebatas hidung. Dia melirik ke sekeliling. Tidak ada Oh Se Hun.

Young Ji tersenyum samar, lalu dengan kepercayaan diri yang tinggi kembali membenarkan kacamata dan berjalan tegak. Setidaknya, dia bisa pura-pura menjadi orang yang baru bertemu dengan Oh Se Hun sore ini. Karena bagaimana pun, Seo Young Ji tidak ingin diberitakan tengah menemui seorang laki-laki belia untuk membicarakan pernikahan.

Well, kepercayaan diri yang terlalu tinggi. Mengingat selama ini tidak ada media pers yang tertarik memberitakannya. Berita Seo Young Ji hanya muncul sekali, ketika gadis itu berhasil membawa satu desain musim panas ke tingkat internasional. Itu pun atas nama Korea.

Young Ji duduk anggun di bangku taman. Gadis itu menyilangkan kakinya, lalu dengan gerakan elegan melepaskan kacamata. Yaa.. hitung-hitung sekalian tebar pesona.

Sementara itu di bangku yang membelakangi bangku Young Ji, seorang laki-laki dengan busana mencurigakan tampak duduk gusar. Tubuh tingginya tenggelam di bangku taman. Jaket tebal. Kacamata hitam. Topi. Apalagi? Oh-masker! Tampak masker hitam ala rider menggantung di leher. Ah, berlebihan!

“Aish… kenapa dia lama sekali…” keduanya bergumam pelan, bersamaan.

Young Ji sudah hampir bosan. Udara panas taman membuat gadis itu mengibaskan tangannya di depan wajah berulang kali.

Se Hun terus menoleh ke arah luar. Melihat apakah gadis itu sudah datang atau belum. Se Hun berdecak ketika mendapati bahwa tidak ada satu pun sosok yang mirip Seo Young Ji di luar sana.

“Aigoo…. jika dia tidak datang… apa yang harus aku lakukan, eoh?,” Se Hun bergumam lagi.

“Ah… jinjja… membuang-buang waktu saja. Dia bilang ingin bertemu sore hari. Ini sudah hampir malam,” omel Young Ji sebari melirik jam tangannya. Pukul 5, dan matahari masih setia bersinar cerah. Se Hun yang mendengar omelan dari arah belakang mengangkat satu alisnya. Demi Tuhan, apa orang di belakangnya tak bisa membedakan malam dan siang?

Young Ji berdecak, “Eh, tapi sekarang masih terang seperti ini. Kenapa sudah pukul 5 saja ya?,” lanjutnya.

Se Hun yang tak tahan, ikut-ikutan melihat jam tangan. Jam tangannya masih menunjukkan pukul 4.45. Se Hun berdehem, tidak berniat menoleh sama sekali.

“Sekarang pukul 4 lebih 45 menit, bukan pukul 5,” kata Se Hun begitu saja.

“Ah.. benarkah? Aigoo.. berarti jamku kelebihan,” Young Ji terkikik. Gadis itu melepas jam tangan, dan berniat membenarkan jarum jam. “Terima kasih su–” kalimat Young Ji terhenti. Kening gadis itu berkerut. Tunggu dulu.. suara itu?

Young Ji menoleh, dan betapa terkejutnya ketika mendapati Oh Se Hun duduk membelakanginya dengan busana super aneh.

“Oh Se Hun!,” pekik Young Ji. Tapi gadis itu segera membungkam mulutnya sendiri. Bukankah tadi dia sendiri yang punya ide untuk pura-pura tak kenal? -___-

Se Hun menoleh, “Seo Young Ji?!!”

“Sejak kapan kau disini?,” tanya mereka bersamaan. Persis.

Young Ji langsung bungkam, sementara Se Hun menaikkan satu alisnya. Baiklah, mungkin kalimat lain.

“Kenapa kau tidak bilang jika kau sudah disini?!!” Demi Tuhan! Young Ji harus memplester mulut laki-laki di depannya itu sepertinya. Kenapa selalu bebarengan sih?!!!

Hening.

Keduanya hanya saling tatap, mengantisipasi jika salah satu diantaranya akan berbicara lebih dulu. Tapi hingga detik berikutnya tidak ada satu pun yang bersuara.

Young Ji memutar bola matanya. Mungkin dia bisa mulai lebih dulu. Bersamaan dengan itu, Se Hun tampak mengambil napas.

“Ap–”

“Kap–”

Oke, pikiran mereka tidak sinkron sama sekali. Kalau begini caranya, Young Ji tidak bisa membayangkan jika mereka benar-benar harus menikah nanti. Bicara saja tidak ada yang mau mengalah.

Young Ji menghela napas. Gadis itu mengangkat bahu. “Kau duluan,” katanya.

Se Hun berdehem, “Kau dulu, tidak apa-apa,” kata laki-laki itu, membalikkan tawaran.

Young Ji hampir dibuat gemas. Tapi gadis itu menahan diri untuk tidak mengumpati bocah di hadapannya. Well, bocah bertubuh pria dewasa. Karena mau diakui atau tidak, Se Hun tak terlihat seperti sebagaimana pelajar SMA pada umumnya. Laki-laki itu hanya terlihat sedikit lebih muda. Mungkin, Tuhan sudah me-maching-kan wajah dan postur Se Hun sebagai seorang calon mempelai pria-Young Ji berakhir mengumpati dirinya sendiri. Kenapa dia malah berpikir hingga sejauh itu sih? Toh.. siapa coba yang akan menikah? Big no!

“Bagaimana aku bisa memulai pembicaraan jika kau yang mengundangku kesini?,” kata Young Ji, sedikit mengintimidasi.

Se Hun menelan ludah. Laki-laki itu sadar jika Young Ji tengah mencibirnya. Se Hun membenarkan kacamata hitam di wajahnya, “Geurae… langsung saja. Kau masih ingat dengan topik pembicaraan waktu itu?,” tanya Se Hun.

Young Ji melirik ke sekeliling, sebelum akhirnya mengangguk samar. Wajah gadis itu pucat. Takut jika ada yang memergokinya membicarakan masalah pernikahan dengan Oh Se Hun. Padahal, mengucapkan kata ‘menikah’ saja sama sekali belum mereka lakukan. Dasar..

“Bagus. Aku ingin mengajakmu bernegosiasi,” lanjut Se Hun.

Bernegosiasi? Young Ji menaikkan satu alisnya. Kenapa gaya bahasa mereka lama-lama malah absurd begini sih? Dan kenapa harus menggunakan kata negosiasi? Memang pernikahan bisa disamakan dengan rental mobil? Bisa ditawar?

Sementara itu Se Hun tampak semakin gusar. Entah kenapa, dia pun tidak bisa membicarakan masalah pernikahan ini dengan bebas. Bagaimana kalau teman-teman sekolahnya ada yang melihat? Bagaimana kalau para fans-nya ada yang tahu? Bagaimana kalau… bagaimana jika… bagaimana… bagaimana??? – Se Hun khawatir setengah mati.

“Negosiasi?,” tanya Young Ji retoris.

Se Hun mengangguk. Laki-laki itu menarik napas panjang. “Tapi sepertinya kita tidak bisa membicarakannya disini,” Se Hun melihat ke sekeliling, “Aku takut diawasi,” lanjut Se Hun.

Young Ji hampir ternganga kagum. Pikiran mereka sama!

“Bagaimana kalau ke restoran atau kafe? Kita butuh privasi,” usul Se Hun.

Young Ji yang sama sekali tidak membuka mulut hanya bisa mengangguk. Sepertinya sejak tadi hanya Se Hun yang menguasai pembicaraan.

“Aku tahu dimana tempat yang cocok. Kita berangkat bersama,” Se Hun melanjutkan ocehannya. Lagi-lagi, Young Ji mengangguk. Wajah gadis itu sudah jengah, sudah tak berminat untuk menanggapi.

Young Ji hampir berbalik ketika Se Hun secara mendadak memekik memanggilnya. “Kau mau kemana?,” tanya Se Hun.

“Berangkat ke kafe, katamu,” jawab Young Ji polos.

Se Hun mendesis, “Maksudku, kita menggunakan satu kendaraan saja. Lebih efektif dan efisien. Kita pakai motorku,” usul Se Hun tanpa pikir panjang sama sekali.

Otomatis, Young Ji ternganga lebar. Apa tadi? Motor? Hei, lihatlah Young Ji saat ini! Dia mengenakan rok mini –10 cm di atas lutut, tanpa legging. Dan laki-laki itu menyuruhnya membonceng motor?

“Kau gila?,” pekik Young Ji. Se Hun mengerutkan keningnya. Gila? Memang kenapa?

Young Ji segera mendengus demi melihat wajah konyol Oh Se Hun. Gadis itu melipat tangannya di depan dada, “Kau tidak lihat aku memakai apa saat ini?”

Demi Neptunus! Awalnya Se Hun tidak berpikir untuk memperhatikan penampilan Young Ji sama sekali. Tapi, kalimat Young Ji membuat Se Hun refleks melihat gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dan…. pipi Se Hun langsung bersemu merah. Wajahnya panas. Tangannya berkeringat. Oh, ayolah… Se Hun adalah laki-laki normal!! Dan gadis di hadapannya sudah cukup membuatnya kesulitan menelan ludah sendiri.

Seksi

Bugh!

“Berhenti berpikir mesum, Oh Se Hun!,” gertak Young Ji setelah memukul kepala Se Hun dengan tas. Gadis itu segera melemparkan kunci mobil kepada Se Hun yang tengah meringis kesakitan. “Ambil kunciku dan kita berangkat!,” lanjut Young Ji ketus lalu berjalan kasar menuju mobilnya di luar taman.

Se Hun masih mengusap kepalanya, kesakitan. “Aigoo… dia sendiri yang ingin aku melihatnya! Aigoooo….”

***

“Jadi, bagaimana?” tanya Young Ji ketika mereka sudah duduk di satu meja yang terletak di paling pojok.

Se Hun yang sudah melepas kacamatanya, menghela napas. Laki-laki itu menatap Young Ji di hadapannya, “Sebelumnya, aku bertanya, apa kau setuju dengan tawaran ayahku?”

Hening.

“Hello….” Se Hun menggoyangkan tangannya di depan wajah Young Ji yang ternganga lebar.

“Maksudmu? Tentang pernikahan itu?”

“Memang apalagi?,” tanya Se Hun santai. Bahkan laki-laki itu sudah menyesap es coklatnya. Young Ji menghela napas. Pertanyaan Se Hun terlalu mengada-ada.

“Memang apa yang kau pikirkan? Tentu saja aku menolak!!,” jawab Young Ji.

“Maaf jika menyinggung, tapi pria yang sudah pasti memberiku jaminan untuk hidup lebih dari cukup pun aku tolak, Oh Se Hun. Terlebih kau, yang… ehem… masih SMA,” lanjut Young Ji.

Dan, tanpa diduga, Se Hun malah tersenyum lebar.

“Bagus kalau kau sudah punya pikiran seperti itu,” tanggap Se Hun riang. Young Ji melipat keningnya, tidak mengerti.

Se Hun meletakkan gelas es coklatnya, lalu menatap Young Ji semakin lekat. “Aku hanya ingin kita sama-sama untung, Seo Young Ji,” bisik Se Hun.

“Ne?”

Se Hun tersenyum. Laki-laki itu bersandar di kursi sebari mengaitkan kedua tangannya. “Ayahku ingin aku segera menikah, dan kau pun harus segera menikah”

Hei, hei, hei, tunggu dulu! Siapa yang bilang Young Ji harus segera menikah? Kenapa laki-laki itu percaya diri sekali?

Young Ji sontan membulatkan mata. Tidak terima. Selain karena Se Hun main mengambil kesimpulan, Young Ji pun merasa benar-benar telah menjadi perawan tua. Harus segera menikah?! Yang benar saja!

“Ya! Pikirkan dulu sebelum kau bicara!,” Young Ji melotot tidak terima.

Se Hun membuka kedua tangannya ke samping, “Aku salah? Aku berbicara berdasarkan fakta. Ayahku bilang, kau ingin menikah.”

Young Ji semakin ternganga. Jadi, Oh Dong Hoon sudah bercerita sejauh itu? Benar-benar tidak bisa dipercaya. Kira-kira apalagi yang dibicarakan Dong Hoon kepada Se Hun terkait dirinya?

“Bagaimana bisa kalian mengambil kesimpulan jika ingin menikah sama dengan harus menikah, eoh?” tanya Young Ji emosi.

Se Hun mengangkat bahunya, membuat Young Ji mendesis. Tidak menyangka jika ternyata Oh Se Hun adalah sosok menyebalkan yang hanya berbicara sesuai dengan keinginan otaknya saja. Tidak dipikir sama sekali.

Young Ji mendengus.“Geurae… kalau begitu lupakan masalah yang aku harus segera menikah. Sekarang langsung saja, apa yang kau inginkan?! Kau hanya bertele-tele sejak pertama kali kita bertemu,” lanjut Young Ji. Dia sudah menyerah untuk membela diri jika dia bukan gadis-yang-harus-segera-menikah.

Se Hun tidak segera menjawab. Laki-laki itu mendekatkan wajahnya ke wajah Young Ji. Dia tersenyum, “Ayo, kita menikah saja,” bisik Se Hun santai.

“Ne?!!!” pekik Young Ji. Apa? Menikah? Young Ji tidak salah dengar?!

Se Hun langsung menjauhkan wajah sebari menggosok telinganya yang berdengung. “Aigoo… bisakah kau tidak teriak-teriak?!,” protes Se Hun.

“Apa? Menikah? Kenapa? Kau bilang… kau bilang, kau setuju jika aku menolak menikah denganmu?! Tapi kenapa?!,” Young Ji mengabaikan kalimat Se Hun. Gadis itu bertanya dengan wajah pias yang berlebihan.

“Karena dengan begitu kita berdua sama-sama untung!,” kata Se Hun masih dengan menggosok telinganya.

“Ayahku tidak kecewa, dan kau pun menikah. Setelah itu, terserah kau akan berbuat apa. Kau boleh langsung mengajukan surat perceraian, atau pura-pura meninggalkanku, atau kalau perlu kita susun saja skenario pertingkaian rumah tangga. Bilang kita tidak cocok. Bilang kita tidak bisa jika terus menjadi suami-istri. Kau bisa mengatakan jika aku tidak bejus menjadi suamimu. Terserah kau. Karena yang terpenting adalah upacara pernikahannya. Kita berfoto bersama, mengucapkan wedding vow, dan selesai,” jelas Se Hun. Laki-laki itu menjelaskan tanpa helaan napas sama sekali.

Young Ji yang mendengar hanya bisa ternganga.

“Apa?,” tanya Young Ji retoris.

Se Hun mengacak rambutnya frustasi. Oh ayolah, jangan membuat semua ini menjadi sulit! Se Hun tengah berkejaran dengan waktu. Kehidupan Dong Hoon tidak bisa selamanya ditunjang oleh peralatan ICU. Oh Se Hun harus menjalankan prosesi pernikahan sebelum ayahnya kehabisan masa. Se Hun tidak ingin membuat keinginan terbesar ayahnya terlewatkan.

“Ya! Seo Young Ji!! Apa aku kurang jelas? Aku ingin kita menjalani prosesi pernikahan! Hanya itu saja. Jangan membuat ini menjadi semakin sulit. Aku mohon…” rengek Se Hun.

Young Ji berakhir terkekeh tak percaya, “Apa katamu? Membuat ini menjadi semakin sulit? Kau pikir apa yang sudah kita lakukan hingga semua menjadi sulit? Kau yang mempersulit dirimu sendiri! Ada apa denganmu yang secara mendadak ingin menjalankan rencana konyol itu, eoh? Menikah lalu bercerai? Kau pikir pernikahan setara dengan main monopoli?,” omel Young Ji panjang lebar.

Se Hun menghembuskan napas keras sebari menerawang langit-langit kafe. Wajahnya berubah gusar ketika laki-laki itu sudah kembali menatap Young Ji yang mendengus di hadapannya. “Seo Young Ji,” panggil Se Hun.

Young Ji tak menggubris. Gadis itu sudah sebal setengah mati dengan laki-laki bernama Oh Se Hun di hadapannya.

“Aku hanya ingin memenuhi permintaan terakhir ayahku. Sebelum beliau meninggal,” lanjut Se Hun.

Young Ji mengangkat wajah. Mata gadis itu membulat, menatap Se Hun yang sudah menunjukkan wajah serius di hadapannya.

“Konyol memang. Tapi, percaya atau tidak, hidup ayahku sudah tidak bisa bertahan lama lagi. Ayahku mengalami kasus kebocoran jantung. Katup jantung kanannya tak berfungsi baik, dan dokter berkata jika mereka sudah angkat tangan. Seharusnya ayah sudah meninggal 19 tahun lalu, sesaat setelah aku lahir, tapi karena beliau ingat jika beliau memiliki satu keinginan kuat terhadapku, maka hingga saat ini beliau masih bisa hidup,” lanjut Se Hun, “dan keinginan itu, adalah melihatku menikah sebelum beliau meninggal. Sederhana,” Se Hun mengatupkan bibirnya.

Lengang.

Young Ji sempurna terdiam. Dia tidak tahu harus percaya atau tidak, tapi cerita Se Hun berhasil membuat hatinya bergetar. Tidak menyangka jika Oh Dong Hoon mengalami kondisi yang sedemikian menyedihkan. Divonis tidak berumur panjang.

Young Ji tidak kunjung menanggapi. Gadis itu masih tampak bingung harus menjawab bagaimana. Membuat Se Hun pada akhirnya tersenyum dan mengangguk samar, “Baiklah kalau begitu,” ucap Se Hun.

“Aku tak memaksa. Karena semua ini memang terdengar tidak logis sama sekali,” lanjut Se Hun. Laki-laki itu terkekeh, “Mungkin aku memang ditakdirkan mengecewakan ayahku sendiri. Toh, aku pun tidak bisa meminta bantuan gadis lain, karena hanya kau yang selama ini dikenalkan ayah kepadaku”

Seo Young Ji masih terdiam.

Se Hun terkekeh lagi. Laki-laki itu beranjak dari kursi, sebari menepuk meja sekali, “Geurae… lebih baik aku pulang, Seo Young Ji. Aku bisa naik bus untuk menuju taman, tidak perlu khawatir,” Se Hun tersenyum kepada Young Ji yang hanya menatapnya sayu. Gadis itu benar-benar tak tahu harus bagaimana.

“Aku pergi,” lanjut Se Hun lalu melangkah keluar kafe. Meninggalkan Young Ji yang duduk terdiam di mejanya. Berpikir.

***

Bangkok, Thailand.

Dua minggu kemudian.

Denting suara piano terdengar ketika Se Hun berjalan di atas karpet merah. Laki-laki itu mengenakan tuxedo hitam, dengan wajah yang tampak sedikit tegang. Tapi melihat dan mendengar bagaimana para tamu undangan keluarganya berbisik-bisik kagum, membuat Se Hun berakhir tersenyum sebari tertunduk malu ketika berjalan menuju altar.

Se Hun menekuk tangan kanannya, dan meletakkan telapak tangannya ke perut ketika laki-laki itu berbalik untuk menatap pintu keluar. Se Hun tidak tahu apa yang terjadi dengannya detik ini, tapi melihat pintu ruangan terbuka secara perlahan membuat laki-laki itu menahan napas. Mata Se Hun pun tak mampu lepas dari semburat cahaya matahari yang langsung masuk ketika pintu di buka.

Seseorang bersama dengan pria paruh baya melangkah pelan dari sana. Dua gadis kecil tampak sibuk menebarkan kelopak bunga mawar ke udara, sementara seorang gadis lain tampak mengangkat ujung panjang gaun putih yang begitu anggun menempel di tubuh gadis itu.

Seo Young Ji.

Se Hun menelan ludah. Laki-laki itu melirik kearah barisan di hadapannya. Tampak Oh Dong Hoon tersenyum lebar di atas kursi roda. Membuat Se Hun yakin jika dia sudah seharusnya menjalani semua ini. Baiklah! Hari ini, dia harus menjalankan rencana ini dengan sempurna.

Young Ji tersenyum lembut sebari menyambut uluran tangan Se Hun. Kedua tangan itu bertemu, saling menggenggam, sebelum akhirnya mereka berbalik untuk siap-siap menjalankan prosesi selanjutnya.

Seo Young Ji dan Oh Se Hun mengangkat tangan kanannya ke udara.

“Aku, Oh Se Hun, berjanji akan menjadi suami yang mencintai istriku, Seo Young Ji…”

“Aku, Seo Young Ji, berjanji akan menemani suamiku, Oh Se Hun di kondisi apapun….”

To Be Continued

 

 

Iklan

42 pemikiran pada “Unlogical Married (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s